Kita Serbu Puskom UGM!

Tulisanku kemarin yang membeberkan cerita kelemahan Puskom UGM ternyata menghasilkan dampak yang sempat membuatku terbangga-bangga dan terkaget-kaget, Bol. Tulisanku itu ternyata dikomentari oleh seseorang yang (jika itu betul) termasuk jajaran avant-garde dalam sejarah Puskom UGM, Pak Bambang Nurcahyo Prastowo.

Osh! Satrianto menggemparkan UGM lagi dari dunia maya!

(Halah…)

Di tulisanku kemarin itu Pak Bambang nulis komentar persis seperti yang di bawah ini:

Banyak perkara karena banyak pihak berminat menjadi administrator server web.ugm.ac.id. Sungguh pernah terjadi ada beberapa login root dari banyak arah sampai sshnya dimatikan oleh mas Agung. Selain itu, admin di PPTIK belum mampu melakukan cek keamanan script user yang terpasang di web server itu sehingga sering spammer, phising nyisip ke sana. Hosting di UGM tidak free, mahasiswa bayar cukup mahal, hampir sama dengan TK, SD, SMI, SMA elit di Jogja. Saya berusaha menjaga agar sistem dapat digunakan dengan baik.

Bila ada yang menemukan security hole di UGM, tolong laporkan ke pengaduan di pptik.ugm.ac.id; jangan disebarluaskan.

Aku sempat kaget sesaat dan membatin, hei, apa ini benar-benar Pak Bambang yang itu? Sampeyan serius?

Bagus juga kalo itu benar-benar Pak Bambang, pikirku. Setidaknya tulisanku itu mungkin hanya termasuk segelintir dari tulisan-tulisan yang ditanggapi yang lahir dari kekesalan mahasiswa-mahasiswa yang pernah merasa diperkosa oleh Puskom UGM. Malah mungkin, sangat besar kemungkinannya, bahwa tulisanku itu adalah satu-satunya tulisan tentang polah Puskom UGM yang direspon langsung oleh Pak Bambang.

Yeah, jika dan hanya jika komentator itu benar-benar Pak Bambang yang kumaksud 😉

Jadi aku juga curiga kalo komentator itu adalah Pak Bambang pelasu (baca: palsu, bego!)? Tentu saja. Kemungkinan itu selalu ada, kan? Lihat saja bahwa di website-website sebelah banyak sekali yang menyaru sebagai Roy Suryo, pakar telematika kita kebanggaan Indonesia yang legendaris itu, saking kagumnya 😈 Maka, bisa jadi, kan, kalo komentator yang urun rembug di tulisanku itu adalah Pak Bambang pelasu.

Seorang teman dekatku jaman esema, Agustini Leonita, yang sekarang sudah jadi dokter lulusan UI, pernah bilang ke aku, “Kalo aku baca novelnya Hercule Poirot, Tok, yang kebayang di otakku, Hercule Poirot itu seperti kamu.”

Ada yang belum tau siapa itu Hercule-apa-itu-tadi? Mari, mari, sini, mendekat ke aku. Aku kasih sedikit tambahan informasi kalo Hercule Poirot itu adalah salah satu tokoh detektif ngetop rekaannya Agatha Christie. Mungkin Leo benar, karena Poirot – seperti digambarkan di novelnya – adalah seorang pria kecil dengan kebiasaan-kebiasaanya yang (lagi-lagi) menurut Leo sangat mirip dengan aku.

Poirot itu tidak pendiam. Justru sangat rewel, kayak aku. Salah satu kebiasaan jeleknya – menurut Kapten Hastings, partnernya – adalah suka menyombongkan dan menilai tinggi dirinya sendiri. “Di antara semua orang yang kukenal, kamulah yang paling suka menilai tinggi dirimu sendiri!” bentak Kapten Hastings kesal di salah satu serialnya yang berjudul “Misteri Bintang Barat”.

Aku juga sering dicap sebagai makhluk narsis. Bahkan Chika, makhluk narsis nomor 1 sejagat WordPress Indonesia, juga mengatakan kalo kadar narsisku jauh lebih parah dari dia. Tapi seperti tanggapan Poirot kepada Kapten Hastings, aku juga menanggapi cap narsis yang melekat di sekujur badanku dengan kata-kata: “Mau apa lagi? Kalau kita memang lain dari yang lain, kita tentu menyadarinya! Dan orang lain pun melihat hal itu.”

