Garuda (yang Bermasalah) di Dadaku

Bicara tentang tim nasional sepakbola Endonesa dalam rangka Piala AFF 2010, tadi malam aku sempat ngobrol sama Gagar, adik sepupuku. Aku bilang ke dia, “Separuh lebih dari jumlah laki-laki di Endonesa pasti pernah bermimpi memakai kostum timnas dengan lambang Garuda di dada kiri.”

Aku nggak tau dari mana datangnya keyakinan itu. Datanya nggak valid, kok. Wong aku belum sempat ngadain survey ke seluruh wilayah Endonesa. Jadi bolehlah kalo mau menyimpulkan bahwa pernyataanku itu kubuat dengan standar diriku sendiri, yang pernah bermimpi memakai seragam itu, dengan nomor punggung 10, dengan ban kapten melingkar di lengan kiri, sambil terus berlari memporak-porandakan barisan pertahanan lawan dari sisi sebelah kanan.

Tapi walaupun bisa jadi Gagar juga sadar kalo pernyataanku itu susah buat dipertanggung-jawabkan kevalidannya, Gagar tetap saja merespon, “Ya!”

Maka dari itu aku sempat terheran-heran ketika kemarin ini seorang David Tobing (memang nama sebenarnya, -red.) mempermasalahkan penggunaan lambang Garuda pada kaos timnas, yang sebenarnya juga sudah dipakai sejak Olimpiade Melbourne tahun 1956 dulu itu. Dan, kupikir, banyak di antara sampeyan-sampeyan ini yang juga sama herannya, kan?

Buat yang kebetulan belum heran karena belum tau apa permasalahannya, baiklah, berhubung aku lagi baik hati karena sebentar lagi mau dapat duit banyak, sini aku kasih tau kalo Bang David itu mempermasalahkan penggunaan lambang Garuda yang dinilainya salah itu gara-gara melanggar UU nomor 24 tahun 2009, dengan sebab-musabab:

“Kaos bola berpotensi dikotori, robek, dan bahkan terkena tendang, terkena sikut, dilempar setelah dipakai. Dan harus diingat lambang negara yang ada di kaos bola pun akan mengalami hal yang sama,” alasan David.

Sebelumnya pula Bang David juga sempat ngomong:

“Hari ini saya akan mendaftarkan gugatan citizen law suit (gugatan warga negara) terhadap PSSI ke Pengadilan Negeri Jakarta Pusat agar pada pertandingan semifinal kostum Timnas tidak memakai Lambang Negara,” kata David yang juga pengacara publik ini pada detikcom, Selasa (13/12/2010).

Menurutnya, kalau dilihat kelaziman internasional, yang dicantumkan di baju tim sepakbola adalah logo sponsor, merek kaos dan logo organisasi sepakbolanya. Selain itu, yang sering dilihat di dada kiri adalah lencana atau atribut yang berbentuk pin berpeniti.

Dan kalau pun sedang mengemban tugas negara, lencana tersebut harus dipakai bila berada di luar negeri. “Nanti Chris John juga bisa pakai lambang Garuda di celananya kalau bertanding dengan petinju lain,” tegas David.

Nah, sudah lumayan jelas, kan, sekarang apa pangkal permasalahannya? Intinya, menurut kesimpulan sepihakku sendiri, Bang David berpendapat kalo penempatan lambang Garuda di kostum timnas itu salah karena berpotensi merendahkan lambang negara :mrgreen:

Oke, maka kalo yang dipermasalahkan adalah pelanggaran undang-undang, sudah barang tentu kalo kita mau bereaksi terhadap pernyataan Bang David itu idealnya kitanya sendiri harus ngerti undang-undang yang dimaksud, kan? Dan itulah yang kulakukan. Aku jadi mbaca-mbaca undang-undang biang perkara tersebut.

Lalu apa yang kutemukan, sodara-sodara?

Yang kutemukan sejauh ini adalah memang ada pasal yang kunilai sifatnya multitafsir, meskipun di penjelasan undang-undangnya sendiri disebut kalo isi pasalnya sudah cukup jelas. Yang pertama adalah Pasal 52 yang bunyinya:

Lambang Negara dapat digunakan:
a. sebagai cap atau kop surat jabatan;
b. sebagai cap dinas untuk kantor;
c. pada kertas bermaterai;
d. pada surat dan lencana gelar pahlawan, tanda jasa, dan tanda kehormatan;
e. sebagai lencana atau atribut pejabat negara, pejabat pemerintah atau warga negara Indonesia yang sedang mengemban tugas negara di luar negeri;
f. dalam penyelenggaraan peristiwa resmi;
g. dalam buku dan majalah yang diterbitkan oleh Pemerintah;
h. dalam buku kumpulan undang-undang; dan/atau
i. di rumah warga negara Indonesia.

