Nona dan Nyonya, Mohon Maaf, Jangan Manja

Meskipun tidak terlalu suka dengan Kanjeng Raden Mas Tumenggung Roy Suryo Notodiprojo, yang sampai dengan hari ini masih setia memblok akun Twitter-ku, harus kuakui bahwa prediksinya soal blog itu hanyalah tren sesaat (di Endonesa) sungguhlah terbukti benar di kemudian hari. Aktivitas ngeblog tidaklah sekencang sekitar tahun 2006-2009 dahulu, sedikit blogger-blogger yang kondang pada masa itu masih rutin menulis sampai sekarang, dan celakanya banyak blogger yang akhirnya juga ditengarai lupa sama password akun Blogspot atau WordPress-nya masing-masing, yang dengan demikian maka komplitlah sudah runtuhnya kejayaan para blogger yang sedikit-banyak juga diakibatkan oleh lebih populernya aplikasi microblogging sebangsa Twitter dan social media semodel Facebook sampai dengan Instagram.

Aku sendiri juga tidak menulis seintens dulu lagi meskipun biasanya sekitar 2 bulan sekali aku masih menyempatkan diri menyumbangkan pemikiran-pemikiranku untuk bangsa ini. Ketidak-rutinanku tersebut tentu berimbas pula terhadap jumlah kunjungan yang masuk di blogku ini. Kalau jaman dulu kayaknya enteng-enteng aja buat dapat 1.000-an pembaca saban harinya, sekarang ini…adudududuuuh, buat dapat 100 pengunjung per harinya aja susahnya setengah metong. Maka tentunya adalah sebuah anoman anomali ketika kapan hari kemarin blogku – tumben-tumbenan – bisa mencapai jumlah pengunjung 400 lebih.

Adalah tulisanku soal perempuan-perempuan yang memutuskan melepas jilbabnya kemarin itu yang menyebabkan traffic blogku mendadak melonjak tinggi. Tulisanku itu tiada pernah kusangka bin tiada pernah pula kuduga diapresiasi oleh – 2 di antaranya adalah – Oom Warm dan Kitin yang pengikutnya di Twitter berjumlah 4.000-an. Mereka-mereka yang menyebarkan ulang tulisanku itulah yang akhirnya membuat blogku kembali banyak (ya…sebenarnya tetap nggak banyak juga, sih, kalau dibandingin 10 tahun yang lalu) dikunjungi oleh masyarakat. Mbak Mantan bahkan sempat juga menengok blogku lho. Sungguh, aku jadi terharu sekali.

Dari sekian ratus pengunjung itu memang nggak semuanya berkenan meninggalkan kesan dan pesannya di kolom komentar, padahal aku membutuhkan komentar-komentar mereka supaya kesannya blogku ini masih banyak dikunjungi orang πŸ˜› Semprulnya, beberapa sejawatku malah memilih langsung menuliskan tanggapannya via aplikasi pesan instan ke hapeku. Ooo…gembus!

Yang menarik, ada beberapa mbak-mbak yang berkeluh-kesah pula demi membaca tulisanku itu. Berhubung tulisanku tersebut menyebutkan setidaknya 2 contoh perusahaan – guest relation officer di hotel dengan reputasi internasional dan pramugari pesawat terbang – yang tidak mengizinkan karyawatinya untuk mengenakan jilbab, mbak-mbak ini langsung menyatakan keprihatinannya. Menurutnya, jilbab itu toh sebenarnya tidak ada hubungannya dengan performa kerja, jadi sudah seharusnya tempat kerja-tempat kerja tersebut membolehkan pegawai ceweknya buat pakai jilbab. Atau, kalau perlu, sudah seharusnya pemerintah turun tangan dalam persoalan ini, mengingat negara ini menjamin warga negaranya untuk menjalankan syariat agama yang diimani oleh masing-masing penduduknya.

Dan bisa kalian tebak, oh, duhai pembaca, aku jelas tidak setuju dengan tuntutan seperti itu. Lha ini, kan, konteksnya bisnis. Namanya juga bisnis, tujuannya adalah mengeruk keuntungan seuntung-untungnya. Kalau si pemilik ataupun dewan direksinya sepakat bahwa, salah 1 jalan untuk membuat masyarakat negara ini banyak-banyak mengonsumsi produk mereka adalah dengan cara mempertontonkan atribut yang menurut mbak-mbak di atas tadi termasuk aurat para pion wanitanya, ya itu terserah perusahaannya, dong. Buatku itu cukup adil. Seperti halnya kalau syarat untuk jadi aparatur sipil negara adalah tidak boleh berambut gondrong (jaman dulu aku pernah disuruh potong rambut sama pewawancaraku waktu tes CPNS, kalau-kalau besok aku keterima di instansi tempatku mburuh sekarang ini), ya boleh juga, dong, ketika ada kantor yang tidak membolehkan pegawai wanitanya untuk berjilbab.

