Menyiasati Hambatan Kuliah di Luar Negeri (Studi Kasus: Si Tampan Mas Joe)

 

View this post on Instagram

 

A post shared by Joesatch (@masditto) on

Setiap ketemu teman lama yang tahu gelar akademis terakhirku, aku pasti ditanya bagaimana rasanya kuliah di level Woxbridge (oh yeah, tentu sahaja boleh jadi ini cuma guyonan. Ada yang bilang bahwa, kami maksa mensejajarkan diri dengan Oxford dan Cambridge padahal kami-kami ini gagal buat masuk ke sana. Bahasa gampangnya, kampus buanganlah)? Jadi daripada aku terus-terusan ngulang cerita yang sama, kupikir ada baiknya kalau aku nulis saja di sini, supaya besok-besok kalau ada yang nanya lagi, biar orangnya langsung kusuruh baca tulisan di blogku ini sahaja.

Sekalian juga, mumpung bulan-bulan ini lagi masuk tahun ajaran baru di Enggres, siapa tahu aja ada yang butuh tips dan trik bagaimana caranya menghadapi gegar budaya belajar yang ada, pada umumnya, dan bagaimana siasatnya supaya bisa lulus S-2 dari jurusan e-Business Management, the University of Warwick, pada khususnya. Maka kepada mereka-mereka yang butuh informasi tersebut, dengan sungguh serius, asli tanpa rekayasa, kupersembahkan tulisanku berikut ini. Mari kita mulai.

Yang pertama, apakah kuliah di Enggres (baca: Warwick, dab!) banyak tekanan?

Well, jawabannya, sih, sebenarnya: tergantung. Cuma saja supaya tidak jadi tergantung, hal pertama yang perlu dibenahi adalah pola pikir. Banyak cerita soal orang-orang yang tidak sanggup menyelesaikan kuliahnya di luar negeri. Ada saja penyebabnya, mulai kangen rumah, nggak bisa memenuhi tuntutan nilai, merasa pekok, kesulitan bahasa, sampai akhirnya malah bunuh diri saking depresinya.

Ada. Betul itu memang ada. Aku ngibul kalau bilang yang kayak gitu itu nggak ada. Lha wong nyatanya ada temen sebeasiswaku yang kangen rumah terus akhirnya memutuskan pulang di tengah jalan dan nggak balik-balik lagi, kok. Tapi ya bukan berarti kuliah di luar negeri itu betul-betul semengerikan itu. Seenggaknya sebagai motivasi buat kalian, oh, sidang pembaca yang dirahmati Allah, aku saja bisa tuntas dengan selamat, masak kalian nggak bisa melakukan apa yang bisa aku selesaikan? 😈

Seperti yang sampeyan semua ketahui, lolos seleksi buat kuliah di luar negeri aja banyak pihak yang menyangsikan pencampaianku, kok, apalagi untuk akhirnya lulus dengan predikat yang tidak biasa-biasa sahaja. Maka dari itu jangan khawatir kalau kalian tidak bisa lulus dari kampus kalian masing-masing.

Jadi, apa yang harus dipersiapkan supaya bisa bertahan sampai jadwal kuliah penghabisan?

Gampang. Yang pertama harus dilakukan tentu saja mempertanyakan motivasi kita sendiri, sebenarnya mau apa, sih, dengan kuliah di luar negeri? Value diri apa yang menyebabkan kita harus jadi lulusan luar negeri, wa bil khusus lulusan luar negeri dari kampus bergengsi?

Yang kedua, pastikan motivasi kita tersebut tidak berada di bawah atau malah bertentangan dengan value diri kita yang lain. Konon, kata Tony Robbins, value yang bertentangan bisa menyebabkan depresi pada diri kita. Setidaknya itu yang kubaca dari bukunya yang berjudul “Awaken the Giant Within”.

Oom Tony cerita di buku itu, anak perempuannya sempat kepengen jadi bintang Disney lewat ajang pencarian bakat. Oke, keinginan putrinya itu – singkat kata, singkat cerita – akhirnya tertessykan (baca: terkabulkan, karena nama aslinya Tessy adalah Kabul Basuki). Hanya saja seiring berjalannya waktu, anaknya mulai males-malesan. Usut punya usut, motivasi anaknya Oom Tony ini kepengen jadi bintang Disney ini adalah pembuktian. Pembuktian kalau dia punya talenta buat jadi bintang.

Sayangnya value yang berupa pembuktian diri ini berada di bawah value dirinya yang lain, yang mementingkan kedekatan diri dengan orang-orang tersayangnya. Gara-gara jadwalnya Disney yang padat, harus ke luar kota, jauh dari keluarga, anaknya Oom Tony lama-lama jadi merasa hampa. Statusnya sebagai bintang membuatnya tidak bisa memenuhi tuntutan value dirinya yang lain. Akhirnya, ya…stress!

Maka kemungkinan besar…ini cuma kemungkinan besar lho ya… Kemungkinan besar perkara inilah yang terjadi pada sejawat yang kuliahnya tidak bisa paripurna. Homesick, misalnya. Ada value yang lebih besar seputar kampung halamannya ketimbang value yang mengharuskan untuk menuntut ilmu di luar negeri. Mungkin itu juga yang terjadi pada homo sapiens yang beranggapan kuliah di luar negeri sekalian dengan jalan-jalan dan main-main. Kalau value untuk bersenang-senang dan dolannya lebih gede dari value buat belajar, ya wassalamualaikum waramatullahi wabarakatuh!

Nhaaa…value-ku sendiri apa? Biar gampang, kubilang aja, deh, kalau value-ku sendiri adalah gengsi, buat gaya-gayaan aja. Lebih tepatnya nggaya di depannya si Bram sehubungan dengan kami berdua terjebak dalam rivalitas yang nggak penting, utamanya adu kaya-kayaan dan pintar-pintaran.

Syahdan, pada waktu itu si Bram ini sudah ngambil S-2, di UI, jurusan komputer-komputeran. Aku jelas nggak mau kalah. Adapun si Bram sendiri selalu nggaya soal statusnya sebagai mahasiswa program master. “Kalian ini cuma lulusan S-1,” begitu katanya di depanku, di depan Josephine, Septri, Gentho, dan Ernes yang rajin nongkrong di rumahnya di bilangan Pondok Cabe saban malam Minggu buat nunut koneksi Internet dan tanding main PES.

