Superman dan Pasar Senen

Jaman ndak enak dulu, waktu masih jadi orang susah, tiap kali ke Jakarta aku mesti naik kereta api kelas ekonomi yang turunnya di Stasiun Pasar Senen. Waktu itu aku belum kayak sekarang yang sudah punya kartu Garuda Frequent Flyer kelas emas dari Garuda Indonesia dengan logo Liverpool FC menghiasi permukaannya. Sekarang, sih, aku sudah kaya. Malah saking kayanya, aku sempat tergumun-gumun ketika mengikuti percakapan di grup Whatsapp almamater kuliahku.

Waktu itu ada wacana tentang kenaikan tarif airport tax di beberapa bandara di Endonesa. Malah ada bandara yang bakal membebankan biaya airport tax sebesar 200 rebu rupiah kepada korban-korbannya. Dan hal itu akhirnya jadi bahasan di grup Whatsapp almamaterku itu. Beberapa mengeluhkan tingginya biaya yang harus mereka keluarkan.

Maka akupun heran. Kutanya, airport tax itu apa masih ada? Kok, tiap ke bandara aku nggak pernah ditagihin airport tax lagi macam mereka, sih? Biasanya tiap habis check-in akunya selalu langsung nyelonong ke ruang tunggu tanpa birokrasi tambahan lagi. Tapi kadang-kadang nggak langsung juga, sih. Beberapa kali aku mampir dulu ke Periplus, pasang gaya buat beli beberapa buku (yang tentunya dalam bahasa Inggris, dong) sebagai teman perjalananku.

Olala…sejurus kemudian aku baru ingat! Aku ini sekarang mondar-mandirnya naik Garuda. Jelas aja aku nggak pernah ditagihin airport tax lagi. Ongkos pajaknya itu sudah dibebankan dalam harga tiketnya. Jadilah airport tax hanya perlu dibayarkan sama mereka-mereka yang hobinya nggak naik Garuda kala memilih transportasi via udara.

Nah, aku sombong ya?

Memang. Memang aku sombong. Namanya saja sudah jadi orang kaya, ya sesekali akunya berhak sombonglah. Waktu masih mahasiswa dulu si Bram sering ngejek aku, “Sampai kapan mau jadi mahasiswa kere?” katanya. Nha, masak sekarang pas akunya sudah jadi orang kaya, akunya ndak boleh pasang lagak? Masak akunya ndak boleh gantian ngejekin kalian-kalian ini yang masih pada kere? Kalo aku nggak ngejek kalian, mau dikemanakan eksistensiku sebagai orang kaya, coba?

Mikir dikit, dong!

Tapi ini sifat jelek yang jangan kalian tiru, duhai sidang pembaca yang dirahmati Allah. Yang namanya jadi orang, walaupun diberi kelebihan karunia macam-macam sama Tuhan tetap saja ndak boleh sombong. Sombong itu – konon – adalah hak prerogatifnya Tuhan sendiri. Lagi pula, mau bilang apa kalo nanti ternyata kekayaan kalian tau-tau dicabut sama Allah? Masih bisa sombong lagi, hah, kalo kejadiannya sudah macam itu? Maka tetaplah menjadi insan yang rendah hati, jangan mecicil, kebanyakan gaya ke sana-ke mari.

Lho, kalo sudah tau macam gitu, kenapa situ masih juga sering sombong, Mas Joe?

Lho, gimana, sih? Ini, kan, fitrah manusia. Manusia itu tempatnya salah dan dosa. Jadi kalo aku sesekali nampak sombong, ya tolong dimaklumilah. Aku ini, kan, manusia juga. Bisa salah, bisa lupa, bisa pula kelepasan berbuat dosa.

Jadi marilah kita kembali ke Stasiun Pasar Senen…

Tiap kali turun di Pasar Senen ada beberapa pilihan untuk lanjut ke rumah dinasnya babahku di Ciputat. Bisa naik P20, Patas 76, atau taksi. Tapi karena waktu itu aku masih kere, tentunya opsi naik taksi tidak kulirik sama sekali. Aku lebih pilih naik P20 atau Patas 76 yang lebih mahal sedikit tapi ada AC-nya.

