Copot Jilbab, Pakai Jilbab, Lepas Jilbab, Pasang Jilbab, Sampai Gawuk Sarang Manuk

Aku ini punya kebiasaan buruk yang berkaitan dengan kegiatan mandi-memandi. Dari kecil sampai sekarang, aku hobi banget mandi cuma sangu cawet dan kaos singlet buat ditaruh di gantungan pakaian di dalam kamar mandi. Handuk biasanya sudah tersedia di situ duluan sehubungan memang di dalam kamar mandilah tempatku naruh handuk. Dengan kondisi yang demikian, saban selesai mandi aku selalu mletas keluar dari kamar mandi – dengan body yang cuma ketutupan pakaian dalam itu tadi – untuk kemudian ngacir terburu-buru ke kamarku. Dan berhubung antara kamarku dan kamar mandi dipisahkan sama ruang tamu, aku terhitung beruntung kalau pada waktu itu rumahku pas nggak kedatangan tamu. Tapi kalau pas ada tamu, ya maka mau nggak mau aku terpaksa berteriak-teriak dari dalam kamar mandi, memohon pertolongan kepada mamakku, “Maaaaakkk…ambilin aku kaos dong!”

Kapan waktu kemarin aku tetap melakukan kebiasaanku itu di pagi hari. Hanya saja pagi itu entah kenapa aku nyangkut di ruang tamu. Tivi di situ lagi nyetel acara gosip pagi. Gosipnya kebetulan membahas polah dan tingkah Mbak Nikita Mirzani yang konon sekarang ngaku tobat dan memutuskan untuk memakai jilbab. Tapi menurut yang empunya gosip, Mbak Nikita ini aslinya make jilbabnya juga copot-pakai-copot-pakai alias nggak konsisten bin tidak istiqamah. Gara-gara gosip Mbak Nikita itulah otomatis selama beberapa detik aku mejeng di depan tivi, di ruang tamu, sambil cuma memakai cawet dan singlet sahaja (silakan dibayangkan, sodari-sodari. Tiada mengapa. Aku nggak malu. Aku pede, kok, kalau aku ini cukup seksi).

Lalu kenapa aku sampai tertahan di depan tivi? Soalnya begini… Sehubungan dengan persoalan copot-pakai-copot-pakai jilbab ini, mendadak aku ingat dengan janjiku kepada Mbak Kristal yang dulu sempat aku janjikan untuk menulis soal pandanganku dalam hal jilbab-menjilbab ini, utamanya pada konteks para kaum hawa yang tadinya berjilbab dalam penampilan kesehariannya, tapi lalu pada suatu masa beliaunya memutuskan untuk tidak lagi mengenakan jilbab sebagai bagian dari identitas kesehariannya itu tadi. Ini memang topik yang rada sensitif. Tapi ya gimana…aku suka hal yang sensitif, sih.

Latar belakang janjiku ke Mbak Kristal itu sebenarnya diawali oleh perkara yang sepele. Jauh-jauh tempo sebelum aku tertahan di depan tivi itu tadi, Mbak Kristal sempat memajang sebuah apdetan status di Fesbuk-nya. Apdetan itu berisi sebuah hyperlink yang mengarah ke artikel yang berjudul “Lepas Jilbab Bisa Sama Beratnya dengan Pindah Agama di Negeri Ini” bikinannya Mbak Diana Nurwidiastuti yang kebetulan pernah berjilbab dan sekarang memutuskan untuk melepas jilbabnya.

Dari judul tulisan tersebut seharusnya sudah bisa ditebak bahwa, orang (perempuan) yang memutuskan untuk berganti haluan, dari yang tadinya dikenal sehari-hari memakai jilbab dan kemudian berani tampil di depan umum dengan menunjukkan rambutnya, biasanya akan mendapatkan beban berat berupa pandangan dari masyarakat di Endonesa ini. Akan ada banyak manusia yang mempertanyakan alasan kenapa beliaunya memutuskan melepas jilbabnya, seakan-akan urusan seseorang melepaskan jilbabnya adalah urusan bagi seluruh umat manusia. Mbak Diana menulis dalam artikelnya:

“Di, kenapa lepas jilbab?”, “Cantikan dulu”, atau “Semoga segera dapat hidayah lagi ya?” adalah beberapa pesan yang saya dapat dari beberapa teman. Seseorang yang sangat berarti buat saya, bahkan terang-terangan mengungkapkan kekecewaannya dan hingga kini mogok bicara dengan saya.

Beberapa orang mungkin menduga-duga, apa yang terjadi dengan saya? Apakah suami saya yang melarang saya berjilbab? Apakah saya murtad? Apakah saya mengalami degradasi iman?

Salah 1 komentator di apdetan status Fesbuk-nya Mbak Kristal juga menulis:

On a slightly more serious note, aku juga penganut paham bahwa perempuan (harus boleh) punya wewenang untuk menentukan pilihan sendiri. Selama kowe kowe kowe tidak dirugikan dengan pilihanku, ngapain sambat?

Maka untuk mengatasi beban yang dipikul sama wanita yang memutuskan melepaskan jilbabnya, Mbak Diana menyarankan:

Lalu, kita harus bagaimana saat mengetahui teman kita melepas jilbabnya? Pertama dan yang utama, hindari berkomentar dan bertanya kenapa. Dia sedang menghadapi situasi sulit, dan tak perlu menambah bebannya. Mungkin dia sudah menyusun jawaban, tapi jawabannya pasti takkan memuaskan kita. Yang perlu ditekankan dalam pikiran kita adalah: dia tetap orang yang sama, dengan atau tanpa penutup kepala.

Hindari mendakwahinya dengan ayat-ayat yang menunjukkan perintah berjilbab, keutamaan berjilbab, dan dosa-dosa yang ditanggung perempuan yang tidak berjilbab. Saya rasa dia sudah tahu itu saat memutuskan mengenakan jilbab dan saat ini sedang mengambil risiko dengan segala ketakutan dan kekhawatiran dunia akan memusuhinya. Simpan dulu dakwahmu dan sampaikan di waktu yang tepat, jika itu dirasa perlu.

Dari situ aku mendapatkan kesan bahwa, orang-orang yang mempertanyakan kenapa seorang perempuan yang melepaskan jilbabnya adalah jenis manusia yang suka mencampuri urusan keimanan orang lain. Perkaranya, apakah memang selalu begitu?

Itu pertanyaan pertama. Pertanyaan yang kedua, apakah hal yang disebut “beban” itu adalah benar-benar beban? Aku khawatir kalau kejadian ini hanyalah soal ketidaktepatan antara persepsi dengan kenyataan yang sebenarnya, seperti yang pernah kutulis pada postinganku soal definisi dari “berjuang” dan “perjuangan”; apakah ketika kita memproklamirkan diri kalau kita sedang berjuang, benarkah pada kurun waktu yang disebutkan itu kita betul-betul dalam kondisi yang penuh perjuangan? Jangan-jangan ini cuma soal muslihat kita dalam membangun brand diri kita sendiri saja. Jangan-jangan lho ya… 😛

Kedua pertanyaan di atas sebenarnya bisa saja langsung kujawab sekarang juga. Langsung. Straight to the point. Tanpa tedeng aling-aling. Tapi apa serunya kalau semua hal langsung kujawab dengan gamblang? Mau dibawa ke mana reputasiku sebagai seorang tukang ngomyang? Atau, kalau mau memakai alasan yang macak lebih mulia, apa nilai tambahnya bagi kalian, duhai sidang pembaca yang terhormat, kalau aku langsung menjawab tanpa melibatkan sampeyan dalam sebuah proses pemikiran yang akan mengasah daya nalar kalian? 😈

Maka dari itu simaklah terlebih dahulu beberapa ceritaku nan berikut ini…

Eh, tapi sebelum aku mulai ceritaku, aku kepengen bilang dulu, ding, bahwasanya Gregory Bateson pernah ngomong kalau, manusia itu punya kecenderungan memiliki banyak sudut pandang untuk membuat sebuah hal kelihatan nggak beres sementara beliau-beliau ini cuma punya 1 parameter saja untuk membuat hal yang bersangkutan layak dinilai sebagai bagus dan benar.

Tentu bisa jadi pendapat ini cocok untuk dipakai dalam soalan “beban” juga, kan? Ya…seperti kasus kita sekarang inilah :mrgreen:

Jadi mari kita mulai cerita pertamaku.

A Studi Kasus in Scarlet

Aku punya teman, bukan teman sepermainan, di mana ada dia belum tentu ada aku. Nama temanku ini kita sebut saja Mbak Mawar (memang bukan nama sebenarnya, dan yakinlah sumpah, meskipun nama aliasnya mirip nama yang biasa dipakai koran-koran untuk menyebut korban perkosaan, mbak kita kali ini sama sekali bukanlah korban tindak pencabulan jenis apapun, -red.). Kebetulan sekali, kapan hari yang lalu, Mbak Mawar sempat ngobrol juga sama aku soal perkara jilbab-jilbaban. Mbak Mawar kepengen mencopot jilbabnya.

Tentu saja aku bereaksi, tentu saja aku bertanya. Kupikir, tindakan bertanya yang kulakukan adalah hal yang wajar. Ketika seseorang yang dekat dengan kita (berniat) melakukan sebuah revolusi, tentu sebagai manusia normal kita bakal tergiring untuk bertanya, kan? Jadi apa salahnya ketika aku memutuskan untuk bertanya ke Mbak Mawar, kenapa dia kepengen melepaskan jilbab yang selama ini menjadi salah 1 merek dagang dirinya?

Nah, apa aku berniat mengurusi keimanan seorang Mbak Mawar? Oho, nanti dulu…

Adalah wajar ketika kita mendapati hal yang di luar situasi normal lalu kemudian kita bertanya-tanya, adalah normal ketika kita dibuat heran oleh anomali dalam sebuah pola. Maka menurutku, di mana anehnya kalau kita berkomentar ataupun mempertanyakan sesuatu yang tahu-tahu nongol di luar skema yang biasanya? Justru Mbak Pacar jaman dulu suka ngambek kalau aku nggak ngeh ketika ada perubahan pada dirinya, misalnya pas beliau make gelang baru atau poninya baru saja dipotong atau warna lipstiknya beda rona dari yang dipakainya kemarin lusa.

Maka ke Mbak Mawar pun aku bertanya, kenapa dia kepengen melepas jilbabnya, apa motivasinya dulu kenapa memutuskan memakai jilbab, dan apa pula makna jilbab yang sebenarnya buat dia?

