Mahysa dan Gitar 6 Senar

gitar nylon akustik espanola

Seumur-umur menyandang beban berat nama “Joe Satrianto” – yang plesetan namanya Joe Satriani – sebenernya aku nggak pernah punya gitar sampai dengan lulus kuliah kemarin. Jadi, wong punya gitar aja nggak, ya gimana aku bisa main gitar, coba? Makanya banyak masyarakat awam yang ketipu dengan namaku itu, terutama cewek-cewek. Mereka kira aku ini bisa jadi tipikal cowok romantis yang memainkan lagu dengan gitar khusus untuk sang pujaan hati.

Tercatat sudah beberapa cewek yang tertipu dengan namaku itu. Celakanya mereka-mereka itu malah ada yang benar-benar tenggelam dengan ilusi namaku. Jadilah mereka pada minta, “Mas Joe, mainin ‘Always with Me, Always with You’, dong.”

Tentu saja aku lumayan dibuat gelagapan kalau ada permintaan model gitu. Tapi bukan aku namanya kalo nggak bisa ngeles. Aku tanya, “Lho, tau lagu itu juga tho? Suka ‘Always with Me, Always with You’?” sambil agak terheran-heran, tumben-tumbennya ada cewek yang paham musik-musiknya Joe Satriani. Soalnya, biasanya, sih, cewek-cewek, kan, taunya cuma lagu-lagu yang sering diputer di radio sebangsanya Kangen Band, ST 12, De Masip, Drive, atau band menye-menye lainnya.

Biasanya habis itu mereka njawab, “Iya, mainin, dong, Mas.”

Kalau sudah kayak gitu biasanya aku nyaut, “Jangan yang itu… ‘Rubina’ aja atau ‘Until We Say Goodbye’, ya? Lebih romantis. ‘Rubina’ itu lagunya Satriani yang dibuat khusus buat istrinya, lho,” dengan harapan topik obrolan mereka yang tadinya nodong aku main gitar jadi teralihkan.

“Kerenan ‘Always with Me, Always with You’. Mainin, dong, Mas,” kata mereka maksa.

Mati aku!

Alhasil akupun jadi celingak-celinguk. Alhamdulillah aku diselamatkan keadaan. “Mana gitarnya?” tanyaku dengan yakin. Iya, aku yakin banget, soalnya di sekitar situ memang nggak ada gitar. Coba kalau ada, ya sudah, terbongkarlah kedokku. Dan berhubung di situ memang nggak ada gitar, akhirnya salah satu oknum dari mereka-mereka itu cuma bisa memintaku berjanji buat mainin “Always with Me, Always with You” besok-besok kalo sudah ada gitar.

Begitulah aku dan mulut besarku. Kemarin-kemarin juga kalau baru kenalan sama cewek dan ada yang nanya kenapa aku bisa dipanggil “Joe”, aku pasti bilang, “Main ke toko kaset sana. Terus minta ditunjukin ke mbak-mbaknya kasetnya Joe Satrianto di sebelah mana.”

“Lho, kamu punya album, ya?” tanya mereka.

“Nggak. Kamu pasti bakalan diomongin, ‘Mungkin maksudnya Joe Satriani, ya?'”

“Joe Satriani itu siapa?”

“Itu gitaris top. Dewa gitar, dah, pokoknya. Jadi berhubung nama belakangku mirip sama nama belakangnya dia, ya sudah, jadinya aku dipanggil ‘Joe’ juga. Gitu…”

“Kamu juga suka main gitar? Gitaris juga? Punya band?”

“Wooooghhh… Jelas, dong! Sekaligus vokalis, lagi,” jawabku sok paten, tanpa mempertimbangkan resiko di masa depan. Yang penting, pada saat itu, respek mereka terhadapku naik ke langit ketujuh.

Tapi itu cerita jaman dulu, jaman aku belum punya gitar. Sekarang, sejak Agustus tahun kemarin, aku sudah punya gitar. Gitar nylon akustik 6 senar dengan merek Espanola yang kubeli di Gramedia seharga Rp. 325.000 plus Rp. 1.000 buat ongkos parkir motor. Belinya bareng Septo.

Tadinya aku mau beli yang Yamaha sekalian. Cuma gara-gara gitar cap Yamaha yang ada di situ adanya yang senarnya string semua, ya sudah, aku nggak jadi beli. Sebagai pemula aku cukup sadar kalo nggitar pake string bakal bikin jari-jari lentikku lecet-lecet pas belajar. Lagipula gitar cap Yamaha itu harganya mahal. Nyaris 1 juta, padahal di dompetku cuma ada duit 400 ribuan.

