Seharusnya Bukan Sherlock Holmes

sherlock holmes movie 2009

Detektif terbaik di dunia itu akhirnya difilmkan! Tentu saja judulnya adalah “Sherlock Holmes”, yang kemarin kutonton barengan serombongan adik-adik kelasku di kampus plus adik sepupuku sendiri. Tercatat nama-nama seperti Koko, Ipeh, Budi, Yanto Ucup, Abhi, Sandya, Uswah, Sari, Wawa, Josephine (yang ini cowok. Nama aslinya, sih, Septo. Cuma gara-gara mbak kantin di kampusku dulu sering manggil dia dengan sebutan “Yosep”, ujung-ujungnya mahasiswa tua yang belum juga wisuda itu dipanggil sebagai “Yosepin”), Megan dan pacarnya, plus Ganggas, adik sepupuku, dan tentu saja – tidak lupa – gadis termanis di rombongan kemarin: Reihan Ulfahudori (silakan search di Fesbuk :mrgreen: ).

Sekedar untuk menambah pengetahuan bagi sidang pembaca yang dirahmati Allah, film ini sudah kutunggu-tunggu rilisnya sejak pertengahan tahun kemarin. Konon katanya sakitnya karena diguna-guna bakal diputar pertama kali akhir Desember kemarin.

Dan memang film itu diputar di Jokja pas nyaris tutup tahun. Maka akhirnya sehubungan dengan segala kesibukanku (maklumlah, namanya juga eksekutip muda), akunya sendiri baru bisa nonton kemarin sore. Aku berangkat dari rumah ke Bioskop XXI jam setengah 7 malam dengan menembus gerimis boncengan sama Ganggas buat nonton film yang bakal diputer tepat pukul 18.45 waktu XXI dan sekitarnya itu.

Sampai di dalam bioskop suasananya gelap (tentu saja!). Aku yang kebetulan menyempatkan diri buat beli pop-corn ukuran besar ditambah green tea rasa madu kebagian duduk di antara Ganggas sama Uswah – yang juga sangat maniak sama Sherlock Holmes – dan sempat ketinggalan adegan beberapa menit.

Jadi ceritanya, Sherlock Holmes kali ini berhadapan dengan Lord Blackwood, seorang pembunuh yang sudah membantai 5 korbannya dan berniat menguasai pemerintahan Inggris. Di awal adegan, Blackwood diceritakan ditangkap sama Holmes dan akhirnya dijatuhi hukuman sama bapak hakim berupa digantung sampe mampus.

Kemudian, Blackwood juga diceritakan punya kekuatan mistis. Setelah kematiannya yang dipastikan sendiri sama Dokter Watson (yang sidekick-nya Holmes itu), Blackwood ternyata bangkit dari kubur. Dia hidup lagi, John! Kebangkitan kembalinya Blackwood ini juga diiringi sama burung gagak yang malah mengingatkan aku sama The Crow.

Secara keseluruhan, film ini sebenarnya menghibur. Logat British pemain-pemainnya juga kerasa. Film ini bener-bener nyaris nggak mengecewakan buat dikategorikan sebagai hiburan. Betapa tidak… Semua tokoh yang mempengaruhi hidupnya Holmes ada di situ. Watson, sih, nggak usah ditanya. Doi memang wajib keberadaannya. Tapi selain Watson, di film itu juga ada Lestrade, Mrs. Hudson, Profesor Moriarty (meskipun mukanya nggak pernah diliatin babar blas), juga Irene Adler. Yang absen cuma keberadaannya Mycroft Holmes, sang kakak.

Tapi ya namanya aja buatan manusia, ya mana ada yang sempurna tho? Maka sehubungan dengan ketidak-sempurnaan itu, film ini akhirnya sempat membuat Uswah mengungkapkan kekecewaannya sepanjang film diputar. Apa pasal?

