Anak Bajang Menggiring Angin

“Ibu, sungguhkah kini aku tidak sendiri? Sejak kau meninggalkanku, tiada kupernah menemui cinta. Sangat sunyi dan sepilah hidup sebatang kara. Tak mungkin aku hidup bersamamu, Ibu, meski kutahu, dari dirimulah aku mendapatkan cinta dan kehangatan seperti dulu ketika masa kanak-kanakku. Tapi, ketahuilah Ibu, tak tahan rasanya kalau aku harus hidup terus sebatang kara,” kata Anoman.

Antum suka cerita wayang (Jawa)? Tidak? Tidak mengapa. Aku cuma mau bilang kalau aku suka cerita wayang, kok. Tapi apa antum tau cerita wayang? Mungkin iya, kan, meskipun nggak terlalu detail? Yaaa… Mau bagemana lagi, coba? Memang susah, kok, nyari anak muda – yang bahkan ngaku orang Jawa – yang segenerasi dengan aku, atau malah di bawahku, yang bisa apal sama tokoh-tokoh wayang sebanyak 1 kotak itu.

Susah nemuin anak muda yang bisa njawab “Kalanadah” kalo ditanya apa nama kerisnya Gatotkaca. Itu sama susahnya nyari anak muda yang tau kalo nama kahyangannya Sang Hyang Wenang itu adalah Alang-alang Kumitir, atau juga siapa namanya Bambang Sumantri setelah dia diangkat jadi patihnya Prabu Harjuna Sasrabahu? Ah, kayaknya cuma sedikit yang tau kalo gelarnya Sumantri adalah Patih Suwanda :mrgreen:

Oke, nggak pa-pa. Nggak perlu berkecil hati. Masih mending kalo nggak tau tapi diem aja, daripada udah nggak tau tapi berlagak sok tau. Soalnya kalau mendapati jenis manusia yang terakhir, misalnya kemarin-kemarin ini lewat sebuah sinetron kacangan di tipi dengan judul “Gatot Kaca”, aku jadi suka nggak tahan untuk tidak geli.

Baiklah… Bolehlah kita bilang kalo segala yang terjadi di dalam sinetron kampret itu adalah sebuah proses kreatif yang jadi hak prerogatif sang sutradaranya. Tapi tetap saja aku ngerasa janggal ketika mendapati bahwa yang jadi musuh abadi si Gatot di sinetron itu adalah Rahwana :lol: Yang bener aja donk, Oom? Mas Gatot dan Rahwana itu adalah 2 tokoh dari 2 generasi yang jauuuh berbeda dan bersumber dari 2 buah karya sastra yang berbeda pula. Yang pertama hidup di jaman Mahabarata dan yang terakhir di jaman jauh-jauh-jauh sebelumnya: Ramayana. Jadi kenapa musuhnya Gatot nggak dibikin bernama Bomanarakasura? Ah, jangan-jangan Oom Sutradara ndak tau tentang hal ini, ya?

(Tapi aku ndak nyaranin juga kalo musuhnya si Gatot dibikin berjudul Adipati Karna lho ya. Kalo macam gitu, ending sinetronnya, Mas Gatot harus mati, soale :mrgreen: )

Yak! Cukup sampai di situ saja ketidak-habis-pikiranku tentang sebuah sinetron berjudul “Gatot Kaca” itu tadi. Sekarang aku cuma mau ngasih tau kalo ada sebuah novel bagus yang berjudul “Anak Bajang Menggiring Angin” karangannya Romo Sindhunata.

novel anak bajang menggiring angin

Isinya memang cerita wayang yang mengadaptasi Ramayana, kok. Hanya saja, apakah latar-belakang antum ini sebelumnya paham cerita wayang ataupun nggak, asal antum menyukai rangkaian kata-kata indah yang jauh dari kesan blak-blakan, novel ini sangat layak buat dijadiin bacaan.

Novel ini sebenernya sudah dicetak-ulang beberapa kali. Yang sekarang mejeng di rak bukuku sendiri adalah cetakan kelima sejak terbit pertama kali tahun 80-an. Punyaku bersampul warna merah. Tapi kalo sampeyan nyari ke Gramedia sekarang-sekarang ini, niscaya sampeyan akan mendapati bukunya bersampul warna hitam.

