Sherlock Holmes Jadi 2

sherlock holmes versi guy ritchie

Minggu kemarin akhirnya aku kesampean juga nonton sekuelnya Sherlock Holmes yang “A Game of Shadow” di bioskop. Aslinya ini sudah telat banget mengingat si Holmes sudah ditayangin di bioskop dari tahun kemarin. Alhasil pas nonton di bioskop kemarin itu aku nggak bisa nonton rame-rame barengan sama anak-anak tukang nyambangin bioskop lainnya berhubung mereka sudah pada nonton duluan.

Akhir tahun kemarin aku ke Jakarta, menghadiri acara sunatan 2 biji adik sepupuku, yang hasilnya…yah, begitulah, aku ditinggal nonton sama anak-anak yang di Jokja. Sempat berniat nekad juga akhirnya, saking nggak ada yang bisa kuajakin nonton, aku sempat mikir buat nonton sendirian sahaja. Meskipun kecewa sama prekuel pertamanya, nama besar Sherlock tetap mampu membiusku buat membatin, ini film hukumnya fardu ain buat ditonton di bioskop!

Tapi sejenak-2 jenak aku sempat berpikir ulang, kalo aku ke bioskop sendirian terus kebetulan ketemu sama orang yang kenal sama aku dan ditanyain, “Lho, Joe, sama siapa?”

Masak harus kujawab, “Sendirian aja.”? Mau dikemanakan nama besar saya sebagai (bekas) Don Juan dari MIPA Selatan, coba? Malulah akunya kalo harus mengkhianati ekspektasi publik.

Akhirnya aku sempat kepikiran buat ngajak Uswah, mengingat dia penggemar Sherlock juga, dan akhir-akhir ini dia hampir nggak pernah nongol di kampus. Siapa tau aja dia belum nonton juga. Tapi, olala…apa jawaban Uswah, sodara-sodara?

“Wah, Mas, aku sudah kecewa sama film yang pertama dulu itu. Disuruh nonton bajakannya di laptop aku juga nggak bakal mau.”

Mampus kamu Guy Ritchie! Sebagai seorang sutradara, sampeyan sudah menyakiti hati penggemar berat Holmes versi novelnya.

Akhirnya ya mau bagaimana lagi? Sudahlah besok ini aku ta’nonton sendiri aja, batinku. Tapi ternyata langit masih berpihak padaku. Langit tidak bakal membiarkan Lelananging Jagad pilihannya sendiri pergi tanpa teman kencan. Malam itu Novi SMS. Isi SMS-nya, sih, biasa aja, tipikal SMS-SMS lucu yang dulu rajin ta’kumpulin waktu jaman awal-awal aku jadi mahasiswa buat ngisengin anak gadis orang. Maka, aha, inilah partner yang bakal nemenin aku buat nonton besok.

Benar saja. Tanpa perlu banyak cincau, eh, cingcong, besok malamnya Novi sudah duduk di sadel belakang motorku buat hujan-hujanan berdua. Sempat juga mampir makan nasi goreng Aceh yang dibayarin sama dia sebelum pergi nonton di 21 Ambarukmo Plaza.

Singkat kata singkat cerita kami berdua sudah duduk di dalem bioskop. Eh, sebelumnya juga aku sempat dibeliin pop-corn sama dia, dan waktu mau kubales, “Kamu mau minum apa?” dia bilang, nggak usah aja. Ya sudah, waktu aku nerima sebotol Green Tea rasa madu dari mbak kasirnya, aku bilang ke Novi, “Kamu nggak boleh minta.”

Lewat 2 jam di dalam bioskop, tidak ada yang istimewa dari sekuelnya Sherlock Holmes yang ini. Ceritanya masih nabrak pakem novelnya. Sherlock malah ditampilkan makin konyol saja. Yak-yak’an. Penilaianku masih sama dengan prekuelnya: film ini hanya film action-komedi biasa dengan tokoh utama yang kebetulan bernama Sherlock Holmes.

