Undangan Manten

Pembaca yang budiman sekalian, kapan hari kemarin Hanna, adik kelasku jaman mahasiswa, sempat apdet status via Fesbuk. Statusnya, buatku, cukup menggelitik. Tentang undangan manten, sebagaimana berikut ini:

gak ada yg salah dg undangan nikah lewat fesbuk… Knp slalu ada saja yg mempermasalahkan? Hmmph… Apakah keformalan jg bagian dari pertemanan??? Owh please deh…

Lalu kenapa buatku cukup menggelitik? Ya karena alasan sebagai berikut ini juga:

Pertama-tama, adalah betul bahwa nggak ada yang salah dengan undangan manten yang dibikin dan disebarkan lewat Fesbuk. Praktis, kok. Juga murah, tentunya. Dan atas nama kepraktisan dan kemurahan itulah tentunya hal ini menjadi sebuah solusi buat para calon temanten yang nggak punya cukup budget untuk mencetak undangan manten banyak-banyak. Nggak semua orang itu punya bapak-ibu kaya. Biaya percetakan itu mahal, sodara. Belum lagi waktu yang bakal terbuang buat mengalamatkan itu undangan ke orang-orang yang mau diundang. Segalanya serba maem waktu dan mamam biaya.

Belum lagi ditambah dengan fakta bahwa yang namanya acara mantenan biasanya adalah hajatannya orang tua si manten sendiri. Tentunya sebagai pemilik saham terbesar acara mantenan, orang tua si manten tidaklah elok rasanya kalo haknya untuk menentukan siapa-siapa saja yang bakal diundang harus dirusuhi oleh keinginan si anak yang kepengen ngundang temen-temennya, baik temen dari teka, dari esde, esempe, esema, kuliah, sampai juga temen kantor.

Otomatis karena jumlah undangan dalam bentuk hardcopy yang terbatas, si anak yang besok mau jadi manten itu tentunya harus mengalah, tidak semua temen-temennya bisa dikirimi undangan. Dalam hal ini undangan online via Fesbuk, atau juga broadcast-an via aplikasi instant messaging menjadi sebuah solusi jitu.

Lagipula betul kata Hanna, dalam pertemanan memang sebaiknya tidak usah terlalu formal. Jadi ya nggak usah serius-serius bangetlah memposisikan seorang teman yang bakal kita undang. Istilah Jokja-nya, wong iki yo bocahe dewe, kok.

Tapi beda dengan orang tua kita. Boleh jadi yang kepengen mereka undang bukanlah teman mereka. Boleh jadi yang kepengen mereka undang adalah rekanan bisnisnya.

Tentu di sini kita sudah sama-sama paham kalo yang namanya teman dan rekanan bisnis adalah 2 hal yang sangat berbeda. Dengan teman, kita bisa langsung ngembat duit di dompet mereka cukup dengan ngomong, “Njaluk duitmu nggo tuku rokok yo, Dab.” Tapi dengan rekanan bisnis? Oho, ceritanya bisa beda. Asal-asalan ngambil duitnya mereka bisa-bisa kita bakalan diseret ke pengadilan. Makanya untuk kasus rekanan bisnis, keformalan sudah menjadi semacam sebuah keharusan.

Makanya pula si calon manten harus ngalah sama bapak-ibunya. Nggak usahlah gaya-gayaan ngirim undangan resmi ke temen yang kopi segelas aja biasanya disruput berdua. Buat apa, coba? Menuh-menuhin kamar kosnya sahaja.

Cuma…apa iya begitu? Apa undangan online via Fesbuk itu betul-betul solusi jitu? Nanti dulu. Setidaknya biarlah aku berbagi sudut pandangku dahulu.

Bener. Memang bener bahwa Fesbuk itu memraktiskan. Lha wong di situ itu kita diijinkan untuk membuat woro-woro mantenan kita tanpa biaya, kok. Ditambah pula, Fesbuk juga bisa mengakomodir kemalasan kita. Cukup pilih opsi “select all” waktu mengirimkan undangan, dalam hitungan detik semua akun yang terhubung sama akun Fesbuk kita bakal menerima sebuah pemberitahuan: akhirnya kita laku juga! Di dunia ini orang baik itu masih ada. Buktinya masih ada juga manusia yang jatuh iba dan mau buat jadi pasangan hidup kita.

