Pagi (-pagi Sudah) Berbagi

sedekah, den...paring paring sedekah, den

Ngobrol tentang sedekah dan rasa ikhlas, sejujurnya, sumpah mati nggak pake ngibul, aku ini orang yang sangat sulit untuk berbuat ikhlas. Dalam melakukan apapun, bolehlah dipercaya bahwa pernyataanku ini memiliki kadar akurasi sampai dengan 90%, aku ini selalu mengharap pamrih. Sangat sulit buat antum sekalian menjumpaiku dalam kondisi 10% sisanya. Bahkan kalo ada yang berkata, “Mas Joe itu cuma nggak pelit kalo sama cewek cantik,” sebaiknya ente jangan langsung manggut-manggut percaya.

Okelah, boleh dibilang aku ini memang nampak nggak pelit sama cewek cantik. Tapi apa yang nampak di luar belum tentu sejalan dengan apa yang ada di dalam. Predrag Mijatovic bilang, orang yang paling dia percayai adalah dirinya sendiri, karena ya dirinya sendiri itu tiadalah mungkin bakal mengkhianati dia. Karena itu sampeyan juga jangan gampang percaya kalo aku ini tanpa pamrih pada gadis (maupun sudah bukan gadis) cantik ketika sedang melakukan sebuah tindakan yang mengesankan kalo aku ini bukan laki-laki pelit.

Sungguh mati aku ini penuh pamrih!

Ketika aku terlihat tiada pelit, sungguh mati pula, aku ini sebenarnya sedang mengharapkan balas jasa berupa secipok-2 cipok di bibirnya si cantik itu. Yah, mau bagemana lagi? Namanya juga kebutuhan biologis, je. Lebih tepatnya lagi, kebutuhan biologis dari laki-laki yang gampang bosan kalo cuma sama 1 wanita yang sama terus-terusan πŸ˜†

Bandel ya? Iya, aku juga tau, kok. Silakan sampeyan misuh. Aku nggak ngelarang, wong nyatanya aku ini memang sedikit bejat, kok.

(Tapi cuma sedikit, lho ya. Sumpah, cuma sedikit, kok…)

Jadi, ya itu tadi, aku ini sulit banget berbuat ikhlas. Semuanya harus ada imbalannya. Termasuk kalo lagi ngasih sedekah di kotak amal pas lagi Jumatan di mesjid (ya iyalah di mesjid. Memangnya mau Jumatan di tukang tambal ban?).

Cuma, beberapa hari yang lalu ada yang ngajarin aku. Sedekah itu ndak pa-pa ndak ikhlas, asal banyak. Tentu saja ajaran macam itu kutolak mentah-mentah. Setauku, dari guru ngajiku jaman kecil dulu, yang ada justru sebaliknya: sedekah itu walaupun nilainya kecil yang penting keikhlasannya.

Tapi orang yang ngajarin aku itu juga nggak mau nerima pendapatku begitu saja tanpa perjuangan. Mungkin gara-gara beliaunya tau kalo aku ini jarang buka-buka Qur’an (apalagi dibaca-baca), beliau langsung memborbardir aku dengan dalil-dalil dari kitab suci, bahwa Allah berjanji akan mengganti sedekahku sejumlah 700 kali lipat. Sesial-sialnya ya 10 kali lipatlah. Katanya ayat itu ada di Surat Al Baqarah. Ayat berapanya aku lupa…ya gara-gara itu tadi…aku ini jarang buka-buka Qur’an.

Dan dengan statement macam di atas itu, itu artinya tidak mengapa kalo aku bersedekah dengan tidak ikhlas, soale Tuhan sendiri sudah berjanji bakal mengganti, kok, ya… Manalah mungkin Tuhanku itu mau melanggar janjinya sendiri, kecuali kalo Dia itu mau dicap sebagai jenis Tuhan yang suka ngibul.

Tidak mengapa kita tidak ikhlas. Tidak mengapa kita mengharap balasan, soalnya, kan, Tuhan sendiri juga bilang supaya kita rajin-rajin meminta kepadaNya. Jadi kalo misalnya sehabis sedekah aku langsung meminta ganti rugi hartaku itu ke Tuhan, itu sah-sah saja. Konon, Tuhan justru senang kalo kita rajin meminta. Malah kalo nggak pernah minta, menurut shohibul yang punya hikayat, kita bakal dicap sebagai makhluk yang sombong. Sok-sokan. Karena itu, ketika bersedekah, kita tidaklah dituntut harus ikhlas dulu.

