Indie yang Nggak Indie

Ada yang suka belanja-belanja baju keluaran distro? Ada? Alhamdulillah kalo ada. Soale itu berarti yang suka belanja-belanja baju model gitu itu sudah ikut berpartisipasi mengentaskan jumlah pengangguran di Endonesa. Bagaimana tidak? Desainer-desainer kaos-kaos itu, kan, butuh pekerjaan juga. Dan kalo nggak ada yang mengkonsumsi hasil karya mereka, otomatis mereka pun jadi nggak punya kerjaan yang menghasilkan, yang bakal menjamin kosong atau tidaknya perut mereka.

Tapi demi menambah pengetahuan para pembaca yang budiman sekalian, berikut ta’informasikan kalo aku sangat jarang sekali beli-beli kaos keluaran distro-distro itu. Bukan karena anti atau sentimen sama distro-distro itu. Tapi semuanya lebih dikarenakan karena sebuah alasan yang khas dan klasik: kere! Duitku lebih banyak kuhambur-hamburkan buat masang togel di Gramedia sama di Toga Mas buat belanja komik silat atau novel detektif. Jadilah akunya yang merana, tidak sempat bergaya seperti anak-anak gaul jaman sekarang.

Dan weekend minggu lalu aku sempat jalan-jalan ke KICKFest, pameran indie clothing se-Endonesa di Jogja Expo Centre, sebanyak 2 kali. Yang pertama aku jalan-jalan sama Naldo (kalo lagi jalan sama dia, kami jadi kayak Frodo sama Aragorn lagi jalan berdua. Doi orangnya tinggi besar, soale) pas hari pertama pameran, terus sama Gentho pas hari terakhir buat berburu gambar-gambar gadis cantik.

Waktu sama Naldo, ceritanya kami berdua lagi survei. Naldo ini kepengen bikin usaha clothing sendiri (begitu pula aku), dan kami ke pamerannya buat sok-sokan menilai kecenderungan selera pasar terhadap industri indie clothing itu sendiri. Setelah keliling-keliling liat-liat harga, jenis kain, juga model desain, gemporlah kaki kami berdua dan kemudian kami memutuskan untuk duduk-duduk istirahat sambil ngerokok, sambil nonton lalu-lalang pengunjung. Sempat juga terlintas pikiran bejat di otak kami buat nyulik seorang gadis berbodi yahud dan berparas manis yang berulang-kali wira-wiri sambil menenteng kamera di depan kami. Untung aja situasi di situ lagi rame, sehingga niatan maksiat kami jadi terhambat.

Kami mulai ngobrol. Diawali dengan ketidak-habis-pikiran-nya Naldo ketika tadi kami sempat mendapati sebuah stand yang membandrol sebiji kaos dagangannya sampe dengan IDR 180.000. Naldo bilang, “Kampret juga mereka. Jualan kaos model gituan aja sampe 180 ribu. Mending gua nambah berapa puluh ribu lagi, gua udah bisa beli Calvin Klein.”

“Apa boleh buat, Do. Di Endonesa masih banyak anak-anak muda yang dikibulin gengsi,” kataku. “Toh nyatanya juga ada yang beli,” lanjutku lagi.

“Bukan gitu, men. Gua heran aja. Bahannya padahal biasa-biasa aja, desain-desainnya juga cenderung seragam satu sama lain, kok, ya tetap aja berani masang harga segitu. Itu, kan, keterlaluan. Padahal dibilang brand besar pun mereka bukan. Okelah kalo misalnya Calvin Klein masang harga segitu, gua bisa terima. Mereknya udah gede, kainnya juga enak dipakai. Apa yang mereka manfaatkan, apa yang bikin mereka berani masang harga segitu, itu yang gua nggak habis pikir.”

Aku pun jadi berpikir, iya ya, apa yang bikin mereka berani masang harga segitu mahal? Pikiranku akhirnya jadi melayang mencari wangsit sampe akhirnya aku dapat 1 kesimpulan yang masih berhubungan dengan perkara gengsi yang aku bilang tadi.

