Layla & Majnun: Laki Bukan, Sih?!

Sebenarnya dan sejujurnya, aku ini nggak pernah punya niatan jadi misoginis. Cuma, ya gara-gara dari kecil dapat hardikan kalau anak cowok itu nggak boleh cengeng, laki-laki itu harus begini dan begitu, mau nggak mau pola pikir keberpihakan macam barusan jadi tertanam di benakku. Citra ideal seorang laki-laki jadi terbentuk berdasarkan apa yang sejak balita aku terima, dengan seolah-olah jenis kelamin yang satunya lagi boleh dan wajar untuk bertindak apa yang tidak boleh ditindak-tanduki oleh seorang pria.

Hanya saja gara-gara beberapa temanku yang cewek sekarang ini banyak menunjukkan kecenderungan untuk menjadi seorang feminis, maka beberapa makian yang biasa kulontarkan kepada sejawatku jadi kukurangi porsinya. Sekarang, tiap ketemu lelaki cengeng, aku cuma misuh, “Lanang, kok, nangisan?!” Padahal dulu pastilah kata-kata tersebut bakal kulanjutkan dengan, “Kaya wadon bae!” 😛

Contoh lainnya lagi – bagi kalangan laki-laki di kumpulanku – ada fatwa dari sejawat Habibana Gentho Wibawa, Lc., M.A. yang berbunyi:

Ada 3 hal yang harus bisa dipegang dari seorang laki-laki. Pertama, prinsipnya; kedua, omongannya; ketiga, manuknya.

Fatwa demikian itu tentu saja jadi tidak berlaku lagi ketika aku harus berbicara di depan hadirin yang jenis kelamin wanita. Soalnya kontraproduktif, selain juga terkesan mengotak-kotakkan.

Kontraproduktif bagaimana, Mas Joe?

Kontraproduktif begini, Adik Cantik… Kalau omongannya si Gentho itu kupakai, tentunya hal tersebut mengesankan bahwa hal itu cuma berlaku khusus bagi laki-laki, perempuan nggak boleh kebagian. Padahal, kan, ya nggak gitu juga. Selain meminggirkan peran wanita, jika kita memaksakan omongannya Gentho untuk kita pegang, hal itu kontraproduktif pula karena kesannya laki-laki itu pantang mencla-mencle, sementara perempuan boleh kibul sana kibul sini. Berubah-ubah nggak pa-palah, namanya juga wanita, harus selalu dimengerti karena wanita memang ingin dimengerti. Lha, kok enak? Semprul betul ADA Band itu.

Laki-laki, katanya nggak boleh nangis, sementara wanita boleh. Memang hal yang begini ini njomplang sekali keadilannya. Laki-laki dipaksa harus kuat, nggak boleh ini, nggak bisa begitu. Padahal apa salahnya kalau laki-laki meratap? Ini, kan, sama saja dengan apa salahnya kalau wanita naik-naik genteng buat mbenerin antena tivi. Iya tho? Iya tho?

Makanya…makanya jauh di lubuk hatiku sebenarnya aku ini nggak setuju sama kotak-kotak model kayak gitu. Omongan si Gentho itu seakan-akan menempatkan lelaki sebagai kaum “harus”, sedangkan perempuan sebagai kaum “maklum, dong, ya”. Enak saja! Sudah seharusnya – kecuali soal manuk – wanita harus bisa dipegang prinsip serta omongannya juga. Hal demikian itu berlaku pula bahwa pria pun berhak untuk cengeng.

Cuma namanya hidup di dunia ini, kan, seringnya memang bukan utopia. Gara-gara doktrin sejak kecil itu tadi akhirnya aku tetap menganggap kalau laki-laki nggak boleh cengeng, pantang panik, berhati baja, serta tetap logis dalam segala kondisi. Pikiran bawah-sadarku akhirnya tetap saja mengarahkanku kepada keadaan yang bukan utopia kayak di atas itu tadi.

Jadilah aku mangkel-mangkel waktu membaca “Layla & Majnun”-nya Nizami Ganjavi, terutama dengan tingkahnya Qais – yang nantinya dapat julukan sebagai “majnun” alias gila – yang benar-benar aduh, nggak tau, deh, aku harus bilang apa sama jenis laki-laki macam begini. Nangisan, plin-plan, nggak pedulian, ngambekan, yang semuanya bisa ta’rangkum dalam 1 kata: blo’on!

Tapi tentu saja nggak tepat kalau kekesalanku ini cuma kualamatkan ke Qais sendiri. Pengarangnya tentu harus ambil bagian, dong. Beliau harus rela buat kusalah-salahin juga. Karena apa?

