Mbak Mantan, Cita-cita, Nilai Cara, dan Akhirnya

Kapan hari kemarin aku terlibat obrolan semi-serius sama Ocha, teman ngerokok dan ngebirku yang sekarang sudah tobat. Beneran, kok, beliaunya tobat. Yang bersangkutan sekarang sudah pakai jilbab panjang dan beberapa waktu ke depan bakal kawin.

Aslinya awal obrolan kami ini sama sekali nggak serius, cuma ledek-ledekan biasa aja sambil mengenang masa kejayaan kami di Jokja selayaknya bekas mahasiswa Jokja yang sesekali tempo ngumpul dengan sesamanya kemudian bernostalgia. Hugo’s Cafe, Liquid, dan Boshe tentu saja tidak luput dari pembahasan, sampai akhirnya omong-omong kami nyangkut ke soal romansa yang diawali dengan celetukan ngasalku, “Lho, kamu nggak ngerasa tho kalau kamu itu salah satu pacarku?”

“Pacar apa?” sahutnya, “wong kita dari dulu, kan, cuma baper-baperan 1 sama lain, tapi nggak pernah lanjut ngapa-ngapain.”

Waduh, batinku, repot juga ini. Berarti Ocha dulu itu sempat minta kuapa-apain, dong? Nyesel juga akunya. Kalau saja aku nyadar sedari dahulu, pastilah sekarang ini aku sudah bukan perjaka lagi. Tapi kalo ngapa-ngapain Ocha sekarang ini, ya manalah mungkin…wong anaknya sendiri sudah tobat. Lagipula belum tentu akunya berani beneran, kan? 😈

Tambahan pula, aku ini cowok yang memegang prinsip jangan pernah mengganggu wanita yang sudah dikhitbah alias dilamar, jika konteks ganggu-mengganggu ini adalah urusan romansa. Lebih baik ngganggunya nanti aja sekalian kalau yang bersangkutan sudah jadi istri orang sungguhan. Aman dan tidak beresiko si cewek bakal minta dinikahi, kalau menurut nasehat dari sohibul Faizudin Al Hamawi alias Aphip Uhuy.

Waktu itu – aku lupa bagaimana awalnya – Ocha tiba-tiba nanya, “Mas, kamu nggak capek po gonta-ganti pacar terus? Nggak kepikiran po buat nikah?” Bah! gaya betul si Ocha ini mentang-mentang sebentar lagi bakal digagahi sama lelaki lain.

Tentu saja aku agak bingung jawabnya. “Yaaa…gimana ya? Dibilang capek ya enggak, wong kahanannya memang kayak gini. Aku belum kawin-kawin, ya artinya sampai dengan detik ini belum ada gadis ataupun yang sudah nggak gadis lagi yang bisa bikin aku yakin buat nikahin dia,” kataku mencoba ngeles.

“Tapi pernah nggak kamu kepengen nikah, Mas?”

“Ya pernah, Cha. 2-3 kali aku pernah kepengen nikahin pacarku. Cuma hal yang beginian ini, kan, bukan sesuatu yang bisa dipaksakan,” jawabku lagi, “Kalau kata temanku yang sudah nikah, jodoh itu bukan sesuatu yang bisa dipercepat atau ditunda. Kalau memang sudah waktunya, ya prosesnya bakal jalan lancar dengan sendirinya. Buktinya ada yang sudah pacaran 9 tahun, eee…bubar. Di sisi lain, ada yang baru kenal itungan minggu malah tau-tau nikah dan hidupnya aman-aman aja sampai sekarang.”

“Ya iya, sih, Mas. Tapi yang 2-3 kali itu kenapa, kok, sampai putus? Kamu pasti main-main, ya?”

“Ehem,” aku berdehem pertanda mulai pasang gaya. “Sumprit, enggak, Cha. Kan, kubilang, aku pengen nikah sama mereka, ya itu artinya aku serius. Tapi kalau mereka yang nggak mau lalu kemudian menendangku, aku bisa apa?”

“Oh, ya?” Duh, Ocha kampret ini kayaknya belum percaya kalau aku bisa serius.

“Oh, iya, dong,” jawabku.

“Coba cerita, kenapa kamu ditendang, Mas!” perintahnya. “Aku taunya kamu itu yang selalu main-main,” sambungnya.

Ah, sial! Ditodong hal yang begini ini sejujurnya bikin aku jadi malas. Mood-ku bisa langsung berbalik drastis. Wajahku bisa langsung berubah sendu. Tapi malam itu suasananya sungguh syahdu, membuatku jadi nggak bisa menolak untuk membagikan sisi gelapku bahwa, Don Juan dari MIPA Selatan ternyata pernah beberapa kali dicampakkan oleh perempuan.

Maka aku mengingat-ingat. Kubilang ke Ocha, “Kami punya value hidup yang berbeda, Cha. Ternyata cara kami memandang dan menilai hidup saling tidak mendukung 1 sama lain.”

Aku pun cerita, aku pernah dekat dengan seorang wanita. Di suatu suasana Lebaran, aku sowan ke rumahnya, sekalian buat ketemu sama papah-mamahnya. Waktu itu aku pede sekali. Pacaran sejak jaman mahasiswa, akhirnya aku bisa ketemu dengan papah-mamahnya dalam status sebagai lulusan segar Program Studi Ilmu Komputer, Jurusan Matematika, Universitas Gadjah Mada. Ini Lebaran pertamaku dalam status sarjana.

Obral-obrol sama orangtuanya, akhirnya si tante bertanya, “Mas Joe habis ini rencananya mau kerja di mana?”

Dengan nggaya aku berkata, “Ooo…saya mau ngambil Akta 4 dulu, Tante.”

“Lho, mau jadi guru?”

“Iya, Tante,” jawabku sambil tersenyum bangga, seolah-olah aku ini bakal melakukan suatu tugas mulia.

“Wah, bagus itu. Jaman sekarang ini memang kekurangan guru yang bermutu. Tante doain semoga Mas Joe sukses jadi guru.”

