Browsing posts in: Daily Waton

Berhenti di 29

Saban kenalan sama orang baru, terutama cewek-cewek, setiap obrolan kami berlanjut ke urusan umur, biasanya aku selalu bilang kalau umurku 29. Aku nggak bohong. Usia adalah penanda lamanya hidup seseorang. Jadi apa salahnya kalau sampai sekarang aku selalu bilang kalau umurku itu 29, oleh sebab-musabab hidupku memang berhenti di umur 29?

Cuma…ya begitulah. Orang sering menasbihkanku sebagai orang yang ngawur. Banyak, sih, yang awalnya memang percaya kalau umurku 29, meskipun setelah ngintip SIM dan katepeku kepercayaan itu pudar kemudian. Tapi tetap saja, aku nggak bohong. Setidaknya secara filosofis umurku memang berhenti di 29. Continue Reading


Lelaki Tukang Ngibul

Barusan aku nengok status Fesbuk-nya Kiki. Dia nge-post lagu lawasnya Michael Learns to Rock yang judulnya “25 Minutes”. Yeah, situ orang lawas pastilah tahu ada cerita apa di lagu itu? Yap, yap, yap, ceritanya tentang cowok yang nyesel gara-gara mantan pacarnya keburu dinikahin cowok lain. Beliau yang kasihan itu cuma terlambat 25 menit sahaja untuk bisa menggagalkan peresmian pernikahan si mbak mantan. Continue Reading


Teman-teman Hebat

Aku ini suka nggak sadar kalau dikelilingi teman-teman yang hebat. Saking nggak sadarnya, kalau pada suatu hari tiba-tiba aku denger kabar tentang temanku yang mendapat apresiasi dari pihak lain yang kredibel, aku malah jadi mikir, heh, apa iya? Masak tho levelnya si kampret ini sehebat itu? Masak ya pantes gembus bercula ini dapat pujian sedemikiannya?

Sirik? Iri? Dengki? Kayaknya bukan. 3 hal macam barusan itu, kan, cuma bisa terjadi jika dan hanya jika kitanya diam-diam memang mengakui bahwa yang bersangkutan memang punya kemampuan di atas kita tapi kitanya nggak terima. Lha, ini nggak kayak gitu, je. Ini lebih ke murni heran, kok, bisa-bisanya teman nongkrongku ini diperlakukan macam begitu? Apa hebatnya?Perasaanku, beliaunya ini ya biasa-biasa aja. Continue Reading


Nggak Enakan

Ternyata aku ini lambat belajar. Setelah jadi manusia selama sekian ratus tahun, yang nggak bisa mati kecuali leherku dipenggal, aku baru sadar belakangan ini kalau ternyata aku punya kelemahan mendasar berupa sifat nggak enakan sama orang, apalagi kalau orangnya berjenis kelamin wanita.

Kadang ini merepotkan. Tapi bukan sejenis repot yang timbul gara-gara ada orang yang minta bantuan (biasanya, sih, bantuan finansial). Untuk jenis kerepotan yang seperti itu aku sendiri suka nggak sadar. Sadarnya kalau pas sudah mau tidur, biasanya. Baru kerasa capeknya. Bantuan sejenis nemenin temen belanja meskipun aku sendiri nggak beli apa-apa, ndengerin curhatannya anak gadis orang, dimintain pendapat untuk urusan yang bersifat metafisik, yang begitu itu – kalau mau dilihat dari kacamata egois – jelas menyita waktuku. Ada banyak hal produktif lainnya yang bisa kukerjakan untuk diriku sendiri seandainya saja aku tega menolak permintaan bantuan yang remeh-temeh itu, misalnya bermalas-malasan. Continue Reading


Orang Bodoh dan Beasiswa

Kapan hari di tahun kemarin, Hanna, adik kelasku jaman mahasiswa S-1 sempat nanya, “Mas, caranya dapat beasiswa gimana, sih?”

Waktu itu aku memang relatif baru dapat beasiswa buat sekolah lagi di Enggres sini, dan berkat mulut besarku sendiri akhirnya berita itu cepat menyebar. Biasalah, aku ini, kan, orangnya suka pamer, meskipun pembelaan dariku tentang sikap suka pamerku ini adalah untuk memotivasi kaum di sekitarku. Pendeknya aku memang hobi sekali bertingkah semacam, nah, aku bisa kayak gini, kalian bisa apa coba? 😈

Jadi untuk menjawab pertanyaan Hanna via Whatsapp tersebut aku kemudian berujar 1 kata: “Pintar.” Continue Reading


Tidak Tahu Harus Minta Apa?

