Tuhan yang Maha Tahu

Kira-kira Tuhan itu tau nggak kalo aku besok bakal masuk surga atau masuk neraka?

Lha, aneh pertanyaanmu. Ya Dia jelas tau, dong, wong Dia itu maha tahu.

Tapi, kan, itu masih terjadinya besok-besok. Masak iya Dia sudah tau tentang kejadian yang belum terjadi?

Lho, ya jelas. Tuhan, kan, nggak terikat sama waktu, wong yang namanya waktu itu juga ciptaannya Dia. Jadi mau kejadiannya kapan aja, di mana aja, tetap aja Dia tau, soalnya, ya itu tadi, Dia itu maha tahu dan nggak terikat sama ruang dan waktu.

Eh, orang baik itu katanya masuk surga, ya?

Iya.

Terus kalo orang jahat masuk neraka?

Ya iya.

Berarti kalo Dia itu tau aku bakal masuk surga atau neraka, Dia juga tau, dong, aku besok jadi orang baik atau orang jahat?

Ya iya, wong namanya juga maha tahu.

Dia tau aku 10 tahun lagi bakal kayak gimana?

Tau.

Kok bisa? Aku, kan, belum memutuskan mau jadi orang baik atau orang jahat.

Sebelum kamu memutuskan, Dia sudah tau kamu bakal memutuskan apa.

Kok bisa gitu?

Ya iyalah. Dia, kan, tau garis hidupmu, wong Dia yang menentukan segalanya.

Artinya sejak awal aku memang nggak bisa milih, ya?

Kok gitu?

Lha iya. Kalau aku bisa milih ya harusnya Dia nggak tau, dong, sebelum aku menentukan pilihanku. Dia cuma bisa tau sebabnya ya memang aku itu nggak punya pilihan lain, kan?

Kata siapa? Manusia itu punya kebebasan, kok. Kita dikasih sama Tuhan anugerah untuk itu. Artinya ya kita ini punya pilihan, mau jadi orang baik atau orang jahat, semuanya terserah kita.

Terus, kalau gitu, yang disebut ketentuan Tuhan itu apa, dong?

Ya itu, sih, semacam konsekuensi dari pilihan yang kita lakukan. Misalnya aja kamu milih jadi orang bejat, ya konsekuensinya besok kamu bakal masuk neraka kalau sudah mampus.

Dulu aku juga mikir kayak gitu, sih…

Nah, iya, kan?

Bentar dulu! Aku belum selesai. Tadi kamu bilang Tuhan tau 10 tahun lagi aku jadi apa, kan?

Iya.

Masalahnya, sekarang aku mikir dari mana Dia tau aku 10 tahun lagi bakal gimana sedangkan aku sendiri sekarang belum menentukan apa-apa. Atau pernah nggak kamu kepikiran kalau ini semua sebenarnya cuma skenario Tuhan aja?

Maksudnya?

Kamu tau, kan, kalau Tuhan itu maha berkehendak? Kalau dia bilang “jadi”, ya sudah, berarti ya jadilah apa yang Dia pengenin itu.

Terus?

Terus, bagaimana kalau seandainya kita ini sebenernya memang cuma menjalani apa yang dipengenin sama Dia itu?

Nggak mudeng aku.

Gini, maksudku, gimana kalau dalam hidup ini sebenernya kita memang nggak punya pilihan, kita cuma jalan lurus aja di jalur yang sejak awal sudah ditentukan sama Dia? Supaya keliatan agak seru sedikit, Dia bilang bahwa kita ini punya pilihan padahal sebenernya nggak.

Nggak mungkin itu. Sesat lu!

Kok sesat? Kok nggak mungkin? Apa coba yang nggak mungkin buat Dia? Jadi supaya kita tambah yakin kalau kita ini punya pilihan, Dia menghadapkan kita – selama hidup ini – pada beberapa problematika yang kayaknya di situ itu kita memang harus menentukan langkah kita sendiri, padahal – kamu tau – jalannya itu dari awal memang cuma 1. Kita sejatinya nggak pernah milih apa-apa secara merdeka, secara kehendak kita sendiri. Semuanya itu dari awal sudah dipilihkan sama Dia, sesuka-sukanya Dia.

