Anak Kos Dodol Lagi: Kutukan Sekuel

Percaya ataupun ndak percaya, manusia dalam hidupnya butuh keseimbangan, yang tentunya dalam perkara yang tidak merugikan orang lain. Apapun yang dilakukan secara rutin dan terus menerus pasti bakal membosankan dan kita bakal membutuhkan sesuatu yang berlawanan untuk menetralisir. Coding terus-terusan pasti bikin mumet, dan Saber (sebutannya adalah “The Prince of Code”, lagu favoritnya adalah “Nyanyian Kode“) membutuhkan futsal untuk pelampiasannya. Tapi futsal terus-terusan sampai nggak coding-coding ternyata bikin pusing juga. Hidup nggak tenang gara-gara banyak pihak bertanya, kapan mau wisuda? Begitulah kalo hidup cuma diisi main-main terus sampai melupakan coding dalam rangka menyusun skripsi. Tanyakan saja hal itu pada adik-adik kelasku yang mulai menuai karma dari perbuatannya dahulu: ngece-ngece aku sebagai mahasiswa abadi yang nggak lulus-lulus kuliah.

Sukurin!

Sekarang aku dengan tenangnya bisa gantian ngece mereka: “Sampai kapan mau kuliah terus? Ndak malu sama umur, apa? Sampai kapan mau jadi mahasiswa kere yang nggak produktip?” Hahaha, rasanya melegakan dada dan tenggorokan, lho…

“Sok-sokan. Ra kelingan jaman semono,” begitu biasanya balas mereka.

“Lho, itu, kan, jaman dulu. Dulu ya dulu. Sekarang ya sekarang. Sekarang, kan, aku dah lulus, dah jadi orang kaya.”

“Kalo kaya mbok yo kita dijajanin, Joe. Plis, Joe… Kofimix di kantin aja.”

“Enak aja. Aku memang kaya tapi bukan untuk kalian. Kayaku cuma buat Ayu.”

“Oyak-ayuk terus… Pancen katalit. Kaya tapi pelit!” begitu sumpah-serapah yang kemudian meluncur dari seorang perjaka butut berjudul Pepe.

Dan kembali ke masalah imbang-imbangan, aku ini hobi ngoleksi buku yang bikin mikir. Anti gombalan ala teenlit. Sampai-sampai Septo pernah ngomong ke Haji Wiwid (pengumuman! Wiwid itu kecil-kecil sudah naik haji, lho. Tapi karena tingkah lakunya masih tengik, muncullah teka-teki baru di kampus: haji apa yang kurang ajar? Biasanya, sih, jawabannya adalah “hajingan”. Celakanya gara-gara polahnya Wiwid, jawaban teka-teki itu jadi berubah: Haji Widya Permana Kusuma), “Nek meh nyilih buku sing ringan-ringan ojo neng si Joe. Kae lho, nenggone Destian. Akeh teenlit.”

Bahkan saking hobinya memelihara teenlit dan menambah koleksinya, terutama saban lagi patah hati, Destian dinobatkan sebagai raja teenlit, mengalahkan rekan-rekan putrinya yang 1 angkatan.

Sebenernya, sih, buku yang kubeli itu – kalo mau dibilang – mikir-mikir banget ya juga nggak. Cuma memang saban beli buku, aku jarang beli buku yang jenisnya pop. Biasanya beli yang isinya esai dan renungan-renungan. Kalopun yang isinya cerita, ceritanya juga karangan dari pengarang yang nggak lazim didengar kupingnya anak-anak muda, dan tentu saja jauh dari tema cinta ala Destian. Cuma ada 3 buku di rakku yang temanya cinta. Triloginya “Cintaku di Kampus Biru”. Inipun belinya gara-gara rasa kebanggaan terhadap almamater aja :mrgreen:

Maka lama-lama aku jenuh juga keterusan mbaca buku model gitu. Sekali-sekali pengen juga beli buku yang gambar sampulnya lucu-lucu, yang ceritanya ringan-ringan sahaja. Tema cinta pun sempat membuatku nyaris khilaf. Ndak pa-palah sekali-sekali beli buku gituan, batinku, meskipun aku – sejak jadi pleboi – ndak pernah butuh referensi tentang cinta lagi. Butuhnya ilmu pelet kelas dunia! 😈

Alhasil aku akhirnya sempat beli “Anak Kos Dodol”, karangannya Mbak Dedew, yang isinya tentang cerita sehari-hari di sebuah kos-kosan putri (alhamdulillah nggak didominasi tema cinta). Berita tentang peristiwa ganjil itu menyebar cepat di kampus. “Si Joe ndengaren beli buku yang bisa dipinjam!” jerit anak-anak. Maka benar saja, buku itu langsung beredar dari tangan ke tangan. Sekarang aku bahkan nggak tau bukuku itu lagi berada di tempatnya siapa. Dan, saking mupengnya sama kehidupan di kos-kosan putri yang diceritakan di buku itu, Septo sempat ngajakin aku berburu dan meramu, aeh, berburu mencari-tau di manakah letak kos-kosan yang bernama Puri Cantika yang disebut di buku itu.