Jawab Mbak Mawar, “Aku sendiri bingung, Mas. Sekarang, buatku, jilbab nggak ada bedanya sama kain penutup tubuh yang lainnya, macam baju, celana, topi, dan sebagainya.”

Usut punya usut, ternyata Mbak Mawar ini awalnya pakai jilbab gara-gara disuruh orangtuanya. Tapi kepengen ngelepas, kok, ya kayaknya ada yang ngganjel. Problemnya, pertama, dia merasa sering jadi omongan orang hanya gara-gara belanja ke warung dekat rumahnya dengan nggak pakai jilbab. Baru ke warung yang deket aja jadi omongan, gimana mau jalan yang jauh-jauh, jal? Omongan orang itu sungguh merisihkan, demikian kukutip dari Mbak Mawar.

Problem kedua, ya itu tadi…gara-gara pakai jilbabnya pun karena arahan orang tua, maka untuk benar-benar memproklamirkan diri copot jilbab ya Mbak Mawar merasa nggak enak. Mbak Mawar nggak tega bikin orangtuanya kecewa cuma gara-gara soalan kain selembar yang ringan itu. Perkara yang ini, menurut Mbak Mawar, jauh lebih krusial ketimbang perkara pertama barusan. “Rasanya kayak ngelawan sama orang tua kalau aku pas lagi lepas jilbab,” curhat Mbak Mawar.

“Nah, ini artinya pada akhirnya ada yang harus dikompromikan,” responku. “Lanjutannya, sih, ya terserah kamu. Cari yang paling menguntungkan saja buat hidupmu, yang paling bikin tenang. Pada dasarnya toh pakai jilbab nggak bikin kamu mati, nggak pakai jilbab juga nggak bikin kamu mati,” lanjutku ngasal.

Masalah Mbak Mawar ini sebenarnya mirip-mirip dikit dengan 1 paragraf tentang seorang kawan Mbak Diana, yang kisahnya tertera di bawah ini:

Namun, di luar sana, banyak perempuan yang tak seberuntung saya. Salah seorang teman bahkan pernah mengutarakan keinginannya untuk melepas jilbab, tapi selalu disambut ketus oleh orang tuanya. Dia hanya berani tampil tanpa hijab di sosial media, dan mendapat kritik dari ibunya tiap mengunggah foto dirinya tanpa penutup kepala. Dia sempat bilang depresi dengan keadaan ini dan membenci kedua orang tuanya sedemikian rupa.

Dari kedua kasus di atas, soal pandangan orang tua terhadap kelakuan putrinya (dan sehubungan juga dengan sedikitnya detail fakta yang bisa kudapat), aku menyimpulkan secara subyektif bahwa, kalau sekadar mau bicara berat-beratan beban, jelas beban yang ditanggung sama Mbak Mawar lebih besar ketimbang temannya Mbak Diana. Mbak Mawar punya orang tua yang disayangi dan takut dikecewakannya, sementara teman Mbak Diana sebaliknya. Teman Mbak Diana membenci kedua orang tuanya. Oleh sebab-musabab nan demikian maka teman Mbak Diana lebih diuntungkan karena memiliki solusi permasalahan yang lebih jelas: beliau tinggal mencari bagaimana caranya “menyingkirkan” ataupun menyingkirkan orang tuanya, baik dengan tanda kutip maupun tanpa tanda kutip.

Sementara Mbak Mawar?

Ah…bukankah ketika 2 orang sedang pacaran lalu kemudian putus itu yang berat adalah sudah putus tapi masih cinta? Bukankah kalau putus dan sudah nggak cinta itu maka jalannya akan lempeng-lempeng belaka? Menyingkirkan orang yang kita benci itu seharusnya selalu lebih mudah daripada menyingkirkan orang yang kita sayangi, kok 🙂

Tapi tentu saja ceritaku tidak selesai sampai di sini. Masih ada cerita lanjutan yang nantinya bakal kita pakai bersama untuk membahas lebih jauh tentang perkara beban-bebanan ini.

Cerita keduaku adalah cerita tentang mbak-mbak yang kukenal pas jaman kuliah. Kuliah yang di Gadjah Mada lho ya, bukan yang di Warwick kemarin ini. Mbak yang kali ini kita sebut sebagai Mbak Kembang Sepatu (tetap bukan nama sebenarnya, -red.). Mbak Kembang Sepatu ini kukenal sebagai salah 1 mahasiswi berjilbab pada masa itu, yang setelah lulus, beberapa tahun kemudian barulah kami punya kesempatan buat nongkrong bareng lagi di Jakarta.

Pertama kalinya kami ketemuan setelah beberapa tahun, aku kaget. Aku kaget karena waktu dia datang ke tempat kami ketemuan di Mal Kelapa Gading dengan tidak mengenakan jilbabnya lagi. Tapi dengan dalih tidak mau merusak mood nongkrong kami, aku waktu itu cuma membatin, ah…Jakarta, di sini siapa saja bisa berubah sedemikian drastisnya 🙂

Cuma tetap saja aku bukan tipe manusia yang mau mengikuti nasehatnya Mbak Diana untuk tidak bertanya. Aku tetap menjanjikan ke diriku sendiri, besok-besok bakal kutanya Mbak Kembang Sepatu, kenapa dia melepaskan jilbabnya? Jangan-jangan beliau ini sedang stress. Orang yang lagi stress, kan, kadang suka mengubah penampilannya, misalnya potong rambut yang tadinya gondrong jadi pendek. Dalam kasusnya Mbak Kembang Sepatu, siapa tahu aja pelampiasannya adalah copot jilbab. Nah, sebagai teman yang baik, masak iya aku sebegitu nggak pedulinya pada beliaunya? Lha, siapa tahu Mbak Kembang Sepatu memang benar-benar lagi ada problem, dan siapa tahu ada sesuatu yang bisa kulakukan untuknya.

Sungguh mulianya diriku ini, kan? :mrgreen:

Nah, sejak ketemuan kami pertama kali setelah sekian lama itu akhirnya kami jadi dekat lagi, apalagi mengingat trayekku pulang kerja selalu melewati daerah kos-kosannya. Aku sering mampir ke kosnya sekadar cari makan bareng atau kalau dia memintaku menemaninya belanja keperluannya sehari-hari ke supermarket. Dan mungkin juga gara-gara Mbak Kembang sepatu cerita-cerita kalau aku sekarang juga di Jakarta ke simboknya, suatu saat simboknya Mbak Kembang Sepatu meneleponku. “Mas Joe, titip Kembang Sepatu ya! Anak itu kalau tante yang ngasih tau nggak pernah nurut. Nurutnya cuma sama Mas Joe. Kalau tante ngasih tau (tentang suatu hal, misalnya, -red.) , Kembang Sepatu pasti bilangnya, ‘Kata Mas Joe harusnya nggak kayak gitu, Mah. Harusnya tuh kayak gini…’ Gitu, Mas Joe. Nah, makanya Tante titip ya!”

Ealah gomblis! Dipesani kayak gitu, apalah yang bisa kurespon selain cengengesan? “Iya, Tante, iya. Sip. Pokoknya beres. Nanti kalau Kembang Sepatu bikin ulah, pasti bakal saya marahin habis-habisan,” demikian sambutan singkat setelah pelantikanku secara sepihak sebagai aparat pertahanan sipil.

“Makasih lho, Mas Joe. Oh iya, tante denger dari Kembang Sepatu, katanya sekarang Mas Joe sudah jadi pejabat eselon ya? Hebat. Tante doain Mas Joe selalu sukses ke depannya ya,” lanjut maknya Kembang Sepatu lagi.

“Ehehehe…ehehehehe, iya, Tante. Aamiin, Tante. Ya gitu, deh, Tante. Maturnuwun, Tante,” responku salah tingkah. Kampret juga Mbak Kembang Sepatu ini! Ngapain, sih, pake cerita soal kerjaanku segala ke emaknya? Nanti kalau si tante malah ngarep-arep aku jadi menantunya gimana coba? Aku sendiri ke Mbak Kembang Sepatu, kan, sudah mati rasa sejak lama.

Suatu hari di kamar kos Mbak Kembang Sepatu, di luar hujan turun dengan derasnya, di tengah-tengah kesibukan kami masing-masing, dia nggarap tugas kantornya, aku klekaran di karpet empuknya sambil baca komik “Detektif Conan” terbaru koleksinya, aku bilang ke Mbak Kembang Sepatu, “Dul, aku ke depan bentar ya. 1 rokok’an.”

“Ya,” jawabnya.

Aku pun keluar, sebatang Djarum Super kunyalakan. Baru juga seserot-2 serot, Mbak Kembang Sepatu nyusul, mengeluarkan sebatang Marlboro merah dari bungkusnya, menyalakan dan duduk menghisapnya di sampingku, kemudian melemparkan bungkusannya ke meja di hadapanku. Aku kontan kaget. Sejak kapan? Setauku dulu tidak begini. Bahkan sepanjang indehoy kami selama di Jakarta, baru kali ini aku melihatnya ngerokok di depanku. Ah, sial! Tahu gini, kan, aku dari kemarin-kemarin nggak perlu mindik-mindik menghindarinya kalau mau ngerokok.

Sejurus kemudian aku ingat pertanyaanku kapan tempo kemarin. Langsung saja dia kutanya, “Kamu kenapa e sekarang nggak jilbaban lagi, Dul?”

Mbak Kembang Sepatu mesam-mesem. “Nanti-nanti lagi aja, Hon,” katanya. “Hon” itu kependekan dari honey-bunny, panggilannya ke aku sejak jaman dulu yang bahkan sampai detik ini nggak pernah berubah. Ngasal juga anak ini, padahal sekarang dia sudah hampir punya anak lho. Anak dari suaminya, tentu saja. Bukan dari aku!

“Nanti-nanti lagi aja gimana tho?”

“Ya nanti-nanti lagi aja aku pakai jilbabnya kalau sudah pas. Aku masih belum pantas, orang masih suka minum sama ngerokok gini lho,” jawabnya. “Aku mau mantasin diri dulu supaya bisa konsisten sama jilbabku. Masak berjilbab tapi kelakuannya kayak gini, hahaha,” sambungnya lagi.