Nggak, ah. Buktinya waktu lulus esema kemarin itu aku sendiri yang milih mau kuliah di UNS atau di UGM. Itu kehendak bebasku sendiri yang menentukan, sampai akhirnya aku jadi es-kom di kampus kampret ini.

Demi Dia yang maha membolak-balik hati. Pernah denger kata-kata kayak gitu?

Jelas. Korelasinya?

Dan kun fayakuun, jadi maka jadilah, kayak yang aku bilang tadi, kamu juga pernah denger, kan?

Ya iya. Lha tadi, kan, sudah ta’bilang. Terus hubungannya sama omonganmu yang berbelit-belit itu sekarang apa?

Bagaimana kalau Dia itu membolak-balikkan hatimu? Kamu merasa milih UGM atas kehendak bebasmu sendiri, tapi sebenarnya dia sendirilah yang membuatmu merasa-memilih-UGM-atas-kehendakmu-sendiri. Kamu merasa memilih UGM tanpa paksaan dari siapapun, tapi dari mana datangnya perasaan yang seolah-olah tidak terpaksa dan merdeka itu kalau bukan dari Tuhanmu?

Cah bagus, sekarang sudah terbayang, kan, kalau kayak gitu itu artinya sejak kamu diciptakan kamu memang sudah ditakdirkan untuk jadi bagian dari Gadjah Mada? Dan menjadi seorang es-kom lulusan Gadjah Mada sejak awal mula adalah takdir yang nggak bisa kamu tolak. Kamu cuma berjalan menempuh 1 jalur tanpa pernah bertemu persimpangan dan membelok ke mana pun.

Lalu?

Lalu? Lalu ya artinya kalau 10 tahun lagi aku jadi orang jahat dan akhirnya besok jadi penghuni neraka, itu artinya ya memang Tuhan menyiapkan jalan itu untuk aku. Aku nggak pernah milih mau jadi penghuni surga atau neraka. Yang ada, ya Dia yang memilihkannya untukku. Aku besok mungkin merasa kepengen maksiat aja, pengen mabuk, pengen melacur, pengen maling. Tapi sebenernya Dia sendiri yang mengarahkanku untuk seakan-akan kepengen memilih itu.

Nggak mungkin!

Kenapa nggak? Tadi pas awal kamu bilang kalau Dia itu maha tahu, kan?

Iya.

Ya dari mana Dia bisa tau apa yang bakal kulakukan kalau bukan Dia sendiri yang merencanakan? Sekarang coba, deh, dijawab, apa mungkin kita bisa melakukan manuver pilihan yang nggak disangka-sangka sama Tuhan sendiri?

Nggak.

Nah?

Tapi sekarang gini, kalau misalnya kita memang punya kekuasaan untuk memilih, memangnya apa pengaruhnya buat Tuhan? Tetap nggak mengurangi keagungan-Nya, kan?

Berarti, itu kalau misalnya mau jadi orang baik atau orang jahat itu bener-bener kehendak merdeka kita sendiri, ya? Manuver pilihan yang aku bilang itu tadi, ya?

Iya.

Kalau itu ya mungkin memang nggak bakal mengurangi keagungan-Nya. Cuma saja, dari obrolan kita ini – kalau yang terjadi adalah seperti yang kamu bilang – ada 1 kesimpulan yang bisa didapat: Tuhan itu tidaklah maha tahu ;)

Facebook comments:

69 Responses to “Tuhan yang Maha Tahu”

  • faizal says:

    wew…mung kowe sing wani ngomong ngono…ngeriii…

  • huehehehe…
    dalam skala yang jauh lebih dahsyat, para kekasih Tuhan juga sempat melakukan hal yang sama. ibrahim sempat berganti2 Tuhan. musa malah menantang supaya Tuhan menampakkan wujudnya kalo memang Dia itu bener2 eksis.

    jadi apalah artinya pertanyaanku, zal :D

  • Gampang jon.. Anggap aku ini tuhanmu, naa… kamu tak takdirkan memperkosa pacarmu.. tapi berhubung kamu nda punya kemaluan, eh maksudnya nda berani, walaupun setan udah tak suruh buat ngelatih kamu biar berani, yaaa saya sebagai tuhan ngeliat kamu punya niat baek.. yasudah, akhirnya kamu tak bolehin nda jadi memperkosa pacarmu.. gitu.. tinggal ngupdate database takdir.. tabel nya cuman 2 kok, takdirgampang to..