Karena begini…

Kisah cinta Qais versus Layla ini sebenarnya memang bertema klasik, sih, kayak Sampek sama Engtay atau Romeo sama Juliet atau Mas Joe sama…ah, nggak jadi, ah. Malu akunya. Pokoknya kisah cinta ini adalah kisah cinta yang nggak direstui sama keluarga besar masing-masing pasangan. Gembelnya, di novel yang kubaca ini sama sekali nggak dijelaskan apa penyebab awalnya kenapa kedua keluarga tidak merestui hubungan masing-masing anaknya.

Kalau Romeo sama Juliet, kan, jelas. Kedua keluarga besar tersebut memang terlibat permusuhan dan persaingan turun-temurun. Sampek-Engtay juga begitu. Jelas. Jelas-jelas bahwa pasangan ini adalah korban perjodohan paksa dari pihak keluarga wanita, macam Samsul Bahri sama Siti Nurbaya.

Nha…dibandingkan dengan kedua (eh, malah 3, ding) kisah cinta di atas, bahkan dengan kisah cintanya Mas Joe yang malu buat diceritakan itu tadi, penyebab kenapa Qais dipisahin sama Layla ini nggak jelas. Tau-tau aja kedua anak manusia ini diceritain sudah pisah begitu saja. Layla dilarang buat ketemu Qais lagi, bahkan kena sial harus menjalani tahanan rumah.

Kontan – ini klasik sekali, sih – si Qais jadi sutrisno (baca: stress, geblek!). Doi kerjanya jadi luntang-lantung sambil nggremeng sendiri. Bagusnya, sih, gremengannya punya pilihan kosakata yang sip, yang akhirnya jadi puisi. Orang-orang di sekitarnya kemudian terpesona sama pilihan kata-kata dalam rangkaian racauannya. Maka puisinya lantas menyebar ke seluruh Arab.

Tapi walaupun puisinya bagus, namanya orang stress ya beda sama orang waras. Qais kalau nggak nangis ya malah teriak-teriak. Semuanya tentang Layla. Kelanjutannya, Qais malah jarang mandi, bajunya nggak ganti-ganti sampai belel sekali, yang kemudian sobek sana-sini, yang kemudian lagi dilanjutkan dengan ketelanjangannya.

Yang beginian tentu saja bikin aku sebagai pembacanya kesal seperempat mati. Kalau boleh aku malah kepengen njedotin kepalanya Qais ke tembok sambil bilang, “Kamu itu cuma perkara mainmu kurang jauh, pulangmu kurang malam, temanmu kurang banyak! Di luar sana banyak wanita yang lebih mempesona ketimbang Layla, misalnya pacar saya, Blog, Goblooooggg!!”

Iya lho, si Majnun ini memang cuma kurang membuka diri sahaja. Jujur, aku dulu juga sempat hampir kayak gitu. Hampir cuma menganggap mantan pacarku yang pertama di Jokja adalah segalanya. Cewek lain kalah semua. Tapi tentu aku nggak mau jadi kayak Qais, lha wong uang kuliah aja masih dibayari orang tua. Aku jadi merasa kayak ada janji yang harus kupenuhi dulu sama sponsorku, dan janji itu cuma bakal bisa kulunasi kalau akunya dalam keadaan waras.

Maka akupun bertahan untuk tetap kuliah sampai akhirnya nemu adik kelas. Celakanya ceritaku sama adik kelas ini berakhir juga dengan babak-bundas. Cuma di situ aku ngerasa, perasaan kehilanganku yang kemarin sama si mbak yang pertama ternyata, kok, nggak ada apa-apanya ketimbang mbak yang berikutnya ya? Adik kelas yang akhirnya digondol orang ini menyadarkanku bahwa tiada gading yang tak retak, tiada gadis yang tak tergantikan…selama kitanya mau membuka diri.

Perihal mbak mantan yang pertama itu tadi, sungguh mati perasaan kehilanganku yang waktu itu niscaya cuma bakal kayak seujung kuku kalau ternyata mbak yang sekarang ini ikutan minggat juga. Nantinya – kalaupun mbak yang sekarang ini ternyata positif minggat – aku juga yakin kalau besok, pas aku kehilangan mbak yang berikutnya, perasaan kehilangan mbak yang sekarang akan kalah sama perasaan kehilanganku besok.

Begitu.

Berulang-ulang.

Terus-menerus.

Masalahnya, si Qais nggak memahami hal-hal seperti yang kupahami. Ya namanya juga orang gila. Orang gila, kok, disuruh paham? Mana bisa!