Pernah suatu kali aku nongkrong di Patas, waktu bisnya lagi ngetem, masuklah 2 orang anak jalanan, tanpa bawa gitar, ndak juga bawa kicrik-kicrik. Pokoknya ndak keliatanlah niat ngamennya sebagaimana biasanya tebakanku kalo ada anak jalanan yang masuk ke bis kota. Betul, pada akhirnya mereka tidak ngamen. Mereka cuma bilang – dan dengan terang-terangan – kalo mereka pengen minta duit dari penumpang-penumpang bis. Tentu pula mereka menggunakan bahasa seintimidatif mungkin. Daripada mereka nyolong, nodong, atau ngerampok, menurut mereka lebih baik kalo mereka jujur meminta dan dengan cara yang (sesuai standar mereka sudah cukup) sopan dan baik-baik. Tidak lupa juga mereka mencoba playing victim. Kata mereka, seandainya mereka seberuntung para penumpang bis yang kunaiki, seandainya mereka punya kehidupan yang baik, pekerjaan yang tetap, mereka pasti tidak akan hidup di jalanan yang keras dan tidak akan meminta-minta.

Jujur, kata-kata mereka buatku cukup intimidatif juga. Kampretnya, di dompetku waktu itu tidak ada recehan. Walaupun masih kere, nominal paling kecil yang ada di dompetku saat itu adalah 10 rebu perak. Cukup eman-eman kalo harus kuberikan kepada mereka meskipun saat itu aku lumayan gentar juga. Pikirku, bagaimana kalo mereka memaksa dan aku bersikukuh menolak memberi? Boleh jadi akan ada sedikit sitegang di situ. 2 orang – jika keadaan memaksa – bisalah sedikit kulawan sekenanya. Tapi bagaimana kalo – setelah tunggang-langgang kuhajar – mereka lapor pada teman-temannya?

Bung, ini Jakarta. Ini bukan Jokja. Di Jakarta aku tidak ada back-up siapa-siapa. Beda dengan di Jokja, yang begitu tombol panik di hapeku kutekan, pasukan dari Bulaksumur, Jakal, Glagahsari, Pogung, Krangkungan, Kewek, Nogotirto, Mergangsan, atau juga Prambanan bakal berdatangan membantu. Membantu dengan doa, maksudnya.

Untunglah orang baik dan beriman itu selalu dilindungi Tuhan. Di belakangku rupanya duduk seorang cewek abege dengan paras cukup genit. Selepas aku menolak memberikan upeti pada mereka, 2 orang anak jalanan itu beralih fokusnya menggoda cewek di belakangku. Mereka lupa betapa aku sudah dengan tega menolak tawaran mereka. Sempat pula kucuri dengar obrolan 3 orang di belakangku. Si cewek rupanya menanggapi pula rayuan dari mereka. Ah, Jakarta…

Sekarang mari kita bicara tentang sistem perekonomian favoritku. Jangan khawatir, ini tidak bakal berat, kok. Ini bukan disertasi, dan ini masih ada kaitannya dengan 2 anak jalanan yang kutemui di Patas 76 itu.

Apa sistem perekonomian favoritku? Sistem perekonomian favoritku – sayang sekali – adalah sistem perekonomian liberal. Kenapa? Karena sistem yang 1 ini bersifat membebaskan individu untuk bertindak sesuka hati sesuai kepentingan dirinya sendiri dan membiarkan semua individu untuk melakukan pekerjaan tanpa pembatasan yang nantinya dituntut untuk menghasilkan suatu hasil yang terbaik, yang cateris paribus, atau dengan kata lain, menyajikan suatu benda dengan batas minimum dapat diminati dan disukai oleh masyarakat.

Teoritis sekali?

Iya.

Tapi pendeknya, aku suka sistem itu karena kandungan kompetisi di dalamnya, di mana manusia dituntut untuk menjadi individu-individu yang kompetitif kalo mau (disebut sebagai manusia yang) sukses. Dengan bahasa lain, manusia ditempa untuk tidak manja.

Hanya saja konon sistem ini bakal menciptakan manusia-manusianya terbagi jadi 2 golongan, yaitu golongan pemilik sumber daya produksi dan masyarakat pekerja alias buruh. Mereka yang punya bekal kesaktian bakal sukses besar, sementara mereka yang alakadarnya ya besar kemungkinannya bakal hidup merana, yang pada akhirnya menimbulkan sebuah kejelekannya sendiri: konon katanya yang kaya bakal makin kaya, yang miskin bakal makin miskin.

Tapi buatku itu cukup adil! Mereka yang punya kemampuan memang berhak untuk sukses, sementara mereka yang semenjana ya ndak heran juga kalau hidupnya begitu-begitu saja.

Adil dari mananya, Mas Joe? Tidak semua orang lahir dengan kapital yang memadai tauk!

Lho, nanti dulu… Betul bahwa manusia tidak terlahir sama. Ada yang lahir sebagai cucunya Conrad Hilton, ada pula yang lahir sebagai cucunya Eyang Sasongko Dwidjopoespito. Maka kalau kita lihat dari parameter itu, di mana letak adilnya?

