Hidup Adalah Prek-juangan

“Be kind, for everyone you meet is fighting a hard battle.”
Ian Maclaren

Aku ini orangnya memang suka cari gara-gara. Sudah banyak jenis gara-gara yang aku lakukan, terutama kalau aku sedang tidak setuju sama sesuatu. Misalnya saja sekarang ini, dengan sombong sekali kukatakan bahwa quote di atas – yang sering disalah-perkiraankan sebagai quote dari Plato ataupun Philo dari Alexandria – kupikir perlu dikaji ulang. Pertama, definisikan “hard” itu sendiri, dan kedua, yang disebut sebagai “hard” itu sebenarnya seberapa hard, sih?

Pada 1 sisi, benar bahwa, hard itu relatif. Soal yang sangat mudah buat beta – misalnya fisika, kimia, atau matematika – bisa jadi menjadi momok buat pelajar-pelajar lainnya. Yaaa…namanya aja manusia, bakatnya beda-beda. Maka jelas, hard ini memang sangat relatif.

Cuma masalahnya, relatif terhadap apa? Pengertian relatif ini tentunya perlu penalaran lebih dalam lagi (kalau kita niat, sih. Dan celakanya saat ini aku sedang niat). Jangan-jangan istilah “hard battle” ini sebenarnya hanya salah 1 dari sekian banyak salah-salahan yang dipakai buat gaya-gayaan sama kaum kelas menengah yang pada kepengen terlihat paten. Aku curiga demikianlah halnya 😈

Adalah Dewa – tanpa 19 lho ya – dengan lagunya yang berjudul “Hidup Adalah Perjuangan” yang kucurigai sebagai biang keladi kenapa banyak orang yang sok-sokan memaknai hidupnya adalah sebuah perjuangan tanpa henti-henti. Lagu itu ngetop banget, sih, bahkan sampai sekarang. Dan sehubungan dengan kengetopan tersebut, selain agak antipati sama istilah “perjuangan”, aku juga curiga kalau istilah itu kemudian dipakai dengan salah-kaprah oleh banyak manusia tanpa tahu definisi sebenarnya, baik oleh penyanyinya, lebih-lebih oleh pendengarnya.

Misalnya pas aku kuliah di Enggres kemarin… Setelah pengumpulan Tugas Akhir yang menentukan lulus-enggaknya si mahasiswa, banyak sejawat yang kulihat mem-post pencapaian tersebut media sosial mereka dengan sumringah. Kesumringahan tersebut ditambahi dengan pernyataan betapa mereka bersyukur bahwa kondisi ini mereka dapati setelah berjuang dengan begitu tidak kenal lelahnya. Hebat, sih. Salut. Nampaknya betul-betul determinasi tingkat tinggi. Tapi problemnya, apa coba definisi dari “berjuang”?

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, arti dari “berjuang” adalah berlaga, memperebutkan sesuatu dengan mengadu tenaga, berperang, berkelahi, berlanggaran, berusaha sekuat tenaga tentang sesuatu, atau berusaha penuh dengan kesukaran.

Sedangkan, lagi-lagi menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, definisi dari “perjuangan” adalah perkelahian, peperangan, usaha yang penuh dengan kesukaran dan bahaya, atau salah 1 wujud interaksi sosial, termasuk persaingan, pelanggaran, serta konflik.

Well, mungkin beberapa pelajar Indonesia yang waktu itu bermukim di Enggres barengan aku memang merasakan hal yang demikian pas lagi menyusun Tugas Akhir-nya. Tapi aku, untuk mengatakan bahwa Tugas Akhir-ku kulalui dengan penuh perjuangan, rasanya, kok, ya kayak sedang membohongi diri sendiri ya?

Sungguh mati aku jauh dari definisi perjuangan ketika menyusun disertasiku itu. Sambil ngerjain disertasi, aku masih ngekek-ngekek bareng Naufal dan Raja, baca-baca komik, terus masih sempat nonton serial Kamen Rider Kabuto juga, yang pendeknya jauhlah kalau mau diartikan bahwa kondisiku saat itu sedang berusaha penuh dengan kesukaran. Mana ada istilah kesukaran ketika pelakunya masih bisa tenang-tenang bobok siang? Iya, kan? Iya tho?

Mungkin yang lain kesulitan, tapi aku jelas enggak. Mungkin yang lain berjuang, tapi aku nyatanya tidur siang. Jadi ya e’ek kebo kalau aku bilang aku ini berjuang, apalagi sampai mati-matian. Hiperbola. Berlebihan.

Berangsur ke jenis kehidupan lainnya, dalam skala yang lebih luas, aku juga sangsi kalau aku dan para kelas menengah lainnya sedang berjuang dalam hidup.