Aku sendiri nggak paham kapan aku dan Bram mulai terlibat rivalitas. Dibilang adu pintar-pintaran, nyatanya si Bram adalah lulusan Ilmu Komputer UGM terbaik pada masanya, sementara aku, masa kuliahku relatif jauh lebih lama, ipeka 3 saja juga nggak nyampai. Aku sendiri sempat nggak ngeh sampai dengan anak-anak yang lain memperhatikan kelakuan kami yang saling nggak mau kalah 1 dengan yang lainnya. Malahan pada gilirannya, Popo, pacarnya Bram pada waktu itu yang sekarang sudah jadi istrinya, sempat ngeluh ke aku. Kata Popo, “Mas, mbok Mas Bram dikasih motivasi. Tesisnya nggak ndang dirampungke ki. Dia, kan, cuma nggak bisa kalah dari kamu. Mbok kamu nggaya gitu di depannya dia.”

Tentu saja perkara mudah begitu kusanggupi. “Ndut,” kataku ke Bram, “aku selama ini sengaja nge-voor kamu. Aku bakal kuliah di luar negeri, peringkatnya jelas jauh di atasnya UI, dan aku jamin, aku bakal duluan pegang ijazah master ketimbang kamu.”

Si Bram tersengat. Waktu aku sibuk nyari kampus, dia sibuk ngutak-atik tesisnya. Tapi untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak… Pada akhirnya sesumbarku tetap terpenuhi, aku pegang ijazah master duluan ketimbang dia. Ada sedikit misadministrasi antara dia dan kampusnya, yang menyebabkan ijazahnya sempat ketahan beberapa lama meskipun hitungannya dia sudah duluan wisuda. Nyahahaha…

Jadi ya demikian. Tentukan dulu value kita. Pastikan tidak ada value yang kontraproduktif yang berada di atas value kita untuk kuliah di luar negeri. Dalam hal ini, perasaan tidak mau kalahku sama Bram membuatku tahan menghadapi gempuran berupa perbedaan peradaban. Kalau kita nggak yakin sama value kita sendiri, saranku, sih, lebih baik cepat-cepat mengundurkan diri sahaja sejak sekarang. Daripada setengah-setengah, buatku, sih, mending nggak usah sekalian. Buang-buang waktu aja jadinya.

Selanjutnya, bagaimana dengan tuntutan performa dari kampusnya? Hamba khawatir jikalau hamba nggak bisa ngikutin materi pelajarannya.

Dude, ini juga relatif. Semuanya tergantung dari jurusan yang kita pilih. Maka supaya jadi absolut, pastikan kita memilih kampus dan jurusan yang sesuai dengan minat kita. Pelototi kurikulumnya, modul-modul kuliahnya sebelum memutuskan mendaftar di sebuah kampus. Biasanya ada info tentang itu, kok, di website-nya kampus. Pastikan kita memang menyukai pilihan kita. Supaya apa? Supaya kita menikmati segala proses pembelajarannya. Tidak bijak kalau kita tidak punya hobi mengikuti perkembangan teknologi digital dan implementasinya dalam bisnis tapi kita memutuskan untuk ngambil jurusan e-Business Management.

Aku sendiri milih kuliah di Warwick yang kebetulan metode pembelajarannya cocok buat aku. Jam kuliahku dibagi per mata kuliah alias per modul, yang tiap modulnya diselesaikan dalam waktu 5 hari, mulai dari jam 9 pagi sampai jam 6 sore. Teorinya, sih, begitu. Prakteknya, di hari akhir modul kami harus mempresentasikan proyek mini berkelompok yang menjadi bagian dari modul tersebut. Yang beginian ini yang menyebabkan kadang-kadang aku harus pulang agak larut gara-gara mengerjakan proyek tersebut setelah jam pelajaran barengan teman-teman kelompokku yang lain.

Enaknya, di jurusanku nggak ada ujian. Penilaiannya diambil dari proyek mini tersebut dan Post Module Assignment (PMA), di mana aku harus mengerjakan karya tulis sebanyak 3.000-5.000 kata untuk tiap modulnya. Waktu pengerjaan PMA ini biasanya sekitar 3 mingguan. Selama jangka waktu tersebut, kalau mau dapat nilai bagus – merit atau distinction – kami dapat arahan dari kampus untuk menyisihkan waktu minimal 4 jam setiap harinya buat baca-baca literatur penunjang dan menuliskan hasil observasi kami seketik demi seketik. Jangan khawatir, kampus menyediakan lisensi Microsoft Office gratis buat mahasiswanya.

Aku sendiri sempat mengikuti pola belajar yang disarankan sama kampus ini. Di 2 mata kuliah awal aku menyisihkan waktuku buat cari bahan, nyambangi perpustakaan, membaca, bikin kerangka tulisan selama beberapa jam tiap hari. Kebetulan juga ada jeda yang rata-rata sekitar 2-3 minggu per modulnya, tergantung dari jadwal kuliah yang kita pilih. Kalau kita mau, kita bisa tidak dapat jeda antar modul. Selama 3 minggu kita ngampus terus untuk 3 mata kuliah yang berbeda, misalnya. Tapi kalau kita mau juga, kita bisa dapat jeda antar modul sampai dengan 1,5 bulan.

Balik lagi ke soal PMA. Berhubung di 2 mata kuliah awal aku mengikuti pola belajar yang disarankan sama kampusku, akhirul kalam aku dapat nilai distinction. Tapi lama-lama aku mikir juga, apa iya aku harus mati-matian macam begini sampai dengan 8 modul berikutnya? Kalau belajar melulu, kapan aku nge-pub-nya, kapan aku main-main ke wilayah Enggres lainnya, kapan aku nonton bola langsung di stadionnya? Lagian, apa iya aku harus dapat nilai distinction terus-terusan? Siapa yang menuntutku supaya aku seperti itu, nggak ada, kan?