Terus, perkara kenapa harus banyak, si orang tukang nasehat itu juga bilang, “Lha, Allah, kan, juga bilang, minimalnya bakal diganti 10 kali lipat. Nek sampeyan sedekah cuma 100 perak, baliknya ya cuma serebu rupiah. Bedo nek sampeyan gelem sedekah 50.000 aja. Baliknya ya silakan dikalikan 10 sendiri sana. Coba, mana yang ganti ruginya lebih kerasa nendang?”

Ta’pikir-pikir, iya juga ya… Itu baru jumlah ganti rugi minimal. Kalo ternyata klaim ganti rugiku tembus sampe 700 kali lipat, dengan memasukkan 50.000-an ke kotak amal maka akunya bakal dapat…sebentar dulu…euh, 35 juta? Iya, 35 juta rupiah!

Tentu saja gara-gara itung-itungan model kayak gitu, mulai minggu depan aku berjanji bakal masukin duit 50.000 ke kotak amal saban Jumatan. Tentu saja dengan catatan kalo pas waktunya Jumatan akunya nggak lagi ketiduran.

Tapi ya yang namanya sedekah tetap saja hukumnya sunnah. Kalo dikerjakan bagus, dapat pahala, tapi kalo nggak dikerjakan ya sah-sah sahaja. Sedekah itu ndak wajib. Yang wajib itu zakat. Itu juga wajibnya cuma buat yang memang sudah mampu secara finansial saja. Buat yang hobi ngutang di kantinnya Bu Esti model aku ini, malah seharusnya aku ini termasuk golongan orang yang berhak menerima zakat. Apa itu istilahnya? Ah, ya…ghorim.

Tapi lagi, yang namanya sunnah ya tetap saja bagus kalo dikerjakan. Karena itu aku sempat berbangga-hati ketika melihat beberapa oknum adik kelasku jadi aktivis gerakan Pagi Berbagi. Gerakan sosial ini mengagendakan untuk sebisa mungkin sering-sering berbagi sarapan dalam kotakan buat mereka-mereka yang membutuhkan. Yah, memang gerakan yang bagus dan membanggakan. Minimalnya aku bisa nyombong ke orang-orang, “Sampeyan liat itu anak-anak muda yang hobi berbagi? Liat, liat! Mereka itu adik-adik kelasku di kampus!”

blognya pagi berbagi

Sebagai kakak kelas, rasanya tiada mengapa, kan, kalo aku nunut ngetop? Toh jaman mereka masuk kampus, yang mendidik mereka pertama kali, yang ngospek mereka, juga aku, kok 😈

Tapi juga, ternyata aku sempat sedikit gimanaaa gitu, ketika aku mendapati Twitter-nya mereka.

Di situ adminnya pasang selusin status semacam berikut ini:

status twitternya pagi berbagi

status twitternya pagi berbagi

status twitternya pagi berbagi

status twitternya pagi berbagi

status twitternya pagi berbagi

status twitternya pagi berbagi

status twitternya pagi berbagi

status twitternya pagi berbagi

status twitternya pagi berbagi

status twitternya pagi berbagi

status twitternya pagi berbagi

status twitternya pagi berbagi

Aku tertegun. Tertegun dan maklum. Tertegun karena, kok, bahasa tulisnya terkesan emosional sekali? Selanjutnya aku maklum, yang namanya admin Twitter biasanya ya oknum individu. Yang namanya individu bisa saja sedang dalam mood yang tidak baik ketika sedang melaksanakan tugas-tugasnya.

Seorang sejawat sempat terganggu juga dengan hal ini. Sama sepertiku, sepintas ketika melihat status model begitu, dia berpikir kalo, ah, statusnya, kok, bernada arogan? Status bernada penuh sindiran macam itu kupikir juga tidak efektif untuk mengetuk hatinya siapa saja. Siapa, sih, homo sapiens yang suka disindir? Apalagi disindirnya pake huruf KAPITAL segala? Tau bedanya huruf KAPITAL dan bukan kapital? Ini bedanya: ini adalah huruf “KAPITAL” dan yang ini adalah huruf “bukan kapital”. Jelas bedanya, kan?