Dan hubungannya dengan komentar Pak Bambang adalah bahwa aku mendadak merasa seperti Hercule Poirot. Aku menemukan kejanggalan yang terdapat dalam komentar yang ditulisnya itu. Coba saja perhatikan. Lihat baik-baik komentar yang kusalin di atas, dan temukan 2 kontradiksi besar di antara 2 paragraf terakhirnya. Silakan lihat di paragraf terakhir, orang yang sementara kita asumsikan sebagai Pak Bambang itu menulis kalo kita menemukan lubang keamanan di Puskom UGM, maka diharapkan supaya kita jangan menyebar-luaskannya. Selanjutnya silakan lihat paragraf sebelumnya dan simpulkan siapakah yang mengumumkan kelemahan-kelemahan sumber daya di Puskom?

Hohoho, kontradiktif, kan? Iyalah. Makanya aku agak nggak percaya kalo komentator itu adalah Pak Bambang asli. Kecuali kalo imej dari Pak Bambang yang kutangkap selama ini ternyata tidak sesuai dengan karakter aslinya, agak sulit buatku untuk yakin kalo ketololan seperti itu bisa dilakukan oleh Pak Bambang.

Aku memang belum paham tentang kebijakan sebuah institusi pendidikan karena aku belum pernah berkubang di dalamnya. Tapi yang aku tau, kalo kebijakan korporat, jangan pernah membeberkan kelemahanmu sendiri kepada publik! Di kuliahku yang satunya di MSD dulu, aku diajarin kalo bikin iklan itu buatlah sebagaimana mungkin supaya calon konsumenmu tertarik. Jangan malah jeleknya yang dikasih tau. Mana ada, tho, iklan rokok yang nampilin gambar kalo konsumennya sedang koma di rumah sakit gara-gara kanker paru-paru?

Tapi sementara ini aku nggak mau beranggapan demikian. Aku justru sedang ingin bercinta, aeh, sedang ingin untuk percaya kalo komentator tersebut adalah Pak Bambang asli. Karena apa? Karena, eh, karena jika orang tersebut bukan Pak Bambang pelasu, maka aku merasa tulisanku sebelumnya itu tidak sia-sia. Aku merasa tulisanku mengarah pada sasaran yang tepat. Bull’s eye!

Sejak aku nulis tentang kebosokan UGM (yang membuatku pontang-panting nyari utangan) untuk pertama kalinya yang kemudian di-review singkat oleh Mas Enda Nasution, cuma sedikit dari tulisanku yang bisa ditanggapi langsung oleh yang bersangkutan. Cuma ada 1 dosen saja yang pernah menanggapi tulisanku tentang pandanganku terhadap Ilmu Komputer UGM: Pak Khabib Mustofa. Sisanya? Bah! Tulisanku yang mati-matian menghujat birokrasi di kampus MIPA tidak pernah dapat tanggapan dari yang jajaran petinggi fakultasku itu. Bahkan saran langsungku tentang pemanfaatan teknologi informasi secara optimal untuk kenyamanan penghuni MIPA di website-nya yang butut itu kayaknya tidak pernah ditindak-lanjuti (mungkin itulah bedanya antara penggede yang melek IT dengan yang buta huruf, eh, buta IT). Entah adminnya yang cuek bebek atau memang penguasa di kampusku yang nggak pedulian dengan kemajuan institusi yang dipimpinnya, aku nggak paham. Sebel, deh, ih!

Makanya sekarang aku justru senang kalo seandainya komentator itu adalah Pak Bambang asli. Aku bisa melanjutkan hujatanku terhadap Puskom dengan bahagia, hahaha. Okelah, mulai saja satu demi satu (dan kalo yang kemarin itu Pak Bambang pelasu, semoga sekarang tulisanku ini dilihat oleh Pak Bambang asli). Jangan khawatir, ini bukan tentang Akismet lagi, kok. Ini tentang sesuatu yang menurutku jauh lebih fatal dari itu, meskipun menurutku tetap saja tanggung jawab terhadap kenyamanan user secara teknis sepenuhnya berada di tangan sang penyedia layanan jasa.

Hosting di UGM tidak free, mahasiswa bayar cukup mahal, hampir sama dengan TK, SD, SMI, SMA elit di Jogja.

Bagus! Ternyata sadar, kan, kalo hostingan di Puskom itu nggak gratis? Nah, sudah tahu kalo mahasiswa dibebani dalam pembiayaan dan pengadaan hosting itu, lalu kenapa sekarang pelayanannya buruk sekali? Susah diakses dari luar lingkungan kampus UGM dan tiap weekend servernya down. Ada apa ini? Aku nggak yakin kalo kemampuan sumber daya manusianya yang kurang. Aku malah su’udzon kalo memang Puskom yang nggak mau membiarkan pasukannya mengoptimalkan sumber daya yang mereka punya. Puskom, kan, isinya jagoan-jagoan IT se-UGM (tolong jangan sertakan nama pakar telematika kebanggaan kita itu yang bergelar A.Md. alias ahli metadata). Nyatanya teman-teman seangkatanku yang dulu sempat transit di Puskom pada “jadi” semua di tempatnya bekerja sekarang.

