Holmes Setelah Era Sir Arthur

Dari jaman kecil, entah karena sebab-musabab apa (mungkin gara-gara bapakku yang hobi ngasih teka-teki yang bukan teka-teki plesetan dan ngasih aku duit kalo aku berhasil mecahin teka-tekinya), aku seneng baca-baca cerita detektif-detektifan. Favoritku waktu jaman esde adalah serialnya STOP, alias Sporty, Thomas, Oskar, Petra. Dan walopun di situ disebutkan tokohnya ada 4 orang, dengan sangat menyesal ta’beritahukan ke sidang pembaca bahwa serial itu adalah Sporty-show. 3 orang teman Sporty lainnya seakan-akan cuma kebagian peran sebagai batur sahaja. Mentok-mentoknya cuma Oskar-lah yang menemani Sporty memberantas kejahatan sebagai side-kick. Perannya Oskar bolehlah dibilang mirip dr. Watson dan Sporty adalah Sherlock Holmes-nya.

Anak-anak STOP itu umurnya masih pada 13 tahunan. Berhubung ketika pertama kali mengkonsumsi STOP aku waktu masih kelas 2 esde, aku nggak merasakan kemustahilan kalo anak-anak umur 13 tahun itu bisa berkeliaran di waktu mitnait buat menegakkan kebenaran dan keadilan. Cuma saja, begitu aku masuk esempe, menginjak umur yang sama dengan Sporty di bukunya, aku malah jadi mbatin, wah, ternyata ceritanya STOP terlalu ngayal ini… Aku juga sudah 13 tahun tapi, kok, ya belum bisa memberantas ketidak-adilan di muka bumi? Ini pasti ada yang salah sama bukunya. Yang ngarang pasti waton membual ini. Dasar kapitalis! Membohongi anak-anak kecil dengan mengarang cerita yang nggak masuk akal!

Maka beralihlah bacaan detektifku pada jagoan terhebat sepanjang masa: Sherlock Holmes! Horeee…

Dan tentu saja buku Sherlock Holmes pertamaku dibeliin sama ibuku tercinta sebagai upah mau nemenin beliau belanja di Tiara Dewata.

Setelahnya aku jadi kecanduan Sherlock Holmes. Semua bukunya yang terbitan Endonesa ta’baca dan akhirnya aku kebingungan gara-gara nggak ada cerita Sherlock Holmes lagi yang baru buat aku. Pas esema seleraku detektifku mulai beralih ke karangannya Agatha Christie, terutama yang lakonnya adalah Hercule Poirot, gara-gara Agustini Leonita, sejawat lulusan UI yang sekarang jadi dokter di RSCM.

Waktu itu aku belum tertarik dengan karangannya Agatha Christie sampai dengan pas istirahat sekolah anak keriting itu tiba-tiba nyeletuk, “Aku kalo lagi baca Hercule Poirot, kok, kebayang kamu ya, Tok?”

“Ada apa dengan Poirot itu, Yo?”

“Kecil, kumisan (waktu itu di esemaku lagi tren anak muda berkumis dan aku nggak pernah nyukur kumisku sejak pertama kali tumbuh sampai dengan pas aku ultah ke-17), cerewet, terus narsis.”

“Jelas aja. Aku ini cerdas, Yo. Buktinya IQ-ku, kan, di atasmu,” jawabku nggak nyambung.

Tapi pas pulang sekolah aku langsung mampir ke Hasri buat nyewa novelnya Agatha Christie di situ. Yang kupilih adalah “Tirai” yang kebetulan pernah dimuat di buku pelajaran Bahasa Indonesia, yang katanya adalah masterpiece-nya Agatha dengan Monsieur Poirot pas sakaratul maut sebagai lakonnya. Agak gimana juga, sih, mbacanya… Lha wong baru pertama kali kenal Poirot, kok, pas akhir cerita ujug-ujug Poirot malah mati?

Sampai tahun kemarin aku – akhirnya – tetap rajin beli novelnya Agatha. Mr. Harlequin jadi favoritku yang kedua setelah Poirot. Tapi Holmes tak tergantikan. Holmes tetap yang terbaik buatku sepanjang masa, meskipun kecanduan kokain (seperti aku yang juga kecanduan nikotin). Karena itulah aku girap-girap kesenangan pas jalan-jalan ke Togamas dan nemu novel barunya Sherlock Holmes karangannya Mitch Cullin. Setelah itu aku juga nemu lagi novel tentang Holmes karangannya Tracy Mack dan Michael Critin, sampai yang terakhir yang karangannya Caleb Carr.