Tapi tentu saja jawaban kayak gitu adalah jawaban yang nggak laku buatku. Lho, kalau alasannya adalah mau pantas diri dulu baru kemudian berjilbab, memangnya yang disebut pantas itu seberapa pantas, sih? Khawatirnya, seumur hidup pun kita nggak akan pernah ketemu dengan kondisi yang pantas itu. Belum lagi kalau kita mau berdebat soal kapan dan dalam situasi serta kondisi yang bagaimanakah seorang wanita dinilai pantas untuk mengenakan jilbabnya? Taruhan sebungkus rambak kulit sapi, deh, jawabannya bakal absurd sekali. Maka karena jawabannya sendiri dikhawatirkan masih ngawang-awang, cukuplah rumusan untuk seberapa pantas itu kita alamatkan saja kepada kau untuk kutunggu, cukup indahkah dirimu untuk selalu kunantikan?

Alhasil aku malah jadi ngorek-ngorek lebih dalam lagi, soal alasan kenapa Mbak Kembang Sepatu melepas jilbabnya dan motivasi kenapa dulu Mbak Kembang Sepatu memutuskan memakai jilbabnya. Tidak ada muatan dakwah sama sekali dalam dialog kami. Semua pertanyaanku murni kutanyakan dengan pertimbangan-pertimbangan logis, terutama ketika kudapati ada premis-premis yang janggal, yang saling bertentangan 1 sama lain. Kalaupun ada judge-judge-an dari aku, aku jamin itu cuma dalam rangka klarifikasi ulang terhadap kesimpang-siuran antar premis itu tadi, sama sekali tanpa muatan soal surga dan neraka.

Akhirnya aku mendapatkan jawabannya. Mbak Kembang sepatu ngaku, kalau dulu dia memutuskan untuk memakai jilbab karena nazarnya waktu esema. Waktu itu dia bilang, seandainya dia lulus SPMB, dia akan kuliah dengan berjilbab. Nah, jawaban yang simpel, kan? Dari sini semuanya jadi wajar. Karena janjinya adalah akan berjilbab ketika kuliah, maka pas kuliahnya sudah selesai, ya selesai pula janjinya. Lepas jilbab bukanlah sesuatu yang – menurutnya – melanggar omongannya sendiri.

Batinku, ya iya juga. Selesai sudah pertanyaanku. Sisanya ya cuma kegelianku, mau njawab sesimpel itu aja pakai bicara ndakik-ndakik seputar akhlak manusia dulu. Kenapa, sih? Takut dinilai kalau alasannya terlalu dangkalkah?

Kita jawab itu nanti saja sehabis ceritaku yang selanjutnya.

Selanjutnya adalah tentang Mbak Dracula Simia (ya keleus ini nama sebenarnya… Tentu bukan juga, dong, ah, -red.), mbak-mbak guest relation officer (GRO) di sebuah hotel berkelas di Jakarta yang jaringannya ada di seluruh dunia, mbak-mbak yang selalu sewot masalah adab kalau mendapatiku makan atau minum sambil berdiri. “Duduk, Mas!” perintahnya. “Kalau minum itu adabnya harus duduk. Jangan berdiri kayak gitu. Nggak baik,” katanya setiap kali melihatku keluar dari sebiji convenience store sambil menenggak teh madu dingin botolan yang baru kubeli.

Apakah Mbak Dracula Simia berjilbab juga? Tentu saja.

Apakah Mbak Dracula Simia kemudian mencopot jilbabnya? Tentu iya juga. Lha, kalau enggak, ngapain kisahnya kutuliskan ulang di sini, kan? 😛

Kisahnya sendiri lumayan mengiris. Mengiris wortel dan seledri untuk dibikin sop, maksudku. Jadi Mbak Dracula Simia ini pernah punya calon suami yang sudah bekerja duluan di ibukota negara kita tercinta ini. Pada suatu ketika Mbak Dracula Simia mendapati berita tidak bahagia: calon suaminya meniduri wanita lainnya yang mana adalah teman Mbak Dracula Simia juga. Kalap dan gelap mata, Mbak Dracula Simia langsung berniat menyusul ke Jakarta. Kerjaan lamanya di Jokja ditinggalkannya demi mengurus perkara gono-gini dengan sang calon suami yang menurutnya bakal makan waktu lumayan lama sekali.

Hidup di Jakarta otomatis Mbak Dracula Simia butuh kerjaan untuk menyambung nafas. Tidak banyak tempat yang bisa menerimanya kerja dalam tempo sesingkat itu di Jakarta (dan sesuai dengan prasyarat dirinya sendiri pula). Panggilan kerja yang ada akhirnya ya tawaran GRO di hotel tempatnya kerja sekarang ini. Tawaran itu disambarnya, meskipun konsekuensinya adalah dia harus melepas jilbabnya. Mau bagaimana lagi, ya memang begitulah aturan kerjanya. Kalau mau tetap pakai jilbab, ya silakan cari kerja di tempat lain sahaja yang membolehkan pegawainya pakai jilbab, dong.

Pertukaran yang cukup adil, kan? Sampeyan ta’bayar sekian-sekian, cukup buat ngekos di Jakarta, makan sehari-hari, nonton bioskop sesekali, nabung dikit-dikit, tapi sampeyan kudu kerja sama saya selama sekian jam tiap harinya, ta’kasih libur 2 hari tiap minggu, dan, tolong, copot itu kain yang sampeyan pakai buat menutupi area yang menurut sampeyan adalah aurat. Soal dosa atau enggak, itu urusan sampeyan, bukan urusan saya. Yang jelas, sampeyan saya bayar tapi sampeyan harus ikuti aturan dari saya. Deal?

Nah, kalau sudah begitu, ya itu berarti konsekuensinya ada pada diri kita sendiri, kan? Hidup ini toh sebenarnya simpel, isinya cuma pilihan dan konsekuensi atas pilihan yang kita pilih itu tadi.

Mbak Dracula Simia setuju untuk melepaskan jilbabnya setiap jam kerja. Sayangnya, ternyata urusan dengan calon suaminya berakhir ambyar, seambyar ambyar-ambyar pisang, pisangku belum masak. Calon suaminya tak bisa tegas hendak memilih yang mana di antara 2 wanita. Yang 1 sudah bela-belain menyusulnya ke Jakarta, menanggalkan perihal yang selama ini menjadi identitas dirinya, sementara yang 1 lagi (mungkin…mungkin lho ya) goyangannya enak! 😈

Di suatu senja di musim yang lalu (sekarang sudah lumayan sering hujan, kemarin-kemarin masih panas) Mbak Dracula Simia bercerita di depanku. Kentara sekali kalau beliau ini mangkel 3/4 mati sama calon suaminya. “Aku sudah bela-belain ke sini. Aku tinggalin kerjaanku di Jokja, Mas. Aku sudah berkorban mau kerja di tempat yang kalau dalam kondisi normal aku nggak akan pernah mau. Tapi dia nggak bisa tegas, pilih aku atau perempuan brengsek itu!” begitu keluh-kesahnya. “Rasanya dia pengen ta’bejeg-bejeg nok!” Logat Denpasar-nya keluar. Ah, betapa aku merindukan pembicaraan bersama lawan jenis dengan logat seperti logat gadis di depanku ini :mrgreen:

Tentu ini khas dan klasik, soal laki-laki yang nggak bisa menjatuhkan pilihan…dan soal perempuan yang…yah, kok, ya masih saja mau memberi opsi kepada lelaki jenis begini, sih? 😈

Jadilah pembicaraan soal hubungan mereka nggak terlalu menarik buatku. Aku malah memilih bertanya, “Kondisi normal?”

“Iya, aku lepas jilbabku cuma buat bela-belain bisa kerja di Jakarta! Supaya bisa nyelesaiin urusanku sama dia!” serunya.

“Tapi sekarang bukannya semuanya sudah jelas? Soal bekas calon suamimu, keputusanmu bukannya sudah bulat, end of story?”

“Iya.”

“Jadi sekarang beres, kan? Resign, cari kerja lain yang mbolehin kamu pakai jilbab.”

“Iya, ini aku besok rencananya memang mau ikut tes CPNS.”

“Lho, iya? Ke mana? Kemenlu atau kantorku? Pokoknya kamu nggak boleh ikutan tes CPNS kalau bukan di 2 tempat itu,” komenku cengengesan sambil mengingat kalau Mbak Dracula Simia ini pernah magang di Kementerian Luar Negeri buat mata kuliah Kerja Praktek-nya.

“Heee… Kemendag, Mas,” katanya nyengir.

“Ah, sial! Nggak seru. Jadi anak buahnya Septo atau Machmudin kamu nanti,” kataku sambil merujuk 2 biji anak singkong Kementerian Perdagangan yang biasa jadi teman nongkrongku tiap habis meeting di sekitaran situ, yang kebetulan keduanya pun jauh dari kata bermutu.

“Iya, nanti aku juga mau tanya-tanya lagi ke Mas Septo, kok.”

“Tapi tes CPNS masih lama. Terus rencanamu apa sambil nunggu tes CPNS? Tetap di hotel yang sekarang?”

“Ya mau gimana lagi, Mas. Aku nanti nggak punya duit kalau nggak kerja.”

“Berarti jilbabmu kalah sama kerjaan, dong?” tanyaku sambil menaikkan alisku.

“Iya. Aku sedih, sih. Tapi mau gimana lagi, kondisiku memang kayak gini? Ya kayak yang Mas bilang, jilbabku memang jadinya kalah sama kerjaan. Harus kuakui. Lagian mau ngeles kayak gimana pun, ya ini faktanya.”

Wow! Aku heran. Respon Mbak Darcula Simia justru di luar ekspektasiku. Aku tadinya nyinggung soal jilbab yang kalah sama kerjaan – sumpah mati – cuma lagi iseng sahaja. Aku tadinya malah berharap si mbak bakal meresponku dengan meninggikan intonasi suaranya, membela diri, untuk kemudian kuisengi lebih jauh lagi. Aku pengen bikin dia mangkel, eh…tapi lha, kok, beliau ini malah jujur sekali mengakui situasinya sendiri. Aku kuciwa! Nggak seru!

“Mas,” kata Mbak Dracula Simia lagi, “doain aku lulus tes CPNS ya!” Matanya menatapku serius sekali.

Ditatap seperti itu, maka apalagi yang bisa kurespon selain, “Pasti. Nanti kita bakal sering rapat bareng, kok. Trade and investment itu biasanya 1 paket.”

Alhamdulillah-nya, kapan hari kemarin Mbak Dracula Simia ngabarin kalau dia lolos di tahap pertama. Kemarin ini sedang tes tahap kedua. Doakan beliau lolos ya, supaya aku ditraktir sama dia kayak kapan hari kemarin, waktu aku dijajanin nonton “Bohemian Rhapsody” di bioskop, dibeliin pop-corn dan minumnya pula.

Cukup? Belum.

