Tuhan yang Maha Tahu

Kira-kira Tuhan itu tau nggak kalo aku besok bakal masuk surga atau masuk neraka?

Lha, aneh pertanyaanmu. Ya Dia jelas tau, dong, wong Dia itu maha tahu.

Tapi, kan, itu masih terjadinya besok-besok. Masak iya Dia sudah tau tentang kejadian yang belum terjadi?

Lho, ya jelas. Tuhan, kan, nggak terikat sama waktu, wong yang namanya waktu itu juga ciptaannya Dia. Jadi mau kejadiannya kapan aja, di mana aja, tetap aja Dia tau, soalnya, ya itu tadi, Dia itu maha tahu dan nggak terikat sama ruang dan waktu.

Eh, orang baik itu katanya masuk surga, ya?

Iya.

Terus kalo orang jahat masuk neraka?

Ya iya.

Berarti kalo Dia itu tau aku bakal masuk surga atau neraka, Dia juga tau, dong, aku besok jadi orang baik atau orang jahat?

Ya iya, wong namanya juga maha tahu.

Dia tau aku 10 tahun lagi bakal kayak gimana?

Tau.

Kok bisa? Aku, kan, belum memutuskan mau jadi orang baik atau orang jahat.

Sebelum kamu memutuskan, Dia sudah tau kamu bakal memutuskan apa.

Kok bisa gitu?

Ya iyalah. Dia, kan, tau garis hidupmu, wong Dia yang menentukan segalanya.

Artinya sejak awal aku memang nggak bisa milih, ya?

Kok gitu?

Lha iya. Kalau aku bisa milih ya harusnya Dia nggak tau, dong, sebelum aku menentukan pilihanku. Dia cuma bisa tau sebabnya ya memang aku itu nggak punya pilihan lain, kan?

Kata siapa? Manusia itu punya kebebasan, kok. Kita dikasih sama Tuhan anugerah untuk itu. Artinya ya kita ini punya pilihan, mau jadi orang baik atau orang jahat, semuanya terserah kita.

Terus, kalau gitu, yang disebut ketentuan Tuhan itu apa, dong?

Ya itu, sih, semacam konsekuensi dari pilihan yang kita lakukan. Misalnya aja kamu milih jadi orang bejat, ya konsekuensinya besok kamu bakal masuk neraka kalau sudah mampus.

Dulu aku juga mikir kayak gitu, sih…

Nah, iya, kan?

Bentar dulu! Aku belum selesai. Tadi kamu bilang Tuhan tau 10 tahun lagi aku jadi apa, kan?

Iya.

Masalahnya, sekarang aku mikir dari mana Dia tau aku 10 tahun lagi bakal gimana sedangkan aku sendiri sekarang belum menentukan apa-apa. Atau pernah nggak kamu kepikiran kalau ini semua sebenarnya cuma skenario Tuhan aja?

Maksudnya?

Kamu tau, kan, kalau Tuhan itu maha berkehendak? Kalau dia bilang “jadi”, ya sudah, berarti ya jadilah apa yang Dia pengenin itu.

Terus?

Terus, bagaimana kalau seandainya kita ini sebenernya memang cuma menjalani apa yang dipengenin sama Dia itu?

Nggak mudeng aku.

Gini, maksudku, gimana kalau dalam hidup ini sebenernya kita memang nggak punya pilihan, kita cuma jalan lurus aja di jalur yang sejak awal sudah ditentukan sama Dia? Supaya keliatan agak seru sedikit, Dia bilang bahwa kita ini punya pilihan padahal sebenernya nggak.

Nggak mungkin itu. Sesat lu!

Kok sesat? Kok nggak mungkin? Apa coba yang nggak mungkin buat Dia? Jadi supaya kita tambah yakin kalau kita ini punya pilihan, Dia menghadapkan kita – selama hidup ini – pada beberapa problematika yang kayaknya di situ itu kita memang harus menentukan langkah kita sendiri, padahal – kamu tau – jalannya itu dari awal memang cuma 1. Kita sejatinya nggak pernah milih apa-apa secara merdeka, secara kehendak kita sendiri. Semuanya itu dari awal sudah dipilihkan sama Dia, sesuka-sukanya Dia.

Nggak, ah. Buktinya waktu lulus esema kemarin itu aku sendiri yang milih mau kuliah di UNS atau di UGM. Itu kehendak bebasku sendiri yang menentukan, sampai akhirnya aku jadi es-kom di kampus kampret ini.

Demi Dia yang maha membolak-balik hati. Pernah denger kata-kata kayak gitu?

Jelas. Korelasinya?

Dan kun fayakuun, jadi maka jadilah, kayak yang aku bilang tadi, kamu juga pernah denger, kan?

Ya iya. Lha tadi, kan, sudah ta’bilang. Terus hubungannya sama omonganmu yang berbelit-belit itu sekarang apa?

Bagaimana kalau Dia itu membolak-balikkan hatimu? Kamu merasa milih UGM atas kehendak bebasmu sendiri, tapi sebenarnya dia sendirilah yang membuatmu merasa-memilih-UGM-atas-kehendakmu-sendiri. Kamu merasa memilih UGM tanpa paksaan dari siapapun, tapi dari mana datangnya perasaan yang seolah-olah tidak terpaksa dan merdeka itu kalau bukan dari Tuhanmu?

Cah bagus, sekarang sudah terbayang, kan, kalau kayak gitu itu artinya sejak kamu diciptakan kamu memang sudah ditakdirkan untuk jadi bagian dari Gadjah Mada? Dan menjadi seorang es-kom lulusan Gadjah Mada sejak awal mula adalah takdir yang nggak bisa kamu tolak. Kamu cuma berjalan menempuh 1 jalur tanpa pernah bertemu persimpangan dan membelok ke mana pun.

Lalu?

Lalu? Lalu ya artinya kalau 10 tahun lagi aku jadi orang jahat dan akhirnya besok jadi penghuni neraka, itu artinya ya memang Tuhan menyiapkan jalan itu untuk aku. Aku nggak pernah milih mau jadi penghuni surga atau neraka. Yang ada, ya Dia yang memilihkannya untukku. Aku besok mungkin merasa kepengen maksiat aja, pengen mabuk, pengen melacur, pengen maling. Tapi sebenernya Dia sendiri yang mengarahkanku untuk seakan-akan kepengen memilih itu.

Nggak mungkin!

Kenapa nggak? Tadi pas awal kamu bilang kalau Dia itu maha tahu, kan?

Iya.

Ya dari mana Dia bisa tau apa yang bakal kulakukan kalau bukan Dia sendiri yang merencanakan? Sekarang coba, deh, dijawab, apa mungkin kita bisa melakukan manuver pilihan yang nggak disangka-sangka sama Tuhan sendiri?

Nggak.

Nah?

Tapi sekarang gini, kalau misalnya kita memang punya kekuasaan untuk memilih, memangnya apa pengaruhnya buat Tuhan? Tetap nggak mengurangi keagungan-Nya, kan?

Berarti, itu kalau misalnya mau jadi orang baik atau orang jahat itu bener-bener kehendak merdeka kita sendiri, ya? Manuver pilihan yang aku bilang itu tadi, ya?

Iya.

Kalau itu ya mungkin memang nggak bakal mengurangi keagungan-Nya. Cuma saja, dari obrolan kita ini – kalau yang terjadi adalah seperti yang kamu bilang – ada 1 kesimpulan yang bisa didapat: Tuhan itu tidaklah maha tahu 😉


71 Comments

  • Yang Punya Diary |

    morgan death:::
    korelasinya dengan postingan saya? atau ini cuma spam aja? 😀

    didut:::
    nebak2 juga tidak. wong sebenernya saya lagi butuh jawaban atas hal2 di atas itu kok. makanya kategori postingannya saya masukin ke ‘butuh jawaban’ :mrgreen:

    MYBRAINSGROWELL:::
    aku ndak tau lho, git. lha wong namanya aja lagi butuh jawaban 😛 sejauh ini yang ada di otak ya harus milih satu itu: tuhan nggak maha tahu atau kita nggak bisa milih?

  • ayip_eiger |

    mas joe, aku lebih setuju kalo kita yakin “merasa” bahwa kita bebas memilih. Memilih apa yang kita inginkan, dan mendapat ganjaran sesuai apa yang kita lakukan. Dengan begini kan hidup terasa lebih merdeka dan realistis. Toh meskipun Tuhan Maha Tahu segala yang bakal terjadi di masa depan kita, Dia juga ga akan memberitahukannya kepada kita kan? Itu artinya, sebenarnya kita sendiri ga perlu terbatasi oleh ke Maha Tahuan Tuhan. Kalo disitu dikuatirkan, jika nanti 10 tahun lagi aku jadi orang jahat dan akhirnya menjadi penghuni neraka, dan dengan yakin aku mengatakan bahwa kehendak Tuhan memang mengantarkanku ke pintu neraka?
    Memangnya, nanti Tuhan akan memberitahukan kepada setiap manusia yang di hisab(ketika akan menentukan Surga atau Neraka), bahwa “Sejak awal kamu SAYA ciptakan, memang sudah SAYA takdirkan untuk masuk neraka/surga?”
    Sedangkan proses kita mendapatkan surga dan neraka adalah dari penimbangan dosa dan pahala. Bukan dari proses kita diberikan keputusan dari keMaha Tahuan Tuhan bahwa memang sudah garis takdir kita untuk berada di surga ataupun neraka.

    Sekalipun Tuhan Maha Mengetahui apa saja yang akan kita lakukan/kita pilih (yang masih menjadi rahasia), tentu Tuhan tidak akan membeberkannya meski kejadian itu sudah terjadi. Betul ga?

    Jadi yang perlu ditekankan disini adalah kita tidak perlu mengkhawatirkan akan keMaha Tahuan Tuhan akan masa depan tiap-tiap manusia, yang penting adalah kita merasa merdeka dan bebas memilih sesuatu yang menurutNya baik atau buruk untuk menentukan dimanakah tempat kekal yang cocok di akhirat nantinya.
    Sampai kapan pun manusia tidak akan mampu mengungkapkan rahasia takdirnya dibalik ke Maha TAhuannya.

    Ya itu dari pemikiranku pribadi sih mas, cuma ikut berbagi jawaban. He..he..
    *Menarik neh artikelnya..