    Jadi intinya takdir itu ada, tapi bisa berubah2 tergantung ama kita dan tuhan..

    Tapi paling gampang emang jadi orang atheis jon.. que sera sera..

  • Jawaad says:

    Nimbrung,
    Kalau saya terus terang harus juga dengan logika yg saya mengerti (maksudnya batasan saya, mohon koreksi)
    Tuhan YME menciptakan segalanya, beberapa contoh2 sbb.::
    1. menciptakan adanya ruang dan waktu (besok/kemarin dll.)
    2. menciptakan manusia
    2.1. menciptakan akal dan fikiran
    2.2. menciptakan adanya ikhtiyar (usaha/memilih sesuatu yg benar/salah)
    3. menciptakan mailakat
    4. menyuruh malaikat supaya sujud kepada manusia
    5. melaknat malaikat yg tidak menurut dengan Tuhan untuk menghormati adanya Manusia (Akal/Pikiran), konon Syaitan dulu adalah Malaikat yang paling taat diantara para Maialat
    lainnya.

    Tuhan tidak terbatas oleh waktu:
    kita contohkan posisi kita di tahun 2009.
    di tahun 2008 Tuhan tau dan ada dimana2, di tahun 2010 Tuhan tau dan ada dimana2.
    Dan Tuhan pun sudah mencatatnya di konon namanya “Lahul Mahfudh” yg Nabi Muhammad sempat melihatnya.

    Penjelasan mengenai “Tuhan berkehendak”.
    Tuhan berkehendak sesuai dengan aturannya yg benar2 sistematis dan logika… menciptkanpun dengan proses yg rapih dan teratur.. dari tanah, binatang, pepohonan, dll.. kita semua sudah tau.. sel-sel pori-pori dll.. semuanya mengikuti logika sebab dan akibat.

    Jika ada Adam dan Hawa misalkan pergi bersamaan dari asal yg berbeda lalu bertemu di pasar, mungkin akal manusia bisa bilang “kebetulan” bertemunya. Padahal ini bukan kebetulan, tapi memang nyatanya ada sebab dan akibat yg jelas, yaitu Adam ke Pasar dan Hawa pun ke pasar dlm waktu bersamaan walaupun tanpa ada janji dan rencana dari kedua manusia tsbt.

    tentang “Kehendak lainnya”,
    kemiripan sifat berkehendak adalah “Menciptakan”. Tuhan berkehendak manusia untuk supaya bisa memilih (ikhtiyar). ini adalah Kehendak Tuhan.

    tentang “atas izin Allah, selainnya tidaklah mungkin terjadi”,
    kembali lagi kepada sifat “Maha Pencipta”, Tuhan menciptakan sifat air itu jika bercampur dengan tanah akan berubah warna, berubah harum, dll… sampai pada hal2 yg mesti kita terawang lewat mikroskop misalnya, dll…

    Manusia ingin sesuatu dan berusaha, pastilah terjadi! (tapi tetap ada batasan atas izin Allah, karena Dia yg Menciptakan segala2nya dan Mengatur atau Memprogram jika begini maka begini dll….)

    maap saya kurang bisa menulis dan berbicara dan amatlah sangat cetek ilmu.. mohon bimbingannya. saya suka sekali sama postingan hal2 seperti ini, karena berangkat dari sinilah yg Nabi bangga2kan… seluruh para Nabi selalu menjelaskan yg utama adalah keimanan, kepercayaan adanya Maha Pencipta yang tidak bergantung dengan makhluk-Nya.

  • Jawaad says:

    Nambahin boleh ya?