Di sini diceritakan kalo Sherlock harus berhadapan dengan Prof. Moriarty, musuh besarnya, yang berencana membuat skenario perang dunia dengan memanfaatkan konflik antara Prancis dan Jerman. Kampretnya – selain karakter Sherlock yang acak-acakan – Moriarty pun juga ditampilkan jauh dari imej yang kutangkap kalo aku lagi mbaca novelnya. Moriarty nggak keliatan macam psikopat jenius nan misterius. Latar belakang kehidupannya terlalu diumbar dalam film ini. Mimik dan bahasa tubuhnya pun betul-betul menggambarkan kalo dia adalah lawan yang sepadan buat Sherlock. Sepadan buat Sherlock dalam film ini, maksudku, alias sama-sama biasa-biasa saja. Moriarty cuma terlihat kayak dalang perampokan minimarket 24 jam. Setidaknya itulah kesan yang kudapatkan.

Mau bagemana lagi? Aku mbaca novelnya Sherlock dari waktu masih esde sampai sekarang, sih. Jadinya wajar aja, dengan parameter pembanding pada novel aslinya, segala karakter yang ditampilin di filmnya Guy Ritchie ini jadi terkesan tolol semua.

Irine Adler nggak keliatan kayak wanita cerdas yang sejarahnya pernah berhasil membuat Sherlock kerepotan kalo nggak mau dibilang mempecundangi. Doi dengan gampangnya terlihat gugup dan nggak menguasai situasi sewaktu akhirnya berhasil mati diracun sama Jim Moriarty.

Mycroft Holmes, sang kakak, terlihat kayak badut dan sempat kelihatan terkaget-kaget sewaktu Dr. Watson berhasil membuat deduksi tentang dirinya. Mycroft benar-benar tidak nampak seperti penggambaran yang tertanam di memori otakku selama ini, bahwa dia adalah otak pemerintahan Kerajaan Inggris yang sebenarnya.

Dan, Watson? Ah iya, Dr. Watson sang loyalis… Sang loyalis kepercayaan Sherlock Holmes ini entah kenapa terlihat lebih pintar dan lebih tenang ketimbang Sherlock sendiri. Beberapa reaksi spontannya di film menggambarkan itu. Akhirnya aku, kok, malah jadi berpikir kalo kemampuan membuat deduksi ala Sherlock itu adalah kemampuan yang pasaran. Wong nyatanya Watson juga bisa, kok.

Sherlock sendiri, di luar cacat yang sudah kusebut di atas, juga jadi terlihat kayak Jason Statham. Dia jadi jago banget berkelahi. Memang, sih, di novelnya sendiri juga disebut kalo Sherlock itu jago tinju, pinter anggar, pemain biola, dan praktisi kimia. Tapi tetap saja aku terkagum-kagum waktu melihat Sherlock beraksi dengan kecepatan ala Fong Sai Yuk. Dia melentingkan musuhnya dengan gerakan tangan – yang menurutku – mirip jiu jitsu atau aikido-nya Steven Seagal. Inggris, abad 18, belajar gerakan macam gitu dari mana, Sher? Youtube, kan, belum ada…

Begitulah sepenggal kesan tentang Sherlock Holmes cap manusia tukang setrika (baca: Iron Man, bego!). Maka kalo Anda adalah penggemar Sherlock cap novel yang kebetulan ngeyel nonton versi bioskopnya kayak aku, jangan khawatir, setelah puas memaki versi bioskopnya ini tontonlah Sherlock versi serial tipi yang diedarin sama BBC.

sherlock holmes versi bbc

Yeah! Sherlock abad 21 ini akhirnya ditayangin juga season keduanya, dan sejauh ini sudah ada 3 judul yang tayang di Inggris sana: “A Scandal in Belgravia”, “The Hounds of Baskerville”, dan “The Reichenbach Fall”.

Ceritanya masih mengadopsi pakem dari novel aslinya. Hanya saja setting-nya dibuat terjadi pada masa sekarang, dan sejauh ini aku baru nonton sebiji filmnya yang “A Scandal in Belgravia”.

Penilaianku?

Mantap! Ini obat pelipur lara!

Sherlock masih terlihat dingin dan cuek, juga makin egois. Sosok Irine Adler akhirnya juga keluar…dan seperti yang kuharapkan, doi berhasil membuat Sherlock kerepotan bin terjebak dengan rayuannya. Plotnya makin kompleks dan baru ketauan benang merahnya di akhir cerita.