Itu kekesalanku sama Qais secara global. Kalau mau di-breakdown lebih detail lagi, banyak peristiwa yang terjadi sama si Qais yang bikin aku sebagai sesama laki-laki gregetan sumpah mati!

Diceritakan bahwasanya bapaknya si Qais merasa terenyuh dengan kondisi anaknya. Akhirnya si bapak berinisiatif mendatangi papanya Layla untuk melamarkan Layla buat anaknya.

Tadi sudah kubilang bahwa di novel ini nggak jelas apa penyebabnya Qais sama Layla dipisahkan oleh orang tua mereka masing-masing, maka di sini aku juga heran sama alasan papanya Layla waktu menolak lamaran tersebut. Katanya, “Yang bener aja, boyyy… Anak situ, kan, gila. Masak iya saya rela menikahkan putri saya dengan lelaki gila?”

Iya, alasan penolakannya cuma sebatas itu 🙂

Lha, ganjil, kan? Kalau gitu kenapa pas belum gila si Qais dilarang pacaran sama Layla? Apa coba alasannya? Masak alasan penolakan lamarannya adalah cuma kondisi riil yang terjadi pada saat ini? Masak alasan itu tidak ditambahi dengan alasan prinsip yang menjadi dasar keputusan pada tempo-tempo sebelumnya? Waton!

Cuma saja si Majnun ini memang majnun. Begitu dikasih tau sama bapaknya kalau lamarannya ditolak sama papanya Layla gara-gara dia majnun, si Majnun bukannya insyaf. Bukannya berusaha untuk menemukan kembali lagi kewarasannya supaya ada peluang lamarannya diterima, ealah…si Majnun malah memilih untuk bertingkah lebih majnun lagi. Majnun kabur, minggat ke padang gurun sebagai tanda kengambekannya.

Hih! Lanang dudu, sih?!

Nhaaa…pas dalam masa pengisingan, aeh, pengasingan mandirinya di gurun itu tadi, dikisahkan ada seorang pemuda bangsawan kaya-raya yang simpati sama nangsipnya Qais. Setelah berhari-hari mencari Qais ke seluruh penjuru gurun, pemuda baik hati dan kaya-raya (yang kita sebut bernama Mas Joe saja ya!) ini akhirnya ketemu sama Qais. Qais dibujuk untuk pulang ke istananya. Pemuda itu berjanji akan membawakan Layla dengan cara apapun juga ke hadapannya Qais, dengan jalan kekerasan sekali pun, asal Qais mau berjanji untuk jangan gila-gilaan lagi.

Setelah diiming-imingi macam itu, Qais menyanggupi. Selama beberapa waktu Qais tinggal di istananya Mas Joe, bertingkah normal, gilanya hilang. Selang beberapa bulan, Qais menagih janji. Sebagai laki-laki yang mengikuti madhzab Al-Genthoiyah – seperti yang sudah diceritakan di awal tulisan ini – Mas Joe segera menyiapkan angkatan perangnya. Pasukannya dikumpulkan untuk menyerbu ke kompleks perumahan papanya Layla. Pedang, golok, samurai, bahkan sampai gir motor tidak lupa dibawa-serta demi tawuran yang taruhannya nyawa.

Eee…mbelgedes! Begitu tawuran berlangsung, Qais malah merasa bersalah sama keluarganya Layla. Mereka digagahi sama pasukan tempurnya Mas Joe. Qais diam-diam malah mendoakan supaya Mas Joe kalah saja, biar keluarga besarnya Layla yang menang. Dianya sendiri malah kabur dari medan jurit. Bangke!

Sayangnya, namanya saja Mas Joe…pantang bagi beliaunya untuk kalah. Mas Joe menang, papanya Layla dipiting dengan jurus ala jiu-jitsu-nya keluarga Gracie. Kata papanya Layla, Mas Joe dipersilakan untuk mengambil apa saja. Hanya 1 hal yang bakal ditolaknya meski harus menggadaikan nyawa: menyerahkan Layla ke Qais.

Lho, padahal, kan, Qais sudah nggak gila? Kemarin lamaran bapaknya Qais ditolak alasannya gara-gara Qais gila. Sekarang Qais sudah nggak gila, tapi, kok, masih ditolak juga? Jadi alasan penolakan yang sebenarnya itu apa, sih? Heran, deh, ih!

Akhirnya gara-gara papanya Layla bersikeras menolak, Mas Joe memilih pulang saja. Lagipula orang bego yang niat dibantunya juga malah lenyap lagi entah di mana gurunnya (ingat, ini Arab. Di situ jarang ada rimba).

Bangsat bener Qais ini! Sudah ngerepotin orang, nggak konsisten pula! Laki bukan, sih?!

