Mbak Mantan, Cita-cita, Nilai Cara, dan Akhirnya

Kapan hari kemarin aku terlibat obrolan semi-serius sama Ocha, teman ngerokok dan ngebirku yang sekarang sudah tobat. Beneran, kok, beliaunya tobat. Yang bersangkutan sekarang sudah pakai jilbab panjang dan beberapa waktu ke depan bakal kawin.

Aslinya awal obrolan kami ini sama sekali nggak serius, cuma ledek-ledekan biasa aja sambil mengenang masa kejayaan kami di Jokja selayaknya bekas mahasiswa Jokja yang sesekali tempo ngumpul dengan sesamanya kemudian bernostalgia. Hugo’s Cafe, Liquid, dan Boshe tentu saja tidak luput dari pembahasan, sampai akhirnya omong-omong kami nyangkut ke soal romansa yang diawali dengan celetukan ngasalku, “Lho, kamu nggak ngerasa tho kalau kamu itu salah satu pacarku?” Continue reading

Yang Kita Lakukan

Kadang apa yang kita lakukan tidaklah menjadi masalah bagi orang lain
Kadang yang menjadi masalah bagi orang lain justru karena apa yang kita katakan berbeda dengan apa yang kita lakukan
Inkonsistensi sering menyebabkan mosi tidak percaya, pada akhirnya
Nah, selamat hari Sabtu 🙂

Kenapa Aku Menyebalkan?

Kamu tidak suka tingkahku, katamu. Menyebalkan, menurutmu. Memang, sih. Problemnya, tidakkah aku tahu tentang hal itu? Sebaliknya, aku justru sangat paham. Tidak ada manusia yang suka dengan manusia lain yang membuatnya sebal. Tentu saja aku tahu. Aku sengaja. Kalau aku bertingkah seperti aku yang seaslinya, nanti kamu malah suka. Itu celaka. Celaka 12,7 soalnya aku juga suka kamu. Kalau kamu nggak balas suka, kan, aku aman-aman saja.

Kenapa Aku Mengejarmu?

Kamu tidak suka dikejar-kejar, katamu. Problemnya, tidakkah aku tahu tentang perkara itu? Sebaliknya, aku justru sangat paham. Perempuan itu tidak nyaman dengan laki-laki yang mengejarnya macam ayam. Tentu saja aku tahu. Sangat tahu. Aku gitu. Makanya aku mengejarmu. Continue reading