Browsing posts in: Cerita Humor

Yang Kita Lakukan

Kadang apa yang kita lakukan tidaklah menjadi masalah bagi orang lain
Kadang yang menjadi masalah bagi orang lain justru karena apa yang kita katakan berbeda dengan apa yang kita lakukan
Inkonsistensi sering menyebabkan mosi tidak percaya, pada akhirnya
Nah, selamat hari Sabtu ๐Ÿ™‚


Kenapa Aku Menyebalkan?

Kamu tidak suka tingkahku, katamu. Menyebalkan, menurutmu. Memang, sih. Problemnya, tidakkah aku tahu tentang hal itu? Sebaliknya, aku justru sangat paham. Tidak ada manusia yang suka dengan manusia lain yang membuatnya sebal. Tentu saja aku tahu. Aku sengaja. Kalau aku bertingkah seperti aku yang seaslinya, nanti kamu malah suka. Itu celaka. Celaka 12,7 soalnya aku juga suka kamu. Kalau kamu nggak balas suka, kan, aku aman-aman saja.



Kenapa Aku Mengejarmu?

Kamu tidak suka dikejar-kejar, katamu. Problemnya, tidakkah aku tahu tentang perkara itu? Sebaliknya, aku justru sangat paham. Perempuan itu tidak nyaman dengan laki-laki yang mengejarnya macam ayam. Tentu saja aku tahu. Sangat tahu. Aku gitu. Makanya aku mengejarmu. Continue Reading


Kusembelih

Hubunganku sama mbak-mbak mantan pacar pada umumnya sehat-sehat sahaja. Meskipun lebih seringnya adalah beta yang ditinggal nikah duluan, tapi kalau untuk repot-repot sakit hati dan merasa terkhianati, aku seringnya nggak punya waktu untuk itu. Ditinggal pacar itu simpel. Buatku, kalau aku sampai ditinggal gadis, berarti kesalahan ada padaku. Aku yang nggak bisa menjaga kadar kemenarikanku di matanya. Aku juga yang nggak bisa membuatnya yakin kalau aku adalah manusia yang sungguh rugi untuk dilepas begitu sahaja. Jadinya ya kayak ngadu jualan barang. Kalau calon konsumen akhirnya beralih ke produk lain alih-alih produk daganganku, konsumen nggak bisa disalahkan. Akulah yang gagal menjawab ekspektasi pasar.

Dari situ biasanya aku dapat feedback, tentang apa-apa yang harus diperbaiki pada produksi seri berikutnya. Siapa tahu besok konsumen yang kemarin batal beli daganganku akhirnya insyaf, terus kemudian beralih lagi kembali mencicipiku barangku (errr…barangku? Kok kesannya jadi agak gimana ya?). Continue Reading


Kirain

“Lho, kan, dulu aku sudah pernah bilang kalo aku suka kamu, tapi habis itu kamunya nggak ngerespon. Malah jual mahal.”

“Kirain kamu cuma main-main, Mas.”

“Makanya tanya.”

“Lagian kamu, kan, punya pacar, Mas.”

“Kata siapa?”

“Kataku barusan.”

“Sekarang? Sekarang, sih, iya. Waktu itu ya enggak.”

“Habisnya fotomu banyak yang berduaan sama cewek, Mas. Kirain…”

“Makanya tanya.” Continue Reading


Kamu dan Teman-teman Kita

Nduk, cah Ayu, sungguh, sungguh kuapresiasi caramu berjuang melupakanku. Semua aksesku menujumu – Fesbuk, Twitter, Y!M, Instagram, Line, Whatsapp, Path, sampai dengan nomer teleponku – yang kamu blok itu, sumpah mati, itu bukan masalah buatku. Kuhargai perjuangan mati-matianmu.

Tentu aku bisa bilang itu bukan problem buatku karena aku lumayan sadar betul tentang kapasitas diriku; wanita mana yang pernah bermain-main denganku yang kemudian sanggup melupakanku? Bukan problem karena aku tahu, aku pernah memainkan peran krusial yang menentukan arah hidupmu saat ini. Maka ini bukan sekedar tentang sun terakhir di sudut gelap salah satu tempat yang tak jauh dari Bundaran HI waktu itu. Continue Reading


Tarik-tarik, Ulur-ulur, Mbak

Begini, Mbak…

Aku ini ndak suka disalah-salahkan, dicap kurang gigih berusaha memperjuangkan hati sampeyan ketika aku sendiri sudah merasa cukup berusaha.

Hidupku bukan s(h)i(t)netron, Mbak. Pun bukan eftivi, bukan juga drama Kroya Korea, di mana sang tokoh utama rela membuang-buang waktunya demi setia menanti pujaan hatinya. Continue Reading


Pledoi

Aku tetap susah mengubah kata-kataku bahwa aku bermain-main dengan cinta karena itu memang keluar dari keseluruhan diriku. Tapi yang kuharap kamu mengerti adalah keseluruhan hidupku main-main. Kalau aku bermain denganmu berarti keseluruhan hidupku bermain denganmu. Apa itu kurang serius?

Ja begitoelah. Analoginya, kalau sepakbola kamu anggap permainan juga, lihatlah betapa aku selalu serius di lapangan sampai megap-megap kehabisan nafas. Continue Reading


Perempuan

Perempuan yang aku kasihani, perempuan yang membuatku merasa bersalah dan punya hutang, perempuan yang rasanya harus selalu ta’jaga bin ta’lindungi, dan perempuan yang memang kusukai. 3 yang pertama sebisa mungkin kuhindari buat kujadiin pacar (lagi). Sudah kapok. Kalo lagi pengen (sedikit) cuek, kok, ya rasanya ada beban.

Jadilah akunya sendiri nggak enjoy waktu menjalani hubungan.

Itu dia alasannya kenapa akhirnya kamu nggak pernah kupacarin sampai sekarang, Beib. Aku takut kalo nanti kamunya kutinggal-tinggal.


Tiba-tiba

Tiba-tiba tersadar
Tiba-tiba berderet-deret
Tiba-tiba teman demi teman
Tiba-tiba menikah semua

Tiba-tiba

Aku merasa ditinggalkan
Sendirian


Pages:12