Menghadapi Jejakmu

Perkara hapus-hapusan jejak, pada dasarnya hal ini harusnya bisa dimaklumi. Memang ada beberapa orang yang berani menghadapi masa lalunya dengan gagah, sementara beberapa manusia yang lainnya justru pengen menguburnya, menghilangkan jejaknya. Membuka lembaran baru, kayaknya itu istilahnya.

Tapi mungkin juga kalimat “berani menghadapi masa lalunya dengan gagah” itu aslinya ya tidak sebombastis itu. Aslinya ya ada beberapa orang pula yang menganggap keberanian seperti itu adalah hal yang biasa, yang tidak istimewa. Mereka ini biasanya adalah orang-orang yang cenderung cuek bin easy going, yang menganggap memang tidak ada hal dari masa lalunya yang perlu ditutup-tutupi, tidak ada yang perlu disembunyikan, pun tidak ada yang perlu dihindari – dalam perkara apa saja, tidak cuma perkara asrama, aeh, asmara macam video klip di atas. Dan aku selalu mengagumi orang-orang seperti itu, orang-orang yang selalu siap menghadapi konsekuensi dari apapun yang pernah dilakukannya sebelumnya.

Tapi lagi, walaupun aku mengagumi orang-orang yang seperti itu, bukan berarti tipe manusia yang sebaliknya adalah salah. Tidak. Sekali-kali tidak. Ini bukanlah begitu. Mau berani ataupun tidak berani, aslinya ini, kan, cuma problem selera. Selera itu, kan, cuma masalah konstruksi berpikir yang sepenuhnya didasari dari impresi masa kecil kita, pengaruh lingkungan, dan siapa yang menjadi panutan kita. Tidak karena aku suka makan pake lauk pete goreng dan sambel maka aku berhak dicap sebagai manusia salah dengan selera makan berbau tak beradab, meski harus kumaklumi pula bahwa yang berucap macam demikian itu ya dibentuk pula karena perkara selera.

Jadi, mau menghadapi konsekuensi masa lalu dengan santai ataupun mau menutupinya dengan menghapus jejaknya, ya sebenarnya semuanya sah-sah saja. Anggap saja mereka yang lebih menyukai perkara hapus-hapusan adalah para penggemarnya Peterpan, dan yang kebetulan tidak peduli dengan semua yang harus dihadapi berarti waktu kecilnya suka nonton “Virtua Fighter” sampai-sampai sontreknya kebawa ke alam bawah sadarnya:

Satu-satu musuh jatuh dan tidak berdaya
Tak peduli apa yang kuhadapi
Bagaikan burung terbang di angkasa
Kan kuraih bintang dengan tanganku


Facebook comments:

4 Comments

So, what do you think?