Mereka yang Memaksa

Maaf. Bukannya aku nekat menantang fatwa ulama yang bilang kalau golput itu haram. Sungguh mati aku ini bukan orang yang berani sok-sokan membangkang perintah ulama. Ulama itu – konon – adalah pewaris Nabi, soale. Aku cukup cerdas untuk tidak membiarkan diriku terpanggang di neraka gara-gara kualat sama ulama. Tapi mau bagaimana lagi… Aku sudah pulang jauh-jauh ke kampung halamanku dengan niat menggunakan hak pilihku (bahasa kerennya: menjadi bagian dari sejarah, ikut menentukan masa depan bangsa). Cuma saja kalau ternyata namaku sampai – bisa-bisanya – tidak tercatat sebagai pemilih padahal masih memegang katepe di situ, salahkan saja mereka yang pada geblek itu. Jangan aku yang dimasukkan ke neraka. Mereka saja. Aku ini terpaksa dan nggak tau apa-apa. Mereka, kok, yang memaksa…

  • Share/Bookmark

Baca juga:

  1. Mereka Beruntung Punya Muka Mirip Mukaku
  2. Buatku, yang Begitu Itu yang Paling Menarik
  3. Berjuang Mencari Rezeki yang Halal Demi Kemaslahatan Umat
  4. Anak Kecil yang Kepengen Menang
  5. Tuhan yang Maha Tahu

Ssst! Yang nyasar dari Google ke sini biasanya gara-gara kata kunci:



17 Responses to “Mereka yang Memaksa”

Leave a Reply


Berlangganan Wangsit

Masukkan alamat email sampeyan:

Ceriakan hari-hari sampeyan dengan rutin membaca wangsitnya Mas Joe

Si Sumber Wangsit
Anindito Baskoro "Joe" Satrianto. Laki-laki dahsyat (sumpah!). Pengangguran, pengkhayal, pemimpi, pembual, sekaligus pejuang (yang tidak) tangguh. Mantan aktivis Lab Omah TI, (masih jadi) penunggu sekretariat Himakom UGM, pengeceng gadis-gadis cantik berjilbab. Ngganteng, pinter, tapi banyak utang.
Google
Almanak
Shoutout!
Name :
Web URL :
Message :
Wangsit Singkat
Wangsit Bergambar

Switch to our mobile site