Gadget Generation

Tulisan ini dibuat gara-gara draft-nya sudah ngumpul di otak sejak Ramadhan tahun lalu. Dan berhubung sekarang sudah hampir Ramadhan lagi, kayaknya jadi nggak enak juga kalau tulisan ini ndak terbit-terbit.

Tulisan ini dibuat gara-gara si Wib pernah cerita ke aku, tentang junior-juniornya di sanggar teater yang dia pisuh-pisuhi, padahal sebelumnya – sepengakuannya – dia nggak pernah misuh sekasar itu ke junior-juniornya yang lain.

Tulisan ini dibuat gara-gara Septo bilang, sepertinya ada generation gap di antara generasi kami dan generasi di bawah kami seputar urusan gadget. Kata Septo, kami, kalau beli gadget biasanya menyesuaikan gadget yang mau dibeli dengan kebutuhan kami. Sementara yang sekarang, orangnyalah yang menyesuaikan diri dengan fitur yang disediakan sama gadget-nya.

social media

Maka tulisan ini adalah tulisan tentang tingkat ketidak-pedulian gadget generation pada lingkungan sekitarnya.

Jadi ceritanya begini…

Ramadhan tahun lalu rumahku masih diisi oleh 4 homo sapiens: aku, adik kandungku si Gothiet, adik iparku alias suaminya si Gothiet yang berjudul Bayu, dan adik sepupuku episode Dewi.

Seperti kegiatan rutin di pagi-pagi buta setiap Ramadhan, yang namanya gerombolan perantauan model kami pastilah berburu makan sahur di luar rumah. Kebetulan target kami pagi itu adalah Flamboyan, sebuah warung makan ngetop yang biasanya membuat aku berucap ke teman-temanku setiap jam makan siang, “Ke Flamboyan aja. Banyak gadis,” tanpa tahu apa iya benar cewek-cewek yang rutin nangkring di situ itu masih pada gadis atau sudah enggak. Aku cuma khuznudzon saja, beranggapan cewek-cewek itu memang belum pernah digagahi sama pasangannya masing-masing.

Tapi Ramadhan tahun itu ada beda. Gothiet bilang, “Jokja sudah nggak kayak Jokja waktu dulu.”

Dewi nanya, “Kenapa, Mbak?”

“Dulu, tiap Mas Ditto njemput aku di kosku di Tamsis buat keluar, dia pasti ngamuk-ngamuk kalo aku cuma pake celana pendek. Padahal di Denpasar itu biasa, kan, Wi? Kalo nggak percaya, tuh, tanya sama orangnya langsung.”

Aku cuma nyengir. Nyengir tapi kemudian membalas, “Lha, kamu aneh-aneh… Di sini ya nggak model cewek keluar-keluar cuma pake celana pendek. Mau jadi omongan orang?”

“Makanya aku bilang, Jokja sudah nggak kayak Jokja waktu dulu. Liat aja,” kata Gothiet.

Aku mengedarkan pandanganku ke sekelilingku. Ada mobil yang datang kemudian berhenti dan parkir di selatannya Flamboyan. Penduduknya keluar. Sekumpulan cewek dengan pakaian minim dan dandanan lumayan menor. Rasa-rasanya nggak mungkin mereka mampir ke Flamboyan kalo cuma buat sahur.

“Pulang dugem, paling-paling,” kataku.

“Mana ada tempat dugem buka puasa-puasa gini?!” sambar Gothiet.

Kupikir iya juga. Jarang ada tempat dugem buka kalo bulan puasa. Setidaknya itu yang aku tahu dari gosip-gosip anak muda pas awal-awal aku kuliah di Jokja. Tapi ya nggak taulah kalo sekarang. Sejak jarang patah hati aku nggak pernah dugem lagi, soale.

“Mau sahur aja heboh banget, sih?” sungut Gothiet lagi.

Aku nyengir lagi. Tentu saja aku suka pemandangan macam demikian. Cowok mana yang nggak suka, coba? Paling-paling cuma si Aphip yang di otaknya terjadi anomali: semakin rapat si cewek menutup auratnya, semakin beringas si Aphip memandangnya. Nyahahaha… :twisted:

“Liat yang di sampingmu,” suruh Gothiet.

