Muak Sama PSSI? Pindah Warga Negara Sahaja

Sungguh mati aku muak sama PSSI. Ini tentunya gara-gara timnas sepakbola Endonesa keok melulu. Terakhir Sea Games kemarin ini Endonesa gagal dengan babak bundas. Kalo kesulitan melawan Singapura yang akhir-akhir mulai merajai Asia Tenggara, sih, ya aku terpaksa maklum. Kenapa terpaksa? Ya karena jaman dulu itu Singapura ndak apa-apanya. Kita bantai terus. Cuma saja gara-gara naturalisasi pemain ala mereka, mereka jadi mulai bisa jumawa. Jadinya apa boleh buat, aku cuma bisa terpaksa maklum gara-gara peraturan kewarga-negaraan di Endonesa ini memang kampret. Manusia-manusia yang punya katepe di sini tiada boleh punya 2 biji paspor. Karena itulah kenapa striker timnas senior kita masih tetap Mas Bambang dan bukannya Christian “El Loco” Gonzales.

Tapi secara umum timnas Endonesa memang kampret. Entah gara-gara ketua umumnya sendiri adalah bekas napi atau bukan, yang jelas Endonesa memang bajindal! Bagemana tidak, wong kemarin kok ya bisa-bisanya kita dibantai Laos dan diteruskan sama dipermak Myanmar. Dengan skor telak pulak! Wuasyu tenan, tho? 2-3 tahun yang lalu padahal kita selalu pesta gol ke gawang mereka. Ini sebuah kemunduran total yang nggak bisa ditoleransi lagi!

Sebenarnya sudah sejak kemarin-kemarin dulu itu aku kuciwa setengah mati sama PSSI. Kejadiannya waktu itu Endonesa gagal lolos penyisihan grup buat ikutan Piala Dunia 2010. Gara-gara kekampretan tersebut pupuslah sudah mimpiku untuk mengkapteni Endonesa di pentas Piala Dunia. Mau nunggu 2014? Kelamaan. Aku sudah uzur waktu itu. Sudah 31 tahun umurku. Itu juga kalo kiamat versi kalender Maya nggak jadi terlaksana.

Ada yang mau bilang mimpiku mengkapteni Endonesa di Piala Dunia itu muluk? Silakan. Tapi asal tau aja, jaman aku esde dulu – sekitar tahun 94/95-an – sempat ada slogan yang berbunyi “Tekad Indonesia ke Pentas Dunia 2002”. Kalo mau diitung-itung, dari 2002 ke 2009 itu sudah telat berapa tahun? Dan mana pertanggung-jawaban dari tukang bikin slogan itu? Apa gunanya revolusi kompetisi yang diawali lewat gol Dejan Gluscevic ke gawang Persib Bandung kala itu? Apa gunanya coba, kalo ternyata prestasi malah timnas kita semakin pudar? Mendingan PSSI bubar aja dan duit yang dialokasikan buat kompetisi dialihkan untuk menyantuni kaum dhuafa.

Iya, lho… Bagaimana abege macam aku – waktu dulu itu – tidak bermimpi bisa turun di pentas sekaliber Piala Dunia kalo bukan gara-gara sesumbar macam di atas itu? Ditambah lagi dengan proyek Primavera-nya PSSI yang akhirnya lumayan sempat membawa Kurniawan main di FC Lucerne (terus nyaris jadi strikernya Sampdoria, meskipun akhirnya pilih pulang kampung hanya gara-gara – konon – nggak punya mental sewaktu mendapati fakta kalo dia harus menjalani latihan fisik yang sangat berat demi bisa bersaing di level Eropa), Bima Sakti dan Indriyanto di Helsingborg, dan Kurnia Sandy – meskipun sebagai cadangannya kiper cadangan – di Sampdoria juga, ya terang aja aku boleh berkhayal kalo Piala Dunia 2010 nanti akulah kapten timnas Endonesa. Apalagi pas besok itu umurku lagi berada di usia emasnya pemain bola, 27 tahun.

Hanya saja ternyata nasib Endonesa berakhir sampai di situ. Kejadian-kejadian berikutnya efeknya bisa dirasakan kemarin ini. Pokoknya PSSI iki pancen kirik plastik (baca: asu-asunan) tenan!

