Atheis

Kemarin lusa, malam, aku nginep di kantor. Naldo juga. Dan kami sampai jam 3 pagi, bersama si bos yang punya kantor, terlibat obrolan sengit tentang agama-agama Ibrahim, Israel, dan atheisme.

Obrolannya sebenarnya nggak bermutu, sih. Nggak sehat buat kalo ada cewek di situ yang kebeneran ikutan ndengerin. Tapi ada 1 quote dari Naldo yang buat aku itu sangat inspiratif, meskipun mungkin agak menohok mereka-mereka yang tidak percaya dengan keberadaan Tuhan:

“Buat gue, kita ini lebih gentle daripada atheis. Ketika kita memutuskan untuk beragama, artinya kita siap untuk suatu saat mempertanyakan peran dan kebijakan-kebijakan Tuhan, kehendak bebas kita, sampai ke kenapa cuma Israel yang disebut sebagai bangsa terpilih – terus kita ini bangsa apaan? -, kenapa nabi-nabi itu cuma turun di Timur Tengah, kenapa juga yang namanya nabi selalu berada di garis keturunan antara Adam sampai Yesus atau Muhammad, dan kenapa nggak ada manusia yang di luar garis keturunan itu yang tercatat sebagai nabi?

“Atheis itu menurut gue cuma kepengen hidup yang gampang, yang nggak pengen diganggu dengan pertanyaan-pertanyaan kayak pertanyaan kita tadi. Mental kita ini lebih hebat daripada mereka,” kata Naldo.


77 Comments

  • KiMi |

    Ngena banget… Hayo yang atheis ada tanggapan? *berasa jadi moderator aja*

  • mahendra |

    memang sulit kang nyari bukti tuhan ada, Apa yang buktikan tuhan ada, agama rata2 cuma dari keturunan

  • yudi |

    Tuhan itu ada, makanya dia pinjemin tangan ke Maradona.
    Bukti lain, dia nitis ke paul gilbert, makanya PG disebut God of guitar (ga nyambung banget yak) :mrgreen:

  • fertob |

    Hmmmm…. sedikit tidak setuju.

    Dengan logika yang sama maka kita bisa membalikkannya jadi begini :

    Ketika mereka (orang atheis) memutuskan untuk menjadi seorang penganut atheis berarti mereka juga mendapat pertanyaan2 dan preasumsi yang memojokkan dari kaum theist. Misalnya saja anggapan bahwa orang yang beragama itu lebih bermoral/beretika dari orang atheis.

    Sorry, ber-Tuhan atau tidak ber-Tuhan bukan masalah gampang atau enak. Meskipun pragmatisme dan praktisisme bisa menjadi landasan, tetapi masalah kepercayaan adalah masalah pilihan.

    Bahkan, menurut saya, lebih gampang menjadi seorang yang berTuhan. Alasannya karena sejak kecil sudah mengikuti agama orangtua. Istilahnya, tinggal nurut dan nggak perlu berpikir lagi. Agama itu hadiah karena dilahirkan dari orang tua yang beragama tertentu.

    Sementara Atheis [misalnya di Indonesia] biasanya tidak didapat sejak kecil. Pilihan menjadi atheis adalah pilihan sadar ketika seseorang memutuskan untuk memilih untuk mempercayai Tuhan atau tidak. Ada pilihan sadar disitu dan tidak hanya diberi begitu saja.

  • alex® |

    Pendapat saya hampir sama dengan Bang Fertob, Joe. Menjadi atheis itu malah benarnya ndak gampang. Setidaknya, eksistensi manusianya mesti dipertahankan lebih dari sekedar jawaban, “Itu sudah takdir dari sononya…”

    Eh, tapi jika bicara agama dan Tuhan, bukannya atheis itu agama tersendiri dengan Tuhan yang dibentuk sendiri. Tuhan itu bisa bernama ide, alam, ketidak-pastian… apapun… ๐Ÿ˜•

  • Yang Punya Diary |

    KiMi:::
    belum2. kayaknya belum ada yang atheis yang komen di sini

    mahendra:::
    sebaliknya juga sih kalo saya, apa yang membuktikan tuhan itu nggak ada. perkaranya, setiap kali ada seorang homosapiens yang berani2 ngomong “semoga” dalam kalimatnya, artinya dia mengharapkan campur tangan suatu kekuatan yang lebih besar dari dirinya ๐Ÿ˜€

    yudi:::
    dewa gitar itu joe satriantoi. dan aku ndak tau dia itu atheis atau ndak. lha dia sendiri itu dewa kok ๐Ÿ˜›

    chiell:::
    kalo yang ngecat wortel sapa, chiell? :mrgreen:

    fertob:::
    wah, kalo perkara agama yg hadiah sih memang gampang2 aja, bang. agama yang milih sendiri itu yg agak repot ๐Ÿ˜€

    ahahaha, nanti protesnya saya sampaikan ke naldo. tapi dia biasanya jarang ikutan urun komentar, sih.

    tapi saya pribadi mikir, si naldo ada benernya juga, bang. setidaknya ketika saya memikirkan kuasa tuhan atas diri saya. saya jadi ngerasa, enak banget jadi atheis. ndak perlu dibebani pikiran kayak saya ini dan tidak perlu berpikir bagaimana caranya mengakali takdir :mrgreen:

    fetro:::
    amin

    alexยฎ:::
    lho, kalo bertuhan ya berarti bukan nggak punya keyakinan, dunk? ๐Ÿ˜›

    lambrtz:::
    di luar topik! komentar ditolak. ini bukan perkara budi pekerti, kekekeke

  • Dafferianto |

    Ciao Joe!
    Nyasar meneh aku ki, njok meh urun pendapat sithik.
    Aku di Trento sini flatmates 2 rang Cina, mereka PhD students. Temen2 mereka Cina2 sering dateng ke flatku. Mereka gak ada satu juga yg percaya the so-called “God”. Waktu Paskahan, 2 dari mereka minta ikut aku ke katedral bareng buat liat suasa Paskah (padahal rencanaku awalnya sendirian buat ibadah). Sampe di flat kami bincang2 ttg beliefs. Dari situ justru aku mulai mikir ternyata hidup tanpa percaya Tuhan & kehidupan setelah kematian kayak mereka jauh lebih berat. Soalnya mereka pikir kalau mati ya mati, gak ada lagi yg lain2. Sementara (maaf) agama2 yg kutau selalu “ngiming2i” orang dengan sesuatu yg enak nantinya. Makanya ada istilah “pahala” dll. Akhirnya kebanyakan orang beragama hidup ngejar iming2 itu (e.g. kehidupan abadi setelah kematian, dll). Berbuat baik2 biar dapet reward nantinya. Jadi kayak jual-beli di toko: saya bayar, saya dapet.
    Tapi kenyataannya orang2 Cina temen2ku ini mau berbuat baik juga. Waktu itu ada orang India pendatang baru di Trento. Bawaannya banyak banget, temen2ku ini bantuin angkut2 koper gede2 & berat2. Sampe di flat aku tanya kenapa bantu orang itu. Toh gak kenal sama dia. Mereka jawab semua dari sudut pandang duniawi & setelah kupikir2 itu lebih ribet dari alasan: dapet pahala biar masuk “surga” ๐Ÿ˜€
    Justru aku mulai pikir orang2 beragama dengan iming2 “surga” atau sejenis2nya yg jauh lebih “nggak gentle” dalam menjalani hidup (mungkin saya sendiri juga :P).