Beres.

Beres?

Nanti dulu…

Justru di sinilah pada akhirnya undangan manten via Fesbuk itu memainkan perannya.

Maksudnya apa, Mas Joe yang ganteng?

Maksudnya begini, Neng cantiq…

Hitung, deh, ada berapa temen kita di Fesbuk yang bener-bener temen kita? Jujur, deh, apa semua temen di akun Fesbuk kita itu pernah kita kenal di dunia nyata?

Aku, sih, enggaklah ya… Beberapa “temen” di akun Fesbuk-ku itu tidaklah benar-benar kukenal. Sebagian dari mereka statusnya hanyalah penggemarku sahaja, yang permintaan pertemanannya di Fesbuk terpaksa kuterima cuma gara-gara akunya nggak mau dicap sombong saja.

Jenis yang seperti itu biasanya bertahan sampai beberapa bulan. Selang beberapa waktu kemudian akun model di atas itu bakal kubumi-hanguskan. Aku bakal membersihkan keberadaan mereka dari alam Fesbuk-ku, terutama kalo ternyata di antara kami memang babar blas tidak pernah terjalin komunikasi.

Itu yang ekstrim. Yang sedikit lebih soft juga ada. Di akun Fesbuk-ku juga terdapat jenis teman yang tidak kukenal terlalu dekat. Model yang ini biasanya adalah rekan di sebuah komunitas tetapi kami tidaklah terlalu akrab. Tipe manusia yang di antara kami cuma mengenal nama tetapi jarang bertegur-sapa. Jenis yang seperti ini pastilah tidak banyak mengerti, siapa di antara Miyabi dan Sora Aoi yang lebih sering kupakai sebagai bahan masturbasi?

Lanjutannya, apa iya kalo aku diundang datang ke mantenannya mereka via Fesbuk maka itu berarti aku berkewajiban untuk datang?

Gini lho, Mas Bro… Setauku – di ajaran agamaku – menghadiri sebuah acara pernikahan, jika kita diundang, adalah wajib hukumnya. Tapi menurutku kewajiban itu terjadi jika dan hanya jika kita benar-benar diundang. Kasusnya adalah…untuk jenis manusia seperti 2 model akun di atas, apakah aku benar-benar diundang? Apa undangan dari mereka itu bukan cuma gara-gara mereka malas dan kemudian memilih opsi “select all” itu tadi, alih-alih betul-betul menyeleksi siapa saja temen-temen mereka yang pengen mereka undang?

Aku nggak mau terjadi salah-paham. Salah-paham yang karena kemalasan orang lain malah aku yang jadi kena getahnya. Aku juga nggak mau, sudah jadi korban salah-paham, eh, aku juga harus kehilangan duit yang terpaksa kumasukkan ke dalam kotak sumbangan manten buat mereka.

Bagaimana kalo misalnya aku sudah keburu mengorbankan amplop putih berisi selembar duit 1.000-ku buat mereka – demi bisa makan gratis – tapi lalu yang duduk di pelaminan malah bergumam, ini si Joe ngapain datang ke sini? Mau nyari kesempatan makan gratis lagi?

Bagaimana juga kalo pesta mantenan yang kuhadiri ternyata malah temen Fesbuk model pertama? Sangat boleh jadi ketika dia melihatku dia malah bakal membatin, lho, eh…lho, eh, siapa manusia keren ini? Kampret bercula! Sudah susah-susah dapatnya, jangan sampai sekarang istriku malah kepincut sama dia.

Repot, kan? Sudah niat berbaik hati demi melaksanakan sebuah kewajiban, eee…ternyata aku malah jadi bahan gunjingan. Ndak maulah aku kalo nanti kejadiannya bakal kayak gitu. Daripada aku membuat orang lain jadi bersu’udzon dengan kehadiranku, lebih baik undangan dari mereka sahaja yang kutolak mentah-mentah. Toh ini perkara subhat; ndak terlalu jelas juga mereka benar-benar mengundangku atau tidak. Kata pak ustadz, kalo ada perkara yang meragukan, lebih baik ditinggalkan.

Itu baru yang undangan via Fesbuk. Yang undangan hasil brotkesan instant messaging ternyata juga sama parahnya (eh, atau malah lebih parah ya?), John.

