Gue dan Lo

Sejak jaman kapan tahun, entah kenapa aku mulai sadar kalo aku ini rasa-rasanya menganut paham chauvinisme yang nyaris ekstrim. Misalnya aja, aku suka sengit kalo ndenger orang yang bukan asli Jakarta, sedang nggak berada di Jakarta, nggak pernah hidup lumayan lama di Jakarta, menggunakan kata “gue” dan “lo” sebagai pengganti “aku” dan “kamu” dalam percakapan sehari-harinya.

Rasanya aneh aja kalo misalnya aku harus ndengerin seorang Jawa yang lidahnya ya masih medhok Jawa banget ngomong pake “gue” dan “lo” ketimbang “aku” karo, aeh, maksudku “aku” dan “kowe” bahkan ketika sedang bercakap-cakap dengan sesama orang Jawa. Itu bakal sama anehnya kayak ketika aku nerima telepon dari seorang temen esema di Denpasar yang baru berapa bulan kuliah di Bandung lalu tiba-tiba menyapa aku dengan sebutan “lo”. Kalo sudah kayak gitu aku biasanya bakal ngomong, “Kleng! Biasaang iban ci mepete, Yan,” yang artinya kurang-lebih adalah “Kleng (yang ini – mohon maaf – tidak bisa kuartikan karena kesaruan maknanya dalam Bahasa Endonesa)! Yang biasa aja kalo kamu ngomong, Yan.”

Memang iya. 3 tahun kami temenan dan terbiasa menggunakan kata “cang” dan “ci” masing-masing untuk kata ganti orang pertama dan kedua tunggal dalam Bahasa Bali dan tau-tau dia menggunakan sebutan yang nggak biasa di kupingku, ya jelas aja aku jadi agak nggak nyaman. Rasanya ada yang berubah dari dia, rasanya seperti ngobrol dengan orang yang berbeda, yang – lagi-lagi – rasanya bikin aku jadi nggak los ngobrol.

Yeah, aku memang sengit kalo lagi ketemu sama kondisi kayak gitu. Rasanya jadi kepengen nyindir, memangnya kenapa kalo situ make bahasa daerah sendiri? Ada yang kurang? Apa kesannya ndeso? Apa situ takut dicap nggak gaul kalo pake bahasa daerahnya situ sendiri? Situ malah jadi keliatan gaul-wannabe kalo make bahasa dari daerah lain yang sedangkan situ sendiri belum fasih menggunakan dialeknya. Situ malah macam anak muda kampungan yang lagi maksa kepengen punya taste ala ibukota saat ilat sampeyan sendiri masih medhok.

Memang, sih, berjenis-jenis hiburan yang ada sekarang ini lagi rame-ramenya dikuasai dengan standar ibukota kita tercinta. Mulai dari shit-netron, film bioskop, novel, teenlit, chicklit, dan sebangsanya pada mengambil setting kehidupan di ibukota Endonesa ini. Jadinya nggak heranlah kalo gaya bahasa yang digunakan pada karya-karya seperti itu menyesuaikan dengan setting tempatnya. Itu nggak salah! Malah memang seharusnya ya kayak gitu. Justru jadi janggal kalo ada cerita tentang sebuah perkampungan Betawi totok yang penduduknya berlogat Timorleste semua, kan?

Tapi efek kampretnya dari keseragaman setting hiburan itu, kupikir, mulai meracuni abege-abege bukan ibukota yang gaul-wannabe itu. Mereka serasa belum keren kalo belum ngomong dengan bahasa penduduk ibukota. Bahasa simbah kakung dan simbah putrinya mulai terabaikan. Mereka seakan nggak bangga dengan identitas daerahnya sendiri yang justru memberikan diferensiasi, warna, dan keunikan tersendiri pada identitas pribadinya. Lucunya, saking pengennya dicap gaul ala ibukota, mereka nggak menyadari pantas-tidaknya mereka menggunakan bahasa yang dipikirnya bakal meningkatkan harkat, derajat, dan martabatnya itu. Lidah nggak fasih tapi maksa. Jadilah mereka kayak serombongan pemain dagelan.

Itu yang krisis identitasnya akut. Yang stadiumnya lebih rendah juga ada. Ada yang sehari-hari masih menggunakan bahasa khas daerahnya untuk bercakap-cakap, tapi ketika menerjemahkannya ke bahasa tulis, mereka jadi ikut-ikutan lo-gue-lo-gue, misalnya waktu lagi SMS-an atau ngisi status Fesbuk atau juga ngeblog. Adik sepupuku yang masih abege adalah contoh korbannya. Ketika status Fesbuk-nya bertuliskan “otak gue pecah” maka segera saja kukomentari, “Anak Sukoharjo nggak usah sok-sokan pake gue-gue.”