Sambil boncengan pake Shogun SP-ku, kami mulai menyusuri daerah Karanggayam, Kuningan, Klebengan, Sendowo, sampai Pogung. “Mungkin yang ini, Nyep,” kataku sambil menunjuk kos-kosan putri lumayan besar di daerah Pogung yang bergenteng merah, setelah lewat berdetik-detik ternyata kami belum juga menemukan buruan kami.

“Ora mungkin. Kuwi kos-kosane Baban, bojoku,” kata Septo.

“Mungkin di sekitaran Pandega, Nyep, kalo gitu.” Dan meluncurlah kami ke daerah Pandega sampai akhirnya menyerah dan memutuskan istirahat di rumahnya Komeng yang deket-deket situ. Dasar siyal, bukannya disuguhin minum, sampai di tempat Komeng kami malah dikompasin duit buat urunan ngecer rokok.

Memang, sih, waktu itu kami berpikir pendek. Gara-gara di buku itu berkali-kali disebut kalo Mbak Dedew doyan dolan di daerah yang seharusnya adalah kekuasaannya anak-anak UGM, kami jadi berpikir kalo Mbak Dedew sendiri adalah anak UGM juga. Mahasiswi FE, lebih tepatnya.

Tapi apa lacur, setelah lewat berwaktu-waktu aku baru tau kalo Mbak Dedew itu anak UPN. Tika, mantan pacarku tersayang (heran… Setiap mantan pacar, kok, selalu kusebut “tersayang”, ya? Yang betul-betul “tersayang” sebenernya yang mana tho?), mengungkapkan fakta kalo Mbak Dedew ternyata sempat sekantor sama dia di Jakarta. Kesaksian itu diperkuat bukti kalo di buku keduanya, “Anak Kos Dodol Lagi“, Mbak Dedew sempat menyebut teman sekampusnya yang beda jurusan. Anak mineral, katanya. Lha ya kampus mana lagi di Jokja yang punya banyak chick-chick (baca: gadis cantik!) dan jurusan mineral-mineralan kalo bukan UPN? Gembus! Perjuangan kami berburu Puri Cantika ternyata percuma. Pantes aja ndak ketemu-ketemu, wong kami nggak berburu di daerah Seturan, kok.

Tentang “Anak Kos Dodol Lagi”? Iya, aku khilaf juga beli buku keduanya Mbak Dedew itu. Gara-gara di halaman-halaman awal dipajang namaku di situ. Potongan review buku pertamanya yang sempat kuposting waktu itu ternyata dimuat, dan SMS dari penggemar-penggemarku mulai berdatangan. “Joe, selamat ya… Dibayar berapa kamu? Makan-makan, dong!”

Hmmm… Makan-makan gundulnya… Wong aku aja nggak pernah dikonfirmasi dan tau-tau potongan tulisanku nongol, kok. Ya bagemana bisa dapet bayaran kalo kayak gitu? Aku malah sempat mau protes segala gara-gara kasus itu, ceritanya.

“Emange kowe meh protes piye, Joe? Meh njaluk bagian bayaran ngunu?” tanya Septo.

“Tentu tidak, duhai Josephine (ini panggilan kesayangan buat Septo dari Komeng dan mbak-mbak kantin di kampusku). Aku ini orang kaya. Jadi buat apa aku meributkan uang yang jumlah nominalnya tiada seberapa? Meh protes wae, kenapa tanpa pemberitahuan ngerti-ngerti jenengku muncul? Pemberitahuan sahaja tiada, apalagi seloyang pizza dan semangkuk salad plus segelas es teh lemon,” jawabku.

“Ooo… Protes guyon, tho?”

“Haiyo… Ra penaklah nek tenanan, wong koncone Tika barang, kok.”

“Tapi sak ngertiku kudune paling ora ono etikane. Sak ora-orane kudu ngomong sik, sih. Masalah bayaran itu bisa dibicarakan kemudian. Tapi setidaknya nek pengen njupuk tulisane wong yo kudune ngomong sik,” kata Haji Wiwid mengompori keadaan. Pancen tengik, kan, beliaunya itu? Wong akunya sudah ikhlas dan legowo, ini malah dipanasi lagi. Tiada salahlah kalo Wiwid ini dijuluki sebagai “Bambang Kumbayana”, nama mudanya Pandita Durna, hahayyy…

Nah, karena itu sebaiknya kita tidak usah mempedulikan Haji Wiwid. Kita bahas isi buku keduanya aja.

