Kucingnya Kana di Antara Para Kawula dan Ksatria

Kucingnya Kana, keponakanku, nggak pulang 2 biji. Untungnya sekarang kucing-kucing kampung di sekitaran rumah pada hobi nongkrong di terasku berhubung Kana sering banget bersodaqoh makanan kucing ke mereka tanpa membeda-bedakan. Jadi Kana nggak nyadar kalau 2 kucingnya nggak pernah balik. Tapi dari 5 kucing aslinya yang dirawat sejak kecil, sekarang kucingnya Kana cuma sisa 3 ekor. Yang seekor hobinya memang nomaden, kadang pulang ke rumah, kadang nongkrong di warung depan kompleks rumah sampai berhari-hari sambil main gaple. Continue Reading


Mbak Mantan, Cita-cita, Nilai Cara, dan Akhirnya

Kapan hari kemarin aku terlibat obrolan semi-serius sama Ocha, teman ngerokok dan ngebirku yang sekarang sudah tobat. Beneran, kok, beliaunya tobat. Yang bersangkutan sekarang sudah pakai jilbab panjang dan beberapa waktu ke depan bakal kawin.

Aslinya awal obrolan kami ini sama sekali nggak serius, cuma ledek-ledekan biasa aja sambil mengenang masa kejayaan kami di Jokja selayaknya bekas mahasiswa Jokja yang sesekali tempo ngumpul dengan sesamanya kemudian bernostalgia. Hugo’s Cafe, Liquid, dan Boshe tentu saja tidak luput dari pembahasan, sampai akhirnya omong-omong kami nyangkut ke soal romansa yang diawali dengan celetukan ngasalku, “Lho, kamu nggak ngerasa tho kalau kamu itu salah satu pacarku?” Continue Reading


Menyiasati Hambatan Kuliah di Luar Negeri (Studi Kasus: Si Tampan Mas Joe)

 

View this post on Instagram

 

A post shared by Joesatch (@masditto) on

Setiap ketemu teman lama yang tahu gelar akademis terakhirku, aku pasti ditanya bagaimana rasanya kuliah di level Woxbridge (oh yeah, tentu sahaja boleh jadi ini cuma guyonan. Ada yang bilang bahwa, kami maksa mensejajarkan diri dengan Oxford dan Cambridge padahal kami-kami ini gagal buat masuk ke sana. Bahasa gampangnya, kampus buanganlah)? Jadi daripada aku terus-terusan ngulang cerita yang sama, kupikir ada baiknya kalau aku nulis saja di sini, supaya besok-besok kalau ada yang nanya lagi, biar orangnya langsung kusuruh baca tulisan di blogku ini sahaja. Continue Reading


Surat Tidak Terlalu Terbuka kepada Mahkamah Agung Republik Indonesia tentang Putusan Penetapan Harta Warisan

Kepada Yth.
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Jl. Medan Merdeka Utara No. 9-13.
Jakarta Pusat – DKI Jakarta
Indonesia 10110

Dengan hormat,

Sehubungan dengan Penetapan Nomor 0053/Pdt.P/2013/PA.Dps dalam perkara penetapan ahli waris, saya, Anindito Baskoro Satrianto, anak bujang yang namanya terdapat dalam Penetapan tersebut menyatakan keheranan sekaligus keberatan saya dengan cara Mahkamah Agung Republik Indonesia menangani data-data – terutama yang berhubungan dengan kehidupan personal saya – pada platform web 2.0. Continue Reading


Berhenti di 29

Saban kenalan sama orang baru, terutama cewek-cewek, setiap obrolan kami berlanjut ke urusan umur, biasanya aku selalu bilang kalau umurku 29. Aku nggak bohong. Usia adalah penanda lamanya hidup seseorang. Jadi apa salahnya kalau sampai sekarang aku selalu bilang kalau umurku itu 29, oleh sebab-musabab hidupku memang berhenti di umur 29?

Cuma…ya begitulah. Orang sering menasbihkanku sebagai orang yang ngawur. Banyak, sih, yang awalnya memang percaya kalau umurku 29, meskipun setelah ngintip SIM dan katepeku kepercayaan itu pudar kemudian. Tapi tetap saja, aku nggak bohong. Setidaknya secara filosofis umurku memang berhenti di 29. Continue Reading


Worst Case Scenario

Syahdan, pada zaman tidak terlalu dahulu kala, aku dan mamakku sedang berencana hadir di acara pertemuan trah di Solo besok harinya. Pagi-pagi kami berangkat ke bandara naik taksi dari rumah kontrakanku di Ciputat untuk menuju Bandara Halim Perdanakusuma.

