Sepatu yang Memilih Tuannya Sendiri

reebok vector indoor lp

Pengumuman, sodara-sodara!

Terhitung sejak hari Selasa kemarin, dengan ini daku resmi menggunakan Reebok Vector Indoor LP buat main futsal, setelah sebelumnya Diadora Francesco Totti-ku lenyap entah ke mana. Mungkin beliau ilang digondol maling waktu ta’pajang di teras depan rumah. Yeah, aku memang kadang-kadang suka punya niat bersodaqoh yang kebablasan, sih.

Sepatu ini dapat beli di Sports Station Ambarukmo Plaza waktu ngeceng di situ bareng Pepe. Harganya relatif. Relatif itu maksudnya bisa relatif murah, bisa juga relatif mahal. Tergantung berapa jumlah duit yang ada di dompet atau kartu Visa kita. Totalnya, sih, aku ngabisin 400 rebu buat beli ini sepatu. Rp. 399.000 kukasihin ke mas-mas yang jaga kasir, yang seribu kukasih ke mas-mas yang jaga parkir.

Pas ke konternya, tadinya aku – dan jauh-jauh hari sebelumnya – ngincer seri yang sama, yang warna item dengan logo Reebok warna kuning. Cuma saja sepatu yang ta’maksud kehabisan stok untuk ukuran kaki 39. Adanya 40. Gara-gara itu aku jadi sempat ditawarin buat ngambil yang warna logonya putih. Alhasil aku sempat ngelamun kebingungan, mau nekad ngembat yang warna logonya kuning ukuran 40 atau yang warna logonya putih dengan ukuran 39?

Tapi kupikir-pikir, kalo pake yang putih, sepatu itu nggak bakal keliatan mencolok di lapangan. Padahal warna sepatu sedikit-banyak juga mempengaruhi tingkat akurasi operan rekan setim Anda di lini depan kepada Anda. Jangan ngeyel! Aku ini pernah kuliah Desain Komunikasi Visual meskipun nggak kelar. Jadi jangan mendebatku dalam permasalahan komposisi warna untuk stopping power dan point of interest, hohoho! 😈

Lanjut ke masalah sepatu… Aku termenung-menung cukup lama sambil diliatin sama masnya yang dapat shift njaga Sports Station waktu itu. Sampai tiba suatu masa di mana tiba-tiba Pepe nyeletuk, “Ora njajal sing iki, Joe? Iki warnane yo apik,” sambil mengambil sepatu warna biru yang ditaruh di rak paling atas yang sebelumnya tidak sempat kuperhatikan.

sepatu futsal baru

Seketika mataku berbinar. Sepatu itu seolah-olah memanggil bakal tuannya untuk segera dieksploitasi secepat mungkin. Tambahan komentar dari mas-mas yang njaga, “Kalo yang itu memang baru aja datang, Mas. Jadi stok ukurannya masih komplit semua. Yang 39 ada,” membuat keyakinanku mantap: sepatu ini sendiri yang memilihku, nyahahaha!

Jadilah akhirnya sepatu itu kubawa pulang dengan hati riang. Setelah membandingkan dengan Diadora-ku yang dulu dan sepatu cap Puma yang sempat kujajal juga pas tadi di tempat kejadian perkara, aku berkesimpulan: sepatuku yang sekarang ini jauuuuuuuh lebih enak. Bagian dalamnya empuk, soft, atawa lembut kayak marshmallow. Daya cengkeramnya waktu dipake lari juga mantap. Buat ngontrol bola pun enak (asal si Yosepin nggak ngoper bola ke aku dengan power macam tembakan ke gawang lawan).

mas joe memang tampan dan mempesona dalam segala cuaca

Sayangnya tandemku di lini depan kemarin, Abhonk, kayaknya tampil di bawah performa normalnya. Mungkin gara-gara kebanyakan makan Ujian Akhir Semester di hari-hari sebelumnya (memang memalukan dia itu. Sudah tua masih juga belum wisuda), daya konsentrasi Abhonk jauh menurun. Beberapa kali operanku gagal jadi assist. Aku sendiri dengan keterbatasan stamina yang ada cuma berhasil mencetak 1 gol sepanjang permainan.

Tidak apa-apa, sobat. Masih banyak waktu untuk lebih mengenali karakter sepatuku 8)


Facebook comments:

22 Comments

So, what do you think?