Novel ini juga seakan-akan pengen merumuskan hakikat cinta. Berulang-kali masalah cinta dibahas di situ. Memang nggak heran, wong aslinya cerita Ramayana, kan, bersumber dari konflik cinta. Cuma saja, di novel ini dikisahkan kalau cintalah yang akhirnya menguraikan segala permasalahan.

Ente mungkin sudah tau kalo Anoman adalah kera putih nan sakti, panglima perangnya Prabu Rama waktu menyerbu Alengka. Ente mungkin juga bisa menyebutkan kalo ditanya siapa saja tokoh-tokoh wayang protagonis yang terkenal sakti dan populer? Biasanya, selain Anoman itu tadi, jawaban umum yang kutemui adalah Arjuna, Gatotkaca, atau Bima alias Werkudara.

(Well, sangat jarang yang bakal menjawab “Wisanggeni”. Padahal tokoh yang 1 ini justru beberapa kali kedapatan menghajar Batara Guru sampai babak-belur. Yeah, wayang ala Jawa dan India memang beda jauh, kok. Di versi Jawa, menurut buku “Babad Tanah Jawi”, dewa tetaplah makhluk keturunan Nabi Adam. Jadi tingkah-lakunya terkadang memang suka ngaco. Batara Guru yang penguasa Jonggringsalaka – bosnya para dewa – inilah salah satu biangnya yang hobi ngaco, sehingga nggak heran juga kalo doi sering dipukuli sama Bambang Wisanggeni yang anaknya Arjuna itu)

Balik lagi ke “Anak Bajang Menggiring Angin”… Di novel ini aku malah mendapatkan kesan kalo Anoman itu nggak sakti-sakti amat. Begitu juga dengan tokoh protagonis lainnya. Keberhasilan mereka mengalahkan Rahwana adalah karena kepasrahan mereka kepada Yang Punya Hidup dan kegigihan karena memiliki rasa cinta itu tadi. Sedangkan Rahwana sendiri kalah lebih disebabkan karena kesombongannya yang mencoba menentang hukum alam.

“Apakah artinya samudra yang luas dan dalam, bila cinta ingin mengarungi dan terjun di dalamnya, Kawanku?” tanya Anila dalam lagunya. Serentak para kera berhenti, sambil menari-nari mereka pun menjawab nyanyian Anila.

“Samudra itu akan menjadi telaga, dan cinta akan menjadi sepasang golek kencana di permukaan airnya. Hilanglah kedalaman lautan, musnahlah luas samudra, dan mandilah sepasang golek-kencana, bersiram-siraman dengan air telaga.”

Anoman berkali-kali dikisahkan seperti tokoh yang nggak tau apa-apa, suka bingung, dan panikan. Yang membuatnya bisa menaklukkan musuh-musuhnya adalah ya kepasrahannya itu tadi. Anoman berkali-kali harus dibantu dan diyakinkan oleh tokoh-tokoh figuran yang cuma numpang lewat sebelum akhirnya dia bisa menyelesaikan tugas-tugasnya.

Ramawijaya malah lebih parah lagi. Sebagai tokoh titisan Wisnu yang akhirnya menaklukkan Rahwana, beberapa kali Rama diceritakan macam orang linglung gara-gara Dewi Sinta istrinya diculik sama Rahwana. Rama mirip betul macam abege putus cinta yang nggak mau ngapa-ngapain. Berkali-kali dia harus dikuat-kuatkan sama Laksmana, adiknya, dan Wibisana. Rama berkali-kali juga dikisahkan merengek-rengek seakan-akan menyalahkan keadaan.

“Apakah artinya kedua daratan yang jauh terpisah, bila cinta hendak mempersatukannya, Kawanku?” tanya Cucak Rawun.

“Daratan itu akan menjadi sejengkal tanah karena sayap cinta. Siapakah yang dapat terbang seperti sambaran halilintar kecuali cinta? Jangan daratan di dunia, surga pun dalam sekejap akan disentuhnya, bila cinta sudah terbang dengan sayapnya,” sahut para kera menyambut nyanyian Cucak Rawun.

