Urip Kuwi Ra Segampang Cocote Mario Teguh…dan Yusuf Mansyur
Suatu malam dengan gerimisnya, di daerah Maguwo, Jokja, berkumpullah 3 orang pria butut plus 1 bujangan tampan. Bujangan tampannya sudah jelas itu aku, sementara 3 begundal lainnya cukuplah kita kenal sebagai Saber, Joseph, dan Ucup (bukan nama sebenarnya, karena di akte kelahiran mereka tidak pernah terketik nama-nama tersebut. Nama-nama yang barusan itu hanyalah panggilan mesra dari lingkungan di sekitarnya).
Berbicara tentang Joseph dan Ucup, aku sempat heran… Heran betapa diskriminasi sosial atas sebuah nama bisa sebegitu kuat melekat imejnya. Bayangkan tentang Joseph. Ketika membaca nama yang seperti itu, apa yang terlintas di benak sampeyan? Lalu bayangkan pula tentang Ucup. Sekarang apa yang ente pikirkan? Read the rest of this entry »
BBM Bersubsidi dan Masalah Sudut Pandang
Ribut-ribut kemarinan ini perkara harga BBM bakal naik lagi atau ndak bikin aku teringat sama si Josh, temenku yang gendut itu, yang saking gendutnya jadi sering dihina-dina sama temen-temennya sendiri sebagai seekor kuda dari Sungai Nil.
Suatu malam waktu kami sedang membahas performa motor 125 cc milik kami masing-masing (pengumuman! Si Josh sekarang sudah ganti motor. Astrea Star bututnya sudah jadi barang apkiran, diganti sama sebiji Supra X yang helmpun bisa masuk di bagasinya) tau-tau si Josh nyeletuk. “Pakai Pertamax cuma bikin sakit hati,” katanya. Read the rest of this entry »
Tarik-tarik, Ulur-ulur, Mbak
Begini, Mbak…
Aku ini ndak suka disalah-salahkan, dicap kurang gigih berusaha memperjuangkan hati sampeyan ketika aku sendiri sudah merasa cukup berusaha.
Hidupku bukan s(h)i(t)netron, Mbak. Pun bukan eftivi, bukan juga drama Kroya Korea, di mana sang tokoh utama rela membuang-buang waktunya demi setia menanti pujaan hatinya. Read the rest of this entry »
2 Events, 2 Anxiety
Aku sama sekali nggak inget sejak kapan aku buka biro jasa konsultasi masalah pribadi. Seingetku, aku ini ndak pernah kuliah psikologi. Kuliahku, seingetku juga, adalah jurusan komputer-komputeran. Itu pun pada akhirnya lolos dari maut dengan ipeka pas-pasan. Maka dari itu aku suka heran, kenapa banyak makhluk Tuhan – terutama kaum hawa – yang hobi banget curhat sama aku? Apa dari casing-ku? Berkacamata, yang diidentikkan dengan kebiasaan suka mbaca, sih, iya (iya berkacamatanya, maksudku). Tapi selebihnya aku lebih suka berpenampilan yang nggak seharusnya: rambut jarang sisiran (biasanya sehari cuma 2 kali tiap habis mandi), kaos oblong gambar tokoh pilem kartun yang ndak diseterika, jaket gambar monyet yang jarang sowan sama mesin cuci, sepatu kets seadanya, dan celana jeans yang butut yang suwek-suwek di bagian lutut. Pokoknya jauhlah dari kesan mahasiswa psikologi dengan ipeka menjulang tinggi.
Cuma saja, kok, ya banyak yang percaya kalo aku bisa memberikan solusinya atas masalahnya tho ya? Beberapa malah curhat sambil nangis di depanku. Mau ta’puk-puk, eh, akunya yang takut kalo entar malah jadi nafsu (catatan: nafsu di sini cuma berlaku kalo klienku yang nangis adalah cewek. Kalo cowok, ya biasanya malah kumaki, “Lanang, kok, nangisan. Minggat!”). Read the rest of this entry »
Untouchable
Kalau lagi ngelamun kadang-kadang mulutku tau-tau suka bergumam sendiri. Nyanyi. Dan bagian reff lagunya Rialto yang ini salah 1 yang paling sering jadi korban alam bawah sadarku…
Undangan Manten (Sekuelnya): Hal-hal yang Bisa Dilakukan Jika Menerima Undangan Pernikahan dari Mbak Mantan
Menyambung tali silaturahmi tulisanku kemarin tentang undangan pernikahan via Fesbuk dan brotkesan dari instant messaging, setelah melewati perenungan lebih dalam, ternyata undangan jenis demikian memang termasuk jenis undangan yang tiada sensitif sama perasaan orang.
Bayangkeun, gara-gara kita punya mantan pacar nan pemalas tapi kita masih cinta (cieee…cinta. Mamam tuh cinta!) dan kepengen balikan, suatu saat kita dikirimin undangan nikahnya, apa ndak hancur perasaan kita? Read the rest of this entry »
Undangan Manten
Pembaca yang budiman sekalian, kapan hari kemarin Hanna, adik kelasku jaman mahasiswa, sempat apdet status via Fesbuk. Statusnya, buatku, cukup menggelitik. Tentang undangan manten, sebagaimana berikut ini:
gak ada yg salah dg undangan nikah lewat fesbuk… Knp slalu ada saja yg mempermasalahkan? Hmmph… Apakah keformalan jg bagian dari pertemanan??? Owh please deh…
Lalu kenapa buat cukup menggelitik? Ya karena alasan sebagai berikut ini juga: Read the rest of this entry »
Hamba Smartphone dan Tempat Karaoke
Sungguh mati hindarilah hal berikut ini: Read the rest of this entry »
Hanoman the Ultimate Warrior: Sebuah Pertunjukan Luar Biasa…
…buat orang awam.
Bicara tentang drama musikal, sesungguhnya aku tiadalah pernah menonton pagelaran teater dengan format drama musikal. Pentas teater yang biasa kutonton ya yang umum-umum saja, yang nggak pake acara pelakonnya nyanyi-nyanyi di panggung. Itu pun kebanyakan aku nontonnya cuma gara-gara ada temenku yang kebetulan jadi aktornya, seperti misalnya si Gentho yang memang aktif jadi aktor teater via komunitas teaternya yang berjudul La Gientis. Read the rest of this entry »
Mohon Maaf
Mohon maaf… Read the rest of this entry »
Bandeng yang (Nyaris) Hilang
Hell come Welcome to Jakarta!
Sodara-sodara pembaca blog yang budiman, dikarenakan sesuatu dan lain hal, saat ini terpaksa aku memberi pengumuman kalau aku sekarang sedang berada di Jakarta. Tentu, tentu kedatanganku ke Jakarta tidaklah dikarenakan urusan sepele semacam kangen sama Ayu, sodara-sodara. Kedatanganku ke Jakarta ini – anggaplah – karena aku dipanggil negara demi tugas yang maha besar: mbantuin Pak Jokowi buat ngurusin permasalahan sosial di ibukota negara ini yang semakin pelik sahaja.
Sementara anggaplah begitu. Read the rest of this entry »

