Maaf dan Maklum

Besok sudah puasa. Dan seperti yang terjadi semenjak nyaris 2 dekade yang lalu, biasanya banyak pesan yang masuk ke hapeku. Isinya rata-rata pada ngucapin selamat menunaikan ibadah puasa sambil tidak lupa minta maaf lahir batin. Permohonan maaf lahir batin inilah yang dulu – waktu awal-awal dapat pesan macam itu – membuatku sempat heran.

Bagaimana aku nggak heran, wong itu tradisi baru buatku. Aku ini lahir dan gede di Denpasar. Dari lahir sampai lulus esema di sana, yang aku tahu, tradisi minta-mintaan maaf adanya cuma pas Idul Fitri. Pas menjelang puasa sama sekali nggak ada. Begitu kuliah, merantau pergi dari Bali, barulah aku mendapati hal yang seperti itu. Makanya aku agak kagok juga.

Dan seperti yang antum ketahui, aku ini kuliah di Jokja, yang selain ngetop sebagai kota pelajar juga ngepop sebagai kota plesetan. Salah 1 contoh shahihnya adalah produk kaosnya Dagadu. Celakanya aku ini kuliah di Gadjah Mada, je. Tentu di situ aku dapat komunitas yang sangat kompetitif untuk ukuran Endonesa. Maka walaupun guyonan plesetan tetap jadi budaya, kelihatannya anak-anaknya nggak puas kalau cuma mainan plesetan yang biasa, yang umum-umum saja.

Teman-temanku itu lucu-lucu. Mereka nggak puas dengan plesetan secara verbal. Seringnya mereka malah bikin plesetan yang lebih substansial secara emosional. Misalnya, kalau ada anak baru di kampus kami yang bilang, “Maaf, Mas, saya mau tanya…”

Oleh salah 1 oknum seniornya, kepengenan anak malang itu langsung dipotong, “Ya, saya maafkan. Lain kali jangan diulangi lagi ya!”

Iseng betul, kan?

Tapi ya memang begitulah kami. Mungkin kami kepengen nyindir orang lain supaya mereka paham sama apa yang mereka ucapkan: kalau nggak salah ngapain minta maaf? Substansial, kan? :mrgreen:

Kali lain, ketika kami ngajak oknum anak kampus buat nongkrong bareng dan yang bersangkutan bilang, “Wah, nggak bisa e…”

Salah 1 dari kami bakal merespon, “Kalau nggak bisa, mbok ya belajar. Supaya bisa.”

Nha…pihak-pihak lain yang bukan kumpulan nongkrongku seringnya nggak paham jenis plesetan yang seperti itu. Masalahnya sampai sekarang aku masih sering keceplosan merespon macam begitu. Aku lupa kalau nggak semua cucu Mbah Adam itu kayak orang-orang di kumpulanku. Aku refleks aja, sih. Tapi ya refleksku itu jadi sering bikin orang kesal sama aku, terutama ketika orang terbesut, aeh, tersebut sedang serius.

Sehubungan dengan ucapan-ucapan permohonan maaf lahir batin di hapeku itu, selain merespon permohonan maaf dengan lagak macam di atas itu, kadang-kadang aku suka lebih kelewatan lagi. Aku malah kadang-kadang membalas ucapan mereka dengan: “Lho, memangnya kamu punya salah apa sama aku?”

Niatku, sih, aslinya ya guyon. Tapi kalau ditelaah lebih dalam lagi, ternyata responku itu sungguh sangat filosofis sekali, lho. Beneran, deh. Yakinlah sumpah!

Pertama, kata “maaf” itu seharusnya nggak boleh diobral sevulgar itu. Permohonan maaf itu mahal. Pemohonnya harus betul-betul memiliki kerendahan sekaligus keluasan hati ketika mengucapkannya. Bagaimana tidak, lha wong permintaan maaf itu, kan, aslinya kita mengakui bahwa kita sudah berbuat salah ke orang yang kita butuhkan maafnya. Iya, kan? Belum cukup dengan itu saja, pemohonnya harus meniatkan seniat-niatnya untuk tidak mengulangi lagi kesalahannya. Orang sudah dikasih maaf, masak iya mau ngulangin kesalahan yang sama lagi? Apa coba itu namanya kalau bukan ngelunjak?