    Migliori saluti,
    Dafferianto

  • Yang Punya Diary |

    kalo aku, sih, ngeliatnya di luar argumen “alasan moral”, cok, orang yang beragama selalu terganggu dengan pikiran ttg “suatu kekuatan yang tidak kasat mata dan kroni-kroninya”, sedangkan yang nggak beragama biasanya tidak pernah mempermasalahkan hal itu. problem mereka hanya fakta riil tentang dunia ini.

    mungkin itu juga, sih, yang ada di pikirannya temenku itu.

  • naldo |

    fertob :

    Semua tergantung kebutuhan spiritual yang kamu cari.

    Kalau memang hanya mengikuti ajaran agama yang diturunkan dari orangtua, maka saya sependapat dengan kamu.

    Tapi saya tidak mau memposisikan diri saya dengan apa yang kamu bicarakan. Karena walau saya sendiri masih memegang ajaran agama dari orang tua saya, tetapi saya tidak berjalan dalam track yang sudah ada.

    Ada banyak label track dalam menjalani ajaran agama diluar track yang umum. Tapi salah satu yang mau saya share adalah Post-Modern (saya yakin anda pernah mendengar hal ini).

    Saya dan Joe berbeda label agama, tetapi track yang kami jalani kurang lebih sama Yaitu Post-Modern (ini penilai-an saya sendiri ) .

    Post-modern sendiri masih berpegang teguh dengan label agama yang dianut, tetapi Post-modern track lebih sering mencari sebuah jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang selama ini dijauhi oleh kaum-kaum yang berjalan dalam track umum.

    Mohon maaf, bila saya menganggap mental orang-orang atheis itu terlalu lemah untuk berkata kalau mereka tidak percaya tidak adanya Tuhan dengan pertanyaan-pertanyaan yang sering mereka tanyakan , contoh :

    1. Kalau ada Tuhan mengapa semua tidak baik-baik saja ?

    Jawab : Kalau semua baik-baik saja maka anda tidak akan mengenal mana yang tidak baik.

    Atau anda punya pertanyaan yang lain tentang atheism ? bila iya, silakan posting disini ๐Ÿ™‚

    Sekali lagi, saya menghormati keputusan mereka dengan memilih menjadi atheis, tapi jujur saya merasa mental mereka tidak terlalu “WAH” dengan label yang mereka kenakan yaitu Atheis ( baca : tidak percaya TUHAN ).

    Thanks in advance.

    Dafferianto

    Semua label agama, memang harus memberikan iming-iming akan kehidupan setelah kematian (Baca : Jaminan keselamatan ). Jika tidak, agama tersebut tidak memiliki penganut, walau ada penganut. Maka bisa dipastikan agama tersebut sulit untuk berkembang.

    Sekitar tahun 1998-2000, saya masih memikirkan kehidupan setelah kematian, tetapi setelah saya terus mencari kebutuhan spiritual saya ( hingga sekarang ini ) , saya tidak memikirkan lagi apa yang akan terjadi setelah kematian. Karena apa ?

    1. Kematian adalah sesuatu yang pasti.
    2. Bila orang-orang beragama merasa bila mereka masuk surga, kenapa tidak ada yang menginginkan dirinya cepat mati ?

    Oh iya, satu lagi.. tolak ukur kebaikan bukan merupakan tolak ukur Percaya Tuhan atau Tidak Percaya Tuhan.

    Berbuat baik itu merupakan suatu kebutuhan manusia, sama dengan kebutuhan akan hiburan, dll.

    Tidak ada yang special dari berbuat baik.

  • Catshade |

    Rasanya nggak perlu beragama dulu untuk mempermasalahkan yang berat dan mengawang-awang. Ngomongin filsafat manusia, moralitas, dan etika dari sudut pandang non-teologis aja udah bisa berbusa-busa sendiri…

    *lirik russel, sartre, dan filsuf-filsuf ateis lainnya*

  • naldo |

    Catshade:::

    Untuk beberapa hal saya setuju dengan anda, tetapi kalau untuk mengeluarkan figur Tuhan dari pembicaraan tersebut, maka pembicaraan tersebut tidak terlalu mengasyik-an buat saya.

    Bukan apa-apa lebih enak berbicara hal-hal yang wah dengan mengikuti pribadi Tuhan. Karena kalau kita sudah berbusa-busa dan nyaris mabok , kita salahkan saja Pribadi Tuhan yang kita anut.. bereskan ? hahahaha *griinnn*

    MasJoe:::

    Betul. Betul. Saya suka itu *Tinju Miring kurang sempurna*

  • lambrtz |

    iya ya…
    OOT ya…
    sori joe…
    pisan2 OOT rapopo to :p

    hmm…
    aku sih cuma bisa menghormati orang2 yang memilih untuk jadi atheis…
    hal2 lain aku ga terlalu mikir…

    *membalik badan, baca buku porno komputer lagi*

  • pembunuh nyamuk |

    hoh…mas kepikiran soal atheist jugak? ceileee… ๐Ÿ˜€

    mas klo ikutan forum debad antara theist fundamental sama atheist pintar (nguasain hampir smua sejarah agama) serem looooo….saya aja hampir keikutan nanyain keberadaan tuhan.

    jadi atheist lebh capek lo mas, masalahnya mreka melakukan hal2 di dunia hampir tanpa kompensasi (kayak dosa/pahala gitu) surga ga ada, mati ya mati. klo hidupnya ga mapan orang atheist yang ga kuat2 ‘iman’ pasti suicide ๐Ÿ˜†

    sebaiknya jangan nanya macem2 sama orang atheist tentang kepercayaan mreka, apalagi atheist fundamental ๐Ÿ˜† ntar keikutan looo ๐Ÿ˜†

  • Nazieb |

    Ehm, tapi saya pernah denger ada yang bilang gini lho (kurang-lebih):

    “Justru menjadi atheis itu yang lebih gentle daripada beragama. Karena dengan atheis maka kita melakukan kebaikan karena memang itu baik serta menjauhi keburukan karena memang itu buruk, bukan karena embel-embel surga atau neraka”

    Bukan saya lho yang ngomong.. suer..

  • jimmy |

    bener juga, dengan jadi ateis orang gak perlu banyak mikir yang begituan.. tapi kalo saya sih gak terlalu mikirin orang ateis atau gak, yang penting berbuat kebaikan, jangan bikin dosa, dan jangan ngerugiin orang lain

  • empe |

    yahh.. udah pada diborong yang pengen gw tulis ๐Ÿ˜€

    ini aja deh

    *segalanya di dunia ini semuanya bisa benar, tergantung perpektif berfikir masing-masing*

    masalah menjadi atheis itu mudah, yahh.. mungkin benar. tapi coba tanya sama yang atheis, mudah ga? ๐Ÿ˜€

    saya? hhmm.. saya baru agnostik..

  • cK |

    teman saya yang atheist bilang “the world would be a better place without religion”

    *pasti kalimat ini jadi kontroversial*

  • Kroco Geddoe |

    Mas Naldo,

    Biarkan saya membela ateisme di sini. ๐Ÿ™‚ Secara saya sendiri punya dosis ateisme yang lumayan kental (walau pasang surut).

    Fitur kuncinya adalah finalitas kematian.

    Kalau memutuskan menjadi ateis (dalam pengertian populer) itu ‘kan berarti menerima bahwa:

    1) Kalau kita mati, maka itu adalah akhir. Tidak ada harapan meraih surga.
    2) Kalau kita perlu bantuan, tidak bisa berdoa, sebab kita tidak meyakini adanya bala bantuan dari Tuhan. Musibah adalah murni musibah, bukan cobaan.
    3) Kalau kita, orang tua kita, atau keluarga kita terkena musibah, tidak ada tempat bersandar.

