Barisan Jagal Utusan Tuhan

Barang siapa melihat kemunkaran maka ubahlah dengan tangannya, jika tidak mampu maka ubahlah dengan lisannya, jika tidak mampu maka ubahlah (ingkari) dengan hatinya dan itulah selemah-lemah iman (HR Muslim).

Seyakinnya, buat yang ngaku sebagai seorang Muslim, aku ngerasa bahwa kita semua pasti pernah denger atau baca kalo di dunia ini ada hadist yang seperti di atas itu. Dan buat yang kebetulan bukan Muslim, untuk tambahan informasi dan pengetahuan, aku kasih tau kalo dalam Islam dikenal terdapat sabda Nabi yang seperti itu.

Konon, hadist di atas itu adalah hadist shahih, tidak seperti hadist-hadistannya Didit Komeng, temen sekampusku.

Jadi kisahnya, aku punya temen sekampus yang namanya Didit Komeng. Dia hobi banget nagih traktiran kalo ada anak di kampus yang lagi ulang tahun. Biasanya si Komeng itu selalu mengirim esemes kepada calon korbannya sebagai berikut: “Barang siapa yang sedang berulang tahun maka diwajibkan kepadanya untuk mentraktir teman-temannya (HR Buhsopo dan Bukan Muslim).” Lagi-lagi, untuk tambahan pengetahuan kepada pembaca, Bukhari dan Muslim adalah 2 orang lakon ngetop periwayat hadist dari Nabi yang terkenal kevalidannya. Sedangkan Buhsopo, dalam bahasa Jawa, bisa diartikan sebagai “entah siapa”. Akibat hobi ngawurnya itu, Komeng di kalangan anak-anak Himakom dijuluki sebagai “The Prophet” alias sang nabi.

Tapi Komeng memang seperti Komeng yang di tivi-tivi itu. Selain anatomi wajahnya yang kalo rambutnya lagi disetel gondrong memang mirip sama Komeng yang asli, doi juga terkenal sebagai raja ngeles se-MIPA Selatan. “Aku cuma menyampaikan kepada kalian apa yang disabdakan sama si Jon,” elaknya tiap kali diklaim sama anak-anak sebagai nabi baru sambil menunjuk aku. Gara-gara itu, berhubung Komeng dianggap cuma mewartakan apa yang kusampaikan, maka akupun akhirnya dicap sebagai tuhan sama anak-anak di kampus (si Komeng sendiri tetap ngetop sebagai Amirul Musryikin). Bahkan setiap hari Jumat, anak-anak nggak waras itu selalu terlibat obrolan dengan topik yang sama dari Jumat ke Jumat: “Piye, meh Jumatan opo ora?”

“Takon tuhane wae,” begitulah biasanya jawaban dari yang ditanya yang kemudian langsung dilanjutkan dengan bertanya ke aku.

Maka akupun menjawab, “Jumatan kuwi wajib. Tapi tekone pas khotbahe wis meh rampung wae.”

Kadang-kadang aku juga suka ngawur secara kebablasan. Seperti misalnya hari Jumat pagi kemarin, pas kami tanding futsal lawan anak-anak jurusan Fisika. Sampai dengan jeda babak pertama kami ketinggalan 0-1. Maka akupun langsung berlagak, “Kalo kalah, hukumannya kalian semua nggak usah Jumatan saja,” yang langsung disambut hore sama anak-anak. Celakanya saat menit-menit akhir babak kedua si Abhonk menyamakan kedudukan!

Kontan anak-anak pada bingung. Habis pertandingan mereka langsung merubungku meminta petunjuk. Aku bilang, “Berhubung cuma draw, jadi untuk kali ini kalian wajib Jumatan semua. Tapi datangnya pas sudah khomat aja.” Dasar pada berniat murtad, nantinya ketika azan baru juga selesai beberapa menit, anak-anak ndableg itu sudah pada ngacir ke masjid di samping kampus buat kembali menyembah Allah. Akhirnya aku juga jadi terpengaruh.

