Petunjuk untuk Generasi Nunduk

Tentu, setiap orang biasanya berpendapat bahwa generasinya adalah yang terhebat. Sindrom macam beginian jamak terjadi di mana-mana. Di kampusku, misalnya, juga sering kejadian beberapa sejawat ngeluh tentang kinerja adik kelasnya di organisasi mahasiswa yang digelutinya. Dalam beberapa kesempatan di sebuah warung kopi nan romantis (tapi buluk) aku sering sekali dapat curhat dari mereka, “Wah, Mas, cah-cah angkatan 20XX ini gimana ya cara ngasih taunya? Kerjaan, kok, banyak nggak becusnya. Nggak kayak jaman saya dulu.”

Aku sampai hafal di luar kepala sama keluhan model gitu. Betapa tidak, aku ini sudah nyaris genap 1 dekade menjadi penghuni kampus, dan sejak selesai masa jabatanku sebagai ketua umum (ad interim) di sebuah ormas (ORganisasi MAhaSiswi (dan juga mahasiswa), maksudnya), aku kebagian peran sebagai penasehat sepanjang masa (setidaknya sampai masa sekaranglah) di ormas tersebut. Kalau mau dimirip-miripin, bolehlah dibilang kalau peranku ini identik dengan Bisma Dewabrata di Ngastinapura. Doi nggak pernah jadi raja di sana – hanya sempat jadi pejabat sementara setelah kedua adik tirinya yang raja, Citragada dan Wicitrawirya, meninggal – tapi sebenarnya beliaulah pemilik sekaligus jiwa dari Istana Gajahoya. Begitu pula aku ๐Ÿ˜†

Dan keluhan model di atas itu sebenarnya adalah keluhan menahun. 1 angkatan selalu mengeluhkan angkatan yang di bawahnya. Nanti, tahun depannya, angkatan yang sekarang dikeluhkan ini bakal mengeluhkan kinerja angkatan adik kelasnya lagi. Begitu turun-temurun. Begitu, begitu, dan selalu begitu.

Maka sekarang tentu saja aku nggak bakal membahas bagaimana solusi dariku. Selain karena tema tulisanku sekarang ini sebenarnya bukan tentang masalah ormas di kampusku, solusiku dari tahun ke tahun sebenarnya selalu sama: Perbanyak komunikasi 2 arah dan awasi saja itu adik kelas ente itu supaya nggak keluar dari pakem dan AD/ART ormas yang ada. Cukup, urusi itu saja. Sisanya, biarlah beta yang mengurus masalah personal gadis-gadis cantiknya :mrgreen:

Well, begitulah… Tanpa bisa kupungkiri, dalam konteks yang malah jauh lebih luas, aku berpendapat kalo angkatanku – kami yang lahir tahun 80-an – adalah generasi dahsyat yang terakhir ada di Planet Bumi ini. Anak-anak jaman sekarang? Bah, cuih! Tahu apa mereka? Wajah mereka selalu menunduk, menatap gadget di tangannya, memainkan permainan-permainan digital yang membuat mereka lupa dengan dunia di sekelilingnya. Aku bahkan sangsi kalo mereka berani menengadahkan wajahnya, menatap langit dan menentang matahari (main layangan, maksudnya) ๐Ÿ˜ˆ

Jadi tanpa bermaksud ngibul, kuakui sejujurnya kalo aku, secara general, memang memandang sinis dan nggak habis pikir dengan generasi abege saat ini. Aku bahkan sudah pernah menulis keprihatinanku tentang hal itu pula. Tentunya keprihatinanku ini kutulis biar nggak disangka kalo yang berhak prihatin dalam berbagai macam aspek itu cuma Presiden Endonesa. Anak muda seperti hamba ini juga bisa prihatin macam Anda, kok, Yang Mulia!

Cuma saja jaman memang sudah berubah. Apa yang ideal di masaku dulu tidaklah bisa untuk dipaksakan kepada generasi saat ini untuk melakukannya. Kata Haji Wiwid, biarlah mereka menyelesaikan persoalan yang dihadapinya dengan caranya sendiri. Kalau anak-anak jaman sekarang lebih suka ngumpul-ngumpul bareng teman-temannya sambil diem-dieman (gara-gara pada sibuk ngoperasiin gadgetnya sendiri-sendiri), biarkan saja. Memang begitulah style generasi mereka. Tidak perlu bersungut-sungut selama mereka tidak (terlalu) kehilangan sisi manusiawinya, selama mereka tidak lupa bagaimana caranya melakukan P3K kalau kebetulan nemu kecelakaan di jalan raya tepat di hadapan mereka.

Maka berbahagialah kalian, pengguna gadget sejati! Sekarang back-up untuk kalian sudah bertambah lagi. Beberapa sejawat di sana sudah mengembangkan portal untuk para penggila gadget dan social media (yang tidak terlalu gila juga boleh menggunakannya pula, sebenarnya). Judulnya adalah Ngonoo.Com.

gituu dot com

Aku sudah dolan juga ke sana, dan kuakui kalo isinya memang menyenangkan. Sejauh ini sedang ada kuisnya pula. Bisa dapat iPod Nano dan smartphone cap Samsung.