    Rasanya itu tidak sebanding dengan “mempertanyakan kebijakan Tuhan” ‘kan? ๐Ÿ˜€

    Lebih jauh lagi, “pertanyaan-pertanyaan” yang diwarisi oleh seorang ateis bakal lebih susah legi daripada sekadar mempertanyakan suku bangsa-nya nabi-nabi:

    4) Memformulasikan moralitas. Ini susah, lho, mas. Kalau beragama, maka mencari sumber moralitas adalah gampang; tinggal baca kitab suci, atau malah buku pegangan di SMP. Semuanya ada di situ— tinggal terima bersih saja. Kalau menjadi ateis, maka mesti riset ke berbagai tulisan dulu; ada Golden Rule; Noble Eightfold Path; Ma’at; Dekalogi;Yamas dan Niyama; Dessek. Itu baru yang kuno. Yang modern ada banyak lagi, ada buku-buku David Hume, Kant, Nietzsche, Kierkegaard, Nozkick, Bentham, Rand, dan masih banyak lagi. ๐Ÿ˜›
    5) Mendefinisikan eksistensi.
    6) Menyusun weltanschauung.
    7) dst. ๐Ÿ˜†

    * * *

    Menurut saya, kalau cuma mau enak, tentunya tidak mungkin jadi ateis; yang ada adalah jadi umat beragama yang hanya level katepe saja. Menjadi ateis itu lebih sakit dan lebih susah.

    Jadi pertanyaan saya; oportunis (ini yang hendak ditekankah, bukan?) mana yang rela mengorbankan kehidupan setelah mati, kekuatan doa, dan kompas moralitas hanya demi menghindari pertanyaan macam “kenapa Israel adalah bangsa terpilih” ? ๐Ÿ™‚

    Tidak sebanding.

    Gagasan ini menurut saya tidak masuk akal, sebab berasumsi bahwa apabila setelah menjadi ateis maka masalah-masalah yang ada bila menjadi teis akan lenyap semua, tanpa ada masalah tambahan.

    Lebih jauh lagi, argumen intinya adalah sebentuk bulverisme (atau ad hominem sirkumstansial), yaitu mencoba menyalahkan suatu pendapat dengan merumuskan alasan mengapa ia memiliki pendapat tersebut.

    Ah, BTW, salam kenal. ๐Ÿ˜€

  • lambrtz |

    1) Kalau kita mati, maka itu adalah akhir. Tidak ada harapan meraih surga.

    jadi inget lagunya muse yang thoughts of dying atheist

  • Kroco Geddoe |

    jadi inget lagunya muse yang thoughts of dying atheist

    Scares the hell out of me / the end is all I can see

    Yup. Dan ateis mesti hidup dengan kenyataan pahit itu. Makanya IMO rasanya aneh kalau itu dikatakan sebagai destinasi orang yang kepingin hidup gampang. ๐Ÿ˜•

  • Naldo |

    Kroco Geddoe :::

    Ah keren abis, makasih untuk commentnya. Gue sangat menghargai hal tersebut.

    Btw, kenapa ateis harus dibela ? saya dan joe tidak sedang memojokkan ateis kan ?

    Gue sangat menghargai orang ateis koq, karena mereka sekelompok orang yang sangat mengakui keberadaan Tuhan dengan meneladani sikap Tuhan , Sebagai contoh :

    1. Tuhan tidak mempunyai agama, Tuhan tidak mempunyai TUHAN untuk di sembah. Maka orang atheis juga mengikuti hal tersebut.

    itu sedikit intermezzo ๐Ÿ˜€

    ——————————————–

    a) Kalau kita mati, maka itu adalah akhir. Tidak ada harapan meraih surga.

    b) Kalau kita perlu bantuan, tidak bisa berdoa, sebab kita tidak meyakini adanya bala bantuan dari Tuhan. Musibah adalah murni musibah, bukan cobaan.

    c) Kalau kita, orang tua kita, atau keluarga kita terkena musibah, tidak ada tempat bersandar.

    d) Memformulasikan moralitas. Ini susah, lho, mas. Kalau beragama, maka mencari sumber moralitas adalah gampang; tinggal baca kitab suci, atau malah buku pegangan di SMP. Semuanya ada di situโ€” tinggal terima bersih saja. Kalau menjadi ateis, maka mesti riset ke berbagai tulisan dulu; ada Golden Rule; Noble Eightfold Path; Maโ€™at; Dekalogi;Yamas dan Niyama; Dessek. Itu baru yang kuno. Yang modern ada banyak lagi, ada buku-buku David Hume, Kant, Nietzsche, Kierkegaard, Nozkick, Bentham, Rand, dan masih banyak lagi. ๐Ÿ˜›

    e) Mendefinisikan eksistensi.

    f) Menyusun weltanschauung.

    ———————————————-

    A. Ya, inilah pertanyaan besar yang belum bisa dijawab oleh milyaran kaum theis dibumi.
    Juga dengan segelintir ( jika dibanding dengan yang atheis )kaum atheis dibumi.

    Kaum theis yang selalu “mengimani” kehidupan setelah kematian akan meraih surga saja tidak ada yang ingin merasakan surga lebih cepat :D, apalagi dengan kaum atheis yang menganggap kematian adalah mati dalam secara utuh.

    Tapi ada satu hal yang disepakati orang theis ataupun atheis, yaitu kematian adalah hal yang pasti.

    Yang menjadi pertanyaan gue, kenapa momok kematian ini tidak dicoret saja dari pemikiran kita ? minimal gak usah di angkat lagi dalam suatu argumentasi apapun lah, toh gak ada yang bisa membuktikan …

    B. Ok masalah musibah dan cobaan , ada yang pernah mencatat semua musibah atau cobaan yang pernah terjadi dalam hidup kalian ( atau 1 hari ini saja )? kalau iya tolong hubungi saya.

    Bukannya saya menganggap bahwa cobaan atau musibah yang murni dalam hidup kita itu tidak ada, tetapi kebanyakan orang menganggap “[b]Sebuah konsekuensi dari perbuatan [/b]” sama dengan cobaan ataupun musibah.

    Masalah berdoa, buat gue berdoa itu cuma salah satu sarana menghibur diri dari apa yang kita hadapi dan jalani dalam hidup ini.
    Salah satu Efek yang diterima dari berdoa oleh orang-orang theis adalah timbulnya semangat untuk menjalani hidup. Hal ini tidak ada bedanya saat kita menghadiri seminar-seminar MLM yang dapat membuat kita berkobar-kobar untuk meraih sesuatu yang kita ingini.

    Saat berdoa merupakan sarana gratis yang bisa dinikmati orang-orang theis untuk melakukan self-hypnosis untuk meraih suatu tujuan, kenapa tidak digunakan ? ya kan..

    Dan gue yakin orang-orang atheis pun punya cara sendiri untuk “berdoa”. Bisa dikasih tau ?

    C. Baca kembali point B, gue pikir mas akan ngerti, masalah sandaran sama aja dengan masalah “berdoa”

    D. Memformulasikan moral, ahh gue terkejut sekaligus merasa menerima keajaiban saat membaca paduan Kata Formulasi dan Moral. Dan yang gue heranin sekarang, Moral apa yang pernah diformulasikan orang-orang atheis ?
    Apakah moral yang diformulasikan itu sangat jauh berbeda dengan moral kaum theis yang selama ini terbentuk ?

    Misalkan mas menjawab, bahwa formulasi moral atheis itu kembali kepada orangnya masing-masing, bisa gak mas berbaik hati berbagi kepada kita-kita formula moral apa yang sudah mas rumuskan ?

