Jangan Sombong

“Jangan Sombong!”

Sering dapat gerundelan macam begitu? Aku sering. Penyebabnya, sih, bisa bermacam-macam. Bisa jadi karena akunya memang sombong, tapi bisa jadi pula karena hal macam berikut ini: Read the rest of this entry »

RoboCop 2014

RoboCop

Aku nonton film ini sudah sejak kapan minggu yang lalu sama Novi. Berdua? Tentu tidak. Di dalam gedung bioskopnya ya jelas rame-rame sama penonton lainnya. Tapi berhubung penonton lainnya nggak punya andil mbayarin popcorn-ku, baiklah, nama mereka tiada usahlah kusebut sahaja. Cukuplah hanya kusebut namanya Novi, karena selain popcorn, tiket bioskopku juga dibayarin sama dia. Read the rest of this entry »

Resman dan Jilbab dan Argumen Demi Argumen

Ngobrol tentang SMA Negeri 2 Denpasar also known as Resman (Re-nya berasal dari tangga nada re yang berarti tangga nada kedua) ada 3 hal yang paling kuingat tentang sekolahan itu. Yang pertama adalah waktu jaman esempe. Resman pernah jadi tuan rumah untuk lomba karikatur tingkat provinsi, dan untuk pertama kalinya juga aku bisa mengalahkan rival abadiku, si Christian, dalam urusan lomba gambar-menggambar. Waktu itu dia jadi juara kedua dan aku…oho, tentu saja, situ pasti juga tau peringkat apa, sih, yang ada di atasnya peringkat kedua? :twisted:

Secara teknis, sampai sekarang masih tetap kuakui, Christian ada di atasku. Jauh. Jauh sekali. Sejak jaman teka aku selalu jadi pecundang kalo ngadu hasil gambar tangan sama dia. Tapi waktu lomba karikatur itu, namanya aja lomba karikatur, imajinasiku yang lebih liar, nakal, brutal berhasil mengkover kelemahan teknisku itu. Mwahahaha… Read the rest of this entry »

Pemenang Kuis Kaos dari Mas Joe nan Tampan

Yak, sodara-sodara sebangsa tanah dan sebangsa air, pada akhirnya tibalah kita kepada saat yang berbahagia. Dengan selamat sentausa akika terpaksa mengumumkan pemenang kuis kaos dari akika kemarin, cyiiin~

Berikut adalah daftar peserta yang masuk ke akun Twitter akika: Read the rest of this entry »

Tentang Pasangan Hidup

1 hal yang lumayan menyebalkan kalau pulang kampung dan ketemu sodara-sodara adalah pertanyaan, “Kapan giliranmu (nikah)? Nunggu apa lagi? Kerjaan (tetap) sudah ada, rumah ada, tabungan punya, opo meneh sing mbok goleki?”

Ditambah nasehat nyerempet agama, semacam jangan khawatir kalau belum yakin bisa menafkahi anak orang, pasangan menikah itu pasti ada rezekinya, kadang-kadang bikin aku, errr…apa ya? Sebel sih nggak. Mungkin ini lebih ke arah jenuh aja. Mau menjawab jujur, ya namanya aja ngobrol sama orang-orang tua, akunya takut dicap sombong. Read the rest of this entry »

Kewajiban Azasi Manusia

2 minggu yang lalu, saat mau sarapan sehabis menaruh tas di kubikelku, aku dipanggil sebuah orang dari arah belakangku. “Mas, mau ke mana? Sarapan? Gua ikut!”

Aku menoleh, menjawab dengan isyarat gerakan kepala yang kurang-lebih artinya adalah “come on”. Dan, orang yang memanggilku itu – sebut saja – Bobong Syaifullah, anak kuliahan yang lagi magang di kantorku, sebiji biro jasa detektif negeri sipil. Read the rest of this entry »

Tahun Baru Pake Kaos Baru, Dong! Horeee…

Hello, amigo, desperado, selamat tahun baru semuanya!

Maka dalam rangka memasuki tahun 2014 ini, Mas Joe nan tampan alias aku sendiri bertekad berbagi hadiah tahun baru. Karena apa? Karena aku ini memang baik hati.