Memang. Memang sekilas nampak ndak adil. Aku dulu juga berpikir model begitu, kok. Jangan khawatir. Sampeyan ndak sendirian. Cuma saja jangan salah, aku percaya bahwa masing-masing manusia lahir dengan bakat dan keunikannya sendiri-sendiri, yang pada akhirnya siapa yang bisa memanfaatkan segala kelebihannya dengan optimallah yang berhak bolak-balik keluar-masuk di VIP lounge-nya Garuda Indonesia. Dan, enaknya, sistem ekonomi liberal memberi ruang untuk itu.

Sodara tau Superman, manusia Planet Krypton yang di Bumi dikenal dengan nama Clark Kent? Sodara tau kenapa si Clark Kent ini bisa punya sebutan sebagai Superman? Coba, deh, direnungkan sebentar. Nanti kalo sudah tau jawabannya kita boleh diskusi lagi.

Tapi kalo sampeyan sama sekali nggak punya ide tentang jawaban pertanyaanku, baiklah, untuk tidak membuang waktu sampeyan yang berharga, kukasih tau aja kalo Clark Kent bisa disebut dengan panggilan Superman ya karena dia itu hidupnya di Planet Bumi. Coba, seandainya dia hidupnya tetap di Planet Krypton, dengan sesamanya yang juga memiliki segala kelebihan (dibanding manusia Bumi) yang sama sepertinya, akankah Clark Kent nampak menonjol dan hebat?

Begitu juga dengan kita. Pada akhirnya cuma kita yang mau memahami diri kita sendiri, yang mau mempelajari kondisi dan lokasi mana yang cocok untuk unjuk kesaktian kitalah yang mampu dan berhak menjadi Superman. Kasusnya, ternyata memang tidak semua manusia memiliki kesadaran untuk mengembangkan potensinya. Begitulah yang terjadi dengan 2 orang anak jalanan di Patas 76 yang menyalahkan keadaan. Itu menurutku.

Ada berapa, sih, dari kita yang mau mengenal diri kita sendiri secara mendalam? Ada berapa dari kita yang ketika interview pekerjaan mampu menjawab dengan lancar sewaktu diminta oleh si pewawancara, “Coba ceritakan tentang diri Anda sendiri, kelebihan dan kekurangan Anda.”?

Selanjutnya, jika kita sudah mengenal diri kita, ada berapa, sih, yang memiliki kesadaran dan usaha untuk mengembangkan potensinya sendiri? Coba bandingkan dengan jumlah mereka yang selalu mengharapkan solusi dan proses yang instan, yang tanpa kesadaran.

Aku percaya bahwa keadaan itu sifatnya netral, selalu bisa diakali dengan kelenturan kita untuk beradaptasi. Jadi kenapa pula keadaan selalu menjadi kambing hitam untuk disalah-salahkan? Buatku, cuma mereka yang malas mengakali keadaanlah yang punya hobi untuk menyalah-nyalahkan. Sekali lagi, mereka yang malas, mereka yang cuma berharap solusi instan tanpa mau berusaha untuk menemukan solusinya.

Maka sebenarnya tidak ada alasan untuk menyalahkan keadaan.

Konon, yang mengenal dirinya akan mengenal Tuhannya. Tapi ini tidak sampai sejauh itu, kok.

Dulu pernah ada yang berdalih padaku. “Joe, bukan mereka yang mau keadaannya seperti itu. Misalnya aja, mungkin mereka tidak bisa melanjutkan sekolah karena nggak ada biaya untuk sekolah. Maka ya jangan pula salahkan mereka yang hidupnya berakhir di jalanan.”

Waktu itu aku tersenyum dahulu sebelum menjawab. Setelah puas tersenyum barulah kusampaikan: jika kita bicara dalam konteks “misalnya”, ada berapa, sih, anak jalanan yang sewaktu punya kesempatan sekolah maka mereka bersekolah dengan benar? Ada berapa dari mereka yang mampu menjelaskan tentang gaya sentrifugal, secara sederhana saja, deh? Kalau bisa, selanjutnya banyak bertebaran program beasiswa, kok.

“Oke. Tapi bagaimana dengan yang benar-benar tidak sekolah?”

Sama saja. Sampai seberapa determinasi mereka untuk mengatasi kondisi mereka yang seperti itu? Mau menyerah sama keadaan atau mengembangkan kepekaannya menyerap setiap kesempatan yang tercipta dari kondisinya itu?