Belum cukup. Aku sedang kepengen kalian – oh, sidang pembaca yang terhormat – percaya kalau aku punya banyak teman-teman cewek yang memutuskan untuk melepaskan jilbabnya. Dalam artian, aku sudah nggak heran lagi dengan alasan bin latar belakang kenapa mereka melepas jilbabnya. Berapa jumlahnya? Banyak. Tapi kalau aku harus menuliskan cerita tentang 29 ekor homo sapiens kayaknya kebanyakan juga. Cukuplah kusampaikan beberapa lagi, supaya makin memperjelas ilustrasi postinganku kali ini, soal apa iya melepas jilbab itu beban?

Dan cerita selanjutnya adalah tentang Mbak Eceng Gondok.

Aku kenal sama Mbak Eceng Gondok ketika beliaunya juga masih berjilbab. Awal-awal aku di Jakarta, aku sempat naksir sama dia. Dia soalnya suka membaca, sih. Sehobi sama aku, hohoho. Kupikir kami bakal cocok, meskipun pada akhirnya aku nyadar, Mbak Eceng Gondok lebih pas buat jadi teman ngobrol.

Sampai pada suatu waktu, pas janjian dinner berdua aku mendapatinya tanpa jilbabnya. “Hei! Aku pangling!” seruku. “Kenapa, kok, dilepas? Stress? Ada problem? Ayo cerita!” cerocosku ngasal. Sumpah, aku bener-bener ngasal. Sungguh mati tanpa tendensi apapun jua.

Mbak Eceng Gondok nggak menjawab, dia cuma tersenyum. Oh, oke, batinku, berarti memang ada masalah…dan berat. Berat, karena buktinya adalah dia bahkan enggan untuk melepaskan ceritanya. Malam itu kami makan sambil membahas hal lain. Aku nggak menyinggung soal jilbabnya lagi.

Kali lain kami janjian lagi. Kalau yang tadi adalah makan di warung pinggir jalan, kali ini kami ketemuan buat makan bareng di mall. Mbak Eceng Gondok tetap tidak berjilbab. Saat aku datang sudah masuk waktu maghrib, maka aku kontan mengajaknya, “Yuk, shalat dulu, yuk!”

“Kamu aja, Mas,” katanya.

“Lho, kok? Oh iya, ding, lagi ada tamu bulanan ya?” simpulku.

Dia cuma mengangguk.

“Ya udah, bentar ya.” Aku pun maghriban. Malam itu kami makan sambil ngobrol hal-hal lain lagi. Masih tidak ada perbincangan soal jilbab.

Sampai pada suatu waktu aku nyadar. Mbak Eceng Gondok tidak sekadar melepas jilbabnya di dunia nyata. Bahkan di dunia maya pun juga begitu, dalam artian di semua akun media sosial miliknya dia menghapus foto-foto lamanya waktu dia masih berjilbab. Semua jejak yang menunjukkan kalau dia pernah berjilbab – dalam kesanku – berusaha dihilangkannya. Maka sama seperti kasus Mbak Kembang Sepatu, aku nggak tahan untuk bertanya.

“Aku nggak percaya sama Allah, Mas. Aku juga sudah nggak nyaman hidup dengan aturan Islam,” katanya akhirnya. Problematika ini disambung dengan beberapa contohnya soal betapa Islam adalah ajaran yang sangat diskriminatif, misalnya dalam perkara kesetaraan gender dan juga soal kecenderungan seksual. Tapi tentu itu bukan bahasan pokok pada kesempatan kali ini, meskipun kalaupun mau diteruskan, bisa saja diskusi soal hal itu bakal terus kulayani.

“Lha, orang tuamu tahu?” tanyaku.

“Ibuku tahunya aku cuma lepas jilbab. Responnya, sih, normal aja. Dia malah bercanda. Aku katanya perlu dirukyah, aku diajaknya umroh, tapi aku nggak mau.”

“Jadi kapan hari kemarin waktu kuajakin shalat itu kamu nggak mau bukan gara-gara lagi mens?”

“Iya.”

“Wooo…ha mbok ngobrol. Kalau kamu nggak cerita kayak sekarang ini, gimana akunya bisa paham?”

Dan kami kemudian ngomong lagi soal perkara lainnya, soal dia yang nggak pernah bisa percaya kalau aku pernah benar-benar suka sama dia. “Orang kayak kamu mana mungkin. Paling sama semua cewek kamu juga kayak gini,” begitu katanya.

Awal bulan puasa kapan tahun yang lalu – setelah aku tahu alasan Mbak Eceng Gondok melepaskan jilbabnya – aku juga sempat bertanya via Wasap: “Hei, kamu besok puasa nggak? Kalau iya, aku mau bilang selamat puasa lho.”

Jawabnya, “Nggak, Mas. Ini tadi siang aku malah baru nyentang ‘Lain-lain’ di kolom agama formulir biodata kantorku.”

“Oh, ya sudah. Nggak jadi selamat puasa buat kamu kalau gitu,” tutupku sambil tidak lupa menambahkan smiley orang melet 😛

Kisah berikutnya adalah tentang Mbak Kantong Semar (lagi-lagi bukan nama sebenarnya, -red.), mbak-mbak yang semasa remajanya pernah nampang di tabloid Haisoccer, kemudian pernah jadi umbrella girl, terus jadi model, presenter di KompasTV, lalu pernah main layar lebar juga bareng Cok Simbara. Filmnya aku lupa apa judulnya, pokoknya pernah diputar di bioskop jugalah. FTV? Mungkin juga iya, tapi aku nggak banyak bertanya, soalnya, kan, akunya sendiri nggak hobi nonton FTV juga. Yang jelas aku mengenalnya ketika dia sudah berjilbab.

Eh iya, sebagai disclaimer, walaupun kita ngomongin soal model dan pemeran layar lebar, kita nggak lagi ngomongin soal Tatjana Saphira, lho.

 

View this post on Instagram

 

A post shared by Joesatch (@masditto) on

Sama sekali enggak!

Balik lagi soal Mbak Kantong Semar. Meski sudah berjilbab, kuperhatikan, yang bersangkutan masih suka mengunggah foto-foto di zaman mudanya ketika dia masih jadi model – dan tentunya belum berjilbab – di media sosialnya. Tentu saja perkara itu cukup cleguk bagiku, apalagi waktu melihat betapa putih dan mulusnya leher serta pundak si Mbak Kantong Semar, pas dia cosplay jadi Jill Valentine, misalnya. Adoooo… Maaaak… Kalau tidak ingat waktu itu aku pas lagi ada meeting penting, aku pasti sudah lari ke kamar mandi buat elus-elus selangkanganku sebrutal mungkin.

Tapi untungnya aku ini pandai mengendalikan hawa nafsuku 😎

Selain pintar mengendalikan hawa nafsu, aku ini orangnya juga sangat suportif bagi sekelilingku. Kalau ada teman yang rada bejat, beliau pastilah bakal kudukung supaya bisa bertindak sebejat mungkin. Jangan separo-separo. Kalau perlu, segala jenis literatur soal social engineering dan social hacking yang kutahu bakal kuwariskan ke dianya. Demikian juga kalau ada rekan yang baik, segala jenis doa-doa yang terkenal maqbul bakal kuijazahkan kepadanya, semua teori soal pengembangan diri dan pertumbuhan spiritual yang kutahu pasti bakal kuperantarakan dari Gusti Allah ke beliaunya. Begitu juga dalam perkara Jill Valentine ini.

“Heh, aurat!” demikian sergahku ke Mbak Kantong Semar kala itu via Wasap.

“Itu, kan, foto jaman dulu, Mas,” jawabnya ngeles. “Sekarang, kan, aku nggak pernah majang fotoku yang sekarang tanpa jilbab,” lanjutnya.

Iya juga, batinku. Nggak semua orang bisa langsung berubah secara ekstrim, harus pelan-pelan, termasuk soal keistiqomahan kayak gini. Orang nggak bisa melepaskan masa lalunya secepat itu. Mungkin masih ada kebutuhan untuk diapresiasi keindahannya oleh orang lain dalam diri Mbak Kantong Semar, apalagi mengingat memang apresiasi-apresiasi macam itulah yang – mungkin – dulu mengelilingi hari-harinya. Jadi ya, kayak katanya Kotak: pelan-pelan saja.

Dalam sebuah obrolan sambil nyeruput kopi campur (baca: coffeemix, Dul!), kami sempat berbicara perihal karir dan pekerjaan yang sesungguhnya kami senangi. Aku jelas bilang kalau aku kepengen balik ke dunia akademis, ngajar dan kembali belajar bersama para mahasiswiku, sementara dia bilang, “Aku itu senengnya pekerjaan yang butuh analisis. Kasih aku data dan data, aku bakal seneng banget kalau harus menganalisa sesuatu.”

Oh iya, sejak meninggalkan dunia jepret-jepretan dan syuting-syutingan, Mbak Kantong Semar kerja jadi sekretaris direktur di sebuah perusahaan nasional. Kerjaan administratif macam itu menurutnya membosankan.

Suatu waktu, Mbak Kantong Semar menghubungiku, dia nanya, “Mas, kalau aku jadi pramugari gimana?”

Ya tentu saja jawaban dari pertanyaan itu adalah nggak gimana-gimana. Tetapi mengingat seperti yang sudah kusebutkan barusan bahwa aku ini orangnya sangat suportif, maka aku pun merespon, “Lho, jilbabnya nanti berarti dilepas, dong?”

“Ya, kan, aku bisa jadi pramugari di Sriwijaya Air. Di situ boleh tetap pakai jilbab, kok,” jawabnya. Oh iya, ini kondisinya kami berdua sama-sama belum pernah dengar gosip kalau Sriwijaya mau diakuisisi 51% sahamnya sama Garuda Indonesia, lho.

“Hooo, Sriwijaya boleh tho? Aku nggak tau,” sahutku mengingat aku memang jarang sekali naik Sriwijaya Air.

“Iya, di situ bisa, kok, Mas.”

Ya sudah, lakukan saja. Demikian tanggapanku pada waktu itu. Lha, lagian aku mesti menanggapi bagaimana, sodara-sodara? Pada dasarnya aku ini, kan, bukan walinya, maka kuanggap saja kondisi obrolan seperti itu bukanlah obrolan yang diniatkan untuk meminta saran, melainkan sebuah permintaan penguatan akan sebuah keputusan.

Selang beberapa hari kemudian, Mbak Kantong Semar menghubungiku lagi. “Doain ya, Mas, hari ini aku tes di Garuda,” pintanya.

