Siau Hi Joe

gambarnya siau hi ji dari komik the impeccable twins

Gara-gara hobiku mbaca (komik), dari kecil aku sudah kenyang makan jagoan. Jagoan pertama tentu saja dari komik wayangnya R.A. Kosasih jaman dulu yang bernama Gatotkaca, yang lanjut disambung dengan jagoan-jagoan lainnya yang kebanyakan malah nggak berasal dari Endonesa. Sebut saja nama-nama seperti Yonkuro dari Dash Warriors, Flash Gordon, Captain Planet, kuartet Leonardo, Donatello, Raphael, dan Michaelangelo, terus juga Tiger Wong, Devilito, Sembilan Benua, Top Kudo, Kubo Yoshiharu, Hideki Yakumaru, Hanamichi Sakuragi, Kotaro Shindo, sampai tidak lupa Kotaro Minami dan Belalang Tempur-nya.

Dari sekian banyak jagoan itu beberapa memang sempat mempengaruhi cara berpikirku, misalnya aja Kubo Yoshiharu. Dulu waktu aku didiagnosa punya kelainan fungsi hati pas esempe dan dilarang main bola, aku sempat ngeyel kepengen terus main bola. Kalo perlu ya seperti Kubo, mati kelelahan setelah melakukan aksi legendaris – yang bahkan tidak pernah dilakukan sama Diego Maradona :mrgreen: – melewati 11 pemain dari kesebelasan SMA Kakekita demi mengantarkan SMA Kakegawa ke final turnamen sepakbola musim panas antar SMA untuk wilayah Shizuoka.

Kubo menderita kanker darah. Hidupnya divonis nggak bakal lama lagi. Jadi daripada sisa hidupnya dipakai buat meratapi nasib buruknya, lebih baik dia melakukan hal yang disenanginya: main bola sampai mati. Teman-teman setimnya nggak ada yang tau. Mereka baru tau kalo Kubo itu sakit setelah Kubo meninggal. Nah, aku juga sempat berpikir buat beraksi heroik macam itu. Biarlah nanti mampus asalkan masih bisa menyisir pertahanan lawan dari sebelah pinggir.

Tapi untunglah mamakku marah-marah yang akhirnya membuatku terpaksa gantung sepatu. Dan gara-gara kemarahan mamakku itulah aku akhirnya masih hidup sampe sekarang. Lagian, kalo kupikir-pikir, kematian Kubo akhirnya melahirkan warisan semangat ke anak-anak Kakegawa lainnya yang di episode terakhir komik “Shoot” berhasil menjadi tulang punggung timnas Jepang, seperti Toshihiko Tanaka dan Kazuhiro Hiramatsu yang penyerang, Keigo Mahori di lini tengah, Shinichi Nitta yang dijuluki “Penguasa Offside”, Kenji Shiraishi yang kiper, dan tidak lupa mantan tandemnya Kubo sendiri, kapten Kakegawa sepeninggal Kubo, yang nantinya menjadi playmaker timnas Jepang sekaligus Juventus, Atsushi Kamiya. Bersama pemain-pemain dari generasi mereka lainnya, Jepang akhirnya diceritakan berhasil jadi juara dunia dengan mengalahkah Jerman di final.

Nah, sedangkan aku? Kalo aku mati apa iya teman-temanku di Perseden U-14 itu nanti bakal seperti teman-temannya Kubo itu? Kalo aku mati apa iya timnas Endonesa bisa jadi – nggak usah muluk-muluk ke Piala Dunia dulu, deh – juara Piala Tiger? Wong birokrasi dan kompetisi yang diselenggarain sama PSSI aja masih semrawut, kok. Karena itulah banyak teman-temanku yang akhirnya nggak nerusin karir sebagai pemain bola dan memilih hidup dengan profesi lainnya. Karena itu juga kayaknya aku malah bakal mati konyol kalo bertindak ala Kubo Yoshiharu van Endonesa.

Itulah sedikit kisah tentang aku dan Kubo…

Cuma saja, kalo mau dinilai secara total, Kubo bukanlah jagoan yang benar-benar mempengaruhi jalan pikiranku secara keseluruhan. Seorang jagoan yang berhasil mendoktrin jalan hidupku, pola pikirku, cara pandangku dalam menyikapi hidup adalah anak muda dengan kulit tubuh penuh cacat bekas luka, codet di wajah, tokoh yang disebut-sebut sebagai manusia paling cerdas di kangouw: Siau Hi Ji.

