Kerennya Jadi Agnostik

November 7, 2016 – 6:54 am

Sekitar semingguan kemarin aku nongkrong di warung kopi buat ngobrol ngalor-ngidul sebagaimana umumnya obrolan warung kopi; tidak ada topik khusus, selain topik seputar mempertahankan kewarasan di tengah hingar-bingarnya dunia. Iya, warung tempatku nongkrong ini entah kenapa jadi tempat ngumpulnya oknum-oknum yang mati-matian berusaha untuk tidak terjebak dalam sesat-pikir ketika dihadapkan sama isu-isu ngepop di Endonesa. Aku sendiri menyebut kalau tempat ini adalah tempat yang bisa menjagaku tetap bertahan dengan idealismeku walaupun di dunia nyata batasan untuk bertindak ideal nyata-nyata semakin kabur.

Kemarin itu, entah bagaimana mulanya, yang jelas ketika aku datang, aku sudah disuguhi topik yang sebenarnya sudah lama membuatku geli tapi nggak pernah kutulis di blogku ini: tentang agnostisisme ala (orang geblek) Endonesa 😆

Perkara kenapa sebelumnya bab ini belum pernah kutulis, ya tentu pertama karena aku sibuk. Malas juga buat nulis tentang sesuatu yang – ini alasan keduaku – kayaknya nggak banyak orang yang paham dan aware soal istilah agnostik. Cuma akhirnya – ya kemarinan itu – aku sadar kalau aku salah (sekaligus tetap benar). Ternyata sudah banyak orang Endonesa yang nggak malu-malu lagi memproklamirkan keagnostikannya. Tapi walaupun sudah banyak, seperti yang kubilang barusan, aku tetap benar. Ternyata banyak orang Endonesa yang nggak malu-malu ngaku agnostik walaupun sebenarnya blas nggak paham apa itu agnostisisme. Munyuklah kalian semua! 😈

Jadi, pas aku nyampe di warung kemarin tiba-tiba… Oh, iya… Berhubung kali ini topiknya rada sensitip, tentang perkara keimanan masing-masing homo sapiens, dan berhubung juga aku belum klarifikasi ke anak-anak di warung tentang boleh-tidaknya nama mereka kucatut, untuk kali ini terpaksa aku pake nama samaran sahaja ya? Iya, deh.

Oke, kita balik maning.

Jadi, pas aku nyampe di warung kemarin tiba-tiba sebuah tema esai langsung tersodorkan ke hadapanku. Kira-kira tema esainya begini: Jelaskan tentang kecenderungan orang-orang yang bermasalah dengan agama yang dianutnya kemudian mengklaim diri sebagai seorang agnostik! Sebutkan kemungkinan argumen mereka, dan apakah label agnostik lebih bergengsi daripada label teis?

Sebagai contoh kasus, terdapat kondisi dialog yang umum sebagaimana di bawah, seperti dikutip dari pernyataannya Mas Rashidi Yekini (tentu saja ini bukan nama sebenarnya, wong ini lak aslinya nama strikernya Timnas Nigeria jaman Piala Dunia ’94):

X: “Jadi Mbak ini agamanya apa?”
Y: “Oh, saya, sih, agnostik, karena saya percaya Tuhan itu 1 dan sama.”

Ngekek, nggak? Sahaya, sih, ngekek. Lha wong masih menganut teisme, kok, ngaku agnostik? Agnostik dari mana, coba? Dari Bojong Gede?

Tapi ya gitu itu… Itu kondisi yang jamak ditemui di Endonesa ketika kita bicara soal spiritualitas. Sekelilingku pun ada yang berpandangan macam demikian. Untuk mereka, mereka kuanggap lagi bingung sahaja. Kalau nggak bingung menentukan mana agama yang benar, setidaknya mereka bingung untuk menyebutkan istilah yang pas buat kondisi mereka. Jadilah mereka pada nyomot istilah yang sekiranya paten di kuping, bisa kedengeran keren macam hipster, karena mungkin mereka mbatin, alaaaaahh…nggak pa-pa kalau ternyata keliru dikit, toh paling-paling nanti lawan bicaranya juga sama nggak taunya. Yang penting keliatan pinter dan anti-mainstream.

Kondisi lumrah di Endonesa. Jajal, ada berapa orang yang suka berucap sekaligus ngerti arti dari kata “bajingan”, “kampret”, atau “sontoloyo”? Nggak banyak, boy!

Ini semprul dan bermasalah. Kembali kata Mas Yekini, masalahnya adalah ketika kita mau mengklaim diri sebagai sesuatu, ada rangkaian variabel dan parameter yang dianggap melekat dengan klaim tersebut. Lha, kalau berangkatnya aja sudah dari istilah yang ngawur, gimana diskusinya bisa dilanjutkan dengan sehat?

