FPI Sweeping Rumah Makan

Akhirnya, sodara-sodara, kelakuan manja beberapa oknum manusia yang kebetulan seiman sama aku – yang sempat dikhawatirkan sama Mas Nazieb – dalam rangka menjalankan ibadah puasa bulan Ramadhan terjadi juga. Dan judul yang ta’tulis di atas adalah judul artikel yang ta’baca di koran SINDO edisi hari ini. Yeah, manusia-manusia manja yang menamakan dirinya sebagai Front Pembela Islam itu mulai menyambangi warung-warung makan yang nggak menutupkan dirinya selama bulan Ramadhan untuk kemudian meminta (yang biasanya bakal berujung jadi sebuah pemaksaan) mereka supaya tutup.

Jadi tanpa banyak membuang waktu, marilah kita simak hal yang justru memalukan umat itu bersama-sama berikut ini:

YOGYAKARTA (SINDO) – Aksi sweeping yang bertujuan untuk menghormati Bulan Suci Ramadan kembali digelar Front Pembela Islam (FPI). Kemarin, Dewan Pimpinan Daerah (DPD) FPI DIY menggelar sweeping terhadap warung-warung makanan yang masih membuka dagangannya di siang hari.

Memangnya kenapa, Oom? Nggak boleh po jualan makanan pas bulan puasa? Memangnya semua manusia di Jokja itu agamanya Islam? Memangnya semuanya pada puasa? Gimana juga kalo ada mbak-mbak berjilbab yang lagi datang bulan terus kebetulan pas lagi kelaperan?

Koordinator Lapangan (Korlap) Aksi Gustomi menyatakan, aksi yang dilakukan pihaknya ini ditujukan untuk mengajak seluruh masyarakat baik yang beragama Islam maupun yang nonmuslim untuk bersama-sama menghormati keberadaan bulan suci bagi umat Muslim.

Lha, kok aku malah ngerasa kalo ini justru sebuah ajakan buat umat Muslim supaya nggak menghormati ajaran agama orang lain, ya? Oom Gustomi, di Jokja itu masih banyak mahasiswa rantau yang ngekos, yang artinya sehari-hari mengandalkan warung-warung makan buat ngisi perutnya masing-masing karena nggak pada masak sendiri. Kebetulan memang sekarang bulan puasa, jadinya mahasiswa yang Muslim memang pas siang-siang nggak butuh warung makan. Tapi bagemana dengan mahasiswa yang bukan Muslim? Mereka-mereka ini mau dipaksa supaya sama-sama kelaperan juga, gitu? Mereka-mereka ini mau dipaksa untuk menjalankan ajaran agama yang tidak mereka anut dengan ikut-ikutan nggak boleh makan? Iya, gitu, Oom Gustomi? Jadi FPI maunya memaksa mereka itu supaya menjalankan perintah agama Islam yang boleh jadi nggak pernah diajarkan dalam ajaran agama mereka? Oom Gustomi sendiri mau nggak kalo misalnya disuruh masuk ke gereja tiap hari Minggu?

Menurut dia, bentuk-bentuk penghormatan tersebut salah satunya dengan tidak membuka warung makan pada siang hari di mana seluruh umat muslim tengah menjalankan ibadah puasa. “Ya, kami dalam aksi ini mengharapkan agar mereka (pemilik warung) mau menutup warungnya di siang hari. atau paling tidak bukanya mundur jadi pada sore hari saja sekitar pukul 15.00 WIB,” terangnya.

Ah, ah, ah, Oom Gustomi… Oom Gustomi… Lha kalo mereka yang non Muslim itu lapernya pas pagi-pagi atau pas tengah hari terus gimana? Mau disuruh makan batu yang dikasih kecap? Manja sekali sampeyan itu. Takut tergoda untuk membatalkan puasa gara-gara nggak sanggup menahan nafsu pas ngeliat warung makan yang lagi buka, ya? Apanya yang “mengendalikan hawa nafsu” kalo kayak gitu caranya, wong baru dipancing dikit aja langsung jadi kalap? Oom Gustomi, sampeyan kalah sama anak-anak Muslim yang masih esde di Denpasar. Sungguh mati!

Dulu, waktu awal 90-an, aku yang masih kelas 2 di SD Cipta Dharma belajar untuk puasa full-day (nggak main setengah hari-setengah harian lagi). Jumlah murid yang beragama Islam di situ banyaknya nggak lebih dari jumlah jari pada 1 tangan. Tapi seingatku, di kelasku cuma aku sama Ophi (lengkapnya Ophi Novridi) aja yang puasa penuh. Mayoritas murid di esde itu jelas Hindu yang artinya jelas pada nggak puasa pas bulan Ramadhan. Pas bel istirahat aku sama Ophi juga biasa ngeliat teman-teman kami yang berlarian menyerbu kantin, makan dengan lahap, minum dengan tenang. Tapi kami nggak pernah protes sama kepala sekolah kami, minta supaya pengelola kantinnya ditegur, disuruh nutup kantinnya berhubung bulan puasa.