Karena itulah kemarin ini aku memutuskan pindah ke Inggris, jadi warga negara situ supaya bisa punya kesempatan tampil di Piala Dunia 2010. Masih ada 1 semester lagi buat menarik minat Fabio Capello supaya memasukkan aku ke dalam squad The Three Lions. Toh aku belum pernah tercatat memperkuat timnas senior Endonesa. Jadi aku masih punya kesempatan tampil membela Inggris.

Memang, aku nggak memulai karir sepakbolaku di Inggris langsung. Aku justru lebih memilih mengikuti jejak pemain-pemain keturunan Endonesa yang berkibar di pentas Eropa. Aku memilih mengawali karir di Belanda bersama Volendam.

1 tahun di Volendam, performaku sebagai gelandang kanan menarik minat Spartak Moscow. Akhirnya aku dibajak ke sana. Dengan patron 4-5-1 aku masih bermain di sayap kanan. Hanya saja ketika kompetisi sudah bergulir setengah musim, entah apa sebabnya, aku dimajukan jadi striker tunggal. Seorang Roman Pavlyuchenko harus merelakan diri menjadi cadangannya anak muda yang memiliki tinggi badan cuma 163 cm dan berat 50 kg.

Tapi aku nggak terlalu produktif sebagai striker. Kerjaanku lebih banyak membuka ruang supaya rekan-rekanku dari 2nd line bisa memborbardir gawang lawan. Cukup 1 tahun di Moscow akhirnya aku kembali ke Belanda dan bermain untuk Ajax Amsterdam. Di sini aku ditempatkan di posisi favoritku: penyerang sayap kanan.

Skill-ku makin terasah dan akhirnya tawaran datang dari Italia, tempat yang pernah kuimpikan untuk bermain bola waktu aku kecil dulu. Udinese menawariku kontrak yang tentu saja segera kusambar. Di sini aku bermain mundur lagi sebagai gelandang kanan, dan dalam waktu setengah tahun Internazionale menawariku posisi yang bakal ditinggalkan Luis Figo yang berencana pensiun. Aku terima kontraknya.

Di Inter, sejauh ini aku sudah menjalani 1,5 musim kompetisi. Aku lumayan betah di sini. Posisiku di timnas Inggris juga mulai terjamin. Bagaimana tidak, wong aku ini raja assist di Serie A. Inggris juga lolos ke Piala Dunia salah satunya berkat gol tunggalku ke gawang Irlandia Utara.

sayap kanan terbaik dunia

Dan begitulah… Kesimpulannya, mainan PES 2009 dengan mode Become A Legend itu ternyata menyenangkan. Aku bisa melampiaskan rasa muakku terhadap PSSI di sini. Apalagi ketika membuat profil pemain, aku bisa memasukkan fotoku supaya kontur wajah pemain yang kubikin di-generate sama komputernya dari fotoku.

raja assist serie a

Maka lihatlah, ternyata dibandingkan dengan pemain-pemain level dunia lainnya, ukuran tubuhku terlihat macam anak esde yang lagi ngumpul sama anak-anak kuliahan. Tapi ya akunya jelas saja nggak minder, wong aku ini tukang umpan nomor wahid di Serie A, kok 😛

nongkrong bareng teman-teman

P.S. Lihat, Ged, seandainya aku berduet sama Samsul Bahri di timnas kita, pastinya jawara Asia sudah di tangan Endonesa 😆

Facebook comments:

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

  1. Defence = 52
    pancen ga tau membantu pertahanan sih, ngendon nang ngarep teros… 😀

    kok ga ono keterangan tentang ketahanan fisik ketika bermain Joe..?? kowe asline mung kuat maen 5 menit wae toh..?? 😛

  2. Sampeyan ojo ngasok-asokke PSSI, lha wong asunya saja gak rela disamakan dengan mereka… mengko yen sampeyan didemo asu sak endonesa terus kepriye dab?

  3. gunawanrudy:::
    saya belum nyoba 2010, gun. nanti kalo sudah familiar dengan gerakannya, bolehlah kita taruhan 8)

    Parus:::
    kalo saya masih mesti ikutan turun bertahan juga, apa gunanya saber ikutan main? btw, itu statistik menyesuaikan kondisi waktu masa keemasan pas esema 😛

    Nayantaka:::
    anu, oom… apa njenengan lupa kata-kata jaman muda? anjing menggonggong kafilah berlalu :mrgreen:

  4. Wah ndak nasionalis ini. Syamsul aja tetap berwarganegara Indonesia mesti ndak bisa main di taraf internasional. 😡

    statistik menyesuaikan kondisi waktu masa keemasan pas esema 😛

    Statistik itu bukannya otomatis ya, paling banter cuma bisa diarahkan perkembangannya ke mana?