Aku, sih, nggak mau menyebut hidupku sebagai sebuah perjuangan. Nggak pantas, soalnya. Padahal jadi kelas menengah akunya juga belum, tapi aku sudah merasa nggak elok untuk berkeluh-kesah kalau hidup ini sebegitu sulitnya.

Konon, menurut sebuah itung-itungan yang aku lupa dari siapa dan mana, yang aku baca kapan tahun yang lalu, untuk menjalani kehidupan sebagai kelas menengah sejati di Jakarta, aku membutuhkan penghasilan bersih minimalnya 15 juta rupiah tiap bulannya. Celakanya, take home pay-ku sampai dengan saat ini masih cuma separuhnya. Sumpah! Aku nggak ngibul!

Kasusnya, dengan gaji yang cuma segitu itu aku sudah merasa hidupku nggak susah. Enak, kok. Nyaman. Ngerokok masih lancar, makan steak masih rutin, ke bioskop juga ayolah. Maka apanya yang sukar kalau aku nggak diganggu sama kekhawatiran besok bisa makan atau enggak? Apa iya hidupku penuh bahaya sehingga aku mesti berjuang? Bagaimana aku bisa khawatir kalau sampai dengan saat ini semua yang kubutuhkan selalu terpenuhi? Malah lebih jauhnya lagi, kalau mau make term yang rada religius, kenapa aku mesti takut dengan kemiskinan kalau aku ini adalah hamba dari Yang Maha Kaya?

Apanya yang perjuangan kalau semuanya sudah kecukupan?

Di luar sana aku yakin juga demikian. Aku, kok, nggak yakin ya kalau orang-orang yang kukenal itu pada berjuang. Beberapa mungkin iya berjuang, tapi jumlahnya nggak banyak dan nggak setiap hari, sementara kebanyakan lainnya sekadar asal ngecap sahaja. Entah apa motivasi bokisnya, aku nggak tau. Beberapa dari kita mungkin kepengen dianggap sebagai seorang fighter, seorang petarung, pejuang. Dengan anggapan macam demikian mungkin kita bakal merasa sebagai jagoan. Padahal, memangnya kenapa, sih, kalau kita ini dianggap jagoan? Naikin strata sosial? Strata sosial yang mana? Strata sosial buat dikagumi dan diakui sama orang-orang lainnya? Ealah…

Buatku ini agak lucu, sih, kalau motivasinya beneran macam begitu. Agak ironi rasanya ketika kita kepengen dipandang dan diakui orang tapi kita justru meyakinkan diri bahwa hidup kita kesusahan sehingga perlu diperjuangkan. Hanya untuk menaikkan respek dari orang maka kita bilang hidup kita penuh kepedihan, bermandikan darah, keringat, dan air mata. Air mata apanya kalau nyaris setiap hari kita masih bisa ketawa? 😛

Hanya saja jangan khawatir, di satu sisi ada benarnya kalau tiap-tiap orang itu pasti punya masalah hidupnya sendiri-sendiri. Betul itu. Perkaranya, apa iya sesukar itu? Apa iya masalah yang kita hadapi sehari-hari itu lebih besar dari hal-hal yang kita nikmati setiap hari?

Kalau ternyata enggak, kalau ternyata hidup kita sehari-hari masih mudah dan nggak penuh bahaya yang mengharuskan kita bertaruh nyawa, rasa-rasanya frase “hidup adalah perjuangan” yang kita yakini sedang kita lakukan ini perlu kita kaji ulang, deh. Karena apa? Karena, eh, karena jangan sampai cuma gara-gara kepengen gaya-gayaan, ujung-ujungnya kita malah dicap sebagai hamba yang kufur nikmat sama Tuhan.

Mungkin sesekali kita memang berjuang. Tapi kalau sampai menganggap hidup ini isinya cuma marabahaya belaka sehari-harinya, mudah-mudahan kita semua nggak perlu sampai konsul ke dokter jiwa. Semoga saja judul yang paling pas untuk menyebut kondisi psikis kita adalah sekadar manusia yang suka melebih-lebihkan keadaan buat cari perhatian.


Facebook comments:

6 Comments

  • Yang Punya Diary |

    “prek” adalah bahasa slang Jokja(?) yang dipakai untuk menyatakan penolakan, kekesalan, ataupun ketidakpedulian terhadap sesuatu tergantung pada konteks kalimatnya. demikianlah adanya, misalnya:

    – “disuruh kerja lembur sampai tengah malam? prek ajalah!”
    – “halah, prek! kemarin yang janji mau datang ke rumah tapi sampai sekarang nggak datang-datang, siapa coba?”
    – “manusia model kayak gitu, kok, kamu pedulikan? prek-kan saja!”

    tentunya contoh kalimat di atas terasa janggal karena narasinya tidak diucapkan dalam bahasa Jawa secara keseluruhan 😛

So, what do you think?