Kembali kepada hadist shahih di atas. Ceritanya sekarang ini aku lagi terganggu sama kata-kata “tangan” di hadist itu. Aku sendiri setelah melalui perenungan 7 hari 7 malam sambil tetap menyelesaikan novel “Mr. Monk Goes to the Firehouse” akhirnya sampai pada kesimpulan bahwa “tangan” yang dimaksud dalam hadist di atas pastinya bukan tangan yang sebenarnya. Tangan yang dimaksud adalah sebuah kiasan kontekstual yang dapat diartikan sebagai “tindakan”, seperti biasanya kalo aku lagi nggaya yang suka berujar, “Sini, biar kutangani aja. SDSB, Dab. Satrianto Datang Semua Beres.”

Dan meskipun aku sendiri sebenarnya sudah tidak layak untuk heran, aku tetap saja nekat memutuskan untuk heran ketika tahu bahwa di luar sana masih banyak pihak-pihak ekstrimis yang menerjemahkan kata “tangan” itu sebagai tangan yang sebenarnya, yang merupakan bagian tubuh manusia.

Dengan penerjemahan versi mereka itu, mereka merasa bisa bebas berlagak menumpas segala bentuk kemaksiatan di muka bumi dengan brutal. Kalo ada sekelompok pemuda yang kedapatan, misalnya, lagi mabuk-mabukan, mereka merasa tangan mereka wajiblah digunakan untuk mengayunkan pentung kepada para terdakwa tersebut. Dalihnya biasanya, “Salahnya mereka. Sudah dinasehati masih aja ngeyel. Kalo nggak dihajar mereka nggak bakalan kapok.”

Huaduh, tobaaat…

Aku ngerasa miris. Apa nggak ada tindakan lain yang lebih bijaksana ketimbang dolanan stick baseball ala Jaian itu? Apa iya kalo ngeyel berarti pentung?

Selain aku curiga kalo mereka-mereka yang ekstrim nggak pernah tahu bahwa ada kata-kata “bagimu agamamu dan bagiku agamaku” dan “tidak ada paksaan dalam beragama”, aku juga merasa kalo tindakan barbar mereka itu cuma bakal membuat orang yang dipentungi semakin antipati terhadap ajaran Islam.

Okelah mereka yang maksiat itu pada kapok. Tapi kapok apa? Menurutku mereka cuma bakal kapok kalo ketemu kaum ekstrimis itu. Mereka memang iya bakal nyingkir…selama masih ada yang rela nggebukin mereka. Tapi begitu yang nggebukin sudah nggak ada bukan nggak mungkin mereka bakal kembali ke jalan awal mereka lagi, ya tho? Kasarannya, dalam waktu dekat mereka cuma bakal pindah tempat nongkrong yang jauh dari patroli para barbar itu dan kembali melanjutkan hobi mereka.

Aksi kekerasan cuma bakal mengundang kekerasan berikutnya, John. Yang aku tahu (dan juga orang lain pada umumnya), aku sendiri kalo disikat duluan sama orang pasti bakal spontan berusaha membalas. Tidak cukup dengan tindakan setimpal, kalo aku dipukul, selain balas memukul, aku bakal menambahkan bonus tendangan, sikutan, cakaran, cekikan, dan bantingan kepada manusia yang nekat nyari gara-gara sama aku itu (dengan catatan kalo musuhku tidak memiliki postur yang jauh lebih besar daripada aku. Kalo lebih besar, ya aku lebih memilih untuk kabur dan kemudian merencanakan suatu pembalasan dengan karakter coming from behind :mrgreen: ).

Aku juga khawatir kalo aksi brutal tersebut pada akhirnya menimbulkan efek ketergantungan. Niatan awal untuk memberantas maksiat perlahan-lahan berubah menjadi suatu ketagihan. Misalnya aja ada seorang oknum kaum ekstrimis yang setiap Sabtu malam terbiasa beraksi sebagai seorang dark-knight. Suatu Jumat boleh jadi dalam hatinya dia berpikir, “Siapa lagi ya yang besok harus kugebukin?”. Artinya, di alam bawah sadarnya dia berharap kalo besok Sabtu dia harus kembali makan korban, dan bukannya berharap semoga tidak ada lagi yang melakukan hal maksiat yang menyebabkan dia harus mengayunkan stick baseball-nya. Parah…

Dialog persuasif kupikir bakal lebih efektif. Kalo misalnya pada saat itu yang dinasehatin lagi ngeyel, bukan berarti saat itu juga dia harus dibantai di tempat. Nabi sendiri tidak lantas memenggal Ikrimah bin Abu Jahal di medan perang, kan? Justru karena kesabaran Nabi pada akhirnya Ikrimah rela mengikuti Nabi, setidaknya itu yang aku tahu.