    Btw, gak ada bedanya saat orang-orang theis melihat moral dari kitab suci ataupun buku pmp dengan mas melihat dengan kiblat pengarang-pengarang handal kaum atheis. Bedanya cuman packaging kata-katanya aja yang kerennn dan canggihhh..

    E. Mendifinisikan Eksistensi, sebelumnya gue minta maaf, buat gue orang-orang yang menanyakan eksitensi hidup mereka , adalah orang-orang yang merasa bosan, muak dengan hidup mereka, dengan apa yang mereka lakukan.
    Ataupun orang-orang yang tidak memiliki arah ataupun tujuan dalam hidup mereka.

    Masalah yang membedakannya adalah masalah waktu, ada yang menanyakan eksitensi hidupnya dan segera dapat jawabannya, ada yang selama hidupnya menanyakan eksistensi seumur hidupnya.

    Saran gue, dont waste your time with that stuff. Gue pun pernah menanyakan eksistensi hidup gue juga koq :P. I admit it.

    F.Menyusun weltanschauung, Sepertinya asik kalau mas udah mendapatkan weltanschauung mas sendiri dan membagikannya kesini ? karena gue gak melihat perbedaan secara massive antara weltanschauung dengan menanyakan eksistensi hidup.

    Mas kroco ini terlalu mengambil serius obrolan model warkop dengan pertanyaan dari “Kenapa israel bangsa terpilih?” dan membandingkannya dengan kompas moralitas dan pengorbanan akan kematian,,, hahah dont get too serious with that question … bagaimana kalau gue bilang jawaban dari pertanyaan itu adalah “karena israel adalah bangsa yang dapat mengalahkan Tuhan ” ,,, apakah itu akan sebanding ? atau pertanyaan saya akan jauh lebih berbobot ? nyahaha…

    Dengan melabelkan diri kita menjadi atheis atau theis emang gak akan menjauhkan diri kita dari masalah, kata “gampang” dalam statement joe diblognya jangan diinterpretasikan menjadi frase “lebih mudah”, “lebih enak” … bukan itu, hidup kita sesuai dengan porsi kita masing-masing.

    Masalah kata “gampang” dalam tulisan mas joe itu seperti berikut ini…

    “Saat sekumpulan orang-orang theis yang mulai menanyakan sisi-sisi sensitif dari ajaran agamanya masing-masing, saat orang-orang theis tersebut mulai bersikap skeptis dan mulai keluar dari jalur umum yang sudah ada, Saat mereka mulai dianggap sesat, saat mereka mulai dicaci maki, saat mereka mulai dilempar keluar , tetapi mereka tetap melabelkan dirinya dengan theis ”

    Dilihat dari sisi majority dan minority hal diatas, mana yang jauh lebih gampang ? atheis atau theis ?

    Ah salam kenal juga mas kroco ๐Ÿ™‚

  • natazya |

    memang…

    karena memutuskan buat beragama artinya berani punya satu komitmen tertinggi pada satu Dzat yang disebut TUHAM

  • lambrtz |

    nonton ah…
    partisipannya keren euy…
    berpengalaman dan terbuka ๐Ÿ™‚

    tapi kok imho pendapat mereka ga terlalu beda ya?
    maksudku sama2 menghargai atheis, cuma wujudnya agak beda (cmiiw, saya masih belajar)
    ah biar, nikmatin aja ๐Ÿ™‚
    *ambil kursi, ambil snack, bikin kopi, ambil payung (jaga2 kalo hujan lokal :p), duduk*
    tapi aku nimbrung dikit2 gakpapa ya…

    @joe
    kamu bisa ngikutin omongan mereka berdua (geddoe dan naldo) to joe? :p
    *dibacok, tapi bisa berkelit*
    eh itu artikel deviantart sama tutorial nggambarmu yang hoax itu diserang banyak orang…

    @Kroco Geddoe
    dan (konon katanya) si matthew bellamy itu atheis…
    barangkali waktu nulis lagu itu dia sedang memikirkan bagaimana rasanya dia saat menghadapi malaikat pencabut nyawa nanti ๐Ÿ˜†

    Secara saya sendiri punya dosis ateisme yang lumayan kental (walau pasang surut).

    sori, menanyakan hal yang sudah jelas ditulis, tapi pingin tahu lebih lanjut : atheis atau agnostis? dari mana bisa bilang begitu?
    (karena menyangkut pribadi, ga dijawab gakpapa, dan mohon maaf sebelumnya)

    @naldo
    salam kenal ๐Ÿ™‚

    Yang menjadi pertanyaan gue, kenapa momok kematian ini tidak dicoret saja dari pemikiran kita ?

    jujur aja, sampai saat ini aku masih takut menghadapi kematian. aku takut berpisah dengan dunia ini, yang bakal sudah kudiami (kalau punya umur normal) puluhan tahun. mbayangin aja dah sedih, apalagi kalo habis mati ditaruh di dunia 3D yang paralel dengan dunia ini…haduh, ga bisa tembus ke sini lagi….:((
    (masih ga tahu ada apa setelah kematian)

    barangkali bisa menjadi salah satu sudut pandang (yang aneh dan mungkin ga nyambung dengan diskusi ini hahaha :lol:)

    hmm…sepertinya aku harus lebih banyak belajar untuk pasrah, khususnya dalam hal ini…

  • Naldo |

    lambrtz :::

    Salam kenal juga mas..


    tapi kok imho pendapat mereka ga terlalu beda ya?
    maksudku sama2 menghargai atheis, cuma wujudnya agak beda (cmiiw, saya masih belajar)

    Prinsipnya mudah, saat kita masuk dalam pembicaraan tentang perbedaan sebuah label, ada baiknya kita memposisikan diri kita sebagai label yang bertolak belakang dengan kita. Menghargai dan memposisikan diri akan menghasilkan debat yang jauh lebih berkualitas. Debat kusir itu bukan suatu tujuan.

    Belajar dan terus belajar adalah awal yang baik sekaligus akhir yang bombastis nyahaha ๐Ÿ™‚

    tambahan : agnostic itu belum ada yg bisa mendifinisikan secara pasti, definisi secara teorinya sih ada, tapi secara prakteknya gue sendiri masih rancu.

    Wajar kalau loe takut kematian. Buat gue kematian adalah hal yang abu-abu, disatu sisi kematian adalah hal yang pasti yang dijalani oleh semua mahluk hidup. Tetapi apa yang terjadi setelah kematian itu merupakan hal yang tidak pasti, karena belum ada yang membuktikan secara langsung apa yang akan terjadi setelah kematian. Maklum manusia menganut ‘seeing is believing’.

    Dan gue pikir wacana yang loe lempar itu nyambung bgt koq, si-kroco mempunyai alasan yang kuat untuk menaruh hal kematian di point pertama, pada post pertama dia ๐Ÿ˜€

  • Kroco Geddoe |

    @ Naldo

    Ah, makasih, cepat sekali direplynya. ๐Ÿ™‚

    (BTW, setahu saya ejaan yang tepat adalah ateisme. ๐Ÿ™‚ )

    Btw, kenapa ateis harus dibela ? saya dan joe tidak sedang memojokkan ateis kan ?

    Hmm? Bukannya pernyataannya adalah bahwa ateis itu cari gampang dan bermental lemah? ๐Ÿ˜•

    * * *

    Poin-poinnya satu per satu;

    a) Anda tidak menangkap intinya. Yang saya maksudkan adalah, bagaimana mungkin seseorang yang ‘mau cari enak’ lantas memutuskan untuk tidak mempercayai kehidupan setelah kematian?