  • Pras |

    Joe, hal kayak gitu jangan terlalu dipikirin…
    Ada lho orang yang terlalu mikirin hal2 kayak gitu, trus sampe hampir jadi gila…
    Ati2 lho…

  • Nazieb |

    Woo!!! ternyata kita sepikiran mas Joe!!
    *peluk-peluk*

    Saya curiga, bahwa kehidupan ini sebenarnya adalah sebuah program. Dan Tuhan adalah programmernya..

    Katanya dulu ada zaman Azali, nah itu sebenere adalah development mode, pas si Tuhan lagi ngutek-utek code program..

    Nah, saat ini dia, si Tuhan maksudnya, sedang mempresentasikan program bikinannya, makanya kehidupan ini berjalan, sampai nanti Hari Kiamat, di mana baris program terakhir di jalankan..

    :mrgreen:

  • Nazieb |

    Betewe sebenere, sampeyan posting kayak gini juga sudah direncanakan Tuhan lho.. it just a part of the plan..

    😀

  • lambrtz |

    Sik…emangnya surga sama neraka itu ada gitu? :mrgreen:

    Kalau aku mbayangin sih seperti serial Pilih Sendiri Petualanganmu. Tuhan menyediakan pilihan-pilihan, entah finite atau infinite, entah diskret atau kontinu, kepada makhluk hidup. Jalur mana yang dipilih akan menentukan hasil akhirnya. Jalur yang tidak dipilih? Ya mbuh, barangkali jadi dimensi lain? Nah dari sini Tuhan pake if else: if Joe ke sana, bakalan jadi ulama; Kalau Joe ke situ jadi bajingan; kalau Joe ke sini jadi istrinya Dian Sastro, dsb.

    Tapi ya mbuh juga, itu cuma khayalanku, mungkin cuma cocok masuk serial fiksi 😛

    Pokoke(tm) nek nganti aku murtad, kowe tanggung jawab :mrgreen:

    Anyway selamat atas dibukanya (kembali) blog ini setelah ganti bulan…hohohoho :O

  • yudi |

    sebelumnya Maaf ini opini pribadi, sekali lagi sori kalo ga sependapat :

    Tuhan maha tau boss, LOGIKA MANUSIA BELUM BISA MENJELASKAN SEGALA “KEHEBATAN” DAN SIFAT2 TUHAN. Contoh, “Dia tiada berawal dan tiada berakhir”, apa tu maksudnya??? semua juga pasti ga ngeh, karena logika manusia mengatakan bahwa semua itu ada awalnya. Tapi memang begitulah adanya, Dia dipercaya tidak berawal dan tidak berakhir.

    “Dia ada dimana mana” Mana mungkin “sesuatu” bisa berada di 2/lebih tempat sekaligus dalam waktu yang sama. Bullshit kan??? tapi dipercaya memang begitu adanya. Tuhan memang dipercaya ada dimana mana.

    Pengetahuan Tuhan bisa didapat manusia jika Dia telah mengijinkan manusia untuk mengetahuinya. Penemuan2 oleh orang hebat “mungkin” karena Ia mengijinkan kita untuk mengetahui “secuil” dari ilmu yang dimilikinya.
    Someday jika diijinkan maka kantong doraemon bukan hayalan lagi, MUNGKIN!!!

    Lagian, mengenai Tuhan ga usah dibahas, karena so pasti bakal beda pendapat dan ga nyambung. Mungkin Tuhan hanya senyum2 ngeliat umatnya nulis tentang Dia, padahal pengetahuan manusia tentangNya mungkin hanya 0,0000000000000000000000001%.

    Manusia hanya perlu percaya padaNya. kalo ada yang ga percaya atau ada yang beda pendapat ya silahkan saja, Urusan kepercayaan itu hak-hak pribadi, ga bisa dipaksain.

    So daripada bahas Tuhan, mending bahas siapa scudetto lega calcio tahun 2009, karena lebih mudah dianalisis karena calonnya cuma 1 yaitu AC Milan (lagian itulah rencana Tuhan untuk liga italia musim ini) :mrgreen:

  • jensen99 |

    Masalahmu apa to, Joe? Apa ini sekedar pertentangan logikamu bahwa dogma ‘Tuhan maha tau’ dan hukum ‘kebebasan memilih’ seharusnya gak bisa jalan bersamaan? Atau kamu hanya penasaran apakah pilihan2 hidupmu selama ini akan membawamu ke Surga atw tidak? :mrgreen:
    Pertanyaan ini tua banget, masbro… 😉

  • Aldohas |

    gini aja kok dipikirin sih mas…
    bikin pusing aja.
    Dah tahu ilmu manusia cuma setets dari samudra ilmu Allah, ada yang namanya logika yang Maha kompleks yang gak bakal bisa dijelasin pikiran manusia.

    Intinya tetap di pilihan kita mas, klo mau sibuk2 mikirin yang gak penting (Tuhan maha tahu ato gak kek, Tuhan gak adil, kita gak bebas milih dll) atau malah pasrah aja klo emang ditakdirkan jadi jahat, ya nanti silahkan rasakan sendiri akibatnya, sengsara dunia dan akhirat.

    Klo aku sih ga mau….:)

  • fertob |

    Hehehe…. dari jaman dulu soal-soal ini nggak pernah selesai. Kalau kamu mau serius belajar soal ini, saya punya artikel-artikelnya. Dari perdebatan tentang Kejahatan-Kebaikan Tuhan sampai Kemahatahuan Tuhan.

    Tapi bisa bikin pusing lho, Joe…. 🙂

  • han2cute |

    gilingaaaaaaaaaaaaaaaaaaan…
    postingamu ki loh,,,bagian paling bawah sendiri itu loh,,,
    ngawur,,,,dasar mas joe nekat!!!

  • Yang Punya Diary |

    ayip_eiger:::
    sebenernya memang iya semua itu rahasiaNya, yip. dan memang iya juga kalo kita sebenernya nggak punya hak apa-apa untuk menuntut itu-ini sama Dia. meskipun nanti kita jadi orang yang sangat amat banyak punya tabungan amal saleh, lha kalo tau2 besok Dia pengennya nyemplungin kita ke neraka pas di akhirat, kita juga bisa bilang apa coba? 😈

    Pras:::
    bukannya “gila” memang sudah jadi nama tengahku, pras?

    Nazieb:::
    hell yeah… Dia memang merencanakan supaya aku memikirkan keberadaanNya, kok 😆 dan itu sudah terbukti

    lambrtz:::
    ketika Pilih Sendiri Petualanganmu itu, Dia juga sudah tahu lho di halaman 10 kita bakal memilih apa meskipun kita saat itu masih mbaca2 sampulnya 😀

    yudi:::
    sebenernya dibandingkan memberi statement, postinganku ini cuma sekedar berbagi perasaan aja kok, kul. jadi beda pendapat di sini bukanlah sesuatu yang dilarang. malah justru karena aku lagi bertanya, aku jadi pengen tau apa pandangan masing2 person tentang sebuah hal yang dinamakan sebagai “takdir”.

    jensen99:::
    yep, itu dia! pertentangan logika… :mrgreen:

    d4mN yg sering lupa pada Tuhan:::
    saya sarankan juga buat mbaca “the madness of god”nya daud shawni. edisi indonesianya dikasih judul “iblis menggugat tuhan”. eh, kalo beli di situ dapet diskon berapa %?

    Aldohas:::
    wiwid pernah bilang ke aku, waktu itu dengan bandelnya aku sama dia nggak dengerin khotbah tarawih di masjid kampus dan malah diskusiin hal ini. wiwid bilang, “kayaknya, setauku, perkara2 spt itu adalah perkara yang tabu untuk dipertanyakan.”

    tapi aku bilang, “tabu nggak tabu, faktanya pertanyaan seperti itu ada di otakku sekrg dan bukan nggak mungkin masing2 manusia nantinya bakal sampai pada pikiran kayak pikiranku.”

    “yo sinau agama neng arab kono nek pengen pertanyaanmu terjawab,” kata wiwid

    “kalo masalah sinau agama, aku malah lebih milih ke al azhar daripada ke arab.”

    “aku juga. arab itu kesannya seperti dengan adanya mekkah dan madinah seolah-olah menutupi hal2 lain yang ada di dalamnya.”

    “ho’oh.”

    “jadi sebenernya bukan masalah tempat belajarnya, ya? sebenernya kita cuma butuh orang yang bisa menjawab pertanyaan macam ini.”

    dan aku juga sempat nitip pertanyaan ke adikku yang nyantri di assalaam. kata dia, ini memang perkara berat. “kalo pemikirannya mas dito dibahas di forum terbuka, bisa2 semua orang pada murtad,” kata adikku. tapi dia janji kalo mau nanyain masalah ini ke ustadznya.

    jadi, do, sebenernya bukan masalah kenapa hal macam begini harus dipikirin. permasalahannya adalah kenyataannya skrg aku sudah memikirkan tentang hal itu. rasanya mustahil kalo aku berlagak tidak pernah mempermasalahkan hal ini 😉

    oh ya, ketika kamu milih nggak mau jadi orang jahat, jangan2 Tuhan memang sudah menakdirkan buat kamu supaya nggak jadi orang jahat, lho. dibikinNya aja seakan2 memang kamu sendiri yang nggak pengen jadi orang jahat. jangan2, lho… 😀

    awik:::
    semoga, wik. alangkah menyenangkannya mendapatkan jawaban langsung dari sumber pertanyaan itu sendiri 🙂

    Tuhane Joe yang sangat cinta pada d4mN:::
    iya, pak tuhan 😆

    fertob:::
    uplaod, bang! upload! 😈

    han2cute:::
    dan Dia juga lebih tahu daripada kamu tentangku bahwa aku sedang mencoba menemukanNya (lagi), han, hohoho!

  • toim |

    justru mulai skrg ente kudu pinter2 milih jalan hidup, bung joe.
    kan anda diberi akal pikiran dan udah tau kalo berbuat baik masuk surga dan kalo ente jahat masuk neraka kan?
    contohnya, org2 yg berbuat kriminal itu.Kalo mereka berbuat jahat terus, mereka kan tau akan masuk neraka, tp klo mereka tobat, dan tobatnya diterima, InsyAllah kalo mereka meninggal, pasti masuk surga 🙂
    hidup itu pilihan, kan?