Diceritakan pula pada suatu ketika bapaknya Qais akhirnya meregang nyawa. Mungkin tekanan batin gara-gara punya anak tapi gila. Qais pun merasa bersalah, terutama kepada ibunya. Qais bingung, siapa yang sekarang menemani dan merawat ibunya?

Kebetulan ibunya Qais juga kangen sama Qais. Kangennya beneran kangen yang sudah nggak tertahankan. Konon itu semua gara-gara si ibu merasa ajalnya sudah dekat. Maka dicarilah Qais dari gurun ke gurun. Alhamdulillah ketemu. Qais bahagia, ibunya juga bahagia. Keduanya melepas kangen.

Eee…brengsek! Pas ibunya minta Qais buat pulang, bocah edan itu nggak mau. Dia ngerasa kalau sudah takdirnya untuk hidup telanjang di alam liar macam meganthropus paleojavanicus. Lha, kalau akhirnya nggak mau pulang, ngapain sebelumnya sok-sok’an bingung perkara siapa yang bakal ngerawat ibunya? Pancen orang gila! Sudah gila, durhaka pula!

Terus akhirnya ibunya Qais pulang. Nggak lama kemudian ibunya Qais meninggal. Qais yang setelah beberapa lama akhirnya mengetahui kabar itu kontan menangis tersedu-sedu. Lagi-lagi dia merasa bersalah. Bersalah? Ealaaaah…telat boyyy!!!

Tapi suatu saat si Qais bolehlah berbahagia. Kebiasaannya ngomyang nggak cetho soal penderitaan cintanya yang akhirnya jadi puisi dan beredar dari mulut ke mulut akhirnya membuat seorang pria tua (kali ini janganlah kita menyebutnya bernama Mas Joe) bersimpati juga. Mbah-mbah inilah yang akhirnya jadi perantara Qais dan Layla buat bersurat-suratan. Mereka saling melepas rindu lewat surat tanpa perangko.

Sampai pada suatu hari Layla kangen setengah mati. Kekasihnya yang cuma bisa dijumpainya lewat surat ini ingin sekali ditemuinya. Lewat sebuah keberuntungan, Layla akhirnya bisa kabur dari penjara rumahnya. Dengan diantar sama mbah-mbah itu tadi, akhirnya mereka berdua bisa bertemu.

Cuma saat keduanya bertemu mata, Qais tiba-tiba menghentikan langkahnya ketika jarak antara mereka tinggal 20 meteran. Qais tiba-tiba membalikkan badannya dan berlari. Si blo’on malah menghindari kekasih yang sudah di depan matanya. Konon, hal tersebut tidak cocok dengan takdirnya sebagai pecinta sejati. Lha, gimana, sih?

Sungguh mampus aku heran sama si Qais ini. Padahal kalau aku yang ada di posisi demikian, pasti sudah bisa ditebak kalau wanita pujaanku itu bakal langsung kugelandang ke hotel. Bukan apa-apa…kasian aja, masak cewek cakep mau kuinepin di gurun pasir? Kalau pas lagi tidur tau-tau diterkam serigala gimana coba? Itu juga kalau serigala beneran. Lha, kalau serigalanya ternyata serigala jadi-jadian? Apa sang wanita malah nggak jadi korban pencabulan paksa?

Aku benar-benar heran sama kelakuan si Majnun ini. Kondisi macam cerita di atas ini benar-benar tertolak oleh akal sehatku. Mana ada, sih, ceritanya kepengen bersanding di pelaminan tapi nggak mau mengusahakan? Tambahannya, waktu cita-citanya nyaris jadi kenyataan, yang bersangkutan malah menolak dan menyia-nyiakan kesempatan. Kisah romansa macam apa itu, coba?

Ya ini. Itu cerita macam ini. Macam ceritanya Qais sama Layla yang bikin aku nggak habis pikir ini!


Facebook comments:

6 Comments

  • Kristal |

    wah, panjang. ngomong-ngomong soal alasan kenapa nggak direstuinya laila dan qais itu jebul beda-beda. aku pernah baca, satu literatur bilang kl hubungan mereka ditentang karena masih di bawah umur (laila 12th qais 13th).

    referensi lain bilang kl bapaknya laila ga sudi punya mantu orang gila macam qais yg hidupnya cuma dihabisin buat nulis syair sejak di maktab (nggak ngerti ini apa, pesantren mungkin). nah, tapi bukannya qais itu justru gila garagara ga boleh pacaran sama laila?

  • Takodok! |

    Apa mungkin Qais terlalu memahami wanita sampai ikut-ikutan plin plan? #ehmaap

So, what do you think?