Mereka yang Memaksa

Maaf. Bukannya aku nekat menantang fatwa ulama yang bilang kalau golput itu haram. Sungguh mati aku ini bukan orang yang berani sok-sokan membangkang perintah ulama. Ulama itu – konon – adalah pewaris Nabi, soale. Aku cukup cerdas untuk tidak membiarkan diriku terpanggang di neraka gara-gara kualat sama ulama. Tapi mau bagaimana lagi… Aku sudah pulang jauh-jauh ke kampung halamanku dengan niat menggunakan hak pilihku (bahasa kerennya: menjadi bagian dari sejarah, ikut menentukan masa depan bangsa). Cuma saja kalau ternyata namaku sampai – bisa-bisanya – tidak tercatat sebagai pemilih padahal masih memegang katepe di situ, salahkan saja mereka yang pada geblek itu. Jangan aku yang dimasukkan ke neraka. Mereka saja. Aku ini terpaksa dan nggak tau apa-apa. Mereka, kok, yang memaksa…

Facebook comments:

17 thoughts on “Mereka yang Memaksa

  1. Hoho..
    Berjuta2 orang menimba ilmu di kampus,berorganisasi..Masa ga ada yang dikasih kesempatan buat benahin sistem pemilu kita..

    Tapi mungkin,ga ada noda ya ga belajar..

    Untung saya tetap bisa menggunakan hak pilih saya kemarin..

  2. Paling tidak dengan golput yg melebihi pemenang pemilu 2009 kali ini, jumlah kursi di senayan berkurang. artinya berkurang pula anggaran wat anggota DPR/MPR seperti tulisan di sini. Alasan yg masuk akal 😀

  3. Jadi begini Kakang Sengkuni, Anda sebenarnya terdaftar dalam DPT di Negara Astina bukan di Indonesia.. Anda ini kan juga mencalonkan diri jadi wapres to, eh patih maksudnya mendampingi Kakang Dursusepto eh Duryudana.. Maaf, banyak salah ngetik. Khilaf :p

  4. nah loe joe….. bedakan antara GolPut dengan yang ga ikut berpartisipasi… 😀

    @wi2d…
    WiDurna yo mencalonkan diri.. sebagai DPD Astina…

Leave a Reply