Jadilah aku mengurangi porsi belajarku. Aku merasa value pembuktian diriku sudah cukup. Aku sudah cukup menunjukkan, kalau aku bisa dapat nilai distinction selama akunya sendiri mau. Aku nggak butuh nilai distinction buat pamer ke orang-orang. Akhirnya pernah pada suatu ketika, di mata kuliah “Business Model Generation”, saat hari Seninnya adalah deadline untuk pengumpulan PMA, hari Minggu jam 10 malamnya aku masih nyari ilham, enaknya nulis apa ya? Alhasil aku wayangan, semalaman suntuk aku ngerjain PMA ditemani berbiji-biji kuaci dan rokok yang tembakaunya ngelinting sendiri. Bihihihi…

Terus, nilai akhir mata kuliahnya gimana?

Jangan khawatir, aku masih dapat merit, kok. Strata kedua untuk pemeringkatan nilai dan gelar kelulusan. Adapun untuk menambah khazanah pengetahuan bagi pembaca sekalian, nilai bin status kelulusan di Enggres ini dibagi jadi 4, antara lain adalah gagal, lulus, merit, dan tertingginya distinction.

Berdasarkan pengalaman tersebut itulah, ditambah dengan pengamatanku terhadap teman-teman mahasiswa Endonesa di kampusku, aku menyimpulkan bahwa, jangan khawatir, kuliah di tempatku nggak sesusah itu. Malah waktu ngobrol sama Hendrianto, teman beda jurusan di Warwick, lulusan Teknik Dirgantara ITB, kami akhirnya menyimpulkan kalau beban kuliah S-1 di Endonesa itu lebih berat. Justru dari awal kenal pendidikan formal, kita sudah dibebani dengan segala jenis pe-er binti tugas-tugas lainnya. Kami berdua merasa kuliah S-2 di Warwick tidaklah sesusah itu. Setiap mahasiswa Endonesa yang berhasil keterima buat kuliah di Warwick artinya memang sudah memiliki kualifikasi kalau untuk sekadar lulus dengan predikat biasa-biasa aja. Tinggal perkara kitanya aja dalam menyikapi beban tugas yang ada.

Tidak susah di sini tentu ada alasannya. Meskipun terkesan berat, sebenarnya ini simpel. Dosen-dosenku di kampus selalu bilang, tidak ada benar atau salah untuk kesimpulan dalam PMA kami. Selama ada sumber literatur yang valid dan mendukung, jawaban apapun dalam PMA kami bisa diterima. Yang lebih penting buat penulisan PMA adalah bagaimana kami harus berpikir kritis terhadap persoalan yang diajukan, bagaimana kami menyusun premis-premisnya, serta bagaimana kami menyajikan argumen-argumen kami sebagai kelanjutan dari data dan informasi yang kami kumpulkan.

“Wah, ya jelas itu makananmu sehari-hari, Mas,” kata Aan, adik kelasku waktu S-1 dulu waktu dia nanya-nanya soal kuliah di Warwick ini. “Hobimu, kan, debat sama orang,” begitu katanya.

Dosen-dosen di tempatku juga suportif. Mereka bisa diajak diskusi kapan aja selama jam kerja dan mereka sedang nggak ngisi kelas. Beberapa mahasiswa yang memang niat kuperhatikan sering banget nanya-nanya ini-itu ke dosennya. Aku? Ah, aku nggak serajin itu. Kalau biasa-biasa aja aku masih bisa lulus dengan merit, ngapain bersusah-payah cuma buat dapat distinction? Toh merit aja sudah lebih dari cukup buat nggaya di depannya si gendut Bramantyo Erlangga. Tapi tentu beda cerita buat kalian-kalian yang memegang value bagaimanapun caranya harus bisa lulus dengan predikat distinction :mrgreen: Pesanku, hati-hati stress. Itu sahaja πŸ˜›

Tapi soal stress ini sebenarnya jangan khawatir juga. Kampus sangat-sangat perhatian untuk soalan macam ini. Kampus menyediakan fasilitas buat konseling bagi mahasiswanya. Bahkan kalau memang stress beneran, mereka bakal ngasih rekomendasi ke dosen pengampu supaya si mahasiswa malang ini dikasih perpanjangan waktu penyelesaian tugas, baik PMA maupun tugas akhir. Pendeknya, sakit yang bersifat baik fisik maupun psikis, kalau menurut mereka bisa mengganggu performa si mahasiswa, mereka sungguh sangat tidak menganggap remeh.

Di sisi lain, bentuk perhatian kampus ini menurutku kadang juga berlebihan. Beberapa rekan mahasiswa kutahu bisa memperpanjang masa deadline PMA-nya hanya gara-gara geraham bungsunya tumbuh. Yungiliiih…manja nemen rika kiye, sungut batinku πŸ‘Ώ

Yang ketiga, Mas Joe, di luar negeri ada sidang buat tugas akhirnya, nggak?

Nhaaa…khususon buat yang ini aku harus menjawab kalau di kampusku masih ada pendadarannya.

Memang…memang rata-rata kampus di Enggres sudah nggak pakai sidang lagi buat disertasinya. Betewe, di sini nggak ada pembedaan istilah buat tugas akhir mahasiswa. Final project, apapun kastanya, mau S-1, S-2, atau S-3, di sini sebutan umumnya tetap dissertation alias disertasi. Nggak ada pembagian macam skripsi buat S-1, tesis buat S-2, maupun disertasi buat S-3. Akibatnya kemarin-kemarin ini banyak sohibul di Endonesa yang nyangkain aku ngambil PhD di Warwick, gara-gara aku sering curhat di media sosial seputar penulisan disertasiku.

Balik lagi ke soal sidang. Di jurusanku masih ada pendadaran setelah pengumpulan disertasi, nggak kayak jurusan sebelah atau bahkan kampus lainnya di Enggres yang begitu kita ngumpulin hasil disertasi maka selanjutnya kita sudah bisa pesta-pesta. Di tempatku, aku masih harus menghadapi dosen penguji. Semprulnya, kemarin ini aku kebagian course leader jurusanku buat menguji materi tugas akhirku. Yang terhormat Prof. John Waller, yang maunya cukup dipanggil dengan “John” saja, berkenan mempertanyakan isi disertasiku.

“Wow, John Waller? Good luck to you,” demikian kata beberapa sejawat yang tahu kalau pengujiku adalah kepala jurusan. Lagi-lagi untuk menambah khazanah pengetahuan bagi segenap pembaca yang budiman dan budiwoman, CMIIW, “good luck to you” di Enggres punya makna yang berbeda dengan “good luck” yang biasanya kita kenal. Kalau kita pengen mendoakan kesuksesan orang, kita cukup bilang, “Good luck,” tapi kalau kita skeptis bahwa si orang itu bakal berhasil, orang-orang Enggres bakal bilang, “Good luck to you.” Ini semacam, “Aduh, aku nggak yakin kamu bakal sukses, sih. Tapi ya…semoga sampeyan selamat sampai di tujuan aja, deh.”

