Yang Kita Lakukan

September 16, 2017 – 8:59 pm

Kadang apa yang kita lakukan tidaklah menjadi masalah bagi orang lain
Kadang yang menjadi masalah bagi orang lain justru karena apa yang kita katakan berbeda dengan apa yang kita lakukan
Inkonsistensi sering menyebabkan mosi tidak percaya, pada akhirnya
Nah, selamat hari Sabtu 🙂


Lelaki Tukang Ngibul

July 12, 2017 – 8:23 am

Barusan aku nengok status Fesbuk-nya Kiki. Dia nge-post lagu lawasnya Michael Learns to Rock yang judulnya “25 Minutes”. Yeah, situ orang lawas pastilah tahu ada cerita apa di lagu itu? Yap, yap, yap, ceritanya tentang cowok yang nyesel gara-gara mantan pacarnya keburu dinikahin cowok lain. Beliau yang kasihan itu cuma terlambat 25 menit sahaja untuk bisa menggagalkan peresmian pernikahan si mbak mantan. Mending ndak usah ngelanjutin mbaca…


Teman-teman Hebat

July 9, 2017 – 4:37 pm

Aku ini suka nggak sadar kalau dikelilingi teman-teman yang hebat. Saking nggak sadarnya, kalau pada suatu hari tiba-tiba aku denger kabar tentang temanku yang mendapat apresiasi dari pihak lain yang kredibel, aku malah jadi mikir, heh, apa iya? Masak tho levelnya si kampret ini sehebat itu? Masak ya pantes gembus bercula ini dapat pujian sedemikiannya?

Sirik? Iri? Dengki? Kayaknya bukan. 3 hal macam barusan itu, kan, cuma bisa terjadi jika dan hanya jika kitanya diam-diam memang mengakui bahwa yang bersangkutan memang punya kemampuan di atas kita tapi kitanya nggak terima. Lha, ini nggak kayak gitu, je. Ini lebih ke murni heran, kok, bisa-bisanya teman nongkrongku ini diperlakukan macam begitu? Apa hebatnya?Perasaanku, beliaunya ini ya biasa-biasa aja. Mending ndak usah ngelanjutin mbaca…


Nggak Enakan

June 30, 2017 – 5:47 am

Ternyata aku ini lambat belajar. Setelah jadi manusia selama sekian ratus tahun, yang nggak bisa mati kecuali leherku dipenggal, aku baru sadar belakangan ini kalau ternyata aku punya kelemahan mendasar berupa sifat nggak enakan sama orang, apalagi kalau orangnya berjenis kelamin wanita.

Kadang ini merepotkan. Tapi bukan sejenis repot yang timbul gara-gara ada orang yang minta bantuan (biasanya, sih, bantuan finansial). Untuk jenis kerepotan yang seperti itu aku sendiri suka nggak sadar. Sadarnya kalau pas sudah mau tidur, biasanya. Baru kerasa capeknya. Bantuan sejenis nemenin temen belanja meskipun aku sendiri nggak beli apa-apa, ndengerin curhatannya anak gadis orang, dimintain pendapat untuk urusan yang bersifat metafisik, yang begitu itu – kalau mau dilihat dari kacamata egois – jelas menyita waktuku. Ada banyak hal produktif lainnya yang bisa kukerjakan untuk diriku sendiri seandainya saja aku tega menolak permintaan bantuan yang remeh-temeh itu, misalnya bermalas-malasan. Mending ndak usah ngelanjutin mbaca…


Soal Islam, Kebencian, dan Perkara Epistemologi

May 12, 2017 – 7:33 am

Pertama kali punya blog tahun 2006 kemarin alasanku sederhana: aku kepengen punya media buat nulis yang hasilnya nggak cuma kusimpen di komputerku sendiri. Kalau mau di-breakdown lagi, kenapa aku kepengen tulisanku nggak cuma kusimpen di komputerku sendiri, jawabannya masih sederhana: aku kepengen orang tahu tentang hal-hal yang kupikirkan, yang jadi uneg-unegku, yang kupikir nggak baik buat mental kalau kusimpen sendirian. Mungkin saja ini semacam approval junkie. Ya, mungkin aja. Tapi kupikir ini lebih dari itu. Aku nggak sekadar kepengen orang jadi ngeh dan kemudian menerima ide-ideku. Aku kepengen apa yang kupikirkan akhirnya bisa jadi concern buat orang lain juga. Mending ndak usah ngelanjutin mbaca…


Orang Bodoh dan Beasiswa

March 14, 2017 – 3:57 am

Kapan hari di tahun kemarin, Hanna, adik kelasku jaman mahasiswa S-1 sempat nanya, “Mas, caranya dapat beasiswa gimana, sih?”