Kubilang menyenangkan karena menurutku artikel yang disediakan termasuk kategori lengkap. Mulai dari artikel bin gosip terbaru tentang aplikasi dan penyedia layanan sosial media, device dan sistem operasinya, tips dan trik, sampai aplikasi gadget penunjang hobi juga ada di sana.

Yang juga menghibur buat aku sendiri, aku kenal beberapa kontributornya secara personal. Misalnya saja Oom Ini, kemudian Oom Itu, terus Oom Ini, lalu Oom Itu, dan juga – tentu saja – Oom Anu. Jadi terkadang mereka nulis artikel dengan sedikit bumbu gojeg kere di antara mereka sendiri. Itu menghibur buat aku. Hiburan intern, memang. Lha soale kalau itu artikel dibaca sama orang awam, orang awamnya itu pasti nggak akan pernah tau di mana letak guyonannya. Misalnya aja tulisan tentang Fatbooth dan Agingbooth, aplikasi buat ngedit-ngedit foto muka Anda. Yang nggak kenal sama model gambarnya ya nggak akan tau kalo orang yang ketiban sial jadi korban nampang di situ adalah Mbak Norah. Akunya, sih, tau kalo itu Mbak Norah gara-gara beliaunya pernah nebeng ngudud di teras rumahku :mrgreen:

Menurutku, situs ini layak di-bookmark. Dibukmak sama itu mereka para generasi nunduk, terutama. Aku sendiri, sih, sejauh ini juga sudah mbukmak ini situs. Bukan, bukan karena aku ini generasi nunduk. Sumpah mati! Sumpah mati aku nggak termasuk generasi nunduk. Kalo lagi ngumpul sama teman atau lagi jalan-jalan aku bakal lebih hobi buat menjelalatkan mataku, demi menerapkan Science of Deduction atau sekedar nyari-nyari siapa tau ada gadis manis yang bersedia diajak kenalan di sekitarku. Aku mbukmak ini situs ya apalagi kalo bukan sekedar pengen tahu tren bin berita terbaru seputar gadget dan aplikasinya. Dari situ siapa tahu ada ide-ide dan hal-hal yang bisa disulap buat jadi duit (jadi duit dengan cara mengeksploitasi kegemaran para nundukers itu, tentu saja ๐Ÿ˜ˆ ), selain juga karena tuntutan profesiku sebagai pemerhati teknologi informasi dan multimedia – dengan jenis ijazah yang lebih bisa dipertanggung-jawabkan ketimbang Kanjeng Raden Mas Tumenggung Roy Suryo Notodiprodjo 8)

Dan pada akhirnya sekian saja pandanganku tentang situs yang relatif baru ini. Semoga apa yang ta’sampaikan kiranya dapatlah diambil hikmahnya bagi para hadirin sidang Kamis Wage yang dirahmati Allah. Pesan terakhir dari khotib, janganlah sekali-kali menjadi hamba yang setengah-setengah. Jika hadirin sudah memutuskan untuk menjadi generasi nunduk, jadilah generasi nunduk yang optimal. Maksimalkan segala back-up dan petunjuk yang ada. Menunduklah secara khaffah. Tidak usah pedulikan dunia nyata bakal berjalan seperti apa, karena dunia kalian yang sesungguhnya sudah terletak di gadget kalian masing-masing. Akhirul kalam, usikum wanafsin bitaqwallah, wabillahi taufik wal hidayah, waridha wal inayah, tsummas salamuโ€™alaikum warahmatullahi wabarakatuh.


Facebook comments:

10 Comments

  • gojeg |

    memang syuper syekali mas joe ini. :*
    sebenarnya motivasi kami salah satunya adalah agar para generasi nunduk itu lebih tau bagaimana memanfaatkan gadget canggih yang mereka pegang yang konon berjuluk smartphone. Nggak cuma buat frensteran terus. ๐Ÿ™‚

  • Yang Punya Diary |

    ah ya, itu juga bikin prihatin…apa gunanya punya blekberi, misalnya, tapi make paketnya paket gaul harian. mending pakelah nokia 5110 jikalau macam demikian ๐Ÿ˜†

    euh…frenster? apa itu? semacam bakpia ya? 8)

  • Prima |

    wah, mantap kali istilahnya mas, Generasi Nunduk, hahahaha

    tapi bagian preambule-nya itu saya juga sering ngalamin, hehehe

  • Yang Punya Diary |

    Prima:::
    Ahahaha, nasib senior yang militan sama kampusnya biasanya tiada jauhjauh dari situ ๐Ÿ˜†

    Jauhari:::
    terima kasih, oom ๐Ÿ™‚

  • tamu |

    guru, sudah hampir 2 bulan anda tidak menulis petuah-petuah ngawur anda, kapan nulis lagi? sibuk nyiapin acara kawinan po? ๐Ÿ˜€

  • Lulu.yangdapetbukugratisan. |

    “generasi nunduk” itu istilahnya denger dari saya ya? #mintadikeplak

So, what do you think?