Jadi kembali lagi, di novel ini pada akhirnya segala sesuatunya diselesaikan oleh Cinta. Segala bayanganku sebelumnya tentang ampuhnya senjata Guwawijaya milik Rama, atau juga dahsyatnya kesaktian Anoman, jadi lenyap sewaktu membaca novel ini. Maka kalau ditanya, apa perkara yang membuat manusia mampu melakukan suatu hal di luar batas kemampuannya, maka jawabannya adalah “cinta” :)

Dan akhirul kalam, penilaianku tentang novel ini, ini adalah novel yang harus dibaca oleh siapa saja yang ngaku-ngaku punya hobi mbaca. Kalo sampeyan kebetulan berjenis kelamin wanita dan berparas manis, seperti biasa, sampeyan boleh meminjam novel ini langsung ke aku. Jika tidak, silakan cari di toko buku terdekat di sekitar tempat tinggal sampeyan. Terima kasih :mrgreen:

“Apa artinya gunung yang tinggi dan perkasa, bila cinta hendak merobohkannya, Kawanku?” nyanyian Kapi Menda terdengar lantang dan merdu.

“Gunung itu akan rata dengan tanah. Dan kekasih yang saling tersembunyi di baliknya akan berhadapan mata. Malu-malu mereka, meski sebelumnya sangat rindu hati mereka, ketika tiada lagi gunung yang menjadi penghalang bagi mereka untuk bertatapan muka. Tapi seperti mereka telah mematahkan keperkasaan gunung, patah pula rasa malu mereka, dan berpeluk-pelukan mereka di atas tanah dari gunung yang dulu menyembunyikannya,” sahut para kera.

Facebook comments:

17 Responses to “Anak Bajang Menggiring Angin”

  • sedang ingin mengupas makna sastra jendra? harus ada lawan jenisnya yang siap menggoda lho, kalau saya perhatikan sih, sepertinya situ bakalan cepat tau maknanya soalnya blm ada yang mau menggoda sih ahuhuu

  • semuth03 says:

    mas,di sms kok ngga di bales,mantolma duit saia mana? terpaksa saia ujan-ujanan…..

  • ernesto tampan:::
    ah, itu sebenernya banyak jika anda mengintip inbox hape saya :P

    semuth03:::
    oot. minggat!!! :twisted:

  • [...] This post was mentioned on Twitter by Joe Satrianto. Joe Satrianto said: anak bajang menggiring angin: http://ping.fm/rwlOM [...]

  • lemmot1me says:

    mas joe,
    pinjem dong bukunya…

  • ndak boleh, saridut. kamu kan ndak manis :P

  • wi2d says:

    Eike tau kalau antum titisan dari sang Patih Sengkuni dengan nama kecil Arya Suman. Bersifat tangkas (trengginas), pandai bicara (pinter micara), buruk hati (ala atine), dengki, jahil methakil, dan licik.

    Hehew..

    BTW, secara umum, menurut eike yang namanya epos Mahabarata dan Ramayana itu benar-benar karya yang sangat mengagumkan. Jauh lebih mengagumkan ketimbang trilogy “Lord of The Ring” ataupun tetralogi “Laskar Pelangi”.

    Eike kayake belum baca je itu “Anak Bajang Menggiring Angin”, kalau sebagus epos Mahabarata dan Ramayana, nanti-nanti eike mampir ke rumah situ akh. Mo tak colong sebelum keduluan yang lain.