Aku senyam-senyum. Lancar, batinku. Setelah beberapa basa-basi, kuculik anak si tante buat pacaran sebentar. Nggak jauh-jauh, kok. Cuma jajan es di kafe dekat rumahnya.

Malamnya aku menjalankan rutinitas seperti biasa, telepon-teleponan sama gadisku itu. Tiba-tiba si gadis bilang, “Mas, mamah nanyain, serius kamu mau jadi guru?”

“Lha iya, kenapa?”

“Mamah kayaknya nggak suka. Kalau jadi guru gimana bisa jadi orang kaya?”

Jleger! Tiba-tiba petir menyambar. Tapi aku bohong. Nggak ada petir, kok. Yang ada aku menelan ludah. Aku merasakan sebuah pertanda buruk. Buruk sekali.

Benar saja. Beberapa minggu kemudian pacarku cerita, katanya mamahnya lebih setuju kalau dia sama laki-laki lain yang selama ini memang intens mendekatinya. Kerjaannya memang lebih jelas, sih. Pendapatan bulanannya juga gede. “Oh,” begitu responku kala itu.

“Tapi aku maunya sama kamu, Mas,” kata perempuanku.

“Ya dijalanin aja dulu. Tapi jangan kasar sama orang lho ya. Aku juga nggak ngelarang kamu berteman sama dia, toh kamu juga tahu batasnya sampai di mana,” jawabku.

“Kamu nggak pa-pa, kan?”

“Nggak. Nggak pa-pa.”

Aku memang nggak pa-pa waktu itu. Aku sangat yakin dengan kualitas diriku. Mau seperti apapun sainganku…hei, Tuan, sainganmu ini Mas Joe, lho. Joe Satrianto, laki-laki yang belum pernah kalah dalam perkara apapun, kecuali pada saat aku nggak menang.

Bulan berganti bulan aku masih jalan sama pacarku. Sampai pada suatu malam pacarku bilang, “Aku harus milih salah satu dari kalian. Mamah nggak suka aku kayak gini terus. Nggak jelas. Sama dia jalan, sama kamu juga sayang-sayangan.”

La haula wala quwwata illa billahil aliyil adzim! Aku pengen memaki tapi nggak bisa. Lidahku kelu untuk melontarkan kata-kata kasar. Ada sesuatu yang menahanku, mungkin itu Sting dan gerombolan The Police-nya. Kata-kata mereka, manners maketh man…manners maketh man…manners maketh man menahanku dari tindakan barbar nan tidak beradab. Pada akhirnya aku cuma bisa bertanya, “Harus milih salah satu?”

“Iya,” jawabnya.

“Terus apa yang kamu bingungin?” tanyaku.

“Aku nggak bisa kalau harus milih.”

Aissshhhh…semprul! Maka aku sudah paham ini arahnya bakal ke mana. Menang ra kondang, kalah ngisin-isini. Aku kemudian bertanya, “Sekarang gini, siapa di antara kami berdua yang kalau kamu tinggal bakal tetap survive dan bisa ketawa-tawa?”

“Kamu,” katanya.

Aku kecewa. Jawabannya mantap sekali. Sungguh, kali itu aku kecewa pada kekuatanku sendiri. Kenapa juga selama ini aku bukan laki-laki lemah yang bisa merengek-rengek? “Ya sudah, tinggalin aku,” kataku akhirnya.

“Tapi…”

“Nggak pa-pa. Kita tetap berhubungan, kan? Kita tetap teman. Kalau kamu butuh aku, aku nggak ke mana-mana. Rumahku tetap di sini. Kamu bisa datang kapanpun kamu mau,” jawabku. Ceileee…gombaaaaal. Sudah gombal, goblok pula!

Manners maketh man. I’m the hero of the day. Iya, hero. Hero macam Gatutkaca. Tapi kali ini lakonnya adalah “Gatutkaca Gugur”.

Tapi aku paham. Aku nggak akan bilang Mbak Mantan putus denganku gara-gara soal gede-gedean duit antara aku dan kompetitor lain. Hanya aku tahu, yang seperti itu adalah insting purba manusia, utamanya manusia yang berjenis kelamin wanita.

Insting purba yang bagaimana? Nanti dulu. Ceritaku belum selesai. Belum waktunya kita membahas persoalan ini pada tataran akademis. Nanti dulu, sabar dulu, masih ada kisahku dengan wanita yang berikutnya.

Aku juga punya mantan pacar lainnya. Kalau Mbak Mantan yang tadi kita sebut sebagai Mbak Mantan A, mantan pacarku yang kali ini kita sebut saja sebagai Mbak B.

Aku ke Mbak B ini pada awalnya ngerasa sangat cocok sekali. Anaknya sungguh mati perhatian sekali. Nggak ada cacat-cacatnya wis kalau kita mau bicara soal perhatiannya ke aku. Toplah pokoknya. Kata-katanya selalu bisa membuatku tentram. Sungguh, aku nggak bohong. Kepadanyalah aku sempat berpikir bahwa inilah wanita yang bakal kunikahi.

Saking nyamannya sama Mbak B, aku suka sekali cerita apa aja ke dia. Soal-soal yang menurutku bakal menunjukkan kelemahanku jika itu kukatakan di hadapan publik, semuanya kuumbar ke dia. Lagipula kuanggap pengalaman hidupnya memang lebih banyak dariku, soalnya dia anak Jakarta, sih, kota yang kuanggap kota paling mendidihkan urat nadiku se-Endonesa.

Aku suka cerita betapa aku heran dengan pola pikir orang-orang jaman sekarang, di mana materi menjadi ukuran, terutama ketika menyinggung perilaku manusia dari daerah di mana Mbak B dibesarkan. Aku cerita juga tentang Siau-hi-ji, manusia paling cerdas di seluruh kang-ouw yang berhasil mempengaruhi karakterku sejak aku kecil dulu, terutama ketika Siau-hi-ji melontarkan pandangannya bahwa, hidup ini adalah suka-cita dan bukan beban, dan bagaimana Siau-hi-ji masih bisa menjaga nuraninya meskipun dia dibesarkan di kalangan penjahat dunia persilatan.