Sejauh ini aku memang awam dalam masalah hukum. Tapi boleh, dong, kalo aku tetap berpendapat?

Ta’pikir dari isi Pasal 52 di atas itu aja sebenernya sudah cukup buat menyangkal pendapatnya Bang David. Yang pertama, Garuda boleh digunakan buat tanda kehormatan. Yang kedua, boleh dipake dalam penyelenggaraan peristiwa resmi. Maka kita mulai saja sekarang dari yang kedua duluan.

Piala AFF itu peristiwa resmi, bukan? Menurutku, sih, peristiwa resmi. Jadi di sini Garuda boleh digunakan. Itu aja, atau ada yang nggak setuju kalo Piala AFF itu bukan peristiwa resmi, melainkan pertandingan sepakbola tarkam zonder izin dari PSSI dan pihak keamanan terkait yang berwenang?

Selanjutnya, Garuda boleh digunakan sebagai tanda kehormatan. Nah, menurutku kostum timnas itu juga tanda kehormatan. Iya, tanda kehormatan. At least buatku. Aku bakal nangis terharu kalo aku dipercaya memakai kostum itu. Dan rasa-rasanya – mengacu pada paragraf awal – banyak juga yang sependapat dengan aku, kan?

Lalu, Gelora Bung Karno (GBK) itu juga tanda kehormatan. GBK itu puncak mimpi, buatku. Kalo bisa bertanding di situ sebagai wakil Endonesa, kujamin, aku bakal bermain dengan habis-habisan. Kalo perlu, mati di lapangan seperti Kubo Yoshiharu pun bakal kulakoni (pengumuman: sungguh mati mataku berkaca-kaca waktu nulis 2 kalimat terakhir ini. Kacanya merek Oakley, pulak!). GBK itu seperti Wembley yang dikeramatkan oleh publik sepakbola Inggris, seperti Koshien buat pelaku baseball SMA di Jepang, seperti Stadion Nasional yang diimpikan oleh Trio SMP Kakenishi: Toshihiko Tanaka, Kazuhiro Hiramatsu, dan Kenji Shiraishi.

Juga, perkara Chris John mau make Garuda di celananya, kalo itu adalah tanda kehormatan buat mayoritas insan tinju di Endonesa, seperti halnya kaos timnas buat beta, lalu apa problemnya?

Kalo sudah begini, maka kenapa keberadaan Garuda bisa dinilai salah?

Karena Pasal 57-kah? Yang bunyinya:

Setiap orang dilarang:
a. mencoret, menulisi, menggambari, atau membuat rusak Lambang Negara dengan maksud menodai, menghina, atau merendahkan kehormatan Lambang Negara;
b. menggunakan Lambang Negara yang rusak dan tidak sesuai dengan bentuk, warna, dan perbandingan ukuran;
c. membuat lambang untuk perseorangan, partai politik, perkumpulan, organisasi dan/atau perusahaan yang sama atau menyerupai Lambang Negara; dan
d. menggunakan Lambang Negara untuk keperluan selain yang diatur dalam Undang-Undang ini.

Ya ya ya, aku bisa mengerti sedikit (sedikit aja, lho) kalo pasal ini yang dijadikan pijakan. Potensi kotor karena lumpur dan keringat (atau bahkan darah) itu jelas. Namanya saja sepakbola. Tapi kalo kemudian hal itu dianggap menghina Garuda, oho nanti dulu.

Lumpur dan keringat itu tanda semangat kami, Bang David. Sikutan dan tendangan lawan yang kami terima itu juga bukti keberanian kami mengawal gawang Endonesa. Lagipula, di pasalnya sendiri juga terdapat frase “dengan maksud”, kan? Nah, terlalu su’udzon, Bang David, kalo Anda mengira lumpur yang menempel dan keringat yang membasahi Garuda di dada kiri kami itu sengaja kami lakukan dengan maksud dan tujuan merendahkan lambang negara kami sendiri. Sebaliknya, Bang. Itu semua kami terima dan kami anggap sebagai bukti betapa habis-habisannya kami di lapangan demi nama Endonesa (eh, tapi nggak tau ya apa Boaz Salossa juga sama habis-habisannya kayak kami atau nggak. Yang kami tau, dia keseringan ngasih alasan, sih, kalo disuruh main buat Endonesa).

Lalu pasal yang mana lagi yang bisa dijadikan alasan untuk menyalahkan kostum timnas, Bang David? Poin b dari pasal di atas gara-gara selain Garuda di dada kiri itu juga masih ada Garuda berwarna hitam (hitam muda, lebih tepatnya) di bagian depan kaos yang berukuran besar?