Sebaliknya pula, kalau mau tetap punya rambut gondrong dan pakai anting di telinga kiri tentunya aku nggak akan memilih bekerja di tempatku saat ini, begitu pula dengan mbak-mbak berjilbab itu. Mereka silakan saja tetap berjilbab sepanjang hari, waktu sedang mandi sekalipun juga boleh, asalkan kerjanya nggak di perusahaan yang bersangkutan ini tadilah…

Aku justru heran dengan permintaan untuk memfasilitasi supaya seorang perempuan bisa tetap berjilbab ketika aturan yang berlaku di situ memang tidak boleh untuk berjilbab. Pertama, apa gunanya difasilitasi? Memangnya memakai jilbab itu seurgen itu buat mbak-mbak yang bekerja di situ itu? Nggaklah. Ini, kan, sebenarnya cuma masalah komparasi value. Kalau wanita yang bersangkutan memang menaruh value untuk tetap berjilbab dalam segala kondisinya di tempat tertinggi, tentunya dia tidak akan memilih untuk bekerja di tempat di mana ada larangan memakai jilbab untuk para karyawatinya. Dengan logika yang sama, ketika seorang gadis (ataupun yang sudah tidak gadis lagi) memilih untuk bekerja di tempat yang melarangnya menggunakan jilbabnya, sudah pasti mbak yang bersangkutan tidak menaruh value untuk berjilbab lebih tinggi dari value-nya soal berlenggak-lenggok menyenangkan konsumen perusahaannya binti cari duit.

Jadi buat apa difasilitasi? Lha, sasaran fasilitasinya sahaja toh nyata-nyata tidak butuh untuk difasilitasi.

Fasilitasi model begitu menurutku justru menunjukkan kelemahan dan kemanjaan dari seorang muslimah. Apa-apa, kok, maunya menang sendiri? Apa-apa, kok, memposisikan diri sebagai pihak yang terzalimi? Kan, aturannya sudah jelas sangat sederhana: take it or leave it.

Kedua, yang begituan itu menurutku memang semprul. Apa, sih, serunya hidup kita kalau apa-apa harus tergantung sama pihak ketiga? Mau puasa, warung makan di sekitar kita mesti ditutup dulu, seakan-akan kalau warung makannya nggak ditutup maka kita nggak akan bisa puasa. Terus sekarang, pengen (kelihatan) istiqamah menutup aurat, tempat kerja kita kudu membolehkan kita untuk tetap pakai jilbab. Maka lama-lama aku nggak heran juga – jika perilaku manja ini diteruskan – bisa jadi bakal ada tuntutan untuk boleh berjilbab dan harus ada mata pelajaran Agama Islam juga kalau kita sekolahnya di Kolese de Britto atau Stella Duce (lha, gendeng tho? Wong de Britto ini, kan, sekolahan khusus cowok. Masak mau menuntut supaya muridnya dibolehin pake jilbab? Kalo di Stella Duce, sih, ya masih rada bisa diterima nalar sedikitlah, meskipun kalau banyak-banyak ya jadinya tetap ngawur juga).

Padahal semuanya itu, kan, jelas. Jelas bahwa hal-hal yang sifatnya keyakinan itu ranahnya pribadi, soal hubungan kita sama Pencipta kita. Tinggal kitanya sendiri yang menentukan, mau lebih mementingkan dunia atau akhirat? Seandainya memakai jilbab itu memang diyakini bakal menjadi bekal kita besok di akhirat, nggak usah pakai difasilitasi kita akan melakukannya dengan kesadaran kita sendiri, kok. Kita tidak akan memaki kantor yang tidak membolehkan kita untuk berjilbab. Kita akan dengan senang hati mencari pekerjaan di tempat yang lain, tempat di mana kita boleh berjilbab.

Hidup ini, kan, sesungguhnya simpel. Kalau mau aman, tentram, dan bahagia, seandainya ada value-value yang menurut kita saling bertentangan di hidup kita, selalu pilihlah untuk mengikuti value yang memiliki posisi lebih tinggi bagi kita. Seperti ceritaku kemarin soal Mbak Mawar yang kepengen melepaskan jilbabnya karena menilai jilbab bukanlah sesuatu yang wajib dalam ajaran Islam, tapi nggak enak sama orang tuanya kalau harus melepas jilbabnya. Maka kalau value untuk mengikuti perintah orang tuanya berada di posisi lebih tinggi ketimbang value-nya untuk melepas jilbab, patuhi saja perintah orang tua, ketimbang harus lepas jilbab tapi malah membuat hubungan dengan orang tuanya jadi memburuk. Lagipula untuk hal-hal yang seperti ini sejatinya tidak ada nyawa yang dipertaruhkan, kan? Tetap make jilbab juga nggak ada salahnya, kan? Nggak bikin tertular virus HIV, kan? Jadi buat apa susah? Susah itu tak ada gunanya.