Hei, utamakan kenyamanan pelanggan, dong, ah. Pembeli itu, kan, raja meskipun bukan raja dangdut. Wong yang mbayar mahal itu kami-kami, kok.

Sudah banyak, Dab, keluhan-keluhan tentang kinerja hostingan di Puskom. Memang, sih, kebanyakan berupa keluhan offline via obrolan angkringan ala mahasiswa. Tapi Mas Murti (yang blognya) almarhum itu sudah pernah nulis juga, kok. Mas Trojan malah sempat meneriakiku curang begitu tau aku memposting tulisanku yang kemarin itu. Dia bilang kalo dia sebenarnya juga mau menulis tentang keluhan yang sama di blognya tapi sudah keduluan aku. Istilahnya, dia merasa disalip seko kiwo sama aku.

Aku bilang, kalo mau tulis ya tulis aja. Tapi Trojan nggak kayak aku yang cenderung spontan dalam bereaksi; pukul dulu urusan belakangan. Trojan bilang kalo dia mau ngumpulin testimonial dukungan dulu yang bakal memperkuat tulisan tentang kesaksiannya terhadap kinerja hostingan di Puskom.

Mas Agoenk yang pernah mengepalai 1 batalyon prajurit technical-support untuk acara Jogja Information Technology Session (Joints) 2007 mungkin sempat merasakan bagaimana rasanya dipisuhi peserta Programming Competition Session tingkat esema dan sederajat itu.

Ceritanya, jaman dulu waktu mau ngadain lomba programming tingkat nasional itu, panitia Joints memutuskan untuk mengadakan seleksi untuk babak final online via web karena agak mustahil kalo mendatangkan semua jagoan IT tingkat esema ke Jogjakarta untuk berlomba. Panitianya memutuskan untuk hosting webnya di Puskom saja karena pertimbangan beberapa hal: nama domain yang UGM yang diharapkan bisa membawa nama almamater, kapasitas storage yang lebih dari cukup, serta yang paling penting adalah bahwa fasilitas itu bisa didapatkan dengan gratis!

Tapi apa yang terjadi? Meskipun sudah que serra serra, waktu itu panitia Joints dihujani caci-maki oleh peserta. Webnya sulit diakses dari luar dan kalopun bisa diakses keadaannya menyedihkan. Lemot banget, John. Jangkrik! Nama baik Himakom sebagai penyelenggara jadi buyar!

Makanya, buat Joints besok ini aku kepengen bilang ke panitianya, “Sudahlah, Mas Landhes… Daripada buang-buang duit buat beli hostingan di luar, pake saja space hostingku. Nanti nama domainnya pake yang gratisan saja. Space hostingku kupinjamkan dengan gratis, dengan catatan cantumkan brand-ku sebagai sponsor dan ijinkan aku memajang script dari AdSense di webnya itu nantinya.” Gyahahaha… 😆

Bila ada yang menemukan security hole di UGM, tolong laporkan ke pengaduan di pptik.ugm.ac.id; jangan disebarluaskan.

Jangan disebar-luaskan? Jangan disebar-luaskan bagaimana? Wah, kok kesannya nggak paham advantages dari sebuah weblog, sih?

Salah satu versi tentang lahirnya istilah weblog yang paling kusukai adalah, konon, weblog itu lahir ketika seorang pegawai sebuah perusahaan dimarahin oleh atasannya. Merasa kesal, akhirnya si pegawai itu membuat sebuah website yang isinya cacian, makian, hujatan, pisuhan, dan rekan-rekan buat atasannya yang kampret itu.

Jadi, menurutku, weblog itu berfungsi sebagai pengetatan kontrol sosial dari sebuah sistem. Dengan adanya weblog dan kemudahan pengoperasiannya seperti jaman sekarang ini, orang jadi bakal lebih berhati-hati dalam bertingkah. Pakar telematika kita yang legendaris itu tentu paham bagaimana rasanya ketika blogger-blogger dari seluruh Indonesia menyoroti segala sepak-terjangnya.

Ketika kita membuat sebatang blogger kecewa akibat perlakuan kita terhadapnya (misalnya ketika kita makan-makan rame-rame tapi nggak mau urunan mbayar), waspadalah! Bisa-bisa polah kita itu bakal dijadikan bahan postingan. Lebih waspada lagi jika makhluk yang kita kecewakan itu adalah seorang blogger ngetop. Bersiaplah kalo nantinya seluruh jagat pewayangan bakal tau kalo kita adalah wayang nggak becus yang sudah mengecewakan wayang lainnya.