Sebagaimana kita ketahui bersama bahwa aku punya toko kaos di BukaLapak.com, maka dengan ini aku umumkan kalau hadiahnya adalah kaos. 3 biji. Yak, sekali lagi, kaos sejumlah 3 biji! Horeee… Read the rest of this entry »

Oom Gita Wirjawan dan Iklan-iklannya

Suka Fesbuk-an? Peke hape atau pake komputer? Kalo pake komputer, pernah merhatiin panel di pojok kanan atas halaman Fesbuk sampeyan? Okelah, sebelum sampeyan menjawab pertanyaan-pertanyaanku, kayaknya ada baiknya kalo aku yang duluan njawab pertanyaan-pertanyaan itu, daripada nanti aku dituduh sebagai makhluk yang pengen tau urusan makhluk lain tanpa mau memberi contoh dan teladan terlebih dahulu.

Jadi begini, aku memang lumayan suka Fesbukan. Buatku Fesbuk itu media sosial yang paling mengakomodir kepentingan sosialku di dunia maya ketimbang Tuiter atau – yang lagi hobi dipake sama temen-temenku – Peth. Alasannya simpel. Di Tuiter aku nggak bisa berdiskusi dengan enak, tidak ada fitur buat urun komen di bawah apdetan status yang kutulis atau juga ditulis sejawat-sejawatku. Aku harus sedikit begini sedikit begitu kalo kepengen tau sejarah percakapan temen-temenku itu. Pendek kata: repot! Read the rest of this entry »

Kamu dan Teman-teman Kita

Nduk, cah Ayu, sungguh, sungguh kuapresiasi caramu berjuang melupakanku. Semua aksesku menujumu – Fesbuk, Twitter, Y!M, Instagram, Line, Whatsapp, Path, sampai dengan nomer teleponku – yang kamu blok itu, sumpah mati, itu bukan masalah buatku. Kuhargai perjuangan mati-matianmu.

Tentu aku bisa bilang itu bukan problem buatku karena aku lumayan sadar betul tentang kapasitas diriku; wanita mana yang pernah bermain-main denganku yang kemudian sanggup melupakanku? Bukan problem karena aku tahu, aku pernah memainkan peran krusial yang menentukan arah hidupmu saat ini. Maka ini bukan sekedar tentang sun terakhir di sudut gelap salah satu tempat yang tak jauh dari Bundaran HI waktu itu. Read the rest of this entry »

Garuda Muda dan Emprit Tua

Salah satu keuntungan jadi orang baik itu adalah dikelilingi dengan orang-orang baik juga. Misalnya saja kemarin ini, dengan selamat sentausa akhirnya aku ketiban rejeki buat nonton partainya tim nasional Endonesa U-19 lawan Korea Selatan langsung di Gelora Bung Karno, Senayan.

Ceritanya sehabis partai lawan Filipina yang kutonton di depan tivi itu, aku Whatsapp-an sama si Bram, perjaka butut yang sejak putus sama ceweknya lebih dari separo dekade yang lalu sampai sekarang belum juga punya partner tetap buat malam Mingguan. Isi pesanku ke dia sebenarnya sederhana saja. Mengingat si gendut ini adalah penggila timnas Endonesa, selepas pertandingan berat sebelah di mana Endonesa mengurung kotak penalti Filipina hampir sepanjang pertandingan itu, aku mengirim pesan yang menyebutkan, kalo begini caranya lawan Korea besok bakalan rame. Read the rest of this entry »

Sombong yang Rendah Hati

Bagaimana caranya menjadi homo sapiens yang sombong tapi sekaligus rendah hati? Begini…

Cerita ini kudapat dari salah seorang oknum adik kelasku di kampus, tentang seseorang oknum mahasiswa yang lain lagi yang lumayan supel saban ketemu sama sejawat-sejawatnya. Jadi ceritanya – sekali lagi – begini:

X: “Wah, Y, ke mana aja kamu, kok nggak pernah keliatan di kampus? Skripsi gimana? Kapan mau dikumpul? Masak kalah sama saya? Saya aja minggu depan ini sudah mau pendadaran, lho…”

Y: “Saya sudah lulus dari semester lalu, Mas.”

Berlangganan Wangsit

Masukkan alamat email sampeyan:

Ceriakan hari-hari sampeyan dengan rutin membaca wangsitnya Mas Joe

Si Sumber Wangsit
Anindito Baskoro "Joe" Satrianto. Laki-laki dahsyat (sumpah!). Pengangguran, pengkhayal, pemimpi, pembual, sekaligus pejuang (yang tidak) tangguh. Mantan aktivis Lab Omah TI, (masih jadi) penunggu sekretariat Himakom UGM, pengeceng gadis-gadis cantik berjilbab. Ngganteng, pinter, tapi banyak utang.

Almanak
Wangsit Bergambar

r43dsworlduk
Xperia G Schutzhülle
dedetizadora sp



SEO Powered By SEOPressor