(Soal cara menentukan value ini, supaya hidup sampeyan jadi bahagia, kalau kepengen tahu lebih detail lagi, kusarankan buat baca buku “Awaken the Giant Within”, deh)

Jadi dengan ini, sekali lagi kutegaskan, apa perlunya meminta-minta supaya kita tetap diperkenankan berjilbab oleh kantor kita seandainya memang ada aturan nggak boleh pakai jilbab di situ? Resign saja. Jangan manja, dong, ah. Jangan sampai kemanjaan kita ini akhirnya merambat ke perkara-perkara yang makin konyol lagi, karena boleh jadi dengan semakin dipupuknya rasa manja kita – terutama dalam hal yang menyangkut kehidupan beragama – boleh jadi pula lama-lama kita bakal minta fatwa atau minta supaya isi kitab suci direvisi. Gara-gara kita kepengen cepet jadi orang kaya tanpa perlu berpeluh-keringat, kita jadi minta supaya profesi lintah darat, agen penyewaan kelamin, admin judi online, atau bandar narkoba dan mafia dihalalkan sahaja demi kelangsungan dan kemudahan hidup kita.

Tapi, Mas Joe, itu, kan, beda.

Oh, siapa bilang beda? Di mana bedanya, coba? Ini semua toh sama-sama soal kepengen menang sendiri.

Makanya jangan gitu, dong, ah. Jadi orang itu harus punya prinsip. Jadi manusia itu harus bisa menentukan value dirinya sendiri-sendiri. Tiru saja ketika jilbab dilarang pas masa pemerintahan orde baru, banyak wanita yang tetap memilih hidup di Endonesa meskipun nggak boleh menutup aurat sesuai dengan keyakinannya. Mereka tetap memilih tinggal di negara ini ya karena mereka memiliki value bahwa bisa tetap tinggal di Endonesa jauh lebih penting daripada urusan tentang kain penutup kepala.


Facebook comments:

5 Comments

  • Warm |

    Yg pertama terpikir saat membaca postingan ini adalah: follower saya ga sebanyak itu kok, kalo Kitin sih iya mungkin hehehe

    Yg kedua, iya mas Suryo itu seorang visioner. Dan yg males posting di blog ya banyak (termasuk saya), yg males komen apalagi, soale kudu ngisi form sana sini. Itu jg mbuh dibales empunya blok kapan. Beda sosmed, rusuhnya cepet. Ya jaman sdh berubah. Tsk.

    Yg ketiga, apalah daya, lagi2 saya setuju soal sudut pandang kemanjaan vs value. Jd ngaca jg. Jangan2 saya terlampau manja juga selama ini. Wah kacau. Terimakasih sdh mengingatkan πŸ˜€

  • Yang Punya Diary |

    begitulah, oom. tapi saya tetap nulis di sini dengan alasan karena jumlah kata tidak dibatasi. postingan sepanjang 1 disertasi pun jadi di sini kalau memang mau. hahaha

  • Ratri Paramita |

    Noted banget sih ini mas. Hahaha. Gimana-mana balik ke value kita masing-masing lagi. Saling menghormati aja lah, daripada memaksa agar kehendaknya diturutin πŸ™‚

  • sangprabo |

    Mas, aku masih ngeblog loh sampe sekarang. Kalau intensitas mungkin per blog jadi berkurang, karena blognya jadi banyak. Kurang tepat juga kalau frase blog menurut Om Roy hanya sebatas tulisan yg formatnya ditaruh di WordPress or Blogspot, namun intinya naluri orang buat menulis masih ada (hanya mungkin tersalurkan di media yang berbeda).

    Menurutku lagi (ya iyalah masak menurut saran dokter), naluri untuk tetap menulis itu akan terus tumbuh bila si penulis terus melahap buku-buku dan artikel bermutu (emang orangnya suka baca dan belajar). Balik lagi ke soal blogging, berarti yang tahun 2006 bikin blog lalu 2009 tumbang itu mungkin karena memang tidak ada interest untuk baca terus. Makin banyak baca harusnya semakin banyak yang ditulis.

    Udah gitu ajah. Kok aku jadi ngeblog di komen…

  • The Hermawanov |

    Stetmen tentang banyak blogger yang lupa password itu valid, pun tentang si roy yang bilang blog tren sesaat juga tak meleset, sejak kemunculan fb, twitter & instagram, jd males nge-blog lagi dan sampe lupa password πŸ˜€
    Ini juga baru kemaren pake menu forget password utk bikin password baru, dan bikin postingan baru setelah hiatus sekian ratus hari…
    Btw, ini dulu blog yg sering kukunjungin semasa jaya2 nya blogging, gak nyangka loe masih rajin nge-blog joe, salute… YNBA, You’ll Never BLOG Alone πŸ™‚

So, what do you think?