Aku cerita juga soal masa kecilku dulu di sekolah, yang alhamdulillah-nya babahku tidak pernah menuntutku untuk dapat rangking di kelas. Aku cerita soal babahku yang menekankan pada pemahaman terhadap ilmu pengetahuan yang jadi macam pelajaran alih-alih pembuktian kepada sekitarku kalau aku adalah murid yang pintar. “Yang penting kamu senang sama proses belajarnya,” kata babahku ketika aku sendiri kecewa sama diriku sendiri; cuma melulu berkutat di 10 besar tanpa pernah jadi yang nomor 1 secara administrasi.

Dari situ aku cerita ke Mbak B, di kampus pun aku tidak pernah memaksa diriku untuk dapat nilai tertinggi. “Kalau dapat nilai yang tertinggi terus mau apa, sih? Buat pamer ke sekeliling? Buatku yang penting adalah aku tahu kalau aku bisa seandainya aku memang mau. Aku nggak butuh nilai tinggi kalau untuk perkara macam itu maka aku harus menyisihkan waktuku buat bersenang-senang sama teman-temanku, mencoba hal-hal baru meskipun itu berarti absensiku di kelas jadi kedodoran,” kataku ke Mbak B.

Mbak B ngangguk-angguk. Iya, waktu itu dia cuma ngangguk-angguk.

Aku juga nggak tertarik buat berkarir kantoran kemudian punya jabatan. Babahku memang kepengen sekali jadi Aparatur Sipil Negara. Aku sampaikan ke Mbak B, jadi pegawai negeri pun, aku nggak tertarik buat saingan ngejar jabatan secara struktural. Aku maunya jadi fungsional saja, di mana segala-galanya ditentukan oleh kemampuanku sendiri, nggak perlu jilat-jilatan ke atasan, nggak perlu membuat rekan kantorku merasa tersikut oleh kemampuanku, nggak perlu terlibat gosip-gosip kantor, kenapa si itu naik jabatannya cepat, kenapa si ini dijegal terus-terusan. Aku malas urun rembug untuk soalan politik kantor yang remeh macam itu.

“Lagipula, apa bangganya, sih, punya jabatan? Wong itu tanggung-jawab, itu amanah. Heran aku…orang, kok, malah pada hobi rebutan amanah? Dimintai pertanggung-jawaban di akhirat baru tau rasa!” sungutku di depannya.

“Iya, sih, Mas,” respon Mbak B saat itu.

Sampai pada suatu waktu kami bertengkar. Pertengkaran kecil, sih, menurutku. Apalagi ketika itu dia juga baru saja melakukan kesalahan yang sama. Gerundelannya kala itu otomatis tidak kuanggap serius. Aku cuma ketawa-tawa merespon hujatan demi hujatan darinya. “Lha, sama aja, kan, kayak kamu,” kataku dengan nada santai.

Tapi akhirnya aku mendapati kalau masalah waktu itu adalah masalah yang serius. Kontakku di hapenya diblok. Aku nggak bisa menghubunginya. Segala sisa-sisa jejak yang bisa menguhubungkanku kembali ke dia kulacak. Tapi negatif. Usahaku menghubunginya lewat nomor telepon rumah ditutupnya, caraku mendatangi tempat tinggalnya ditolaknya. Pokoknya segala metodeku untuk menarik perhatiannya tiada yang mempan. Apalagi, mungkin pada dasarnya, sebelum ini Mbak B selalu mencari alasan yang cukup untuk bisa mendepakku. Jadilah pertengkaran kami dijadikan momentum olehnya, meskipun boleh jadi bukan itulah alasan yang sebenarnya :mrgreen:

Panik? Tentu saja. Aku toh bukan manusia yang tidak punya perasaan. Seperti yang dibilang Mas Aten, dosen walinya si Kimi waktu dia masih mahasiswi di UI, boleh jadi aku selama ini selalu terlihat main-main, tapi dalam setiap permainan aku selalu bermain dengan serius.

Akhirnya keluarlah pernyataan itu dari Mbak B. Dia bilang, “Kalau kamu memang nggak punya cita-cita dan kerjaan lain, lebih baik waktumu kamu pakai buat ngisi TTS aja!”

“Woh, sampai segitunya, Mas?” tanya Ocha. Eh, betewe, kita balik ke obrolanku sama Ocha dulu ya!

“Ya iya, Cha. Dari situ aku tau, ada yang berbeda soal nilai-nilai hidup antara aku dan mantan-mantan pacarku. Aku sebisa mungkin berpedoman pada nilai akhir, sementara mereka berkutat pada nilai cara,” kataku.

“Nilai itu maksudnya gimana, Mas?”

“Ya analoginya gini, apa aktifitas yang paling kamu senangi dalam hidupmu, Cha?”

“Travelling!”

“Nah, kenapa kamu suka travelling? Memangnya apa yang kamu dapatin dari travelling?”

“Yaaa…aku ngerasanya bebas aja, sih, waktu travelling…”

“Bebas dari apa?” sergahku.

“Ya bebas aja. Aku nggak perlu bersih-bersih rumah, aku nggak perlu nyuci, nyeterika. Pokoknya bebas aja dari rutinitas sehari-hari.”

“Itu dia maksudku. Travelling itu cuma cara, sementara yang kamu kejar akhirnya adalah kebebasan. Kalau seandainya kamu di rumah nggak perlu beres-beres, kamu nggak butuh travelling, kan?”

“Iya juga, sih, Mas.”

Jadi ya begitulah… Dari perihal di atas, nampak memang ada perbedaan soal value alias nilai hidup ini antara aku dan mbak-mbak ini. Tapi mbak-mbak ini sebenarnya nggak salah. Aku nggak berhak marah sama mereka, dong, kalau mereka nggak salah. Bukankah dalam Lukas 23:34 Yesus konon juga berkata:

Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat.

See? Bagaimana aku mau bisa menilai Mbak A dan Mbak B salah, kalau pada dasarnya mereka cuma mengikuti insting purba mereka?

Insting purba yang bagaimana, sih, Mas Joe?

