Antara Perbankan Syariah dan Khilafah Islamiyah

Beberapa hari terakhir ini dengan sangat menyenangkannya aku nemu lawan berdebat lagi. Temanya, dengan sangat menyenangkannya pula, adalah tentang Khilafah Islamiyah yang kali ini menghadirkan aku dan Oom Tomy. Maka jikalau di antara ente ada yang kepengen mbaca bagaimana jalannya obrolan di antara kami berdua, silakan dicek aja tulisanku yang kuposting kemarin dulu itu.

Oke, secara garis besar obrolanku sama Oom Tomy itu diangkat dari argumenku yang menyatakan kalo model kampanye tentang Khilafah Islamiyah masih kayak yang sekarang ini, ta’pikir perjuangan penegakan khilafah ini nggak bakal ada hasilnya. Mentok. Karena itu aku berpendapat ada yang harus diubah dari cara promosinya. Promosinya haruslah tidak arogan seperti yang biasanya kulihat di poster dari Hizbut Tahrir yang ditempel di dinding (bekas) kampusku.

Tapi kupikir Oom Tomy salah tangkap dengan maksudku. Disangkanya aku ini penentang tegaknya Khilafah Islamiyah yang harus segera diinsyafkan. Ya jelas aja aku protes, wong yang kukritisi itu metode kampanyenya dan bukan esensi yang diperjuangkan dari kampanyenya, kok. Lama-lama juga obrolan kami berkembang ke masalah perlu tidaknya metode promosi itu diubah. Sejauh ini – sepenilaianku – Oom Tomy berpendapat nggak perlu. Nggak ada yang harus diubah dari rutinitas yang ada selama ini, yang kuamini dengan: silakan saja metode promosinya tidak diubah dan silakan saja nikmati hasil dari kampanye khilafah mentok segini-segini aja :twisted:

Karena itu sekarang ini aku mencoba membandingkan 2 jenis strategi promosi dari 2 sistem yang konon diadopsi dari hukum Islam: Perbankan Syariah dan Khilafah Islamiyah.

Saat ini, sejauh yang aku tahu, Perbankan Syariah yang baru muncul berapa tahun belakangan ini nggak pernah jadi polemik. Dalam artian nggak ada yang pernah terang-terangan menolak sistem ekonomi syariah. Di blogosphere juga nggak pernah kubaca ada blogger yang menulis kalo dia menolak sistem ekonomi syariah. Ini jelas beda dengan keadaan kalo kita sedang membahas tentang Khilafah Islamiyah ataupun Perda Syariat. Yang terakhir itu gampang banget nemu pembahasan yang akhirnya jadi polemik. Yakinlah sumpah!

Ada apa? Apa bedanya? Kok bisa kayak gini, padahal, kan, dua-duanya juga bersumber dari hukum Islam?

Baiklah, aku ceritakan saja kalo tulisan ini kubikin setelah aku selesai e’ek. Pas e’ek tadi itu entah kenapa aku ngelamun tentang apa saja perbedaan dari 2 sistem ini, kenapa yang 1 adem-ayem dan yang 1 lagi malah ditentang habis-habisan? Ternyata benar kata pepatah… Orang sibuk itu paling sabar kalo duduk di jamban. Kesimpulan dari pemikiranku adalah adanya perbedaan pada cara promosinya.

Perbankan Syariah setauku dikampanyekan dengan cara yang cerdas, yang menonjolkan keunggulan-keunggulan sistemnya dibandingkan dengan Perbankan lainnya yang konvensional. Kampanye ini juga dilakukan dengan cara yang santun, iklan-iklannya di tipi dan koran nggak ada yang arogan, nggak ada yang dibuat dengan cara menyudutkan dan menjatuhkan sistem dan ideologi saingannya. Promosi Perbankan Syariah, pendek kata, difokuskan pada mengedukasikan keunggulannya kepada masyarakat awam dengan cara yang simpatik. Makanya nggak heran kalo – seandainya bicara dalam konteks yang lebih global – Perbankan Syariah (katanya) sudah mulai dilirik dunia sebagai alternatif sistem konvensional yang ada selama ini.