Mbah John ini memang terkenal detail dan rada-rada rigid orangnya. Di mata kuliah yang diampunya, “Information System Management”, PMA-ku dikritik habis-habisan, meskipun secara tertulis, sih. Sumber literaturku dipertanyakan, konstruksi berpikirku dinilai kurang solid, argumenku dianggap lemah. Alhasil aku cuma dapat nilai pass sahaja alias lulus, tanpa embel-embel merit apalagi distinction. Padahal modul tersebut kugadang-gadang sebagai tempatku mendulang medali emas mengingat, yaelah…ini, kan, hafalan jaman S-1 dulu πŸ‘Ώ

Ini 1 pelajaran lagi buatku: jangan sok jago. Di atas langit masih ada langit. Di atas Joe Satrianto masih ada John Waller.

Mbah John sendiri, waktu aku masuk ke ruang sidang, beliau langsung bertanya, “Are you ready?”
Terus terang kujawab, “To be honest, I’m not ready yet.”
“But I’m ready for you,” katanya lagi sambil nyengenges.

Entut!

Tapi meskipun sempat ndredeg di awal, secara keseluruhan sidangku berjalan lancar. Aku bicara selama 20 menit sampai harus distop sama Oom Darian Brookes, supervisor disertasiku. “Stop, le. Stop. Jatahmu ngomong cuma 10 menit. Ini kamu sudah ngomyang selama 20 menit, le,” katanya.

Wah, apa iya? Aku juga nggak nyadar, je, kalau aku sudah nyerocos selama itu. 2 shots tequila yang kutenggak sebelum pendadaran ternyata benar-benar memperlihatkan efeknya. Aku nge-rap dalam bahasa bule.

Ini sebenarnya adalah hasil pengamatan dan temuan teman-temanku. Jadi ceritanya begini… Setiap akhir modul di Jumat malam, biasanya aku dan beberapa teman sekelasku mengevaluasi hasil perkuliahan selama seminggu di pub kampus yang berjudul The Dirty Duck. Kata mereka, setiap habis menenggak 1 shot tequila wajahku mulai memerah. Shot kedua aku mulai ngasih ceramah, biasanya tentang bagaimana cara berkomunikasi yang baik dan benar dengan wanita. Shot ketiga, aku mulai bercanda sambil ngomong jorok. Shot keempat, aku nggak malu-malu lagi buat teriak-teriak.

Shot kelima? Nggak ada. Cukup. Aku nggak mau ngawal pulang anak orang yang muntah-muntah di jalan.

Tentunya semua kelakuanku di pub itu menggunakan bahasa Enggres, padahal sehari-hari aku cukup pendiam di kelas (ya kalau ribut sendiri, apalagi pas dosennya Pak Nilesh Lathia, tentu aku bakal disetrap disuruh keluar kelas. Beliau sudah makan korban beberapa spesies manusia). Selama setahun lebih dikit di Enggres nyatanya sampai sekarang aku masih punya kebiasaan mikir grammar dulu sebelum ngomong. Mungkin ini gara-gara dulu aku selalu diejek bahwasanya grammar-ku amburadul. Tapi berkat tequila segala ketakutanku sirna. Skill English-ku datang sendiri tanpa diminta.

“Lo nyadar nggak, Mas, lo tadi ngomong apa aja?” demikian tanya Naufal, anak Endonesa di kelas sebelah yang biasanya suka nyusulin ke Dirty Duck meskipun di minggu itu dia nggak ada jadwal modul.

“Wah, aku lupa e,” jawabku.

Nah, Naufal ini yang pada akhirnya membuatku sadar, 2 shots tequila akan lebih banyak membawa manfaat ketimbang mudharat bagiku.

Di samping itu, gara-gara materi ceramahku di pub, anak-anak dari negara lain yang kebetulan 1 fakultas denganku, tiap ada yang nanya, kenal sama aku atau nggak, selalu bilang, “Oh, Ditto? The Indonesian guy who has 2 girlfriends?”

Padahal ya enggak. Tatjana Saphira itu, kan, bukan pacarku πŸ˜›

Balik lagi ke soal pendadaran. Setelah sesi tanya-jawab selesai, aku yang harap-harap cemas dengan hasil disertasiku kontan bertanya ke Darian dan John, “Boss, kira-kiranya saya bakal lulus atau nggak, sih?”

Jawab Darian, “Tenang…saya pernah ngeliat yang lebih jelek dari ini, kok.”
John juga nambahin, “Setidaknya kamu lebih niat ketimbang beberapa mahasiswa lainnya yang di bawah supervisi saya.”

Ah, gembus. Mereka nggak menjawab pertanyaanku.

Selanjutnya aku disuruh keluar ruangan. Biasalah, mereka mau diskusi soal nilai yang pantas buatku. Aku pun keluar. “Lulus, kok, Mas. Pasti lulus,” kata Ichsan dan Darisa yang nungguin aku pendadaran di luar ruangan. “Tapi ya paling pass aja, sih,” sambung mereka.

“Gembus!” makiku, “Enak saja!”
“Lho, katanya kamu nggak peduli mau dapat nilai berapapun. Katanya yang penting lulus?”

Iya, sih. Aku nggak peduli mau dapat nilai berapapun, aslinya. Yang penting pulang ke Endonesa bawa gelar supaya aku nggak perlu ngganti uang beasiswaku. Cuma, life itu konon is a moving target, kata Mas Andrias Ekoyuono. Lha kalau cuma sekadar lulus tentunya susah bagiku untuk dapat rekomendasi buat ngelanjutin ambil PhD dalam bidang fisika kuantum, kan? 😈

Kelanjutannya, beberapa menit kemudian aku dipanggil masuk. “Kami mendoakan masa depan yang gilang-gemilang untukmu, anak muda. Nih, rekomendasi hasil kuliahmu,” kata Mbah John.

Kubuka lembar rekomendasi itu. Aku girap-girap. Merit, sodara-sodara! Aku dapat merit. Mampus kau, Bramantyo Erlangga!