    Ini saya menulis komentar ini adalah keinginan/Kehendak Tuhan dan atas Izin Tuhan.
    Karena secara logika sudah jelas, “saya” (ciptaan-Nya) “berusaha” (ciptaan-Nya) untuk mengetik, saya sedang memakai komputer dan koneksi internet, dan gatau kenapa saya pun nyasar ke blog yg sangat bikin tertarik sekali… :) magnetnya kuat disini.

    semua kejadiannya pasti atas izin Tuhan dan kehendak Tuhan.
    Tuhan berkehendak supaya manusia melakukan tindakan dengan memilih… dan manusia tidak disetir oleh Tuhan, kalau disetir berarti pro dan kontra jadi satu, ini hal yg mustahil terjadi.

    saya sungguh senang membaca kejadian diatas… simpel dan gamblang…

    Tuhan tidak bergantung kepada apapun.
    Tuhan tau karena dia ada di semua waktu.

    Mari kita mencari Tuhan seperti nabi2 terdahulu :)

    hidup “logika” menuuju keimanan… amiiinn ya rabbb..
    bagi yg tersinggung masalah ajaran logika, mohon maaf… saya tidak tertarik dengan taklid buta (nurut aja tapi tidak tau apa2).

  • Filar Biru says:

    Hmm sebuah postingan bagus. Kamu ini iebih tepat ngomong mengenai takdir dari pada bicara Tuhan Maha Tahu (TMT). Singkirkan dulu Tuhan Maha Tahu (TMT). Agar pikiranmu kosong kayak tong sampah rumah gue heheh. Sekarang ambil secangkir teh dan hempaskan tembakau kesukaan lo(kalau nggak puasa). Sekarang apa lo tahu yang akan lo lakukan sedetik kedepan?

    Nggak!

    Itu artinya alam satu detik kedepan kepunyaan Tuhanmu dan belum diberikannya kepadamu, milyaran sarat agar kamu mengetahui apa yang terjadi satu detik kedepan dan lulus melewatinya, sebab untuk unsure kimia, fiskia dan biologi harus normal. Sedangkan satu hentakan degub jantungmu saja entah berapa milyar proses kimia yang terjadi dalam tubuh jelekmu, apa lagi alam semesta dan apa lagi 10 tahun, sejuta tahun, semilyar tahun. Hehehe

    Begini!

    Lo emang kurang ngerti masksud gue…kita ini hidup di lautan takdir. Apapun yang lo lakukan adalah takdir dari Tuhanmu. Jadi kalau lo berbuat begini hasilnya begini kalau lo berbuat begitu hasilnya juga begitu. Ngerti…?

    Belum

    Baik…sekarang lo masuk ugm keluarnya jadi eskom. Apa ada lo dengar ugm menelurkan tukang rampok. Itu artinya…itu adalah system.
    Nah…Tuhan juga punya system yang sangat alami dan sangat halus.
    Jadi maksud gue begini…kalau lo ditakdirkan kuliah di ugm sebenarnya itu hanyalah salah satu takdir2 yang ada disekeliling lo dan lubang takdir itu milyaran banyaknya di hadapan lo, lengkap dengan konsekwensinya.
    Lalu apa hubungannya dengan TMT tadi, yang jelas seluruh takdir tadi Tuhan yang menciptakan…itulah sebabnya Dia tahu betul kemana lo akan melangkahkan kaki. Jadi kalau lo kuliah di A hasilnya begini kalau lo kuliah di B hasilnya begini…semuanya sudah ada dalam takdir tadi.
    Permasalahannya sekarang adalah: bagaimana sekarang kalau lo ditakdirkan masuk neraka?! Apa jawab lo. Apakah lo pasrah dengan keputusan Tuhan. Tentunya lo akan protes bukan? Itulah gunanya doa…dengan berdoa kita memohon kepadaNya agar takdir yang mencampakkan kita ke neraka diganti Allah menjadi masuk surga.
    Nah…masuk neraka atau masuk surga juga takdir bro.
    Kembali ke laptop
    Tuhan telah menciptakan seluruh alur kehidupan yang menganggumkan, untuk satu individu saja entah berapa milyar banyaknya nikmat yang di berikan Allah kepadanya termasuk takdir tadi…entah berapa milyar juga banyaknya lengkap dengan segala konsekwensinya. Akhirnya kita akan menjadi tahu dan tersenyum sendiri cara kerja system itu bukan…heheheh.