Bagaimana dengan Khilafah Islamiyah?

Bah, kalo yang ini, sih, jujur saja model kampanyenya kayak promosi yang dibikin sama biro iklan yang tolol!

Mana ada yang bakal tertarik sama Khilafah Islamiyah kalo kampanyenya dilakukan dengan cara yang menjatuhkan ideologi pesaingnya? Promosi yang agresif dan arogan macam gitu jelas aja tidak mengundang kesimpatikan. Makanya kubilang metodenya perlu diubah. Sayangnya Oom Tomy ndak tertarik :mrgreen:

Contoh sepelenya, diawali dari komunitas yang kecil, lihat aja di kampusku. Ideologi barat disebutnya sebagai ideologi kufur dalam poster bikinan mereka. Padahal kata “kufur” alias kafir memiliki makna konotasi yang negatif. Jadinya ya kalo belum apa-apa sampeyan sudah memosisikan diri sebagai musuh, ya terang aja hasil sepadan itulah yang bakal kalian dapatkan: dimusuhi! Lha ya kalo dari ruang lingkup yang kecil aja udah nyari musuh, bagemana yang besarnya mau berharap untuk tidak dimusuhi?

Maka mari kita bicara hal-hal yang fundamental. Mari kita bicara hal-hal sepele yang mendasar. Mari kita bicara bagaimana membuat orang tertarik terlebih dahulu. Iya, kan?

Jadi kalo misalnya ente mengeluarkan suatu produk baru, misalnya susu kaleng yang diberi merk “Susu Mbok Darmi”, yang memiliki tagline “Susu Mbok Darmi Rasanya Stroberi, Susu Mbok Darmi Asli dari Boyolali”, pertama-tama yang harus dilakukan jika ente pengen produk ente dikonsumsi sama orang banyak tentunya mengenalkan produk tersebut ke mereka, kan?

Misalnya saingan ente adalah produsen susu cap “Dancok” dan ente ingin konsumen mereka beralih ke produk ente, ya jangan bikin iklan yang bikin marah konsumen setia Susu Dancok itu, dong. Kalo sampeyan bikin iklan yang macam gituan, otomatis nggak ada konsumen Susu Dancok yang mau beralih buat minum Susu Mbok Darmi. Iya tho?

Karenanya fokuskan saja iklan sampeyan itu ke keunggulan produk sampeyan tanpa harus menjatuhkan produk saingan sampeyan. Lakukan kampanye dengan cara yang elegan, yang memperhatikan aspek-aspek penting pada mata kuliah pemasaran. Jangan ngeyel dan jangan mau menang sendiri kalo ada masukan dari pihak lain. Dengarkan dulu, siapa tahu dari situ ada inovasi pemasaran yang bisa sampeyan kembangkan. Terus juga, jangan menganggap semua konsumen itu punya pemikiran yang sama dengan sampeyan. Karena itu lakukanlah riset pasar demi menghasilkan strategi promosi yang efektif dan efisien.

Akhirul kalam, aku nggak bisa bilang apa-apa lagi kalo ente masih ngeyel. Tapi kalo ente masih kepengen produk ente laku keras di pasaran, ya belajarlah tentang perkara pemasaran. Dan tentunya strategi pemasaran untuk masa sekarang ini sudah jauh berbeda dengan strategi pemasaran pada masa hidupnya Nabi Muhammad SAW, kan? Tentu saja! Lha wong calon konsumen kalian sekarang itu sudah jauh lebih pinter ketimbang Abu Jahal sama Abu Lahab, kok :twisted:

Facebook comments:

36 Responses to “Antara Perbankan Syariah dan Khilafah Islamiyah”

  • aladin says:

    “Susu Mbok Darmi Rasanya Stroberi, Susu Mbok Darmi Asli dari Boyolali”

    (gambar jempol) Budi Raharjo Likes This.