Pasalnya adalah karakternya Holmes ditayangkan dengan tidak sesuai sama bayangan yang ada di novelnya. Di film ini Holmes memang masih digambarkan sebagai jagoan tinju dan pedang (sebenernya, sih, anggar lebih tepatnya). Holmes juga terlihat melakukan beberapa eksperimen kimia sambil tetap ditemani sama biolanya. Cuma, Watson, kok, ternyata malah bertubuh lebih tinggi dari Holmes? Apa produsernya nggak bisa nyari pemeran lain yang memenuhi standardisasi tokoh rekaannya Sir Arthur Conan Doyle itu?

Ini tentu nggak sesuai dengan gambaran di novelnya yang mana Holmes itu bertubuh jangkung dan kurus, sedangkan Watson lebih pendek. Itu belum lagi ditambah dengan ketidak-sesuaian lainnya semacam beberapa adegan konyol yang malah membuat Holmes tidak terkesan cool, cuek, eksentrik, dan tenang. Holmes jadi terlihat sembrono gara-gara penggambaran yang beda dengan yang di novelnya itu.

Belum cukup dengan itu, di film ini aku juga nggak menemukan gaya berbusana yang jadi ciri khasnya Holmes. Tidak ada topi detektifnya yang terkenal itu, tidak ada jubah panjang, tidak pula ada cangklong tembakau berbentuk melengkung yang selalu terselip di bibirnya. Cangklong yang ada malah berbentuk lurus, dan itupun cuma muncul di 2 adegan; waktu Holmes sedang berpikir – amat-sangat – keras, dan sewaktu Holmes mengunjungi asistennya Blackwood. Itu saja. Lainnya? Nehi!

Jadi tanpa perlu berpanjang-kali-lebar-sama-dengan-luas lagi, kesimpulannya film ini memang lumayan menghibur untuk ditonton sama penonton yang tidak terlalu mendalami karakter Holmes di novelnya, atau dengan kata lain cerita di film ini lumayan seru buatku kalo saja nama jagoannya bukanlah Sherlock Holmes. Enaknya diganti pake nama yang lain sahaja, semisal Joe Satrianto, terus Irene Adler-nya juga diubah jadi Desti Ayu Kristiani :mrgreen:


Facebook comments:

25 Comments

  • christin |

    kok sajaknya malah pantesan Jude Law jadi Holmes ya :p oh iya pasti ndak ada adegan Holmes ngeganja ya hihihihi

  • Cahya |

    Jadi ingat saat nonton Young Sherlock Holmes beberapa tahun lalu, ceritanya melankolis dan romantis.

    Tapi yang satu ini belum nonton, jadinya ga bisa komentar deh 😀

  • septo |

    yep, sepakat sama uswah, karakter holmes di sini malah jadi lucu, mungkin kebawa iron man apa mungkin memang tuntutan sikinario ya?? kan penggemar sherlock ga terlalu banyak dibanding heri poter apa sang pelangi jadi nek dibikin nda terlalu mirip ya nda bakal banyak protes, malah kalo dibikin jeneral gini banyak yang nonton dan jadi suka sherlock to 😆

  • Yang Punya Diary |

    christin:::
    kokain, lebih tepatnya. iya, adegan yang itu juga nggak ada. padahal pengen liat holmes mengibas2kan tangannya habis dolanan suntik 😈

    Cahya:::
    buat pendalaman karakter holmesnya, young sherlock holmes saya pikir masih sedikit lebih mendekati ketimbang holmes yang skrg ini 😀

    septo:::
    sepertinya memang begitu. di deretan bangku c sebelah kanan kemarin, waktu yang lain terkagum2, yang bolakbalik protes mung aku karo uswah

    ernesto:::
    padahal kemarin penuh kesempatan buat mendekati rere, nes. aku sama septo malah sempat mengkondisikan sebuah skenario teruntuk kalian berdua, nyahahaha…

  • septo |

    found the answer! (imdb.com)