  • lambrtz |

    Wah nyerah deh Joe. Buat aku itu ga bisa masuk akal manusia. Aku bisa aja sih bikin 1001 lebih skenario…kalau pas idenya jalan 😛
    Dan bisa jadi semua benar, atau beberapa benar, atau 1 saja yang benar, atau salah semua 😛

    Silakan berpikir kembali. Aku yakin Tuhan senang kalau ada umat yang ingin mengetahuiNya kebih lanjut (hence Pencari Tuhan, eh? 😛 )
    Kalau dah ketemu bagi-bagi ya 😉

    Tuhan memberkati 🙂

    *sok religius* :mrgreen:

  • Yang Punya Diary |

    wira:::
    ahahaha, memang membingungkan, kok 😛

    wib:::
    biasa, kan?

    toim:::
    justru ide awal tulisan ini malah ‘kalo hidup itu pilihan, maka Tuhan tidaklah maha tahu’ 😉

    lambrtz:::
    hahaha, semoga…

  • awik |

    apalah artinya tulisan mas joe ini. jangan pada salah paham ya… cuman permainan kata koq.. dibaca yang lengkap dan jelas, ntar juga pada manggut2. aku aja bacanya berkali2 baru ngeh.. oke deh mas joe.. salam damai, damai untuk dunia.

  • lambrtz |

    Eh Joe, apa maksud tulisan ini tu mempertentangkan kehendak bebas dengan keMahaTahuan Tuhan? Maksudku, apa kalo orang punya kehendak bebas, berarti Tuhan tidak Maha Tahu? Kalau itu maksudnya, ada ga kemungkinan orang punya kehendak bebas dan Tuhan Maha Tahu secara bersamaan?

    (Ini minta pendapat lo, soalnya dalam 1001 skenarioku belum ada yang ini)

  • Yang Punya Diary |

    awik:::
    betul, wik..
    damai..damai..
    damai di bumi, damai di hati

    lambrtz:::
    itu dia! memang bertentangan, sih, soale kalo dari logika manusia kayaknya memang nggak bisa jalan barengan. tapi, kayaknya juga, ini bukan nggak mungkin terdapat kesalahan premis seperti: kalau tuhan itu mampu menciptakan segalanya, mampukah dia menciptakan sebuah batu besar yang dia sendiri sampai tidak mampu mengangkatnya? 😀

  • Disc-Co |

    *baca entry*

    Hmmmm

    *berpikir sebentar*

    Kalau sudah berbicara tentang agama seperti ini, saya biasanya takut untuk berkomentar. Maaf, bukan ahli agama. 🙂

  • fritzter |

    Saya curiga, bahwa kehidupan ini sebenarnya adalah sebuah program. Dan Tuhan adalah programmernya..

    Emang gitu. Dan bagi seorang Believer tidak ada yang salah dengan itu.
    Ketidakbebasan memilih adalah salah satu konsekuensi dari keberadaan. Masih untung situ gak diciptain jadi kodok 😀 .
    Intinya hanya kepercayaan saja.

    Jadi kebebasan memilih yang hakiki disini ya memilih utk percaya atau tidak percaya.
    Mau pertahankan logika? Pilihlah utk tidak percaya.
    Mau percaya? Buang (sebagian kecil) logika.

    Mendingan gak usah berusaha memahami kepercayaan dengan logika deh. Percuma. Itu memang dua hal yang terpisah.
    Tuhan, jelas tidak bisa dipahami dengan logika. Kalau dengan logikamu, sampeyan nganggap Tuhan tidak maha tau, itu berarti paling tidak sampeyan mengakui keberadaan-Nya kan?
    Padahal pengakuan yang setengah-setengah ini sangat tidak sehat bagi kesehatan mental. Soale ini jelas mengarah ke penolakan terhadap Tuhan dalam konsep sampeyan yang “serba kurang”.
    Jadi lebih baik buat saja pilihan. Sederhana.

    Kalo tujuan sampeyan mengajak kaum Believer untuk mengadopsi logika, itu sudah jelas gak mungkin. Karena mereka sudah membuat pilihan.
    Kalo tujuan sampeyan pengen diberi “pencerahan”, tapi gak sudi melepas logika, itupun gak mungkin. Karena sama sekali gak ada kelabu dalam hal ini. Cuma ada hitam-putih. percaya-tidak percaya.

    So daripada bahas Tuhan, mending bahas siapa scudetto lega calcio tahun 2009, karena lebih mudah dianalisis karena calonnya cuma 1 yaitu AC Milan (lagian itulah rencana Tuhan untuk liga italia musim ini)

    Lha ini saya ikuuuut!!!

    justru ide awal tulisan ini malah ‘kalo hidup itu pilihan, maka Tuhan tidaklah maha tahu’ 😉

    Itu setengah-setengah. Ide yang benar: ‘kalo hidup itu pilihan, maka Tuhan tidak ada.’

    Saya sendiri menganggap Tuhan ada, so saya bisa bilang hidup ini adalah “ilusi pilihan” yang terlalu indah dan tidak akan saya tukar dengan apapun 😀 .

  • fritzter |

    Saya curiga, bahwa kehidupan ini sebenarnya adalah sebuah program. Dan Tuhan adalah programmernya..

    Emang gitu. Dan bagi seorang Believer tidak ada yang salah dengan itu.
    Ketidakbebasan memilih adalah salah satu konsekuensi dari keberadaan. Masih untung situ gak diciptain jadi kodok 😀 .
    Intinya hanya kepercayaan saja.

    Jadi kebebasan memilih yang hakiki disini ya memilih utk percaya atau tidak percaya.
    Mau pertahankan logika? Pilihlah utk tidak percaya.
    Mau percaya? Buang (sebagian kecil) logika.

    Mendingan gak usah berusaha memahami kepercayaan dengan logika deh. Percuma. Itu memang dua hal yang terpisah.
    Tuhan, jelas tidak bisa dipahami dengan logika. Kalau dengan logikamu, sampeyan nganggap Tuhan tidak maha tau, itu berarti paling tidak sampeyan mengakui keberadaan-Nya kan?
    Padahal pengakuan yang setengah-setengah ini sangat tidak sehat bagi kesehatan mental. Soale ini jelas mengarah ke penolakan terhadap Tuhan dalam konsep sampeyan yang “serba kurang”.
    Jadi lebih baik buat saja pilihan. Sederhana.

    Kalo tujuan sampeyan mengajak kaum Believer untuk mengadopsi logika, itu sudah jelas gak mungkin. Karena mereka sudah membuat pilihan.
    Kalo tujuan sampeyan pengen diberi “pencerahan”, tapi gak sudi melepas logika, itupun gak mungkin. Karena sama sekali gak ada kelabu dalam hal ini. Cuma ada hitam-putih. percaya-tidak percaya.

    So daripada bahas Tuhan, mending bahas siapa scudetto lega calcio tahun 2009, karena lebih mudah dianalisis karena calonnya cuma 1 yaitu AC Milan (lagian itulah rencana Tuhan untuk liga italia musim ini)

    Lha ini saya ikuuuut!!!

    justru ide awal tulisan ini malah ‘kalo hidup itu pilihan, maka Tuhan tidaklah maha tahu’ 😉

    Itu setengah-setengah. Ide yang benar: ‘kalo hidup itu pilihan, maka Tuhan tidak ada.’

    Saya sendiri menganggap Tuhan ada, so saya bisa bilang hidup ini adalah “ilusi pilihan” yang terlalu indah dan tidak akan saya tukar dengan apapun 😀 .

    (Kok salah mulu quote-nya yah? Tolong hapus yang atas dong. Thanks :mrgreen: )

  • fritzter |

    “Saya curiga, bahwa kehidupan ini sebenarnya adalah sebuah program. Dan Tuhan adalah programmernya..”

    Emang gitu. Dan bagi seorang Believer tidak ada yang salah dengan itu.
    Ketidakbebasan memilih adalah salah satu konsekuensi dari keberadaan. Masih untung situ gak diciptain jadi kodok 😀 .
    Intinya hanya kepercayaan saja.

    Jadi kebebasan memilih yang hakiki disini ya memilih utk percaya atau tidak percaya.
    Mau pertahankan logika? Pilihlah utk tidak percaya.
    Mau percaya? Buang (sebagian kecil) logika.

    Mendingan gak usah berusaha memahami kepercayaan dengan logika deh. Percuma. Itu memang dua hal yang terpisah.
    Tuhan, jelas tidak bisa dipahami dengan logika. Kalau dengan logikamu, sampeyan nganggap Tuhan tidak maha tau, itu berarti paling tidak sampeyan mengakui keberadaan-Nya kan?
    Padahal pengakuan yang setengah-setengah ini sangat tidak sehat bagi kesehatan mental. Soale ini jelas mengarah ke penolakan terhadap Tuhan dalam konsep sampeyan yang “serba kurang”.
    Jadi lebih baik buat saja pilihan. Sederhana.

    Kalo tujuan sampeyan mengajak kaum Believer untuk mengadopsi logika, itu sudah jelas gak mungkin. Karena mereka sudah membuat pilihan.
    Kalo tujuan sampeyan pengen diberi “pencerahan”, tapi gak sudi melepas logika, itupun gak mungkin. Karena sama sekali gak ada kelabu dalam hal ini. Cuma ada hitam-putih. percaya-tidak percaya.

    “So daripada bahas Tuhan, mending bahas siapa scudetto lega calcio tahun 2009, karena lebih mudah dianalisis karena calonnya cuma 1 yaitu AC Milan (lagian itulah rencana Tuhan untuk liga italia musim ini)”

    Lha ini saya ikuuuut!!!

    “justru ide awal tulisan ini malah ‘kalo hidup itu pilihan, maka Tuhan tidaklah maha tahu’ 😉 ”

    Itu setengah-setengah. Ide yang benar: ‘kalo hidup itu pilihan, maka Tuhan tidak ada.’

    Saya sendiri menganggap Tuhan ada, so saya bisa bilang hidup ini adalah “ilusi pilihan” yang terlalu indah dan tidak akan saya tukar dengan apapun 😀 .