Insting purba yang begini… Sampeyan waktu jaman kecil pasti pernah dengar dongeng soal putri cantik yang akhirnya bersanding dengan laki-laki jagoan yang jadi lakon dalam cerita. Dari situ…eh, bukan cuma dari situ aja, ding. Dari jaman purba sebenarnya ya begitulah insting wanita, IMHO, mereka membutuhkan kepastian perlindungan dari laki-laki yang jadi pasangannya. Wanita butuh perlindungan dalam rangka melindungi dirinya dan keturunannya. Sifat dasar mereka yang penuh kelembutan binti tidak suka kekerasan boleh jadi akan membuat mereka kesulitan ketika ketiban agresi dari spesies lainnya. Ditambah dengan pelajaran IPA yang kita dapat sejak esde bahwa, tujuan hidup dari seluruh makhluk hidup adalah untuk melestarikan jenisnya serta memperbanyak komunitasnya, sementara wanita memiliki keterbatasan waktu untuk berkembang-biak, maka mereka harus cepat dan sangat selektif dalam menentukan siapa pejantan yang pantas membuahi rahimnya.

Nah, bentuk perlindungan ini biasanya diasosiasikan dalam bentuk kekuatan alias power. Maka nggak heran kalau pejantan yang paling jago berantemlah yang bakal jadi pilihan sang betina. Lambat-laun, dari waktu ke waktu, asosiasi atas power ini berangsur bergeser. Jaman dulu yang identik dengan kekuatan, boleh jadi di jaman-jaman berikutnya power ini berarti kekuasaan. Lihat saja, siapa yang jadi suaminya Cinderella, Putri Salju, atau Aurora? Nah, benar, sang pangeran, si calon raja berikutnya!

Jaman sekarang, power yang identik dengan kekuasaan akhirnya bergeser lagi ke uang. Siapa yang punya banyak uang berarti bisa membayar bodyguard lebih banyak lagi demi sebuah perlindungan, baik itu bodyguard secara fisik, teknologi, atau bahkan klenik. Jadi ya nggak heran juga kalau kemudian timbul istilah “cewek matre” atau bahkan “calon mertua matre”. Mereka aslinya nggak matre. Mereka cuma memastikan apakah seorang laki-laki memiliki kepantasan untuk melindungi dirinya, melindungi kelangsungan hidup anak perempuannya?

Hal ini tentu repot ketika aku ternyata dinilai tidak punya cita-cita karena aku tidak berambisi mengejar harta dunia (aku lebih konsen mengumpulkan bekal akhirat, sih). Bagaimana aku bisa menjaga para mbak itu kalau aku tidak punya karir yang bagus, tidak punya jabatan, sementara jika aku berkarir kantoran maka cara paling simpel bin logis untuk menghasilkan uang dengan mudah adalah dengan punya jabatan yang lebih tinggi dan lebih tinggi lagi?

Wajar, kan, kalau barisan para mantan – dan semua yang pergi tanpa sempat aku icipi – akhirnya menggeser posisiku dengan posisi pria lain yang mereka nilai lebih memiliki kepantasan finansial dibanding dengan diriku?

Wajar, kok. Nggak usah ngeyel! Nggak usah ndebat aku! Kalaupun ndebat, aslinya itu semua cuma reaksi gengsi dari ego kalian, duhai para pria.

Tapi aku sama kayak kalian, duhai para pria yang ditendang oleh bekas wanitanya. Aku juga punya pembelaan atas penilaian awur-awuran kayak barusan. Pembelaanku adalah aku punya nilai-nilai yang sebenarnya masih dalam koridor yang sama dalam rangka kepantasan melindungi mereka. Bedanya aku berpedoman pada nilai akhir, sementara mereka mungkin tidak paham antara nilai akhir dan nilai cara.

Nilai akhir yang kuanut dalam hidupku adalah keamanan, kenyamanan, juga penghindaran konflik sesuai dengan kaidah Piramida Maslow. Jabatan ataupun uang bagiku tidak lebih dari nilai cara untuk mencapai kondisi emosional yang kujadikan nilai akhirku. Aku cuma ingin aktifitas yang tenang dan minim gejolak negatif dalam hari-hari kehidupanku. Lagipula, ada banyak cara untuk bisa mendapatkan uang tanpa harus punya jabatan, seperti halnya ada banyak cara lain untuk memastikan perlindungan tanpa harus (terlihat) punya kekuasaan.

Sebagai bahasan lebih detail lagi, kayak obrolanku sama Ocha di atas, lagi-lagi kusampaikan bahwa, nilai hidup ini sebenarnya dibagi jadi 2, masing-masing adalah “cara” dan “akhir”. Dalam kasusnya Ocha, travelling adalah nilai cara, sedangkan kebebasan adalah nilai akhir. Ocha bisa saja tidak membutuhkan travelling ketika, misalnya, dia di rumah tanpa kondisi harus mberesin cuciannya atau nyeterika baju-bajunya yang numpuk. Travelling itu cuma caranya Ocha untuk bisa menikmati sebuah kebebasan.

Dan tentu beda orang beda kasusnya. Kalau ada orang lain yang ditanya seputar nilai-nilai apa yang paling dihargainya, bisa aja orang tersebut bakal menjawab, “Cinta, keluarga, uang,” yang tentunya, kalau ditelaah lebih dalam lagi, boleh jadi cinta adalah nilai akhir yang dikejarnya. Keluarga cuma caranya untuk bisa memperoleh cinta, uang cuma perkakasnya untuk mendapatkan cinta. Cinta adalah keadaan emosional yang dituju, sementara keluarga dan uang hanyalah caranya untuk memicu keadaan emosional yang benar-benar diinginkannya.

Bisa nggak mendapatkan cinta tanpa keluarga? Bisa. Mungkin dari teman-teman dekat di sekitar kita. Dulu aku mensubstitusi kebutuhan akan keluarga untuk memperoleh perasaan dicintai – waktu di perantauan pas masih mahasiswa – dengan keberadaan teman-temanku di himpunan mahasiswa. Dan mungkin juga, untuk yang terlahir dari keluarga brengsek, maka yang bersangkutan akan mencari kedekatan emosional itu justru di luar keluarganya.