Lho, kok, Garuda? Bukannya kapan hari kemarin bilangnya Sriwijaya? Tapi ya sudah juga, apa pula yang bisa kurespon selain, “Hajar sampai habis!” coba?

Minggu berganti minggu, suatu hari kulihat apdetan Instagram Story-nya yang mengumumkan bahwa dia begitu bahagia keterima sebagai keluarga besar Garuda Indonesia. Kuucapkan selamat, meskipun sedikit heran juga, serius? Akhirnya beneran jadi pramugari? Bagian analisis datanya ada di sebelah mana ya? Sungguh aku buta soal jenis profesi yang 1 ini. Malah sampai sekarang aku belum bisa menemukan korelasi antara profesi pilihannya Mbak Kantong Semar dengan passion yang sempat diceritakannya.

Kelanjutannya aku kembali bertanya, “Terus, jadi lepas jilbab, dong?”

“Enggaklah. Tetap kupakai kalau off-duty, kok,” jawabnya. Padahal bukan itu maksud dari pertanyaanku. Wong nyatanya jilbabnya memang dilepas ketika jadi pramugari, kenapa harus menjawab kalau jilbabnya tidak dilepas saat sedang tidak mengangkasa? Kalau memang lepas jilbab kenapa nggak mau dibilang lepas jilbab? :mrgreen:

Cerita selanjutnya bakal terdengar klise, oh, pembaca. Mbak Kantong Semar jadi sering mengapdet foto-fotonya yang tanpa jilbab di media sosialnya. Awalnya masih dengan seragam pramugarinya, lambat laun apdetan fotonya yang tanpa jilbab menunjukkan tempat-tempat wisata yang didatanginya selepas dia mendarat di daerah yang menjadi trayek pesawatnya. Tentu saja beliau di foto-fotonya terlihat sumringah, lepas, dan bebas. Dari kondisi tersebut, maka sebuah cerita khayalan bisa kususun 😈

Pertama, boleh jadi Mbak Kantong Semar masih memiliki kebutuhan untuk diapresiasi oleh sekelilingnya seperti yang kusebutkan sebelumnya, wa bil khusus apresiasi terhadap keindahan fisiknya yang tanpa jilbab. Maka jenis pekerjaan apa di Indonesia ini yang bisa “memaksa” seseorang yang memakai jilbab supaya “ikhlas” melepaskan jilbabnya? Nggak banyak. Salah satunya ya jadi pramugari di Garuda Indonesia, selain jenis kerjaan kayak kerjaannya Mbak Dracula Simia sebelumnya.

Kedua, meskipun awalnya Mbak Kantong Semar bilangnya mau jadi pramugari di Sriwijaya Air, aku tidak pernah mendapatkan cerita apdetan tentang Sriwijaya sendiri dari Mbak Kantong Semar. Yang ada hanyalah kisahnya soal bagaimana dia daftar tes lalu kemudian keterima kerja di Garuda. Sriwijaya? Nggak pernah disinggung sama sekali.

Tapi tentunya tidak baik kalau kita su’udzon bahwa Mbak Kantong Semar tidak pernah sama sekali mendaftar tes di Sriwijaya. Berikutnya bisa kita maklumi pula seandainya Mbak Kantong Semar memang sempat mendaftar juga di Sriwijaya tapi kemudian dia malah memilih Garuda. Analoginya gini: sampeyan kepengen kuliah di Jokja. Jelas, dong, kalau ente ini kepengennya kuliah di Jokja, dan kalau sampeyan bukan orang nyeni yang notabene kepengen masuk ISI, kampus apa yang bakal jadi tujuan ngana di Jokja? Sudah pasti sampeyan bakal ikutan tes buat masuk kuliah di UGM.

Pada saat yang relatif bersamaan – mungkin karena nggak pede bakal bisa keterima di UGM – ente juga ikutan tes masuk di AKY Jokjakarta alias Akademi Kurang Yaqin yang banyak bertebaran di Jokjakarta. Nah, pada saat pengumuman tes, ternyata Anda boleh berbahagia demi mendapati fakta bahwa otak Anda ini ternyata cerdas! Anda keterima di UGM. Kelanjutan logikanya, kira-kira, sampeyan yang keterima di UGM ini mungkin nggak kalau sampai nggak keterima juga di AKY itu tadi?

Nggak mungkin! Ente pasti keterima!

Anak UGM mana coba yang malah nggak keterima ketika ndaftar kuliah di AKY-AKY se-Jokjakarta? 😛

Kemudian dalam kondisi keterima di UGM sekaligus keterima di AKY, kampus mana yang normalnya akan dipilih oleh seorang calon mahasiswa?

Begitu pula antara Garuda dan Sriwijaya. Di luar konteks urusan jilbab, mana yang bakal dipilih oleh seorang calon pramugari ketika dihadapkan pada pilihan antara Anyer dan Jakarta…eh, antara Garuda dan Sriwijaya? Bandingkan kondisi umum soal fasilitas yang ditawarkan kedua maskapai tersebut kepada awak kabinnya, mulai dari bayaran, jaminan karir, sampai pada kemungkinan mengunjungi wilayah-wilayah sesuai dengan trayek maskapainya. Mana yang lebih menggetarkan iman, coba? 🙂

Bahkan tanpa punya niatan untuk melepaskan jilbabnya sejak awal, seorang mbak-mbak calon pramugari berjilbab bisa saja tergoda untuk memilih Garuda ketimbang Sriwijaya, ya apalagi untuk mbak-mbak yang dari awal memang kepengen menjadikan pekerjaan sebagai sebuah alasan untuk meninggalkan “kewajiban”-nya.

Betewe, kata “kewajiban” itu sudah pakai tanda petik, lho, mengingat bisa saja bentuk kewajiban itu adalah suatu kewajiban yang menjadi tuntutan lingkungannya – tidak melulu harus soal iman dan keyakinan – seperti pada kasusnya Mbak Mawar, yang merasa berjilbab bukanlah karena tuntunan agama, melainkan lebih kepada keharusan dari orang tuanya.

Lalu, berarti Mbak Kantong Semar cuma cari-cari alasan, dong, buktinya lama-lama jilbabnya juga dilepas di tempat umum ketika tidak sedang memakai seragam pramugari? Terserah, sih, kalau ada yang mau bilang gitu, karena demi membaca data di atas, anggapan seperti itu sangat boleh jadi akan muncul. Cuma saja aku mau mengajak untuk melihat bahwa ada sudut pandang yang lain lagi, yaitu bisa jadi ini hanya karena perkara…perkara…errr…perkara apa ya? Aduh, aku sukar mencari padanan istilahnya. Aku lupa. Sungguh aku nggak ingat.

Yang aku ingat hanyalah kalau mau dibandingkan dengan mata pelajaran yang paling kusukai waktu esema, fisika, kondisi ini bisa dibilang mirip sama Hukum Inersia-nya Isaac Newton, di mana:

Jika resultan gaya pada suatu benda sama dengan 0, maka benda yang mula-mula diam akan terus diam. Sedangkan, benda yang mula-mula bergerak, akan terus bergerak dengan kecepatan konstan.

Dengan kata lain, orang (yang mana adalah benda hidup) yang bergerak cenderung tetap bergerak dan orang (yang mana lagi adalah tetap benda hidup) yang tak bergerak cenderung tetap tak bergerak.

Dari konteks motivasi seseorang dalam melakukan sesuatu, jika seseorang melakukan suatu tindakan, meskipun awalnya kecil, besar kemungkinannya kalau orang tersebut akan meneruskan tindakannya dalam skala yang lebih besar dan lebih besar lagi. Makanya ada muslihat psikologis, kalau kita kepengen meminta seseorang melakukan hal besar, mintalah beliaunya untuk melakukan hal yang lebih kecil terlebih dahulu.

Situasi yang begini, oh, pembaca yang budiman, bisa saja mengubah niatan Mbak Kantong Semar yang tadinya memang kepengen cuma melepas jilbabnya ketika sedang bekerja. Dalam kondisi macam ini, seandainya pun seseorang merasa risih jika leher dan rambutnya dilihat orang, karena hal tersebut adalah perkara yang frekuentatif, lama-lama hal tersebut bisa menjadi sebuah perkara yang biasa sahaja. Dari yang tadinya kurang berkenan kalau auratnya dikonsumsi oleh mata demi mata yang bukan muhrimnya, lama-lama bisa merasa, ya mau gimana lagi… Di Garuda, standarnya memang harus kelihatan, sih.

Selanjutnya dari yang “ya mau gimana lagi… Di Garuda, standarnya memang harus kelihatan, sih”, lama-lama bisa merasa tidak mengapa juga jika lehernya dilihat orang di tempat umum. Lagian kemarin-kemarin, kan, memang sudah banyak yang lihat. Sama aja. Jadi kenapa di sini harus sok-sok’an ditutup-tutupi? Apa bedanya antara di bandara dan bukan di bandara, wong yang ngeliat sama-sama bukan muhrim saya, kok. Mungkin begitulah kondisinya seiring berjalannya waktu.

Itu kalau kita mau melihat dari sudut pandang lainnya. Adapun khususon perkara Mbak Kantong Semar, kukasih tau…tapi jangan bilang siapa-siapa ya… Mbak Kantong Semar memang punya niat untuk melepas jilbabnya sejak sebelum jadi pramugari, kok. Suatu tempo dia pernah nanya ke aku, “Mas, misalnya kita jalan-jalan ke Singapura, kamu nggak pa-pa, kan, jalan sama aku tapi aku lepas jilbab terus pakai celana pendek di sana?” :mrgreen:

Terus terang kujawab, nggak pa-pa. Lagian masak iya aku bakal menolak rejeki? Lagian juga, jangan kata cuma lepas jilbab atau pakai celana pendek, kalau kebetulan ada syaiton lewat, bukan cuma betis, sebagian paha, lengan, leher, atau rambutnya Mbak Kantong Semar aja yang bakal kulihat. Vaginanya sekalian jugalah ya 😈

Alhamdulillah-nya sampai sekarang aku belum pernah ke Singapura, jadi nggak ada cerita soal vagina 😛

Maka begitulah… Dari sekian cerita soal mbak-mbak di atas dapat kita endus bahwasanya motif seorang wanita melepas jilbabnya bisa bermacam-macam, mulai dari soal merasa nggak pantas untuk berjilbab (Mbak Kembang Sepatu), tidak mengimani bahwa jilbab adalah keharusan agama (Mbak Mawar), takut tidak punya duit (Mbak Dracula Simia), masih butuh pengakuan akan keindahan fisiknya (Mbak Kantong Semar), sampai dengan memang sudah nggak percaya lagi sama Allah (Mbak Eceng Gondok).