Aku kenal Siau Hi Ji pertama kali pas esde dari komik “Tapak Sakti”. Ceritanya adalah tentang 2 anak kembar yang dipisahkan sejak kecil untuk kemudian diadu berkelahi sampai ada yang mati pas besok kalo sudah gede. Dan gara-gara Gramedia Majalah ketika itu hobi mengganti-ganti sesukanya nama-nama asli tokoh-tokoh komik terjemahan mereka, nama Siau Hi Ji kukenal lebih dulu sebagai Devilito.

Tapi komik “Tapak Sakti” itu lama-kelamaan kurasakan jalan ceritanya jadi ngalor-ngidul. Tokoh utamanya berubah dari si kembar Devilito dan Samsun ke paman angkat mereka, Sembilan Benua. Tony Wong, si pengarang, bahkan kusinyalir sebagai pengarang yang mempengaruhi jalan cerita sinetron-sinetron khas Endonesa. Asal ratingnya bagus maka ceritanya dipanjang-panjangin meskipun hasilnya semakin ngalor-ngidul dan nggak logis. Pada akhirnya gara-gara Sembilan Benua bertingkah sebagai tokoh utama, Devilito plus Samsun malah diceritakan mati. Gembel!

Waktu esempe barulah aku tau kalo “Tapak Sakti” itu ternyata mengadopsi cerita silat karyanya Khu Lung dan pas jaman dulu pernah juga diterjemahkan ke bahasa Endonesa sama Gan K.L. sebagai triloginya Pendekar Binal: “Kisah Pendekar Binal”, “Bakti Pendekar Binal”, dan “Bahagia Pendekar Binal”.

Aku juga baru tau kalo Devilito itu adalah Siau Hi Ji, Samsun adalah Hoa Bu Koat, dan Sembilan Benua adalah Yan Lam Thian, sang pedang sakti nomor 1 di kolong langit.

Alhamdulillah sejak 2001 kemarin M&C menerbitkan komik tentang Siau Hi Ji ini dengan judul “The Impeccable Twins” yang digambar sama Ho Ce Wen. Sampai sekarang ada 3 bagian dari komik ini. Yang pertama, yang digambar sama Ho Ce Wen itu, adalah yang pernah diterjemahkan sama Gan K.L.. Mulai bagian kedua, “The Impeccable Twins: Knights of Kangouw”, dan bagian ketiga, “The Impeccable Twins: Final Chapter”, yang masih terus terbit sampai sekarang, digambar sama Cai Jing Dong.

Tapi buatku kisah Siau Hi Ji yang sebenarnya cuma di komik yang digambar sama Ho Ce Wen. Sejak bagian kedua yang digambar Cai Jing Dong, ceritanya jadi ngalor-ngidul lagi. Pakemnya mulai berantakan macam “Tapak Sakti”-nya Tony Wong, dengan munculnya jagoan yang lebih kuat dan lebih kuat dan lebih kuat lagi dari Yan Lam Thian dan Kiau Goat yang sebelumnya disebut sebagai yang tanpa tanding. Siau Hi Ji benar-benar kunikmati sebagai The Real Siau Hi Ji cuma di bagian pertamanya.

Jadi sekali lagi kuceritakan kalo Siau Hi Ji dan Hoa Bu Koat itu adalah anak Kang Hong, sodara angkat Yan Lam Thian. Ceritanya suatu hari Kang Hong yang terkenal sebagai laki-laki paling ngganteng se-dunia-persilatan – tapi nggak jago kungfu – itu dapat undangan makan-makan dan menginap gratis dari penguasa Istana Bunga Ih Hoa Kiong, Putri Kiau Goat dan adiknya, Putri Lian Siang. Kedua putri itu, terutama Kiau Goat, itu disinyalir sudah lama ngebet sama Kang Hong. Tapi apa hendak dikata… Sampai di Ih Hoa Kiong, Kang Hong-nya malahan naksir sama salah-satu dayang di situ, menjalin affair sampai si dayang hamil, dan sewaktu ketahuan mereka berdua buru-buru memutuskan kabur dari Ih Hoa Kiong.

