CafePress.com: Mengenyahkan Endapan Gambar Membandel yang Kurang Bermanfaat di Harddisk Sampeyan

Sampeyan suka nggambar? Sampeyan keranjingan dolanan Adobe Photoshop dan Corel Draw? Aku, sih, ndak terlalu keranjingan. Cuma aja kadang-kadang kalo pas ndak ada kerjaan aku jadi suka dolanan 2 barang di atas itu, sampe-sampe harddisk-ku penuh.

Nah, berikutnya, setelah harddisk-ku penuh aku malah jadi mikir, ini gambar-gambar enaknya diapain? Dibuang sayang, tapi kalo mau dimanfaatin, ya mau dimanfaatin jadi model apa dan kayak gimana, coba? Mau dijual, dijualnya dalam bentuk apa? Iya kalo nanti gambar-gambar bututku itu laku. Lha, kalo nggak laku bagemana? Anggaplah aku mau menjadikan gambar-gambarku itu ke dalam bentuk hard copy semisal kaos atau stiker. Nah, kalo misalnya ndak laku apa aku ndak malah rugi bandar? Bikin kaos atau stiker itu, kan, pake modal duit juga, lho.

Alhamdulillah kapan hari kemarin aku kejatuhan wangsit. Wangsitnya berupa solusi supaya aku joinan di CafePress.com aja. CafePress itu semacam website yang menyediakan layanan bisnis merchandise model print on demand gitu. Gampangannya, di situ aku bisa mbuka toko online sendiri dan nantinya aku cukup nyetorin desainku (aseeknya, mereka ndak memberikan batasan warna yang boleh digunakan pada desain gambar kita. Sebanyak-banyaknya juga boleh), memasangnya pada produk-produk yang disediakan sama mereka – semisal kaos, mug, stiker, dan sebangsanya – untuk kemudian dijual via toko online-ku yang memanfaatkan akunku di situ. Mereka ngasih harga dasar, mereka yang nyetak hasil desainku, mereka yang ngirim barangnya ke pembeli, dan nantinya aku dapet duit – yang dikirim lewat cek – dari mark-up harga yang kulakukan pada barang yang kujual di tokoku, yang pastinya dengan catatan kalo barang daganganku ada yang mbeli.

Tentu saja peluang model beginian ini adalah kesempatan bagus. Akunya ya segera aja join di situ. Meskipun sebenarnya banyak juga situs lain yang modelnya nawarin peluang bisnis model print on demand, tapi sementara ini aku baru njajal nggabung di CafePress thok. Alasannya, konon, CafePress ini sudah eksis sejak tahun 1999. Seengaknya aku mau mempelajari dulu medan baru yang berjudul print on demand ini bersama 1 provider yang reputasinya lumayan bisa dipertanggung-jawabkan sebelum melangkah lebih jauh lagi bersama yang lain. Jadilah aku sekarang punya toko kaos di situ yang beralamatkan komplit di http://www.cafepress.com/cutiemuffin.

Lanjut lagi, di situ aku bisa milih jenis toko yang mau kukelola, yang basic shop atau yang premium shop. Tentu saja masing-masing ada enak-nggak-enaknya, ada perbedaannya.

Bedanya basic sama premium, kalo yang basic aku nggak perlu mbayar biaya penyewaan toko. Mbukanya gratis. Cuma saja jenis barang yang bisa kita jual jadi terbatas. Di situ kita cuma bisa menyetorkan 1 desain untuk 1 jenis produk. Misalnya aja kalo kita mau jualan tank-top, ya itu berarti kita bakal cuma bisa jualan 1 jenis tank-top aja dengan 1 gambar yang berasal dari desain kita. Kita nggak bisa nyetor desain yang berbeda untuk dipasang dan dijual pada 1 jenis tank-top yang sama. Artinya, kalo kita mau majang desain yang lain, ya kita harus masang di jenis produk yang berbeda juga. Kalo tank-topnya sudah dipasangin gambar bebek dari kita, kita cuma bisa majang gambar ayam bikinan kita di jenis produk yang lain, misalnya sweater atau t-shirt.

Nggak enak, kan?