Gaya bicara ibukota ta’pikir memang akhirnya jadi tren dan standar sebagai imbas dari keseragaman setting hiburan yang dikonsumsi sama konsumen-konsumennya yang lagi krisis identitas. Saking dianggapnya sebagai standar, beberapa karya hiburan yang lahir belakangan akhirnya jadi ikut-ikutan latah. Biasanya juga karya model beginian ini dihasilkan oleh mereka-mereka yang gaul-wannabe itu tadi. Aku sering mbaca beberapa cerpen bikinan sastrawan lokal amatir yang mengambil setting tempat di daerahnya masing-masing tapi menggunakan bahasa dialog macam ibukota. Misalnya aja, rasanya lucu ketika mendapati cerita dengan setting tempat di Jokja tetapi para pelakonnya menggunakan bahasa dengan standar ibukota Endonesa. Jokja-nya jadi nggak kerasa, soale – yang kutau – anak-anak muda lokal di sini – setidaknya dalam percakapan langsung sehari-hari – masih menggunakan bahasa daerahnya sendiri. Dan tentu saja karya cerita yang tidak membumi bakal sangat sulit untuk kunikmati.

Parahnya, beberapa tempo yang sudah lewat sebuah sinema elektronik karyanya Karno’s Film yang berjudul “Gita Cinta dari SMA” sebagai remake dari film lawas yang berjudul sama, yang mengambil setting di Jokja, yang syutingnya dilakukan di SMA Negeri 3 Padmanaba Jokja, almamaternya si Bram Gendut, ternyata pelakon-pelakonnya juga menggunakan lo-gue-lo-gue-an dalam dialognya. Kenapa? Supaya nggak keliatan ndeso? Supaya citra sinetronnya jadi gaul bin keren? Waduh, Oom, bukannya keren, tapi yang ada malah ceritanya jadi macam gaul-wannabe itu tadi. Kalo cuma kepengen hasil karyanya bisa dinikmati sama orang-orang ibukota, nggak perlulah sampai mengorbankan kearifan lokal yang ada.

Maka jangan salahkan aku kalo aku menganggap manusia-manusia yang ber-lo-gue-lo-gue-an demi status gaul dan keren dengan mengorbankan identitas lokalnya adalah manusia yang murahan. Kecuali dalam perkara di mana bumi dipijak di situ langit dijunjung, penggunaan lo-gue-lo-gue-an dengan logat Jawa yang masih medhok malah menunjukkan betapa kalian adalah korban mode picisan yang tidak punya identitas, keunikan, dan kelas tersendiri. Mohon maaf.

Facebook comments:

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

  1. Padahal lu-gua itu aslinya dari Dialek Hokkien. 😆

    Kleng (yang ini – mohon maaf – tidak bisa kuartikan karena kesaruan maknanya dalam Bahasa Endonesa)!

    Gua terjemahin dah.
    Titit!

  2. fyi, kawan-kawan saia juga nyadarin ini, dan mereka malah njadiin ‘kelatahan’ para pemuda logue-minded didaerah saia yang sok keren itu, jadi sebuah lelucon, dan kalo ketemu mereka, biasanya kita nyaut begini :
    “ah elo!!! gimana sih loe! loe gue samperin, loe malah lunga?!!” – diucapkan dengan logat medok banyumasan 😛
    (samperin : jemput, lunga : pergi)
    asli ngakak…….

  3. aku suka gemes juga e, apalagi kalo yang ngomong gue elo huruf G nya masi medok! 👿

    @lambrtz : t*t*t lanang apa wadon? *lha kok malah dibahas*

  4. lambrtz:::
    eh, iya po? aku baru tau kalo itu bukan dialek asli betawi. kepalatitit kamu, djo. naskleng! :mrgreen:

    numpang lewat:::
    hahaha, saya juga sering dan terkakak-kakak kalo liat srimulat lagi kayak gitu. kesannya maksa banget

    christin:::
    wadon ana titite po?
    *malah melu mbahas*
    😈

    riza_kasela:::
    lha itu, sudah diterjemahin sama lambrtz

    Parus:::
    naskleng lo, pras. gua mesti kepriwe maning, jal?

    Joddie:::
    lho, saya ndak lagi marah2 kok. yang saya tulis itu – sungguh mati – cerita humor 😀

  5. “mas piye kabare” ucapku kepada Giyono tukang burjo sahabatku yang memang asli jawa.

    “jowomu kurang lemes kul” jawabnya menanggapi bahasa jawaku yang rada kaku.