    (Salah quote lagi 😀 . Gini aja lah. Tolong hapus lagi. Thanks lagi :mrgreen: )

  • Yang Punya Diary |

    Disc-Co:::
    saya juga bukan ahli agama, kok. ini juga cuma berbagi curhat. jadi mau komen apapun ya ndak papa 😀

    Wirawan Winarto:::
    iya kan? iya kan? 😈

    fritzter:::

    Mendingan gak usah berusaha memahami kepercayaan dengan logika deh. Percuma. Itu memang dua hal yang terpisah.

    errr…kasusnya, saya memilih kepercayaan yang skrg pun – setidaknya – berdasarkan logika saya

    Padahal pengakuan yang setengah-setengah ini sangat tidak sehat bagi kesehatan mental. Soale ini jelas mengarah ke penolakan terhadap Tuhan dalam konsep sampeyan yang “serba kurang”.
    Jadi lebih baik buat saja pilihan. Sederhana.

    ah, ya. banyak yang memperingatkan saya tentang hal itu. tapi dengan membuat pilihan dan berusaha melupakan pilihan yang satunya tetap saja tidak mengaburkan fakta bahwa pikiran yang satunya itu sejauh ini sampai sekarang pernah saya pikirkan. pikiran itu tidak hilang begitu saja, sih 😀

    Kalo tujuan sampeyan mengajak kaum Believer untuk mengadopsi logika, itu sudah jelas gak mungkin. Karena mereka sudah membuat pilihan.
    Kalo tujuan sampeyan pengen diberi “pencerahan”, tapi gak sudi melepas logika, itupun gak mungkin. Karena sama sekali gak ada kelabu dalam hal ini. Cuma ada hitam-putih. percaya-tidak percaya.

    well, tujuan saya lebih pada yang kedua. mengenai mungkin dan nggak mungkin, mungkin memang nggak terjawab sekarang. mungkin saya baru dapet jawabannya besok di alam kubur. tapi itu juga nggak menutup kemungkinan kalo dalam waktu dekat ini saya dapet pencerahan yang bisa mengakomodir segala kepentingan saya, kan?

    Itu setengah-setengah. Ide yang benar: ‘kalo hidup itu pilihan, maka Tuhan tidak ada.’

    entah mana yang salah, mana yang setengah2, mana yang benar sekalipun, saya juga masih belum berani memutuskannya secara pasti. perkara samar macam gini, menurut saya, kemungkinan besar baru saya dapatkan kepastiannya di alam kubur besok.

    mengutip cerita aja tentang untung-ruginya hidup bertuhan: kalo tuhan itu ada dan saya nggak percaya, celaka saya kalo mati besok. dan kalo tuhan ada lalu saya percaya, siapa tau saya dikasih tiket ke surga. tapi kalo saya percaya atau tidak percaya bahwa tuhan itu ada dan ternyata nyatanya besok memang nggak ada, ah, nothing to lose.

    setidaknya saya hidup dengan memperkecil resiko 😀

    siapa tau aja besok malah tuhan ngomong ke saya, “kok kamu malah bisa tau, le, bahwa saya ini sebenernya memang nggak maha tahu? saya cuma main-main sama manusia-manusia itu, kok. gebleknya mereka aja bisa percaya.” 😈

    *jadi berpikir untuk menyerang khayangan sendirian seperti sun go kong* :mrgreen:

    Saya sendiri menganggap Tuhan ada, so saya bisa bilang hidup ini adalah “ilusi pilihan” yang terlalu indah dan tidak akan saya tukar dengan apapun 😀 .

    berarti nggak bakal milih pil biru atau pil merah? 😀
    sejalan! sejauh ini saya berpikir begitu yang…yah, lumayanlah buat nenang-nenangin diri 😆

  • Kgeddoe |

    Mari kita periksa dulu kemungkinan-kemungkinannya, Mas Joe… 🙂

    Jadi preposisi-preposisi yang bisa didaftarkan untuk jadi bahan perkara sekarang adalah;

    a) Manusia itu terikat takdir/predestinasi (tidak memiliki kehendak bebas).
    b) Tuhan itu ada.
    c) Tuhan itu Maha Kuasa.
    d) Tuhan itu Maha Tahu, dalam artian tahu segala macam hal baik di masa lalu, kini, maupun yang akan datang.

    Kalau saya paksakan bersotoy ria sih, saya bisa merumuskan kemungkinan-kemungkinan berikut;

    (Apabila B salah tapi C atau D benar, maka saya anggap tidak valid; masak Orangnya tidak ada tapi Maha ini itu?)

    * * *

    1) Tidak ada yang benar.
    Tuhan tidak ada, dan manusia berkehendak bebas. Ini cukup jelas.

    2) Yang benar A saja.
    Manusia terikat takdir, tapi Tuhan tidak ada. Ini adalah paham determinisme, yang memberi gagasan bahwa semua di dunia ini dihubungkan secara kausal. Semua keputusan yang diambil oleh manusia dipahat oleh stimulus-stimulus yang muncul sebelumnya.

    3) Yang benar B saja.
    Tuhan ada, tapi tidak Maha Kuasa atau Maha Tahu. Lalu manusia tidak terikat takdir dan bebas berkehendak. Ini Tuhan deistik; Tuhan yang ngetop di era Renaisans. Konsep ini memperkenalkan Tuhan yang hanya bekerja sebagai pembangun, Tuhan yang ciptaanya self-sustaining dan bisa bekerja sendiri tanpa butuh supervisi.

    4) Yang benar C saja.
    Tidak valid.

    5) Yang benar D saja.
    Tidak valid.

    6) Yang benar A, B.
    Tuhan ada dan manusia terikat predestinasi. Tapi predestinasi ini tidak ada hubungannya dengan kemaha-mahaan Tuhan, sebab C dan D diasumsikan salah; ini konsep Tuhan deistik (poin 3) digabungkan dengan determinisme (2).

    7) Yang benar A, C.
    Tidak valid.

    8) Yang benar A, D.
    Tidak valid.

    9) Yang benar B, C.
    Tuhan ada dan Maha Kuasa. Tapi, ia tidak Maha Tahu, dan manusia bebas berkehendak. Pemahaman alternatif seperti ini yang mungkin Mas Joe cari? Ini adalah mendefinisikan ulang pengertian dari Maha Kuasa. Kalau menurut Santo Anselmus (seorang teolog Katolik), “Maha Kuasa” itu tidak mesti bisa ini itu, cukup jadi zat paling mumpuni di alam semesta (CMIIW). Bisa menciptakan dunia, bisa menciptakan manusia, surga, dan neraka, sudah bisa dikatakan Maha Kuasa. Jadi dalam pengertian ini, kemahatahuan tidak mencakup mengetahui apa yang akan dilakukan manusia di masa yang akan datang (walau ia tahu secara infinit apa yang terjadi di masa lalu dan masa kini). Efeknya, perjalanan manusia di dunia benar-benar akan menjadi “tes yang adil”.

    10) Yang benar B, D.
    Tuhan ada, tidak Maha Kuasa, tapi Maha Tahu. Manusia tidak terikat takdir. Ini berarti memaksakan bahwa Tuhan Maha Tahu dan manusia berkehendak bebas. Biasanya apologi yang sering saya dengar berupa; “saking tahunya, yang benar-benar bebas pun dia bisa tahu hasil akhirnya”. Ini yang sering menimbulkan banyak konflik, sebab kalau Tuhan menciptakan manusia dan lalu tahu bahwa ia akan masuk ke surga atau neraka, jelas akan ada protes apakah ini adil atau tidak. Alternatif lainnya tentu adalah mendefinisikan ulang kemahatahuan, tapi kalau itu didefinisikan ulang malah sepertinya beats the purpose. Atau kita bisa saja mengangkat bahu; “namanya juga Tuhan, otak ga nyampe”. Memang tidak memuaskan. Tapi pemikir seperti Descartes juga seperti itu; kalau ada paradoks seperti apa juga, dia akan keukeuh kalau itu tetap mungkin oleh Tuhan.

    Soal kemahakuasaan rasanya tidak membawa banyak perbedaan di sini.

    11) Yang benar C, D.
    Tidak valid.

    12) Yang benar A, B, C.
    Ini mirip dengan determinisme juga. Tuhan di sini tidak mengetahui hasil akhir, tapi desain alam semesta secara inheren melahirkan hubungan kausal. Serupa dengan poin 2, tapi ada Tuhannya, dan Tuhan tersebut cenderung deistik.

    13) Yang benar A, B, D.
    Ada takdir serta ada Tuhan yang Maha Tahu. Sekali lagi omnipotensi tidak terlalu berpengaruh di sini—secara keseluruhan mirip dengan fatalisme yang Mas Joe khawatirkan itu. Tuhan Maha Tahu, dan akhirnya ada semacam takdir, dan kehendak bebas itu hanya gambaran semu. Secara logika konsisten, namun akan berbenturan dengan pertanyaan “kenapa kita hanya jadi boneka?” itu.

    14) Yang benar A, C, D.
    Tidak valid.

    15) Yang benar B, C, D.
    Ini kembaran dengan poin 10, karena omnipotensi Tuhan sekali lagi tidak memainkan peran. Kita berkehendak bebas, Tuhan ada, dan Ia Maha Kuasa dan Maha Tahu. Memang kelihatannya paradoks.

    16) Semua benar.
    Kalau yang ini jelas. Kita memang boneka. 😆

    * * *

    Melihat kemungkinan-kemungkinan yang ada, maka alternatif-alternatif yang bisa dipakai dengan mempertahankan eksistensi Tuhan a la agama Islam seperti yang Mas anut, rasa-rasanya ada beberapa;

    1) Menerima bahwa kita hanyalah boneka yang sudah diprogram akan masuk ke mana. 😛
    2) Menyerah berpikir, dan menganggapnya sebagai rahasia Tuhan.
    3) Mendefinisikan ulang konsep-konsep yang terkait; misalnya omnisains itu jadi tidak berarti tahu segala macam yang ada dan akan ada, melainkan hanya semacam “punya mata di mana-mana”. Konsekuensinya adalah “mengurangi” kemampuan Tuhan, dengan bayaran menyelamatkan konsepnya dari paradoks.
    4) Bersikeras bahwa kemahatahuan dan kehendak bebas bisa ada sekaligus walau bersifat paradoks, seperti halnya Mbah Descartes.