  • Cahya says:

    Novel itu bacaan saya pas kelas 4 SD dulu, jadi kangen banget :D

  • kimi says:

    aku boleh pinjem? kan aku manis… hahaha

    btw, klo ditanyain nama2 tokoh pewayangan dijamin aku ga bakal inget meskipun aku udah baca bukunya. Yah… mungkin ingetanku nda terlalu bagus, atau aku emang bacanya ga fokus buat ngapalin nama tokoh2nya. itu di kamar kos ada satu buku Mahabarata, udah habis kubaca tp tetep… aku ga inget nama tokoh2nya atau siapa anaknya siapa atau siapa keturunannya siapa. ngebingungin. (haha)

  • wi2d:::
    sebagai seorang pandita seharusnya anda jangan suka ngapusi publik dan menebar fitnah, kakang kumbayana…

    ingatlah, apabila anda kebanyakan ngapusi, bisa-bisa ada yang dendam kepada anda, bahkan dibawa sampai ke liang kubur. bambang ekalaya, misalnya.

    situ ndak boleh minjem. selain situ bukan wanita, situ juga ndak ada manis-manisnya!

    Cahya:::
    waw…waktu kelas 4 esde? hebat! jaman segitu apa nggak bingung sama bahasa-bahasa simbolik yang dipake dalam novelnya, oom?

    kimi:::
    mungkin kata-katanya biksu kepalanya kuil dairin benar adanya:
    yang mengetahui akan kalah oleh yang menyukai, dan yang menyukai akan kalah oleh yang menghayati :D

  • Sugeng says:

    Jadi ingat waktu jaman esempe, minjem buku versi komik d perpus kisah mahabarata. keasikan baca berkali-kali, sampai kena denda, dibela2in ngutang sama teman he..he..

  • ninit says:

    mas joee… aku sudah barang tentu blh pinjam kkan??
    Aku tdk pernah mengerti cerita mahabarata dan ramayana. Walaupun ayahku mengerti soal perwayangan..
    I need to find out the story of mahabarata n ramayana first mngkn ya. Baru mbaca ‘anak bajang menggiring angin’

  • Sugeng:::
    ooo…kalo kena denda, itu masih jadi hobi saya sampe skrg. saya ini buronan se-taman bacaan di sekitaran ugm, nyahahaha

    ninit:::
    langsung baca anak bajang juga gpp kok. itu juga cerita ramayana, aslinya. cuma judulnya aja yang agak gimana gitu :mrgreen:

    kecuali kata2 puitis di dalamnya, selebihnya ceritanya memang tentang ramayana itu sendiri, kok

  • nd says:

    “Apakah artinya kedua daratan yang jauh terpisah, bila cinta hendak mempersatukannya”

    Berarti masi ada kesempatan buat gw sama kim ki bum 8->

  • faizal says:

    wes takklarifikasi kro wong2 India…nek cerita wayang India & Indo mirip. mereka tidak menggangap tokoh wayang itu benar2 tuhan…tapi keturunan tuhan/titisan. Btw, dari beberapa penggalan novel kwi…iso taktafsirke…munyuk kwi luwih dong ttg cinta…terbukti semua pertanyaan dijawab oleh pasukan munyuk. hehehehe. hidup munyuk.

  • Hutaki says:

    Oh..ini Sindhunata to?
    Waaahh..saya suka sekali buku-buku beliau, karena berbau sejarah dan dongeng….

  • referensi yang mantep :D

Leave a Reply

Kitab Wangsit
SUDAH TERBIT!
Kitab wangsit karangan Mas Joe, idola masa kini para remaja putri. Mumpung bakulnya masih buka, mari segera dikonsumsi!

Cocok untuk dibaca sambil ngemil kuaci ataupun sebagai teman semedi di kamar mandi.

Minatkah?

Kalau minat, bolehlah klik di SINI untuk segera membeli. Buruan! Minggu depan harga naik tiada karuan.

Berlangganan Wangsit

Masukkan alamat email sampeyan:

Ceriakan hari-hari sampeyan dengan rutin membaca wangsitnya Mas Joe

Si Sumber Wangsit
Anindito Baskoro "Joe" Satrianto. Laki-laki dahsyat (sumpah!). Pengangguran, pengkhayal, pemimpi, pembual, sekaligus pejuang (yang tidak) tangguh. Mantan aktivis Lab Omah TI, (masih jadi) penunggu sekretariat Himakom UGM, pengeceng gadis-gadis cantik berjilbab. Ngganteng, pinter, tapi banyak utang.

Almanak
Wangsit Bergambar




SEO Powered By SEOPressor