    *tiba-tiba klutuk datang

    “piye2 rai mu tuk, tambah elek rak” ucapku berbasa basi

    “NAS KLENG, BIASAANG GEN CI MEPETE KUL” sahut klutuk sewot

    nah loh, do’i malah marah. sebel kali yah ngedenger GW pake bahasa jawa, secara GW kan biasanya ngomong JAKARTE gitchu deeh…. :mrgreen:

    *sayup2 terdengar suara : “SIEP IBAN CI KUL” 😆

  6. Halo…wah blognya keren banget ya..
    ada gambar saskia adya Meccha lagi
    ha..ha

    Saya dulu juga suka pake bahasa gue dan lo
    sekarang kadang juga pake sih
    cuman jarang, membiasakan diri dengan sebutan aku aja

    Oh ya, aku jadi First Reader di GasMed atas rekomendasi temen
    tapi kemaren GasMed mengumumkan di situsnya kalo emang lagi butuh First Reader dan Proof Reader
    coba aja daftar ke Redaksi Gagas

  7. sengit bgt ama orang2 yg krisis identitas semacam itu…..
    Saking sengit-nya, setiap ada tmn yg ngajak ngomong saia pke bhs ‘Lo-Gue’, lansung saia skak gini, ‘ klo ngomong ama aku ga usah pke acara ‘Lo-Gue’. Dan itu saia terapkan jg klo ada yg ngajak ngobrol lewat dunia maia (ceting,Ym,Gtalk dll). Biar saja saia dibilang kampungan atau ga gaul…..wong yang ngomong pke lu-gue jg blm tntu gaul toh?????

    prinsip saia, gaul sih gaul tp adat tetep aja adat….

    maap kang, klo saia terlalu bnyak ngomong eh nulis…:D

    salam kenal dr Surabaia…

  8. Saya lebih suka menggunakan bahasa jawa, dari pada bahasa indonesia, apalagi yang lo gua. Jujur, bukan apa2, tapi saya merasa, banyak hal yang tidak bisa diungkapkan dengan bahasa indonesia.

    BTW, kalau masuk ke blog ini koq susah ya? Akhirnya jadi males kalau ke sini. sory kalau nggak berkenan 🙂

  9. he’eh mas! setuju saya dengan pandanganmu! hwehehe.. cen gaul-wannabe ki wis njamur neng ndi2 😀
    untung gua gak termasuk di dalamnya :))

  10. nek aku pas nonton film GIE, setting film jaman dulu tapi koq pake lue-gue2x.. ternyata betul.. loe-gue itu dari suku cina malahan…

  11. Itu hukum rimba Kakang, selama itu di tipi-tipi, sinetron, inpotenmen, pesbuk pada kebanyakan pakai Lu Gue (dan sayangnya ini yang sering diikuti oleh anak-anak jaman sekarang) maka nantinya budaya itulah yang akan sering dipakai di pergaulan.

    Coba kalau anak-anak jaman sekarang tontonannya wayang, kethoprak; dengerinnya lagu-lagu campursari-an; bacanya Joko Lodhang, pasti yang akan ngetrend adalah Kawulo dan Kisanak.

  12. walah kalo saya tergantung ngomong ama siapa dulu. kalo ama orang jawa, ya pake bahasa jawa (walaupun di jakarta). kalo ama anak2 jakarta, biasanya mereka yg ‘memaksa’ saya pake “lo gue”.
    ~udah setahun di jakarta sih

  13. asli, masdab… saya sepokat lah sama sampeyan. e tapi berhubung saya ini nyari duitnya di ibukota ya jadinya sering denger kek gitu. saya sebel setengah mampus sama adik tingkat kampus, asli jogja pula, baru bentar diterima kerja di kantor saya, ngomongnya langsung pake LU-GUA. kamp**t! sok gaul banget mah… hwakaka… padahal kebanyakan orang di kantor saya orang jawa semua… kaga nyambung ntu anak! hwakaka… pan kite orang jogja, lah ngapain die pake kata lu gua?! XD

  14. Kembalikan saja pada orang yang bersangkutan 😀

    *bertanya-tanya akankah Joe di masa depan turut menggunakan lo-gue

  15. Gue setuju gan!!
    ahahahahaha…
    *meskipun pas piknik ke jakarta, gue dan teman2 sok2an pake lo dan gue yg medoknya sangat terasa :D*

  16. gw setuju joe
    hahaha secara gw lahir di jakarta,
    gw juga gak suka seh liat shit-netron tuh pake loe-gw loe-gw an
    terlalu mendominasi

    yahh saran gw seh, dimana bumi dipijak di situ langit dijunjung

    klo sama kawan lama sih emang enaknya pake bhs asli

    waktu gw d jogja, yaa gw ngomong sama ade, agung and tmn2 anak jkt tetep pake loe-gw

    tapi waktu ngomong sama tmn yg org jawa, gw berusaha ngomong jawa, meskipun msh bletat bletot :p

  17. Hehehe…
    Sampai sekarang saya masih sangat segan untuk memakai kata gue dan elo.

    Menurut saya, kadang kita sering terpengaruh sama budaya sekitar, sehingga akhirnya bahasa kita sendiri juga berubah.

    Tanpa sadar bahasa Indonesia saya berubah ketika di Jakarta, minus “secara” yang aneh, gue, elo dan die. Tapi, bahasa Jawa tetap seperti sebelum ke Jakarta. Siapa yang salah coba?

  18. wong kantorku lo-gue kabeh.. aku tok sing tetep medok jowo.. lha yaopo.. mbanyol lek aku melok lo-gue.. malah kepingkel dewe.. wekekekekekekek…