Dan nampaknya kutukan tentang sekuel juga berlaku di buku ini. Tau, kan, tentang kutukan sekuel? Itu lho…kenyataan kalo sekuel (biasanya dalam film) sangatlah susah kalo ingin menyamai apalagi melebihi kesuksesan pendahulunya. Memang ada beberapa sekuel yang sukses besar, sih. Tapi yang terpuruk ternyata malah lebih banyak lagi. Buku keduanya Mbak Dedew inipun, buatku, ternyata kena kutukan juga.

Metode yang sama tidak akan berhasil memberikan kejutan, sodara-sodara. Jadilah aku gagal mendapatkan sesuatu yang baru dari buku keduanya Mbak Dedew ini. Model ceritanya, menurutku, masih sama. Gayanya juga masih sama: ada yang memang konyol dan ada yang bisa direnungkan. Cuma saja – aku berpendapat – sekuel harusnya bisa memberikan sesuatu yang fresh buat penikmatnya. Kalo masih tetap sama maka apalah gunanya? Lebih baik 2 buku itu dijadikan 1 saja. Itu juga bakal lebih mempermudah pendataan kalo ada temanku yang mau pinjam buku-bukunya Mbak Dedew ke aku. Aku nggak perlu ngomong, “Mau pinjem ‘Anak Kos Dodol’? Mau pinjem buku yang pertama atau yang kedua?” karena memang bukunya cuma ada 1 πŸ˜€

Tapi overall nggak pa-palah. Kalo ada yang mau tau cerita kehidupan anak kos – terutama yang cewek – di Jokja, atau kalo ada yang kangen sama nostalgia masa mudanya waktu masih jadi mahasiswa, buku ini bolehlah dikonsumsi. Aku toh masih bisa senyum-senyum dan terenyuh juga pas mbaca ceritanya, meskipun nggak ada sesuatu yang benar-benar baru dibandingkan buku pertamanya. At least, buku ini jauh lebih layak baca ketimbang teenlit-teenlit yang rajin dikoleksi sama Destian πŸ˜†


Facebook comments:

31 Comments

  • Landhes |

    Hoho..
    Etika semacam itu memang dibutuhkan mas..
    Dalam dunia foto juga sering terjadi,apalagi kalo digunakan untuk tujuan komersial..Pastinya paling tidak ada kejelasan…

    Tp ngmg2 mslh buku dan sekuel ceritanya,saya ga begitu bisa nanggapi..Orang blom baca..
    Hehehe..

    Kamu sendiri ga tertarik nulis bukukah wahai Sengkuni?

  • Athrun |

    Etika emang perlu kok Joe… sing gk perlu ki kuliah etika profesi dosen pak Me** :p

    Jadi mau nuntut ato engga Joe??

  • Yang Punya Diary |

    Landhes:::
    tiada, ndhes…
    daripada saya digebukin orang yang tersinggung gara2 tulisanku nanti

    itikkecil:::
    ndak dapet apa2. semoga aja tau2 duitku di rekening bank jadi nambah πŸ˜€

    hanna:::
    ooooo…hanna pekok! genah2 aku tu nulis penilaianku tentang bukunya, masih pake nanya segala

    Athrun:::
    betul. ndak perlu. wong ditinggal dolanan pancingan karo raket badminton terus πŸ˜›

  • About Samarinda |

    Lhaa…seharusnya dapet fee dong…walaupun hanya sekedar ucapan sebaris kalimat…(dia kan dapet bayaran tho…???)

    Ha…ha…ha…ketahuan dah blogger matre’….

    Tuntut ayooo…thak dukung dari samping…he…he…he…

  • ajeng |

    Angin membawaku sampai ke blog ini,salam… Serasa minum es degan nih baca postingannya

  • Dedew |

    Haii makasihh ya Sat, direpiew lagii bukuku walo karena khilaf hehe..

    makasih bangeeet masukannya yang berarti banget walopun dibilang kutukan sekel hiks hiks kejaaam hihi..

    Tadinya emang ngga ada niatan bikin sekuel ehh pada minta jadi habis lahiran dibuatlah AKDL..

    moga-moga ntar kalo AKD 3 sampai ketulis lagi..aku kudu pikirin samting new..ada saran kah?

    Soal komenmu masuk, iyaa..aku comot dari FS dan review an AKD..mau hubungi makhluk-makhluk yang udah komen rada susah juga..tar dehh kalo komiknya terbit aku kirim satu buatmu,

    Tapi ingetin ya..teriak di FB ku *imelnya sama dengan imel diatas yak, maklum tante pikun hihihi..

    thanks banget..sukses buatmu yaa!

