Kesripahan

Hari Minggu kemarin, waktu baru aja pulang dari Puerto Rico, aku ditelepon ibu. Ibu ngasih tau kalo Eyang Sukiatni – atau lebih ngepop dipanggil Yang Nik – meninggal setelah 1 bulan ini kondisi kesehatan terus menurun sejak jatuh di kamar mandi. Artinya aku harus pulang ke Solo secepatnya, padahal aku baru saja datang dari Puerto Rico.

Setelah menimbang-nimbang sejenak 2 jenak, kupikir boyokku bisa semplok kalo aku memaksakan diri untuk pulang ke Solo malam itu juga. Maka kuputuskan besok pagi-pagi saja aku berangkatnya.

Besok paginya lagi-lagi ibu nelepon. Ibu kedengeran masih syok dan ngendika sambil tersendat-sendat yang bikin aku jadi ikutan agak gimana gitu. Tentu saja aku sedih, John. Yang Nik itu adiknya eyang kakungku dari pihak ibu yang paling kecil. Aku jadi inget kalo sejak jadi mahasiswa, setiap pulang ke rumah Kestalan, aku selalu dipeluk dan diciumi sama Yang Nik sambil didoain supaya kuliahku cepat selesai. Sekarang, kayaknya nggak bakal ada kejadian kayak gitu lagi besok-besok 🙁

Maka aku segera cabut ke Lempuyangan, nyemplak di kereta api Prameks yang terlambat 2 jam (PT KAI memang kampret! Dikasih monopoli sama pemerintah malah jadi nggak memperhatikan kepuasan pengguna. Udah gitu ngakunya tiap tahun selalu merugi. Padahal sudah pakai sistem monopoli dan peminat perjalanan via kereta api berjubel banyaknya, kok ya berani ngaku rugi? Pada lari ke mana pemasukan mereka?) dan nyampai di Stasiun Balapan dengan disambut hujan deras. Untung aja Kestalan letaknya dekat dengan Balapan. Meski begitu, aku terpaksa berbasah-kuyup gara-gara nekat jalan kaki menembus badai dari Balapan ke Kestalan.

Dan akhirnya sampai sana aku mendapati jenazah sudah siap diberangkatkan. Yang Nik itu kebetulan kondisinya tidak punya putra maupun putri. Jadi sehubungan dengan hal itu, setelah ganti baju dan buru-buru shalat jenazah, aku selaku cucu keponakan tertua yang ada di situ kebagian peran sebagai pembawa fotonya Yang Nik di depan pasukan pengusung peti jenazah.

Kemudian setelah ritual brobosan (semacam simbol keikhlasan keluarga melepas kepergian almarhumah) yang tidak aku ikuti (bukan karena aku menganggap bentuk ritual itu sebagai bid’ah, Dab. Tapi aku nggak ikutan karena aku kebagian mbawa foto. Jadinya ya mana bisa aku ikut-ikutan mbrobos-mbrobos) jenazah pun diberangkatkan ke TPU Bonoloyo via mobil jenazah buat dimakamkan.

Facebook comments:

13 thoughts on “Kesripahan

  1. saya turut berduka cita mas joe. smg beliau mendapat tempat yang nyaman di akherat sana n diterima amal ibadahnya oleh ALLAH SWT, amien

  2. turut berdukacita…
    kestalan itu yg deket mangkunegaran bukan? kalo iya aku nitip patung samurai X yg kecil2 itu donk di Atria – halah – semoga mas joe cepet nylesein skripsinya, sesuai wejangan dan harapan eyang. anggep aja amanah. hehe. semangat mas..!!

  3. Goop:::
    terima kasih

    maxbreaker:::
    terima kasih juga.
    gabung di gravatar.com

    creez:::
    terima kasih (lagi)

    christin:::
    terima kasih (lagi (lagi))
    duit…duit…mana duitnya?

    cK:::
    terima kasih (lagi (lagi (lagi)))

Leave a Reply