Aku sendiri biasanya suka nyela sebentar kalau ada lawan bicaraku yang menyebut istilah agnostik. Biasanya kupastikan dulu mereka tau artinya “gnostik” atau tidak, karena “a-” berarti “tidak” atau “tanpa”. Jadi a-gnostik adalah tidak gnostik. Cuma saja, sedikit yang bisa jawab kalau gnostik berarti “memiliki pengetahuan”, yang dalam konteks spiritual berarti memiliki pengetahuan tentang hal-hal rohani.

Jadi, kalau sampeyan ngaku agnostik – dalam konteks agama – ya maksudnya adalah sampeyan nggak punya pengetahuan tentang keberadaan Tuhan. Lebih ekstrim lagi, keberadaan tentang Tuhan nggak bisa dan mungkin nggak akan pernah bisa ente ketahui. Simpel. Itu aja, kok. Maka, kalau sampeyan menganggap Tuhan itu 1 dan sama tapi nggak bisa nyebut apa agama sampeyan, ya sampeyan tetap saja seorang teis. Agnostik sendiri masih bisa dibagi jadi agnostik teis atau agnostik ateis, dengan ide dasar yang sama: keberadaan ataupun ketidakberadaan Tuhan sama-sama nggak bisa dipahami.

Pendeknya, teis atau ateis itu berlandaskan kepercayaan, sementara gnostik atau agnostik landasannya ya pengetahuan. Paham klean?

Cuma saja kenapa istilah agnostik (yang ngawur) ini jadi kelihatan keren, Mas Daniel Amokachi (lagi-lagi ini aslinya nama striker Timnas Nigeria lainnya di Piala Dunia ’94) berpendapat kalau ini cuma soal kesan aja. Boleh jadi aslinya yang bersangkutan kepengen jadi ateis, tapi, kok, ya masih suka sambat perkara nasib buruk dan berharap ada mukjizat, sementara kalau ngaku sebagai orang beragama, kok, ya banyak perintah agama yang nggak sreg sama hobinya. Belum lagi ketambahan kesan kalau hidup sesuai tuntunan agama adalah hal yang old skool, yang udah nggak jamannya lagi, akhirnya pilihan dijatuhkan pada agnostik. Terasa cool, up-to-date, hipster, dan terdengar pintar – sejauh yang bersangkutan belum ketemu sama aku aja. Kalau ketemu, ya nanti ta’balik-balik semua pendapatmu! :mrgreen:

Lebih jauh lagi, perkara kayak gini sebenarnya kalau di-breakdown malah bakal makin runyam, lho. Kegeblekan para sentul kenyut ini malah jadi makin jelas terlihat. Sumpah! Misalnya aja gini:

“Kenapa kamu milih jadi agnostik (agnostik yang awur-awuran itu, -red.)?”

“Soalnya saya percaya Tuhan itu 1 dan sama.”

“Lha, Tuhan, kan, memang cuma 1 dan sama. Memangnya Tuhan ada banyak?”

“Iya. Tuhan-nya orang Islam sama orang Yahudi, misalnya. Itu beda.”

“Beda di mananya?”

“Ya beda. Tuhan-nya Islam, kan, Allah. Tuhan-nya Yahudi ya Yahweh.”

“Oh, cuma beda sebutannya tho? Kira-kira orang Islam bakal nyebut yang nyiptain orang Yahudi itu siapa?”

“Allah.”

“Kalau orang Yahudi, mereka bakal nyebut orang Islam ciptaannya siapa?”

“Yahweh.”

“Lha, berarti masing-masing akan beranggapan setiap manusia diciptakan dari Tuhan yang 1 dan sama, kan? Lalu di mana masalahnya?”

“Masalahnya saya nggak sreg sama ajaran agama yang sebelumnya saya anut.”

“Nggak sregnya di mananya?”

“Banyak.”

“Lha, gampang. Tinggal nyoba agama lain yang lebih sreg aja.”

“Nyoba gimana? Nanti kalau nggak sreg lagi gimana?”

“Ya ganti lagi. Gampang, kan?”

“Lebih gampang jadi agnostik. Toh Tuhan, kan, 1 dan sama.”

“Lha, kalau memang cuma 1 dan sama, ngapain yang lama harus ditinggal? Kan sama juga.”

“Nggak sreg sama ajarannya.”

“Kalau agama yang lain, ada yang sreg atau nggak?”

“Nggak tahu.”

“Lha, kalau nggak tahu ya dicari tahulah.”

“Nggak ada waktu.”

“Elhadalah! Jangan-jangan sama agama yang lama nggak sregnya juga cuma gara-gara nggak ada waktu buat nyari tahu, yang nggak disreg’in itu secara substansi memang benar-benar nggak sreg, atau cuma kesan awal sampeyan aja kalau hal itu nggak sreg sama sampeyan?”

Nah, bingung, kan?

Makanya… Makanya tadi ta’bilang, orang-orang ngawur yang ngaku agnostik itu kuanggap sedang bingung aja. Lebih tepatnya bingung karena malas. Malas nyari tahu binti malas belajar.