  • yang punya bramantyo.com:::
    memperkosa itu ndak enak, ndut. enakan suka sama suka; bisa woman on top :P

    Jawaad:::
    sama, oom. saya juga ndak tertarik taklid buta, kok

    Filar Biru:::
    terlalu sederhana. yang anda bahas semuanya sudah didiskusikan di komentar-komentar di atas anda (malah jauh lebih kompleks, lho), misalnya obrolan saya sama lambrtz atau komentar dari geddoe. jadi mohon maaf, justifikasi anda atas saya meleset semua :mrgreen:

    eh, tentunya tuhan sudah tau juga, lho, bahkan ketika anda belum menulis, justifikasi anda atas saya akan meleset semua :D

  • Lambang says:

    Duh, ternyata link komen saya untuk Dik Aris di blog FilarBiru telah membawa bang FilarBiru ke blog ini, dan terkesan memusuhi Anda.
    Maaf ya Mas Joe atas link tersebut.

    Saya hanya mau menambahkan sedikit, bahwa dua determinisme tentang Jabariyah (semua dinisbahkan kepada Allah) dan Qadariyah (manusia bebas berkehendak) memang sudah menjadi polemik sejak jaman dulu. Ini adalah perkara diantara dua perkara.
    Dua-duanya didukung oleh ayat Qur’an.
    Referensi untuk Jabariyah: QS 13:27, 24:35, 10:99, 76:30, 81:29.
    Referensi untuk Qadariyah: QS 10:44, 10:108, 76:3, 76:29.

    Akhirnya sebagian ulama sepakat mengambil jalan tengah, yaitu diimani bahwa semua kejadian ditentukan oleh Allah, tetapi bisa diubah dengan do’a.

    Seluruh alam beserta isinya ini diciptakan dengan perencanaan yang sangat mendetail, tepat, akurat dan luar biasa. Diciptakan dengan hukum fisika dan matematika yang sangat luar biasa. Ini bisa dibaca dari literatur tentang kecepatan pengembangan/penyusutan alam dan besaran konstanta gravitasi yang kalau meleset sedikit saja (kalau ga salah 1/10^600) akan menghancurkan seluruh alam.

    Berdasarkan informasi di atas, ada beberapa pertanyaan yang perlu direnungkan:
    1. Kalau memang semua sudah ditentukan dari zaman Azali, apakah masuk akal ada pencipta yang akhirnya menghancurkan (menghukum) ciptaannya karena salah prosedur dan salah pelaksanaan? Bukankah ini malah membuktikan kegagalan perencanaan?
    2. Masuk akalkah Tuhan yang mampu menciptakan alam ini sedemikian detail, ternyata harus menggerakkan setiap bonekanya (manusianya) hanya untuk hal-hal yang sepele seperti menghirup nafas, menggerakkan jantung dan setor di WC?
    3. Tuhan jelas Maha Tahu karena tidak terbatas oleh waktu. Semilyar waktu ke depan atau kebelakang jelas akan terpantau. Tuhan jelas mampu juga mengatur setiap proton, neutron dan elektron yang ada di jagad ini satu persatu. Tetapi menggerakkan setiap item itu satu persatu jelas tidak lebih canggih dibandingkan menggerakkan secara otomatis, by default, by design, sesuai hukum alam yang diciptakanNya.
    4. Apakah kita ini sebagai manusia merasa menjadi ciptaan yang special padahal kalau dibandingkan dengan luas alam dan umur alam semesta, besaran dan umur peradaban manusia ini sangatlah kecil sekali. Jangan-jangan kita ini hanya salah satu species tidak berarti yang ada di jagad ini. Perlukah perlakuan khusus untuk species yang ngga ada artinya ini?
    5. Apakah keberhasilan do’a karena mohon kepada Allah atau karena pemusatan batin yang menimbukan pancaran energi positif? Bagaimana dengan do’a istighosah yang jarang terbukti itu padahal dilaksanakan oleh kyai-kyai secara berjamaah? Bagaimana dengan manusia purba yang belum mengenal Tuhan, agama dan do’a? Apakah mereka tidak dikehendakiNya untuk merubah nasibnya dengan caranya masing-masing, tanpa do’a?
    6. Tentang Tuhan menciptakan nmanusia hanya untuk menjadi khalifah, untuk mengabdi dan menyembah kepada Allah. Mungkinkah Allah gagal dalam penciptaan malaikat dan nis-nas (sejenis jin yang dulu ternyata membuat kerusakan di muka bumi ini) sehingga menciptakan manusia ini? Jelas tidak khan? Tentunya kita akan berfikir lagi kenapa tidak menciptakan malaikat saja trilyunan unit dan semuanya pasti menyembah Allah dengan sempurna.
    *pasti ada yang jawab, lho koq ngatur maunya Tuhan? Suka-suka Tuhan dong*
    Bukan ngatur, ini hanya pemikiran. Bukankah kita diberi akal untuk berfikir? Apakah pernah terbayang bahwa Tuhan itu Tuhan yang suka-suka atau semau gue?
    7. Seandainya nanti akan muncul statement mas Joe bahwa jangan-jangan saya memang sudah ditakdirkan untuk membuat komen ini, saya kurang setuju. Itu seolah mengecilkan kemampuan Tuhan yang terkesan tidak mampu membuat semuanya serba otomatis. Ini hanya pendapat saya pribadi. Boleh beda koq…;)
    8. Wis lah, sakmene wae, kesel ngetike je…