Dalam panduan etika berinternet pun UPPER CASE LOOKS AS IF YOU’RE SHOUTING! Pertanyaannya sekarang, adakah yang suka disaranin, dinasehatin sambil diteriakin? πŸ˜‰

Kupikir tidak perlulah ketika ingin mengajak orang lain untuk sama-sama bersedekah hal itu kita lakukan sambil (terlihat) marah-marah. Apalagi untuk menjaga branding komunitas semacam Pagi Berbagi ini rasanya alangkah lebih santun dan bijaknya kalo ajakan itu ditunjukkan lewat tindakan saja. Mengajak secara eksplisit lewat kata-kata saja rasanya belum terlalu perlu, apalagi lewat kata-kata yang terkesan sinis bin penuh sindiran. Lebih baik apdetan statusnya berisikan hal-hal yang sudah dilakukan saja, atau tentang bagaimana Pagi Berbagi bersedia memfasilitasi orang-orang yang punya kelebihan finansial tapi tidak memiliki kelebihan waktu untuk bersedekah πŸ˜‰

Kupikir juga, siapapun yang sedang bertugas sebagai admin di Twitter-nya, lebih baik kalo mengerti tentang ilmu psikologi dan jurnalistik ringan. Ini penting. Karena jika tindakan shouting-shouting-an macam di atas itu tetap dilakukan, sekalipun yang melakukannya adalah oknum personal, pihak luar akan tetap menganggap hal itu adalah suara resmi dari komunitas yang bersangkutan.

Lebih jauh lagi, tentu saja aku nggak pengen branding-nya Pagi Berbagi menjadi buruk di mata ummat. Karena kalo sudah begitu ya akunya jadi sungkan buat ikutan nunut ngetop lagi :mrgreen:

Lagipula, hukum dasarnya bersedekah (dalam Islam) setauku ya tetap termasuk perkara sunnah. Karena itu tidaklah bijak kalo ajakan untuk melakukan ibadah sunnah itu dilakukan dengan (terkesan) menyindir sebagai sebuah paksaan halus. Meskipun halus, yang namanya paksaan ya tetap saja paksaan. Wong dalam memilih agama saja tidak boleh ada paksaan, apalagi dalam beribadah. Dan ketika dalam beribadah juga tidak boleh ada paksaan, ya apalagi dalam perkara ibadah sunnah.

Iya, kan? Iya, kan? Iya, kan?

Iya aja, deh πŸ™‚

Facebook comments:

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

  1. Pingback: Pagi (-pagi Sudah) Berbagi « The Satrianto Show!

  2. Lha, saya sedekah, tapi ke Green Peace :). Ndak perlu uang baliknya, kalau bisa tanah yang tetap subur, udara yang bersih, dan air yang layak konsumsi :D.

  3. saya juga sudah kalo yang itu. memang nggak butuh uang balik, sih. soale gara2 saya sering mengotori alam lewat asap rokok saya, duit saya ta’anggap sebagai penebus dosa πŸ˜†

  4. yang ngajak ribut itu si oknum. sekali lagi, OKNUM! nah, saya pake huruf KAPITAL itu 😈

    sebenarnya program ini perlu disupport, lu. nanti ta’nyoba tanya ke landhes, berapa nomer rekening yang bisa dikirimin duit banyak2 πŸ˜€

  5. kayak menteri n selebritis aja. sedekah mesti ngasih tau orang. riya’ itu namanya….
    bukankah kalo memberi pake tangan kanan, kalo bisa tangan kirinya diumpetin biar dia gak tau???

  6. Pingback: Bagi Duit, Dong, Ya Allah | The Satrianto Show: Beraksi Kembali!

  7. Wah, gak ikhlas sama gak rela itu beda.

    Gak ikhlas itu kalo ngarep balesan bukan dari Allah.

    Gak rela itu kalo berat disuruh ngelakuin.

    Jelas, seorang manusia penuh pamrih bisa saja ikhlas 100%.

    “Saya ikhlas, tapi kepaksa”

    πŸ˜€