Bisa nggak mendapatkan cinta tanpa uang? Bisa. Malah kalau pakai uang, khawatirnya kita cuma dapat cinta 1 malam, oh, indahnya…cinta 1 malam, buatku melayang…walau 1 malam akan s’lalu kukenang…ninja pahlawan, Jiraiya!

Maka jangan sampai salah mendefinisikan nilai cara dan nilai akhir ini. Kalau salah, ya berabe. Misalnya, ada seorang cucu Mbah Adam yang (sebenarnya) memiliki nilai akhir adalah “perhatian” dan “sumbangsih”. Cucu Mbah Adam ini kebetulan punya profesi sebagai seorang pengacara karena menurutnya pekerjaan sebagai pengacara dapat memberikan sebuah perbedaan dalam membantu orang lain menghadapi kasus hukumnya.

Tahun berganti tahun, cucu Mbah Adam ini sibuk bin tenggelam dalam kerjaannya. Lama-kelamaan, karena pengaruh lingkungan, cucu Mbah Adam mulai kepengen untuk mencapai posisi “partner” di firma hukum tempatnya kerja. Orientasinya jadi berganti, pusat perhatiannya jadi berubah. Pada akhirnya dia memang berhasil memenuhi ambisi soal posisi dalam karirnya, tapi hidupnya nggak merasa bahagia. Posisinya yang penting di firma hukumnya membuatnya tidak bisa berhubungan lagi dengan klien-kliennya seleluasa jaman dulu, hubungan dengan teman-teman sekantornya juga jadi berbeda. Waktunya habis buat rapat soal berbagai macam protokol dan tata-cara. Dia nggak bisa lagi memberikan perhatian dan sumbangsih langsung kepada klien-kliennya

Dia meraih cita-citanya tapi melewatkan keinginan hidupnya.

Banyak orang yang seperti ini. Banyak orang yang terjebak mengejar “cara” dan memperlakukannya seolah-olah itulah “akhir” yang mereka kejar. Maka ya nggak heran juga kalau kita sering ketemu sama orang yang dalam pandangan kita baru saja melakukan pencapaian yang luar biasa, tapi beliaunya sendiri akhirnya malah berkata, “Cuma gini aja?”

Aku juga nggak mau kayak gitu. Aku nggak mau menghasilkan uang lebih banyak lagi tapi harus melibatkan diri dalam politik kantor yang rentan intrik. Aku nggak mau pada akhirnya aku juga berkata, “Yaelah…cuma ginian, kok, ya dulu aku sampai bela-belain berantem?” Aku nggak mau aku punya banyak uang tapi kemudian aku merasa hampa, nggak ada teman yang mau beradu ejekan lagi denganku.

Tapi Mbak Mantan, baik B ataupun A, nggak salah, kok. Mereka mungkin belum berpikir ke tahap berpikirku pada waktu itu. Konflik akhirnya terjadi karena aku nggak mau didikte soal bagaimana metodeku merasakan kesedihan dan bagaimana langkahku menghayati kesenangan dengan cara-cara yang nggak banget, yang banyak dilakukan oleh manusia-manusia di era milenial ini.

Sebagian besar homo sapiens ini memang aneh. Kita (ini biar aku kelihatan rendah hati dan punya simpati aja, sih. Aslinya aku nggak pengen ikut-ikutan. Sama sekali nggak) menciptakan banyak cara untuk merasa sedih dan sedikit sekali cara untuk merasa senang. Kita membatasi diri bahwa, kalau mau sukses harus begini atau harus begitu. Kalau nggak begini ataupun nggak begitu maka kita nggak akan sukses. Kita bahkan membatasi perilaku kita. Kita beranggapan, kalau mau sukses berarti kita harus mau berkorban, nggak boleh nyantai-nyantai, dan bahkan terlihat nyantai binti cengengesan pun adalah hal yang tabu. Kita menghubungkan kesuksesan dengan kepedihan dan kegetiran. Harus ngotot, bercita-cita tinggi, serta penuh determinasi.

Biar apa, sih? Biar kelihatan kayak jagoan, mampu menaklukkan segala jenis rintangan?

Ada cerita dari bukunya Mbah Gregory Bateson yang judulnya “Steps to an Ecology of Mind: Collected Essays in Anthropology, Psychiatry, Evolution, and Epistemology”. Ceritanya begini:

Syahdan pada zaman dahulu kala (karena Mbah Gregory ini menyandang predikat almarhum pada tahun 1980, sudah tentu ceritanya ini terjadi pada zaman dahulu kala, dong) Mbah Gregory, yang pada saat ini berperan sebagai Pak Gregory, didatangi sama anaknya. Anaknya kemudian bertanya pada bapaknya, buat apa berlapar-lapar puasa…eh, salah. Maksudku, anaknya Pak Gregory ini bertanya, “Pak, Pak’e…kenapa tho sesuatu itu gampang sekali berantakan?”

Pak Gregory kontan merespon, “Wah, ana apa maning kiye, Nduk? Apa yang kamu maksud dengan berantakan, cah ayu?”

Anaknya menjawab, “Bapak pasti paham, sesuatu itu gampang sekali berubah jadi nggak sempurna, misalnya meja belajarku ini. Banyak barang berserakan di atasnya, padahal baru semalam aku ngerapiin biar mejaku rapi dengan sempurna, eee…sekarang semuanya sudah berantakan lagi.”

“Lha, coba tunjukin ke Bapak, kondisi yang sempurna itu yang kayak gimana?” tanya Pak Gregory.

Putrinya nurut. Dia langsung ngerapiin mejanya lagi. Barang-barang ditaruh di tempatnya masing-masing. Habis itu si anak laporan, “Sudah, Pak. Meja sudah rapi dengan sempurna. Laporan selesai.”

“Kembali ke tempat!” kata Pak Gregory.

“Kembali ke tempat.”