Semuanya novel itu kubeli satu-persatu, kubaca, dan akhirnya kutulis penilaianku di bawah ini:

Misteri yang Tak Terpecahkan

Ini Holmes karangannya Mitch Cullin. Sampulnya didominasi warna biru. Buku (nggak) antik ini kubeli selain gara-gara memajang nama Holmes, di sampulnya ada tulisan:

“Kisah tentang Sherlock Holmes yang begitu indah… Inilah novel yang sesungguhnya.”
– The Washington Post

Ceritanya tentang masa tua Holmes. Umurnya nyaris seabad dan tentu saja tidak ada dr. Watson, Mycroft, dan Lastrade – penyelidik dari Scotland Yard yang sering minta tolong sama Holmes itu – lagi. Mereka sudah mati, dan Holmes pun sendirian plus semakin menjadi pribadi yang menyendiri. Kerjanya dia cuma beternak lebah sahaja.

Di situ dikisahkan tentang kasus-kasus yang belum terpecahkan oleh Holmes pas jaman mudanya, yang akhirnya lewat perenungan-perenungannya tentang hidup, kasus itu akhirnya terpecahkan. Cuma saja yang bikin aku agak kecewa, Holmes seperti kehilangan kemampuannya. Tidak ada deduksi cepat yang jadi ciri khasnya. Semua hipotesanya diperoleh lewat proses perenungan yang panjang yang kesannya malah menjadikan novel ini terlalu…drama!

Ini memang cerita tentang Holmes yang manusiawi. Kelewat manusiawi, malahan. Gara-gara kebanyakan bercerita tentang pergulatan batinnya Holmes, novel ini malah jadi kayak menghilangkan ciri khasnya Holmes. Pendeknya, tokohnya boleh bernama Sherlock Holmes juga, tapi ini bukanlah Sherlock Holmes yang selama ini kukenal. Satu yang paling mencolok, selain tidak adanya deduksi cepat itu tadi, ternyata cinta sejatinya Holmes – seperti yang dikisahkan di situ – bukanlah Irine Adler. Wah, kampret! Ini seperti Siau Hi Ji tapi bukan dengan So Ing, seperti Samsul Bachri tapi bukan dengan Siti Nurbaya, seperti Anindito Baskoro tapi bukan dengan Zaskia Mecca. (Agak) jindallah, pokoknya!

Misteri Kematian Bintang Sirkus

Yang ini karangannya Tracy Mack sama Michael Critin. Di sampulnya yang warna ijo, selain judul di atas itu, tertera juga kalo ini adalah kisah “Sherlock Holmes dan Laskar Jalanan Baker Street”. Dan kesimpulanku tentang buku ini pendek saja: Gramedia Jokjakarta yang di Jl. Sudirman itu salah menempatkan buku ini berjajar dengan novel-novel Holmes lainnya. Buku ini ternyata cerita untuk anak-anak, Gob!

Ukuran huruf di dalamnya besar-besar, khas kayak buku buat anak-anak, begitu juga dengan jalan ceritanya: sederhana dan nggak rumit. Kisahnya pun lebih fokus ke aksi Ozzie dan Wiggins, 2 anak anggota Laskar Jalanan Baker Street – kelompok informan yang sering membantu Holmes. Aksinya juga lebih ke aksi fisik dan bukan aksi otak seperti Holmes biasanya. Yeah, wajarlah… Holmes kali ini, kesannya, cuma kebagian peran sebagai pemeran pembantu aja, bukan tokoh utama walopun musuh yang dihadapinya adalah Profesor Moriarty yang merupakan musuh bebuyutannya.

Maka belikanlah buku yang disampulnya ada keterangan masuk nominasi Agatha Christie Award untuk kategori Young Adult’s Book ini buat adik-adik atau keponakan sampeyan yang masih di bawah umur 😈

Heran aku sama Gramedia. Kok mereka bisa salah menempatkan buku ini, ya? Apa isi bukunya ya ndak dicek dulu? Lebih heran lagi, kok, ya kebeli juga sama aku, tho? Ah, nama besar Sherlock Holmes memang membutakan…

The Italian Secretary alias Sekretaris Itali

Dari ketiga buku Sherlock Holmes setelah karangannya Sir Arthur Conan Doyle yang kupunya, buku ini adalah yang paling mendekati sempurna. Konon buku ini ditulis atas permintaan dari estate-nya Sir Arthur sendiri kepada Caleb Carr. Ceritanya tentang pembunuhan brutal di Istana Holyrood, dan Holmes dipanggil khusus untuk membantu Ratu Victoria di Skotlandia oleh kakaknya sendiri, Mycroft Holmes, orang penting di balik layar pemerintahan Inggris.

Deduksi cepat ada, kepercayaan diri khas seorang Sherlock juga ada. Kokain dan pipa tembakau? Itu juga ada. Ceritanya pun dituturkan lewat sudut pandangnya dr. Watson, seperti halnya cerita-cerita Sherlock Holmes karangannya Sir Arthur. Memang, buku ini nyaris nggak ada kelemahannya – buatku – kecuali 1 hal: Mycroft Holmes nampak seperti orang tolol sahaja!