Aku menoleh, pandanganku melewati pundaknya Dewi, dan kemudian mendapati sepasang anak muda, cowok-cewek. Cowoknya berpenampilan biasa saja. Biasa dalam paramater orang yang baru bangun tidur terus kemudian pergi sahur. Tapi pasangannya, berdandan kayak sudah mau mejeng menanti pelanggan di pinggir jalan. Menor habis!

Mereka berpakaian seakan-akan tidak peduli bakal jadi omongan orang…

Cerita yang kedua, tentang si Wib…

Suatu malam di Manut, si Wib cerita sama aku, betapa dia sungguh mangkel sama junior-juniornya dari 1 angkatan.

“Sumpah. Tenan, Joe. Aku jarang misuh. Paling yo mung ngomong, ‘Asu,’ karo ngguya-ngguyu neng kowe. Tapi yang ini bener-bener angkatan ajaib!” katanya.

“Apa pasal?” tanyaku.

“Pasale ngene… Kapan hari itu teaterku ngadain acara pentas rutin, ngundang teater lain buat main bareng. Yang tugas ngurusin teteknya bengek, eh, tetek-bengeknya ya angkatan mereka. Eee…lha…pentas berjalan lancar. Tapi…eh, kowe ngopo saiki ra tau nonton teaterku meneh?”

“Mau bagaimana lagi… Hana wis nikah. Satu-satunya gadis yang bisa kuajak dan hobi nonton teater lha ya cuma dia. Tidak ada Hana ya artinya tidak ada pentas teater yang bisa ditonton sambil berduaan bareng anak-gadisnya orang,” sahutku. “Heh! Teruske ceritamu. Malah ngomongke Hana.”

“Oh iyo. Dadi ngene, habis pentas rampung mereka nggak mbongkar panggung. Mletas dewe-dewe. Minggat sendiri-sendiri. Yang mbongkar panggung akhirnya malah anak-anak teater yang diundang sama tempatku. Bayangke, mentas neng nggonanku, manggung di tempatku, itu artinya status mereka itu lak ya tamu undangan, tho? Masak malah tamune yang ngringkesi panggung?”

“Terus?”

“Dan ternyata mereka malah pada minggat makan! Bukannya mberesin panggung dulu, atau seenggak-enggaknya tamunya duluan yang ditawarin makan, ini malah pada mikirin perutnya sendiri dulu. Akhire aku karo cah-cah sing wis senior lainnya yang mberesin panggung, dibantu sama anak-anak teater tamu itu. Dan kamu tau, Joe…”

“Apa?” sergahku.

“Aku ya otomatis pasti minta maaf ke mereka. Dan mereka malah ngomong, ‘Wis, nyantai wae, Mas.’ Aku lak yo malah tambah ra kepenak karo tamuku, tho?”

“Hooo…”

“Bar rampung acara, cah-cah sing do bangsat-bangsat kae ta’klumpukke. Ta’suruh duduk di bawah habis itu aku bilang, ‘Maaf, selama ini kalian tahu, kan, kalau saya jarang misuh? Tapi, sekali lagi maaf, untuk kali ini saya terpaksa bilang kalau kalian semua itu TAI!’ Sumpah, aku kepekso tenan ngomong koyo ngono. Aku nggak tau lagi apa pisuhan yang lebih rendah dari itu.”

“Terus apa lagi?”

“Terus, dari 20-an anggota angkatan mereka yang ada waktu itu, yang datang latihan berikutnya dan bertahan sampai sekarang cuma 5 orang. Kirik plastik (baca: asu-asunan) tenan, tho?”

Cerita yang ketiga, tentang Septo, nggak usah kuceritakan sekarang. Kuceritakan sambil jalan aja, ya? Iya, deh.

Jadi begitulah… 2 cerita di atas itu kupikir menunjukkan betapa anak-anak jaman sekarang semakin berkembang menjadi individu-individu yang egois, yang mementingkan senengnya sendiri. Aku bilang ke adikku, juga ke Wib, kalau aku nggak tahu apa yang sebenarnya sedang terjadi pada kualitas mental anak-anak jaman sekarang. Tapi yang mungkin bisa disimpulkan secara ngawur adalah hal ini terjadi karena perkembangan teknologi, gadget, dan social media.