Setelah membelok ke kiri dari lampu merah Pondok Pinang, masuklah taksi kami ke jalan tol. Prediksiku, sih, dengan berangkat jam segitu, pagi-pagi di hari libur, kami nggak akan terjebak macet yang membuat kami terlambat masuk pesawat. Tapi mak jegagig! Begitu selesai ngetap kartu di gerbang tol nampaklah iring-iringan macet di depan. Mamak kontan panik! Continue Reading


Hidup Adalah Prek-juangan

โ€œBe kind, for everyone you meet is fighting a hard battle.โ€
Ian Maclaren

Aku ini orangnya memang suka cari gara-gara. Sudah banyak jenis gara-gara yang aku lakukan, terutama kalau aku sedang tidak setuju sama sesuatu. Misalnya saja sekarang ini, dengan sombong sekali kukatakan bahwa quote di atas – yang sering disalah-perkiraankan sebagai quote dari Plato ataupun Philo dari Alexandria – kupikir perlu dikaji ulang. Pertama, definisikan “hard” itu sendiri, dan kedua, yang disebut sebagai “hard” itu sebenarnya seberapa hard, sih?

Pada 1 sisi, benar bahwa, hard itu relatif. Soal yang sangat mudah buat beta – misalnya fisika, kimia, atau matematika – bisa jadi menjadi momok buat pelajar-pelajar lainnya. Yaaa…namanya aja manusia, bakatnya beda-beda. Maka jelas, hard ini memang sangat relatif. Continue Reading


Maaf dan Maklum

Besok sudah puasa. Dan seperti yang terjadi semenjak nyaris 2 dekade yang lalu, biasanya banyak pesan yang masuk ke hapeku. Isinya rata-rata pada ngucapin selamat menunaikan ibadah puasa sambil tidak lupa minta maaf lahir batin. Permohonan maaf lahir batin inilah yang dulu – waktu awal-awal dapat pesan macam itu – membuatku sempat heran.

Bagaimana aku nggak heran, wong itu tradisi baru buatku. Aku ini lahir dan gede di Denpasar. Dari lahir sampai lulus esema di sana, yang aku tahu, tradisi minta-mintaan maaf adanya cuma pas Idul Fitri. Pas menjelang puasa sama sekali nggak ada. Begitu kuliah, merantau pergi dari Bali, barulah aku mendapati hal yang seperti itu. Makanya aku agak kagok juga. Continue Reading


Layla & Majnun: Laki Bukan, Sih?!

Sebenarnya dan sejujurnya, aku ini nggak pernah punya niatan jadi misoginis. Cuma, ya gara-gara dari kecil dapat hardikan kalau anak cowok itu nggak boleh cengeng, laki-laki itu harus begini dan begitu, mau nggak mau pola pikir keberpihakan macam barusan jadi tertanam di benakku. Citra ideal seorang laki-laki jadi terbentuk berdasarkan apa yang sejak balita aku terima, dengan seolah-olah jenis kelamin yang satunya lagi boleh dan wajar untuk bertindak apa yang tidak boleh ditindak-tanduki oleh seorang pria. Continue Reading


Yang Kita Lakukan

Kadang apa yang kita lakukan tidaklah menjadi masalah bagi orang lain
Kadang yang menjadi masalah bagi orang lain justru karena apa yang kita katakan berbeda dengan apa yang kita lakukan
Inkonsistensi sering menyebabkan mosi tidak percaya, pada akhirnya
Nah, selamat hari Sabtu ๐Ÿ™‚


Lelaki Tukang Ngibul

Barusan aku nengok status Fesbuk-nya Kiki. Dia nge-post lagu lawasnya Michael Learns to Rock yang judulnya “25 Minutes”. Yeah, situ orang lawas pastilah tahu ada cerita apa di lagu itu? Yap, yap, yap, ceritanya tentang cowok yang nyesel gara-gara mantan pacarnya keburu dinikahin cowok lain. Beliau yang kasihan itu cuma terlambat 25 menit sahaja untuk bisa menggagalkan peresmian pernikahan si mbak mantan. Continue Reading


Pages:1234567...41