    Salam Persahabatan mas Joe.

  • Lambang says:

    Ealah, ternyata komenku panjang juga ya, padahal ngga direncanakan lho. Jangan-jangan tangan saya digerakkan Tuhan untuk menulis panjang… hiks

    Malah munyeng koq membahas ilusi, imajinasi dan persepsi tentang Tuhan. Membahas lemper saja bisa berjam-jam, apalagi membahas yang ini.

    Mendingan turu wae lah, terus ngimpekne Dian Sastro ben tangine malah sueger…

  • Bukan ngatur, ini hanya pemikiran. Bukankah kita diberi akal untuk berfikir? Apakah pernah terbayang bahwa Tuhan itu Tuhan yang suka-suka atau semau gue?

    ah, ini dia. akhirnya gara2 mentok berpikir – untuk ngayem2ke hati saya sendiri – saya, sejujurnya, juga berpikiran seperti itu: suka-sukanya Tuhan, dunk. sekalipun Tuhan itu memang menskenariokan saya supaya saya masuk neraka meskipun telah berbuat baik, ya saya mau bilang apa? itu hak prerogatifnya Dia tho :D

  • Usul!

    Kenapa kita tidak coba belajar membenarkan segalanya. Kali-kali kita bisa lebih ayem memikirkan mana yg baik dan benar dan memerdekakan bagi kita. Puyeng kita mikirin apa jawaban yg pas utk membela kemahaan Allah! Wuih, membela!

    Salam Damai!

  • lovepassword says:

    Yah jujur ini topik sulit. Hi Hi Hi. Kalo nggak sulit yah pasti sudah selesai dari dulu dulu toh. Lha wong diskusi soal ini sudah berlangsung berabad lewat. Bayangkan diskusi sudah ratusan tahun nggak ada kesimpulan yang bisa disepakati. :)

    Teori kehendak bebas mempunyai sisi positip karena mengajarkan manusia bertanggung jawab. DI satu sisi teori ini bisa bermasalah jika dikaitkan dengan ego atau kesombmbongan atas suatu keberhasilan. GW berhasil karena usahaku sendiri.

    Teori takdir mempunyai sisi positip dari sisi kepasrahan atau menyadari keterbatasan manusia . Artinya apa sih yang disombongkan oleh makhluk lemah ini ? Lha teori ini bisa juga bermasalah jika dikaitkan dengan konsep dosa. Mengapa saya mesti dihukum jika aslinya saya ini cuma dikendalikan. Apakah itu adil? dsb

    Hampir semua agama lebih-lebih agama-agama Ibrahim biasanya cenderung mengaitkan dosa dengan kehendak bebas .

    Lah seberapa baik kehendak bebas itu ? Kehendak bebas itu jelas baik – apa anda mau jadi robot saja? Nggak kan? Karena itu kehendak bebas itu baik.

