God of Gambler Edisi Piala Dunia

Jikalau saudara-saudara sebangsa dan setanah air memperhatikan status Fesbuk atau Twitter-ku beberapa hari belakangan ini, niscaya saudara akan mendapati status layaknya seorang penjudi kelas teri. Apa penyebabnya? Penyebabnya tentu sahaja adalah Piala Dunia.

Yeah, namanya saja lagi Piala Dunia, tentunya tidak seru kalo aku nggak ikutan masang jagoan, kan? Cuma masalahnya – sebenarnya dan sesungguhnya – aku sudah nggak punya kesebelasan jagoan lagi sejak Piala Dunia di Prancis tahun 98 kemarin. Itu Piala Dunia terakhirnya Mas Baggio. Otomatis begitu ndak ada Baggio ya ndak ada tim yang ta’dukung lagi. Di Serie A jaman dulu aku ngetop sebagai kutu loncat, kok. Sempat jadi Juventini, terus juga Milanisti, habis itu jadi Bolognaise (eh, salah. Ini, sih, nama jenis spaghetti. Bukan panggilan buat pendukungnya Bologna), terus Interisti, dan terakhir mati-matian menyupport Brescia.

Alhasil begitu Baggio pensiun, akunya jadi nggak mendukung siapa-siapa. Cukup jadi penikmat sepakbola indah saja. Kalopun aku terlihat macam pendukungnya Prancis, itu lebih dikarenakan setelah Piala Dunia 98, pas Piala Eropa 2000, Youri Djorkaeff masih bermain buat timnas Prancis. Dan demi menghormati teman-teman esemaku yang hobi menyama-nyamakan Djorkaeff dengan diriku, aku memutuskan menjagokan Prancis. Kelanjutannya, daripada dibilang nggak punya kepribadian – gonta-ganti tim yang didukung, maksudnya – aku akhirnya keterusan kelihatan mendukung Prancis meskipun pada akhirnya Oom Djorkaeff juga sudah nggak main lagi.

Cuma saja, nonton Piala Dunia tanpa menjagokan salah-satu tim yang sedang bertanding rasanya kurang gregetnya. Tidak bakal ada teriakan kekecewaan ataupun tarian kegembiraan. Adem-ayem aja. Karena itulah akhirnya aku memutuskan buat ikutan taruhan. Setidaknya dari situ aku jadi bisa merasakan emosi seorang supporter lagi: Ada yang (serasa) hilang kalo tim jagoannya kalah, dan ada yang didapatkan kalo jagoannya menang.

Yak! Dan akupun melibatkan diri dalam dunia judi!

Maka kalau saudara-saudara melihat apdet statusku di Fesbuk atau Twitter, jangan heran kalau aku kelihatan macam orang nggak sayang duit. Kehilangan duit mulai dari 50 ribu sampai 400 ribu dalam 1 pertandingan seakan-akan hal yang lumrah, yang membuat banyak pihak yang nggak tau apa-apa sibuk menyesalkan kegiatan baruku ini. Judi itu dosa, soale. Dan kalo kebanyakan dosa nanti bisa masuk neraka.

Ahahaha, dipikirnya aku jadi penjudi beneran, po? 😈

Tentu tidak, John. Aku tidaklah senekad itu. Lebih daripada judi itu haram, dosa, dan dilarang agama, aku justru mikir, duit sebanyak itu – kalo di dunia nyata – daripada nantinya ilang gara-gara kalah bakal lebih mangpa’at kalo kukasih ke mbah-mbah di depan rumah. Makanya aku ikutan judi kelas virtual sahaja.

Aku perkenalkan IndoTipster.com kepada kalian semua, saudara-saudara. Di sini kita bisa berjudi layaknya taruhan bola via Internet lainnya. Bedanya, kalo yang lain harus pake duit betulan, di sini duitnya duit virtual. Begitu kita sign-up di situ kita sudah dikasih modal sebanyak 5 juta yang bisa kita puter dalam taruhan. Taruhannya ada 2 jenis: Masang jagoan atau nebak jumlah gol dalam 1 pertandingan. Nantinya kalo peringkat kita sebagai penjudi bisa nyampe di papan atas, kita bisa dapat hadiah. Buat peringkat 1 periode Piala Dunia ini hadiahnya iPad. Peringkat 2 sama 3-nya dapet hape cap Blackberry.

website tempat taruhan bola

Lha terus kalo ini judi virtual, bandarnya dapat apa, donk? Bandarnya dapat duit darimana buat mbagi-mbagi hadiah itu?

Ooo… Jangan lupa, John. Kita ini hidup di era teknologi informasi. Siapa yang jeli melihat peluang, dia bakal makmur dari situ meskipun ndak punya gelar Sarjana Komputer. Misalnya saja Roy Sukro. Semua orang yang melek IT juga tau kalo Roy Sukro itu cuma pakar IT bohong-bohongan. Cuma gara-gara dia jago ngibulin orang-orang yang lebih goblok dari dia, jadilah dia dapat cap sebagai pakar IT meskipun nggak pernah punya ijazah yang mendukung dan sertifikasi yang palit (baca: valid, bego!). Cuma modal ngobral conthong aja udah bisa kaya, bagaimana kalo yang punya modal sedikit skill teknis beneran di bidang IT?

Begitulah yang dilakukan sama IndoTipster. Tentu saja situs tersebut mengandalkan jumlah trefik pengunjung yang bakal menarik minat pemasang iklan. Dari duit yang dikeluarkan pemasang iklan di tempatnya itulah IndoTipster bisa bagi-bagi hadiah.

Maka tanpa banyak cingcong macam Roy Sukro, buat yang kepengen bisa bikin status di jejaring sosial macam penjudi kelas teri, silakan klik sahaja gambar di bawah ini, dan bikin orang-orang yang kenal Anda tapi ndak tau apa-apa sibuk menyesali dan mengutuki hobi baru Anda tersebut itu, John :mrgreen:

judi bola


Facebook comments:

12 Comments

  • aphip_uhuy |

    pertamax…

    aku yo kalah akeh jon..
    kita memang ndak mbakat judi…
    πŸ™

  • Parus |

    Judi itu dosa, Jon..

    Biar ndak kebanyakan dosa, kalo pas menang traktirlah makan2.. πŸ˜€

  • nd |

    Saya akan banyak berdoa, semoga feelingmu selalu tepat dan segera mendapat master of judiiiii :))

  • yudi |

    untunglah saya blum pernah kalah judi selama piala dunia ini, dikarenakan saya ga pernah masang juga hehe..

  • Yang Punya Diary |

    nd:::
    ndak berdoa juga buat perubahan dan ketetapan hatiku? jadi kamu nggak perlu 6 digit pin lagi 😈

    nyept:::
    pancen gembus. hari ini yang saya pasang modar semua πŸ™

    yudi:::
    ah, situ ndak seru. ndak berani mempertaruhkan harta untuk tim kesayangan πŸ˜›

    Payjo:::
    mari terjebak dalam lingkaran judi, ohohoho

  • aladin |

    tebak juara wae oleh ora kang? Lgsung tunjeppoin, kene ipad’nya kasih ke saya, brazil pasti juara! Wakawaka!

So, what do you think?