  • Parus says:

    Nonton aja ah… :D

    *nggelar tikar, nunggu komentarnya Oom Tomy*

  • betul mas
    Kayaknya metode promosinya kudu dirombak lagi
    Trus mereka harus menjelaskan sistem khilafah itu sebenarnya seperti apa

  • jensen99 says:

    IMO sih, sistem perbankan syariah bisa diterima semua pihak karena tidak menggantikan sistem perbankan konvensional yang lebih dahulu ada. Keduanya jalan sama2. Jadi ada pilihan bagi yang tidak ingin memakai bank syariah. CMIIW ;)

  • aladin:::
    bah, kowe nyambunge mung saban perkoro susu, bej :lol:

    Parus:::
    karcis..karcis..mana karcisnya, mas?

    the riza de kasela:::
    itu dia. untuk mendapat kesempatan menjelaskan, mereka pun seharusnya “permisi” dengan baik-baik, kan?
    mana ada sales selang kompor gas yang mendatangi rumah calon konsumennya dengan langsung memaksa dan bertindak arogan tho? pastinya mereka ngetok pintu sambil bilang “samlekum” dulu :P

    jensen99:::
    kalo mau bicara sistem secara keseluruhan, saya malah lebih setuju kalo yang diadopsi adalah esensinya yang cocok diterapkan di masyarakatnya saja. bukan harus dengan menyertakan embel-embel bahwa sistem ini, sistem itu, atau sistem anu adalah produk islam. yang dibutuhkan oleh masyarakat, IMHO, adalah mangpa’at dan paedahnya, bukan perkara merknya.

    penggunaan simbol-simbol agama untuk hal-hal yang majemuk justru malah terkesan memberikan sekat sahaja ;)

  • Assalamualaikum Gan
    kalau mau bicara sistem yang penting sesuai dengan Al-Quran dan Hadist, namun memang tak bisa dipungkiri kita hidup di Dunia yang kompleks..tapi yang penting Niat kan gan..

  • kalo nurut sama katanya ustadz nazieb, sih, niat aja belumlah cukup :D

  • aladin says:

    pokoke hidop sora!!!!

  • -D- says:

    yah gw dpt ni web dr ade gw. krn gw numpang liat” jd ga ada salahnya gw ninggalin e’ek gw disini sedikit aja.

    2 kasus perbandingan.
    perbankan syariah vs. khilafah islamiyah

    ok kasus 1. bank syariah

    perbankan syariah -> promosi + service & fungsi -> bisnis -> profit -> promosi dr klien” yg puas scr gratis.

    (meskipun bank” syariah blom 100% halal, hampir tidak ada malahan. malaysia yg plg jago sedunia aja dan menjadi kiblat perbankan syariah masih diragukan, apalagi indo. ga usah protes, gw anak ekonomi, gw tau persis sampai jumlah tai tiap pegawai bank syariah per hari rata-rata berapa keluarannya.)

    lanjut kasus 2. khilafah islamiyah.

    cari umat -> ideologi sangat kuat -> promosi kurang baik / negative marketing) -> mau untung jd buntung.

    (spt yg uda di post, balik lg deh klo mau menyebar dakwah tp uda membuat lain pihak menjadi musuh, ya uda lah brabe. makin dimusuhi. blom lagi ideologi yg kuat membuat hati cenderung tertutup dan mata menjadi buta tidak melihat kiri & kanan, yg penting jihad. meskipun gw adalah islam ktp dan makan tongseng babi campur anjing kuah alkohol. gw ngerti betul gmn mereka menyebar dakwahnya. bukankah islam ‘katanya’ agama perdamaian… tp kok dakwah uda mengecam musuh? apa yg ditanam, itu yg dituai.)

    sekedar tambahan:
    contoh plg nyata, plg gampang bwt dipelajari, plg objektif (krn yg diteliti sama) adalah…
    tony jack vs mc.donald.