Waktu itu aku memang relatif baru dapat beasiswa buat sekolah lagi di Enggres sini, dan berkat mulut besarku sendiri akhirnya berita itu cepat menyebar. Biasalah, aku ini, kan, orangnya suka pamer, meskipun pembelaan dariku tentang sikap suka pamerku ini adalah untuk memotivasi kaum di sekitarku. Pendeknya aku memang hobi sekali bertingkah semacam, nah, aku bisa kayak gini, kalian bisa apa coba? 😈

Jadi untuk menjawab pertanyaan Hanna via Whatsapp tersebut aku kemudian berujar 1 kata: “Pintar.” Mending ndak usah ngelanjutin mbaca…


Kenapa Aku Menyebalkan?

March 7, 2017 – 4:12 am

Kamu tidak suka tingkahku, katamu. Menyebalkan, menurutmu. Memang, sih. Problemnya, tidakkah aku tahu tentang hal itu? Sebaliknya, aku justru sangat paham. Tidak ada manusia yang suka dengan manusia lain yang membuatnya sebal. Tentu saja aku tahu. Aku sengaja. Kalau aku bertingkah seperti aku yang seaslinya, nanti kamu malah suka. Itu celaka. Celaka 12,7 soalnya aku juga suka kamu. Kalau kamu nggak balas suka, kan, aku aman-aman saja.


Tidak Tahu Harus Minta Apa?

January 17, 2017 – 8:09 pm

Ya Rabb, ya Tuhan semesta alam, sesungguhnya hamba ini sedang bingung. Bingung karena nggak tau kelakuan hamba yang berikut ini bakal dikategorikan congkak binti arogan atau tidak. Kelakuan hamba ini seputar permintaan-permintaan dan harapan yang lazimnya dilakukan di setiap awal tahun. Wa bil khusus awal tahun 2017 ini.

Jadi begini, ya Rabb… Demi Kamu-sendiri, ya Tuhan, hamba bingung harus minta apalagi ke hadiratMu. Bukan apa-apa…hamba cuma merasa semua yang Kamu kasih sudah sangat cukup, bahkan cenderung berlebih. Mending ndak usah ngelanjutin mbaca…


Buku-buku 2016

January 8, 2017 – 6:57 am

Selamat tahun baru 2017! Dan tanpa banyak cingcong, inilah tulisan pertamaku di tahun ini: tulisan tentang tulisan-tulisan, alias buku-buku yang khatam ta’baca sepanjang tahun kemarin. Berikut ini daftarnya: Mending ndak usah ngelanjutin mbaca…


Malaikat

December 30, 2016 – 12:22 am

You are my angel.

Pernah dapat pujian kayak gitu?

Apa rasanya?

Tersanjung?

Senang? Mending ndak usah ngelanjutin mbaca…


Don’t Judge Me Blablablablabla

December 21, 2016 – 11:41 pm

Kalau beberapa temanku mood-nya lagi jelek, kadang aku suka ngeliat apdetan status mereka di social media-nya mengunggah meme atau quote soal betapa mereka nggak suka dihakimi sama orang lain. Mangkel, nesu, mutung karena dinilai salah sama orang lain. Penilaian ini tentu saja termasuk perkara subyektif, ya namanya aja juga manusia. Hanya saja, soal nggak mau dinilai salah sama orang lain pun adalah hal yang sama subyektifnya. Pada masanya, nanti ketika tidak bisa mencapai mufakat, masing-masing pihak akan memendam kekesalan terhadap pihak lainnya. Si A nggak suka sama si B karena si B sudah berbuat salah, si B nggak suka sama si A karena si A sudah menilainya berbuat keliru. Mbulet melulu di situ. Mending ndak usah ngelanjutin mbaca…