“Eee…jangan senang dulu,” kata Oom Darian, “itu cuma rekomendasi. Nilai resmimu masih perlu dirapatkan sama senat kampus. Ya moga-moga aja nggak turun, sih, nilainya.”

Aku tetap nyengir. Aku tahu, seburuk-buruknya nilaiku, aku bakal tetap lulus. Dalam sejarah Warwick, wa bil khusus di departemenku, hasil rekomendasi itu susah buat diubah apalagi dianulir, kecuali di kemudian hari aku ketahuan melakukan tindakan plagiat atau ketahuan kalau disertasiku adalah hasil kerjaan biro jasa.

 

View this post on Instagram

 

A post shared by Joesatch (@masditto) on

Terus, Mas Joe, level disertasi yang diharapkan sama kampus sebenarnya sampai segimana, sih?

Kalau mau bicara level, sih, sebenarnya nggak ribet juga.

Jadi ceritanya gini… Waktu itu aku kepengen bikin masterplan untuk implementasi Electronic Customer Relationship Management (e-CRM) di pabrik tempat kerjaku. Dengan rencana yang seperti itu tentunya aku perlu mengetahui tugas pokok dan fungsi dari seluruh unit yang ada di pabrikku, terutama tugas dan kebutuhan mereka yang melibatkan interaksi dengan klien. Setelah itu aku juga perlu mempelajari konsep CRM yang cocok untuk diterapkan di pabrikku, kemudian menentukan software e-CRM buatan vendor mana yang paling efektif dan efisien.

Sewaktu presentasi proposal disertasi, supervisorku, si Oom Darian itu tadi bilang, “Don’t get me wrong. Ini bagus. Bagus sekali malahan. Cuma perlu diingat, waktu efektifmu untuk nulis disertasi cuma sekitar 3 bulan. Jadi saran saya, coba cari topik lain yang masih berkaitan dengan e-CRM, yang kira-kira bisa ditulis dalam waktu 3 bulan. Itu kalau kamu masih kepengen ngutak-atik e-CRM, lho.”

Aku manggut-manggut.

“Sebenarnya,” lanjut Darian, “Kalau cuma pengen sekadar lulus dari Warwick, kamu cukup ambil 3 jurnal – tentang e-CRM, dalam kasusmu – kemudian kamu telaah ketiga jurnal itu, bikin perbandingannya, terus tulis review-nya. Itu cukup.”

“Itu cukup, Boss?” tanyaku nggak percaya. Lha, gembus ik… Masak iya lulus dari UGM malah jauh lebih rumit ketimbang lulus dari Warwick?

“Iya, segitu aja sudah cukup, kok, kalau pengennya cuma sekadar lulus,” jawab Darian sambil senyam-senyum.

Ah, tapi apa serunya kerjaan seenteng itu? Di mana nilai tambahnya buat lingkunganku, coba? Maka ya sudah, aku tetap dengan rencana awal, hanya saja ruang lingkupnya kupersempit. Aku mau bikin analisis kesiapan sumber daya di pabrikku dalam rangka nerapin e-CRM aja, dah!

1 hal yang perlu diperhatikan ketika proses penulisan disertasi ini adalah rutin untuk berkonsulitasi sama supervisor kita, supaya kerjaan kita tetap berada pada trek yang benar. Ini Darian sendiri yang cerita, betapa ada 1-2 mahasiswa bimbingannya yang ngeles terus tiap diajakin ketemuan. Begitu sekali-kalinya ketemuan tulisannya pada amburadul, sementara deadline pengumpulan disertasi sudah tinggal beberapa hari lagi.

Padahal ya, menurutku Oom Darian ini sudah baik. Dia sudah mau nyusunin jadwal ketemuan buat tiap mahasiswa bimbingannya. Yeah, meskipun tempat ketemuannya agak jauh, sih. Aku seringnya ketemuan di Starbucks daerah Kenilworth. Belau, eh, belagu, eh, beliau kayaknya punya bisnis di sekitaran situ. Lumayan jauh juga dari Earlsdon, tempat tinggalku. Sekitar 20-30 menit perjalanan naik bislah.

Tapi aku suka ke Kenilworth. Suasananya enak, nggak suram kayak Earlsdon yang macam tempat Dementor buang anak.

Adapun dalam perkara penulisan disertasinya, aku sungguh-sungguh bersyukur ada sejawat semodel Naufal dan Raja. Kedua remaja tua tersebut tinggal tidak serumah denganku, tapi demi kelancaran pengerjaan disertasi, mereka berdua sepakat menjadikan tempat tinggalku di 108 Kensington Road, Coventry CV5 6GL, United Kingdom sebagai kamp konsentrasi selama sebulan menjelang hari pengumpulan. Kondisi tersebut sungguh sebuah situasi yang celaka bagiku.

Dengan hadirnya mereka berdua mengisi hari-hariku, ditambah Hendrianto yang rutin datang untuk diskusi setiap beberapa malam kalau progress disertasinya stagnan, aku jadi kehilangan waktu buat bermalas-malasan. Naufal selalu ngomel setiap aku minta timeout. Kadang dia keluar buat beli bir. “Nih, udah gua beliin, Mas. Lo nggak ada alasan lagi minta timeout buat jalan-jalan keluar,” kata si kampret.

Jam tidur siangku juga terganggu. “Please-lah, Fal. Aku tidur siang dulu. Ngantuk e. Semalam, kan, begadang.”
“Oke, power nap 30 menit ya!” Dan semprul, setengah jam kemudian aku benar-benar digugahnya. Dengan terkantuk-kantuk aku terpaksa bikin kerangka intisari dari jurnal-jurnal yang kubaca.