Aku pulang ke rumah dengan hati riang. Langsung aja aku belajar genjrang-genjreng. Kalau aja di rumahku waktu itu ada guru les gitar, beliau pasti bakalan ngamuk-ngamuk ngeliat caraku belajar yang tidak metodis dan sistematis.

Aku nggak belajar apa itu skala, nggak belajar strumming, dan nggak belajar segala aturan teknik belajar gitar buat pemula. Aku langsung belajar chord dengan harapan bisa secepatnya genjrang-genjreng sambil teriak-teriak merdu macam Chester Bennington. Pokoknya aku pengen cepet bisa main gitar!

Iya, aku pengen secepatnya bisa main gitar biar bisa pamer ke bapakku. Ini proyek balas dendam, soale. Dulu pas aku esempe dan minta dibeliin gitar, nggak dikabulin. Alasannya kalau sudah bisa beneran baru bakal dibeliin. Alhamdulillah, walau sudah pinjem gitar ke sana-sini, akunya nggak bisa-bisa. Alhasil sampai dengan habis wisuda aku belum juga punya-punya gitar. Jadinya begitu punya duit dari keringat sendiri akunya langsung beli gitar.

Aku memang agak aneh. Aku ini mengidap sindrom punya-dulu-baru-bisa sejak kecil, yang sayangnya nggak pernah diperhatikan sama bapakku. Dulu pas lagi musim roller-skate aku juga sempat minta dibeliin roller-skate sama bapakku dan – bisa ditebak – nggak dikabulin dengan alasan aku toh belum bisa fasih meluncur. Aku disuruh belajar dulu, pinjem roller-skate-nya Rama, tetanggaku, buat belajar. Nantinya kalau sudah bisa barulah aku dibeliin.

Tapi apa lacur… Aku jatuh berkali-kali pas belajar di bale banjar. Dengkul dan sikuku lecet-lecet. Akibat jangka-panjangnya ya tidak ada roller-skate gratis buat aku.

Ya sudah, kalo nggak dibeliin jangan dipikir aku ini nggak bisa beli sendiri. Maka dengan semangat 45 – tidak mau kalah gengsi dengan anak-anak tetanggaku di kampung yang lain – aku ngumpulin duit jajanku. Ditambah nebok celengan, aku berangkat ke Gramedia naik sepeda ditemani Eka. Pulangnya, sepasang roller-skate cap California Pro sudah jadi milikku.

Sampai rumah, liat, Pak! Cuma butuh 6,25 menit aku sudah bisa lancar meluncur dengan sendirinya. Aku melenggak-lenggok melewati jajaran kursi tamu, meja makan, ruang dapur, dengan wajah sumringah penuh kemenangan. Kalau aku memang punya, aku pasti bisa!

Aku sama bapakku memang punya pola pikir yang beda. Mungkin bapakku mikirnya, kalau belum bisa maka buat apa punya? Daripada nantinya jadi mubazir nggak kepake, tho?

Sedangkan aku mikirnya, kalo sudah punya aku harus bisa. Soalnya kalo punya barangnya tapi nggak bisa makenya, itu nanti bakal mubazir. Tekanan untuk tidak memubazirkan barang bisa jadi motivasi tersendiri yang teramat besar kalau buat aku. Sama-sama nggak pengen mubazir, tapi aku dan bapakku menyikapinya dengan cara yang berbeda.

Hal ini juga terbukti dengan motor koplinganku yang kemarin ini. Sebelumnya aku sama sekali nggak bisa make motor koplingan meskipun sudah belajar dengan minjem motor-motor temenku. Tapi begitu punya, wuzzz…segalanya lancar dengan sendirinya. Barang orang lain yang bukan milikku tidak akan jadi mubazir kalau aku tidak bisa menggunakannya. Toh itu bukan barang milikku, sepertinya begitulah pikiran yang ada di alam bawah sadarku. Makanya kalo belajar dengan minjem barang orang, aku selalu kesulitan untuk jadi bisa.

Begitulah.

Balik lagi ke masalah gitar. Sekarang aku sudah lumayan lancar mindah-mindahin chord atau kunci. Lagu andalanku adalah “Besame Mucho”, “Hadapi Saja”-nya Iwan Fals, dan “Love Song”-nya The Cure.