    Lha pertanyaannya : Bagaimana posisi kehendak bebas itu di surga kelak ? Itu jadi aduhai sulit.

    Jika di surga ada kehendak bebas maka apakah berarti juga akan ada kejahatan ? karena selama ini tanggung jawab kejahatan dikaitkan dengan kehendak bebas ini. Lha kalo ada kejahatan lalu apa bedanya dengan di bumi ?

    Jika di surga tidak ada kehendak bebas, lalu darimana bisa disimpulkan kehendak bebas itu sedemikian baiknya. Bisa saja kan kehendak bebas itu nggak ada sejak semula kalo endingnya toh kehendak bebas itu kemudian dihilangkan.

    Itu bukan sesuatu yang sederhana untuk dijawab.

    Akhirnya saya lebih cenderung berpikir sok sederhana saja meskipun jelas tidak meyelesaikan masalah :

    Kehendak bebas itu faktor internal , Takdir dsb itu faktor eksternal. Lha keberhasilan dan kegagalan manusia dipengaruhi oleh kedua faktor itu.

    SALAM

    lovepassword prut prut

  • guzz says:

    gw punya teori sendiri soal ini. menurut gw life is never that simple.. lahir di dunia, menjalani 1 garis hidup saja (tanpa dipengaruhi pilihan2), dan selesai sudah. menurut gw garis hidup itu banyak jalannya, seperti pohon dengan ranting2nya yang mungkin gk terhitung jumlahnya.
    Dilahirkan semua sama dari bayi yang gk punya dosa dan gk punya pilihan (batang pohon yang cuma 1), semakin tumbuh dan beranjak dewasa maka cabang2 rantingpun semakin banyak. Peran Tuhan lah yang membuat pattern cabang2 itu, tinggal kita yang menjalani nya mau ke ujung ranting sebelah mana.
    Jadi yang dimaksud Maha tahu ya Dia tau pasti klo kita memilih jalan yang mana, maka akan berakhir di mana.. gituu lhoo.
    hubungannya ke semua aspek hidup, termasuk jodoh juga gw gk percaya cuma 1, naif banget menurut gw, krn hidup memang gk pernah sesederhana itu kok. karena bisa saja kita memaksakan diri untuk menikah dengan org yang kita cintai walau kondisi gk memungkinkan, dibandingkan yang mungkin tapi kita tolak. pilihan manapun yang dipilih ujung2nya dibilang jodoh juga toh

  • osamanwae says:

    menurut ane nih,,
    pilihan = takdir,

    kita dihadapkan oleh banyak pilihan dengan konsekuensinya sendiri sendiri.

    mengutip kata terakhir blog ini, “tuhan tidaklah maha tau”. ane sangat tidak setuju. penciptaan sesuatu hal pastinya akan mendapatkan perhatian, logika simple :

    contoh : ente menulis blog ini untuk dikunjungi beberapa orang dan berharap orang itu menuliskan sesuatu di sini. dan pastinya ente akan menjawab komen -komen yang ada. iya to? dan pastinya ente tahu pergerakan naik turunnya blog ini, titik.
    poinnya : anda tahu keberadaan ciptaanmu sendiri.

    Piss ah,, sekalian blog walking

  • theclaw says:

    membahas tentang Tuhan emang gak ada habisnya. kalo gw simple aja bro.
    yang penting kita jalani kehidupan ini dengan kecerdasan dan kebaikan itu sudah membuat kita hidup dalam kedamaian. Dengan begitu kita gak bakalan memperdulikan lagi keberadaan Tuhan dan sifat2nya.
    Kalau memang Tuhan itu ada kita gak perlu kwatir lagi masuk neraka ataupun dapat siksaan karena kita telah menjalani hidup penuh amalan baik. Kalau Tuhan tetap saja mau memasukkan kita ke neraka, berarti Dia bukan Tuhan karena bertentangan dengan sifat2nya yang mulia.
    Kalaupun Tuhan tidak ada, kita pun juga gak rugi dengan segala amalan baik selama hidup kita. karena dengan amalan baik itu pasti ada hal positif yang ditimbulkannya.