    Terdapat perbedaan yang fundamental antara mindset yang percaya dan tidak percaya akan kehidupan setelah mati. Asumsi bahwa pada prakteknya keduanya akan sama-sama menghindari kematian adalah tidak tepat— intensitasnya sangat berbeda.

    Misalnya ketika Mas divonis mengidap penyakit keras di usia muda. Akan sangat berbeda, mas, bebannya antara seorang teis dan ateis. ๐Ÿ™‚ Kalau teis mungkin akan jadi lebih religius, berdoa sana-sini, dan segala macam. Kalau ateis?

    b/c) Sekali lagi, ini adalah masalah efek plasebo dan asumsi. Sangat berbeda. Teis mengimani bahwa berdoa itu akan membawa manfaat, ateis tidak.

    Akan sangat terasa kalau Mas benar-benar sedang kesusahan. Ateis tidak bisa berlindung di balik kata-kata “ini hanya cobaan”.

    d) Lha, perbedaan ini muncul ketika dihadapkan dengan pertanyaan-pertanyaan yang sulit, Mas. Kalau cuma mbantu nenek-nenek nyebrang jalan, ya bakal sama semua.

    Isu-isu seperti aborsi, utilitarianisme, tabu, dan semacamnya, akan lebih sulit diformulasikan tanpa doktrin.

    Coba Mas kunjungi link-link berikut:

    http://www.philosophersnet.com/cgi-bin/morality_play.cgi?num=1

    http://www.philosophersnet.com/games/taboo1.php

    Nanti akan paham peliknya. ๐Ÿ™‚

    e) Lho atas dasar apa mengambil kesimpulan seperti itu? ๐Ÿ˜•

    f) Ya jelas berbeda, mas. Seperti yang saya bilang, coba kunjungi link-link di atas dulu, sebagai perkenalan ke masalah-masalahnya. ๐Ÿ™‚

    * * *

    โ€œSaat sekumpulan orang-orang theis yang mulai menanyakan sisi-sisi sensitif dari ajaran agamanya masing-masing, saat orang-orang theis tersebut mulai bersikap skeptis dan mulai keluar dari jalur umum yang sudah ada, Saat mereka mulai dianggap sesat, saat mereka mulai dicaci maki, saat mereka mulai dilempar keluar , tetapi mereka tetap melabelkan dirinya dengan theis โ€

    Ah, saya sudah bisa melihat permasalahannya.

    Kesalahan Mas menurut saya adalah menganggap bahwa orang menjadi ateis itu adalah karena capek dengan agamanya sendiri dan menjadikan ateisme sebagai pelarian. ๐Ÿ™‚

    Tidak bisa seperti itu, mas! Ateis-ateis yang saya tahu semuanya memilih ateisme secara sadar, bukan karena capek, bukan karena dianggap sesat, bukan sebagai pelarian; mereka benar-benar secara jujur tidak percaya. ๐Ÿ˜€

    Bahkan setelah mereka menjadi ateis pun, banyak dari mereka yang masih berurusan dengan agama: mendalami sisi spiritual Buddhisme dan menikmati sisi kesusastraan Alkitab, misalnya. ๐Ÿ˜›

    Dan sekali lagi, tidak beragama bukan berarti ateis. Tidak beragama berarti irreligius. Dan tidak beragama karena tidak mau ambil pusing itu disebut apateisme. Silakan selidiki di Wikipedia. ๐Ÿ™‚

    .

    .

    .

    @ lambrtz

    Saya agnostik pasang surut. Ketika memeriksa argumen-argumen tertentu, saya bisa menjadi teis, di lain waktu saya bisa menjadi ateis. Singkatnya saya adalah seeker. ๐Ÿ™‚

    Meskipun demikian, saya sangat tertarik dengan agama dari sisi estetika… Setahu saya kepercayaan Matt Bellamy juga mirip-mirip seperti ini.

  • Yang Punya Diary |

    naldo, Kroco Geddoe:::
    silakan dilanjut diskusinya. saya sementara ini nonton dulu aja ya. mohon maaf karena sejujurnya saya tidak mendalami ateisme :mrgreen:

    bravo!

    pembunuh nyamuk, Nazieb:::
    kalo kata naldo, ini bukan perkara moral, kok; tidak ada yang spesial dari berbuat baik ๐Ÿ™‚

    empe:::
    aku pikir, sih, yang jelas kalo aku jadi ateis, aku ndak perlu menelan ludah ketika melihat orang lain makan di depanku pas ramadhan, hohoho

    cK:::
    padahal kalo menurutku, chik, nggak ada yang salah dengan religionnya. yang salah tetep aja orang2nya. yeah, kecuali kalo ada agama yang mewajibkan pemeluknya untuk jadi kanibal ๐Ÿ˜†

    lambrtz:::
    cuma ngikutin, kan? tentu saja bisa. apa gunanya aku belajar mbaca dari jaman sebelum teka? kakakaka

    natazya:::
    eh, orang ateis juga punya komitmen pada apa yang disebut sebagai “tidak percaya dengan keberadaan dzat yg disebut sebagai ‘Tuhan'” lho, mbak ๐Ÿ˜€

    monorawx:::
    bukannya sudah sejak jaman dulu? kekeke

  • Naldo |

    geddoe::
    A) Kembali lagi kepada pola pikir “Kematian adalah sesuatu hal yang pasti”, “Kehidupan setelah kematian sesuatu hal yang belum pasti”.

    Teis :

    Kaum teis, memiliki pola pikir adanya kehidupan setelah kematian. Tetapi pola pikir tersebut adalah pola pikir turunan, pola pikir paksaan. Pola pikir yang belum bisa dibuktikan sebelum mereka sendiri merasakan kematian. Karena pola pikir yang terjadi adalah pola pikir “Katanya”, Ntah “Kata kitab suci” , ntah “kata kesaksian orang yang pernah mati dan hidup kembali”.

    Diluar dari pola pikir “katanya” yang sangat dikagumi oleh kaum teis, tetap secara fakta belum ada yang bisa membuktikan ada atau tidaknya kehidupan setelah kematian.

    Tapi yang disayangkan, kaum teis mau terbius akan hal tersebut. Karena terbius mereka memberikan effort untuk melakukan apa yang “Katanya kitab suci” agar kita bisa mendapatkan hal yang terbaik setelah kematian. Untuk yang muslim, mereka melakukan sholat, puasa, dll. Yang kristen ke gereja, Hindu dan Budha dan agama-agama yang lain juga melakukan hal tersebut.

    Bila kita mengambil sisi Fakta “Belum adanya pembuktian kehidupan setelah kematian” . Apa yang kaum ateis lakukan ? apakah mereka memberikan effort ? tentunya tidak :), di-sisi ini kehidupan teis diberikan kemudahan, karena mereka sudah tidak perlu melakukan effort apapun.

    So mana yang lebih mudah ? Teis atau ateis ?

    Misalnya ketika Mas divonis mengidap penyakit keras di usia muda. Akan sangat berbeda, mas, bebannya antara seorang teis dan ateis. ๐Ÿ™‚ Kalau teis mungkin akan jadi lebih religius, berdoa sana-sini, dan segala macam. Kalau ateis?

    We always talking in majority :), gue percaya banget orang-orang yang loe ceritakan itu mempunyai gift tersendiri yang berbeda dari kita-kita yang tidak ditentukan hari kematiannya. So gue percaya mau ateis atau teis, hal tersebut sama saja, mereka adalah orang-orang yang kuat dan tidak perlu menjadi momok perbincangan kita.

    B) Sekali lagi gue mau tekankan perihal Berdoa.

    Ateis :

    Saya yakin disatu sisi, kaum ateis mempunyai sarana yang sama dengan “berdoa”. Mungkin packagingnya saja yang berbeda, tetapi efek yang diterima sama.