Makanya aku akhirnya milih jenis yang premium aja, meskipun aku diharuskan membayar biaya sewa yang nyaris 6 dollar per bulannya. Biaya pembayaran itu nantinya bisa dipilih mau langsung dipotong dari pendapatan kita ataukah mau langsung dibayarkan via kartu kredit. Kemarin aku sempat nanya, apa mereka bisa menerima duit buat mbayar sewa dari rekening di Paypal? Sayangnya jawabannya adalah “tidak”. Jadilah aku berharap, selama masa trial-nya premium shop yang 15 hari ini, kaosku sudah ada yang laku barang sebiji supaya aku bisa mbayar biaya sewa tokoku. Alhamdulillah kaosku memang sudah laku sebiji. Allahu akbar! :mrgreen:

(Pengumuman! Aku sendiri me-mark-up barang-barangku seharga 7 dollar dari harga dasar yang disediakan sama CafePress. Tapi kalo sampeyan lebih serakah dari aku, sampeyan bisa memasang harga setinggi-tingginya. Cuma saja jangan lupa, konsumen hanya akan membayar tinggi kalo memang kualitas gambar sampeyan itu mumpuni. Selama kualitas gambar sampeyan memang dahsyat, jangan khawatir untuk memasang harga tinggi. They will pay for it. Tapi kalo gambar sampeyan cuma sekelas gunung-2-dan-di-tengahnya-ada-matahari-terbit, ta’sarankan supaya sampeyan tau diri sedikitlah ketika memasang mark-up harga 😈 )

Enaknya lagi, di premium shop kita dikasih kebebasan buat nata tampilan tokonya. Yang jago HTML dan CSS bolehlah bersuka-ria dengan kelonggaran model ini. Yang nggak terlalu jago juga masih bisa memanfaatkan template-template tampilan web yang disediakan sama mereka. Belum cukup sampai di situ, web milik kita itu juga bisa dipasangin Javascript. Maka bergembiralah kalian yang mau majang script-script iklan model pay per click sejenis Gugel Atsens.

Lalu kesimpulannya?

Kesimpulannya tentu saja menurutku layanan ini patut dicoba sama sampeyan-sampeyan yang hobi nggambar. Lha ya daripada gambar-gambar sampeyan itu cuma mengendap di harddisk zonder faedah, lak yo lebih baik kalo gambar-gambar itu dimang’paatkan buat nyari duit, tho? Iya tho? Enak tho? Mantep tho? Tapi memang, ada 1 lagi ketidak-enakannya CafePress: di situ sampeyan ndak boleh majang desain yang sudah ada copyright-nya. Artinya, gambar merk-merk yang sudah dipatenkan, gambar tokoh-tokoh kartun, sampai gambar wajah-wajah selebritis ngetop nggak boleh dipajang di situ (2 desainku sejauh ini sudah dikarantina gara-gara aku nekad njajal masang logo plesetannya Apple sama Flickr).

Lalu, kalo situs toko online milik sampeyan dirasa sudah fix, yang perlu sampeyan lakukan tinggal mempromosikan situs sampeyan. Itu aja, kok.


Facebook comments:

10 Comments

  • faisal dwiyana |

    ngopo ra gawe webset dewe wae mas..
    biaya dan maintenance mungkin lebih mahal dikit,
    tapi bisa lebih leluasa ngaturnya..

    but,enjoy..
    πŸ™‚

  • Yang Punya Diary |

    punk:::
    durung. lha aku saiki malah wis nduwe tempat show-off sing berpotensi menghasilkan duit langsung kok πŸ˜›

    Indonesia Menulis:::
    silakan dilanjut…

    Potter.Web.ID:::
    ketemu? πŸ˜‰

    didut:::
    betul. saya memang tampan πŸ˜†

    faisal dwiyana:::
    lho, itu sudah kok. cuma belum difungsikan saja. ceritanya itu nanti buat webset resminya tokoku. yang sekarang kan kebetulan harga jualnya memang buat konsumsi bule, bukan buat orang endonesa yang kere-kere.

    jadi jangan kuatir, begitu webset resminya beroperasi, harga jualnya juga lebih murah sampe dengan lebih dari 50% khusus buat pengiriman di endonesa, hohoho

  • dian sastro |

    mau tanya ama yg punya diary: kira-kira bagusan cafepress apa zazzle ya?

  • Riky |

    hai, salam kenal.
    wah.. infonya bagus bgt nih. btw klo sudah punya toko sendiri,
    trus kekuatan jualnya dimana mas? maksud saya, apakah cafepress akan merekomendasiin toko kita kepada setiap pengunjung cafepress?
    Makasih.

So, what do you think?