Hei, Nan

Suatu Jumat sore, awal-awal semester pertama di Gadjah Mada, aku datang ke lobi Fakultas MIPA Utara dengan menenteng ransel berisi cawet, kutang, kaos, dan celana, juga seperangkat alat mandi yang sudah dibayar tunai. Sore itu rencananya aku bakal naik ke Kaliurang buat ikutan Computer Science Day 2002, acara malam keakrabannya anak-anak komputer Gadjah Mada angkatan baru. Dan di situlah aku kenal Hanan, orang yang bertahun-tahun berikutnya – mungkin – menganggapku sebagai teman baiknya.

Kelompok asli makrabku waktu itu pancen demit alas! Entah kenapa, mungkin gara-gara akhirnya ketahuan duluan kalau acara makrab ini tiadalah wajib, tidak menentukan dapat-tidaknya ijazah dengan gelar S.Kom., beberapa bocah – kalo tidak mau kubilang lebih dari separonya – akhirnya memberanikan diri untuk tidak ikutan makrab. Ini tentu menyusahkan buat Mas Abhe, pemandu kami waktu itu. Segala jenis agenda kelompok yang bakal digarap jadi terancam bubar karena terlalu sedikitnya anggota kelompok kami. Dan untungnya yang model demit Alas Roban itu tadi bukan cuma kelompokku sahaja. Kelompok sebelah juga senasib sepenanggungan. Maka atas prakarsa kakak-kakak kelas kami, kelompokku dan kelompok sebelah akhirnya digabung. Dan di situlah aku kenal Hanan, putra Gombong yang bertahun-tahun berikutnya – mungkin – menganggapku sebagai teman baiknya.

Hanan itu ketua kelompok sebelah, yang setelah kelompok kami digabung, dengan tanpa pertumpahan darah langsung mengikhlaskan jabatan ketua kelompok kami kepada Sigit, ketua kelompokku sebelumnya. Orang yang menyenangkan, batinku. Hanan orangnya murah senyum. Beberapa orang kemudian menyebutnya sebagai makhluk yang selalu tersenyum. Senyumnya memang senyum jenaka. Mungkin memang begitu default wajahnya. Nyaris mirip denganku perkara default wajah yang selalu tersenyum. Bedanya, senyumku senyum intimidatif. Jenis senyum yang kata beberapa orang kemudian juga, siap menelanjangi kebodohan orang-orang di depanku.

Kupikir kami berdua memang cocok. Mungkin gara-gara kami berdua – sebut saja mu’tazilah. Kami orang-orang yang jauh lebih mengandalkan logika ketimbang rasa ketika berpikir dan memutuskan sesuatu, termasuk selama acara makrab berlangsung. Waktu itu, ketika penutupan acara, kelompok kami diumumkan sebagai kelompok terbaik di acara makrab tersebut. Slempang dan mahkota dari karton dan kertas kilap simbol kemenangan kami 2 tahun kemudian masih kusimpan di lemari kamar kosku sampai dengan aku pindahan.

Senin berikutnya kuliah mulai berjalan. Hanan dan aku pada akhirnya memang tidak sekelas, dan dia nggak puas. Aku menganggap diriku sebagai orang yang sejajar dengan Hercule Poirot, sementara Hanan menganggap kalo dia lebih pintar dari orang yang menganggap dirinya sejajar dengan Poirot. Dia selalu menantangku buat mengambil kelas mata kuliah pilihan yang sama, diadu, siapa nanti yang nilainya lebih tinggi. Alhamdulillah nilainya dia memang selalu lebih tinggi dari aku. Walhasil saat dia ngambil mata kuliah pilihan untuk semester lanjut, aku masih harus berkutat mengulang kuliah dengan jejadian-jejadian angkatan 2004 dan 2005. Kami tidak pernah sekelas. Tapi tanpa perlu sekelas pun, kuakui, IQ-nya memang 4 poin di atasku.

Suatu waktu di pertengahan kuliah, aku pindah kos dari Krangkungan ke kontrakan di Pogung Rejo. Otomatis kontrakanku sama kosnya Hanan cuma beda gang. Malam-malam dia suka datang menyambangiku yang sedang rokok’an dengan masih sarungan. Dia nggak ngerokok. Jadi paling-paling kubelikan kopi sachetan di warung sebelah. Biasanya dia main ke tempatku kalau lagi pengen cerita banyak hal. Ah ya, dia suka sekali bercerita. Bahkan kalo dia sudah cerita, predikat banyak-mulutku jadi terbelejeti paksa. Aku lebih banyak memasang kupingku, mendengarkan ceritanya. Maka kalau ada orang yang bilang bahwa Hanan selalu tersenyum, nggak pernah marah, nggak pernah sedih, aku menolaknya. Hanan pernah marah, Hanan juga bisa sedih. Dan emosi itu lebih nikmat ditemani bergelas-gelas kopi sachetan. Aku menyimpan cerita-ceritanya, dan dia menyimpan rahasiaku; sisi kelam kami berdua, yeah, kecuali – tentu saja – aib yang enak diumbar di depan teman-teman yang lain sebagai bahan ejek-ejekan 😈