    Pilih yang mana?

    BTW protes Mas Joe ini sebenarnya ada topiknya sendiri di Wikipe;
    http://en.wikipedia.org/wiki/Theological_fatalism 😀

  • fritzter |

    16. Semua Benar.
    Kalau yang ini jelas. Kita memang boneka.
    Emang kita boneka kok.
    Boneka yang super-sophisticated, dengan AI super-mutakhir yang “tidak dapat diperbarui”,
    dan fitur ‘hati abstrak’, ‘perasaan’ dan ‘nyawa’ yang “tidak dapat direduplikasi”.

    Gak senang dianggap boneka ya? 😆 .
    Tell me something new 😆 .

  • chiell |

    Nek yang ini aku jadi inget Harry Potter…

    Karena dia sebenarnya ga pernah memilih. Dia juga menjalani jalan yang udah di siapin Dumbledore untuknya…

  • awik |

    soale otak manusia ga akan nyampe buat masuk ke “sana”.. manusia cuman meraba2.. dan akhirnya mas joe malah bisa membuat orang2 mengakui dirinya sendiri lebih kebingunan ketimbang mas joe sendiri.. ha ha ha.. kok ketoke sing nge-blog malah komentator-e jon??…

  • dnial |

    Cara berpikirnya geddoe boleh juga.
    Tapi biar aku memaksakan pikiranku.

    Manusia punya kehendak bebas yang telah diketahui oleh Tuhan dan tidak bertentangan dengan kehendak Tuhan. Satu dan lain waktu Tuhan melakukan “Divine Intervention” agar rencana-Nya tetap berjalan.

    So my choice fall on number 4. 😛

  • Manusiasuper |

    Baca dialog joe di atas sudah bingung, ditambah komentar Geddoe yang sadis, tambah bingung lagi..

    blog memang menyesatkan!

  • Yang Punya Diary |

    Kgeddoe:::
    seperti kata mansup: sadis!
    sementara ini apa boleh buat, saya menerima opsi no 16 aja dengan pasrah 😈
    tapi saya bangga juga lho…setidaknya dengan adanya topik tersendiri di wiki, itu artinya orang bejat yang berani2nya mempertanyakan kebijakan Tuhan bukan cuma saya aja :mrgreen:

    d_viest:::
    jangan mencoba mengerti, terima saja 😆

    fritzter:::
    tag htmlnya dah bener belum? 😛
    saya sih bukannya seneng atau ndak seneng. ndak seneng pun lantas saya bisa apa coba? hohoho

    chiell:::
    anu, chiel…aku belum baca yang seri terakhir. jadinya belum bisa nanggapin komenmu, hohoho

    awik:::
    lha, apa boleh buat, wik. awalnya kan aku yang aslinya malah nanya 😀 subtansial, sih, memang…

    dnial:::
    tetap saya renungkan, mas dab. jangan khawatir 😀

    Manusiasuper:::
    anu, mas bro…masih sering ketemu guru ngaji sampeyan? sebenernya saya malah berharap kalo ada yang ngopi tulisan saya, terus ditunjukkan ke orang yang kira2 mumpuni buat njawab, terus konfirm lagi ke sini setelah dapet jawaban 😀

    masalah bingung dan tidak bingungnya, salahkan geddoe saja, lalu kemudian terima saja takdir kita dengan ikhlas, kekeke…

  • cahgendeng |

    klo mnurut otak sy yg gendeng, sifat2 Tuhan yg berjumlah 99 itu tidak bs diganggu gugat. beberapa yg mas Joe sebutkan di atas. pertanyaan sprti mas Joe ini msi bs dcerna logika, tapi klo soal Tuhan tidak berawal dan tidak brakhir, sy nyerah hehe. biar setan aj yg mikir!

    ABSTRAK: kita bkn boneka mati, manusia bs memilih dan belajar. manusia hidup berdasar hukum2 Tuhan, qada dan qadar yg bercabang2 (komen lambrtz juga mngemukakan cabang2 ini)

    berikut jabaran logika manusia:

    Tuhan punya hukum2 yg dibuat-Nya sndiri, dan sluruh khidupan berjalan dbawah hukum2nya, hukum2 itu tidak bs kita ubah, dan hanya Tuhan yg bisa mngubah jika berkehendak (hukum ini tidak akan berubah, kecuali atas kehendak-Nya sendiri). hukum2 dibumi, dibulan, digalaksi, smua ada hukum masing2. mas Joe pasti tau di Fisika dulu.

    misal: bumi berotasi (tidak mungkin tiba2 bumi diam), ada gravitasi bumi (tidak mungkin tiba2 smua benda mlayang2), matahari berpijar (tidak mungkin tiba2 matahari padam).

    tapi benda2 diatas tadi semua benda mati, dan Tuhan tidak mmberikan hak pada mreka u/ mngubah nasibnya, stuju mas Joe?

    benda2 diatas yg layak kita sebut boneka, mreka sm skali tidak bs mgubah nasibnya dan tidak dbrikan hak u/ mgubahnya.

    skarang kita bicara manusia dan manusia bkn boneka…

    dulu Nabi Adam A.S. hidup disurga jg diberikan hukum2 hidup di surga, trus tau kan knapa kita skarang hidup di bumi? Tuhan mmg maha tau ini akan terjadi dan klo Tuhan maha berkehendak, bisa saja kan Nabi Adam A.S tetap di surga? tapiiii karena hukum2 tadi, maka Nabi Adam A.S. harus keluar dari surga.

    manusia logis berkata: ya itu brati mmg Nabi Adam A.S sudah ditakdirkan kluar dari surga.

    manusia logis yg lbi pintar berkata: klo mmg bkn takdir, pasti sjak awal buah itu tidak diciptakan! (jawab logis yg mgkin: buah itu mmg bkn u/ manusia, tapi u/ penghuni surga slain Nabi Adam A.S.)

    padahal manusia ini mmbantah hukum logika yg dibuatnya sendiri, dimana Tuhan mmberi hukum tidak boleh makan buah terlarang:

    WHILE(hidup di surga)
    IF (Nabi Adam A.S. makan buah terlarang)
    THEN
    (harus keluar dari surga)
    BREAK;
    END
    END

    kembali pada hukum2 tadi. manusia hidup juga diberikan hukum2, kita harus bernapas, harus makan minum, dsb. manusia bisa gak, ga bernafas? bisa! manusia bisa gak, ga makan/minum? bisa! kita bisa milih kan?!

    karena kita brada dibawah hukum2 tadi, siap2 aja dengan konsekuensinya klo kita ga mkn/nafas. klo kita nekat ga nafas alias bunuh diri bs gak mati? bisa! itu hukum Tuhan. apa karena mmg kita sudah diatur agar matinya gara2 ga nafas?

    ingat iman kpada qada dan qadar, Tuhan mmbuat ktentuan2 (qada) dan menentukan (qadar). misal mas Joe punya qada, besok akan milih ujian masuk UGM, ITB, dan UI. waktu mas Joe ujian ktiganya, pkoke masuk mn aja boleh, asal negeri. wis berusaha mati2an pol2an, Tuhan mmbuat keputusan, Joe kamu masuk UGM!

    apa Tuhan sjak awal menakdirkan mas Joe masuk UGM? lihat logika dibawah ini:

    skarang coba mas Joe ga sinau, ujian cm ikut yg ITB thok, dari 100 soal, lhe njawab cm 10, mnurut hukum2 tadi mungkin ga mas Joe masuk UGM?

    gmn? kita bisa milih mo manuver sprti apapun kan? Tuhan mmg sudah tau kita bkal lakuin itu, tapi sing ngrasakno yo awak e dewe!

    Tuhan maha adil, kita dikasi qada ga cm qadar. dan ingat konsep hukum2 Tuhan. qadar akan berjalan sesuai dengan hukum2 Tuhan tapi tentu porsi kehendak-Nya pasti ada.

    “Tuhan tidak akan merubah nasib suatu kaum, kecuali kaum itu sndiri yg mngubahnya”

    scara logika: takdir bisa brubah2 kan? takdir ga cm 1 thok sejak ditiupkan ruh ke jasad. kita diberi hak untuk mengubahnya, hukum2 Tuhan yg akan mnjawab disertai kehendak-Nya. klo takdir itu 1 dan tetap, kita hanya boneka sperti bumi, matahari, knapa Tuhan harus berfirman sperti itu? berarti Tuhan berdusta dimana pada hakikatnya tidak ada yg brubah?? tentu TIDAK!

    mnyangkut pertanyaan bisakah Tuhan mmbuat batu besar yg hingga Tuhan sndiri tidak bs mengangkatnya? -> kalimat logika ini 100% salah! karena syarat Tuhan maha berkehendak tidak terpenuhi pada premis kedua.

    syarat: Tuhan maha berkehendak
    Tuhan bisa membuat batu sebesar apapun: benar!
    Tuhan tidak bisa mengangkat batu besar tadi: salah!

    logika manusia berkata: brarti Tuhan tidak mampu?

    hahah geli, mnurut otak gendeng sy, justru sing ra mampu iki bahasa manusia yg sangat terbatas, sinau sik nganti iso nggawe bahasa sing luwih canggih le! apa brani blg bahasa manusia itu sempurna tak ada cacat?!

    kembali ke masalah tadi, klo Tuhan mmg menakdirkan 1 sperti itu, kenapa harus ada surga dan neraka??? koq ga digawe surga thok! neraka thok! karena ada kduanya lihat bagaimana Tuhan mmbuat hukum2 timbangan amal kebaikan dan dosa. lihat bagaimana Nabi2 diturunkan u/ mngajak manusia kpada kbaikan. hingga mnusia blajar dan bs memilih. klo kita boneka, pasti Nabi2 tadi bs aja maksa kita agar ngikutin jalannya, apa pernah ada crita Nabi maksa2??? kita bisa milih kan?

    klo takdir dr Tuhan cm 1 ga bs d ubah2 lagi, buat apa mp Tuhan menurunkan Nabi mp 25? brati itu cm formalitas? kyk administrasi di Indonesia aja. Karena itu mnurut otak sy yg gendeng ini lagi2 smua berkaitan dengan hukum2 Tuhan, qada dan qadar, manusia yg bs memilih dan belajar.

    akhir kata, mnurut otak gendeng sy: manusia diciptakan qada dan qadarnya adalah masuk surga dan/atau neraka…

    KESIMPULAN:
    manusia memiliki bercabang2 qada dan qadar.
    qadar\takdir\ketentuan dari Tuhan, bisa diubah2 oleh manusia, dimana manusia harus berusaha sendiri. kenapa harus berusaha? karena Tuhan telah membuat hukum2 atas manusia. qada dan qadar pasti sesuai dengan hukum2 Tuhan itu sendiri.

