Rahasia Selalu Menang Berargumentasi

X: “Kenapa pengumuman konsekuensi skripsi – kalau mau dapat nilai A harus rampung dalam 1 semester – baru keluar setelah jadwal perubahan KRS (Kartu Rencana Studi) selesai? Yang kayak gini ini, kan, mengacaukan strategi perkuliahan saya? Sebelumnya ya mana saya tau bakal ada konsekuensi kayak gitu kalo sebelumnya juga nggak ada pemberi-tahuan…”

Y: “Diambil hikmahnya aja. Siapa tau dengan begitu kamu bakal terpacu buat cepet-cepet nyelesaiin skripsimu. Jadi bisa lulus lebih cepet, kan?”

Perhatian, duhai pembaca yang budiman! Adakah di antara kalian yang bisa menilai dialog di atas itu bernilai benar atau ada kesalahan di dalamnya? Jika benar, ya sudah, tapi jika salah maka di manakah letak salahnya?

Bisa?

Oke.

Nggak bisa?

Ya sudah, daripada waktu sampeyan-sampeyan yang terhormat ini terbuang cuma buat ngurusin 6 biji kalimat dalam quote di atas itu, ta’kasih-tahukan aja kalo dialog tersebut mengandung kesalahan logika. Jadi, di mana salahnya?

Salahnya adalah pada jawaban yang diberikan oleh Y. Yang dijadikan masalah awal pada dialog di atas itu adalah kenapa pengumuman konsekuensi skripsi baru muncul ketika jadwal perubahan KRS sudah berakhir. Maka dari pertanyaan awal itu tentunya jawaban dari Y untuk X tidaklah menyelesaikan masalah. Alih-alih menjawab permasalahan yang ada, Y justru mencoba menggiring X untuk tidak lagi mempermasalahkan pengumuman ngawur bin tidak tepat waktu dari pihak kampus (harap tenang! Ini memang sebuah kasus nyata di kampus beta yang katanya punya akreditasi A itu) dengan mengalihkan perhatian X supaya lebih baik berkonsentrasi pada skripsinya.

Ini tentu bukan sebuah jawaban yang menyentuh pokok permasalahan. Maka supaya X nggak ribut dan diam mak klakep tidak mempermasalahkan pengumuman nyeleneh itu lagi, lebih baik jawabannya digiring keluar menjauhi bahasan utama yang ada. Betul-betul strategi yang “lumayan” jitu untuk membungkam keributan yang ditimbulkan oleh lawan bicara kita.

Betul-betul “lumayan”, kan? Sayang, buatku, itu memang hanya sekedar “lumayan” dan bukan lumayan tanpa tanda petik. Strategi berargumen macam demikian cuma cocok buat dipakai menghadapi lawan bicara yang nggak ngerti fallacy.

Tapi jitu ataupun tidak jitu, fallacy tetaplah fallacy. Kesalahan logika tetaplah kesalahan logika. Dan sebuah kesalahan tidaklah mantap untuk dijadikan pijakan membenarkan sebuah kengawuran yang lain, kan? Apa iya situ bakal menutupi sebuah kesalahan dengan kesalahan yang lain lagi? Iya kalo nggak ada orang lain yang tahu. Lha kalo sampe ada orang lain yang jeli? Wah, sumpah mampus sampeyan malah jadi bakal keliatan macam orang bego sahaja. Suer!

Maka karena hal itulah aku sempat setuju kalo sebaiknya teori tentang fallacy-fallacy-an itu dimasukkan dalam kurikulum sekolah menengah. Minimalnya sebagai pengantar saja.

Supaya apa? Supaya kebahlulan bangsa berkurang, dong. Supaya orang-orang Endonesa paham bagaimana cara menyusun konstruksi pemikiran yang bagus, argumen yang matang, logika yang solid, yang nggak berkesan goblok dan murahan macam si Evan Brimob.

Iya lho… Kalo aku memperhatikan kasusnya si Evan Brimob yang dengan kurang-ajarnya menyebutkan kalo polisi itu nggak butuh masyarakat Endonesa dan justru masyarakat Endonesa yang butuh polisi dalam kaitannya dengan kasus KPK versus polisi, si Evan ini buatku macam primata dari zaman pliosen. Pertama, arogansi profesi yang ditunjukkannya aja sudah salah, yang sayangnya hal itu dilanjutkan lagi lewat argumen-argumen pembelaannya ketika menjawab cercaan para komentatornya.