  • Tomy says:

    Sy tdk tahu klo diskusi sy dgn mas Joe, bs sampe sejauh ini…sampe ada yg penasaran nungguin…

    Oh, ya, sy mau bercerita pengalamanku sedikit,..knp br bs login lg..sebab sy jg msh mencoba mempromosikan sistem “Khilafah” ini di dunia nyata. Sabtu kemaren, kebetulan ngadain Kajian Islam Bulanan (KIB)di daerahku. temanya berkaitan dengan memaknai tahun baru islam 1431 H. Tema ini dikaitkan dgn peristiwa hijrahnya Rasulullah saw dr Makkah ke Madinah yg mrpkan titik awal berdirinya Daulah Khilafah pertama di bawah pimpinan Rasulullah.

    Inilah slh satu bentuk promosi kami, ga perlu modal besar, tp dijalankan dgn serius. Hasilnya salah satu peserta dr slh satu ormas ngajak kerjasama bareng utk mengadakan kegiatan serupa. Dan ada 6 orang peserta yg lgsg ingin mengkaji intensif, subhanallah..

    Mas Joe,
    supaya lbh JELAS dan TEGAS…
    Ideologi Kapitalisme…Sosialisme..itu memang MUSUH kami, ..Tdk ada upaya kompromi atau kolaborasi dgn keduanya..jd dlm Promosi, apapun cara promosinya, kami akan memposisikan sprt itu. Justru jk Ideologi Kapitalisme dan Sosialisme menjadikan kami teman atau menganggap kami temannya..itu berarti ada yg slh dgn langkah kami atau cara promosi kami..berti itu sebuah kemunduran. Jd kami tdk akan bermanis muka dgn mereka..Hanya perlu Anda pahami.. yg kami serang, kami musuhi hanya sebatas Ideologinya..Pemikirannya..bukan Person nya.. just it!

    Anda tahu, bgmn metode promosi Ideologi Kapitalisme dan Sosialisme?
    Mereka mempromosikannya dgn cara Imperialisme (Penjajahan), mereka tdk segan2 membunuh orang2 yg melawan mereka, mereka pake militer..pake senjata..itulah gaya lama promosi mereka. Skrg dgn neoimperialisme nya (Penjajahan gaya baru)..mereka menghisap darah lawannya lewat ekonomi, politik, budaya, pendidikan, moral, dll.

    Coba, bandingkan dgn Promosi Khilafah…dgn konfrensi,seminar, diskusi publik, media, selebaran..ga ada senjata..ga ada kekerasan…kecuali isinya semua Perang Pemikiran.

    Jd membandingkan Perbankan Syariah dgn Khilafah ga nyambung…
    Pendapatku..
    Perbankan Konvensional = Perbankan Syariah –> ekonomi liberal –> ideologi Kapitalisme

    Khilafah —> ideologi Islam

    Dimana persamaannya?
    Sorry..sdh adzan sy mau sholat dulu.

  • aladin:::
    kuwi malah tercemar melamin. eh, salah dink… sing melamin kan susu cina, yo. sora lak susu jepang :lol:

    -D-:::
    tongseng babi dengan kuah alkohol???
    sungguh mati, kalo yang itu saya belum pernah ngicipin. bikin high tidak? :mrgreen:

    Tomy:::
    oh, ndak papa kalo masih pengen seperti itu. saya toh cuma bisa menyarankan saja. tanggapan saya atas komen anda masih kayak alinea ketiga tulisan saya di atas, kok
    dan tentang pertanyaan terakhir anda, sebenernya sudah saya jawab di alinea keenam :D

  • -D- says:

    hahaha, cuma bikin perut kenyang dan anget aja klo malam” jikalau tidak ada betina yg nyamperin untuk menyuguhkan vaginanya.

    cape deh baca komen nya om tony.
    mendingan diskusikan bareng di tony-romas hahaha

  • lemmot1me says:

    bapakku ga mau nabung di bank syariah.
    katanya potongannya gede :D
    –OOT–

  • ressay says:

    Jos mas…aku juga masih sering melihat poster-poster propaganda mereka.

    SAY NO TO DEMOCRACY lah…HANCURKAN SISTEM KUFUR lah…macem-macem deh. Pake bahasa ngeri beud.