Hanya saja, kembali lagi, apa iya melepas jilbab itu adalah sebuah beban?

Perbedaan Pendapat Soal Batasan Aurat

Yang perlu digaris-bawahi di sini adalah aku nggak setuju sama istilah Mbak Diana bahwa, salah 1 kemungkinan seseorang wanita melepaskan jilbabnya adalah karena degradasi iman. Aku tidak setuju dengan istilah “degradasi” karena istilah itu identik dengan turun kelas, seperti halnya Brescia yang terdegradasi ke Serie B dari Serie A Liga Italia sejak protagonista-nya, Roberto Baggio, pensiun main bola. Istilah degradasi ini seolah-seolah menempatkan kalau posisi wanita yang berjilbab berada di atasnya di atasnya wanita yang tidak berjilbab.

Posisi-posisian ini jelas salah-kaprah. Kenapa? Karena, bahkan di soal jilbab pun ada banyak pendapat ulama tentang bagaimana seharusnya jilbab itu dipakai, apakah cukup dengan yang modis-modis sahaja sekadar menutup rambut sampai dada, apakah harus seperti ukhti-ukhti yang bergamis dan berjilbab lebar, atau bercadar sampai hanya menyisakan mata, atau malah mata sekalipun harus ditutupi juga supaya tidak bisa dilihat oleh orang lain?

Itu baru soal jenis jilbabnya. Jauh-jauh masa sebelumnya sudah ada pula perbedaan pendapat soal tujuan dari berjilbab dan batasan aurat wanita. Imam dari 4 madhzab Sunni memiliki pandangan yang berbeda-beda soal ini, belum ulama-ulama pada masa berikutnya, apalagi ulama-ulama kontemporer pada masa sekarang ini. Maka sangat gegabah sekali untuk menggampangkan anggapan degradasi iman ini.

Berikut kukutip berbagai perbedaan pendapat di kalangan ulama soal batasan aurat perempuan dan model jilbab dalam Islam:

  1. Menurut madzhab Maliki, aurat seorang perempuan ketika berada di hadapan lelaki asing adalah seluruh badan kecuali muka dan kedua telapak tangan. Ketika di hadapan mahram adalah seluruh tubuh kecuali muka, leher, kepala, kedua belah tangan dan kedua belah kaki;
  2. Menurut madzhab Hanafi, auratnya wanita ketika berada di hadapan lelaki asing adalah di seluruh anggota tubuh hingga sampai rambutnya yang terurai, kecuali muka, kedua telapak tangan, dan kedua telapak kaki (pergelangan hingga ujung kaki). Ketika di hadapan mahram adalah antara pusar sampai lututnya;
  3. Menurut madzhab Hambali, seluruh bagian tubuh wanita di hadapan pria asing, kecuali muka dan kedua telapak tangan, sepenuhnya adalah aurat. Ketika di hadapan mahram adalah seluruh tubuh kecuali wajah, leher, kepala, kedua tangan dan kaki serta betis;
  4. Menurut madzhab Syafi’i, di hadapan pria asing, aurat wanita adalah seluruh tubuhnya kecuali wajah dan kedua telapak tangan, baik telapak tangan bagian belakang atau bagian dalam yang meliputi ujung jari hingga ke pergelangan tangan. Ketika di hadapan mahram, sama dengan madzhab Hanafi, adalah antara pusar dan lututnya;
  5. Sa’id ibn Jubair, ulama besar yang berasal dari Kufah, memiliki pandangan bahwa, yang boleh terbuka adalah wajah wanita dan kedua telapak tangan;
  6. Abu al-A’la al-Maududi, ulama kenamaan dari Pakistan, berpendapat jika seorang perempuan membuka (sebagian anggota badannya) dengan tujuan menampilkan keindahan dan kecantikannya, maka itu adalah dosa, dan bila itu tampak dengan sendirinya, tanpa kesengajaan untuk menampakkannya, maka tidaklah dia berdosa, dan bila benar-benar ada kebutuhan untuk membukanya maka itupun boleh untuk dibukanya;
  7. Cendekiawan Mesir, Qasim Amin, dalam bukunya yang berjudul “Tahrir al Mar’ah” alias “Pembebasan Perempuan” menulis, tidak ada 1 pun ketetapan agama (nash dari syariat) yang mewajibkan pakaian khusus yang selama ini dikenal dalam masyarakat Islam. Pakaian yang dikenal itu timbul karena adat dan kebiasaan pergaulan masyarakat saja. Doi juga bilang, wanita boleh menampakkan sebagian tubuhnya di depan orang-orang yang bukan mahramnya, tetapi bagian mana yang boleh dibuka itu memang tidak ditentukan di dalam Alqur’an;
  8. Muhammad Syahrur, cendekiawan asal Damaskus, dalam bukunya yang berjudul “Nahwa Ushul Jadidah Li al-Fiqh al-Islam” menyetujui pendapat Dr. Najman Yasin yang bilang bahwa, perintah kepada istri-istri Nabi Muhammad, anak-anak perempuan beliau, dan wanita muslimah agar mengulurkan jilbab (Al-Ahzab [33]: 59) adalah dalam konteks pembedaan. Ini berarti suatu tindakan dalam upaya melakukan pengaturan guna melindungi 1 situasi khusus yang terjadi pada masyarakat Madinah pada saat itu, yaitu agar tidak terjadi percampuran penampilan antara wanita-wanita merdeka dan budak-budak wanita. Pada masa Khalifah Umar ibn Khatab, beliau malah tidak mengizinkan budak-budak wanita berpenampilan dengan mengulurkan jilbabnya layaknya wanita merdeka;
  9. Jamaluddin Muhammad, bekas Sekjen Majelis Tertinggi Islam Mesir, dalam “Al Mar’ah al-Muslimah fi Ashr al-Alaumah” berkata, “Sementara ulama kontemporer mengajak untuk melakukan ijtihad guna memberi kemudahan bagi wanita dan sesuai dengan profesi yang mereka tekuni, atau teriknya panas, atau karena telah terbiasanya terlihat sebagian dari tangan, juga memberi kemudahan dalam menampakkan leher akibat dari sebab di atas. Pendapat ini wajar untuk dipikirkan, khususnya karena telah menjadi kebiasaan yang mantap bahwa sebagian dari leher atau tangan tidak lagi menimbulkan rangsangan pada masa kini di mana banyak wanita telah lepas kendali dengan menampakkan betis, paha, dan punggung mereka.”
  10. Muhammad Sa’id al-Asymawi, mantan Hakim Agung Mesir sekaligus pemikir Islam kontemporer, juga punya pandangannya sendiri. Dia bilang bahwa, ketetapan hukum sementara yang berkaitan pada masa di mana ketika sebuah hal dikehendaki – dalam hal ini adalah fungsi jilbab sebagai pembeda antara wanita merdeka dan wanita yang berstatus hamba sahaya – bukanlah suatu ketetapan hukum yang abadi. Fungsi jilbab pada masa itu, masih menurut doi, adalah sebatas pembeda sehingga wanita-wanita yang berstatus merdeka dan terhormat tidak mendapatkan gangguan dan dengan demikian terpangkas segala kehendak buruk dari lanangan nggrathil terhadap mereka. Maka dengan kata lain, jilbab tidaklah wajib serta adalah wajar jika wanita memperlihatkan leher ke atas, setengah tangan, dan setengah betisnya di masyarakat;
  11. Tapi tentu saja ada pendapat yang mengkritisi pendapat Bapak Mantan Hakim Agung yang Terhormat itu. Salah satunya adalah dari mufti Mesir, Muhammad Sayyid Thanthawi. Yang bersangkutan ngomong kalau ketetapan hukum yang dibilang oleh Pak Hakim Agung tidaklah sekadar perkara illat (suatu sebab yang ada yang menjadi dasar untuk menetapkan hukum)-nya saja, tetapi juga hikmahnya. Dalam hal ini persoalan jilbab yang dikatakan sebagai pembeda oleh Pak Hakim Agung tidaklah serta merta hanya urusan pembeda saja, tetapi lebih ke persoalan hikmahnya supaya wanita mukminah senantiasa memperhatikan kesopanan, ketertutupan, dan rasa malu dalam setiap penampilan mereka;
  12. Muhammad Ibn Ahmad al-Anshari al-Qurthubi, ulama besar yang asal Cordoba bilang, memakai jilbab dengan hanya membuka wajah dan tangan adalah pandangan yang lebih baik dalam rangka kehati-hatian; dan terakhir pada kesempatan kita kali ini
  13. Al-Mukarrom asy-Syaikh Anindito al-Dinpasariy, pengasuh Pondok Pesantren Satchiyah Bustanul Athfal, malah ngomong, apa sahaja boleh, yang penting hepi!

Tentu pendapat terakhir di atas tidak bijak untuk diikuti karena sanadnya tidak jelas, matannya ngawur, dan bahkan perawinya sendiri cenderung suka teler, terutama kalau kebanyakan dapat kerjaan dari kepala bagiannya di kantor. Memang celaka 13!

Yang jelas, pendapat yang berbeda-beda soal batasan aurat ini memang bermacam-macam, tidak terbatas berjumlah 13 macam di atas sahaja. Pun aku tidak sedang dalam rangka mencari-cari mana pendapat yang paling benar. Aku hanya menunjukkan bahwa dalam urusan jilbab ini ada banyak perbedaan pendapat yang sangat mungkin tidak diketahui oleh mereka-mereka yang beranggapan bahwa melepaskan jilbabnya adalah sebuah beban. Seandainya mereka tahu tentang hal ini dan punya argumen kuat soal keputusan mereka untuk tidak berjilbab, boleh jadi apa yang dianggap beban oleh mereka tidaklah semembebani itu 😉

Maka jadilah aku tidak setuju dengan soal degradasi iman. Aku lebih setuju menyebutnya “perubahan iman”. Misalnya dari yang tadinya mengimani bahwa berjilbab itu wajib jadi mengimani kalau berjilbab itu tidak wajib; dari yang tadinya mengimani batasan aurat itu termasuk leher ke atas, tangan, dan betis jadi mengimani bahwa 3 hal barusan tidaklah termasuk aurat; dari yang mengimani kalau jilbab wajib dipakai kapanpun ketika berjumpa dengan lelaki asing berubah jadi mengimani jilbab itu boleh nggak dipakai ketika urusannya berhubungan dengan kerjaan binti duit; dari yang mengimani bahwa jilbab adalah perintah langsung dari Allah jadi mengimani bahwa jilbab bukanlah perintah dari Allah. Begitu saja.