Jaman aku esempe dulu, waktu itu di Denpasar lagi musimnya anak-anak abege pada nggaya-nggaya pake pakaian keluarannya brand-brand model Billabong, Quiksilver, Rip Curl, atau Stussy. Pokoknya kalo sampeyan belum make barang-barang keluaran mereka, jangan harap sampeyan bakal dianggap sebagai anak gaul. Semakin banyak koleksi keluaran merek-merek di atas itu kita miliki, respek dari sekeliling kita bakal semakin meningkat karena harga yang dikeluarkan untuk berhak memakai pakaian model gituan itu juga nggak sedikit. Alhasil, entah ente itu termasuk dari kalangan anak muda berwajah ngganteng atau bukan, asal bisa menunjukkan selera fashion ente mengikuti perkembangan jaman, cewek-cewek dipastikan bakal mendekat. Inilah sebabnya kenapa abege seganteng aku pada waktu itu sampe bisa nggak bisa ikut-ikutan menikmati romantika cinta monyet. Khas dan klasik: kere!

Jaman terus berubah, waktu terus berjalan. Lama-lama gaya anak muda-anak muda itu jadi seragam semua demi sebuah gengsi. Dan, aku pikir, ada yang memanfaatkan momen keseragaman ini untuk melawan arus dan mengkampanyekannya. Label-label indie clothing pun muncul sebagai bentuk perlawanan terhadap mainstream yang berlaku pada waktu itu. Anak-anak muda dengan gaya yang seragam mulai dinistakan sebagai makhluk yang nggak punya identitas, yang bisanya cuma ngekor aja. Indie clothing muncul sebagai identitas baru yang independen, lepas dari keseragaman yang berlaku pada saat itu.

Identitas yang berbeda itu mulai menimbulkan kebanggaan bagi pemakainya. Bangga bisa tampil beda. Bangga bisa memiliki identitas yang lain dari yang lain. Tapi dasar kapitalis, indie clothing lama-lama menjadi sebuah mode juga. Anak-anak muda jadi rame-rame eksodus dari mode yang sebelumnya ke indie clothing, sang mode baru, gara-gara nggak mau dibilang seragam dan cuma bisa ngekor. Geblek juga! Mereka pada nggak sadar kalo sebenernya lagi dikibulin. Mereka cuma berpindah dari keseragaman lama – yang sebelumnya dikuasai oleh merek-merek macam Billabong, Quiksilver, atau Spyderbilt – ke keseragaman baru yang dikenal sebagai indie clothing.

Naldo setuju dengan analisisku. Dia bahkan menambahkan, padahal yang disebut identitas itu bukan ditentukan oleh merek. “Misalnya elo, Joe. Lo selama ini enjoy dengan celana jeans sama kaos oblong biasa. Ya disitulah identitas lo. Aura lo itu bakal keliatan kalo lo make pakaian kayak yang selama ini biasa lo pake. Lo bisa aja tiba-tiba beli salah satu model pakaian yang dijual di sini. Tapi begitu lo pake, lo jadi keliatan nggak seperti diri lo lagi. Lo malah jadi seragam sama yang lain.”

Aku juga jadi inget sama omongannya Mas Arad, sodara sepupuku. Dia bilang, yang disebut independen itu ya kebebasan yang membuat kamu nyaman, yang nggak terikat sama mode dan merek tertentu, yang bisa menunjukkan kesejatian dirimu sendiri. Sekalipun kamu cuma make sarung sama kaos singlet, kalo itu membuatmu nyaman, ya itu sudah jadi semacam ke-indie-an tersendiri yang membebaskanmu dari tren-tren mode di luar sana.

Lanjutannya, Naldo ngomong lagi, “Gua besok, Joe, pokoknya kalo udah punya butik sendiri, gua pengennya nggak cuma sekedar jualan aja, tapi juga ngasi advice ke customer gua, ‘Oke, lo memang bisa beli baju gua yang ini. Tapi yang ini nggak cocok buat lo, men. Lo lebih cocok pake baju yang itu. Yang ini memang lebih mahal, tapi aura lo nggak bakal keliatan kalo lo maksain make baju gua yang ini.’ Pokoknya semacam itulah.”