  • wawansyah17 says:

    Kalau dijadikan bahan perbandingan antara Bank Syari’ah dengan Khilafah Islamiyah dalam strategi pemasaran kepada masyarakat, tentu saja Bank Syari’ah tidak akan menjadi polemik yang terlalu besar dalam masyarakat. Sedangkan Khilafah Islammiyah akan mendapat polemik yang sangat besar dalam kehidupan bernegara. Namun kalau Khilafah Islamiyah tsb, sesuai dengan Al Qur’an dan Sunnah; why not?

  • -D-:::
    tomy, mas den. with m, not n :P

    lemmot1me:::
    itu cuma hoax. buktinya aku makin kaya, sar :D

    ressay:::
    bahasa memang menentukan rasa, hohoho

    wawansyah17:::
    makanya saya tulis perlu strategi yang memungkinkan supaya khilafah diterima tanpa polemik, kan? pola yang ada sekarang sih adalah pola yang nyata2 minta dimusuhi ;)

  • wawansyah17 says:

    Gimana mau diterima masyarakat, kalau menyimpang dari nash Al Qur’an dan Sunnah. :)

  • kok jadi ngelantur?
    saya nggak mbahas tentang qur’an dan sunnah, lho. perkara menyimpang atau nggak, saya nggak sedang menilai itu :P yang saya nilai adalah metode promosinya – entah yang dipromosikan menyimpang dari qur’an dan sunnah ataupun tidak menyimpang :D

  • wawansyah17 says:

    Sebaik apapun metode promosinya, kalau menyimpang dari ketentuan Allah dan Rasul-nya; sepertinya akan sia-sia metode tsb.

  • oh, itu betul. saya setuju.
    cuma saja – perkara penyimpangan dan bukan penyimpangan – itu butuh bab tersendiri untuk dibahas lebih jauh. sedang, yang saya bahas kali ini lebih khusus ke perkara brandingnya; branding bagus dan branding butut.

    barang sebagus apapun kalo cara mengemas brand-nya busuk ya jadinya berkesan butut. dan barang yang nggak begitu bagus bisa jadi keliatan wah kalo brandingnya dahsyat, misalnya saja microsoft windows yang banyak bug-nya itu :mrgreen:

    nah, makanya saya tulis di atas, kalo khilafah dikemas dengan campaign yang model cari musuh – dan menjelek-jelekkan produk pesaingnya, itu cuma bakal khilafah makin dijauhi calon konsumennya.

    eh, biar sampeyan nggak lupa, saya sedang bicara analogi lho :)

  • -D- says:

    oh iya pk m hahaha! ga kenal muka jg, tak kenal maka tak sayang.

    klo mac hobi iklannya ngejelek” in win di iklan” nya (cth: yg versi mac vs. pc).
    gmn tu? bedanya mac bergengsi, jd yg punya bisa gengsi.
    klo yg masalah diatas, gw ga tau deh hehehe.

    susah si klo masalah komoditas yg dibahas uda msk bagian dr sebuah prinsip hidup.

  • ahahaha, tapi iklannya ndak pernah nyebut merk langsung kan? sama kayak perang iklan provider gsm kapan hari kemarin itu kok.

    mac memang mahal. tapi ini malah jadi bikin orang pada mikir, barang berkelas, nih. harganya aja mahal gitu… jadilah mac dinilai sebagai sebuah eksklusifitas tersendiri.

    di kampus malah sempat ada guyonan: tampangmu sejelek apapun, kalo nongkrong di starbucks sambil bawa2 nikon slr atau malah leica + macbook pro, pasti bakal diliatin cewek2 :lol:

    nah, prinsip hidup ini susah juga, memang. resikonya lebih gede, soalnya. makanya kalo salah strategi promosinya dikit aja, ya buyar sudah semuanya :mrgreen:

  • wawansyah17 says:

    Anda tahu ngga informasi dari mereka, siapa yang pantas dipilih sebagai khilafah?

  • nggak. saya nggak terlalu tertarik untuk mendalami wacana mereka, soalnya 8)

  • wawansyah17 says:

    Semestinya kalau mengkritisi Khilafah Islam, harus mengetahui apa yang menjadi sandaran sebagai bahan rujukan pemahaman mereka.