Atau, apa coba sebutan minimalnya ke si pengulang kesalahan itu kalau bukan goblok? Keledai aja, konon, cuma terjatuh di lubang yang sama maksimalnya 2 kali. Jadi kalau kita melakukan kesalahan yang sama berulang-ulang, apa hayo namanya kalau bukan blo’on?

Tapi ya orang-orang jaman sekarang ini memang hobinya basa-basi. Permintaan maaf dipakai seenaknya tanpa memahami substansi dan konsekuensi dari permintaannya sendiri. Padahal, untuk apa coba? Untuk mengesankan ke orang lain bahwa kita ini orang yang rendah hati, yang nggak gengsian bin sombong sekali?

Ini, kan, sesungguhnya paradoks dan ironi sekali. Kita ingin menaikkan respek orang lain terhadap kita dengan merendahkan diri kita di depan orang lain tersebut. Rasanya, kok, malah kayak munafik sekali ya? Semacam membohongi diri sendiri, gitu.

Pada kesempatan berikutnya, selain sifatnya untuk basa-basi, aku sering mendapati bahwa permintaan maaf ini bukan sebagai ekspresi penyesalan. Alih-alih penyesalan, permohonan maaf seringnya diajukan untuk mendapatkan permakluman. Beberapa oknum yang sempat bersliweran di sekitarku kutahu persis pernah melakukan itu. Mereka meminta maaf atas kelakuannya tanpa sama sekali berniat untuk mengubah perilakunya. Sebagai contoh, coba kita telaah beberapa pernyataan sebagai berikut:

  • Maaf ya, tapi aku nggak bisa…
  • Maaf ya, aku orangnya memang gitu…
  • Maaf ya, aku nggak suka…
  • Maaf ya, asal tahu aja, aku sama sekali bukan orang seperti itu…

Sampai pada akhirnya permohonan maaf dalam skala yang paling parah berikut ini:

  • Maaf ya, tapi sebaiknya kita berteman saja…

Kampret! 😈

Paradoks, tho? Dari kecil, kan, kita sudah diajari, kalau salah ya minta maaf. Dengan demikian, dengan metode reverse engineering, harusnya kita juga tahu kalau kita minta maaf itu berarti ada sesuatu yang salah dalam diri kita. Lha, ini sudah tahu kalau sudah berbuat salah, kok, sama sekali nggak berminat untuk berbuat benar di kemudian hari, sih? Kayak gitu, kok, ngaku-ngaku sebagai manusia yang beradab? :mrgreen:

Sampai di sini seharusnya kita semua bisa paham, sejak awal kita memang tidak berniat mengakui kalau kita sudah bersalah. Sejak awal kita nggak kepengen mengubah tindakan kita karena menurut kita, kita ini sama sekali nggak salah. Aslinya kita cuma minta ke orang lain supaya memaklumi tindakan kita, kok. Kita cuma kepengen orang lain bisa ikhlas sama perilaku kita. Kita ini cuma mohon maklum, bukan mohon maaf. Iya, kan? Iya, kan? Iya aja, deh πŸ™‚

Kita ini gengsian, tapi kita nggak mau kalau kita sampai dicap gengsian sama orang (baik itu orang lain, orang utan, orang-aring, maupun orang-orangan sawah). Kita ini boleh jadi sudah “menyakiti” orang lain, tapi kita nggak suka kalau kita dapat stempel seperti itu. Dan sebagai bentuk mekanisme pertahanan diri, untuk melegakan perasaan kita sendiri, untuk mendapatkan legitimasi dari pihak lain atas perbuatan yang kita lakukan, kata maaf jadi sering bertebaran dari mulut dan jari kita.

Padahal kalau kita sadar, seharusnya kita paham, maaf itu sakral. Menjadi sakral kuadrat ketika kesakralan itu diucapkan pada momen yang sakral. Tapi pada dasarnya ya terserah kita juga, sih. Siapa tahu aja kita tidak menganggap maaf sebagai hal yang sakral, dan biasa-biasa ajalah untuk mengucapkannya di momen jelang puasa macam ini. Karena apa? Karena, eh, karena siapa tahu buat kita Ramadhan besok ini juga nggak sesakral itu. Toh semua ini pada akhirnya cuma basa-basi. Intinya, kita cuma minta dimaklumi aja, kok.

So, maaf-maaf, deh, ya kalau aku ternyata sudah membelejeti sisi kelam kita semua. Maaf lho ya, tapi ya mau gimana lagi…aku orangnya memang gitu, sih πŸ˜‰


Facebook comments:

One Comment

So, what do you think?