Nasehat pelan-pelan bakal lebih berguna dan membekas, Bol. Bukannya kelembutan melahirkan kerelaan, dan kekerasan melahirkan keterpaksaan? Apa gunanya aku bisa mendapatkan tubuhnya Zaskia Mecca via kekerasan tapi tidak bisa mendapatkan hatinya? Kalo memeluk suatu agama aja tidak boleh berlandaskan paksaan, tentunya menjalankan ajaran agamanya adalah suatu hal yang lebih tidak boleh dipaksa, kan?

Analoginya, ketika main video-game kita tidak dipaksa untuk memilih judul video game apa yang harus kita mainkan. Ketika memilih judulnya aja nggak dipaksa, apa bisa dibenarkan ketika kemudian ada paksaan untuk menamatkan isi video-game itu? Kalo yang level 1 aja tidak harus diselesaikan, lebih-lebih yang level 2-nya, tho?

Aku mengartikan “tangan” itu sebagai “tindakan”. Dan tindakan itu bisa diaksikan dengan cara yang putih, bisa juga yang hitam, bisa juga antaranya, tergantung mana yang lebih efektif dan efisien. Tapi dalam konteks sekarang ini, menurut pertimbanganku berdasarkan faktor psikologis, tindakan ala barbar bukanlah sebuah solusi yang efektif untuk jangka panjang. Yang jelas, kata “tangan” tidaklah pernah kuartikan sebagai ketika aku melihat seseorang yang sedang mabuk-mabukan, tangan kananku harus kugunakan untuk merebut botol vodka dari tangan orang itu dan kemudian kugunakan untuk mementung kepalanya. Yeah, siapa tahu aja yang kutemui kebetulan sedang minum cognag, bukan vodka 😆

Aku ingat sebuah cerita tentang seorang alim yang sedang jalan-jalan dengan santri-santrinya. Ketika sampai di pinggir kali, seorang santri melihat sebuah perahu yang sedang ditumpangi oleh segerombolan tukang maksiat. Demi melihat hal, si santri langsung berujar ke sang orang alim tersebut, “Bos, doamu, kan, mujarab. Mbok situ berdoa supaya perahu itu tenggelam. Jadinya biar para tukang maksiat itu mampus dan nggak bakalan bisa maksiat lagi di dunia.”

Tapi bukannya berdoa sesuai permohonan si santri, sang orang alim malah berdoa supaya semua orang yang ada di perahu besok pada masuk surga. Kontan si santri protes. “Bos, ente sarap, ya? Orang-orang model kayak mereka, kok, malah didoain pada masuk surga?” demo si santri.

“Ngene yo, Le… Kalo aku ndoain mereka masuk surga, ya itu berarti aku ndoain supaya mereka berubah jadi orang baik. Kowe lak yo wis ngerti, tho, syaratnya masuk surga itu apa?” jawab sang orang alim. Alhasil si santri cuma bisa mingkem.

Astaga, aku (pura-puranya) terharu. Aku sendiri belum bisa bertindak semulia itu. Tapi seandainya para kaum barbar yang mengaku berusaha menegakkan ajaran Tuhan di dunia itu bisa mengambil sedikit hikmah dari cerita di atas, aku yakin antipati dunia terhadap Islam yang dicap sebagai agama kekerasan bakal berkurang dan boleh jadi nggak bakal ada lagi karikatur bergambar Nabi Muhammad yang lagi nenteng-nenteng bom.

Ada oknum ekstremis yang mau mencap aku sebagai manusia goblok? Silakan aja, aku sudah biasa. Toh pada faktanya, seperti Dian Sastrowardoyo, aku pernah lulus UMPTN/SPMB 2 kali :mrgreen:

Facebook comments:

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

  1. huahahah……gw udah menorehkan goresan kehadiran disana…tapi kenya di moderasi ya?
    edan lah…!
    ga mampu deh ngebayangin kalo indo jadi afghan….