Ah ya, memang… Kupikir yang ini memang nggak sesuai dengan poin b Pasal 57. Soalnya ada pasal lain yang mengatur tentang hal ini. Mari kita sambut Pasal 49:

Lambang Negara menggunakan warna pokok yang terdiri atas:
a. warna merah di bagian kanan atas dan kiri bawah perisai;
b. warna putih di bagian kiri atas dan kanan bawah perisai;
c. warna kuning emas untuk seluruh burung Garuda;
d. warna hitam di tengah-tengah perisai yang berbentuk jantung; dan
e. warna alam untuk seluruh gambar lambang.

Tapi ya mau gimana lagi kalo pasal yang terakhir ini yang dijadikan dasar. Kostum timnas memang salah kalo kayak gini. Bang David sudah berlaku benar kalo memang ini dasar pijakannya. Warna hitam itu tidak sesuai dengan ketentuan warna Garuda yang seharusnya. Diskak-mat kayak gini aku jadi nggak bisa banyak nyonthong lagi. Ini memang salah, meskipun di buku-buku pelajaran sejak jaman esde dulu juga banyak gambar Garuda dengan warna hitam-putih. Juga duit seribuan bergambar Kapitan Pattimura yang kebetulan lagi nongkrong di samping monitorku ini ikut-ikutan nampangin gambar Garuda di pojok kanannya dengan warna gradasi dari merah ke biru.

Ya sudah, apa boleh buat, kami terima salah. Kami siap mematuhi proses hukum yang akan berlangsung, dan kami mohon maaf.


Facebook comments:

13 Comments

  • adhipras |

    Ah, ini pasti usaha pengalihan terhadap isu penurunan Nurdin Halid dari jabatan Ketua Umum PSSI. 😈

    Setuju juga dengan Hendrianto (2010), bahwa jikalau tidak memenuhi warna pokok lambang negara, maka bisa jadi itu bukanlah lambang negara. Iya po ya? πŸ˜€

  • septo |

    yeah, itu mimpi penggila bola Indonesia jon, jelasss
    damn.. i love Indonesia, I Love Jogja #pengalihanIsu (Prasetia, 2010) πŸ˜†

  • yudi |

    sialnya saya malah anomali, dimana jika disuru memilih (walaupun ga mungkin ada yang cukup bodoh untuk nyuruh milih)maka saya akan lebih suka meng-kapteni klub italia dari kota milan dengan seragam merah hitam di sebuah final liga champion eropa dibanding pake baju timnas garuda nomor 17 dan lari2 ga jelas memperebutkan piala yang ga akan pernah diikuti Brazil atau Perancis misalnya karena masalah geografis :mrgreen:

  • paris |

    kok ngga ada yang mengajukan gugatan citizen law suit ke pssi buat merombak kepengurusan ya jon … ?

  • Yang Punya Diary |

    adhipras:::
    saya yakin itu. nurdin halid memang punya banyak cara (bodoh) demi menyelamatkan mukanya. apalagi setelah tragedi spanduk di senayan itu πŸ˜†

    septo:::
    sudah, sep. jangan nangis. mari kita nonton di rumah abonk

    yudi:::
    sama saja. tim yang saya kapteni juga bakal nggak main di piala eropa, meskipun kemungkinan bisa saja main di copa america dengan status sebagai tim undangan macam jepang, meksiko, atau amerika

    paris:::
    mungkin yang mau nggugat sudah pada sadar duluan kalo itu percuma, ris. jangankan perorangan atau kelompok kecil kayak kita, lha wong fifa aja nggak cukup sakti buat ngganyang nurdin halid kok πŸ˜›

  • pelangikecil |

    setuju joe, aku rasa bang david ini sebel krn kalah pamor bintang bola yang lagi nge-tren si bachdim itu..mendingan juga daripada dia bahas masalah ga penting ini -menurut pendapatku- lebih baik bayarin kita nonton semifinal mbesok ya..^^

  • Yang Punya Diary |

    dhee:::
    kalo katanya dia, sih, enggak. cuma kesadaran sebagai warga negara sahaja

    yang punya bramantyo.com:::
    masih ada yang jual tiket buat hari minggu ini, eh?

  • Sugeng |

    Mustinya yg dipermasalahkan jgn lambang garudanya,saya setuju kalau yg dituntut Pengurus PSSInya. Lha wong ngurus tiket aja amburadul apalagi mengurus organisasi sepak bola?! πŸ˜€

  • fie |

    Jadi bolehlah kalo mau menyimpulkan bahwa pernyataanku itu kubuat dengan standar diriku sendiri, yang pernah bermimpi memakai seragam itu, dengan nomor punggung 10..

    Tapi apa daya, mulai dari speed, skill, hingga faktor ganteng pun kalah dari si pemilik no 10 sekarang, Okto Maniani =)

    *komen ditulis ketika menyelesaikan membaca paragraf kedua, lho

So, what do you think?