Tapi ternyata si Evan nggak sendirian. Dalam perkara fallacy ini beberapa komentatornya juga sama nggak-ngertinya. Dan, duh, ternyata memang masyarakat Endonesa masih banyak juga yang konstruksi berpikirnya lumayan ngawur. Ini yang menyebabkan aku malas dolanan ke forum-forum komunitas – sebangsa Kaskus – yang isi diskusinya kebanyakan dibumbui dengan kesalahan logika yang dilakukan beberapa oknum untuk (mencoba) menyudutkan lawan bicaranya 😈

Tentu saja. Tentu saja aku juga suka ngawur. Tapi setidaknya – kalo boleh mengajukan pledoi – aku sekarang ini setidaknya sudah mencoba mengurangi porsi kesalahanku dalam berlogika, sejak pertama kali dikenalkan pada fallacy sama Jaya. Makanya waktu kapan hari jalan-jalan ke Togamas, aku menyempatkan diri buat membuang uangku demi dituker dengan sejilid buku karangannya Madsen Pirie yang berjudul “Rahasia Selalu Menang Berargumentasi – Penggunaan dan Penyalahgunaan Logika”.

rahasia selalu menang berargumentasi

Buku yang keren, pikirku. Judulnya aja sudah satir gitu. Keterangan di sampul belakang bukunya juga sama satirnya:

PERINGATAN PENERBIT!
Di tangan yang salah, buku ini bisa sangat berbahaya. Kami sarankan Anda mempersenjatai diri dengan buku ini dan menjauhkannya dari orang lain. Jangan beli buku ini sebagai hadiah, kecuali Anda sangat yakin penerimanya bisa Anda percaya.

Jadilah buku itu kebawa sampe di kamarku untuk kemudian mendapati isinya yang membahas tentang jenis-jenis fallacy beserta contoh-contoh penerapannya. Mbaca buku itu rasanya seperti menertawakan diri sendiri aja. Aku dipaksa senyum-senyum sendiri mengingat betapa bodoh dan ngawurnya aku. Ternyata terlalu banyak cara berpikirku dalam berargumen yang selama ini ngawur dan menyalahi kaidah berlogika yang benar. Madsen Pirie, yang mantan Profesor Tamu Kehormatan di bidang Filsafat dan Logika di Hillsdale College, Michigan, itu benar-benar sukses menghina-dinakan cara berpikirku sejauh ini.

Dan walaupun satir, ternyata judul buku itu ada benarnya juga. Aku serasa jadi punya 2 senjata. Seperti quote pertama di atas, aku bisa menggunakan logika yang salah untuk menjatuhkan lawan debatku yang nggak ngerti fallacy. Terus kalo nantinya ada lawan bicaraku yang lain yang menyerangku dengan logika yang salah, aku juga bisa menjawab argumennya dengan, “Oh, salah, John. Konstruksi berpikirmu itu salah. Itu kesalahan logika yang namanya argumentum ad antiquitam,” atau, “…itu circulus in probando,” atau juga, “…itu cum hoc ergo propter hoc,” atau lagi, “…itu secundum quid.”

Bayangkan, dengan istilah yang – ketika pertama kali kudapati kunilai – macam bahasa Latin itu, apa lawan bicaraku nggak bakal melongo? Beliau pasti bakal menilai aku sebagai orang pinter, beliau pasti bakal menyimpulkan sepihak kalo sudah salah memilih lawan bicara, beliau pasti jadi berpikir betapa superiornya aku dibanding dia. Terlihat berposisi lebih di atas ketimbang orang lain itu sebuah ego buruk yang menyenangkan, kan? :mrgreen:

Maka jangan khawatirkan peringatan dari penerbit buku di atas itu. Itu cuma trik marketing basi, kok. Manusia, kan, justru makin penasaran kalo ditakut-takuti ataupun dilarang. Konsumsi saja bukunya supaya sampeyan bisa terlihat macam jagoan. Semakin banyak manusia Endonesa yang mengkonsumsi buku ini, rasanya kebahlulan bangsa kita yang memang terkenal sebagai bangsa yang bahlul ini juga akan semakin berkurang.

Yeah, seperti yang tertulis di bagian belakang sampul depan buku itu sendiri:

Dalam buku jenaka dan menular-ganas ini, Madsen Pirie menyediakan panduan lengkap untuk menggunakan – bahkan menyalahgunakan – logika demi memenangi adu argumentasi. Dengan contoh-contoh telak, dia memperkenalkan seluruh jurus silat lidah yang lazim dipakai dalam pertarungan gagasan.

Kita semua suka menilai diri sendiri berotak jeli dan logis. Namun, dalam buku ini, Anda semua akan mendapati sesat-sesat pikir yang pernah menikam Anda ataupun Anda tikamkan pada orang lain. Pirie menunjukkan kepada Anda cara simultan memperkuat pemikiran sendiri dan mengenali kelemahan argumen orang lain. Dan, nakalnya, Pirie juga menunjukkan cara sengaja berargumen tidak logis tanpa kena getahnya. Buku ini niscaya mempercerdas Anda, gila-gilaan – keluarga, teman, dan lawan Anda pasti berharap Anda tak pernah membacanya.