Kenapa kami nggak protes? Simpel, karena kami berdua bukan FPI!

Sampai esema aku masih setia hidup di Denpasar. Dan setiap bulan Ramadhan juga aku nggak pernah protes kalo ngeliat teman-teman sekolahku pada makan di depanku. Warung-warung makan di Denpasar juga tetap pada buka. Tapi toh nggak ada sebiji umat Muslim pun di Denpasar yang berniat protes. Karena apa? Karena mereka bukan FPI yang terkenal cuma jago kandang itu!

Jadi, Oom Gustomi, sampeyan kalah sama anak sekolahan. Mereka nggak merengek-rengek kayak sampeyan yang minta warung-warung ditutup cuma supaya ibadah puasa sampeyan berjalan lancar sesuai dengan standar lancar versi sampeyan sendiri.

Dalam aksi yang dilakukan kemarin, FPI baru sekadar memberikan imbauan kepada para pemilik rumah makan atau warung dengan jalan menempelkan selebaran berisi seruan untuk menutup usaha atau membukanya pada sore hari. “Tadi kita titipkan selebaran ini kepada kasir-kasir atau menempelkannya di dinding beberapa rumah makan yang ada di Sleman, Bantul, dan Kota Yogyakarta,” akunya.

Ya, ya, ya, memang pengakuan yang manja, kan? Manja dan egois lebih tepatnya. Demi tidak adanya godaan dalam ibadah puasanya, mereka tega-teganya menyumbat mata pencaharian manusia lain. Apanya yang “menahan godaan” kalo macam itu? Apa artinya “menahan godaan” kalo ternyata godaannya sendiri malah nggak ada? Setauku, puasa itu “menahan godaan”, bukannya “menyingkirkan godaan”. Maka kalo Oom Gustomi dan gerombolannya khawatir tidak bisa mengendalikan hawa nafsunya, silakan berdoa, minta sama Allah supaya nggak usah dianugerahi nafsu saja. Sana minta supaya yang namanya hawa nafsu itu dicabut dari diri sampeyan-sampeyan semua untuk selanjutnya pensiunlah sampeyan sebagai manusia dan kemudian malih jadi malaikat yang nggak punya nafsu.

Namun demikian Gustomi menegaskan, jika nantinya imbauan yang mereka layangkan ini tetap saja tidak perhatikan oleh pemilik rumah makan atau warung maka pihaknya tidak segan-segan untuk melakukan tindakan tegas terhadap mereka berupa penutupan usaha.

Oho, nggaya banget sampeyan, Oom Gustomi? Berani “tegas” cuma karena kebetulan sampeyan hidup di daerah di mana Islam adalah agama mayoritas penduduknya, kan? Kalo sampeyan hidup di Denpasar kayak masmu yang ngganteng ini, misalnya, apa sampeyan juga berani bertindak “tegas”? Atau kenapa sampeyan tidak rame-rame bertindak “tegas” juga di London, Paris, New York, Roma, Tokyo? Di sana umat Islam-nya jauh lebih perlu dibela, lho. Wong nyari makanan yang halal aja agak repot, kok, apalagi menghindari godaan pas bulan Ramadhan. Sana, berani, nggak, sampeyan?

“Dalam melakukan tindakan tegas tersebut kami sekali lagi menegaskan tidak akan berbuat anarkis. Bahkan nantinya kami akan tetap berkoordinasi dengan pihak aparat kepolisian dalam setiap kegiatan yang kita lakukan,” katanya.

Yeah, tentu saja. FPI, kan, memang nggak pernah anarkis. Standar anarkisnya FPI, kan, beda. Mentungin ibu-ibu dan anak-anak aja kata mereka belum termasuk kategori anarkis, kok :twisted:

Sementara itu menanggapi aksi yang dilakukan anggota FPI tersebut, Wakapolda DIY Kombes Pol Anwarudin mengatakan, pihaknya masih mentolerir tindakan mereka jika dilakukan dalam batas kewajaran.

“Dalam bulan puasa ini kita harus bisa saling menghormati satu dengan yang lainnya. Dalam artian, saling menghormati antara yang puasa dan yang tidak berpuasa. Jadi jika masih tergolong wajar dan dilakukan dengan baik-baik kita masih mentolerir mereka,” jelasnya.

Wajar? Yang kayak dilakukan Oom Gustomi itu wajar, Pak Anwar? Menghimbau untuk menghalang-halangi manusia lain yang kebetulan tidak seiman dengannya yang mau menyambung dan mempertahankan hidupnya (makan, maksudku) itu wajar, Pak Anwar? Menurutku nggak, deh, Pak. Yang kayak gitu itu nggak wajar. Yang kayak gitu itu penyakit.

Namun, sambung Anwar, jika nantinya aksi yang dilakukan sudah melebihi batas, maka pihaknya juga akan melakukan tindakan tegas. “Mereka itu memiliki kapasitas apa melakukan hal itu? Jadi kalau mereka tegas, kami juga akan melakukan tindakan tegas kepada mereka,” tandasnya.

