Monthly Archives: March 2013

2 Events, 2 Anxiety

Aku sama sekali nggak inget sejak kapan aku buka biro jasa konsultasi masalah pribadi. Seingetku, aku ini ndak pernah kuliah psikologi. Kuliahku, seingetku juga, adalah jurusan komputer-komputeran. Itu pun pada akhirnya lolos dari maut dengan ipeka pas-pasan. Maka dari itu aku suka heran, kenapa banyak makhluk Tuhan – terutama kaum hawa – yang hobi banget curhat sama aku? Apa dari casing-ku? Berkacamata, yang diidentikkan dengan kebiasaan suka mbaca, sih, iya (iya berkacamatanya, maksudku). Tapi selebihnya aku lebih suka berpenampilan yang nggak seharusnya: rambut jarang sisiran (biasanya sehari cuma 2 kali tiap habis mandi), kaos oblong gambar tokoh pilem kartun yang ndak diseterika, jaket gambar monyet yang jarang sowan sama mesin cuci, sepatu kets seadanya, dan celana jeans yang butut yang suwek-suwek di bagian lutut. Pokoknya jauhlah dari kesan mahasiswa psikologi dengan ipeka menjulang tinggi.

Cuma saja, kok, ya banyak yang percaya kalo aku bisa memberikan solusinya atas masalahnya tho ya? Beberapa malah curhat sambil nangis di depanku. Mau ta’puk-puk, eh, akunya yang takut kalo entar malah jadi nafsu (catatan: nafsu di sini cuma berlaku kalo klienku yang nangis adalah cewek. Kalo cowok, ya biasanya malah kumaki, “Lanang, kok, nangisan. Minggat!”). Continue Reading


Untouchable

Kalau lagi ngelamun kadang-kadang mulutku tau-tau suka bergumam sendiri. Nyanyi. Dan bagian reff lagunya Rialto yang ini salah 1 yang paling sering jadi korban alam bawah sadarku…

Continue Reading


Undangan Manten (Sekuelnya): Hal-hal yang Bisa Dilakukan Jika Menerima Undangan Pernikahan dari Mbak Mantan

Menyambung tali silaturahmi tulisanku kemarin tentang undangan pernikahan via Fesbuk dan brotkesan dari instant messaging, setelah melewati perenungan lebih dalam, ternyata undangan jenis demikian memang termasuk jenis undangan yang tiada sensitif sama perasaan orang.

Bayangkeun, gara-gara kita punya mantan pacar nan pemalas tapi kita masih cinta (cieee…cinta. Mamam tuh cinta!) dan kepengen balikan, suatu saat kita dikirimin undangan nikahnya, apa ndak hancur perasaan kita? Continue Reading


Undangan Manten

Pembaca yang budiman sekalian, kapan hari kemarin Hanna, adik kelasku jaman mahasiswa, sempat apdet status via Fesbuk. Statusnya, buatku, cukup menggelitik. Tentang undangan manten, sebagaimana berikut ini:

gak ada yg salah dg undangan nikah lewat fesbuk… Knp slalu ada saja yg mempermasalahkan? Hmmph… Apakah keformalan jg bagian dari pertemanan??? Owh please deh…

Lalu kenapa buatku cukup menggelitik? Ya karena alasan sebagai berikut ini juga: Continue Reading