Terbalik dengan kisah-kisah lawasnya Sherlock Holmes, di mana jika dia mengalami kebuntuan dalam menangani kasus maka dia akan meminta petunjuk dari kakaknya yang berotak lebih superior dibanding dia, kali ini Mycroft terkesan seperti jauh lebih bodoh dibanding adiknya, bahkan dibanding dr. Watson sekalipun. Mycroft seperti orang yang tidak bisa berpikir jernih dan grasa-grusu.

Sebenernya, kalo mau dibilang apakah hal itu mengganggu atau tidak, ya jawabannya adalah tidak. Toh Mycroft tidak terlalu dilibatkan dalam cerita kecuali dikisahkan sebagai orang bingung yang minta tolong kepada Sherlock. Cuma saja, akunya ya jadi agak geli sendiri mbaca Mycroft – yang selama ini selalu dikisahkan “bahkan sambil tetap berada di tempat duduknya pun dia bisa memecahkan kasus” – bertingkah macam gitu πŸ˜€


Facebook comments:

14 Comments

  • omoshiroi |

    yeah!!
    sherlock emang yahud!!
    tp siyalnya, buku koleksi sherlock saia ilang 2 biji gara2 dpinjem trus ga dbalikin..
    skr lg nunggu2 filmny yg ktny rilis bulan november nanti..
    kalo yg bkan karya sir doyle, saia malas mbacane..

    kalo saia selain STOP, jg mbaca trio detektif sma lima sekawan..

  • Yang Punya Diary |

    omoshiroi:::
    hahaha, senasib. sherlock2 saya juga entah di mana rimbanya πŸ˜€

    yang punya masLUQMAN.com:::
    menurut shohibul hikayat sih memang demikian halnya. heran juga. padahal kata temen saya – yang sudah nikah – nikah itu enak 😈

  • Parus |

    Saiki yo ono komiknya loh…
    Sing nggambar wong jepang…
    Ning dadi ne wagu… Gak seru…

    Eh, betewe, bukannya kalo Holmes udah tua maka wajar dong seandainya deduksinya ndak secepet masa jayanya dulu..??

  • ipi |

    ak yo ndak ada waktu buat baca buku lg hehehe plus dah ga ada uang buat beli buku bacaan lg hiks hiks…
    Jd pgn baca The Italian Secret apakh bnr hampir sempurna spt yg sampeyan blg πŸ™‚

  • itikkecil |

    tetep lebih suka hercule poirot
    tapi memang hercule poirot itu narsisnya gak ketulungan kok…
    sama kayak dirimu…

  • Nazieb |

    Saya sudah baca buku pertama dan kedua yang sampeyan sebutkan. Dan memang bikin ilfil semuanyah! Argh! Makanya saat buku ketiga muncul, saya jadi males mau beli..

    Pak Doyle sih yang terlalu baik. Wong sudah bener si Sherlock dimatiin di Reicenbach, kok ya dihidupkan lagi gara-gara nurutin permintaan fans-nya. Jadinya muncul deh cerita masa tua Sherlock yang bikin ilfil ituh..

  • Yang Punya Diary |

    Parus:::
    sing komik malah jadi tidak dimengerti, hahayyy…
    ho’oh sih, cen sewajarnya ngono. tapi ya tetep aja kyaknya jadi gimana gitu

    ipi:::
    memang nasib pegawai negeri itu mengenaskan…

    itikkecil:::
    ah, ndak. saya bukan orang belgia, jadi ndak narsis2 banget

    Nazieb:::
    lha ya pak doyle juga nggak tegas, sih, waktu matiin holmes. mayatnya aja ndak ketemu. kayaknya buat jaga2 kalo memang bakal ada penggemar protes πŸ˜›

  • Muzda |

    Wah iya…
    Waktu kecil aku juga baca STOP..
    trus langsung ke Agatha Christie, baru abis itu ke Sherloc Holmes…

    Uhmm,, tapi bener deh… temen2nya Sporty, dr. Watson, sampe Poirot dan siapa tu.. (haduh, sapa sih temennya…??) Oh, Hasting.. hehee…

  • bundanya naila |

    aku cuman mau bilang punya poto2nya baker street underground train-nya, gambar dindingnya gambar siluet sherlock holmes..
    kebetulan baker street-nya deket sama musium madame thussaud (gak nyambung ya…? biarin ah)

  • Vavai |

    Saya setuju 100% dengan analisa anda. Buku laskar jalanan baker street itu sangat-sangat mengecewakan. Yg Italian Scretary sangat memukau. Misteri yang tak terpecahkan melodramatis, meski masih lumayan dibanding yang laskar jalanan baker street

    Salam dari sesama Sherlockian πŸ™‚

So, what do you think?