Sayang beribu sayang, gara-gara dikhianati sama pelayannya sendiri yang berjudul Kang Khim yang kepengen menguasai hartanya, Kang Hong di tengah jalan dicegat sama gerombolan penjahat Cap Jie Shio. Dasarnya bukan jagoan kungfu, Kang Hong setengah mampus. Untung aja Lian Siang datang dan mengalahkan gerombolan Cap Jie Shio. Kiau Goat yang menyusul kemudian ternyata malah memperparah keadaan. Kang Hong dan istrinya akhirnya memilih mati daripada disuruh pisah sama Kiau Goat, dan meninggalkan 2 bayi kembar mereka yang lahir di perjalanan.

Saking cemburunya ngeliat hasil ah-uh-ah-uh Kang Hong dan dayangnya, Kiau Goat sempat bakal membunuh kedua bayi itu, tapi dicegah sama Lian Siang. Lian Siang – demi menyelamatkan nyawa kedua bayi itu – menyusun dan membisiki sebuah muslihat ke kuping kakaknya. Dia bilang, “Gimana kalo 1 anak kita ambil dan kita rawat, yang satunya biar dirawat sama Yan Lam Thian yang sebentar lagi pasti datang. Nanti kalo mereka sudah gede, kita adu mereka berdua biar saling bunuh. Terdengar lebih kejam daripada membunuh mereka sekarang, kan?”

Kiau Goat setuju meskipun pisaunya sudah sempat melukai wajah salah-satu dari bayi itu. Bayi yang wajahnya tidak cacat mereka ambil dan mereka besarkan dengan nama Hoa Bu Koat, mewarisi kungfu ngetop ala Ih Hoa Kiong, Ih Hoa Ciap Giok.

Sementara itu bayi yang 1 lagi memang akhirnya berhasil ditemukan sama Yan Lam Thian. Dibakar marah, Yan Lam Thian yang mengetahui bahwa matinya Kang Hong gara-gara ulahnya Kang Khim, berniat mengejar Kang Khim yang isunya bersembunyi di Ok Jin Kok, alias Lembah 10 Penjahat. Sampai di Ok Jin Kok, gara-gara termakan tipuannya para penjahat di situ Yan Lam Thian akhirnya berhasil dilumpuhkan dan disiksa sampai cacat. Seorang tabib di situ yang bernama Ban Jun Liu menyelamatkan nyawa Yan Lam Thian dengan memohon kepada Toh Sat, pemimpin Cap Toa Ok Jin, untuk menjadikan tubuh Yan Lam Thian sebagai eksperimen obat-obatannya.

Begitulah… Singkat cerita akhirnya bayi yang dibawa Yan Lam Thian dibesarkan dan digadang-gadang untuk meneruskan nama besar Cap Toa Ok Jin. Bayi itu diberi nama Siau Hi Ji, sekaligus diajari kungfu oleh 5 dari 10 penjahat ulung yang berdiam di Ok Jin Kok: Toh Sat, To Kiau Kiau, Ha Ha Ji, Im Kiu Yu, dan Li Toa Jui.

Lalu apa yang menarik dari Siau Hi Ji buatku?

Yang menarik adalah keseluruhan caranya memandang hidup. Yang pertama, tentu saja, walaupun dibesarkan di markas penjahat-penjahat kelas kakap, Siau Hi Ji tidak kehilangan sisi baiknya. Ini semua berkat bimbingan dari Ban Jun Liu sejak kecil. Siau Hi Ji memang urakan dan semaunya, tapi nuraninya selalu bersih.

Yang kedua adalah pesonanya. Mungkin memang benar kalo cowok tipikal bad-boy itu justru dikerubungi wanita. Siau Hi Ji juga begitu. Tercatat nama-nama seperti Thi Sim Lan, Bu Yung Kiu, dan Bidadari Cilik yang terpikat sama sifat urakannya Siau Hi Ji. Itu baru beberapa tokoh cewek yang punya peran besar dalam cerita. Belum lagi tokoh-tokoh cewek lainnya yang sekedar lewat. Dan gara-gara dikerubungi sama cewek-cewek itulah Siau Hi Ji pernah ngomong, “Perempuan itu memusingkan,” yang tentu saja segera kuamini.

Siau Hi Ji juga bukan tokoh yang silau dengan gemerlapnya dunia. Diceritakan berkali-kali dia berurusan dengan yang namanya harta, tapi Siau Hi Ji tidak pernah ambil pusing. Berkali-kali juga kedapatan dia justru membuang-buang harta yang didapatnya, ditinggalkan untuk orang lain. Buatnya, harta justru mengikat manusia, dan itu tidak sesuai dengan sifatnya yang selalu ingin bebas.

