Silvi dan Sombong

March 22, 2016 – 8:13 pm

Silvi, temen seangkatanku di kampus dulu tapi beda program studi meskipun 1 jurusan, dalam sebuah kesempatan makan-makan pernah bilang kalau sombong adalah kesan-kesan awalnya terhadapku pas jaman dulu itu. Makanya waktu awal-awal kuliah kami nggak akrab. Sombongku luar biasa, begitu sungutnya, apalagi untuk ukuran pria kecil tapi dengan gestur tubuh yang selalu berjalan dengan kepala sedikit ndangak 😆

(Eh, “ndangak” itu apa, sih, bahasa Indonesia-nya? Ah, ya, “menengadah”)

Perihal keluh-kesahnya tersebut tentu saja aku ngakak. Kubilang sama dia kalau semua juga bilang gitu. Jangankan dia, di keluargaku sendiri juga ada yang menilai kalau aku ini sombong bukan kepalang. Penilaian yang wajar, sih, menurutku. Terus kubilang juga sama dia, awal-awal kuliah itu mungkin banyak yang bilang aku sombong gara-gara aku sok-sokan nggak mau make kacamata minusku, yang seharusnya selalu kupakai sejak aku kelas 4 esde. Jadilah aku memang jarang nyapa orang duluan. Orang lainlah yang harus duluan nyapa aku untuk kemudian baru aku ngeh kalau yang menyapaku adalah temanku sendiri. Ditambah dengan kebiasaan memicingkan mata ketika berbicara dengan orang, maka komplitlah sudah gestur sombong yang kumiliki. Hal-hal seperti itu baru berubah ketika aku insyaf make kacamataku lagi di tahun ke-2,5 sewaktu aku benar-benar nyerah dengan kondisi mataku yang tidak bisa mengidentifikasikan garis tegak-lurus lagi.

Kusampaikan pula ke dia, bahwa aku mungkin dicap sombong gara-gara omonganku. Aku dianggap sering sesumbar bisa melakukan ini, bisa mengerjakan itu, misalnya, “Wah, cuma kerjaan kayak gini, 30 menit, sih, beres.” Padahal maksudku berkata seperti itu ya nggak buat nyombong. Menurutku aku cuma berkata-kata tentang hal-hal yang memang bisa kulakukan. Perkara orang lain menganggap hal yang kuanggap bisa kulakukan dengan gampang itu sebagai hal yang susah, ya bukan urusanku, kan? Bukankah ketika kubilang aku bisa maka yang penting adalah aku memang bisa, kan? Dengan demikian aku nggak bakal ketambahan cap sebagai tukang ngibul tho?

Tapi Silvi ngotot. Katanya aku memang sombong. Hahaha.

Baiklah, aku ngalah. Aku bilang ke dia, “Oke, oke, aku memang sombong. Tapi seenggaknya yang kusombongkan selalu terbukti, kan?” yang kemudian respon dari yang bersangkutan adalah memonyongkan bibirnya.

To cut a long story short, kapan hari kemarin Silvi nagih traktiran Abuba Steak ke aku sehubungan dengan pencapaian hidup terbaruku. Mengenai apa jenis pencapaiannya, anggap saja aku dijanjiin jadi Kepala BIN sama Pak Presiden sehabis ulang tahunku 2 bulan lagi. Kuiyakan saja si Silvi daripada kelamaan punya utang, apalagi kami pas waktu itu lagi sama-sama lumayan senggang. Kuputuskan biar aku saja yang njemput dia pas jam makan siang di kantornya.

Sialnya, begitu aku sudah sampai di kantornya dan kemudian ketemu dia, kalimat awal yang meluncur dari bibirnya adalah, “Memang susah ya ngomong sama orang sombong yang omongannya selalu kebukti. Aku iri!” mengingat jauh-jauh tempo sebelumnya aku sempat sesumbar tentang apa yang kemudian baru saja kudapatkan.

Hahaha, terima kasih ya, Vi. Kuanggap itu pujian :mrgreen:


Facebook comments:

Post a Comment