  • Yang Punya Diary |

    cahgendeng:::
    hohoho, asyik juga, nih. tapi sejujurnya saya sudah pernah mikirin sama yang sampeyan bilang. justru karena mikirin hal itu maka akhirnya saya sampai pada tulisan saya di atas. singkatnya, komentar sampeyan bukanlah jawaban atas pertanyaan saya, malah justru pemicu mengapa pertanyaan saya timbul.

    oke, ta’bahas aja ya 😀

    Tuhan punya hukum2 yg dibuat-Nya sndiri, dan sluruh khidupan berjalan dbawah hukum2nya, hukum2 itu tidak bs kita ubah, dan hanya Tuhan yg bisa mngubah jika berkehendak (hukum ini tidak akan berubah, kecuali atas kehendak-Nya sendiri). hukum2 dibumi, dibulan, digalaksi, smua ada hukum masing2. mas Joe pasti tau di Fisika dulu.

    misal: bumi berotasi (tidak mungkin tiba2 bumi diam), ada gravitasi bumi (tidak mungkin tiba2 smua benda mlayang2), matahari berpijar (tidak mungkin tiba2 matahari padam).

    tapi benda2 diatas tadi semua benda mati, dan Tuhan tidak mmberikan hak pada mreka u/ mngubah nasibnya, stuju mas Joe?

    setuju. kita sejalur.

    benda2 diatas yg layak kita sebut boneka, mreka sm skali tidak bs mgubah nasibnya dan tidak dbrikan hak u/ mgubahnya.

    skarang kita bicara manusia dan manusia bkn boneka…

    mari…

    dulu Nabi Adam A.S. hidup disurga jg diberikan hukum2 hidup di surga, trus tau kan knapa kita skarang hidup di bumi? Tuhan mmg maha tau ini akan terjadi dan klo Tuhan maha berkehendak, bisa saja kan Nabi Adam A.S tetap di surga? tapiiii karena hukum2 tadi, maka Nabi Adam A.S. harus keluar dari surga.

    manusia logis berkata: ya itu brati mmg Nabi Adam A.S sudah ditakdirkan kluar dari surga.

    manusia logis yg lbi pintar berkata: klo mmg bkn takdir, pasti sjak awal buah itu tidak diciptakan! (jawab logis yg mgkin: buah itu mmg bkn u/ manusia, tapi u/ penghuni surga slain Nabi Adam A.S.)

    yep, saya juga berpikir seperti itu. tapi itu dulu. sekarang saya malah lagi mencoba berpikir yang lebih “nekad”.

    bagaimana kalo sejak awal itu memang permainan Tuhan? dan dalam permainanNya Dia menciptakan buah khuldi dan juga adam. sejak awal adam memang diplot buat turun ke bumi. cuma supaya lebih dramatis maka diskenariokan sebuah kesalahan oleh Tuhan dengan menggerakkan hati adam yang tanpa disadari oleh adam sendiri sehingga dia nekad ngambil buah khuldi untuk dimakan berdua sama siti hawa.

    bukankah nggak mungkin kalo Tuhan sendiri sampai nggak tahu kalo suatu saat buah khuldi itu bakal diembat sama adam?

    saking hebatnya skenario dan campur tangan Tuhan di hati adam, adam sendiri malah merasa kalo ketika dia ngambil buah khuldi itu semuanya adalah kehendak bebasnya.

    padahal manusia ini mmbantah hukum logika yg dibuatnya sendiri, dimana Tuhan mmberi hukum tidak boleh makan buah terlarang:

    WHILE(hidup di surga)
    IF (Nabi Adam A.S. makan buah terlarang)
    THEN
    (harus keluar dari surga)
    BREAK;
    END
    END

    bagaimana kalo yang disebut sebagai ‘hukum’ itu adalah sebuah poin yang dipakai Tuhan supaya skenarionya jadi berjalan dan terkesan lebih dramatis?

    kembali pada hukum2 tadi. manusia hidup juga diberikan hukum2, kita harus bernapas, harus makan minum, dsb. manusia bisa gak, ga bernafas? bisa! manusia bisa gak, ga makan/minum? bisa! kita bisa milih kan?!

    bisa! kita memang merasa bisa; bisa milih. kasusnya, yang disebut sebagai ‘bisa’ itu apakah kita memang ‘bener2 bisa’ atau cuma ‘merasa bisa’?

    karena kita brada dibawah hukum2 tadi, siap2 aja dengan konsekuensinya klo kita ga mkn/nafas. klo kita nekat ga nafas alias bunuh diri bs gak mati? bisa! itu hukum Tuhan. apa karena mmg kita sudah diatur agar matinya gara2 ga nafas?

    itu yang saya pertanyakan. kalo kita bener2 bisa memilih untuk bunuh diri, maka seharusnya Tuhan kaget, dong? “lho, le, Aku nggak pernah ngebolehin kamu bunuh diri. Aku nakdirinnya kamu mampus ketabrak sepur besok 5 tahun lagi. lha kok ndak taunya kamu malah sudah bunuh diri sekarang?”

    kira2 Tuhan bakal kaget ga kalo ada yang menentang ‘hukum cara mati yang baik dan benar sesuai kaidahNya’?

    kalo kaget artinya Dia ndak maha tahu, dong? kalo ndak kaget, ya berarti Dia memang juga punya skenario bahwa akan ada makhluk ciptaanNya yang mati karena bunuh diri. ini bakal sangat kontradiktif sekali ketika kita benturkan pada dalil bahwa Tuhan menganggap bunuh diri adalah suatu dosa besar.

    ingat iman kpada qada dan qadar, Tuhan mmbuat ktentuan2 (qada) dan menentukan (qadar). misal mas Joe punya qada, besok akan milih ujian masuk UGM, ITB, dan UI. waktu mas Joe ujian ktiganya, pkoke masuk mn aja boleh, asal negeri. wis berusaha mati2an pol2an, Tuhan mmbuat keputusan, Joe kamu masuk UGM!

    apa Tuhan sjak awal menakdirkan mas Joe masuk UGM? lihat logika dibawah ini:

    mari…

    skarang coba mas Joe ga sinau, ujian cm ikut yg ITB thok, dari 100 soal, lhe njawab cm 10, mnurut hukum2 tadi mungkin ga mas Joe masuk UGM?

    gmn? kita bisa milih mo manuver sprti apapun kan? Tuhan mmg sudah tau kita bkal lakuin itu, tapi sing ngrasakno yo awak e dewe!

    memang nggak mungkin masuk ugm, rasanya. dan memang yang ngerasain hasil manuver itu kita sendiri. tapi ketika kita ga sinau, sekali lagi, itu bener2 kehendak bebas kita atau kita cuma merasa bahwa itu kehendak bebas kita?

    skrg bagaimana kalo takdirnya adalah memang saya nggak keterima di ugm? pikiran nakal saya bilang, ketika Tuhan jauh2 hari menakdirkan supaya saya nggak kuliah di ugm maka Dia membuat skenario supaya saat mendekati ujian saya memilih untuk mendaftar ITB thok dan tidak belajar sama sekali.

    soalnya sekali lagi saya mikir, ga mungkin kalo Tuhan sampe mbatin, “gendeng arek iki. jebule sinaune pancen mati2an tenan. kabeh soal digarap. yo wis, Ta’lebokke neng ugm wae.”

    misalnya waktu saya esema, Tuhan pasti tau kan kalo nanti pas sudah lulus esama, ketika mendekati ujian saya bakal belajar atau tidak, kan? Tuhan pasti tau kan saya bakal milih jalur yang mana? kalo nggak, berarti nggak maha tahu, dong?

    saya pikir Tuhan nggak mungkin baru menakdirkan saya bakal masuk ugm atau tidak waktu ketika baru melihat usaha saya pas mendekati tes ujian masuk. otak saya mikirnya, Tuhan – ketika saya esema – juga sudah tau kalo besok saya bakal berusaha atau tidak; saya bakal milih yang mana, Dia sudah tau.

    Tuhan maha adil, kita dikasi qada ga cm qadar. dan ingat konsep hukum2 Tuhan. qadar akan berjalan sesuai dengan hukum2 Tuhan tapi tentu porsi kehendak-Nya pasti ada.

    “Tuhan tidak akan merubah nasib suatu kaum, kecuali kaum itu sndiri yg mngubahnya”

    lagi2, bagaimana kalo ayat di atas ternyata adalah poin supaya skenarionya terkesan lebih dramatis?

    scara logika: takdir bisa brubah2 kan? takdir ga cm 1 thok sejak ditiupkan ruh ke jasad. kita diberi hak untuk mengubahnya, hukum2 Tuhan yg akan mnjawab disertai kehendak-Nya. klo takdir itu 1 dan tetap, kita hanya boneka sperti bumi, matahari, knapa Tuhan harus berfirman sperti itu? berarti Tuhan berdusta dimana pada hakikatnya tidak ada yg brubah?? tentu TIDAK!

    nah, kalo yang ini saya nggak berani sembarangan memvonis. tapi tetap saja ada kemungkinan kalo Tuhan berdusta sama manusia, kan? suka2nya dia aja, tho? mau berdusta atau tidak, apa hak kita untuk mencampuri apa yang dipengeninNya? apa kalo ketika ternyata kita tahu bahwa Dia berdusta maka kita bakal ngomong, “kampret, Lu! ternyata Kamu ngapusi aku! aku nggak terima!”?

    sekalipun kita ngomong gitu, apa kita punya kuasa dan kekuatan untuk mengubah kehendakNya?

    mnyangkut pertanyaan bisakah Tuhan mmbuat batu besar yg hingga Tuhan sndiri tidak bs mengangkatnya? -> kalimat logika ini 100% salah! karena syarat Tuhan maha berkehendak tidak terpenuhi pada premis kedua.