Habis itu Pak Gregory langsung iseng. “Nha, sekarang gimana kalau kotak catmu yang ini ta’pindahin 12 inci ke sebelah sini? Apa yang terjadi?” tanyanya.

“Nggak boleh, Pak. Itu bukan tempatnya. Ini juga harusnya naruhnya lurus, bukan miring kayak caranya Bapak naruh.”

“Terus kalau pensilmu ta’pindahin dari tempatnya ke samping sebelah sini?”

“Ealah, Bapaaak…sekarang semuanya berantakan lagi.” Putrinya manyun.

“Kalau buku ini dibiarin terbuka?”

“Itu juga berantakan!” seru anaknya Pak Gregory.

Pak Gregory memandang anak perempuannya. Katanya, “Nduk, bukan bendanya yang gampang berantakan. Kamulah yang punya banyak cara untuk membuat benda ini berantakan, sementara kamu cuma punya 1 cara supaya semua benda ini sempurna.”

Dari situ tentu timbul pertanyaan, kenapa seseorang memberikan aturan yang ketat seperti itu kepada dirinya sendiri dan orang lain yang katanya mereka cintai? Opiniku, sebagian besar berhubungan sama kultur alias budaya kita. Banyak dari kita yang takut, kalau kita nggak punya aturan yang keras dan ketat, maka kita nggak bakalan terdorong buat berhasil, alias kita tidak akan termotivasi untuk bekerja keras demi mencapai sesuatu (jabatan tinggi yang berujung pada duit yang banyak, misalnya jika dalam kasusku).

Padahal nyatanya kita itu nggak sebegitu perlunya buat memiliki aturan yang sangat rumit binti sulit kalau sekadar kepengen termotivasi. Malah, kalau kita membuat aturan yang terlalu ketat dan terlalu menyakitkan, maka tiada lama kemudian kita akan mulai menyadari bahwa, apapun yang kita lakukan, kita nggak bisa menang lalu lama-lama mengalami perasaan tidak berdaya karena sering gagalnya. Ini katanya Anthony Robbins, sih.

Kita jelas kepengen mengeksploitasi kekuatan dari cita-cita dan daya tarik dari sesuatu yang indah di masa depan untuk memajukan diri kita sendiri. Tapi tolong pastikan bahwa yang harus jadi pondasi adalah kebahagiaan kita. Tolong pastikan kalau kita memiliki aturan yang dapat membuat kita bahagia kapanpun kita mau.

Aku juga sudah membaca khatam bukunya Anthony Robbins yang berjudul “Awaken the Giant Within”. Buku itu kukasih bintang 4 dari maksimal 5 bintang untuk ratingnya. Di buku itu ada cerita soal masa mudanya Jolie Jenkins, anaknya Oom Tony. Ceritanya begini:

Putri saya yang bernama Jolie memiliki kehidupan yang sangat kaya karena nilai-nilai tertingginya hampir selalu terpenuhi. Dia juga aktris, penari, dan penyanyi yang hebat. Pada usia 16 tahun dia mengikuti audisi untuk tampil di Disneyland (sesuatu yang dia tahu akan memenuhi nilai pencapaiannya jika dia berhasil). Luar biasanya, dia mengalahkan 700 gadis yang lain dan berhasil ikut ambil bagian dalam Electric Light Parade dalam taman bermain bak cerita dongeng tersebut.

Pada awalnya, Jolie sangat senang. Kami, bersama dengan teman-temannya, sangat senang dan bangga kepadanya dan kami sering datang di akhir pekan untuk melihat penampilannya. Namun, jadwalnya sangat ketat. Jolie harus tampil setiap malam serta di akhir pekan, dan sekolahnya belum libur musim panas. Jadi dia harus mengendarai mobil dari San Diego menuju Orange County setiap malam dalam keadaan lalu-lintas yang padat, berlatih, dan tampil selama beberapa jam, kemudian pulang kembali saat malam sudah sangat larut lalu harus bangun tepat waktu keesokan paginya untuk ke sekolah. Seperti yang bisa Anda bayangkan, pulang-pergi setiap hari, bangun hingga larut malam, tak lama kemudian mengubah pengalaman tersebut menjadi siksaan yang melelahkan. Belum lagi kostum yang sangat berat yang harus dikenakannya membuat punggungnya sakit.

Namun, dari sudut pandang Jolie, yang lebih parah lagi adalah kenyataan bahwa jadwal padatnya sangat memengaruhi kehidupan pribadinya dan membuatnya tidak dapat menghabiskan waktu dengan keluarga dan teman-temannya. Saya mulai melihatnya berada dalam serangkaian keadaan emosional yang sangat tidak menguntungkan. Dia mulai berteriak saat ada topi yang jatuh dan mulai sering mengeluhkan apapun. Ini sama sekali tidak seperti Jolie. Puncaknya adalah saat seluruh keluarga bersiap-siap pergi ke Hawaii untuk program Sertifikat (ini program pelatihannya Oom Tony, -red.) tiga minggu kami – semua orang, kecuali Jolie yang harus tinggal di rumah agar dapat terus bekerja di Disneyland.

Pada suatu pagi, dia sudah tidak tahan lagi dan menghampiri saya sambil menangis dalam keadaan ragu dan bingung. Dia merasa sangat frustasi, sangat tidak bahagia dan tidak puas, walaupun telah mencapai cita-cita yang tampaknya luar biasa 6 bulan sebelumnya. Disneyland telah menjadi menyakitkan baginya.

Mengapa? Karena Disneyland menjadi rintangan baginya untuk menghabiskan waktu dengan orang-orang yang dicintainya. Selain itu Jolie selalu merasa waktu yang dihabiskannya untuk Sertifikat, di mana dia ikut serta sebagai pelatih, membantunya berkembang dibandingkan apapun dalam hidupnya. Banyak dari temannya di seluruh penjuru dunia mengikuti program ini setiap tahun, dan Disneyland mulai membuatnya merasa frustasi karena di sana dia sama sekali tidak merasa tumbuh dan berkembang. Dia merasakan kepedihan jika dia memutuskan pergi bersama kami ke Sertifikat (karena dia tidak mau menjadi orang yang menyerah) dan dia juga merasakan kepedihan jika dia terus bekerja di Disneyland karena itu berarti dia melewatkan sesuatu yang tampaknya sangat penting baginya.