  • wawansyah17 says:

    Kalau mau mengkritisi masalah Khilafah Islamiah, semestinya mengetahui nash yang menjadi dasar sebagai bahan rujukkannya.

  • tergantung kebutuhannya, donk.

    saya cuma mengkritisi apa yang saya lihat, yang saya rasakan, apa yang menurut saya tidak sreg, dan apa fakta yang terjadi di lapangan. yang saya kritisi adalah bukan kondisi idealnya, melainkan kondisi riilnya: metode promosi, yang semuanya berangkat dari poster, buletin, dan selebaran lainnya yang bertebaran di kampus saya.

    jadi tentu saja rujukan saya di sini adalah psikologi praktis, marketing, teori iklan, dan teori penulisan teks.

  • wawansyah17 says:

    Sebagai seorang Muslim ya harus tahu dong, kecuali kalau awam didalam agama. Ya sah-sah sajah… :mrgreen:

  • ahahaha…
    kok jadi jalan-jalan ke mana-mana?
    setau saya mempelajari ideologinya hizbut tahrir secara mendalam tidaklah termasuk dalam bagian rukun islam :mrgreen:

    repot juga kalo gitu… nanti tiap mau mengkritisi efek sepak terjang pks ya jadi harus mempelajari ideologinya pks, mau mengkritisi ikhwanul muslimin harus nglotok tentang mereka juga, mau hamas atau fatah juga gitu, terus al qaeda masih berlaku hal yang sama. lha kasih kritikan membangunnya kapan, donk, kalo gitu? alamat niat baik kita nggak akan pernah terwujud gara-gara terlalu bertele2 donk?

    saya, sih, beranggepannya kalo mau mengkritisi sesuatu berdasarkan kondisi riil ya cukup dengan mempertimbangkan bagaimana efeknya yang terjadi masyarakat saja. lagipula, saya belajar mati-matian tentang hizbut tahrir juga tidak akan mengubah fakta promosi ala mereka yang sedang saya kritisi, kan? anda mungkin pernah denger tentang teori ockham razor, kan, mas? :mrgreen:

    jadi ya gitu…kemarin saya juga sempat mengkritisi tentang iklan kratingdaeng. dan saya pikir saya tidaklah harus tau tentang seluk-beluk yang terjadi di dalam pabriknya kratingdaeng kalo cuma mau berpendapat tentang iklannya.

    yeah, tapi nggak papa, kok. kalo menurut anda hanya muslim yang awam saja yang boleh bertindak seperti tindakan saya, ya anggap saja saya ini memang muslim yang awam. habis perkara. lagipula sekalipun saya awam ataupun mumpuni, hal itu tidak terlalu mengubah fakta yang saya tulis tho? :D

  • -D- says:

    iya br sadar gw kaga nyebut merk hahaha. tp uda kebanyakan org mindset pc kan ke win.
    kata para pakar mac mahal krn dia perusahaan hardware, beda ama win yg prusahaan soft.

    iklannya harus keren… ky gmn ya?

    mau cat rambut? ngapain… mahal!
    mending pake sorban/jilbab aja, ga ada duit bwt shampoo, no problem!

    hahahaha

  • wawansyah17 says:

    Ngga ada salahnya kan kalau mengetahui inti pemikiran setiap mazhab Islam, jadi kita bisa membedakan mana yang hak dan yang bathil. Minimal buat pribadi kita aja sendiri.