  • […] Lagipula, kalopun benar flow-chart pemenuhan keinginan kita di surga itu kayak gitu, kok ya rasanya kita ini nggak punya kemerdekaan secara penuh untuk sekedar memilih apa yang kita pengenin […]

  • wijaya says:

    Wah, seru ki diskusine. Sayang wis ra dibahas maneh.

    Allah itu menciptakan ruang dan waktu. Kita hidup di dalam ruang dan waktu, mencerna segala sesuatu di dalam konteks ruang dan waktu.

    Kalau ada pertanyaan tentang, “di mana Allah?”, maka itu adalah pertanyaan yang kontradiktif. Karena yang namanya di mana, itu urusannya sama ruang. Artinya, itu tetep ciptaan Allah. Nggak bisa dijawab karena Allah mengatasi ruang.

    Begitu juga jika ada pertanyaan tentang, “sejak kapan Allah itu ada?”. Lha wong Allah itu yang menciptakan waktu. Kemudian, dengan adanya waktu itulah tercipta sebab akibat dan tata urutan kejadian. Itulah mengapa Allah kadang cukup disebut dengan kekal saja. Padahal surga dan neraka juga kekal. Tapi, kekal mana sama Allah? Kekalnya Allah mengatasi waktu, kekalnya surga dan neraka, ada di dalam waktu.

    Sekarang, kalo kamu tanya, besok kamu masuk surga apa nggak apakah Allah sudah tahu? Kalo sudah tahu, berarti semua itu sejak zaman penciptaan sudah ditentukan? Kalau sudah ditentukan, berarti kita nggak punya peran dong?

    Coba lihat, pertanyaan-pertanyaan itu masih ada hubungannya sama waktu nggak? Kalo masih ada, ya musykil kalo mau disangkut-sangkutin sama Gusti Allah. Menurutku sih, masih ada.

    Kita tidak akan mengerti Allah, kecuali apa yang Allah suruh mengerti tentang Dia aja. Kalo gitu, nggak usah banyak pusing mikirin Allah, pikiran saja ciptaan Allah, yang hanya dengan itu saja kita dapat memahami keagungannya.

    Kamu punya tanggapan lain Joe?

  • […] adalah jenis manusia yang beranggapan bahwa apa yang sampeyan terima saat ini adalah memang kehendak mutlak yang digariskan oleh Illahi, yang tidak bisa kalian lawan (termasuk anggapan jika kalian membusuk selamanya di neraka besok itu adalah bagian dari takdirNya […]

  • […] Maka aku kembali bertanya-tanya, bagaimana jika kita – para manusia ini – sebenarnya juga berpikir dan memutuskan sesuatu dengan telah dirancang terlebih dahulu oleh Sang Pembuat Sistem? Kita hanya merasa kita telah memutuskan segala sesuatunya dalam kondisi kesadaran penuh, atas kehendak kita sendiri, tanpa kita sadari bahwa itu semua cuma sebuah ilusi – seperti yang pernah kutanyakan dan kutulis pula tempo hari […]

Leave a Reply

Kitab Wangsit
SUDAH TERBIT!
Kitab wangsit karangan Mas Joe, idola masa kini para remaja putri. Mumpung bakulnya masih buka, mari segera dikonsumsi!

Cocok untuk dibaca sambil ngemil kuaci ataupun sebagai teman semedi di kamar mandi.

Minatkah?

Kalau minat, bolehlah klik di SINI untuk segera membeli. Buruan! Minggu depan harga naik tiada karuan.

Berlangganan Wangsit

Masukkan alamat email sampeyan:

Ceriakan hari-hari sampeyan dengan rutin membaca wangsitnya Mas Joe

Si Sumber Wangsit
Anindito Baskoro "Joe" Satrianto. Laki-laki dahsyat (sumpah!). Pengangguran, pengkhayal, pemimpi, pembual, sekaligus pejuang (yang tidak) tangguh. Mantan aktivis Lab Omah TI, (masih jadi) penunggu sekretariat Himakom UGM, pengeceng gadis-gadis cantik berjilbab. Ngganteng, pinter, tapi banyak utang.

Almanak
Wangsit Bergambar




SEO Powered By SEOPressor