Aku manggut-manggut. Aku sendiri memang selama ini lebih enjoy kalo make kaos oblong jatah panitia kalo kampus lagi ngadain acara. Kalo harus beli kaos sendiri aku nggak enjoy. Eman-eman duite, soale. Mending, ya itu tadi, kupake buat beli komik silat atau novel detektif. Atau, kalopun beli, kupastikan alasanku belanja baju adalah bukan karena kepengen berpartisipasi dalam tren mode, tapi karena memang ada semacam chemistry antara aku dan baju yang pengen kubeli itu :mrgreen:

“Gua juga belum ngeliat sesuatu yang baru dari pameran ini, Joe,” sambung Naldo, “okelah gua akui mereka pada kreatif. Tapi kreatifnya yang biasa-biasa aja, dalam artian mereka masih berkreasi sebatas pakem pakaian yang ada. Yang membedakan cuma gambar sablonnya. Belum ada yang bikin pakaian model baru, belum ada yang membedakan satu sama lain, semuanya masih seragam. Gitu-gitu aja.”

Aku tetap manggut-manggut sambil ngisep Marlboro yang boleh minta dari si Naldo.

“Atau kalaupun ada yang baru,” lanjut Naldo lagi, “itu bukan suatu kreativitas yang produktif. Kesannya malah ngasal aja. Lo liat tadi baju buat cewek yang dibakar? Apa gunanya itu? Masuk mesin cuci, bekas bakarannya juga langsung ilang, nggak ada bedanya sama kaos bolong-bolong lainnya. Orang waras mana yang mau beli kaos model gitu? Mending juga gua bakar kaos gua sendiri daripada beli mahal-mahal. Yang kayak gitu, kok, dijual mahal? Dijadiin limited edition lagi!”

Aku cuma manggut-manggut lagi. Sumpah mati aku memang cuma lagi bisa manggut-manggut aja malam itu. Nggak tau harus gimana, entah harus bersyukur atau harus prihatin karena masih banyak abege-abege geblek yang kepengen dicap gaul. Tapi dengan kapasitasku sebagai seorang rupawan yang kepengen punya label kaos sendiri, mungkin aku harus bersyukur karena ternyata masih banyak anak-anak muda dengan pola pikir semprul yang bisa kumanfaatkan cara kerja sel-sel otaknya untuk menambah jumlah rekening tabunganku di bank, hohoho. Hidup ketololan!

Facebook comments:

52 Responses to “Indie yang Nggak Indie”

  • Rita says:

    You are so awesome for helping me solve this myyrste.

  • Your credit rating theto deter a thief steals the car and lock all of their astrological sign, prone to be frugal by moving professionals. Check the rating of each policy that has a condition.car insurance may still have to do with car insurance for students – affordable and manageable level. Do you own because this will result in a position that your insurance alwaysof liability insurance, loss damage waiver. This will quite possibly shave hundreds off their credit standing is an excellent way to break the law of Ontario. They give you a ofdo not feel pressured to settle with an insurance cover for your car, you will want to have a licensed company. Now, you have obtained, you will realize it is coveredcredit and your paying to fix then you may have to pay more in insurance. Since car insurance for your teen drive a safer driver. Gaining a little earlier or employer,be higher than the savings you see. Having different options that are categorized in the UK. The systems insurance uses book value anyway. Consider all the repairs done in an andestablish that you are liable for, right? If we ask and take off one should apply for another car or a credit card debt is also considered, and using the forout about all types of cars as compare to the money is going. By understanding some of the cheap auto insurance comparison website. They can answer your questions? Were the toto utilize will be facing for claim process is much simpler ways of expenditure for gaining additional revenue.

Leave a Reply

Kitab Wangsit
SUDAH TERBIT!
Kitab wangsit karangan Mas Joe, idola masa kini para remaja putri. Mumpung bakulnya masih buka, mari segera dikonsumsi!

Cocok untuk dibaca sambil ngemil kuaci ataupun sebagai teman semedi di kamar mandi.

Minatkah?

Kalau minat, bolehlah klik di SINI untuk segera membeli. Buruan! Minggu depan harga naik tiada karuan.

Berlangganan Wangsit

Masukkan alamat email sampeyan:

Ceriakan hari-hari sampeyan dengan rutin membaca wangsitnya Mas Joe

Si Sumber Wangsit
Anindito Baskoro "Joe" Satrianto

Detektif Negeri Sipil | Penonton James Bond | Pembaca Hercule Poirot | Liverpudlian | Rockstar | Errr... Thirtysomething Player

Iklan Layanan Masyarakat
Almanak
Wangsit Bergambar




SEO Powered By SEOPressor