Surga dan Dian Sastro

Aku suka Dian Sastro!

Dari jaman dulu, jaman aku masih muda, aku sudah suka Dian Sastro. Ceritanya waktu itu, waktu liburan ke Solo aku iseng-iseng baca majalah Gadis yang dilangganani sama Dik Sita, sepupuku, dan menemukan 1 majalah dengan cover wajah gadis abege yang kupikir seumuran denganku (setelahnya baca-baca isinya aku baru tau kalo cewek yang jadi cover itu umurnya setahun lebih tua dari aku).

Cewek itu namanya Dian Sastrowardoyo. Pemenang Gadis Sampul pas masa itu. 1996, kalo nggak salah. Dan entah kenapa saat itu juga aku langsung naksir habis-habisan sama dia. Menurutku dia punya pesona yang susah dijelaskan lewat kata-kata. Cantik? Jelas iya. Semua cewek yang jadi covernya majalah Gadis kupikir memang cantik-cantik.

Hanya saja, kok, kayaknya ada sesuatu yang beda, yang nggak pernah bisa ta’jawab di mana beda cantiknya Dian dengan cewek-cewek Gadis lainnya. Aku biasanya cuma bisa njawab, “Cantiknya to the point. Ndak berliku-liku,” tanpa bisa menjelaskan pula apa itu cantik yang “to the point” dan “ndak berliku-liku”.

Yang jelas, yang terjadi selanjutnya adalah aku langsung minta ijin sama Dik Sita buat ngguntingin foto-fotonya Dian Sastro yang ada di majalah itu. Sebiji fotonya waktu lagi ngambil sup buat makan pas dia masih dikarantina demi lomba Gadis Sampul yang diambil secara candid masih kusimpen di dompetku sampe sekarang. Mukanya Dian yang polos itu lumayan juga membuatku dicurigai, “Kamu pedofil, Joe? Nyimpen fotonya cewek abege kayak gini,” kata mereka yang nggak ngeh kalo itu fotonya Dian Sastro.

Sayangnya sekarang Dian Sastro sudah jadi istri orang, tanpa pernah sempat kuajak kenalan dan dilanjutkan dinner berdua. Angan-angan buat make-out sama dia cuma terlampiaskan di kamar mandi :twisted:

Apa boleh buat… Walopun sebelumnya siang-malam sudah berdoa biar bisa pacaran (pacaran, lho… Inget, pacaran! Bukan nikah, berhubung masih banyak kesenangan yang mau kulakukan sebagai bujangan) sama Dian, tapi nasib berkata lain. Aku cuma bisa ngayem-ngayemin hatiku sendiri sambil nginget kata-katanya Pak Jumidin Ansyori, ustadz di kampungku yang lebih suka menyebut dirinya sendiri dengan panggilan “Oom Petrus” itu: “Doa kita pasti didengar Allah. Kalopun tidak terkabul di dunia, kemungkinan besar keinginan kita bakal terkabul di akhirat besok.”

Tapi akhir-akhir ini aku malah berpikir, apa iya?

Sekarang gini, kelanjutan dari kata-katanya Oom Petrus itu, aku juga pernah denger, entah dari pengajian atau aku mbaca di mana aku lupa. Yang jelas kurang-lebihnya model gini: Di surga tidak ada keinginan kita yang tidak terpenuhi. Simpel dan cukup melegakanku. Aku bakal bisa make-out sama Dian Sastro di tepi sungai yang di dalamnya mengalir anggur dan susu.

Tapi apa jadinya kalo ternyata terjadi bentrok kepentingan di surga, antara kepentinganku sama kepentingannya Dian Sastro besok?

Maksudnya, aku kepengen make-out sama Dian Sastro yang kalo mengacu pada premis di atas sebelumnya, keinginanku itu pasti bakal terlaksana. Cuma saja bagaimana kalo Dian-nya sendiri nggak mau, sementara keinginanku sama keinginannya Dian masing-masing harus terkabul?

Ada alternatif jawaban yang diberikan sama temenku. “Tuhan bakal mengkloning Dian Sastro terus dikasihkan ke kamu,” katanya.

“Tapi aku nggak mau barang kloningan. Aku maunya sama Dian Sastro yang asli,” balasku.

“Kalo gitu juga gampang. Bukankah Tuhan itu Maha Membolak-balik Hati? Tinggal dibikin aja supaya Dian Sastro seneng sama kamu.”

