Anak-anak di Perempatan

July 27, 2009 – 7:13 pm

Sebagai seorang pengendara Aston Martin sepeda motor cap Suzuki Shogun 125 SP yang dulunya juga mengendarai Yamaha Alfa II R, aku sering banget terpaksa berhenti di tiap perempatan jalan di Jokja. Tapi tentu saja aku ini pilih kasih. Aku cuma berhenti di perempatan yang ada lampu merahnya. Kalo nggak ada? Kalo nggak ada lampu warna merah dan ternyata adanya cuma warna yang lain, ya sudah, terabas saja, Bleh! Malah kadang-kadang, walopun lampunya sudah merah, asalkan merahnya belum lewat sekitar 2-3 detik, aku juga suka bertindak ugal-ugalan. Lampu merah tiada kuperhatikan. Akunya terus saja nyelonong sambil berteriak sendirian, “I see no red-light!”

Nah, tiap berhenti di perempatan – hampir setiap saat – aku selalu diserbu penggemar-penggemarku. Dari mereka-mereka yang ngirain aku lagi sedih gara-gara patah hati sampai bela-belain menghiburku dengan nyanyian mereka, orang-orang yang nggak tega ngeliat motor sebagus motorku dalam keadaan kotor dan terus berinisiatif mengelapinya (sambil – mungkin – bergumam, “Laki-laki segagah Mas Joe nggak layak naik motor lethek.”), sampai ke beberapa oknum yang zonder malu-malu nodong pake plastik bekas gelas air mineral buat minta duit ke aku.

Dan, memang, beberapa dari mereka berhasil memanfaatkan cita-cita masuk surgaku. Kalo di kantong lagi ada receh, maka – krincing! – masuklah itu recehan ke plastik bekas air mineral milik mereka. Cuma saja – mohon diingat – aku ini pilih kasih. Karena alasan yang tidak jelas, aku lebih suka mengikhlaskan recehanku kepada mereka yang masih anak-anak, bukan ke mereka yang sudah tua-tua dengan akting memelas yang berlebihan, apalagi buat remaja-remaja tanggung bersenjatakan kencrung yang rambutnya dicat warna-warni dengan nyaris tidak mengindahkan estetika desain.

Aku memang sering kasian ngeliat peminta-minta yang masih anak-anak itu. Dalam bayanganku, mereka itu diakali sama makhluk yang lebih tua dari mereka, dieksploitasi tenaganya, dan diambil hasil kerja-kerasnya. Kadang-kadang aku juga sempat heran kalo kebetulan ketemu dengan anak yang gendut dan – menurutku – lucu, yang kayaknya nggak punya tampang buat jadi pengemis. Yang kayak gitu membuatku sering bersu’udzon, ini anak pasti korban penculikan!

Iya, korban penculikan. Korban sindikat pengeksploitasi dan penjual-belian anak berkualifikasi serta berskala internasional!

Maka ketika kemarin sore adikku, si Gothiet, yang baru pulang jalan-jalan laporan ke aku kalo dia habis ngeliat anak di perempatan Condongcatur yang lucu banget dan kayaknya nggak pantes jadi pengemis, aku kembali diingatkan sama su’udzonku. Komentar adikku: “Iya. Wong tampangnya aja bersih, minta-mintanya juga cuek dan nggak memelas, kayaknya yang model gitu itu memang korban penculikan.”

Lanjutannya, sehubungan dengan biasanya di tiap perempatan berlampu-merah pasti ada pos polisinya, aku malah jadi ngomong, “Apa polisi-polisi yang di situ nggak pada curiga ya ngeliat anak-anak itu? Aku aja yang orang awam bisa curiga, masak mereka yang pernah sekolah di Akpol itu blas nggak curiga?”

Dan jawaban penutup dari adikku ternyata sangat menentramkan hatiku. Dia bilang, “Lha, polisinya, kan, sudah dibayar.”


Facebook comments:

  1. 12 Responses to “Anak-anak di Perempatan”

  2. Dan jawaban penutup dari adikku ternyata sangat menentramkan hatiku.

    Amin. 😀

    By lambrtz on Jul 27, 2009

  3. sik lemu kae udu?
    nek aku sik rodo sengit yo karo sing Gatotkoco kae, nek sing kae pancen lara, uteke cupet

    By septo on Jul 27, 2009

  4. Dan jawaban penutup dari adikku ternyata sangat menentramkan hatiku. Dia bilang, “Lha, polisinya, kan, sudah dibayar.”

    Sungguh menyentuh menusuk, untung saya bukan polisi bayaran

    By Fortynine on Jul 27, 2009

  5. kan gak semua polisi lulusan akpol mas..
    yang di pos polisi mah cuman ecek2, jelas bukan dari akpol..

    By faisal dwiyana on Jul 28, 2009

  6. Eh, kalau saya justru menghindari memberi kepada peminta-minta yang masih anak-anak.

    Soalnya ibu temen saya pernah menjadi orang tua asuh seorang anak kecil “mantan” peminta-minta. Setiap pagi disuruh sekolah ga pernah nyampe, gara-gara balik ke perempatan tempat biasanya mangkal.

    Pas ditanya kenapa ga mau sekolah, jawabnya: “Enakan ngamen, dapet duit banyak” :shocked:

    By Nazieb on Jul 28, 2009

  7. Dan jawaban penutup dari adikku ternyata sangat menentramkan hatiku. Dia bilang, “Lha, polisinya, kan, sudah dibayar.”

    *terpana*shocked*terpana lagi*speechless*

    By anakayammanis on Jul 28, 2009

  8. lambrtz:::
    ironis, bukan? jangan bilang “bukan” 😛

    septo:::
    sik kejadian gatutkoco saya tidak berada di tkp sep. mungkin nek aku neng tkp yo ta’antili dewe 😆

    Fortynine:::
    untung saya juga bukan. saya kan detektif swasta 🙂

    faisal dwiyana:::
    pantes wae do kampret. ra tau moco novel detektif yak’e

    Nazieb:::
    sekolahnya dipindah ke perempatan aja :mrgreen:

    anakayammanis:::
    kenapa? kok shock? ada apa? ada maling? ada kebakaran?

    By Yang Punya Diary on Jul 28, 2009

  9. numpang moco.

    By farid yuniar on Jul 28, 2009

  10. bayar! 😈

    By Yang Punya Diary on Jul 28, 2009

  11. Bukan apa-apa, Joe. Saya cuma bisa mengucap puji syukur alhamdulillah kalo hati sampeyan tenteram. 😀

    Sarcasm

    By lambrtz on Jul 28, 2009

  12. ahh..saya sudah tiada pernah lagi memberi recehan ke pengamen..
    tiada mendidik 😀

    By Aday on Jul 29, 2009

  13. Aku setuju ma Aday.
    Kalo lagi niat ngasih, biasanya kepada janda-janda muda dan Ibu-Ibu yang emang kayaknya ga ada profesi lain selain jadi pengemis.

    By chiell on Jul 31, 2009

Post a Comment