Coba, deh, kira-kira apa maunya si pengirim undangan ketika mengirimkan teks semacam berikut ini:

Kepada Bapak/Ibu yth. Dengan tidak mengurangi rasa hormat kami, kami bermaksud mengundang Bapak/Ibu pada acara pernikahan kami yang bla…bla…bla…

Situ memang tidak perlu hormat-hormatan sama aku. Tapi mbok ya kalo ngirimin undangan itu yang jelas, dong. Kalo kayak di atas itu, itu kan ndak jelas undangannya ditujukan buat siapa. Buat bapak, buat ibu, buat bapaknya siapa, atau buat ibunya siapa? Itu undangan hasil “select all” di Blackberry Messenger punya sampeyan ya?

Makanya undangan yang model begitu selalu tidak kutanggapi. Kalau situ memang kepengen dapet duit barang 100 ribu rupiah dari aku (baca: kalau situ memang kepengen ngundang aku, John), ha mbok ya ngundang yang bener.

Apa tho susahnya menujukan undangan ke aku? Khawatir sudah terlanjur ngirim undangan tapi akunya jebul ndak datang? Ealah…kalo kita memang berteman ya pasti ta’usahakan untuk datang, kok. Mau di seberang pulau pun, asalkan aku benar-benar diundang, situ pasti kuusahakan ta’sambangi. Nebok celengan sekalipun!

Tambahan lagi, jenis undangan brotkesan kayak barusan itu – walaupun, kata Hanna, dalam berteman tidaklah usah terlalu formal – menurutku justru menunjukkan bahwa kita tidak menempatkan pertemanan kita sebagaimana seharusnya pertemanan itu sendiri. Bukan berarti harus pakai hardcopy. Nggak perlulah itu. Tapi jauh lebih baik kalau kita sama sekali nggak usah bikin brotkesan macam itu, melainkan ngomong aja langsung secara lisan ke yang bersangkutan.

Tak perlulah pake bahasa formal, basa-basi, segala “bapak/ibu yang terhormat telek bebek tai kucing” itu tadi. Jauh lebih baik, buatku, situ nggak usah gegayaan pake bahasa yang disopan-sopankan. Langsung saja: “Cuk, aku meh rabi. Teko yo. Kowe kapan? Tititmu selak karatan, hlho…”

Yang seperti itu biasanya bakal kubalas: “Asu! Pejuhku iki sengojo ta’peram, ben larang koyo wine”.

Situ temanku, kan? Kalo kita memang teman, kenapa mesti sungkan untuk saling mengumbar cacian? Kenapa malas untuk memperlakukan seorang teman selayaknya teman? Nah, dalam konteks yang model begini ini si Hanna memang betul: ndak perlu formal-formalan dalam berteman.

Lalu, meskipun kubalas dengan pisuhan, yang seperti itu biasanya aku pasti datang. Ada sentuhan personal, soalnya. Ada semacam perasaan bahwa seorang teman benar-benar memintaku untuk datang. Dan bukan tidak mungkin kalo aku bakal memasukkan duit sumbangan tidak cuma 100 ribu, tapi boleh jadi beberapa kali lipatnya. Berapakah itu, biarlah menjadi rahasiaku. Yang jelas nggak cuma 1.000 rupiah thok wis!

Maka pada akhirnya, semua hal di atas itu bohong… Sesungguhnya aku tidaklah sekejam itu. Kalopun aku menerima kiriman undangan massal kayak yang kita bahas ini, aku nggak serta-merta langsung menolaknya. Biasanya aku balas dulu ke mereka, kutulis pesan: “Aku diundang tho?” Jika mereka mengiyakan, datanglah aku. Tapi jika tidak ada balasan dari mereka lagi, sudah pasti mereka itu cuma tipe pemalas yang asal-asalan milih opsi “select all”. Jika itu yang terjadi, wassalam, tidak ada duit 100 ribu buat kalian.

Dan pesanku kepada kalian semua, duhai sidang pembaca yang dirahmati Allah, kalau besok-besok mau ngundang aku, jangan pula bertingkah kampret macam si Gogon, partner nyablon kaosku di Jokja itu. Dia dengan mecicilnya berkata kepadaku sewaktu mau nikah, “Lik, aku meh rabi ki. Aku kudu ngirim undangan neng kowe opo cukup lewat Fesbuk wae?”