Hanya saja sebenarnya aku sempat curi-curi nonton serial Kamen Rider juga. Kalau Naufal atau Raja balik buat mandi di rumah mereka masing-masing, surga buatku. Alhasil h-2 minggu barulah aku efektif buat benar-benar nulis disertasi. Tidak ada baca komik dan nonton Kamen Rider sama sekali. Itupun jilidan disertasiku baru selesai di hari pengumpulan, jam 1 siang, lalu kedandapan ke kampus sebelum sekretariat tutup jam 4 sore. Karena itu, nasehatku, jangan nonton serial Kamen Rider sama sekali pada masa penggarapan disertasi. Kalau serial lainnya, sih, silakan sahaja dicoba. Aku nggak tahu hasilnya karena aku nggak mengalaminya πŸ˜›

Intinya, sih, simpel. Fokus aja selama pengerjaan disertasi, ikuti aturan main yang ada, sesuaikan printilan lainnya lalu jadwalkan sesuai selera kita, dan disiplin mengikuti jadwal yang telah kita susun sendiri. Kalau kebetulan sampeyan jenis orang yang suka menunda-nunda binti bermalas-malasan sepertiku, jangan ragu untuk menyerahkan tugas pengendalian dan pelaksanaannya di bawah supervisi pihak lain, Raja dan Naufal, misalnya kalau dalam kasusku. Biarkan orang macam mereka sewot dan cerewet ketika sampeyan mulai hilang kendali. Tiada perlu sakit hati. Toh ini demi kelancaran studi daripada ente sendiri.

Sebenarnya bergabungnya Raja dan Naufal di kamp konsentrasi Kensington Road ini semacam blessing in disguise juga. Rumah Raja, misalnya, dihuni bukan cuma oleh manusia dari Endonesa sahaja, melainkan sama mahasiswa Jerman juga yang terkenal strict soal aturan kebersihan rumah. Termasuk dalam hal tersebut adalah kenyataan bahwa Raja nggak bisa kebal-kebul asap rokok sambil nggarap disertasi. Naufal serupa tapi tak sama. Rumahnya memang dihuni pelajar Endonesa lainnya. Tapi fakta bahwa penghuni lainnya adalah remaja putri membuat Naufal juga nggak bisa memenuhi hasrat merokoknya.

Padahal dalam situasi tugas akhir macam begini, bagi kami, rokok adalah nutrisi jaringan otak alias obat goblok.

Maka hadirlah kos-kosan ala Jokja sebagai solusinya. Ginar pernah bilang, waktu dia nyambangi rumahku, “Ini suasananya nggak kayak di Enggres, Mas. Ini, kok, kayak kos-kosan di Jokja ya?”

Yeah, kebetulan aku tinggal bareng 2 mahasiswa level PhD di situ, di mana mereka kebetulan malah jarang ngendon di rumah. Mas Ical lebih banyak beredar di Amerika dan Hungaria buat proyek-proyek akademisnya, sementara Alfian lebih suka bersemayam di lab kampusnya. Kalau nggak nginep, dia pulangnya larut pagi sekali. Jadilah kami – maksudnya aku, Naufal, dan Raja – bisa nulis disertasi dengan bebas (mengebulkan) asap rokok. Sesekali dicampur rajangan ganja juga, sih.

Soal ganja, Hendrianto malah sempat urun usul, “Gimana kalau kita nyobain lysergic acid diethylamide juga, Mas? Aku penasaran.”
Kontan usul tersebut kami tolak. “Wah, enggak…enggak! Aku enggak kalau udah yang bukan herbal lagi,” jawab kami. Yeah, pembelaan kami, kalau ganja, selain memang herbal, toh di perpustakaan kampus kami sendiri ada banyak jurnal-jurnal yang menyebutkan manfaat canabis bagi kesehatan mental πŸ˜›

Lagipula ganja memang halal buat dikonsumsi di Enggres sini. Yang dilarang adalah jual-belinya. Kalau sudah begini tentu timbul pertanyaan, bagaimana kita bisa mendapatkan ganja untuk dikonsumsi tanpa aktifitas jual-beli? Hohoho, itulah yang namanya retorika. Yang jelas, kalau kita kebetulan kena razia (biasanya aku selalu keciduk kalau ada razia orang ganteng di City Centre) lalu kedapatan bawa ganja, selama bobot barangnya nggak lebih dari sekian gram (aku lupa, je, tepatnya berapa), itu nggak masalah. Kita bakal dilepas kalau alasannya adalah untuk konsumsi pribadi.

Yang keempat, Mas Joe. Bagaimana dengan kendala bahasa? Bahasa Enggres akika levelnya harap maklum sekali, lho. Akika tiada pede, apalagi kalau urusannya adalah bahasa Enggres untuk kepentingan akademik

Jangan khawatir. Aku juga sempat curhat soal itu ke Bu Margaret, personal tutor-ku. Kata dia ya sama kayak kataku sekarang: “Jangan khawatir.”

Maksudnya gini, kampus-kampus di Enggres sudah mensyaratkan nilai IELTS skor sekian sebagai salah satu faktor kelayakan kita untuk kuliah di sana. Kalau nilai kita setidaknya sudah sama dengan skor minimal yang disyaratkan oleh pihak kampus, ya sudah, nggak usah khawatir. Itu artinya kita memang – secara penguasaan bahasa – sudah layak untuk ikutan kuliah di sana. Jangan menilai rendah diri kita sendiri, deh, ih!

Soal bahasa akademik, aku juga sempat khawatir karena yang kukuasai lebih ke bahasa pasaran. Itupun dengan slang dan pengucapan ala Amerika, mengingat bahwa, memang budaya Amerika-lah yang lebih banyak terserap oleh kita-kita di Endonesa ini. Si Ichsan malah sempat dikomentarin sama orang lokal sewaktu di bis. “You’re so American,” kata orang tersebut. Padahal…apaan! Apanya yang Amerika, wong Ichsan ini aslinya tinggal di Bojonggede (eh, Bojonggede atau Tebet ya? Aku lupa), kok.

Betul bahwa logat sempat jadi masalah buatku. Aksen Enggres agak-agak aneh buat kupingku. Butuh sekitar 3 bulanan bagiku untuk tidak sering mengucapkan “sorry” atau “pardon” lagi sebelum meminta lawan bicaraku mengulangi kalimatnya. Tapi setelah itu ya sudah. Semuanya lancar-lancar belaka. Lancar berdasarkan versiku lho, ya.

Kuncinya, sih, nekad-nekadan aja. Di warung es krim, misalnya, aku nggak akan segan buat nanya ke pelayannya, “Maaf, bos. Saya pengen pesan yang itu. Gimana, sih, cara ngomongnya yang benar?” Dan mereka senang-senang aja mengajariku penyebutan kata-kata yang selama ini asing buatku.