Kami duduk bersama agar saya dapat membantunya melihat dengan saksama 4 nilai terpenting dalam hidupnya. Nilai-nilai tersebut ternyata:

  1. Cinta;
  2. Kesehatan dan semangat;
  3. Pertumbuhan; dan
  4. Pencapaian.

Dengan melihat nilai-nilainya, saya tahu bahwa saya dapat membantunya memahami bahwa dia harus mengambil keputusan yang tepat baginya. Jadi saya bertanya kepadanya, “Apa yang didapatkan dengan bekerja di Disneyland? Apa yang lebih penting dari bekerja di Disneyland?”

Dia mengatakan kepada saya bahwa, awalnya dia sangat senang karena dia menganggapnya sebagai kesempatan untuk mendapatkan teman baru, mendapatkan pengakuan untuk pekerjaannya, bersenang-senang, dan merasa telah melakukan pencapaian yang besar.

Namun, pada saat ini dia mengatakan bahwa dia sama sekali tidak merasa telah melakukan pencapaian besar karena dia tidak merasa dirinya tumbuh dan dia tahu bahwa ada hal lain yang dapat dilakukannya untuk mempercepat karirnya. Dia juga mengatakan, “Aku sangat kelelahan. Aku tidak sehat dan aku rindu sekali menghabiskan waktu dengan keluarga.”

Kemudian saya bertanya kepadanya, “Apa artinya bagi dirimu jika kau melakukan perubahan dalam bidang hidupmu yang ini? Jika kau meninggalkan Disneyland, tinggal di rumah, dan kemudian pergi ke Hawaii, apa yang akan kau dapatkan?”

Dia dengan cepat menjawab, “Yah, aku bisa bersama dengan kalian. Aku bisa memiliki waktu dengan kekasihku. Aku akan merasa bebas lagi. Aku bisa beristirahat dan mulai berolahraga untuk mengembalikan bentuk badanku. Aku akan mempertahankan nilai rata-rata 4.0 di sekolah. Aku bisa mencari cara lain untuk tumbuh dan mencapai keberhasilan. Aku akan bahagia!”

Jawaban untuk apa yang harus dilakukan sudah ada di depannya. Sumber dari ketidak-bahagiaannya juga sudah jelas. Sebelum dia mulai bekerja di Disneyland, 3 nilai terpentingnya terpenuhi, yaitu dia merasa dicintai, dia sehat dan bugar, dan dia merasa seperti sedang tumbuh. Tetapi saat dia menciptakan sebuah lingkungan di mana dia berhasil melakukan sebuah pencapaian, dia menghilangkan 3 nilai terpentingnya.

Ini adalah pengalaman yang umum terjadi. Kita semua harus menyadari bahwa kita harus mencapai nilai-nilai tertinggi kita lebih dulu – nilai-nilai ini adalah prioritas tertinggi kita. Dan ingatlah bahwa selalu ada cara untuk mencapai semua nilai kita secara bersamaan dan kita harus memastikan kita tidak mencapai apapun yang tidak penting.

Masih ada 1 rintangan terakhir bagi keputusan Jolie, yaitu dia juga menghubungkan kepedihan dengan meninggalkan Disneyland. Salah satu hal yang paling dihindarinya dalam hidup adalah menyerah. Saya jelas ikut bertanggung-jawab terhadap pendapat ini, karena saya percaya tidak ada yang bisa dicapai oleh mereka yang menyerah seberat apapun masalahnya. Jadi dia menganggap meninggalkan pekerjaannya di Disneyland sama dengan menyerah. Saya meyakinkan dirinya kalau mengambil keputusan untuk hidup sesuai dengan nilai-nilaimu bukanlah menyerah dan kemantapan dalam bertindak bukanlah sifat yang buruk. Saya akan menjadi orang pertama yang memastikan dia akan terus bekerja jika menurut saya dia menyerah hanya karena pekerjaannya terlalu berat. Namun, bukan itu permasalahannya, dan saya menawarinya kesempatan untuk mengubah peralihan ini menjadi anugerah bagi orang lain.

Saya berkata, “Jolie, dapat kau bayangkan bagaimana perasaanmu jika kau adalah pemenang kedua dan tiba-tiba pemenang pertama turun dan sekarang kau memiliki kesempatan untuk mengikuti parade? Mengapa kau tidak memberikan anugerah itu kepada orang lain?”

Karena sebagian definisi Jolie mengenai cinta adalah sumbangsih, ini dengan cepat sesuai dengan nilai tertingginya. Dia berhenti menghubungkan kepedihan dengan menyerah dan sekarang menghubungkan rasa senang dengan keputusannya.

Pelajaran tentang nilai-nilai ini merupakan salah satu pelajaran yang tidak pernah dilupakannya, dan yang paling menarik adalah dia menemukan cara baru untuk memenuhi semua nilainya yang mulai mengarahkannya dengan lebih tepat ke cita-citanya. Dia tidak hanya merasa lebih senang dan bahagia, tetapi tak lama kemudian dia mendapatkan pekerjaan pertamanya dalam produksi San Diego Starlight Theater.

Itu terjemahan Bahasa Endonesa dari isi di salah satu bab di bukunya Tony Robbins yang kubilang di atas.

Tapi, lagi-lagi, apakah Mbak Mantan ngawur?

Tetap enggak. Sama sekali nggak ngawur. Mereka cuma nggak tahu aja aku punya cara untuk mengakali kendala yang menurut mereka bakal ada kalau aku terus-terusan hidup dengan polaku yang sekarang ini, yang menurut mereka – mungkin – doesn’t make any sense. Ya, aku punya cara. Sayangnya cara ini – mungkin lagi – memang sama sekali nggak logis bagi nalar mereka. Mau bagaimana lagi, metodeku ini memang rada metafisik, sih. Maklumlah, namanya aja penggiat fisika kuantum, jelas aku selalu mengedepankan metafisika, jenis fisika yang belum bisa dijelaskan oleh fisika ala Newton πŸ˜›

Ingat, nggak, kalau Paman Ben pernah bilang, “With great power comes great responsibility,”? Aku sebenarnya nggak terlalu suka dengan kata-kata itu. Aku lebih suka versiku sendiri bahwa, with less responsibility comes great creativity. Cuma saja, berdasarkan pengalaman hidupku, kata-kata itu memang benar adanya.