Bravo, Pak Anwar! Salut buat sampeyan. Asal sampeyan jangan kayak polisi India di film-film Bollywood aja, yang datangnya selalu telat pas masalahnya sudah bubar semua. Soale, pada intinya, walaupun FPI mengaku membela umat Islam, aku yang (di katepenya masih tertulis) Islam sama sekali nggak merasa dibela sama mereka. Sebaliknya, FPI malah selalu bikin aku malu dengan menampilkan wajah Islam yang tidak rahmat bagi semesta alam.

  • Share/Bookmark

Baca juga:

  1. Tentang Khilafah
  2. Ramadhan 1430 H
  3. Mild Seven Lights
  4. Mbak Rahma Pernah Makan Bangku Sekolah, Ndak?
  5. Efek Rumah Kopi: Romantisme Ndeso Ilmu Komputer UGM

Ssst! Yang nyasar dari Google ke sini biasanya gara-gara kata kunci:
fpi singkawang - singkawang fpi - fpi singkawang 2010 - fpi - fpi di singkawang - fpi kota singkawang - rumah makan - defenisi rumah makan - fpi singkawang 2010 - pemuda singkawang tantang fpi - fpi yeah - "fpi" dan "singkawang" - fpi dan singkawang - FPI BERAKSI DI SINGKAWANG - FPI malioboro - Habib rizieq ke singkawang - Satpol pp singkawang - fpi menanggapi orang china - sweeping FPI saat puasa - mahasiswa masalah makan bekal kantin -



105 Responses to “FPI Sweeping Rumah Makan”

  • gw bukan fpi, tapi gw lihat lo tukang warung,,, memang tukang warung nya yang serakah. mngnya, lo mati mw bwa warung juga?????? dasar tukang warung serakah n manja. mngnya hasil pncaharian yg 9 bulan dari satu thun di kmanain???? di pake buat ngentot…????? rakus amat sih.. gw aja nak terminal, ga gtu2 amat…hahahhahahahah…

  • Donald75:::
    yang salah? yang nyiptain iblis siapa, masdab?
    analoginya gini: jika ada mata pedang yang mengarah ke leher anda, siapakah yang akan anda salahkan? pedangnya ataukah sang pemegang pedang? saya juga sempat kepikiran tentang double agent, lho, kalo bicara masalah ini :D

    zenzen hissab:::
    mungkin karena sebagai anak terminal sampeyan ndak harus melayani kebutuhan pokoknya mahasiswa perantauan yang tidak puasa yang tetap butuh makan di saat orang lain lagi puasa. kasian juga kan mereka yang nggak wajib puasa kalo harus ikut2an puasa juga? :P

  • me says:

    @zenzen hissab: wah parah kamu gan.
    mungkin kamu nggak kerja 1 taon aja, uang lo nggk habis.
    tapi mereka bukan kyk lo gan.
    mereka bekerja utk cari uang, utk hidupi anak istri.
    kalo FPI nyuruh nutup, emng mau ganti uang ruginya????

    bulan puasa itu untuk menahan godaan.
    ketika ada orang lain yg omng yg gak bener ttg kita, bagaimana kita nahan godaan agar tidak membalas.
    saat liat orang lain makan, bgaimana kita dpt menahan diri dari rasa lapar.
    BUKANNYA NGELARANG ORANG JUALAN MAKANAN.
    Kami menghormati yang puasa dgn tidak menawarkan makan dan minum. kalo ternyata anda gak kuat nahan godaan ya itu kan masalah anda.

  • Aldo says:

    @zenzen hissab: halah, ketawan, lu orang fpi juga kan?? ngaku aja deh… saya orang Nasrani, dan saya juga menjalankan puasa pada bulan2 tertentu dimana orang orang muslim tidak berpuasa, toh kami kuat menjalani puasa kami, begitu juga dengan orang2 non muslim lainnya..

    smangatya yang punya diari.!hehe

  • vidyaputra says:

    ahhhh….
    senangnya membaca blog ini^^ saya sebagai MANTAN perantauan di Jogja yang non-muslim, merasa tegang setiap mau bulan puasa–karena biasanya = susah makan…

Leave a Reply


Berlangganan Wangsit

Masukkan alamat email sampeyan:

Ceriakan hari-hari sampeyan dengan rutin membaca wangsitnya Mas Joe

Si Sumber Wangsit
Anindito Baskoro "Joe" Satrianto. Laki-laki dahsyat (sumpah!). Pengangguran, pengkhayal, pemimpi, pembual, sekaligus pejuang (yang tidak) tangguh. Mantan aktivis Lab Omah TI, (masih jadi) penunggu sekretariat Himakom UGM, pengeceng gadis-gadis cantik berjilbab. Ngganteng, pinter, tapi banyak utang.
Google
Almanak
Shoutout!
Name :
Web URL :
Message :
Wangsit Singkat
Wangsit Bergambar

Switch to our mobile site