Apa kesamaan di antara 3 lagu itu? Kesamaannya adalah sama-sama nggak pake kunci palang. Aku masih lemah kalo harus mainin kunci palang. Jari-jariku kelewat pendek, lembut, dan lentik, serta tidak kuat kalo harus dipake nekan 5 atau malah 6 senar sekaligus dengan 1 jari. Genjrengannya jadi nggak nyaring, dan aku juga masih kaku mindah-mindahin kuncinya. Jadilah aku sekarang di (bekas) kampusku dikenal sebagai gitaris anti kunci palang.

Tapi aku sudah berani manggung nge-band sebagai gitaris. Ceritanya pas Ramadhan kemarin ini di kampus ngadain acara buka puasa bareng plus akustikan sambil nunggu bedug Maghrib. Biasanya, sih, aku didapuk jadi vokalis. Cuma berhubung pas aku ngeliat daftar lagu yang bakal dibawakan ada yang blas nggak pake kunci palang, akupun maksa jadi gitarisnya, seenggaknya buat 1 lagu, “Tombo Ati”. Kebetulan juga si Kibi yang biasanya jadi pemain perkusi juga kepengen sekali-sekali jadi vokalis. Jadilah selama 1 lagu itu aku jadi gitaris, Kibi jadi vokalis, dan Septo nggantiin Kibi buat mainin perkusi.

ngombe kolak himakom ugm 2009

Hasilnya lumayan juga. Meskipun sempat-sempatnya salah kunci pas tengah lagu, tapi itu nggak terlalu kentara, soale genjrenganku ketutup sama gitarannya Abhonk selaku lead-guitarist.

Perkara gitar-menggitar sekarang aku memang sudah bisa lumayan nyombong, setidaknya nyombong sama Didit yang sejak kelas 5 esde sudah ada gitar yang tergantung di kamarnya tapi sampe sekarang nggak bisa-bisa mainin gitar, atau juga nyombong sama Destian yang cuma bisa mainin gitar kalo Winamp di komputernya dihidupin. Jikalau tidak, wah sumpah mampus, genjrengannya bakal mawut-mawut.

Cuma tentu saja yang namanya sombong itu tidak baik. Selama aku belum bisa make kunci palang aku belum boleh nyombong. Soalnya gara-gara kunci palang inilah salah satu cita-citaku nggak kesampaian.

Jadi ceritanya, dulu si Faiz yang bekas gitarisnya X-Class itu pernah mbikin 1 lagu yang diangkat dari kisah cintaku. Judulnya “Mahysa”. Judul lagu itu memang penggalan dari namanya mantan majikanku (dan aku adalah sopirnya. Begitu istilahnya Faiz), Nurmahysa. Lagu itu kuminta. Kuminta biar nggak usah dicap sebagai lagunya X-Class, maksudku. Maksudku lebih jauh lagi, aku kepengen rekaman band pake lagu itu. Bukan buat hal-hal yang komersial, tapi memang aku punya obsesi bisa ngerekam lagu itu dengan aku sebagai vokalisnya, soale kupikir di dunia ini cuma aku yang bisa menghayati isi lagu itu dengan sempurna. Permohonanku dikabulkan Faiz.

Tapi, waktu demi waktu, rencana itu tinggal rencana. Dulu lagu itu pernah digarap sama John Angga dalam versi rock. Hasilnya? Cadas! Waktu itu kupikir aransemennya “Mahysa” memang lebih baik nge-rock aja. Tapi itu nggak bertahan lama. Selang beberapa saat, bareng Yuda, Surip, Gentho, dan Bramasto, lagu itu sempat dibuat dengan aransemen yang lebih soft, bossanova. Lha, kok, ini lagu malah kayaknya jadi lebih manis sekaligus kedengeran lebih tragis? Jadilah aku malah kepikiran, gimana kalau versi yang terakhir ini dibawakan sekalian dengan versi akustik dan bukan elektrik? Gimana juga kalo sekalian aku aja yang jadi gitarisnya? Jadi nantinya kalo lagu itu sempat dibikinin video klip amatirannya juga, tampangku nggak keliatan cuma lagi nyanyi, tapi sekalian lagi nggitar dengan penuh penghayatan.

Maka mulailah aku belajar gitar. Niatannya, biarlah lagu itu kurekam buat kado ulang tahun peraknya yang bersangkutan. Tapi ternyata belajar kunci palang kok ya nggak bisa-bisa? Akunya jadi keasyikan mainin lagu yang zonder kunci palang tiap kali nyentuh gitar. “Mahysa” yang notabene penuh kunci palang itu mulai terlupakan. Ulang tahunnya yang ke-25 berlalu tanpa kado lagu itu.