Yang mana yang lebih betul? Aku nggak tau. Semuanya terserah Gusti Allah sahaja. Bukan porsiku untuk menentukan yang mana yang lebih benar, apalagi ketika urusannya berkaitan dengan perut dari masing-masing individu. Memangnya aku bertanggung-jawab dan sanggup ngasih makan ke tiap-tiap individu itu? Nggak, kan?

Lagipula itu, kan, hak-hak tiap wanita untuk menentukan mau pakai jilbab dengan metode yang seperti apa, mau konsisten, separuh-separuh, atau malah nggak usah aja sekalian. Lha wong mau nggak percaya sama Tuhan aja boleh, kok, mau milih kepercayaan apapun juga bebas, ya apa maning sekadar perkara pakai jilbab atau nggak pakai jilbab. Iya tho? Iya tho? Iya tho?

Makanya aku heran, dari mana bebannya? Jangan-jangan ini cuma masalah ketidak-pahaman dalam penyampaian argumen sahaja?

Perbandingannya gini… Sampeyan, hoi, Mbak-mbak muslimah! Kalian kalau shalat subuh pakai qunut nggak? Kalian masih tahlilan – kalau ada kerabat yang meninggal – atau nggak?

Aku nggak pakai qunut, dan aku masih suka ikutan tahlilan (lumayan, pulangnya dapat besekan setelah pas acaranya biasanya juga dapat makan gratis). Kalau ada yang nanya kenapa aku nggak pakai qunut, kujawab, “Lho, saya, kan, kader Muhammadiyah sejak teka kecil.” Lalu kalau ada yang nanya kenapa aku masih suka ikutan tahlilan, aku juga bilang, “Saya manut NU. Dulu dari esde sampai esempe, tiap sore hari, saya ngaji dan guru ngaji saya orang NU.”

Pendeknya semua hal jadi gampang untuk dijawab ketika kita punya argumen kuat yang akan menjadi dasar dari jawaban kita. Perkaranya, ya repot kalau kita nggak punya. Selama kita punya argumen kuat kenapa kita melakukan suatu hal, seharusnya nggak pernah ada masalah, dong, ya. Masalah itu ada ketika kita sendiri ternyata tidak yakin dan tidak punya dasar kuat yang bisa kita jadikan alasan ketika harus menjawab sebuah persoalan. Ngerti ora, Son?

Padanannya, aku nggak takut untuk dicap salah ketika subuhan nggak pakai qunut. Lha, aku punya dasar untuk itu, kok. Aku juga nggak keder dicap pelaku bid’ah ketika aku memilih datang ke tahlilan. Lha, aku ada dalilnya, kok. Lagipula, perkara salah-menyalahkan ini dari jaman dulu juga sudah rame. Inget prahara Syi’ah dan Sunnah, kan? Yang jelas, kalau mau ngikutin pendapatnya orang, kalau kepengen membuat orang lain puas dengan jawaban kita, semuanya nggak bakal ada habisnya. Solusinya, ya kita harus punya pendapat kita sendiri yang kita yakini betul untuk kita ikuti. Makanya, berdasarkan analogi seperti barusan, wajar ada yang mengganggap perkara sepele semacam berjilbab atau tidak berjilbab sebagai sebuah beban. Ya itu tadi, semuanya karena ketidak-mengertian soal sesuatu yang mereka pilih sendiri untuk mereka jalani.

Mbak Diana sendiri, sih, bilang, kalau para mbak yang memutuskan untuk melepaskan jilbabnya sebenarnya sudah paham dengan keputusannya, sudah ngerti sama semua resikonya. Tapi aku nggak yakin kalau mereka benar-benar paham dengan apa yang mereka lakukan. Buktinya apa? Ya buktinya mereka masih merasa menghadapi beban bahkan setelah memutuskan mengikuti keinginannya sendiri, kok. Kalau benar-benar paham, tentunya tidak akan ada kesulitan untuk menjelaskan, kan?

Atau…kalau mau gampang, tiru aja Mbak Eceng Gondok di atas. Bilang aja kalau kita ini sudah nggak lagi percaya sama aturan Allah. Selesai perkara. Namanya saja tidak menganut agama yang sama, masak ada yang berani maksa supaya kita menjalani syariat dari agama yang tidak kita anut? Dan bersama ini pula, kata siapa pindah agama itu berat? Pindah keyakinan itu justru melegakan. Berpindah dari sesuatu yang tidak dipercayainya ke sesuatu yang diimaninya, bukankah itu adalah sebuah kenikmatan binti pencerahan spiritual? 😈

Mekanisme Sosial dan Implikasinya

Tapi aku paham juga kenapa soal seperti ini dianggap beban, terutama kalau kita mau membahasnya dari sudut pandang hubungan sosial antar manusia. Mbak Diana juga menulis paragraf soal itu di artikelnya:

Sesungguhnya saya sendiri tidak tahu alasan pasti saya untuk melepas jilbab. Tapi yang saya tahu, saat ini saya tidak menyesali keputusan itu dan merasa lebih nyaman dengan diri saya. Tak perlu saya rinci lebih jauh karena pasti akan banyak sahutan yang menentang pernyataan saya itu.

Nah, kan…bahkan Mbak Diana sendiri juga tidak tahu pasti alasan kenapa dia melepaskan jilbabnya. Nggak heran juga kalau kemungkinan besar orang-orang lainnya bahkan tidak tahu jika ada dalil-dalil versi sekian ulama yang bisa mendukung keinginannya itu :mrgreen:

Berikutnya, perhatikan kalimat “tak perlu saya rinci lebih jauh karena pasti akan banyak sahutan yang menentang pernyataan saya itu” yang mengesankan adanya tuntutan untuk menyusun sebuah jawaban yang bisa memuaskan publik yang bertanya kenapa seseorang melepaskan jilbabnya. Pertanyaannya, siapa yang menuntut harus seperti itu? Siapa? Siapa, hah? Siapa coba?

Jawabannya: Diri kita sendiri! Kitalah yang terbebani untuk bisa merumuskan sebuah jawaban yang tidak akan ditentang publik. Kitalah yang terbebani oleh ilusi di kepala kita sendiri.

Jika ada publik yang menentang, itu wajar, sewajar pertentangan antara bigot-bigot Sunni dan Syi’i. Dari jaman dulu sampai saat Israfil meniup sangkakalanya pro dan kontra atas sebuah perkara akan selalu ada. Tapi manusia adalah makhluk sosial dan sudah menjadi kodrat kita untuk – secara instingtif – menghindari konflik antara diri kita dan lingkungan kita, makanya kita merasa kalau kita ini harus selalu memuaskan publik, terutama publik di mana kita menjadi bagian dari komunitasnya.

Alasan yang sama pulalah yang menyebabkan 3 dari 5 mbak-mbak pada sampel ceritaku di atas menjawab berputar-putar ketika kusinggung masalah jilbabnya. Kalau bukan ngeles, jawabannya akan ndakik-ndakik. Padahal aku cuma iseng. Aku cuma butuh jawaban yang simpel dan langsung ke poinnya saja, yang kujamin tanpa penghakiman dariku. Hanya saja boleh jadi mereka takut aku kecewa sama jawabannya, maka jadilah mereka mencoba berputar-putar terlebih dahulu sambil lupa bahwa aku selalu bisa mencium motivasi yang tersembunyi dari lawan bicara di hadapanku lewat serangkaian intonasi suara dan gestur tubuhnya. Tentu saja, karena aku ini penggemarnya Parker Pyne :mrgreen:

(Dan beberapa sejawat wanita yang lebih sensitif lainnya, yang juga memutuskan melepaskan jilbabnya, yang tidak kuceritakan di atas, tidak segan-segan memasang stempel di jidatku sebagai orang yang suka ngurusin keimanan orang lain. Padahal apa urusanku soal pilihan keimanan mereka? Aku cuma suka mencermati pola pikir manusia per manusia, kok, yang kadang kalau memang ada yang ganjil maka biasanya akan kuisengin dikit-dikit, sih. Ya kayak yang aku lakukan sejauh ini di postinganku ini lho… 😛 )

Semua perkara tidak ingin mengecewakan publik ini, menurut Efvy Zamidra Zam, seorang praktisi hipnosis, adalah karena pada dasarnya manusia itu memiliki hasrat nan dalam untuk disukai sama orang lain. Itu sebabnya – ke depannya lagi – kita bergaul di komunitas yang sama dengan orang-orang yang kita sukai dan menyukai kita, memakai baju yang sama, atau bahkan memiliki motor matic yang sama. Manusia ingin disukai oleh dan menyukai apa yang mirip dengan dirinya. Kalau sampeyan anak UGM, pasti nongkrongnya kebanyakan sama anak UGM. Bahkan setelah ente pindah ke Jakarta, jika bukan teman kantor, ente cenderungnya tidak akan bergaul sama alumni UI atau ITB. Anda pasti tetap memilih bergaul dengan sesama anak UGM, biasanya karena alasan guyonannya lebih nyambung.

Lebih jauh lagi, Rob Henderson di Psychology Today menjelaskan alasan kenapa manusia punya kecenderungan untuk tampil senada dan seirama dengan lingkungannya. Di masa lalu, manusia jaman batu cenderung berkelompok karena hidup berkelompok lebih membantu mereka untuk bertahan hidup di lingkungannya. Nah, manusia modern rupanya tetap mewarisi perilaku seperti itu. Karena itu, meniru perilaku mayoritas dalam sebuah kelompok pada akhirnya menjadi pilihan yang bijaksana dan adaptif. Bahkan dalam suatu kelompok pemburu dan peramu, dikucilkan oleh kelompoknya bisa bernilai seakan-akan sebuah hukuman mati bagi individu malang terbesut…aeh, tersebut.

Dari situ jelas kelihatan dari mana kita mewarisi insting untuk selalu menyenangkan orang lain. Iya, dari kodrat kita yang kepengen disukai sama orang lain dan dari ketakutan kita dikucilkan di dalam komunitas kita itu tadi. Semprulnya, dalam konteks melepas jilbab, tentu saja kita akan mendapatkan pertanyaan kenapa kita melepas jilbab jika komunitas kita (tadinya) adalah komunitas jilbaber. Ada dorongan dari kita untuk melepaskan jilbab kita, tapi di sisi lain ada warisan gen pada diri kita yang tidak ingin dianggap berbeda oleh kelompok kita. Ini, kan, paradoks. Di 1 sisi kita ingin melakukan sesuatu yang berbeda dari apa yang dilakukan oleh mayoritas di komunitas kita, tapi di sisi lain kita juga ingin tetap dianggap sama dan diakui sebagai bagian dari mereka.