  • -D-:::
    mulainya sih simpel aja: jangan yang bikin produk kita nampak bodoh! :twisted:

    wawansyah:::
    memang nggak ada salahnya. tapi itu bukan minimum requirement-nya. kalo pake vga yang on board masih bisa buat main pes 2009, nggak perlu sampe harus beli gtx 8600 sendiri :D

    cuma tadi sampeyan bilang kalo “Sebagai seorang Muslim ya harus tahu dong, kecuali kalau awam didalam agama. Ya sah-sah sajah”, sekarang kok malah bilang “Ngga ada salahnya kan kalau mengetahui inti pemikiran setiap mazhab Islam”? ini jadinya, menurut sampeyan, mas, tau tentang ideologi tiap2 mahzab islam ketika menyikapi efek sepak-terjangnya di masyarakat termasuk perkara wajib atau sunnah?

    saya pribadi ya tetap berpendapat sunnah, kok. untuk mengkritisi mereka tidaklah wajib untuk tau segala seluk-beluk yang terjadi di balik layar mereka ;)

  • belajarlah ! says:

    jangan sok faham pemasaran deh, apalagi dengan mengatakan tolol kepada orang lain.

  • sudah bener2 baca tulisan saya? :D
    kalo ada yang salah, tunjukkan pemahaman saya tentang pemasaran keliru di sebelah mananya

  • wijaya says:

    Yang Punya Diary:

    “kalo mau bicara sistem secara keseluruhan, saya malah lebih setuju kalo yang diadopsi adalah esensinya yang cocok diterapkan di masyarakatnya saja. bukan harus dengan menyertakan embel-embel bahwa sistem ini, sistem itu, atau sistem anu adalah produk islam. yang dibutuhkan oleh masyarakat, IMHO, adalah mangpa’at dan paedahnya, bukan perkara merknya.”

    *(sial, nggawe tag quote piye carane?)*

    Saya sih setuju sekali Joe. Soal perbankan syari’ah misalnya. Mudah saja untuk membuat sistem perbankan yang non riba. Tapi ternyata, non riba saja tidak cukup. Perusahaan ini juga tidak boleh berinvestasi kepada hal-hal yang haram, misalnya pabrik bir. Karena begitu banyak aturan-aturan yang harus ditaati, hal ini membuat kebutuhan untuk perbankan syariah ini juga khusus.

    Otomatis, perbankan syariah memerlukan juga Dewan Syariah, untuk menjadi konsultan atas produk-produknya. Perkara mengumumkan istilah, untuk bank syariah sendiri, justru membuat keadaan bisa jadi tidak menguntungkan. Orang nabung ke bank syariah, karena pengen yang syariah-nya. Syariah justru sudah menjadi nilai jual dari model perbankan ini.

    Sehingga, memang kasus per kasus. Tidak semua hal harus di-universalisasi. Beberapa hal memang bisa, dan tentu saja umat Islam harusnya menyukai itu. Karena dari tadinya tidak diakomodasi, menjadi diakomodasi.

    Tapi, beberapa hal tetap harus dicantelkan dan digandengkan dengan nama Islam, justru untuk menambah nilai jualnya.

  • […] jelas, kan, kalo Voice of Al Islam ini cari musuh? Buatku sangat jelas. Menjelek-jelekkan mahzab kompetitor, menyalah-nyalahkan agama sebelah, buatku itu sudah cukup sebagai sebuah indikasi tukang nyari […]

Leave a Reply

Kitab Wangsit
SUDAH TERBIT!
Kitab wangsit karangan Mas Joe, idola masa kini para remaja putri. Mumpung bakulnya masih buka, mari segera dikonsumsi!

Cocok untuk dibaca sambil ngemil kuaci ataupun sebagai teman semedi di kamar mandi.

Minatkah?

Kalau minat, bolehlah klik di SINI untuk segera membeli. Buruan! Minggu depan harga naik tiada karuan.

Berlangganan Wangsit

Masukkan alamat email sampeyan:

Ceriakan hari-hari sampeyan dengan rutin membaca wangsitnya Mas Joe

Si Sumber Wangsit
Anindito Baskoro "Joe" Satrianto. Laki-laki dahsyat (sumpah!). Pengangguran, pengkhayal, pemimpi, pembual, sekaligus pejuang (yang tidak) tangguh. Mantan aktivis Lab Omah TI, (masih jadi) penunggu sekretariat Himakom UGM, pengeceng gadis-gadis cantik berjilbab. Ngganteng, pinter, tapi banyak utang.

Almanak
Wangsit Bergambar




SEO Powered By SEOPressor