Di Denpasar aku besar di Banjar Muliawan, daerah Monang Maning. Kata mereka, Banjar Muliawan adalah Brooklyn-nya Monang Maning. Mungkin itu memang betul, karena beberapa kawan mainku waktu dulu banyak yang sudah mencicipi terali besi. Ada yang memilih profesi sebagai maling, pengedar narkoba, tukang berkelahi, dan sejenisnya. Bahkan, teman yang dulu duduk di sebelahku tiap sore waktu belajar ngaji, saat ini sedang nginap di Hotel Prodeo gara-gara ketahuan nyambi jadi reseller narkotika sebagai sampingan kerjaan utamanya yang debt collector itu.

Rata-rata dari mereka memang cuma sekolah sampai esde saja. Paling banter sampe esempe untuk kemudian putus di tengah jalan. Mereka lebih memilih untuk tiap malam nongkrong di bale banjar sambil gitaran juga mabuk-mabukan, meskipun keluarganya sebenarnya memiliki kemampuan finansial untuk menyekolahkan. Aku tau itu. Aku tau persis karena sekali-2 kali-3 kali-4 kali-dan beberapa kali seterusnya aku juga nongkrong bareng mereka, menenggak bir dicampur anggur kolesom cap orang utan, aeh, orang tua.

Tapi aku tau batasku. Begitu juga dengan seorang teman anak tetanggaku, tempatku tukar-tukaran buku bacaan. Maka tidak heran, di antara manusia-manusia sepantaran kami, yang pada akhirnya mampu menembus perguruan tinggi yang termasuk big 5 di Endonesa akhirnya ya cuma kami berdua.

Sekarang bandingkan, ada berapa pula mereka-mereka yang dari awal juga tidak punya apa-apa tapi berakhir dengan punya apa-apa? Silakan gugling sendiri wis cerita-cerita tentang mereka yang dari nothing menjadi something karena fokus dan determinasinya.

Buatku hal seperti itu tidaklah spesial. Biasa-biasa aja. Buatku, itu memang sudah seharusnya seperti itu; orang yang mengetahui kekuatan diri sendiri, kelemahan lawan, dan situasi medan ya memang sudah sepantasnya menjadi pemenang. Sebaliknya, mereka yang tidak melakukan apa-apa, pasrah bongkokan sambil membela diri bahwa semuanya memang adalah takdir Illahi, ya tidak berhak atas apa-apa pula. Tapi – izinkan kutambahi – tahu saja belum cukup. Mereka yang berhak menjadi Superman adalah mereka yang punya impian untuk jadi Superman, mau belajar untuk kemudian tahu bagaimana langkah-langkah mewujudkan mimpinya, lalu dilanjut dengan mengerjakan apa yang sudah diketahuinya itu.

Situ tau Andrie Wongso yang terkenal dengan tagline-nya “Success is My Right” itu?

Nah, coba kita pikir sedikit, kira-kira kata-kata “success is my right” itu ditujukan untuk siapa? Untuk Anda? Salah, dong. Wong di situ jelas-jelas yang disebut adalah “my”, bukan “your”; saya dan bukan sampeyan. Buatku, Oom Andrie itu lagi bilang ke pembacanya, ke pendengarnya kalau sukses itu adalah haknya dia sendiri. Kenapa? Ya karena dia sudah melakukan semua kewajibannya untuk menjadi sukses. Untuk antum yang pada belum, sori-sori-sori, Jek, sukses itu ya bukan hak sampeyan.

Tidak semua orang berhak untuk sukses, tidak semua orang berhak jadi Superman.

Begitu juga dengan motivator-motivator lainnya, mulai dari yang kelas kakap sampai yang kelas kacang. Mereka berhak bicara heboh dan berbusa-busa ya itu semua karena mereka memang berhak berbicara seperti itu. Mereka bukan kita, yang berbicara saja tiada nyali apalagi melakukan sesuatu untuk diri sendiri.

Maka adalah hal yang jelas bahwa keadaan itu sifatnya netral. Maka adalah hal yang jelas pula alasannya kenapa ketika seseorang kawan lama di udik berkomentar betapa enaknya hidupku sekarang, aku cuma bisa tersenyum sambil menjawab, “Ah, biasa-biasa aja, kok,” karena ini memang biasa. Aku cuma melakukan sesuatu sesuai sunatullah-Nya. Ketika aku melakukan apa yang tidak dilakukan oleh mereka, jadi ya wajar saja kalau sekarang ini aku mendapatkan sesuatu yang tidak didapatkan oleh mereka.

Tidak ada yang aneh, tidak ada yang luar biasa, karena orang-orang Krypton akan memandang sesamanya yang juga orang Krypton sebagai orang yang biasa-biasa saja. Sekian.


Facebook comments:

7 Comments

So, what do you think?


Keywords yang bikin nyasar ke sini:
superman ke pasar


SEO Powered By SEOPressor