Misalnya, aku punya kawan, katepenya Islam tapi ngakunya agnostik. Begitu ditelusuri lebih lanjut ya hasilnya kayak dialog di atas itu: agama sebelumnya – yang masih tertera di katepenya – sebenarnya nggak pernah dipelajarinya sendiri lebih dalam. Malas. Karena malas akhirnya yang keluar ya kesimpulan dini. Kesimpulan dini bahwa dia nggak sreg. Padahal di agamanya yang sebelumnya sendiri ada paham rasionalistik Islam, istilahnya “ta’aqquli”, keimanan datang belakangan setelah – atau sakpol-polnya bersamaan dengan – akal. Jadi ya menurutku, agama apapun yang kita anut sebenarnya nggak boleh taken for granted. Nggak boleh itu. Temenku yang lain bilang, “Jangan percaya begitu saja, jangan tidak percaya begitu saja.” Makanya aku sendiri sempat ngaku agnostik. Agnostik yang a-gnostik, yang nggak tahu, yang bersamaan dengan itu aku merasa wajib mencari tahu, yang hasilnya bisa saja nantinya aku jadi seorang teis atau ateis.

Maka ya kesimpulannya sebenarnya sama saja. Orang yang beragama banyak yang bigot, yang kepengen kelihatan lebih cool dari yang dianggapnya bigot pun sebenarnya banyak pula yang bigot. Semuanya sebenarnya sama-sama berpangkal dari 1 titik: pengen kelihatan keren dengan jalan pintas. Malas belajar dan memilih “begitu saja”, yang berlaku juga untuk yang pindah agama hanya gara-gara nggak mau ditinggal sama pacarnya. Tapi yang terakhir ini adalah soal sensitip yang lain lagi. Kapan-kapan sajalah itu kubahas, bahwa pilihan sebiji homo sapiens untuk mengonversi agama lamanya – apapun itu – ke agama calon pasangan hidupnya – apapun itu juga – cuma supaya bisa nikah sebenarnya adalah perkara yang sama gebleknya 😈


Facebook comments:

  1. 6 Responses to “Kerennya Jadi Agnostik”

  2. Aku pernah bengong pas dengar temanku bilang agnostik itu percaya Tuhan tapi gak percaya agama. Cuma ya sudahlah. Karena aku malas ribut aku diamkan saja dia dengan kesesatannya.

    By Ranger Kimi on Nov 7, 2016

  3. Hmmm *manggut-manggut*

    By Payjo on Nov 7, 2016

  4. Ranger Kimi:::
    nggak boleh gitu…ada baiknya orang macam demikian itu kita beri tahu, supaya dia sadar kalau kita ini lebih pintar dari dia dan dia tidaklah sepandai yang dia kira 😎

    Payjo:::
    ada pertanyaan? kalo tidak, kelas hari ini selesai

    By Yang Punya Diary on Nov 7, 2016

  5. entah kenapa saya kok sering kepikiran serupa ini ya, bahwa ‘agnostik’ itu semacam kata ganti yang hipster sekali untuk sekadar ‘enggak tahu ah, nanti-nanti aja pokoknya begitu’. padahal sebenarnya kan ini posisi yang berat sekali karena tanpa pegangan sekali. ya bagaimana tidak, definisi praktisnya saja ‘serba tidak tahu’, begitu.

    di sisi lain posisi macam ini kan rawan juga jadi pembenaran-kegalauan-spritual-tapi-ogah-mencari-jalan. saya pribadi memandangnya agnostisisme itu sebagai fase perjalanan spiritual saja, pada taraf tertentu saya kira kita semua pernah lewat sana juga. (cuma mungkin ada yang betah, itu lain urusan sih)

    […] Sekelilingku pun ada yang berpandangan macam demikian. Untuk mereka, mereka kuanggap lagi bingung sahaja. […]

    ini saya setuju. dunia memang dipenuhi orang-orang bingung sepertinya.

    By yud1 on Nov 8, 2016

  6. ooo…kepikiran sama itu mungkin garagara bekgron akademis kita sama juga :mrgreen:

    cuma, ya itu dia, mungkin buat mereka, punya posisi yang berat itu keren sekali. mungkin pula menurut mereka, mereka malah mirip kayak peter parker, bahwa ‘with great power comes great responsibility’. atau mungkin semacam lukisan abstrak, di mana ‘saya bakal nampak artsy sekali kalo kelihatan paham sama lukisan abstrak. lumayan bisa naikin pamor di depan orangorang yang nggak paham lukisan abstrak’. padahal, sih, samasama nggak ngertinya. bedanya, yang 1 pengen kelihatan sok ngerti.

    pendeknya, kalo makin absurd (dianggapnya bakal kelihatan) makin keren 😈

    By Yang Punya Diary on Nov 9, 2016

  1. 1 Trackback(s)

  2. Nov 28, 2016: Imagine There’s No Stomach | The Satrianto Show: Beraksi Kembali!

Post a Comment