Weblog membuat kontrol sosial jadi semakin ketat. Kita jadi semakin hati-hati dalam bertindak supaya jangan sampai mengecewakan orang lain. Kondisi ini tentunya juga bakal mendorong sebuah korporat untuk bertingkah semakin profesional, menjaga mutu produknya. Sekali mengecewakan seorang konsumen yang kebetulan adalah blogger papan atas Indonesia (peringkat 70 dari 100 blogger terbaik di Indonesia, mungkin :mrgreen: ), korporat yang kita pimpin bakal diganyang!

Apa keuntungan dari menjaga hubungan baik dengan konsumen kita? Ah, belajar pemasaran saja.

Dan balik ke masalah hujatan terhadap Puskom itu tadi, aku akui ini memang kritikan bernada sarkas. Kenapa aku pilih nada yang macam begini? Sederhana. Sebentar lagi – insya Allah – skripsi baruku selesai. Sehubungan dengan itu, rasanya nggak enak kalo aku cabut dari Gadjah Mada tanpa meninggalkan kehebohan di dalamnya. Bolehlah aku berharap untuk menimbulkan kesan yang mendalam buat almamaterku ini. Aku pengen adik-adik kelasku besok setidaknya pernah mendengar namaku disebut-sebut sebagai legenda: Satrianto, sang bajingan pembuat onar 😈

Karena itu aku berharap semoga saja yang kemarin merespon tulisanku itu adalah benar-benar Pak Bambang, dan nantinya bakal ada peningkatan performa di Puskom. Jika itu betul, maka, ayo, berbarislah bareng aku. Rapatkan shafnya, kita sama-sama menyerbu Puskom UGM. Meniru kata-kata Mas Aphip ketika kampanye untuk pemilihan ketua umum Himakom di penghujung tahun lalu, aku pengen berkata juga, “Mari membuat sejarah bersama saya,” mumpung tulisanku ditanggapi langsung sama yang berwenang di Puskom.

Terakhir, seperti komentar yang pernah kuterima buatku dari Mbak Dilla, aku nggak pernah bisa menjawab dengan tegas apakah segala misuh-misuhku ini kulakukan karena aku memang benci atau justru karena aku sayang banget sama UGM? Benci dan cinta, kan, bedanya tipis.

Bah! Cinta? Makan itu cinta! Aku cuma pengen namaku menjadi sebuah legenda.

Facebook comments:

55 Responses to “Kita Serbu Puskom UGM!”

  • free porn says:

    No matter if som? one sea?ches for his vital thing, theref?re he/she needs to ?e
    available that in detail, thus that thing is m?intained
    over here.

  • xxx says:

    Howdy v?ry nice web site!! Guy .. Beautifu? ..
    Amazing .. ? will bookmark your site and take the f?eds ad?iti?nally?
    I’m satisfi?d to seek out so many useful info here within the put up, we’d like develop
    more techniques on this regard, thanks for sharing. . .
    . . .

  • free movies says:

    ?f you desi?e to take a great deal from this p?ece of writing then you have to ap?ly these ?trategies to your won webpage.

  • ??????? says:

    ?h?nks f?r finally talking a?out > Kit? Serbu Puskom UGM!
    | The Satrianto Show: ?eraksi Kembali! < Loved it!

  • xxx movies says:

    Th?t is a ?ery good t?p especially to tho?e fres? to th? blogosphere.
    Brief but very precise information… T?ank you for sharing
    this one. A must read article!

Leave a Reply

Kitab Wangsit
SUDAH TERBIT!
Kitab wangsit karangan Mas Joe, idola masa kini para remaja putri. Mumpung bakulnya masih buka, mari segera dikonsumsi!

Cocok untuk dibaca sambil ngemil kuaci ataupun sebagai teman semedi di kamar mandi.

Minatkah?

Kalau minat, bolehlah klik di SINI untuk segera membeli. Buruan! Minggu depan harga naik tiada karuan.

Berlangganan Wangsit

Masukkan alamat email sampeyan:

Ceriakan hari-hari sampeyan dengan rutin membaca wangsitnya Mas Joe

Si Sumber Wangsit
Anindito Baskoro "Joe" Satrianto

Detektif Negeri Sipil | Penonton James Bond | Pembaca Hercule Poirot | Liverpudlian | Rockstar | Errr... Thirtysomething Player

Iklan Layanan Masyarakat
Almanak
Wangsit Bergambar




SEO Powered By SEOPressor