    syarat: Tuhan maha berkehendak
    Tuhan bisa membuat batu sebesar apapun: benar!
    Tuhan tidak bisa mengangkat batu besar tadi: salah!

    logika manusia berkata: brarti Tuhan tidak mampu?

    hahah geli, mnurut otak gendeng sy, justru sing ra mampu iki bahasa manusia yg sangat terbatas, sinau sik nganti iso nggawe bahasa sing luwih canggih le! apa brani blg bahasa manusia itu sempurna tak ada cacat?!

    alhamdulillah sadar juga. itu memang kesalahan premis, kok :mrgreen:

    kembali ke masalah tadi, klo Tuhan mmg menakdirkan 1 sperti itu, kenapa harus ada surga dan neraka??? koq ga digawe surga thok! neraka thok! karena ada kduanya lihat bagaimana Tuhan mmbuat hukum2 timbangan amal kebaikan dan dosa. lihat bagaimana Nabi2 diturunkan u/ mngajak manusia kpada kbaikan. hingga mnusia blajar dan bs memilih. klo kita boneka, pasti Nabi2 tadi bs aja maksa kita agar ngikutin jalannya, apa pernah ada crita Nabi maksa2??? kita bisa milih kan?

    gimana kalo ternyata nanti Tuhan njawab, “Aku nyiptain neraka soale Aku pengen si anu kelojotan di neraka. Aku nyiptain surga soale Aku pengen si itu bercinta dengan 70ribu bidadari di surga.”? :mrgreen:

    kembali lagi ke pertanyaan saya juga, donk: ketika kita melakukan tindakan yang dikenal sebagai “memilih” itu, sebenernya itu bener2 kehendak bebas kita atau kita cuma skedar merasa memiliki kehendak bebas?

    perkara nabi juga kembali lagi: bagaimana kalo itu adalah poin Tuhan supaya skenarionya terkesan dramatis?

    eh, pernah curiga ga kalo ternyata firaun itu diciptakan Tuhan memang cuma untuk ngeyel sama musa dan akhirnya kalah? firaun diciptakan Tuhan cuma untuk menunjukkan kemahakuasaanNya. dari awal Tuhan memang nggak pengen firaun tobat. kisah firaun harus ada supaya umat muhammad tau tentang hal itu. dan (lagi2 dan lagi), gimana kalo kisah firaun itu juga termasuk dalam poin dramatisasi dari Tuhan untuk kita?

    klo takdir dr Tuhan cm 1 ga bs d ubah2 lagi, buat apa mp Tuhan menurunkan Nabi mp 25? brati itu cm formalitas? kyk administrasi di Indonesia aja. Karena itu mnurut otak sy yg gendeng ini lagi2 smua berkaitan dengan hukum2 Tuhan, qada dan qadar, manusia yg bs memilih dan belajar.

    formalitas pun tak mengapa. karena apalah artinya tuntutan kita ke Dia seandainya kita nggak puas kalo nabi2 itu ternyata (lagi2) memang cuma formalitas dan poin saja? 😉

    akhir kata, mnurut otak gendeng sy: manusia diciptakan qada dan qadarnya adalah masuk surga dan/atau neraka…

    dulu saya juga berpikir begitu…sampai akhirnya saya nulis seperti di atas :mrgreen:

    KESIMPULAN:
    manusia memiliki bercabang2 qada dan qadar.
    qadar\takdir\ketentuan dari Tuhan, bisa diubah2 oleh manusia, dimana manusia harus berusaha sendiri. kenapa harus berusaha? karena Tuhan telah membuat hukum2 atas manusia. qada dan qadar pasti sesuai dengan hukum2 Tuhan itu sendiri.

    link pikiran saya yang lama, waktu saya mikir kayak sampeyan itu juga saya sertakan di tulisan saya di atas, lho

    akhirul kalam dari saya: yang saya tulis memang cuma sekedar pertanyaan aja, kok. ga ada maksud untuk menuntut dan menghujat Tuhan, karena kalopun ternyata tulisan saya adalah benar, saya (dan kita semua) punya kuasa apa untuk mengubah kepengenan Tuhan? 😀

  • cahgendeng |

    mantap responnya yg sangat cepat dan argumen2 filosofis seorang mas Joe.

    pembahasan yg mas Joe lkuin per paragrap benar top markotop! sy kagum…

    ya, sy tau koq sjak awal mas Joe ga mgkin brani menghujat Tuhan. mbok dinehi Dian Sastro dan Zaskia Mecca tetap ae ra wani tho??

    PERMASALAHAN:
    saya tertarik skali dengan argumen2 mas Joe, dan otak gendeng sy menangkap tentang alur cerita, plot, dramatisir, dan mungkin klimaks cerita, bukan begitu mas Joe?

    oya 1 lagi yg plg pnting, ttg pny kehendak bebas ato hanya merasa punya kehendak bebas.

    langsung aj dah, karena mas Joe dah blg akhirul kalam, brarti dah bosen ma topik ini (betul ndak?)

    BATASAN MASALAH:
    klo mas Joe berfikir sperti sutradara, dengan plot cerita yg fix atau tidak bisa berubah sama sekali ato statis. maka sy brani menjamin 100% tidak ada yg mas Joe sebut “punya kehendak bebas”… kita hanya merasa…

    malang sungguh malang nasib kita, jika saya ato mgkin mas Joe yg sejak awal ditakdirkan masuk surga… sedang kedua orang tua kita tidak… dan selama2nya begitu…

    malang sungguh malang… hidup di dunia pun tak bahagia kini di surga pun hati rasanya amat pedih… (silahkan klo ad yg berpndapat: ah pasti sudah lupa itu smua, di surga kan nikmattttt, sy hargai Anda)

    lalu apakah kita tidak bisa menolong mereka dulu sewaktu hidup? mengajak mreka k jalan yg benar ato tidak bisakah kita memohon pada Tuhan dari surga agar mereka ikut dengan kita? ato lebih baik sy saja yg di neraka dan biarkan kedua orang tua sy berada d surga…

    sedih y? (tapi sprti kata mas Joe, yo wis arep kpiye meneh, alur critane wis di set)

    (klo pmbaca lain tidak bs mnrima perbedaan pndapat, sy sarankan STOP disini ato lgsung ke KESIMPULAN, soale ning ngisor isine mung cocot gendeng)

    PEMBAHASAN:
    nah dibalik cerita di atas, sy berfikir dalam jalur yg berbeda dgn pertanyaan mas Joe. pertama sutradara itu pasti ada, siapa Dia? ya Dia adalah Tuhan yang Maha Kuasa.

    kedua, alur cerita itu ada tetapi tidak fix/statis. Alur crita ini dinamis karena ia berjalan menurut hukum2 Tuhan. seluruh aktor/aktris (manusia, hewan, jin, syetan, dsb) bebas berakting dalam alur crita ini, mreka hanya diikat oleh hukum2 tadi dan jika Tuhan berkehendak, Tuhan bs mmberikan sentuhan2nya di luar hukum2 tersebut.

    alur crita ini ada brarti mmg sjak awal ada takdir2 yg mlekat di diri kita masing2 sjak ruh ditiupkan k janin di perut Ibu, tapi ingat dinamis, artinya perbuatan kita bs mngubah alur crita ini. apa smua perlu campur tangan Tuhan? bisa perlu bisa tidak. tidak perlu karena hukum2 Tuhan sudah bekerja dengan otomatis. bisa perlu karena Tuhan Maha berkehendak.

    lalu dmn ke Maha Tahu-an Tuhan klo Tuhan sndiri memberi kebebasan pada meraka? anehkan?

    hehe tidak mnurut pmikiran gendeng sy…
    coba lihat cuplikan dibawah ini:

    mas Joe stuju ga klo dlm konteks kecil, manusia pun tau masa depan? pasti percaya hehe

    misal: kita punya palu, palu itu kita pegang di tangan kanan kita. klo 5 menit di masa depan aku getokin palu itu kuat2 dan tepat ke ujung jari telunjuk tgn kiri, aku tau seper sekian detik stelah itu jari telunjukku itu bakal kesakitan ato bhkan retak2 tulangnya. kita kaget klo wktu kita pukul2 koq ga skit??? tapi logis2 aj lho, apa mungkin?

    nah, sudah tau dmn kemaha tahuan Tuhan? yap, mnurut otak gendeng sy, kemaha tahuan Tuhan adalah disebabkan oleh Tuhan tau 100% hukum2 yg dibuatnya. ekstrimnya, waktu mata kita mlirik ke kanan, Tuhan sudah tau apa yg akan terjadi jutaan tahun yg akan datang… dan mungkin apa yg terjadi bs berbeda jika kita mlirik ke kiri, dan Tuhan pun sama taunya apa yg akan terjadi di masa depan.

    eh tapi wktu sblum nglirik tadi, Tuhan tau ga kita bakal nglirik kmn? ya tauuu, kan setiap hukum2 tadi tau smpai ke akar2nya. dan Tuhan tidak perlu campur tangan dalam segala hal. hukum2nya itu sendiri yg bekerja otomatis. benar2 luar biasa y….

    Tuhan tidak pernah kaget, dan bhkan tau suatu elektron dari sbuah atom akan jatuh ke koordinat brp di bumi ini 5jt tahun kedepan. Tuhan bisa mmberi kputusan2 diluar hukum2 Nya sendiri, dengan membuat kptusan yg dbuat-Nya saat itu juga.

    tentang Tuhan berdusta dalam ayatnya, mas Joe ra sah misuh2, jelas ga ono gunane. ngene ae mas, lek mas Joe ga percoyo ato “ada ayat2 Tuhan” yg tidak benar (misal dari 6666 ayat mgkin ada 1 yg tidak benar) dmn dlm kgelisahan mas Joe anggap sbagai ayat u/ mndramatisir. saiki mas Joe gawe dosa opo wae terserah sing akeh, wani po ora? kan awak e dewe pun gak ngerti surga opo neraka kuwi ono opo ora? jgn2 ra ono blas???

    wis pnjang iki tulisanne, oke, kembali pada dramatisir tadi, sy juga prcaya ini ada. dramatisir dalam otak gendeng sy, sy kaitkan dengan “ujian/cobaan” dan “hukuman”. Tapi inipun masih brhubungan dgn hukum2 Tuhan. semakin tebal iman ssorg, smakin besar ujian/cobaan yg mgkin akan dilaluinya. sm jg dengan orang yg bny buat dosa.

