Sombong dan Dilema dan Paradoks

October 9, 2016 – 7:20 pm

Semalem aku nggak bisa tidur. Entah kenapa, mungkin gara-gara kebanyakan ngopi. Saking nggak bisa tidur itulah pikiranku malah jadi ke mana-mana sendiri (karena aku geletakan di kasurnya sendiri jadi ya mikirnya juga sendiri. Coba berdua sama gadis manis, boleh jadi aku malah nggak pake mikir lagi. Mungkin langsung hajar bleh sahaja). Beberapa hal yang sudah lewat kemarin-kemarin mendadak malah mampir. Untunglah nggak ada problem bin masalah berat, kecuali yang kubuat sendiri jadi sok berat seperti yang berikut ini:

Sejujurnya dan sesadarnya aku ini sungguh makhluk yang sombong. Suka pamer kebisaan. Ada pencapaian apapun yang sifatnya personal, kuusahakan supaya orang lain juga tahu. Biar apa? Ya biar dibilang hebat, dong. Misalnya aja waktu aku berhasil menempuh kemacetan selama 1,5 jam dari kantorku di bilangan Gatot Subroto sampai akhirnya berhasil masuk ke parkiran motornya Pondok Indah Mall I, begitu nyampai di Gramedia-nya aku langsung apdet status di Path-ku. Kutulis “Jadwal rutin dulu: numpang baca ‘Long Hu Men‘ edisi bulan ini” di situ. Hebat, kan? Bagaimana tidak hebat, wong aku berhasil menjaga komitmenku selama 90 menit hanya demi bisa baca komik gratis di Gramedia, kok. Betapa kesabaranku sungguh teruji dan terbukti, kan?

Cuma saja sebenarnya ini adalah hal yang biasa. Siapa, sih, manusia yang nggak hobi pamer di social media? Toh hakikatnya social media itu, kan, memang buat pamer. Bedanya mungkin hanya di level basa-basi bahasanya. Mau pake bahasa ninggi atau merendah, substansi apdetan status kita, kan, aslinya memang kepengen pamer. Aku yang lebih suka bilang, “Aku hebat! Ayo puji aku,” atau mereka yang berkata, “Aku bisa kayak gini. Tapi aku nggak terang-terangan pengen diapresiasi, kok,” sebenarnya kami berdua sama aja, kan? Bwahahaha.

Maka semalem aku berpikir tentang kesombonganku. Sebagai makhluk Tuhan yang kepengen bisa sombong dengan konsisten, kadang kala aku merasa tersinggung dan diinjak-injak ketika ada orang lain yang menaruh simpati dan belas-kasihannya ke aku. Aku merasa hal yang seperti itu menodai kesombonganku. Sombongku jadi nggak kaffah lagi. Mana ada orang sombong, kok, dikasihani? “Kasihan kamu, Joe,” jika diucapkan dengan tulus justru bikin aku kepengen menempeleng mulut si pengucap. Sejak kapan ada orang sombong dikasihani? Mbahmu kiper! Orang sombong itu nggak boleh dikasihani, bolehnya dikasihnasehatsupayanggaksombonglagi, soalnya Gusti Allah itu nggak suka sama perilaku hambaNya yang sombong. Yang berhak sombong ya cuma Gusti Allah sendiri. Paham ente?

Cuma lagi, konon, kita manusia ini adalah pancaran nur Illahi. Jadi sepersekian sifat Tuhan ada pula di kita. Maka lagi, demi mencapai level Manunggaling Kawula Gusti dengan Dzat yang Mahasombong, aku harus tetap mempertahankan dan melatih sifat sombongku supaya pada akhirnya kesombongan kami bersatu. Paham? Enggak? Sama, aku juga nggak paham. Aku aja malah bingung, kok, bisa-bisanya aku nulis kayak barusan, dapat ilham dari mana, coba?

Hanya saja semalem aku mengalami dilema. Dilemanya begini… Demi mempertahankan kesombonganku maka harus ada bahan untuk kusombongkan. Supaya bahan sombong senantiasa ada maka aku harus tetap memiliki stok pencapaian tidak biasa yang sulit kalian – muggle-muggle sialan – dapatkan. Untuk punya prestasi ini ada banyak hal yang harus kuhalalkan, termasuk memanfaatkan kalian – muggle-muggle sialan – untuk secara sukarela kujadikan batu loncatan. Sumber daya kalian harus kueksploitasi demi tujuan sombongku.

Sialnya hal ini susah kudapatkan kalau kalian sadar bahwa kalian hanyalah bidak-bidak caturku. Aku harus meyakinkan kalian, menyentuh simpati terdalam kalian, mengelabui kalian sampai kalian kemudian beranggapan kalau aku layak untuk kalian bantu. Pendeknya, kalian harus beranggapan betapa bejatnya diri kalian sendiri kalau kalian nggak kasihan sama aku untuk kemudian memutuskan mengabulkan keinginanku. Demi ini aku harus merendahkan diriku, kelihatan sedikit macam pecundang juga nggak masalah. Di sini aku harus pintar-pintar berakting dan berpura-pura di depan kalian. Aku wajib mampu melakukan aksi tipu-tipu, lobbying, dan upeti. Aku harus bisa omong soal moral, omong keadilan di depan kalian sebagai menu sarapan pagiku.

Lalu jadilah ini dilema, atau lebih tepatnya paradoks. Aku ini kepengen bisa tetap sombong dengan konsisten. Omongan semacam, “Kalau nggak sombong itu bukan kamu, Joe,” dari teman-temanku haruslah selama mungkin kupertahankan. Aku nggak mau menerima belas-kasihan dari orang lain yang kuanggap bisa menodai imejku sebagai manusia arogan. Tapi ternyata, kenyataannya, untuk bisa tetap bertahan dengan sikap arogan, aku tetap membutuhkan rasa kasihan dari sekelilingku.

Kampret, kan?

Ya, begitulah… Hidup ini memang rodo-rodo semprul. Pengen sombong secara utuh aja ternyata aku dituntut untuk tidak (kelihatan) sombong terlebih dahulu. Mungkin pada dasarnya seluruh aspek hidup ini juga kayak gitu. Penuh paradoks. Mungkin juga memang begitu, karena betapa tidak, pedoman hidup yang kupegang sampai sekarang pun mengajarkanku supaya menjadi makhluk yang dilematis binti penuh paradoks.

Jadi bagaimana sejujurnya perasaan kalian ketika sudah memoles draft apdetan status seheroik mungkin tapi ketika sudah diunggah di media sosial ternyata nggak ada reaksi dan komentar sama sekali? Yakin kalian betul-betul nggak peduli?

Nggak usah dijawab. Aku sudah tahu. Ingat, aku ini selalu lebih pintar dan lebih tahu dibanding kalian, muggle-muggle sialan! 😈


Facebook comments:

  1. 6 Responses to “Sombong dan Dilema dan Paradoks”

  2. Biasa aja..

    By Dian on Oct 9, 2016

  3. sudah tau!

    By Yang Punya Diary on Oct 9, 2016

  4. Maksud saya kamu… biasa saja.. bukan termasuk orang sombong. ????

    By Dian on Oct 10, 2016

  5. Mmmmmm….

    By D on Oct 10, 2016

  6. hahahahhaa *lalu lanjot makaan

    By afirahma on Oct 31, 2016

  7. Dian:::
    eh, maksudnya gimana, sih. itu nanya, ngasih statement, atau bagaimana? saya bingung :mrgreen:

    D:::
    Ya?

    afirahma:::
    apa kamu, siluman papan tulis jaman dulu?

    By Yang Punya Diary on Nov 6, 2016

Post a Comment