Berhenti di 29

Saban kenalan sama orang baru, terutama cewek-cewek, setiap obrolan kami berlanjut ke urusan umur, biasanya aku selalu bilang kalau umurku 29. Aku nggak bohong. Usia adalah penanda lamanya hidup seseorang. Jadi apa salahnya kalau sampai sekarang aku selalu bilang kalau umurku itu 29, oleh sebab-musabab hidupku memang berhenti di umur 29?

Cuma…ya begitulah. Orang sering menasbihkanku sebagai orang yang ngawur. Banyak, sih, yang awalnya memang percaya kalau umurku 29, meskipun setelah ngintip SIM dan katepeku kepercayaan itu pudar kemudian. Tapi tetap saja, aku nggak bohong. Setidaknya secara filosofis umurku memang berhenti di 29.

Umur 29 adalah usia di mana kuanggap kehidupanku selesai. Kehidupan yang menyenangkan dan membebaskan, maksudku. Umur 29 aku meninggalkan Jokja, harus pindah ke Jakarta demi jadi aparatur sipil negara sesuai permintaan almarhum babah yang waktu opnamenya bilang, “Bapak nggak minta apa-apa lagi, Le. Bapak cuma pengen lihat kamu jadi PNS.” Sungguh sebuah permintaan yang sulit untuk tidak aku iyakan pada masa itu.

Akhirnya ya aku iyakan saja. Penolakan cuma bakal bikin babah kecewa. Aku nggak punya alasan yang bisa melegakan kedua-belah pihak seandainya aku menolak. Babahku tahu persis, aku cuma nggak bisa lolos tes CPNS kalau dan hanya kalau itu adalah kemauanku sendiri. Aku toh sudah pernah bikin beliau kecewa dengan menolak menandatangani pemberkasan terakhir di 2 tes CPNS sebelumnya.

Tentu bukan jadi PNS-nya yang membuat hidupku berhenti. Ini lebih soal Jakarta-nya. Aku nggak pernah suka sama kota ini. Enggak. Kota ini auranya merah sekali, menurutku. Aura yang nggak sehat. Buatku yang terbiasa hidup tidak kemrungsung dengan semboyan “santai…Belanda masih jauh”, Jakarta selalu membuat tergesa-gesa. Sudah tergesa-gesa, makan waktunya pun lama. Sungguh sebuah paradoks yang amat sangat sekali, duhai saudari-saudari.

Bukan gayaku untuk berkendara selama 1,5 jam untuk berangkat ke kantor dan menghabiskan 1,5 jam lainnya lagi buat pulang ke rumah. Belum lagi kalau siangnya aku harus jadi jumper, berpindah dari 1 lembaga negara ke lembaga negara lainnya demi mengurusi problematika bangsa. Jalanan Jakarta menghabiskan waktuku sahaja.

Cemen? Mungkin iya aku memang cemen (baik itu cemen Gresik ataupun cemen Tonasa). Nggak pa-pa, sebut saja demikian. Aku memang nggak pernah menyukai jalanan Jakarta, kok.

Saking tidak sukanya, aku malah jadi lebih betah di kantor ketika bel pulang sudah berdentang. Aku malas ngantri di jalan.

Tentu kemalasanku untuk pulang menyebabkan aku nggak bisa melakukan kesenangan-kesenanganku lainnya di luar pekerjaan kantor. Aku yang masih suka nongkrong di ruanganku selepas jam kantor membuat Pak Komandan nan workaholic itu senang bukan kepalang. Kayaknya beliau serasa mendapatkan sebiji bala bantuan dengan kemampuan setara 20 orang (setara 20 orang PNS etekewer yang kerjaannya cuma ngopi, baca koran, dan ngemil gorengan, maksudku). Ada saja kerjaan yang diberikannya ke aku.

Lumayan membunuh waktuku buat menanti lalu-lintas terurai, sih. Tapi seandainya ini di Jokja atau Denpasar, sejak jam 5 sore, pastilah banyak hal lain yang bisa kulakukan. Ngutak-atik tamiya, misalnya.