    KESIMPULAN:
    1. saya dan mas Joe berbeda pendapat soal alur cerita yg fix/statis dengan dinamis.
    2. Tuhan tau hukum2-Nya 100% sampai ke akar2nya, sehingga tau akibat2 beruntunnya sampai ke masa depan yg tak terbatas.
    3. Tuhan tidak selalu campur tangan, karena hukum2 Tuhan sudah bekerja otomatis.
    4. Manusia diberi kebebasan mngubah2 alur cerita dan hanya diikat oleh hukum2 Tuhan n kehendak-Nya.
    5. Hukum2 Tuhan sudah cukup mmbuat alur crita dinamis dan berakhir dgn takdir, tapi beruntung Tuhan ada dan berkehendak, prbuatan kita bs lgsung dinilai Tuhan, dan Tuhan mmberi keputusan (masih hangat, seperti roti yg baru keluar dari oven).

  • Yang Punya Diary |

    cool…
    hohoho!

    ah, iya, sebenernya saya sudah bosen juga dengan pembahasan ini. bukan apa-apa, sih. cuma saja saya baru mau memikirkan pertanyaan2 lainnya yang masih berhubungan dengan tulisan di atas itu :mrgreen:

    masih seputar kita ini sekedar ‘boneka’ Tuhan atau bukan 😀

    jadi ta’bahas yang menurut saya menarik aja ya, huehehe… atau langsung ke kesimpulannya aja?

    1. saya dan mas Joe berbeda pendapat soal alur cerita yg fix/statis dengan dinamis.

    mungkin memang iya. tapi sebenernya bahkan saya pun tidak yakin dengan yang saya katakan, karena pada dasarnya apa yang saya tulis di atas adalah pertanyaan, bukan pernyataan. sejauh ini saya sendiri juga masih kepengen ngotot bahwa manusia pun bisa punya kehendak bebas. cuma kalo kata Geddoe, hal itu berarti kita harus sedikit mengorbankan kemaha-tahuan Tuhan 😀

    2. Tuhan tau hukum2-Nya 100% sampai ke akar2nya, sehingga tau akibat2 beruntunnya sampai ke masa depan yg tak terbatas.

    saya sepakat 🙂

    3. Tuhan tidak selalu campur tangan, karena hukum2 Tuhan sudah bekerja otomatis.

    errr… yang saya maksudkan sebagai campur tangan itu sebenernya ya hukum2 Tuhan yang bekerja otomatis itu :mrgreen: kita merasa punya kehendak bebas pun itu karena hukum Tuhan ya maha kompleks itu. jadi yang saya maksud sebagai campur tangan bukanlah bahwa Tuhan baru beraksi di tengah jalan

    4. Manusia diberi kebebasan mngubah2 alur cerita dan hanya diikat oleh hukum2 Tuhan n kehendak-Nya.

    5. Hukum2 Tuhan sudah cukup mmbuat alur crita dinamis dan berakhir dgn takdir, tapi beruntung Tuhan ada dan berkehendak, prbuatan kita bs lgsung dinilai Tuhan, dan Tuhan mmberi keputusan (masih hangat, seperti roti yg baru keluar dari oven).

    kalo yang ini memang agak berbenturan sama tulisan saya. soale sebelum kita memilih pun Tuhan juga sudah tahu kita bakal memilih yang mana 🙂

    tentang Tuhan berdusta dalam ayatnya, mas Joe ra sah misuh2, jelas ga ono gunane. ngene ae mas, lek mas Joe ga percoyo ato “ada ayat2 Tuhan” yg tidak benar (misal dari 6666 ayat mgkin ada 1 yg tidak benar) dmn dlm kgelisahan mas Joe anggap sbagai ayat u/ mndramatisir. saiki mas Joe gawe dosa opo wae terserah sing akeh, wani po ora? kan awak e dewe pun gak ngerti surga opo neraka kuwi ono opo ora? jgn2 ra ono blas???

    kasusnya sampai sekarang pun saya nggak berani. seandainya saja saya punya sedikit keberanian untuk ‘membangkang’, dari kemarin2 sudah saya perkosa mantan pacar saya tercinta itu 😈

    dan, saya sendiri nggak tau, yang disebut sebagai ‘ketidak-beranian’ saya itu sebenernya benar2 karena saya yang memang memilih untuk nggak berani atau hati saya digerakkan Tuhan supaya saya merasa tidak berani? sapa tau saja sejak awal Tuhan memang menakdirkan supaya saya tidak pernah punya dosa yang disebabkan gara2 saya memperkosa sang mantan itu 😆

    tapi intinya, saya memang nggak berani memperkosa anak gadis orang, terlepas dari perasaan takut itu asalnya dari siapa; selain lebih memilih untuk melakukan atas dasar suka sama suka kalo memang suatu saat saya jadi nekad kepengen maksiat 😈

  • Lintang |

    Klo saya sih yakin buangeet Tuhan Maha Tahu… karena klo kebanyakan si… kita2 ini cuman sok tahu hehehe PISS 😀

  • cahgendeng |

    hehe ini bkn prtandingan kan. jadi tdk ada kalah-menang tho. klo pun ada, scara terbuka sy mngakui kalah, mas Joe.

    oke deh mas Joe, sy tertantang u/ mengikuti pertanyaan berikutnya! email sy y klo sempet, jgn lupa kasi ‘z’ dibelakangnya, sy salah ngisi email kyk-nya…

    sbagai pnutup, ini komen sy yg trakhir dari otak sy yg gendeng ini:

    #mas Joe said:
    “errr… yang saya maksudkan sebagai campur tangan itu sebenernya ya hukum2 Tuhan yang bekerja otomatis itu :mrgreen: kita merasa punya kehendak bebas pun itu karena hukum Tuhan ya maha kompleks itu. jadi yang saya maksud sebagai campur tangan bukanlah bahwa Tuhan baru beraksi di tengah jalan”

    wah ga stuju sy mas, klo cmpur tgn Tuhan itu adalah hukum2 Tuhan yg kompleks tadi. hukum2 tadi kan sudah ada sejak ruang, waktu dan sgala isinya diciptakan…

    hukum2 itu tdk brubah dan kita sdikit bny tau hukum2 tadi, shingga bs mmbuat besi terbang di langit, baja bs trapung2 di air, atau kita bs bernafas di air, dst.

    ini mematahkan sluruh argumen sy hehe… karena sy mmbedakan antara hukum2 Tuhan dan kehendak-Nya. kehendak-Nya ini yg sy gambarkan sbagai “roti hangat yg baru kluar dari oven” atau yg mas Joe istilahkan “Tuhan baru beraksi ditengah jalan”.

    dgn konsep ini, orang bunuh diri, dikatakan mnyalahi takdir bs logis, dmn jika dia mati itu karena hukum2 Tuhan yg telah ada, ia mati atas izin Tuhan mlalui hukum2 yg telah diciptakan-Nya (dsini tdk ada campur tangan Tuhan sdikit pun, karena itu agama jelas2 melarang bunuh diri!), dan jika dia tetap hidup, baru dsinilah sy katakan ada campur tangan Tuhan.

    ktika malaikat Izrail akan mnjalankan tugas, karena malaikat Izrail tdk pernah mmbantah hukum2 Tuhan dan tdk tahu masa depan.
    maka Tuhan berpesan pada malaikat Izrail, “Hai Izrail, biarkan dia hidup!”. hingga malaikat Izrail tdk jadi mncabut nyawa dan batallah sluruh hukum2 Tuhan pada org yg bunuh diri tadi.

    cukup dsini mas.. hehe.. sebagai pnutup atas topik ini, argumen2 dari otak gendeng sy:
    1. hukum2 Tuhan telah ada, dan bkn campur tangan Tuhan atas akibat2 yg terjadi.
    2. kehendak Tuhan adalah sesuatu yg “masih hangat” yg mematahkan hukum2 Tuhan (1).
    3. manusia punya kebebasan memilih, bukan hanya merasa. Tapi manusia tdk bs menghindar dari hukum2 Tuhan (1) dan kehendak-Nya (2).
    4. alur cerita hidup, qada dan qadar telah ada tetapi selalu dinamis (tidak statis/tetap). Tuhan membuatnya dinamis sesuai dengan kehendak-Nya(2) dan usaha manusia (3).
    nah karena ini penutup sy, bagi mas Joe dan pembaca lain yg berpendapat kita boneka. sy hargai pendapat ini. kemudian kita hanya merasa memiliki kebebasan, sy pun hargai pmikiran ini. dan pmikiran2 lain yg tidak sy sebutkan.

    sbagai tantangan, harusnya mas Joe jgn berfikir sputar boneka2. tapi berfikir kenapa ruang, waktu dan sluruh isinya diciptakan? apa karena Tuhan merasa sendiri? sepi? ato Tuhan ingin bermain2? (mas Joe kyke wis ket mbiyen arep posting topik iki yo?)

    kayaknya klo pertanyaan diatas terungkap, sy yakin mas Joe dan pembaca lain akan tau apakah kita boneka ato bukan. serta mrembet ke postingan di atas…

    piye mas Joe kpn di posting?

  • Yang Punya Diary |

    Lintang:::
    kalo begitu, maka konsekuensinya kita ini memang cuma bonekaNya 😀

    cahgendeng:::

    wah ga stuju sy mas, klo cmpur tgn Tuhan itu adalah hukum2 Tuhan yg kompleks tadi. hukum2 tadi kan sudah ada sejak ruang, waktu dan sgala isinya diciptakan…

    ini dia! sejak awal mula dia memprogram proses penciptaan semesta dan isinya, program tentang jalan takdir kita sudah disertakan. dan saking ‘ruwet’nya program itu, kita juga malah ngerasa kalo kita punya pilihan 😀

    ide saya, Tuhan sekarang ini tinggal menikmati hasil karyanya yang kompleks itu. Dia cuma diam saja dan tidak bertindak apa2; cuma sekedar mengamati 😀

    hehe, selanjutnya iya deh saya bahas di postingan tersendiri gimana prosesnya kenapa sampai timbul tulisan saya ini, termasuk ayat alqur’an yang melatar-belakanginya 🙂

So, what do you think?