    Misalkan,

    Saya ateis yang sedang menghadapi masalah pelik dalam kehidupan saya, saat saya coba merenungi masalah yang sedang saya hadapi, saya coba flashback kembali ke masalah-masalah yang pernah saya lalui dan selesaikan dimasa lalu dan akhirnya saya berpikir “Ah masalah yang kali ini tidak ada apa-apanya dibanding masalah yang sudah-sudah, saya pasti bisa melalui hal ini” atau saya berpegang pada prinsip “Semua masalah bisa terselesaikan” . Dengan sadar atau tidak sadar, saya mulai melakukan effort untuk menyelesaikan masalah saya dan akhirnya masalah tersebut selesai.

    Atau , misalkan gue orang ateis dan lagi stress banget, butuh ruang untuk sedikit bernafas, atau sudah mulai mengidap gejala depresi berat, karena gue gak mengakui mengimani sebuah doa, gue mencari solusi lain seperti dateng ke therapyst handal hypnosis yang bisa membuat gue bisa sedikit bernafas, dan kembali memiliki mindset positive untuk menjalani hidup ini.

    Teis :

    Berdoa merupakan sarana gratisan yang diberikan oleh setiap agama, sarana berdoa tersebut secara tidak langsung akan menenangkan ( bila mereka berdoa karena masalah ) kaum teis yang mengimani doa yang mereka lakukan. Efek dari doa yang secara langsung diterima oleh kaum teis adalah ketenangan diri, dan sebuah mindset yang bisa digunakan untuk keluar dari sebuah masalah.

    Bila mau disadari, hidup kita jauh dari pola pikir “Yes, doa gue dijawab Tuhan”.

    MIsalkan,

    Saya berdoa meminta mobil, setiap hari saya berdoa , mindset bahwa “Saya akan punya mobil” akan terus mengiringi saya. Karena saya teriringi oleh mindset “Saya akan punya mobil” , secara sadar atau tidak sadar, saya akan bekerja lebih keras, menghasilkan duit yang lebih banyak. Penghematan keuangan juga saya lakukan, pencarian info mobil murah tetapi bagus juga saya lakukan Dan akhirnya saya memiliki mobil. Karena saya teis, saya menganggap mobil itu adalah pemberian Tuhan. Padahal Bukan, itu hanyalah reward dari kerja keras saya ๐Ÿ™‚

    Kecuali ,

    Saya berdoa minta mobil, saya tidak kerja dan besoknya saya dapet undian mobil… ada disini yang pernah seperti itu ? kalau iya tolong hubungi saya ๐Ÿ˜€

    Cerita tentang teis diatas adalah cerita yang “ENAKNYA” namun pada kenyataannya jarang kita melihat hal seperti itu.
    Orang teis memegang teguh berdoa dan memberikan effort untuk pencapaian dari tujuan doa. Dan ada satu hal lain yang membuat kaum teis jauh lebih susah dari ateis, yaitu saat mereka mulai kehilangan arah, saat mereka mulai merasa Tuhan tidak memberikan jawaban doa, dan saat mereka juga mulai mencoba solusi-solusi self-development diluar dari hanya sekedar berdoa. Hanya untuk sekedar bisa kuat menjalani hidup dan meraih target dalam hidup mereka.

    Mana yang lebih mudah ? Ateis atau teis ? ๐Ÿ™‚

    D) Pertama gue mengharapkan suatu yang “Wah” dari link yang mas berikan. Tetapi ternyata tidak.
    Pertanyaan masalah “Nenek-nenek nyebrang jalan” dengan “Isu-isu aborsi, utilitarianisme, tabu, dan semacamnya” buat gue mempunyai bobot yang sama karena ?

    1. Gue tidak pernah menganggap melakukan suatu hal yang baik adalah sesuatu yang special.
    2. Gue memegang Teguh “Konsekuensi dari sebuah perbuatan dan keputusan”.
    3. Sebisa mungkin gue melakukan sebuah keputusan dengan meminimalisir kerugian di pihak lain.

    Loe gak akan pernah menganggap orang lain melakukan hal yang baik, kalau loe sendiri melakukan hal yang sama dengan orang tersebut. Loe akan menjadi lebih bijak mengambil keputusan bila loe sudah siap menerima sebuah konsekuensi (apapun itu) dari sebuah perbuatan atau keputusan loe.

    e) Lho atas dasar apa mengambil kesimpulan seperti itu? ๐Ÿ˜•

    Bisa mempunyai penjelasan yang lebih baik tanpa membohongi diri sendiri ? kalau iya tolong di tulis dong ๐Ÿ˜€

    Kesalahan Mas menurut saya adalah menganggap bahwa orang menjadi ateis itu adalah karena capek dengan agamanya sendiri dan menjadikan ateisme sebagai pelarian. ๐Ÿ™‚

    Tidak bisa seperti itu, mas! Ateis-ateis yang saya tahu semuanya memilih ateisme secara sadar, bukan karena capek, bukan karena dianggap sesat, bukan sebagai pelarian; mereka benar-benar secara jujur tidak percaya. ๐Ÿ˜€

    Bahkan setelah mereka menjadi ateis pun, banyak dari mereka yang masih berurusan dengan agama: mendalami sisi spiritual Buddhisme dan menikmati sisi kesusastraan Alkitab, misalnya. ๐Ÿ˜›

    Dan sekali lagi, tidak beragama bukan berarti ateis. Tidak beragama berarti irreligius. Dan tidak beragama karena tidak mau ambil pusing itu disebut apateisme. Silakan selidiki di Wikipedia. ๐Ÿ™‚

    Adakah orang yang terlahir langsung tanpa agama ? *kecuali jika kedua orang tuanya ateis* , ahh kita kan selalu berbicara dalam mayoritas mas, semua orang yang dibicarakan disini tadinya adalah orang yang beragama, saya tidak mempermasalahkan agamanya, karena agama itu buatan manusia.

    Saat proses mereka menjadi ateis, pasti mereka menanyakan hal-hal yang mendasar tentang agama yang mereka anuti, sangat tidak mungkin mereka menanyakan agama yang orang lain anuti. Kenapa ? karena sejak bayi mereka sudah dicecokin ajaran agama yang mereka anuti, itu sudah tinggal dalam alam bawah sadar mereka. Mau tidak mau bukan ? Masalah rasa capek, sesat , atau pelarian sih cuman kulit luarnya saja.

    Ahh kita berbicara tentang ateis vs teis. BUkan irreligius.

    btw, makasih bincang2nya yah ๐Ÿ˜€ jadi gak enak sama si joe… no offense and chill out ๐Ÿ˜€

    PS :
    Gue bukan orang yang so “teis” or so “ateis” , mungkin label kita sama yaitu seeker, tapi dalam setiap pencarian kebutuhan spiritual gue, gue tidak pernah men-disable power TUHAN. Yang ada gue hanya Meng-Ignore sejenak power TUHAN, mencoba memikirkan segala hal diluar dari lingkaran TUHAN dan bila sudah mulai menemukan jawaban yang setidaknya menenangkan hati dan otak gue, gue mencoba kembali menghubungkannya dengan kekuatan TUHAN.

  • lambrtz |

    @joe
    ah sial…dijadiin mainan sama joe…
    aku ganti deh pertanyaannya.
    kamu bisa MEMAHAMI tulisan mereka kan joe?