Tentu saja dia lulus kuliah jauh lebih dulu dibanding aku. Waktu dia sudah kerja di perusahaan minyak multinasional di Riau sana, aku masih genjrang-genjreng dolanan gitar di kampus sambil nggodain akhwat-akhwat cantik yang lalu-lalang di lobi MIPA Selatan. Tapi kami masih tetap kontak, atau lebih tepatnya dia yang lebih sering ngontak duluan. Pernah, waktu aku baru aja memarkirkan Aston Martin-ku di parkiran kampus, tiba-tiba hape monokromku bunyi. Hanan nelepon. Dia bilang, semalam susah sekali menghubungiku. Dia sedang ditugaskan ke luar kota dan sempat melihat buku ensiklopedia keris dan menawariku, mau dibeliin? Enak juga, sih. Tapi dasar orang Jawa, tawaran itu – gobloknya malah – kutolak dengan pertimbangan ewuh-pakewuh. Yeah, ternyata dia masih ingat dengan kesenanganku tentang budaya kejawen.

Kapan bulan kemarin Hanan tau-tau juga nelepon aku. Ada kasus yang harus ditangani Poirot dari Timur. Kasusnya apa, tentu saja harus kurahasiakan. Aku selalu menyimpan rahasia klien-klienku, soalnya :mrgreen: Yang jelas bahasanya menantangku seperti biasanya. “Aku mau lihat kemampuan deduksimu,” katanya. Yang jelas juga, beberapa saat setelahnya, waktu dia ditugaskan ke ibukota negara, aku dipanggil ke hotelnya. Kutawari makan di luar saja sambil cerita.

Secara hukum adat, harusnya dia adalah tamu dan aku adalah tuan rumahnya. Tapi celaka! Waktu makan di Holycow, pas selesai makan dan aku pamit sebentar buat beli rokok, balik-balik tagihan makan sudah dilunasinya. Dasar mental bos perusahaan minyak, batinku!

Selama perjalanan, baik pas berangkatnya, juga pas pulang, seperti biasa, aku memosisikan diriku sebagai Dick Grayson dan dia Bruce Wayne-nya. Dia yang lebih banyak cerita, termasuk minta tolong, kalau ada adik-adik kelas kami di Gadjah Mada yang kepengen magang di kantornya, tolong supaya aku mengumumkannya ke bekas kampus kami bahwa kantornya menerima permohonan magang. Jangan sungkan untuk mengontaknya langsung kemudian, katanya. Ah, ternyata dia masih ingat, siapa Pangeran MIPA Selatan, alumni yang masih dikenal oleh adik-adik kelas 11 tahun di bawahnya 😎

Sampai di hotel lagi, kami masih sempat ngobrol tentang banyak hal sampai akhirnya aku pamit pulang. Sempat pula aku mengembat sebiji apel dari kulkas di kamar hotelnya. Kami berpisah dengan basa-basi, suatu saat aku harus ketemu anak-anaknya yang sejak lahir tidak pernah sempat kusambangi. Selanjutnya kami tetap kontak. Lewat Fesbuk, lebih banyaknya, dan sesekali via Wasap.

Dan tadi pagi, selayaknya generasi smartphone, begitu bangun tidur yang kusambar langsung hapeku. Kulihat ada beberapa notifikasi untukku. Hanan berpulang. Sempat juga aku tidak percaya. Kupikir aku yang salah mengartikan kata-kata yang terlihat di layar hapeku, sampai aku menengok wall Fesbuk-nya dan mendapati barisan doa untuknya. Aku tertegun. Mbrambangi…termasuk saat aku menulis postingan ini. Konon, asmanya menyerangnya saat ambulans telat datang menjemputnya. 1 sekutu kembali mendahuluiku.

Aku ingat juga, 1 hutang belum terbayar. Lewat Fesbuk, Hanan pernah minta supaya diceritakan tentang Bisma Dewabrata dan Gunawan Wibisana.

bisma dan wibisana

Berhari-hari cerita itu belum sempat kutulis. Saat dia menagihku, kembali aku berdalih, “Ooo…tenang…kalem. Nanti ta’turunkan jadi postingan eksklusip di blogku,” yang sampai sekarang tetap saja belum kutulis dengan sempurna. Draft-nya sudah ada, sih. Tapi – celaka! – itu juga masih dalam bentuk pikiran di otakku.

Maka kali ini, selain doa untuknya dan permohonan kesabaran untuk Wulan, istrinya, kembali aku berjanji, 2 cerita itu bakal kuselesaikan selekasnya.

Possa tu riposare in pace, Nan πŸ™‚


Facebook comments:

6 Comments

So, what do you think?