Facebook comments:

28 thoughts on “Rahasia Selalu Menang Berargumentasi

  1. riza_kasela:::
    iyakah? saya malah dipaksa senyum2 sendiri gitu

    itikkecil:::
    mutu pendidikan di sumsel perlu ditingkatkan kualitasnya berarti, mbak 😛

    mybrainsgrowell:::
    menyesal jebul kowe mbiyen yo kakehan ngawur opo mergo utekmu ra nyandak nggo moco bukune? 😆

  2. Pingback: Satir yang Menyindir | The Satrianto Show: Beraksi Kembali!

  3. Disc-Co:::
    kalopun iya, ndak papa. biar makin menantang :mrgreen:

    jensen99:::
    two thumbs up!

    detnot:::
    terima kasih…

    mivtech:::
    padahal yang rutin saya pake malah shell vsx, kok

    silvian:::
    bolelebo…tapi ambil sendiri di rumah saya ya 😛

    paris:::
    oui…jangan berburuk sangka gitu, ris 😆

    putri:::
    situ punya 2 kesalahan soalnya, mbak:
    1. jangan gampang percaya sama siapapun. ingat, satu2nya orang yang ga akan pernah mengkhianati kita adalah diri kita sendiri
    2. kok malah curhat di sini? apa hubungannya sama postingan saya?

  4. #joesatch yang legendaris said
    January 4, 2010 at 12:47 pm

    yang penting kan ga macam komentarnya situ 😛
    ___________________________________
    #HANIIFA SAID ???????? said#
    January 4, 2010 at 12:52 pm

    😀 hua.ha.ha…
    Jadi sekaran sampean tahu rasa apa itu Argumentum ad hominem …
    Joesatch yang legendaris super duper tolol

  5. kakak yg punya diary… aku pengen banget bisa argumentasi, tapi seperti biasa lidah ini serasa kaku… alias ga brani ngomong… ajarin….. aku juga pengen banget bisa kasi pertanyaan ato apa gitu di dalem kelas waktu jam pelajaran.. tapi kok otakku ga pernah bisa buat pertanyaan y?????????????????

  6. errr…sebenernya itu bukan tema yang saya bahas. saya nggak lagi nulis tentang bagaimana cara berbicara dan mengeluarkan pendapat. tapi okelah, sejauh ini yang bisa saya sarankan kalo ada masalah dengan keberanian mengutarakan pendapat, silakan konsumsi buku “seni berbicara”nya larry king. sampulnya warna merah, kalo ndak salah. di gramedia harusnya ada, kok 😀

    selamat berjuang! :mrgreen:

  7. Pingback: Two Wrongs Make A Right? | The Satrianto Show: Beraksi Kembali!

  8. Bgaimana kamu bisa bilang kmu jago berargumentasi? Kalo argumen kamu, kmu dapat dri sebuah buku… Toh buku yang mnjadi sumber trik kmu utk berargumen brsifat egois… Artinya.. Buku yg kmu beli itu.. Hanya membesarkan htimu, kmu hanya mrasa sbgai pemenang, tpi pernahkah anda brtanya pndapat pnontn tentang debat trsebut? Siapa yg paling jago?

  9. yakin tulisan saya di atas sudah dibaca sampe habis? :mrgreen:

    perasaan… saya di atas sudah njelasin kalo isi buku itu cuma deretan tipe2 fallacy yang jamak dilakukan sama manusia, alih2 cara berargumentasi yang benar di depan penonton 🙂

    Bgaimana kamu bisa bilang kmu jago berargumentasi? Kalo argumen kamu, kmu dapat dri sebuah buku…

    dengan analogi yang sama, dapatkah saya dibilang sebagai programmer php jagoan kalo syntax2nya yang saya aplikasikan pada awalnya saya dapatkan dari sebuah buku juga?

    atau malah, tidak sahkah nilai b untuk mata kuliah kalkulus II saya hanya karena rumus-rumusnya saya dapatkan dari sebuah buku juga?

    membesarkan hati ataupun tidak, saya pikir itu tidak masalah selama ilmu yang benarnya juga kita dapatkan. esensinya – menurut saya – lebih terletak di situ 😉

Leave a Reply


Keywords yang bikin nyasar ke sini:
cara berargumentasi, teknik berargumentasi, cara berargumen yang baik, cara berargumen, berargumentasi, tips berargumen, cara beragumentasi, trik trik ber argumentaso, trik memenangkan perdebatan walaupun kita di posisi salah, trik cara berargumen, Bagay mana agr kita selalu menang dalm beragumen, seni berbicara larry king pdf, rahasia ilmu debat, mengalihkan/perhatian/lawan/dalam/silat, lery king membuat lawan jenis tertarik, cetdas berargumen, www tip adu bicara biar menang com