  2. Aku juga goblog bin gemblung, Joe. :mrgreen:

    Perilaku agresi memang bisa nimbulin ketagihan karena amarah yang disimpan lantas mendapat pelampiasan, dan pelampiasan mendatangkan kepuasan. Mentalnya sakit itu, Joe.

    *nginget2 materi kuliah*

  3. Wah…..tukang gas’e telat dateng..
    jadi kompore blom nyala
    mana ini yang jual gas…

    Hahaha..
    tapi intinya, dunia ini makin ga jelas memang
    saya aja bingung harus berbuat apa..
    hohoho

  4. hohoho…
    aku sering ndak percaya kalo ini tulisanmu Joe…kalo aku melihat wujudmu…
    :mrgreen:

    Joe…bikin aliran baru yuk? tapi yang ndak sesat gitu?
    :mrgreen:

    entar nama jamaahnya Al Baskoroiyah :mrgreen:
    kamu jadi ketuwanya…ndak perlu ada nabinya… soale kalo ada nabi pasti si efpei langsung beraksi…
    oke oke?

    betewe, endinge narsis pol rek! 👿

    aku wae sing tau lolos SPMB + PMDK ndak sombong ye…
    😎

  5. Njrit narsisnya masih aja nih. Mungkin memang benar kalo nggak narsis bukan Joe. 😀

    Untuk nasehatnya saya sih nggak ada komen, sudah setuju banget. Tapi… eh kok ada tapinya ya? 😆 Tapi kali aja emang dengan digebukin jadi pada ndak bisa berbuat dosa lagi tuh Joe, soale pada modar. :mrgreen:

  6. andrisihebat:::
    komen ente di sini juga nggak tampil langsung, lho. tadi sempat ketangkep sama akismet yang lagi mabuk, kekekeke

    Adhi P.:::
    kalo gitu, kesambetlah tiap hari biar alim, pras… 😛

    dodo:::
    sepi? lha ya ndak tau ya…hehehehe
    wah, saya, sih, ndak pernah njadiin blog saya sebagai ajang perang. cuma sekedar buat latian bela diri aja, kok 😀

    Kiki Ahmadi:::
    mungkin cuma belum aja, dab

    Aday:::
    tentu saja di soropadan multimedia reconstruction centre yang zonder koneksi internet itu 😛

    anung:::
    wis suwe, nung. aku kan selalu berusaha mengikuti jejak generasi terbaik…meskipun lebih sering gagalnya :mrgreen:

    calonorangtenarsedunia:::
    padahal analisa psikoku ngasal lho, han. sumpah! 😆

    Landhes:::
    biasa ndes…gas itu sosialisasinya belum total dan menyeluruh

    punk:::
    koen bisane kakak teriak kakak? jangan malu mengakui sodaramu sendiri, punk!

    chiw:::
    dulu memang sempat kepikiran, waktu masih banyak utang. kayaknya lumayan juga kalo ngibulin orang bahwasanya tiket surga itu bisa dibeli dengan sekian juta rupiah. cuma waktu itu printerku lagi ngadat. jadinya nyetak tiketnya terhambat dan gagallah rencana saya

    danalingga:::
    ooo…mungkin bisa disimpulkan, dong, kalo mereka berusaha mengurangi saingan dalam memperebutkan surga. semuanya yang lagi maksiat pada dihajar sampe modar supaya nggak punya kesempatan buat tobat dulu sebelum mati, wekekekekeke

  7. wah…sampeyan emang hebat mas…bisa lulus UMPTN/SPMB sampe 2x, btw, kalo ditembak kira2 masih hidup gak ya? :mrgreen:

    sori gak nyambung..

    Entahlah saya juga bingung…siapa yang sebenernya jadi Tuhan?? kok sepertinya mereka dengan gampang bisa memutuskan, siapa yang bener, siapa yang salah…

  8. Eits’ jadi inget kejadian waktu masih kuliah. Waktu itu temen-temen yang habis mabuk suporter (baca : abis-abisan dan berlebih-lebihan nyuporterin team badmintonnya MIPA digebukkin sama razia preman yang haus duit. hampir mirip gitu yah…cuma berbeda motif. gya ha ha…
    coba minta duitnya baik”, kali aja dikasih..