Maka ketika kemarin dolan ke bekas kampusku waktu ngabisin cuti di Jokja dan ketemu Yayan – yang notabene adalah adik kelasku dulu – di sekretariat kampus untuk pertama kalinya sekembalinya aku dari tugas belajar di Inggris, dan dia bertanya, “Kamu sudah master tho, Mas? Berarti sekarang sudah siap, kan?”

Dengan hati riang tentu saja kujawab, “Sangat siap! Sisanya tergantung kalian semua.”

Balik ke Jokja, menghabiskan jam kerja di lingkungan Gadjah Mada, sangat boleh jadi tahun depannya umurku bakal menginjak kepala 3.

Tapi selama aku masih di Jakarta, itu artinya sampai kapanpun usiaku tidak akan beranjak dari angka 29 belaka. Gyahahaha.


Facebook comments:

9 Comments

  • Eva R. Batubara |

    Karena salah satu dari dua tes CPNS sebelumnya itu, saya jadi doyan baca tulisan-tulisan masnya. Yg klo di FB, konsisten menulis kata ulang tanpa tanda hubung. Hehehe…

  • Yang Punya Diary |

    saya kalo nulis panjang lebar cuma di sini e, mbak. fb cuma buat pamerpameran hal yang nggak substansial, misalnya kalo saya habis makan malam di restoran mahal 😎

  • Yang Punya Diary |

    warm:::
    lhooo…saya cemen lho…malah disaluti 😈

    DEVI SUSANTI:::
    wah…waduh…gimana ya? sebenarnya alasannya sudah saya tuliskan sepanjang 6 paragraf di atas. tapi…baeqla, saya kopikan lagi sahaja kalau memang malas membaca ulang:

    Tentu bukan jadi PNS-nya yang membuat hidupku berhenti. Ini lebih soal Jakarta-nya. Aku nggak pernah suka sama kota ini. Enggak. Kota ini auranya merah sekali, menurutku. Aura yang nggak sehat. Buatku yang terbiasa hidup tidak kemrungsung dengan semboyan “santai…Belanda masih jauh”, Jakarta selalu membuat tergesa-gesa. Sudah tergesa-gesa, makan waktunya pun lama. Sungguh sebuah paradoks yang amat sangat sekali, duhai saudari-saudari.

    Bukan gayaku untuk berkendara selama 1,5 jam untuk berangkat ke kantor dan menghabiskan 1,5 jam lainnya lagi buat pulang ke rumah. Belum lagi kalau siangnya aku harus jadi jumper, berpindah dari 1 lembaga negara ke lembaga negara lainnya demi mengurusi problematika bangsa. Jalanan Jakarta menghabiskan waktuku sahaja.

    Cemen? Mungkin iya aku memang cemen (baik itu cemen Gresik ataupun cemen Tonasa). Nggak pa-pa, sebut saja demikian. Aku memang nggak pernah menyukai jalanan Jakarta, kok.

    Saking tidak sukanya, aku malah jadi lebih betah di kantor ketika bel pulang sudah berdentang. Aku malas ngantri di jalan.

    Tentu kemalasanku untuk pulang menyebabkan aku nggak bisa melakukan kesenangan-kesenanganku lainnya di luar pekerjaan kantor. Aku yang masih suka nongkrong di ruanganku selepas jam kantor membuat Pak Komandan nan workaholic itu senang bukan kepalang. Kayaknya beliau serasa mendapatkan sebiji bala bantuan dengan kemampuan setara 20 orang (setara 20 orang PNS etekewer yang kerjaannya cuma ngopi, baca koran, dan ngemil gorengan, maksudku). Ada saja kerjaan yang diberikannya ke aku.

    Lumayan membunuh waktuku buat menanti lalu-lintas terurai, sih. Tapi seandainya ini di Jokja atau Denpasar, sejak jam 5 sore, pastilah banyak hal lain yang bisa kulakukan. Ngutak-atik tamiya, misalnya.

    🙂

So, what do you think?