“Tapi itu berarti aslinya Dian nggak suka sama aku terus dikondisikan jadi suka, dong? Nggak orisinil, ah. Aku maunya yang natural aja,” kataku masih ngotot.

Iya, aku ngerasanya kalo kayak gitu itu semacam pake pelet aja. Cewek yang nggak suka sama kita dijampi-jampi biar suka sama kita. Nggak asli. Nggak orisinil. Pantang dilakukan karena hasilnya kuanggap kurang nge-soul.

Maka gara-gara Dian Sastro itu aku jadi merenung lagi, bagaimana kalo ada bentrok kepentingan macam di atas itu di surga? Keinginannya siapa yang bakal dikabulkan dan keinginannya siapa yang bakal “dikorbankan” secara halus? Lagipula, kalopun benar flow-chart pemenuhan keinginan kita di surga itu kayak gitu, kok ya rasanya kita ini nggak punya kemerdekaan secara penuh untuk sekedar memilih apa yang kita pengenin ya?

Facebook comments:

6 Responses to “Surga dan Dian Sastro”

  • lambrtz says:

    Ada alternatif jawaban yang diberikan sama temenku. “Tuhan bakal mengkloning Dian Sastro terus dikasihkan ke kamu,” katanya.

    Sik sik, aku kok dadi kelingan postinganku taun wingi :lol:

  • Kimi says:

    Dulu waktu aku SD, kira-kira kelas tiga atau kelas empat, juga pernah diomongin sama guru ngaji seperti itu. Yang ada dibenakku waktu itu, “Enak dong bisa minta SEGA sama Allah! Gratis. Langsung turun dari langit. Hore!” :D

  • ejak says:

    setuju mas, walo saya cewek kalo liat dian tu cantiknya mank beda dari kebanyakan cewek, tapi untung saya ngga sampe pengen make out ama dia juga :D

  • Pak Guru says:

    *pakai peci*

    Boleh jadi di sorga besok tiada ingin lagi mencapai yang menjurus syahwat seperti itu, jadi tiada perlu bentrok.

  • yudi says:

    Tuhan tau jawaban masalah “sepele” ini bagiNya :mrgreen: dan kita ga akan pernah bisa menalar karena logika kita ga ada 1/1000nya Tuhan hihihi…

  • wijaya says:

    Wah, buka2 artikel lama, ketemu juga yang unik kayak gini. Emang khas kamu Joe.

    Sayangnya, syahwat kita itu akan tetap dibiarkan ada di surga. Ada suatu riwayat tentang betapa kita berhubungan seks seratus kali juga takkan pernah lelah di surga. Sehingga, pertanyaan si joe ini memang valid. Cuman ada jawaban juga dari Quraisy Shihab tentang surga ini.

    Ketika ditanya tentang mengapa gambaran surga kok cuma seperti kebun aja, ustadz Quraisy Shihab menjawab seperti ini:
    “Jika ada anak kecil yang bertanya, seperti apa sih enaknya berhubungan seks itu? Orang tuanya menjawab sesuai dengan pengalaman si anak. Lebih enak dari makan permen”. Rampung.

    Jadi, seperti apakah adu kepentingan di surga? Wah, saya nggak tahu. Saya cuma tahu, bahkan rasa “tidak enak hati” antara dua saudara dihilangkan di surga. Apalagi yang lebih besar dari itu, yang akhirnya mengakibatkan perbedaan kepentingan.

    Yang jelas, Allah jelas mampu untuk ngasih kamu bidadari yang jauh lebih cantik dari Dian Sastro, Eh, itu kalo Dian Sastro di surga lho ya. Kalo nggak, wah, katanya orang itu akan bersama dengan orang yang dicintainya di hari akhir nanti. Wah, berabe tuh kalo begitu

Leave a Reply

Berlangganan Wangsit

Masukkan alamat email sampeyan:

Ceriakan hari-hari sampeyan dengan rutin membaca wangsitnya Mas Joe

Si Sumber Wangsit
Anindito Baskoro "Joe" Satrianto. Laki-laki dahsyat (sumpah!). Pengangguran, pengkhayal, pemimpi, pembual, sekaligus pejuang (yang tidak) tangguh. Mantan aktivis Lab Omah TI, (masih jadi) penunggu sekretariat Himakom UGM, pengeceng gadis-gadis cantik berjilbab. Ngganteng, pinter, tapi banyak utang.

Almanak
Wangsit Bergambar




SEO Powered By SEOPressor