Inilah penyebab Mbak Kantong Semar tidak ingin dianggap melepas jilbab meskipun pada dasarnya dia memang melepas jilbab. Beliau tetap kepengen dianggap oleh lingkungannya sebagai wanita shalihah yang memperhatikan serta melaksanakan aturan untuk menutup aurat. Inilah penyebab Mbak Eceng Gondok mengiyakan dia sedang datang bulan ketika aku mengajaknya shalat meskipun kondisinya waktu itu tidak mengikatnya lagi soal persyaratan datang ataupun tidak datang bulan. Ini pula penyebab Mbak Kembang Sepatu bilang kalau pada masanya nanti dia akan kembali mengenakan penutup auratnya, meskipun parameter “nanti” itu sendiri susah untuk dikuantifikasi kapan akan terjadinya.

Dan boleh jadi juga ini pulalah penyebab Mbak Diana tidak bisa memberikan rincian jawaban yang jitu yang menurutnya akan bisa memuaskan para penanyanya.

Ini paradoks sekaligus utopia. Bagaimana mungkin ketika kita sudah melakukan hal yang berbeda tapi kita tetap ingin dianggap sebagai orang yang sama? Sekalipun tidak ada penilaian berupa kata-kata, hawa perubahan itu tetap ada dari diri kita dan itu – mau ataupun tidak mau – akan tetap dirasakan oleh lingkungan kita. Gen warisan dari jaman purba kemudian mengambil perannya pada sisi sebaliknya: manusia cenderung tidak sesuka itu terhadap apa yang berbeda darinya dan komunitasnya. Maka, berharap (yang tadinya) kelompok kita tetap menganggap kita tetap sebagai orang yang sama? Ah, bullshit-lah itu, John.

Kita berubah, lingkungan pun berubah. Percayalah, sejatinya akan selalu seperti itu. Problemnya, kita tidak menyadari adanya hal-hal seperti ini. Ketidak-sadaran kita inilah yang akhirnya bersitegang dengan kesadaran kita yang menginginkan sesuatunya berjalan sesuai dengan selera kita, yang kelanjutannya adalah ketidak-sinkronan ini ujungnya menjadi beban pada perasaan kita. Seandainya saja kita sadar sejak awal, kita menyiapkan segala amunisinya sesuai dengan fakta soal kondisi medan pertempuran yang bakal kita hadapi, apa yang menjadi beban bagi kita sebelumnya setidaknya akan berkurang beberapa ons. Ingatlah, beban itu ada saat ekspektasi kita – yang berangkat dari ketidak-tahuan kita – ternyata berbeda jauh dengan situasi serta kondisi di lapangan.

Take It On the Other Side… Take It On, Take It On

Selanjutnya kembali ke soal Nikita Mirzani di atas. Sebenarnya jauh di lubuk hatiku aku setuju sama Mbak Mawar bahwa, nilai jilbab pada saat ini tidak lebih dari sekadar fashion belaka. Setidaknya asumsi itu kudapati setelah melihat beberapa fenomena bahwa jilbab tidak lagi dikenakan sesuai spirit hikmahnya sebagaimana yang kusebutkan di atas tadi. Jilbab hanya tampil sebagai pembeda saja, seperti salah seorang sejawat putri yang terdengar keren saat berkata, “Jilbab tidak menjamin aku ini berperilaku baik atau buruk. Jilbab hanya penegasan identitasku sebagai seorang muslimah.”

Kesannya, sih, heroik. Kesannya kayak aku berjilbab bukan karena aku sudah baik, melainkan karena aku menaati perintah Allah (errr…Mbak Kembang Sepatu seharusnya belajar dari sejawat putri ini, sih, hahaha). Tapi kalau mau ditelaah lebih dalam, hal ini seirama dengan shalat yang katanya memiliki hikmah untuk mencegah perbuatan keji dan munkar. Nyatanya masih banyak aja yang kelihatan rajin shalat, berjamaah pula, tapi besoknya ketangkap basah sama KPK atau video mesumnya beredar dari hape ke hape. Mereka shalat tapi tidak menghayati shalatnya sendiri. Mereka membaca Al-Fatihah setelah takbir, tapi bahkan tidak paham tentang apa yang mereka ucapkan. Yang macam demikian itu ya wajar saja ketika akhirnya tidak bisa mendapatkan hikmah dari shalatnya.

Sama halnya dengan jilbab. Ketika pemakaiannya hanya sekadar sebagai pembeda, hanya sebatas syariat, cuma berlaku sebagai kewajiban, pembelaan semacam saya berjilbab tapi belum tentu saya ini orang baik akan selalu ada. Lha, kalau memang tidak menghayati dan berusaha mendapatkan hikmah dari pemakaian jilbab sebagaimana menurut Muhammad Sayyid Thanthawi, bagaimana level spiritual mereka akan meningkat? Al-Fatihah hanya sekadar jadi komat-kamitnya bibir, jilbab hanya sekadar jadi busana pembeda. Mbuuuleg ae mubeng-mubeng ndek kono.

Yang lain lagi, jilbab digunakan sebagai ajang pencitraan, yang ini dengan menunggangi spirit hikmah dari berjilbab. Lihat aja apa yang terjadi pada Neneng Sri Wahyuni, Nunun Nurbaiti, atau Angelina Sondakh. Dari yang tadinya nggak pakai jilbab tahu-tahu pada berlagak menutup aurat begitu jadi pesakitan. Mereka berlindung di balik stigma jilbab untuk mengesankan diri mereka sebagai pribadi yang sesuai dengan hikmah berjilbab, pribadi yang walking the path of heaven. Korupsi? Mangap-mangap aje ye…wanita shalihah seperti eike mana mungkin korupsi? Eike ini sudah jelas korban keadaan. Mungkin begitulah isi pikiran mereka yang memang berotak sangat sederhana itu. Dikiranya publik nggak ada yang sepintar Mbak Mawar? Dikiranya masyarakat nggak bisa ngeliat kalau sejatinya jilbab yang mereka pakai tidak lebih dari soal fashion belaka?

Lebih jauh lagi, perempuan berjilbab ini ternyata juga adalah pasar yang sangat segmented. Sudah jamak diketahui – atau kalau sampeyan memang belum tahu maka berkunjunglah ke 46.166.167.16, dan sampeyan akan mendapati – bahwa jilbaber ternyata memiliki pasarnya sendiri sebagai teman tidur bagi para laki-laki yang hobi kawin tanpa surat nikah. Gawuknya buat sarang manuk! Aku menduga yang kayak ginian ini didorong oleh sensasi untuk merasakan dosa sedosa-dosanya dalam perkara dosa cabang zina. Adrenalin para penghobi ini akan terpacu ketika saling beradu kelamin dengan wanita yang (kelihatan taat) menjalankan syariat agama. Mungkin dalam batinnya, aku ini manusia pemberani lho. Bahkan sama Tuhan aja aku juga berani. Buktinya atribut agama yang katanya perintah Tuhan berani kulecehkan! Dengan melakukan hal yang demikian, boleh jadi mereka jadi lebih percaya diri dalam menghadapi hidup. Percaya diri sebagai laki-laki yang nggak takut terhadap apapun sama sekali. Mungkin lho…

Kesimpulan? Tentu Saja Bukan

Idealnya, sih, cewek berjilbab ya kelakuannya kayak cita-citanya Mbak Kembang Sepatu: bisa berlaku sesuai dengan spirit menutup aurat itu tadi. Tapi ya mau gimana lagi kalau kahanane dewe koyo ngene? Tiap individu, kan, berhak berlaku seperti apa yang mereka mau. Cuma saja, ya jangan mencla-mencle juga ketika ketanggor sama resikonya. Iwan Fals bilang, “‘Hadapi Saja’.”

Maka, akhirul kalam, kembali lagilah kita pada kesimpulan awal bahwasanya pernyataan melepas jilbab adalah sebuah beban di republik ini sepenuhnya tidak benar. Pernyataan macam demikian, buatku, tidak lebih dari pernyataan zonder tanggung-jawab yang mencoba mengalihkan ketidak-siapan dan ketidak-tahuannya soal kenyataan hidup kepada pihak lain. Tapi yang barusan terlalu kasar. Untuk memperhalusnya, kusimpulkan saja kalau pernyataan melepas jilbab adalah sebuah beban di republik ini hanyalah sebuah ilusi yang dibikin-bikin oleh asumsi dan ketakutan kita sendiri. Iya, takut tidak bisa menyenangkan orang lain itu tadi 🙂

Facebook comments:

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

  1. Ealah hyung panjang bener mas. Hm tapi jadi bikin inget pernah ketemu orang dari masa kecil yang dulu satu sekolah dan komentarnya, “Lhoo kok masih buka jilbab.. Mbok dipakai lagi, biar cantik.”

    Lha dulu aku pas masih jilbaban ya sama dia tetep diejek-ejek jelek lah, item lah, buldozer dikarungin lah, gajah bengkak hamil lah… yaudalah ya bodo amat mau gak cantik :)))))))))))

  2. Kepanjangaaaannn!!!!
    Ebuset, biasanya dibelah2 sih mas nyaaaa…
    Nggilani,
    Masak baca tulisan mu udahannya bukannya jd pnter malah capek… Benerin!

  3. aku komen berhubung disuruh dan namaku dibawa2 di sini, tapi ga ada poin yg mau aku tanggapi karena pada dasarnya kita sepemikiran. iya, kan? iya, kan?

    terima kasih atas pujian terselubungnya, btw 😀

  4. Pake kerudung sesuai pada tempatnya aja. Waktu kerja, bisa pake kerudung ya pake. Pas ke kolam renang, ya pake baju renang. Pas ke pantai ya pake bikini. Di rumah, tetep hotpants sama tanktop. Di kasur, yaaaa enaknya gak pake apa-apa. ?

  5. Pingback: Nona dan Nyonya, Mohon Maaf, Jangan Manja | The Satrianto Show: Beraksi Kembali! - Diary of Anindito Baskoro Satrianto

  6. Lha, saya malah belum komen di sini toh. Tapi bener ini salah satu. Atau malah satu2nya postingan di blog terpanjang yg pernah saya baca tanpa henti & tanpa lelah. Weh mudahan tar pas jalan2 ke ibukota bisa ketemu sama njenengan. Mau minta tandatangan.