John Watson masih setia dengan perannya sebagai baby-sitter buat Sherlock. Tidak ada adegan di mana dia terlihat lebih pintar dari sang tokoh utama, sementara sosok Mycroft benar-benar terlihat seperti apa yang ada di novelnya: dialah playmaker pemerintahan Inggris yang sebenarnya. Skenarionya untuk menyelamatkan Inggris dari tindakan teror yang dirancang Prof. Moriarty benar-benar nyaris sempurna… Sempurna. Betul-betul sempurna…kalau saja tidak dikacaukan oleh adiknya sendiri yang sempat mabuk kepayang gara-gara pesona Mbak Irine.

Moriarty bagemana? Ah ya, Moriarty… Moriarty akhirnya terlihat punya peranan dalam cerita. Lewat sekelumit adegan awal di edisi ini dia terlihat betul-betul kayak psikopat pengidap gangguan jiwa. Sekejap dia terlihat tenang di depan Sherlock yang menodongkan pistol di depannya, sehabis itu pula dia terlihat berteriak-teriak macam orang sarap untuk kemudian tenang kembali. Betul-betul terkesan model manusia berbahaya, yang susah ditebak tindak-tanduknya.

Yang menyenangkannya lagi, ada adegan di mana akhirnya Sherlock benar-benar menghisap nikotin. Seperti yang pernah ta’bilang di tulisanku yang dulu, di serial ini memang susah mendapatkan adegan di mana Sherlock mengerjakan hobinya itu. Semuanya gara-gara aturan dilarang merokok yang ada di Inggris sekarang ini. Itu sudah dijelaskan lewat dialognya Sherlock Holmes dan John Watson sendiri.

Tapi akhirnya sekarang ada juga adegan yang mengharukan tersebut. Sherlock benar-benar merokok karena galau; Irine Adler ditemukan mati(?), soale…

Kelemahan film ini cuma sebiji. Aksen British yang khas dan dialog cepat ala Sherlock membuatku benar-benar kesusahan. Beberapa kali aku harus memutar-ulang adegan yang ada gara-gara ngerasa ada dialog yang tertinggal. Lha, wong sejawat Manusia Super yang jagoan ng-English itu saja juga mengaku kerepotan mengikuti dialognya waktu nonton season pertama serial ini, kok, ya apa lagi aku yang cuma bisa ngomong English 3 jurus ini, kan?

Kampretnya, setelah selesai nonton barulah aku tahu kalo di Gugel ternyata ada yang menyediakan subtitle Indonesia untuk serial ini. Gembus. Telat!


Facebook comments:

10 Comments

  • Kimi |

    Kalau aku sih suka filmnya. Gak ngebanding2in dengan novelnya sih. Yah… itu juga mungkin karena aku belum baca semua novelnya, jadi gak terlalu meresapi Sherlock Holmes yg di novel. *halah, bahasanya*

  • Yang Punya Diary |

    luckholmes:::
    ndak usah, sep (sep2-2nya) πŸ˜€

    Kimi:::
    tonton serialnya deh. habis itu kamu seharusnya bakal bilang filmnya jelek. adikku yang bukan penggemar holmes bilang gitu juga, sih πŸ˜›

  • Cahya |

    Kalau saya pas mau nonton Sherlock Holmes di bioskop kemarin, mesti melepas semua ingatan akan novelnya, kalau tidak justru pikirannya akan berkelahi sendiri. Anggaplah ndak pernah baca novelnya, karena memang jauh :D. Kasihan kan sudah beli tiket mahal-mahal, keluarnya malah berwajah kusut.

  • Paris |

    SO2EP3 mantap jaya om… tiap selesai nonton pasti langsung capek, mikir terus >.<

    jadi mari kita tunggu SO3-nya… tahun depan πŸ˜‰

  • angel |

    SEASON TIGAAAAAAAA FALL 2013!!!
    Seneng gue disaat-saat penantian S03 SHERLOCK BBC ini gue nemu banyak sherlockian Indo yang betah nongkrongin series gaweannya Moffat,dkk πŸ˜€
    aaah bahagiaaa~

So, what do you think?