    Dedew kiyuttt…
    *ketebak nih UPN, horeee…

  • masluqman |

    harusnya mas joe kan yg bayar. kan nama blognya udah mejeng di buku itu πŸ˜€

    ~aduh besok uts malah mampir2 ke sini πŸ™

  • Yang Punya Diary |

    About Samarinda:::
    ah, ndak. saya sih menolak meributkan hal yang sepele (nyatanya saya toh memang lebih ganteng dibandingkan pele). lagi mengubah mental kere, soale. sedang mencoba menganggap diri seperti bill gates yang kalo selembar duitnya sebesar $10 jatuh, di tempat lain jumlah duit yang masuk ke rekeningnya jauh lebih besar dibandingkan yang jatuh sewaktu dia berusaha memungut kembali lembaran $10-nya :mrgreen:

    ajeng:::
    saya jualnya es teh, mbak. bukan es degan πŸ˜›

    bodrox:::
    saya sudah sering masuk di buku, kok. semua buku tulis saya pas jaman esde pasti ada nama saya di sampul depannya

    Dedew:::
    ahahaha, taunya upn gara2 mantan pacar kok, mbak. e iya, saya ndak usah dikasih komiknya juga gpp, asal dikasih tau alamat lengkap bekas kos2annya mbak. bukan apa2, sih…kasian sama septo aja πŸ˜†

    masluqman:::
    itu sandra dewi sering masuk tipi tapi dia malah dibayar juga. hayooo…

  • aliaz |

    Aku nyileh bukune sing anyar joe…
    Wis suwe rak iso tuku buku gara-gara ngeblog. wingi-wingi mampir ning blog ku yo joe? nguja opo kesasar joe???
    saiki aku wis aktip maning πŸ™‚

  • Aday |

    jo, nek wes entok alamat kos2an aku diajak yoh!
    tak fasilitasi antar jemput nganggo mobil wes!!
    lumayan to..hehe

  • Muzda |

    Wahh,, udah deg-degan aja waktu kamu nyari di daerah sekitar kaliurang,, sapa tau yang depan rumahku itu,, heee…

    Ehm,, beneran punya trilogi Cintaku di Kampus Biru..?
    Boleh dong pinjem πŸ˜€

  • chiell |

    Kirain kos Putri Cantika tu kos-kosan depan kosku.

    Cewek2nya lumayan dodol juga soale..

  • Yang Punya Diary |

    Ken Arok:::
    orang ganteng berhak pamer, gun πŸ˜›

    aliaz:::
    sini..sini..
    dateng ke rumah saya dan jangan lupa bawa martabak yang isinya daging sapi sama jamur ya

    Aday:::
    tapi nek lanangan ra oleh mlebu yo percuma wae wis nggowo2 mobil, day

    Muzda:::
    punya, donk. ahak..ahak..
    pinjem? hmmm…sekarang saya lagi kepengen terang bulan coklat-keju πŸ˜€

    kudzi:::
    jelas, ji. kerja di rumah sahaja…
    bukan tipeku jadi bawahannya orang lain, soale. harga diriku tinggi, hahayyy :mrgreen:

    Girls Corner:::
    lha kira2 bagemana?

    Miss Anna:::
    yoi, salam kenal juga

    chiell:::
    ana sing ayu ra? ana sing iso dijak dinner bareng ra? wis nduwe bojo yo rapopo. sing penting ayu. aku kan cen seneng mbajuli bojone wong, hahayyy

  • kudzi |

    hueeeeekkk.. harga diri tinggi ?? hueeeeekkkk….
    mau muntah aku.. hahahahaha… piss dab, mau dikenalin cewek – cewek palembang ga ?

  • Muzda |

    Wah,, pas tuh …
    Deket Pogung ada terang bulan keju enak …
    Cumaaa… pa hubungannya ma buku yaa ..??
    Hmmm …

  • yang punya nama wiwid |

    Sungguh teramat gabil, gabil sekali dirimu jon. Gabil.. Gabil.. Dan Gabil.. Dikau sesuka hati menuliskan nama saya yang indah di sini, pencemaran nama baik. Bisa saya laporkan di komnas perlindungan anak!

  • Aday |

    rapopo misale ra entok mlebu..
    kan lumayan nek iso kenalan tros ngajak dolan wedokan penghuni kos-kosane.. πŸ‘Ώ

  • restu |

    kalo bagus di komikin biar gak susah bayangin tolong dong bilangin ke mbak dedew di komikin lagi

  • aphip_uhuy |

    β€œOra mungkin. Kuwi kos-kosane Baban, bojoku,” kata Septo. sundul ahhh πŸ˜› ben kewoco :p xixiixi *kabuuur (lagi) dg gaya cangcorang

  • didit |

    Blog yang bagus bro….semoga bermanfaat buat semua πŸ™‚
    Just share aja ….Mau minyak pelet mani gajah yang super ampuh ??

    segera kunjungi blog saya . thanks

So, what do you think?