Aku ini penikmat proses. Kesukaanku adalah membaca. Dengan cukup sombong aku akan bilang kalau aku ini selalu senang untuk mendapatkan dan mempelajari informasi-informasi baru pada bidang yang kusenangi. Dengan bertambahnya materi informasi yang masuk ke otakku, otomatis kompetensiku bertambah. Kelanjutannya aku percaya dengan bertambahnya kompetensiku maka itu berarti bertambah pula tanggung-jawabku. Dan, ya, aku sudah merasakan itu berkali-kali. Sampai dengan sekarang ini aku sering sekali dikirim kantorku untuk ikut pelatihan demi pelatihan. Besok Senin aku malah sudah harus ada di Bandung untuk ikutan pelatihan CISA, Certified Information Systems Auditor.

Bisa dibayangkan, begitu pelatihan ini selesai maka aku bakal diserahi tanggung-jawab oleh kantor untuk hal-hal sebagaimana subyek pelatihannya itu sendiri. Hal-hal seperti ini beberapa kali terjadi pada diriku. Dengan bertambahnya kompetensiku, otomatis aku ketiban tanggung-jawab yang lebih besar lagi.

Dan sampai sekarang di katepeku masih tercantum kalau agamaku adalah Islam. Aku percaya kalau Gusti Allah itu – dalam rangka mengangkat derajat hambaNya – akan memberikan ujian yang lebih besar dan lebih besar lagi. Tentu paradoksnya adalah ujian ini bukanlah jenis ujian yang tidak akan bisa diselesaikan oleh hambaNya, meskipun tiap saat bobotnya akan selalu bertambah besar.

Aku percaya ketika Gusti Allah menurunkan ujiannya, perkara tersebut akan diiringi oleh turunnya supporting system-nya juga. Tidak mungkin Gusti Allah ngasih tanggung-jawab binti ujian tanpa menurunkan fasilitas pendukungnya yang bakal membantuku menyelesaikan ujian dariNya. Dalam konteks penghasilan bulanan, dengan bertambahnya kompetensiku yang disusul dengan makin berbobotnya ujian serta tanggung-jawabku, hal itu akan diikuti pula oleh fasilitas pendukungnya, semisal mungkin itu adalah gaji dan tunjangan yang lebih besar, akses yang lebih luas, prajurit-prajurit baru yang menunggu komandoku, atau dengan kata lain peningkatan taraf hiduplah πŸ™‚

Maka…harus takut sama apa aku ini, sodari-sodari? Pada dasarnya aku ini memang makhluk yang kecil dibandingkan kekuasaan Tuhan, kan? Justru saking kecilnya itu makanya aku nggak takut kalau aku tidak akan bisa menafkahi sampeyan, hoi, Mbak-mbak Mantan! Aku ini memang kecil, tapi kekecilanku itulah yang menunjukkan kalau ada kekuatan besar yang mengiringiku dan sudah berjanji akan menjamin rejekiku dan rejeki kalian semua. Ya, kan? Ya, kan? Ya, kan?

Nah, salah kalian sendiri, kan, nggak bisa mikir sampai situ, oh, Mbak Mantan. Sukurin. Wek! πŸ˜›

Jadi sebagai penutup, waktu Jay, teman kantorku, kapan minggu lalu bertanya, “Kamu ngasih penjelasan kayak gitu nggak, Mas, ke mantanmu?”

Kujawab, “Enggaklah. Buat apa juga? Aku percaya dengan pepatah lama, guru akan datang ketika murid sudah siap. Ketika mereka memang belum siap, berbusa-busa pun aku menjelaskan ke mereka, probalitasnya bagi mereka untuk menerima penjelasanku sangatlah kecil.”

Maka sejak kemarinan itu si Jay mulai memanggilku di kantor dengan sebutan “senpai”. Iya, senpai yang ditinggal minggat sama mantan pacarnya, sedalam apapun aku mencintainya. Mungkin aku memang bukan jodohnya. Begitu saja πŸ™‚

Lilanana pamit mulih
Pesti kula yen dede jodone
Mugi enggal antuk sulih
Wong sing bisa ngladeni slirane

Pancen abot jroning ati
Ninggal ndika, wong sing ndak tresnani
Nanging bade kados pundi
Yen kawula sakderma nglampahi?

Mung semene
Atur puji kariya raharja
Sak pungkure
Aja lali asring kirim warta

Eman-eman mbenjang ndika
Yen ta nganti digawe kuciwa
Batin kula mboten lila
Yen ta nganti mung disia-sia


Facebook comments:

6 Comments

  • Warm |

    Prolognya ttg 2-3 mantan. Yg diceritakan baru dua. Yg ketiganya piye mas?

    Tapi ini tulisan yg panjang dan sungguh filosofis, membalut sedikit kisah lelah di bagian dalamnya.

  • Yang Punya Diary |

    yang 1 lagi pas euforia punya pacar pertama di jokja, oom. wajar ditinggal karena dinilai tidak valid dijadikan pegangan untuk masa depan, sih. waktu itu ip saya kan cuma 1 koma sekian, oom. hahahaha!

  • Warm |

    Buset, cepet amat responnya. Salut saya. Bener2 blogger teladan. Dan soal mantan satunya kui ya ya ya. Rasanya pernah baca ttg beliau. Rasanya ya, smoga saya ndak salah hehehe

  • Yang Punya Diary |

    sadar, kok. jangan khawatir, semua orang sebenernya sadar sama valuenya. yang jadi masalah adalah seringnya kesadaran itu cuma sampai pada tahap value cara πŸ˜›

So, what do you think?