    :D:D:D:D

  • Yang Punya Diary |

    Naldo:::
    tidak enak? sejak kapan kamu nggak enakan? aku bangun tidur dan mendapati bungkus rokok yang sudah kosong. sapa lagi yg ngabisin kalo bukan kamu? gyahahahaha…

    dasar tai babi. silakan dilanjutkan. betul?

    tapi baru kali ini aku liat kamu bicara serius tanpa embel2 “penis” dan “vagina” ๐Ÿ˜†

    lambrtz:::
    oh, tentu saja. fyi, naldo itu seangkatan dan sejurusan sama aku, kok. bedanya, dia belum pernah masuk ke ruang sidang ilkomp. jadi sangat wajar kalo aku bisa memahami kata2nya dia :mrgreen:

  • Naldo |

    Joe :::

    Jangan bawa2 ruang sidang, keparat!!!! ๐Ÿ˜€
    Saya gak pernah mau ngobrol serius sama ente.

    crizosaiii :::

    Gak perlu di insyafkan lah, asik lagi bisa kenl teman dengan pola pikir berbeda ๐Ÿ™‚

  • Naldo |

    btw mau koreksi :

    Bila kita mengambil sisi Fakta โ€œBelum adanya pembuktian kehidupan setelah kematianโ€ . Apa yang kaum ateis lakukan ? apakah mereka memberikan effort ? tentunya tidak :), di-sisi ini kehidupan teis * diberikan kemudahan, karena mereka sudah tidak perlu melakukan effort apapun.

    *) ralat menjadi ateis

  • Dafferianto |

    @Naldo:

    1. Kematian adalah sesuatu yang pasti.
    2. Bila orang-orang beragama merasa bila mereka masuk surga, kenapa tidak ada yang menginginkan dirinya cepat mati ?

    Untuk point (1):
    Let a default theory be given:
    T-DL1 = (D,W)
    D = (human(x) M:willDie(x) / willDie(x))
    W = {}

    Ya, kalau dimodelkan seperti itu, sepertinya semua manusia pasti akan mati.

    Let a default theory be given:
    T-DL2 = (D,W)
    D = (die(x) M:end(x) / end(x))
    W = {}

    Religi ngisi W sama propositions yg mana validity-nya mengacu sentences “katanya” yg tertuang di L-sen. L-sen bisa berupa buku2 suci religi.
    Ga tau gimana modelin W. Tiap religi pastinya ngisinya beda2.

    Yg aku tau dari temen2ku orang2 Cina itu, mereka yakin kalau Default theories itu valid. Ga tau juga gimana korelasinya sama time-frame. Tapi kalau seandainya korelasi sama time-frame dimodelin juga & point (2) secara umum valid, artinya kebanyakan orang punya set of elements W yg common. Tapi common di sini juga mematahkan kalau (2) itu selalu valid, soalnya bisa jadi ada element lain di W orang yg membuat dia mempercepat kematian. CMIIW, denger2 dari berita pelaku2 bom bunuh diri itu bisa jadi contohnya.

    Wah, sepertinya Mas Naldo mau berpikir terbuka sehubungan beliefs ya. Jarang2 aku nemu orang Indonesia kayak Mas. Atau mungkin aku yg terlalu kuper ๐Ÿ˜€

    @Kroco Geddoe:

    Dan sekali lagi, tidak beragama bukan berarti ateis. Tidak beragama berarti irreligius. Dan tidak beragama karena tidak mau ambil pusing itu disebut apateisme. Silakan selidiki di Wikipedia.

    Mas, irreligius itu yg kayak apa ya? Apa misalnya orang yg pakai banyak kitab suci (e.g. Kahlil Gibran) termasuk kategori ini?

    Salam,
    Dafferianto

  • Naldo |

    Dafferianto ::::

    Ahhh Canggih, ajaib!!! baru kali ini liat rumus kaya gitu.

    Iya, gue juga ngakuin chinesee people mempunyai pola pikir tentang kehidupan yang jauh lebih baik dan bisa dibilang “masuk akal”

    Udah baca buku scott adams yang berjudul God debris ? kalau belum ini link pdfnya

    http://nowscape.com/godsdebris.pdf

    Beberapa tulisan si scott, sudah dikenal oleh orang2 chinesee, cuma si scott menulis dengan lebih asyik.

    Enjoy the book!

    Hail Ateis!

  • lambrtz |

    @joe
    ah masih luput juga dari maksudnya…
    mbuh lah, mumet aku

    *meh ngece malah mutung, banting kursi*

    babi bunting! kadal ngepet!
    (tiru2 yg lagi nyerang)

    @dafferianto

    *bingung caranya baca rumus*

    itu cara bacanya gimana ya?

  • Kroco Geddoe |

    @ Naldo

    * * * * * * *
    Sisi inti:
    * * * * * * *

    Mari kita sederhanakan persoalannya. ๐Ÿ™‚
    Inti pertanyaan saya adalah:

    Menjadi ateis itu tidak mudah. Memang, ketika seseorang menjadi ateis, ia akan terbebas dari kewajiban-kewajiban orang beragama, tapi mesti diingat, enak-nya orang beragama itu juga tidak bisa ia nikmati. Belum lagi masalah-masalah yang akan ia hadapi dengan ateismenya. ๐Ÿ™‚

    Kesalahan di sini adalah menganggap ateisme itu tanpa beban dan tanpa resiko. ๐Ÿ™‚ Onus probandi-nya masih di sisi mas, lho. ๐Ÿ˜‰

    Sebab di sini saya tidak mempermasalahkan kalau mas menganggap teis itu lebih tangguh mengarungi kehidupan. Yang dipermasalahkan adalah klaim; “Atheis [sic] itu… cuma kepengen hidup yang gampang,” Nyaris semua ateis yang saya kenal memilih ateisme setelah melalui proses yang serius dan depresif. Ini yang saya protes.

    * * * * * * *
    Sisi detail:
    * * * * * * *

    Mengapa? Karena, yang tidak ada di ateisme adalah rasa tenang yang didapat dari iman. Ini fundamental sekali dalam cara berpikir manusia.

    Elaborasinya bisa dilihat di semua poin-poin yang mas buat itu:

    1) Kematian. Yang satu hidup dengan meyakini bahwa ia akan jadi kekal adanya setelah mati, akan berkumpul dengan keluarganya di surga selama-lamanya. Yang satu lagi meyakini bahwa kematian akan mengakhiri segalanya.

    Lalu mas mencoba berapologi dengan menyatakan bahwa teis akan lebih banyak melakโ€ขukan usaha dalam menyongsongnya, seperti ibadah dan semacamnya. Menurut saya malah ini semacam red herring terhadap gagasan yang saya ajukan. Bukankah ini tidak mengubah kondisi bahwa yang ateis akan cenderung lebih eksistensial? ๐Ÿ˜• Poin saya di sini tetap pada kondisi mental.

    2) Doa. Yang satu hidup dengan meyakini bahwa ada higher power yang akan membantu pada situasi tertentu. Yang satu tidak.

    Lalu Mas berargumen bahwa secara pragmatis teis hanya akan menggunakan doa sebagai ‘penenang hati’. Saya tetap tidak melihat argumen ini memecahkan masalah; sebab metode ‘penenang’ milik ateis tetap akan bisa dipergunakan teis, namun tidak sebaliknya.

    Ateis yang depresi bisa pergi ke ahli terapi? Teis juga dapat berbuat demikian. ๐Ÿ˜€ Sementara ateis tidak dapat mempergunakan ‘doa’ milik kaum teis.

    3) Moralitas. Mari survey cepat di sini. Apa pandangan Mas tentang tiga hal berikut: homoseksualitas, aborsi, dan hubungan sedarah? ๐Ÿ™‚ Dan kenapa mas berpendapat demikian?