Di kampus… Ini enak. Di kampus justru ada aturan yang melarang mahasiswanya menggunakan proof-reader dalam pengerjaan PMA ataupun tugas akhir. Pak James Pennington, dosen yang kelasnya paling banyak kuambil, malah bilang, “Saya sangat paham sekali kalau bahasa saya bukanlah bahasa ibu kalian. Jadi jangan takut. Jangan takut kalau penulisan kalian grammar-nya acakadul. Nggak pa-pa. Selama ide dan maksud tulisan kalian bisa dipahami, itu sudah cukup. Justru karena bahasa Enggres bukanlah bahasa kalian, saya bakal curiga kalau tulisan kalian struktur kalimatnya sempurna. Kalau macam itu, itu pasti tulisan kalian dibikinin orang lain, dan, selain plagiarisme, kami sangat tidak menoleransi hal tersebut.”

Kelanjutannya, di dalam kelas, dosen-dosenku pun sebisa mungkin bicara dalam bahasa Enggres pada level yang sedasar dan sesimpel mungkin. Oh, Warwick…aku cinta kau!

 

View this post on Instagram

 

A post shared by Joesatch (@masditto) on

Tapi soal bahasa-bahasaan ini, aku sempat dapat pengalaman yang menurutku semprul tenan. Jadi sudah jamak diketahui bahwasanya dalam bidang pendidikan pun tidak luput dari pengaruh bisnis. Maka berhubung dalam 1 dekade terakhir perekonomian Republik Rakyat Tiongkok sedang maju pesat, banyak pelajar dari Tiongkok yang datang untuk kuliah di Eropa. Di Amerika pun juga begitu, menurut kesaksian beberapa sejawatku yang kuliah di situ.

Saking banyaknya mahasiswa Tiongkok yang sekolah di Warwick (dan kampus-kampus di Enggres lainnya), kesannya aku malah jadi kayak kuliah di Shanghai atau Guangzhou. Mereka mayoritas. Bahkan di kelasku pun mahasiswa yang non Tiongkok bisa diitung jari, di antaranya adalah aku dan Nina yang dari Endonesa, Naofumi yang dari Jepang, Eduardo dari Peru, Constantinos dari Cyprus, Janet dari Hong Kong (dia nolak disebut sama dengan orang Tiongkok meskipun Hong Kong sekarang ya bagian dari Tiongkok juga. “Beda,” katanya, “aku pakai bahasa Kanton, kok.”), Keane dari Muangthai, dan Ruth dari…errr…Tiongkok juga, sih.

Tapi si Ruth nggak mau disebut kayak orang Tiongkok lainnya pada umumnya, alias orang Han. Di awal perkenalan, dia sudah wanti-wanti kalau dia bukan orang Han, dia keturunan Mongolia.

Di beberapa kesempatan berikutnya, kalau pas ketemu Ruth dan aku lagi sama teman yang lain, mereka berdua kukenalkan, “Ini teman sekelasku, Ruth, dari Tiongkok. Tapi dia bukan orang Han, dia keturunan Mongol.”

Si Ruth nyengir. Katanya, “Ditto, you always remember the most important part.”

Balik lagi ke soal betapa mahasiswa Tiongkok jadi mayoritas di kelasku. Beberapa (kalau nggak mau disebut banyak) dari mereka English-nya masih a’ak-u’uk. Nggak heran, di kampus pun mereka maunya cuma ngumpul dengan sesamanya, sesama orang Tiongkok. Maka ya pantas aja English-nya nggak lancar-lancar. Mahasiswa-mahasiswa Tiongkok ini beda sama mahasiswa-mahasiswa…errr…ras Cina lainnya seperti Hong Kong, Taiwan, atau Macau. 3 yang disebut terakhir ini mau membaur dengan teman-teman internesyenel lainnya. Entah juga kenapa bisa beda gitu.

Saking nggak lancarnya bahasa Enggres mahasiswa Tiongkok ini, aku sempat ketiban sial pas pembagian kelompok buat mini-project di kelas “Big Data, Analytics and Visualisation”. Aku kebagian kelompok di mana 5 orang lainnya adalah orang Tiongkok dan akulah satu-satunya mahasiswa non-Tiongkok di situ. Gembelus lojonicus berculae-nya, di awal briefing kelompok, mereka bahkan bilang, “Ditto, mohon mangap, kami lebih nyaman bicara dalam bahasa China. Jadi kami bakal diskusi dulu, setelah itu nanti hasil diskusinya kami mintakan pendapatmu.”

Bah! Macam pejabat eselon II aja aku jadinya. Anak buahku yang kerja, aku tinggal nerima laporan buah karya mereka. Maka dengan pura-pura tabah – berhubung aku adalah kaum minoritas – aku cuma bisa ngoke-okein ajalah sama kemauan mereka.

Di akhir modul, sambil mindik-mindik takut kedengaran sama mahasiswa asal Tiongkok lainnya, aku protes ke Pak Michael Mortensen, sang pengampu mata kuliah. “Hello, Sir, buat evaluasi aja nih ya. Maap-maap aja nih ya… Mbok besok-besok kalau memang cuma ada 5 mahasiswa non-Tiongkok di kelas, khususon kami yang bukan Tiongkok nggak perlu lagilah diacak kelompoknya. Biarin aja kami ngumpul dalam 1 kelompok. Minggu ini saya merasa tidak bisa berkontribusi dengan optimal di kelompok saya gara-gara si Komo lew…, eh, gara-gara mereka ngomongnya pakai bahasa mereka melulu. Manalah saya paham mereka lagi diskusi apa, coba?”

Pak Michael ngangguk-ngangguk. “Kayaknya ini memang isu nasional, deh. Saya sudah dengar keluhan serupa keluhanmu dari kelas sebelah juga. Baiklah, ini kami jadikan evaluasi serius buat tahun ajaran depan,” kata Michael sembari mengingat bahwa modul kali itu adalah modul terakhir di tahun ajaran 2016/2017.

Itulah semprulnya ketika sektor pendidikan pun sudah jadi lahan yang dibisniskan. Kampus jadi menerima mahasiswa yang nilai IELTS-nya nggak mumpuni selama mereka masih mau membayar lagi untuk kelas persiapan bahasa Enggres selama beberapa bulan sebelum tahun ajaran baru dimulai. Kelas persiapan ini berbiaya lumayan mahal (mahal dalam versiku, sih). Tapi buat manusia-manusia dari negara yang ekonominya sedang tumbuh gila-gilaan, kelas ini laris manis tanjung kimpul. Kelas habis, Inggris makmur.