  9. aRya:::
    siapa? siapa yang narsis? :mrgreen:

    chiell:::
    ora, cil. neng kene kan semboyane “biar sesat asal selamat di akhirat”, kekekekekeke!

    Panda:::
    kemungkinan terbesarnya, sih, saya bakal jantungan kalo sampe ditembak sama dian sastro atau zaskia mecca 😆

    yudi:::
    hooo…saya sudah lama nggak main kasti sejak terakhir jaman esde dulu…

    RETORIKA-DESMOSEDICI:::
    lha, kalo kafir dikafirin ya berarti ndak kafir lagi, dunk, kekekeke

    detnot:::
    ora ngladeni, kok. cuma buat bahan postingan aja. biar rame 😛

    Friend:::
    bukan dimintain duit, kok. mbuh kae…ketoke memang lagi kepengen gelut aja. dan saya beserta septo datang terlambat ke lokasi untuk menyelamatkan teman-teman, huehe!

    scouteng:::
    terima kasih. saya bakal selalu berhati2

    nuha:::
    ooooo…setengahnya itu memang cerita tentang si komeng. dan dia memang tukang nyapek2in orang lain, kok :mrgreen:

  10. ending e kui lho jon.. aku wae sing satu dari dua wakil olimpide mtk kota magelang (di jamannya) wae biasa wae koq… wekekekekeeeeee…..

    ini mesti tikernya blm digelar joe.. hohohooooo….

  11. memang hanya lelaki sejati yg berani menumpas kemaksiatan yg dilihatnya dan dengan tanganya dia hentikan , lelaki banci hanya nongkrong di depan komputer bikin postingan pembelaan diri gak setuju yg malah memperlihatkan bahwa dirinya banci terselubung .
    cuih cuih

  12. vcrack:::
    nggaya kowe, tro. kowe kan nek itung2an duit proyek mesti sing paling lambat 😛

    bloger sampah:::
    lho, yang konsisten, dunk, pak. yang nongkrong di depan komputer itu lelaki/banci, tho? :mrgreen:
    eh, ndak punya url, ya?

  13. Sekadar sharing aja,
    Barang siapa melihat kemunkaran maka ubahlah dengan tangannya, jika tidak mampu maka ubahlah dengan lisannya, jika tidak mampu maka ubahlah (ingkari) dengan hatinya dan itulah selemah-lemah iman (HR Muslim).

    Tangan di sini artinya kekuasaan. sesuai dengan apa yang dibawahinya. Ketika terjadi kemungkaran di Indonesia maka Presiden wajib untuk mengubah dengan tangannya karena beliau memiliki kekuasaan. Atau dalam lingkungan keluarga ketika anak melakukan kemungkaran maka bapak wajib mencegahnya.

    Sedang jika tidak di bawah kekuasaanya maka tidak boleh menindak (mengubah dengan tangan) misal saya lihat orang murtad, saya g boleh main hakim sendiri tetapi yang wajib saya lakukan maksimal adalah menasihati. Jika tidak bisa paling tidak saya tidak menyukai perbuatan itu (dengan hati).

  14. Nambah dikit aja, kali ini soal menasehati, insyaAllah ada kaitannya mencegah dengan ‘tangan’ . Kan sedurung dikaplok lak yo diomongi sek… hehehehehe… just joking.. :p