    BTW, mesti belum pernah gol pakai kepala ini. 😛

  5. aladin:::
    ngopo e kowe, bej?

    Gurunya Syamsul:::
    betool…
    maksud saya sebenernya demikian. skillnya saya arahkan ke hobi saya waktu esema: ngajak adu lari beknya musuh 8)

    dan jangan salah, gol saya malah lebih sering pake kepala. kalo adriano atau ibra tendangannya meleset membentur mistar atau juga ketepis kiper, diving head saya bakal menyeruak dari 2nd line 😆

  6. ^

    Yaolo, dasar cowok.

    Mbaknya belum kenal seorang cowok dengan baik kalau belum tahu tim favoritnya, pemain favoritnya, dan alur serangannya kalau main WE. :mrgreen:

    /main PES6
    //laptop jadul, etc.

    @ joesatch

    Ta’ kira ini postingan berbau nasionalis pas baca judulnya. Ternyata malah ngomongin BAL. 😆

  7. hee, ya sudah, mari mari buktikan di lapangan saja jon, mari mari kita futsal, di pelle, jangan lupa, ojo lali, aja klalen hahayy

  8. Kenapa yang saya tuh lebih suka striker yang body balance-nya tinggi meskipun speed & acceleration biasa-biasa saja. Bisa maen fisik gitu. 🙂 Apalagi ditambah ball-control yang aduhai, nggak ada yang bisa goyang.

    Soal PSSI, gak ada komen-lah. Media juga sering salah nulis Tim Nasional Sepakbola Indonesia sering ditulis Timnas PSSI. Memangnya PSSI itu negara mana? Indonesia nggak punya timnas sepakbola ya? Italia nggak pernah nulis Timnas FIGC atau Inggris dengan Timnas FA.

  9. christin:::
    iya, mak…
    saya sudah bangun ini. sekarang mau bobo lagi

    Nenda Fadhilah:::
    kalo satrianto, sih, ga bakalan deh seumur-umur bakal mau pindah ke MU

    sora9n:::
    ini nasionalis. biar nurdin halid sadar kalo dia sudah menjerumuskan pecinta bola nasional ke dalam jurang mimpi yang semakin tak tergapai 😆

    Amd:::
    masoloh…itu game waktu saya masih jadi mahasiswa 😛

    septo:::
    malas, yosep…
    saya sudah malas berlari lagi. futsal terlalu sempit untuk dijadikan ruang mengadu lari. top speed saya kan banter, walopun akselerasinya sudah jauh berkurang 8)

    fertob:::
    karena itu saya milih jadi sayap, oom. bisa terlempar badan ini kalo harus body-charge :mrgreen:

    adi:::
    mana mungkin…
    komputer ga pernah bohong, kecuali kalo outputnya memang diset dengan fungsi random

  10. 1] Saya senang timnas Indonesia cepat tersingkir dari SEA Games, karena Boaz dan Stevie jadi lebih cepat pulang ke Persipura. 😈
    2] Ada mode became a legend di PES 2009 versi PC ya? Saya maennya versi PS2 sih, seingatku hanya ada di PES 2010 (PS2). 🙄
    3] Kenapa rambutmu mesti merah? 😕

  11. jensen99:::
    1. no comment, karena saya pendukung gelora dewata. sayang, tim yang bersangkutan sudah bubar 😛

    2. ada. itu saya mainnya pake PC kok

    3. meniru hanamichi sakuragi :mrgreen:

    the riza de kasela:::
    komputer jarang ngibulnya…

  12. waduh dah lama gk maen pes2009.. gimana ya nasib become legend saya dimilan.. hehehe

    gimana joe msh dijogya ya..? kapan kita bisa maen bola lagi..?
    kapan kita bisa kumpul2 lagi..?
    mo dateng ke pernikahan azis gak? anak2 jogya ada yg mau dateng gk?

  13. saya sih tiap minggu masih main bola. masih rutin mencetak gol dan mengirim assist juga 😀
    kalo mantenane azis sih saya juga nunggu kabar dari yg lain. cuma…kok ya sampe skrg belum ada rencana-rencana bakal berangkat, tuh 🙁

  14. Pingback: Kalau Cuma Buat Kalah, Mending Kami Saja! | The Satrianto Show: Beraksi Kembali!

  15. Pingback: Garuda Muda dan Emprit Tua | The Satrianto Show: Beraksi Kembali!