Asu sekali.

Yang kayak gitu kontan kujawab, “Karepmu, Gon. Gandeng le manten kowe, ra mbok undang pun aku tetep bakal teko. Ning ra sah nyumbang opo-opo yo!” 😆


Facebook comments:

11 Comments

  • aladdin |

    ..siapa di antara Miyabi dan Sora Aoi yang lebih sering kupakai sebagai bahan masturbasi?

    anda ragu2 sodara?

    Kata pak ustadz, kalo ada perkara yang meragukan, lebih baik ditinggalkan..

  • igarisga |

    nanti aku ngundang kamu pake undangan ala ala secret agent ya mas, kalo udah selesai dibaca undangannya kebakar sendiri :)) gimana, kamu bakal berasa ethan hunt kan?

  • Yang Punya Diary |

    aladdin:::
    saya sih ndak ragu. bahkan kalo ada kesempatan untuk mengeksekusi duaduanya, bakal saya lakukan dengan darah dingin 😛

    igarisga:::
    berasa bagemana? aslinya saya ini memang Ethan Hunt! cuma sekarang lagi dalam penyamaran sahaja

  • hanna |

    wahhh status fesbukkuuuuuu… wkwkwk
    iya mas, jgn select all yah, dipilih dunk kalo mau undang2 via FB,,, hehe…
    kalo select all tu kayak gak serius. emange semua friend di fesbukmu km kenal ? gak mungkin kan yah…
    maka dari itu, undang via fb bisa ngirit tp ya dipilih lah ya yg mau diundang beneran sapa. sapa tau drpd kirim undangan gak bakal nyampe2 ? mending via FB yg sering dibuka (minimal 3 hari sekali pasti buka lah ya)
    tengkyu mas joe, km bikin aku terkenal mendadak -__-

  • hanna lagi |

    eh ngomong2, aku ngasi undangan ke km (undangan fisik). soale km kan sudah TUA. wkwkw… (just kidding)
    eh aku lupa blg, aku selain via FB juga di BB. ngmg personal juga. FB tu kayak buat sarana reminder kan lumayan tuh. ada notifnya jg kan nongol kalo pas dibuka. intinya, temenan tuh simple aja… rasah digawe rempong…

  • TrojanGanteng |

    kolo2 komen serius ah..

    Kurang lebih saia setuju dengan anda mas joe.
    Untuk tentang undangan manten saya menghubungkannya dengan cara kita menghargai orang lain.

    Sebelum lebih lanjut ada pertanyaan dr saya yang mungkin bisa direnungkan. klo kita mengundang seseorang untuk jadi tamu kita di resepsi nganten, itu kita yang butuh mereka datang atau mereka yang butuh datang dipernikahan kita?

    Klo boleh saya jawab, misal ada sesorang yang mengundang saya lewat FB macam begitu. Saya lihat dulu orangnya. klo orang itu termasuk orang yang saya “hormati” atau saya pernah “berhutang budi” kepada beliau tentunya saya akan datang. Tetapi jika orang itu biasa2 aja atau tmn biasa atau malah teman kurang dekat ya tentu saja saya tidak akan datang. Dalam hati saya, ada pikirnya “engko nyalahi karep e sing ndue gawe”. Ya seperti yang sudah anda utarakan dengan undangan via FB belum tentu ketika dia membuat undangan tersebut “bermaksud” untuk mengundang kita.

    undangan mahal? atau orang tau yang menentukan?
    Saya juga bisa memahami tentang hal ini, tapi alangkah baik nya klo emang yang mau diundang adalah “teman” yang biasa dikei udud atau biasa nginep dikosnya ada baiknya untuk memberikan undangan secara “khusus”. MIsal dengan mengirimkan SMS. “eh teko yo neng nikahanku blablabalaballaa. sory ra iso ngirim undangan”. dengan cara2 seperti itu menurut saya malah lebih menghargai dan jelas sekali yang punya hajatan mengharapkan kehadiran kita.

    :_)

  • elafiq |

    undangan hardcopy bisa diatasi dengan kertas buram, bolak-balik dan diperkecil… semoga membantu..

So, what do you think?