Aku bilang ke mereka, “Aku nggak tahu pasti, sih. Tapi kalau mau dibanding-bandingkan, taruhlah pas jaman kita masih esempe, yang namanya ngumpul sama teman itu ya artinya kita benar-benar ngumpul dan ngobrol cekakakan sama mereka. Dari situ kita bisa tahu mereka punya cerita apa, apa emosi yang bisa kita tangkap dari mereka ketika mereka bercerita. Dari situ kita belajar peduli dan empati sama keadaan teman-teman kita, keadaan-keadaan di sekeliling kita. Tapi sekarang?

“Kamu lihat, anak esde aja sudah nenteng hape yang di jaman kita esde masih belum ada. Kita dulu, kalau sama teman-teman kita, murni bermain bersama, beraktifitas jasmani dan rohani bareng-bareng. Sekarang? Mungkin mereka masih pada ngumpul sama teman-teman sepantarannya. Tapi apa kualitas ngumpulnya mereka itu sekualitas kita ngumpul jaman dulu?

“Aku perhatiin di mana-mana, okelah banyak anak-anak muda yang ngumpul. Di cafe-cafe, misalnya. Tapi ya ngumpulnya sebatas ngumpul thok. Nggak jarang aku ngeliat kalo mereka pada sibuk sama gadgetnya masing-masing. Ketawa-ketawa sendiri terus kemudian pamer, ‘Eh, temenku habis ngapdet status lucu, nih,’ sambil nunjukin fitur social media di hapenya ke teman-teman ngumpulnya. Mereka saling seperti itu. Interaksi mereka cuma sebatas itu.”

Dan orang-orang yang mendengarkan pidatoku macam di atas itu biasanya pada manggut-manggut. Tapi entah orang-orang itu paham atau enggak, setuju atau enggak, aku nggak tau :mrgreen:

Aku lanjutin lagi, aku bilang juga, dipikir-pikir apa enaknya, sih, ngumpul bareng-bareng tapi pada sibuk sama dunianya sendiri-sendiri? Dan dari kondisi seperti itulah sifat-sifat egois dan individual mereka terbentuk. Mereka nggak mau tahu dengan apa yang terjadi di sekitar mereka. Mereka cuma peduli sama keasyikan mereka sendiri. Mas Kumbayana aja juga ngeluh, kok, betapa adik-adik kelasnya di Himakom UGM cuma menjadikan ruang sekretariat sebagai ajang “pamer” laptop, nunut nge-charge, nunut browsing, tanpa peduli dengan visi dan misi himpunan mahasiswa yang sesungguhnya.

Aku memang langsung berkesimpulan ngawur tanpa melibatkan survey. Tapi kupikir, sedikit-banyak pendapatku pastilah ada benarnya. Aku, kan, pinter. Aku, kan, sudah sarjana, soalnya :lol: Lha, wong yang aku lihat dari sekitaranku juga seperti itu, kok.

Septo sendiri malah bilang, “Anak muda sekarang diperbudak gadget.”

Aku bertanya, “Maksudnya, Sep?”

“Misalnya aja gini… Coba kamu lihat, orang beli hape biasanya karena apa? Karena fiturnya, kan? Karena fitur yang tersedia di hape itu menjawab kebutuhannya. Kayak kita, misalnya. Kita sering Y!M-an, sering Fesbuk-an, sering make email buat jualan. Maka kita beli hape yang bisa mendukung kegiatan kita itu, yang bisa Y!M-an, yang bisa Fesbuk-an, yang bisa push mail. Bukan kayak abege-abege sekarang yang mikirnya, oh, di hapeku ada Twitter-nya, jadi aku harus bikin akun Twitter sekarang. Atau, oh, di hapeku ada Foursquare-nya, aku harus joinan Foursquare sekarang.

“Mereka menyesuaikan diri dengan hapenya. Nggak kayak kita, hape kitalah menyesuaikan dengan kebutuhan kita. Pola pikirnya kebalik-balik.”