    Untuk masalah menasehati kebanyakan orang menjadikan nasehat ini adalah perintah yg harus ditaati. Jadi ketika menasehati seseorang yg dilihatnya salah,karepnya itu setelah dinasehati segera berubah. Lalu kalo yg dinasehati masih bebal dia kemudian marah2 n nasehatnya ditambahi dengan bejibun dalil2 dari hadis & qur’an yg mendukung lengkap dengan ancaman2 tanpa meninjau/melihat+memahami jalan/pola pikir n kondisi orang yg dinasehatin. Celakanya yg menasehati pake parameter hasil tafsirannya sendiri, gak mau tahu kondisi obyek yg dinasehatinya. Saya sering ngelihat kejadian seperti ini. Dimana hasilnya yg dinasehati tambah tambeng n yg menasehati tambah jengkel sehingga yg menasehati tanpa disadarinya malah jadi menghujat dengan gayanya yg sok pahlawan. Parahnya yg seperti itu masih berdalih menasehati. Masak ya ada menasehati pake ancaman2 & kata2 yg tidak simpatik segala. Cuman mengingatkan aja, memang menasehati itu adalah menyuruh orang untuk berubah (langsung or tidak langsung), tapi ingat, simpati dari orang yg dinasehati agar berubah itu definedly absolutely diperlukan. Dan kudu ati2 kalo menasehati, meskipun pesannya benar tapi kalo caranya jelek (pake ancaman,agitasi & hujatan segala) yo percuma ae, yg menasehati yo ga lebih brengsek dari yg dinasehati (brengsek karena merendahkan orang yg dinasehati itu). Satu yg harus diingat, menasehati itu pada intinya adalah menyampaikan pesan yg benar. Kalo yg dinasehatin sek tambeng, yo wes kuwi urusane. Kalo trus ngisruh, yo di hajar ae 😀

  15. Seperti halnya di sini. Mas Joe juga dapat kritikan. Kritikan terhadap penulisnya. Bukan apa yang ditulisnya. he he he…

    Pantas saja kalau orang berkolom agama di KTP mayoritas sering dianggap teroris. Ga mau pakai logika sih..

    He he he

  16. Al Baskoroiyah 😆
    serius ya, aku ikutan jadi bendahara aja :mrgreen:
    iyalah Mas tangan itu gak mesti tangan beneran kan bisa juga pakai kaki :mrgreen:

  17. yen sing ta pahami dari: “tangan” disini adalah kekuasaan untuk menetapkan peraturan dalam masyarakat, peraturan sing dipake yo peraturan sing bener, berdasarkan aturan Sang Pencipta. pancen gudhuk tangan bagian anggota tubuh..
    dakwah Rosululloh gudhuk karo kekerasan tapi dengan pemikiran

  18. Ahahaha… sentilan yang bagus, Jo.

    Meski, ada kerancuan juga sih. Ketika tangan itu diartikan kekuasaan, misalnya. Apa ntar ndak dituduh menyalah-gunakan kekuasaan, menjadi tiran, atau anti-demokrasi? 😕

    Ya, saya sepakat sih… bahwa sentuhan dengan hati-ke-hati itu lebih baik. Kalo ndak mau menerima juga, ya sudah… tinggalkan saja.

    Tapi kalo udah cari masalah, udah masuk ke pekarangan rumah, udah nyinyir teriak-teriak di depan pintu, dan… sudah main kayu, ya: saya pribadi juga akan melawan dengan tangan. Tangan dalam artian harfiah. Bisa jadi lebih brutal dari the so-called ef-pi-ai itu 🙂

    Maksudnya? Ya… maksudnya, kalo segala keilmiahan + logika x dalil = pemaksaan juga (seperti ideologi dinegara-negara berideologi tunggal memaksa rakyatnya utk patuh), bagi saya itu mesti dilawan. Siapapun dan apapun bentuknya.

    Toh pada faktanya, seperti Dian Sastrowardoyo, aku pernah lulus UMPTN/SPMB 2 kali :mrgreen:

    He? Lulus 2x? 😯

    Saya juga 2x itu 😛

    3x malah, tapi yang ketiga ndak diitung… secara jadi joki soale 😆

  19. bukankah FPI ini hanya preman yang ‘ceritanya’ sudah tobat? kan cuma ceritanya, cuma katanya, mana yang tahu faktanya…

    banyak orang islam yang tidak setuju pada keberadaan FPI, tapi malah lantas FPI bilang “orang-orang itu adalah orang yg telah dipengaruhi oleh paham2 orang kafir” haha… jadi dia merasa iman dia lebih baik dari kami2 gitu? woh, pede sekali, bukankah agama islam juga mengajarkan untuk tidak takabur. makin mendebat FPI, makin kelihatan menyimpangnya :))

  20. Pingback: Tweets that mention Barisan Jagal Utusan Tuhan | The Satrianto Show: Beraksi Kembali! -- Topsy.com