Tapi yang paling utama adalah kecerdasannya. Dari dulu aku suka sedikit agak gimana gitu kalo mendapati tokoh utama yang selalu menangan dan tidak terkalahkan kalo berantem. Siau Hi Ji tidak demikian. Dia bukanlah jagoan terkuat. Malah dalam beberapa perjumpaan awalnya dengan Hoa Bu Koat, Siau Hi Ji selalu dibikin babak-bundas. Tapi Siau Hi Ji selalu bisa bertahan hidup lewat kecerdasannya (dan sedikit keberuntungannya :mrgreen: ).

Di akhir cerita, Siau Hi Ji juga tidak akhirnya menang melawan Hoa Bu Koat. Dia justru “kalah” dan akhirnya bisa membongkar semua skenario Kiau Goat (dengan berpura-pura mati setelah bertarung dengan Hoa Bu Koat).

Semua itu bikin aku benar-benar terkesan sama Siau Hi Ji, terutama akal-akalannya. Siau Hi Ji yang bukan orang terkuatlah yang akhirnya mengajari aku bahwa yang penting bukanlah kerja keras, tapi kerja cerdas. Sifatnya yang selalu santai dan bebas juga mengajari aku kalo hidup itu adalah suka-cita dan bukan beban. Dari Siau Hi Ji aku juga belajar bahwa tidak penting menjadi yang terhebat. Yang lebih penting adalah kemampuan menyelesaikan masalah. Nggak ada gunanya jadi yang terhebat kalo tidak implementatif.

Dalam perkara cewek aku juga akhirnya kepengen seperti Siau Hi Ji. Dalam artian, aku menerapkan standar pendamping hidup yang seperti pendamping hidupnya Siau Hi Ji, So Ing.

ini gambarnya so ing

So Ing ini – konon – tidak secerah Thi Sim Lan, tidak selembut Bu Yung Kiu, dan tidak secentil Bidadari Cilik, tapi entah mengapa dia begitu memikat. Kesimpulanku adalah karena kecerdasannya. Konon katanya kecerdasan So Ing selevel dengan Siau Hi Ji, atau bahkan buatku malah lebih cerdas lagi. Bagaimana tidak? So Ing adalah perempuan pertama yang berhasil menyekap Siau Hi Ji di Bukit Kura-kura. So Ing juga orang pertama yang bisa mengetahui rahasia kekuatan kungfu Ih Hoa Ciap Giok lewat muslihatnya ketika mengobati Hoa Bu Koat yang keracunan. So Ing juga bukan cewek yang bisa kungfu. Maka kalo dibanding Siau Hi Ji yang bisa kungfu buat salah-satu modal menyelesaikan masalah, buatku, kecerdasan So Ing berada di atasnya.

Jadilah aku selalu berusaha nyari pacar yang tipenya kayak So Ing. Dalam artian, secara statistik, cewek yang – seharusnya – jadi pacarku haruslah ber-IQ 130 atau malah di atasnya (kemarin sempat dapat, sih, tapi sekarang sudah dibawa kabur sama cowok lain). Aku jadi suka ilfil sama cewek yang wawasannya nggak luas. Aku jadi nggak semangat kalo sama cewek yang nggak bisa mbales dan ngelawan waktu “kutindas” 😈 Aku maunya sama cewek yang selama ini katanya justru membuat minder cowok.

Kalo orang bilang, kalo ada cewek yang lebih pinter dari cowoknya maka itu justru membuat si cowok jadi minder, buat aku justru sebaliknya. Aku bakal mengagumi setengah mampus sama cewek yang lebih cerdas dari aku. Di samping standarku yang memang kayak gitu, cewek yang lebih cerdas dibanding aku bakal bikin aku merasa tertantang buat membuktikan kalo aku ini juga bisa lebih cerdas dari dia. Dan seandainya nanti suatu saat aku bener-bener jadi lebih cerdas dibanding dia, aku nggak mau kalo dia cuma bisa pasrah. Aku maunya dia juga bisa melawan balik. Kesimpulannya, aku kepengen punya cewek yang sekaligus bisa jadi rivalku πŸ˜€

Yeah, rivalitas itu perlu, kan? Dan bagiku bakal jauh lebih nikmat kalo rivalitas itu kudapatin dari orang yang paling dekat dengan aku, hohoho.