Kali ini giliran aku yang manggut-manggut. Aku setuju sama kuliahnya Septo. Ta’pikir-pikir, memang betul juga itu, anak-anak muda di kota-kota besar sekarang ini hidupnya disetir oleh teknologi. Sehari nggak Twitter-an rasanya hampa. Dikendalikan, bukan mengendalikan. Yang model begituan ya mana bisa diajak naik ke Gunung Semeru, coba? Nggak ada sinyal, bisa-bisa mereka nangis minta pulang 8)

Hasilnya?

Anak-anak muda yang egois! Yang cuma mikirin senengnya sendiri.

Sekedar egois aja, sih, sebenernya nggak terlalu masalah. Tapi kalo kemudian mereka juga menolak untuk menanggung konsekuensi dari keegoisan mereka sendiri, itu baru masalah yang sebenarnya, seperti halnya adik sepupuku yang lain yang menolak disalahkan oleh orangtuanya saat dia salah jadwal ujian. “Teman-temanmu yang lain bisa tau, kok, kamu bisa nggak tau?” tanya simboknya.

Apa jawabannya? Jawabannya adalah: “Habis nggak ada yang ngasih tau aku kalo jadwalnya berubah.”

Sompret!

Untung aja waktu itu nggak ada aku di situ :twisted:

Dan aku juga pernah berdebat dengan seorang cewek pas suasana 17-Agustus-an tahun lalu. Dia bilang, makna kemerdekaan buatnya adalah kalo dia bisa berpakaian sesukanya tanpa harus ribet dengan norma-norma dari orangtua yang dianggapnya kolot bin konservatif.

Aku bilang ke dia, “Fine. Kamu nggak pa-pa kalo kamu mau ngumbar pahamu ke mana-mana. Telanjang sekalian juga boleh. Tapi kamu juga harus bisa nerima konsekuensi kalo ada laki-laki gelap mata yang nyeret kamu ke pojokan, terus di sana kamu digagahi paksa.”

“Ih, itu memang dasar laki-lakinya aja yang cabul.”

“Betul. Laki-lakinya memang cabul. Tapi jangan lupa, kamulah yang seolah-olah menyediakan diri untuk dijadikan pelampiasan nafsu cabulnya. Jangan berkhayal bahwa dunia ini isinya orang-orang baik – biksu yang sudah mencapai pencerahan – semua. Penjahat tetap ada di mana-mana. Intinya, kalo kamu memberikan kesempatan kepada mata laki-laki untuk menikmati pahamu, jangan ngamuk-ngamuk ketika mereka memelototi pahamu. Tidak perlu bersungut-sungut. Kamu boleh aja egois, tapi bersiaplah pula untuk menerima konsekuensi dari keegoisanmu.”

Maka sungguh benarlah Erik Schmidt dengan segala firmannya: “Matikan komputermu. Matikan juga ponselmu. Dan perhatikan manusia di sekelilingmu.”

Facebook comments:

19 Responses to “Gadget Generation”

Leave a Reply

Kitab Wangsit
SUDAH TERBIT!
Kitab wangsit karangan Mas Joe, idola masa kini para remaja putri. Mumpung bakulnya masih buka, mari segera dikonsumsi!

Cocok untuk dibaca sambil ngemil kuaci ataupun sebagai teman semedi di kamar mandi.

Minatkah?

Kalau minat, bolehlah klik di SINI untuk segera membeli. Buruan! Minggu depan harga naik tiada karuan.

Berlangganan Wangsit

Masukkan alamat email sampeyan:

Ceriakan hari-hari sampeyan dengan rutin membaca wangsitnya Mas Joe

Si Sumber Wangsit
Anindito Baskoro "Joe" Satrianto. Laki-laki dahsyat (sumpah!). Pengangguran, pengkhayal, pemimpi, pembual, sekaligus pejuang (yang tidak) tangguh. Mantan aktivis Lab Omah TI, (masih jadi) penunggu sekretariat Himakom UGM, pengeceng gadis-gadis cantik berjilbab. Ngganteng, pinter, tapi banyak utang.

Almanak
Wangsit Bergambar




SEO Powered By SEOPressor