Ya Rabb, ya Tuhan semesta alam, sesungguhnya hamba ini sedang bingung. Bingung karena nggak tau kelakuan hamba yang berikut ini bakal dikategorikan congkak binti arogan atau tidak. Kelakuan hamba ini seputar permintaan-permintaan dan harapan yang lazimnya dilakukan di setiap awal tahun. Wa bil khusus awal tahun 2017 ini.

Jadi begini, ya Rabb… Demi Kamu-sendiri, ya Tuhan, hamba bingung harus minta apalagi ke hadiratMu. Bukan apa-apa…hamba cuma merasa semua yang Kamu kasih sudah sangat cukup, bahkan cenderung berlebih. Continue Reading


Aku Cuma Nggak Mau Kamu Ikut-ikutan Gobloknya Awkarin

“Kayaknya lebih baik kamu nggak usah kenal aku terlalu dekat, deh, Joe.”

“Lha, kenapa?” tanyaku.

“Dunia kita beda. Kamu orang baik, aku…aku ya kayak yang kamu lihat gini.”

“Gini gimana?” lanjutku sambil mesem.

“Nggak usah pura-pura bego, deh.”

“Ah, nggak ada gunanya juga. Aku pura-pura pun kamu juga tetap tahu kalau aku ini aslinya pinter,” elakku. Continue Reading


Hai, Anggi

Jaman kuliah sarjana dulu aku punya temen cewek namanya Anggi. Anaknya pinter (setidaknya lebih pinter ketimbang kuartet Yosepin, Yanto Ucup, Saber, dan Bongkre yang lulusnya injury time), nilai mata kuliahnya nyaris A semua (IPK totalnya nggak perlulah ta’sebut karena khawatir menyinggung SARIP: Suku, Agama, Ras, dan Indeks Prestasi), padahal – menurut pengakuan yang bersangkutan sendiri – kerjanya cuma main game online. Mbuh waktu kecil beliau ini dipakani apa sama orangtuanya. Mungkin dedak sama kroto. Nggak mungkin nasi. Lha, wong buktinya aku dan 4 karakter di atas yang makannya nasi nyata-nyata kalah pinter dari dia, meskipun kami juga sudah njajal mencontoh pola hidupnya. Ikutan rajin main game online, misalnya. Continue Reading


Sombong dan Dilema dan Paradoks

Semalem aku nggak bisa tidur. Entah kenapa, mungkin gara-gara kebanyakan ngopi. Saking nggak bisa tidur itulah pikiranku malah jadi ke mana-mana sendiri (karena aku geletakan di kasurnya sendiri jadi ya mikirnya juga sendiri. Coba berdua sama gadis manis, boleh jadi aku malah nggak pake mikir lagi. Mungkin langsung hajar bleh sahaja). Beberapa hal yang sudah lewat kemarin-kemarin mendadak malah mampir. Untunglah nggak ada problem bin masalah berat, kecuali yang kubuat sendiri jadi sok berat seperti yang berikut ini: Continue Reading


Soal Buku dan Membaca

Aku ini, sungguh mati, sangat jarang diwawancarai, apalagi wawancara tertulis. Heran juga, sih, padahal aku ini lak termasuk jajaran orang top ke-sekian di Endonesa. Bahkan kalau aku lagi mandi, aku ini adalah orang paling top se-kamar mandi. Tapi ya sudahlah, mungkin wartawati-wartawati itu aja yang belum terbuka mata hatinya, makanya belum tergerak untuk mendokumentasikan hikmah demi hikmah yang bisa mereka dapatkan dariku.

Hanya saja akhirnya beberapa hari kemarin tau-tau si Kimi bilang ke aku. Katanya, dia pengen nanya-nanya ke aku soal hobi membacaku, draft pertanyaannya bakal dikirimin ke imelku. Kuiyain aja, soalnya aku juga seneng bisa dapat kesempatan berceramah yang bakal disimak oleh khalayak ramai 😎 Bagaimana isi wawan jaran wawancaranya, silakan simak lebih lanjut sahaja, deh. Read the rest of this entry »


Tidak Baik Jadi Pendendam

Balas dendam itu tidak baik. Konon, sih, begitu. Tapi meskipun sudah dikasih tau kalau itu nggak baik, aku ini tetap saja seorang natural born pendendam. Susah ngilanginnya. Parahnya lagi, aku ini termasuk jenis pendendam yang suka membalas dengan bunganya sekaligus. Kadang bunganya bisa cuma 0,09%, atau kutambahi 100%, atau bahkan kuikhlasin 400%. Nggak ada pedoman pasti untuk itu. Yang jelas rasanya hepi aja kalau ngeliat orang yang berlaku sompret sama aku lalu merangkak-merangkak penuh derita.

Jahat ya?

Lha, salahnya juga dia jahat duluan sama aku πŸ˜› Continue Reading


Pages:1234567...18