Facebook comments:

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

  1. aku mumet jon ngapalke jeneng2 macem So Ing ini, Bu Yung Kiu, Thi Sim Lan, Kiau Goat, hahahaha.. irungku dadi auto kembang kempis..

    mending kau jadi kayak kubo aja jon, mantab tenan.. hahahahahahahahhahahaha.. ngakakable banget ceritone

  2. tantos:::
    semoga lekas sembuh..

    awik1212:::
    nanti kalo saya mati, terus siapa yang jadi CEO ilkomp? πŸ˜›

    masluqman:::
    karena konon katanya iq anak itu diturunkan dari iq-nya ibu

    Landhes:::
    siau ku ning kok ndak diajak ndes? rasis kamu!

  3. Saya pusing baca itu nama-nama berbau Cina.

    Jon, memangnya si A** IQ-nya berapa? Kalau sama yang IQnya 70 mau ndak? Tapi cowok, namanya Boy Im.

  4. riza_kasela:::
    tenang aja. paling nanti2 u bun hen thian kalah juga πŸ˜›

    itikkecil:::
    dulu sempat ada yang mau, mbak. tapi skrg sudah dicolong orang πŸ˜†

    w nan tampan:::

    Saya pusing baca itu nama-nama berbau Cina.

    rasis kamu, w!

    iq-nya ayu beta tiada tau, meskipun dia juga sering membuat saya menyekapkan diri sendiri di kamar kosnya yang lawas 😈

    kalo si boim, sebenarnya iqnya dia bukan 70, tapi 88. tapi selain mangsalah iq, jenis kelaminnya dia cuma pantas buat mendampingi homo seperti anda

    yudi:::
    sayangnya jambu itu cowok. jadi buat situ sahaja

  5. yang saya liat di kampus kelakuanmu kayak kang piat ho mas, hhaha

    kalo aku sih im kiu yu aja, mengamati, tak ada kesempatan untuk menang, KABUR! langkah angin kegelapan merogoh sukma..!

  6. engg.. standart cewekmu harus Soing n gayamu kaya Hu Boat gimana Joe? wanita kan mahluk yang lemah ;))

    tapi ulasanmu inih bikin aku ga pengen beli komiknya lagi.. huh mendingan baca khu lun aja

  7. waaaaa seleranya keren, saya juga mau kalau yang begitu :mrgreen:
    ehem udah lama saya gak baca komik ini, terakhir kalau gak salah waktu semua penjahat gurunya siauhiji itu mati semua (saling berantem kalau gak salah)

  8. almascatie:::
    saya malah curiga. jangan2 yang sekuel komiknya itu sebenernya juga nggak pernah dikarang sama khu lung. hanya karena khu lung yg nyiptain karakternya, makanya namanya dia tetep dipajang sebagai pengarang

    awik1212:::
    kamu jadi pns aja sana, wik πŸ˜›

    kimi:::
    ya ya ya, asal kamu yg ke jokja

    riza_kasela:::
    itulah yang menyebalkan. makin lama ceritanya jadi makin nggak karuan. habis ini Majikan Im Yang berhasil ngidupin orang mati. sekalian aja jadi komik supranatural! beh πŸ‘Ώ

    J Algar:::
    ah ya…
    sebenernya 10 penjahat ulung nggak mati semua. masih sisa 2: Thi Cian “si singa gila” yang bapaknya Thi Sim Lan, terus sama “setan judi” An Wan Sam Kong.

    tapi ngobrol2, Toh Sat itu rasanya malah terlalu ksatria untuk seorang pimpinan 10 penjahat tersadis di kangouw. Siau Hi Ji – dan akhirnya saya juga – banyak dapat keteladanan dari dia πŸ™‚

  9. saya juga nge fans sama komik ini… saya mulai baca sejak 2003.. saya juga setuju, thenreal siau hi ji cm yg bagian pertama.. bagian knight of kang ouw udah kagak menarik ceritanya…

    Saya juga banyak mengambil pelajaran dari komik itu.. ttg pertemeanan, tentang jati diri, tentang kesedihan, benci, cinta.. pokoknya banyak deh.. =D

  10. Pingback: Dan, Tambah Banyak Lagi Jumlah Muslim yang Makin Ngawur | The Satrianto Show: Beraksi Kembali!

  11. Pingback: Tentang Pasangan Hidup | The Satrianto Show: Beraksi Kembali!

  12. Pingback: Mbak Mantan, Cita-cita, Nilai Cara, dan Akhirnya | The Satrianto Show: Beraksi Kembali!