    “The character of Sherlock Holmes was created in 1887 by Scottish author Sir Arthur Conan Doyle [1859-1930] in A Study in Scarlet and went on to appear in three more novels and 56 short stories. However, Sherlock Holmes, the movie, is not based on any of Doyle’s books but on a screenplay by British screenwriters Michael Robert Johnson, Anthony Peckham, Simon Kinberg, and Lionel Wigram.”

    begitulah nampaknya, film ini adalah adaptasi dari pertunjukan teatrikal di british sono, yah kalo orang british sudah ngeh begini, ya kita mana bisa pararotes om jon 😆

  • Parus |

    Film ini katanya diadaptasi dari sebuah komik yang belom diterbitkan.. Jadi yah mungkin karakter Holmes di situ sesuai dengan hasil rekaan si pengarang komik tersebut. 🙂

    Katanya lagi, image gaya berbusana Holmes yang lengkap dengan topi detektif yang khas, jubah panjang, dan kaca pembesar itu konon berdasarkan filmnya terdahulu, bukan berasal dari penggambaran dalam bukunya sendiri. 🙂

  • Yang Punya Diary |

    the riza de kasela:::
    lha, kalo belum nonton kok situ bisa tau kalo si komeng memang nggak ada di filmnya? 😀

    septo:::
    aku sih nangkepnya, yang nggak based on novel itu jalan ceritanya, dan bukan karakternya, sep. tapi ya namanya aja udah terlanjur macam gini, ya saya cuma bisa pasrah sahaja

    Parus:::
    berarti yang ada di museum sherlock holmes terus juga patung batu itu juga bukan dari novel, dunk?

    aphip_uhuy:::
    selamat gelap2an bersama jehan 😈

    cK:::
    hahaha, iya ketuker. itu sempat jadi pembahasan saya sama uswah juga, chik

  • Chic |

    ho iyaaaa selain watson yang berubah jadi seksi, aku juga sempet mikir kenapa topi khasnya di Holmes kok ngga nongol sama sekali.

    Ya ya, karena yang bikin Guy Ritchie, waktu mau nonton memang sudah mempersiapkan diri dengan segala kemungkinan. Jadi ya keseluruhan aku puas lah nontonnya… 😀

  • sora9n |

    Itu belum lagi ditambah dengan ketidak-sesuaian lainnya semacam beberapa adegan konyol yang malah membuat Holmes tidak terkesan cool, cuek, eksentrik, dan tenang. Holmes jadi terlihat sembrono gara-gara penggambaran yang beda dengan yang di novelnya itu.

    Jadi… plurkingan saya waktu itu ada betulnya? 😕

    /sampai sekarang belum nonton

  • Yang Punya Diary |

    Chic:::
    saya nggak terlalu tau tentang guy ritchie sih mbak. apa dia memang hobi memporakporandakan karakter asli yang ada untuk film yang dibuatnya?

    sora9n:::
    dengan menyesal saya katakan: ya 8)

  • Nda |

    Lah, klo judul nya diganti dgn Joe Satrianto, aku yakin filmnya krg laris, krn kurang menjual…hahahahaha..*kabuuuurrrr*

  • Yang Punya Diary |

    Nda:::
    justru menjual. secara teori malah akan amat-sangat menjual. hanya sayangnya belum ada produser yang berani mempraktekkan 😛

    *sudah disurvey dengan mengambil sample secara acak di kampus saya 😆 *

    Amd:::
    biar dia insap setelah ketemu irene adler, hohoho

    annosmile:::
    waduh! padahal saya nggak nulis bagaimana alur ceritanya berjalan, lho :mrgreen:

  • mutje |

    tahun ini operet makrab himakom harus ditambah satu karakter lagi.. yaitu sherlock holmes.. he he

  • -alle- |

    bukan penggemar novel sherlock holmes, tapi film ini menurutku bisa memuaskanku 😀
    joeee… pinjem novelnya!

So, what do you think?