Sejawat internesyenel lainnya banyak pula yang herman, eh, heran. “Kok, bisa ya mereka tetap diterima di Warwick, padahal syarat nilai IELTS kita lumayan, lho?” tanya salah 1 oknum dari mereka.
Kujawab, “Lha, mereka mau bayar buat kelas preparation, kok. Lagipula, seandainya pun mereka nggak mau ikut kelas preparation, ingat, ini Tiongkok. Pesawat tempur aja bisa dibikin barang palsunya, apalagi cuma selembar sertifikat IELTS. Gampanglah buat dapat nilai IELTS 7,5 atau 8,5 sekalian.”

Aku juga sempat ngobrol sama salah seorang pengajar kelas persiapan pas nongkrong di Varsity, restoran di sudut lain kampusku. Aku iseng nanya, “Sebenarnya performa English anak-anak Tiongkok yang ikutan kelas persiapan ini gimana, sih, Oom?”
“Very awful,” jawab si oom. “Mereka bahkan masih kesulitan ngeja kata per kata dalam sebuah kalimat,” tambahnya nyengenges.

Ealah…pantes aja pada susah diajak jagongan bareng.

Selebihnya dan sejujurnya, dalam persoalan bahasa, terutama yang berhubungan dengan soalan akademik, aku masih berlaku agak sangat curang sedikit sekali. Soal nggak boleh pakai proof-reader, aku memang sama sekali tidak pernah menggunakan proof-reader yang berupa manusia hidup. Alih-alih pake proof-reader, aku make aplikasi yang judulnya “Grammarly”. Aku bahkan berlangganan versi premiumnya, di mana di situ ada menu pemeriksaan dan pembenaran kosakata dan gramatikal sesuai dengan kebutuhan dan tujuan penulisan. Dalam konteksku, tentu aku membutuhkan koreksian untuk esai-esai di PMA dan disertasiku.

1 hal, aku tidak membutuhkan tingkat akurasi bahasa sampai dengan 100%. Malah tingkat akurasi 90% pun kuhindari. Aku cuma butuh pembenaran dari aplikasi tersebut sampai dengan sekitar 70-80% sahaja. Main amanlah, istilahnya.

Jadi, sidang pembaca sekalian yang dirahmati Allah, dengan berakhirnya pembahasan soal kendala bahasa, berakhir pulalah obrolan kita soal pengalaman akademisku kuliah di jurusan e-Business Management, fakultas Warwick Manufacturing Group, kampus the University of Warwick. Semoga dalam postingan berikutnya aku berkenan untuk berbagi tips dan trik lainnya tentang bertahan hidup di Enggres, misalnya tentang bagaimana mendapatkan daging kambing ekstra pada saat kita membeli seporsi kebab dari penjualnya yang biasanya adalah keturunan Turki. Doakan saja supaya aku nggak malas menulis perihal-perihal tersebut.

Yang jelas, dari pembahasan di atas dapat kita simpulkan beberapa hal pokok sebagai berikut ini, antara lain:

1. Pertanyakan dan tentukan value kita terlebih dahulu. Value ini akan menuntun kita ke motivasi, yang mana adalah hal yang paling penting dalam menyelesaikan kuliah di luar negeri, wa bil khusus di tempatku. Value juga yang membuatku nekad naik pesawat sendiri ke Eropa untuk pertama kalinya, tengah malam waktu Cengkareng, tanpa kenalan, dan berakhir dengan kebingungan selama 2 jam setelah mendarat di Bandara Birmingham karena nggak tahu harus naik transportasi jenis apa untuk menuju ke Coventry. Semuanya demi bisa ngejek dan nggaya di depan si Bram;

2. Jangan takut ketika menghadapi tuntutan performa dari kampus. Kita mampu, kok. Mahasiswa Endonesa yang berkesempatan untuk kuliah di kampus bergengsi di luar negeri pada dasarnya sudah memiliki potensi yang lebih dari cukup kalau cuma untuk sekadar lulus. Nyatanya kita memang keterima buat ngelanjutin pendidikan di kampus yang bersangkutan, kan? Yang penting jangan keburu menilai rendah diri kita sendiri dululah. Pokoknya selama saat kita ndaftar kampusnya kita nggak main akal-akalan nan keterluan, tidak melakukan kebohongan akademis bin kengibulan administratif macam Dwi Hartanto, semuanya bakal lancar-lancar sahaja;

3. Ikuti aturan main yang sudah ditetapkan kampus – kalau kepengen hasil yang seoptimal mungkin. Tapi lagi-lagi ini kembali ke poin nomor 1. Kalau value kita cukup sekadar lulus belaka, tidak menuntut untuk lulus dengan predikat merit ataupun distinction, silakan agak nakal sedikit. Nakal, lho, bukan kriminal. Hanya saja penting untuk diingat, ketika urusannya adalah urusan yang melibatkan otoritas yang lebih tinggi dari kita, misalnya janjian ketemuan sama supervisor, jangan bandel. Ikuti dulu aja maunya mereka. Jangan macam-macam. Kena deportasi baru tau rasa! πŸ˜›

4. Soal bahasa, nekad-nekadan aja! Kebetulan di Enggres, di mana masih berlaku istilah “manners maketh man”, orang-orangnya memaklumi keterbatasan bahasa kita, kok, kalau tau bahwa kita bukanlah orang lokal (kecuali brandes-brandes yang lagi pada mabuk kalau di pub. Beberapa dari mereka suka agak rese’). Jangan kayak kebanyakan mahasiswa Tiongkok di kampusku. Berbaurlah sama yang lain. Jangan maunya cuma nongkrong sama sesama orang Endonesa belaka. Dan untuk urusan akademik, bolehlah sampeyan pertimbangkan untuk menggunakan Grammarly, serta jangan lupa Google Translate. Itu saja cukup πŸ˜€

Demikian laporan beta sampaikan, mohon komentar dan diskusi lebih lanjut. Terima duit buat jajan nasi bebek di samping pabrik. Hore!

 

View this post on Instagram

 

A post shared by Joesatch (@masditto) on


Facebook comments:

8 Comments

So, what do you think?