Seharusnya Hasilnya Bisa Beda

Musim panas tahun 2000. Final Liga Karmany. Aku menerima bola di sisi kanan. Lupa siapa yang ngoper. Waktu itu sisa pertandingan masih 10-15 menitan dan masih ada 1 gol lagi yang harus dikejar kalo kami pengen memaksakan pertandingan sampai perpanjangan waktu.

Aku mendribel bola di kakiku. Dari kanan aku masuk kotak penalti lawan. Aku melirik ke kiri, mencari siapa teman yang bisa kuoperi. Belum sempat aku melihat mereka, yang kutahu bek lawan berlari kencang dari sebelah kiriku, menyodorkan kakinya sambil menjatuhkan badan. Dan, brak!

Kami bertabrakan. Bola keluar lapangan. Tapi itu sliding tackle yang bersih. Aku tau kakinya menyentuh bola duluan sebelum membuatku terpental kemudian. Lutut kananku yang sebelumnya memang sudah dibebat bergesekan dengan rumput bercampur pasir. Aku mengerang! Lukanya terbuka lagi dan, yang kuliat, darah menetes sampai membasahi kaos kakiku.

Beberapa detik kakiku sempat seperti mati rasa. Aku nggak sanggup berdiri. Yang kupikir waktu itu, ternyata sampai di sini saja batas kemampuanku. Diurusi seksi P3K, aku dipapah keluar lapangan sambil bergumam pelan, “Selamat tinggal, sepakbola esema…”

Beberapa saat di pinggir lapangan, kakiku sudah bisa digerakkan. Tapi toh aku sudah digantikan. Yang bisa kulakukan cuma berteriak memberi semangat pada 11 orang temanku di dalam lapangan, sampai akhirnya peluit berbunyi. Defisit gol tidak bisa kami tutupi. Kami kalah, 2-3.

Dan percaya atau tidak, sampai sekarang kejadian itu terus membayangi. Rasanya nggak enak. Mungkin aku memang bisa menghibur diri untuk menutupi, “Waktu itu kakiku memang nggak bisa bergerak. Kamu liat sendiri darahnya, kan? Kamu juga tau kalo aku sampai menangis buat menahan sakit, kan?”

Tapi tetap saja itu menutup-nutupi, karena aku tau, seandainya saja aku bisa sedikit menahan, aku bakal kembali ke lapangan. Dan kalo aku kembali, rasa-rasanya hasil pertandingan bisa jadi lain. Seandainya pun kalah, aku akan kalah dengan puas. Puas karena aku berdiri sampai akhir di lapangan, mengeluarkan semua kemampuan. Bukan menjauhi medan tempur, kalah sambil dipapah.

Rasanya ada yang mengganjal. Ganjalan karena ada yang semestinya bisa kulakukan tapi aku memilih untuk tidak melakukannya. Ganjalan yang ujungnya jadi penyesalan. Karir sepakbola esemaku tidak berakhir dengan indah karena keburu menyerah.

Karenanya sekarang aku janji, untuk urusan apapun yang kusenangi, aku nggak akan mau menyerah. Aku nggak mau menahan-nahan kemampuanku lagi, entah itu karena malas ataupun karena nggak enak.

Kadang-kadang, orang-orang di sekitarku memang bilang, “Mundur saja daripada buang-buang tenaga.” Kadang-kadang juga, untuk memperjuangkan kepentinganku, aku harus berbenturan dengan kepentingan orang lain, dan itu memang agak nggak enak. Pekewuh, istilahnya orang Jawa.

Oke, aku tau. Tapi mohon maaf, mulai sekarang – untuk hal-hal krusial yang rentan menimbulkan penyesalan di masa depan – aku sudah memutuskan, aku akan memaksakan diri sampai peluit akhir berbunyi. Mengeluarkan semua yang aku bisa dan tidak pula menundanya atau aku bakal merana.

Kupikir aku sudah banyak belajar. Sepakbola dan wanita sudah mengajariku tentang sengsara.


Facebook comments:

11 Comments

So, what do you think?