Hingga tibalah suatu masa… Surip yang notabene pernah menjabat sebagai adik kelasnya semasa esema mendapat kabar dari milis Keluarga Alumni SMA 1 Purbalingga kalo kakak kelasnya itu bakal menikah 2 hari lagi. Aku yang dikabari malam harinya kontan gelagapan. Aku sempat langsung teringat juga pada proyek “Mahysa” yang nggak kelar-kelar. Cuma tinggal besok dan besok lusanya dia sudah ijab kabul, apa mungkin lagu itu bisa rampung direkam dalam waktu 1 hari? Apa iya aku bisa ikhlas melepas dia buat dihamili sama laki-laki lain tanpa sempat menunjukkan bagaimana perasaanku seminggatnya dia? Tapi mau bagaimana lagi, sudah tidak ada lagi waktu yang tersisa. Jagoan pun tidak selamanya berakhir dengan kegemilangan, kan? Kalau nggak percaya, liat aja film-filmnya Andy Lau.

Maka moral cerita kali ini adalah: jangan pernah menunda-nunda jika kita sudah mempunyai sebuah rencana. Langsung saja diwujudkan. Menunggu waktu yang tepat tidaklah selamanya bisa diterima sebagai sebuah argumen yang bisa dipertanggung-jawabkan. Waktu itu terus saja berjalan ke depan. Jangan sampai kita baru insyaf ketika kita sadar kalau ternyata sudah tidak ada lagi yang bisa kita lakukan.

Jadinya sekarang ya apa boleh buat… Mungkin proyek ini bakal tetap kulanjutkan. Mungkin juga lagu ini boleh dipakai buat kado waktu anak pertamanya lahir nanti, sambil berharap yang tidak-tidak: semoga anaknya nanti mirip aku 😈 Yang jelas aku lumayan kecewa. Aku cukup menggerutu. Betapa tidak, ini satu-satunya kisah cintaku yang berhasil menjadi sebuah lagu.

Mahysa

Ada yang tertinggal
Saat semua telah usai
Menyisakan yang tak terungkap
Di dalam langkahku

Haruskah kulari
Mengejar bayang, mencari arti
Sedang kau beri aku
Dinginnya hatimu

Kumohon katakan
Atas semua yang terjadi
Sekiranya kau tak mampu
Tuk jalani semua

Mahysa
Kau lukai hatiku yang mendamba dirimu
Tak lagi kau temani mimpi ini

Mahysa
Di manakah hatimu yang dahulu untukku
Tak mampu diri ini berpijak tanpamu

mas joe dan gitarnya. gitarnya megan, maksudnya

Facebook comments:

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

  1. Seperti biasa, cerita ala mas Joe enak dibaca 😀

    Maka moral cerita kali ini adalah: jangan pernah menunda-nunda jika kita sudah mempunyai sebuah rencana. Langsung saja diwujudkan. Menunggu waktu yang tepat tidaklah selamanya bisa diterima sebagai sebuah argumen yang bisa dipertanggung-jawabkan. Waktu itu terus saja berjalan ke depan. Jangan sampai kita baru insyaf ketika kita sadar kalau ternyata sudah tidak ada lagi yang bisa kita lakukan.

    Inspiratif sekali Mas :D. Setuju deh.

  2. Ngomongin karyanya Joe Satriani “yang asli” aku favorit sepanjang masa sama Tears in the rain…mirisss hati.
    btw tuh bapak sampeyan mirip bapakku juga mas, kayaknya memang maksudnya biar ntar kita dibeliin yang baru gak bakalan rusak (punya kita utuh, punya orang lain ancur kita pake belajar) hahay Oooops

  3. waun:::
    kampret kamu, wan. jadilah junker yang bermartabat! 😈

    Generasi Patah Hati:::
    hanya mengingatkan saja…
    biarlah cuma saya dan ti pat kai yang mengalami 10.000 penderitaan cinta

    Potter.Web.ID:::
    lama2 nggak enak juga kalo gara2 kita barang orang jadi rusak 😛

  4. Lah, kok sama Joe? Saya juga susah kalo main kunci palang, jadi kalo main di f biasanya yang saya genjreng cuma senar 1,2 dan 3… Maklum, jari saya rada “tebal”…

  5. salah satu cara joe melebarkan sayap berbisnis…
    setelah jualan kaos…menunggu panggilan manggung

  6. Pingback: Seharusnya Hasilnya Bisa Lain | The Satrianto Show: Beraksi Kembali!

  7. woooi bang joe…. piye kabare?? aku googling gitar espanola kok malah berakhir di blog mu,,nice blog anyway 😀

  8. Pingback: Nyanyian Kode | The Satrianto Show: Beraksi Kembali!