    * * *

    Adakah orang yang terlahir langsung tanpa agama ? *kecuali jika kedua orang tuanya ateis* , ahh kita kan selalu berbicara dalam mayoritas mas, semua orang yang dibicarakan disini tadinya adalah orang yang beragama, saya tidak mempermasalahkan agamanya, karena agama itu buatan manusia.

    Saat proses mereka menjadi ateis, pasti mereka menanyakan hal-hal yang mendasar tentang agama yang mereka anuti, sangat tidak mungkin mereka menanyakan agama yang orang lain anuti. Kenapa ? karena sejak bayi mereka sudah dicecokin ajaran agama yang mereka anuti, itu sudah tinggal dalam alam bawah sadar mereka. Mau tidak mau bukan ? Masalah rasa capek, sesat , atau pelarian sih cuman kulit luarnya saja.

    Ahh kita berbicara tentang ateis vs teis. BUkan irreligius.

    Saya tidak melihat relevansinya dengan pertanyaan saya? ๐Ÿ˜•

    Perlu saya tegaskan, saya tidak masalah kalau mas menganggap bahwa teis itu lebih susah dari ateis. Silakan saja beranggapan demikian. Juga boleh-boleh saja berpendapat sebaliknya. Berpendapat bahwa keduanya sama susahnya pun mangga. Itu pendapat pribadi.

    Yang buat saya menarik adalah kalimat; “Atheis [sic] itu… cuma kepengen hidup yang gampang” itu. ๐Ÿ˜‰ Sebab menurut saya statemen ini sangat penuh prejudice, berbau bulverisme, dan tidak terkesan sebagai tanggapan yang elegan akan pendapat orang lain. ๐Ÿ™‚

    @ Dafferianto

    Irreligius adalah tidak mengikuti tradisi agama apapun. Contoh pemahaman yang irreligius tapi tidak ateistik adalah deisme; paham yang menyembah Tuhan tanpa lewat agama. ๐Ÿ™‚

  • Yang Punya Diary |

    crizosaiii:::
    undang aja dia ke sini, john. biar trepikku melesat, hahaha

    Naldo:::
    gyahahahaha…

    Dafferianto:::

    Wah, sepertinya Mas Naldo mau berpikir terbuka sehubungan beliefs ya. Jarang2 aku nemu orang Indonesia kayak Mas. Atau mungkin aku yg terlalu kuper

    kayaknya kamu yang kuper, cok. di mipa selatan banyak yang tipenya model gitu kok, kekeke. terutama sejak angkatan 2004 :mrgreen:

    cuma, memang, jumlah mereka ga sebanyak laskar cinta jihad yang suka mentungin orang itu. jadinya kalah terdengar ๐Ÿ˜†

    lambrtz:::
    nah, kalo aku, ta’akui, aku juga butuh waktu buat mahamin rumusnya ucok. ini berbanding lurus dengan sehubungan ucok itu pendadaran 1 tahun lebih duluan ketimbang aku, djo ๐Ÿ˜›

    Kroco Geddoe:::

    Yang buat saya menarik adalah kalimat; โ€œAtheis [sic] ituโ€ฆ cuma kepengen hidup yang gampangโ€ itu. ๐Ÿ˜‰ Sebab menurut saya statemen ini sangat penuh prejudice, berbau bulverisme, dan tidak terkesan sebagai tanggapan yang elegan akan pendapat orang lain. ๐Ÿ™‚

    ahahaha, mungkin ini salahnya adalah ketika aku mengangkat pendapat yang sangat privat ini sebagai tulisan, ged (sama seperti aku mengquote pandangan salah 1 seniorku ttg virginitas). tapi bagus juga. aku jadi bisa belajar banyak. sepanjang zonder pentungan semuanya masih dalam batas wajar, kan? ๐Ÿ˜€

  • mia |

    wah… tulisanne dikit tapi komentare akeh banget thow? wes, lek aku ra atheis ra beragama, pokok’e dadi wong apik, ga natoni atine wong liyo… Pisssssss…

  • Dafferianto |

    @Naldo:
    Udah download. Ntar kalo pas selo tak baca….

    @lambrtz:
    Itu representasi pake (nonmonotonic) Default Logic. Bisa di google detailnya. Banyak dipakai di research ontology & semantic.

    @Yang Punya Diary:
    haha…. ketoke ngono Joe ๐Ÿ˜€
    Anyway, postinganmu merangsang pemikiran yg dalam. Mungkin perlu diperbaiki ben isa merangsang lebih banyak wanita :)) kekekekeke….

    @Kroco Geddoe:
    Ach so… Thanks infonya. Baru denger ttg konsep irreligius (termasuk deism). Kalo ada waktu aku baca2 lagi nanti ttg itu. Knowledge baru lagi buatku. Moga2 bisa jadi tambahan propositions di World W-ku.

    Salam,
    Dafferianto

  • lambrtz |

    @Dafferianto

    oh ontology & semantic to
    pantesan ga pernah denger

    (semua yg masuk EuMI harus belajar kaya gitu ya?)

  • fertob |

    *sial, kok gue ketinggalan* ๐Ÿ™‚

    Saya mendapat kesan, ketika seorang yang ber-Tuhan (beragama) berbicara tentang ateisme dan pernak-perniknya, biasanya selalu muncul sebuah prasangka. Ateis biasanya begini, biasanya begitu, begono, dll. ๐Ÿ™‚

    Men-judge bahwa pilihan untuk menjadi ateis adalah sebuah pelarian dari kerumitan konsep Tuhan, bermental lemah, bermoral buruk, dan lain-lain tidak membuat diskusi malah lebih maju. Seseorang punya prasangka dan mencari pembenaran atas prasangka itu.

    Misalnya tentang etika dan moral. Mayoritas umat beragama yang pernah saya tanyai selalu mengatakan bahwa orang yang ber-Tuhan lebih bermoral dibandingkan orang yang ateis. Saya sampai bosan mendengarnya dan berbusa-busa menerangkan kalau konsep etika dan moralitas TIDAK HANYA ditemukan dalam agama. Moralitas dan etika agama hanya SATU dari SEKIAN BANYAK konsep tentang moralitas di semesta ini.

    @ Naldo :

    Anda berbicara tentang Post-Modernisme. Sebenarnya post-modernisme mana yang anda maksud. Post-modernis bukan sebuah konsep tunggal dan simpel.

    Apa yang anda maksud itu post modernism yang [ini] ? Atau yang [ini] ?

    Banyak varian dari post-modernism, dan tidak semuanya berhubungan dengan masalah Tuhan dan ketuhanan. Dan tidak semuanya berpegang pada agama dan bahkan banyak yang menegasikan Tuhan.

  • alex® |

    @ Yang Ngaku Empunya Diary

    lho, kalo bertuhan ya berarti bukan nggak punya keyakinan, dunk? ๐Ÿ˜›

    Hayyah… ini typo atau saya salah nangkep artinya, Joe? Kan memang benar itu? IMO, ini kalimat tanya yang aneh ๐Ÿ˜†

  • Friend |

    Wah, konten seberat ini ga layak dimasukkin dikepala diakhir shift kantor, ampir jam 9 malem lagi.
    Cuma pernah baca buku punya Cak Nun, kalo ga salah intinya gini.
    “Orang atheis adalah orang yang mengenal Tuhan, Bagaimana mereka bisa mengingkari sesuatu kalo tidak mengenalnya”. Yang masuk dikepalaku jadinya orang Atheis sebetulnya mengenal dan mengerti adanya Tuhan, tapi mereka memilih untuk mengingkarinya…
    bagh…saya tak taulah pendapat saya bener apa enggak, saya belum pernah menganut Atheis je.

So, what do you think?