Browsing posts in: Ngopi Neeh

Worst Case Scenario

Syahdan, pada zaman tidak terlalu dahulu kala, aku dan mamakku sedang berencana hadir di acara pertemuan trah di Solo besok harinya. Pagi-pagi kami berangkat ke bandara naik taksi dari rumah kontrakanku di Ciputat untuk menuju Bandara Halim Perdanakusuma.

Setelah membelok ke kiri dari lampu merah Pondok Pinang, masuklah taksi kami ke jalan tol. Prediksiku, sih, dengan berangkat jam segitu, pagi-pagi di hari libur, kami nggak akan terjebak macet yang membuat kami terlambat masuk pesawat. Tapi mak jegagig! Begitu selesai ngetap kartu di gerbang tol nampaklah iring-iringan macet di depan. Mamak kontan panik! Continue Reading


Hidup Adalah Prek-juangan

โ€œBe kind, for everyone you meet is fighting a hard battle.โ€
Ian Maclaren

Aku ini orangnya memang suka cari gara-gara. Sudah banyak jenis gara-gara yang aku lakukan, terutama kalau aku sedang tidak setuju sama sesuatu. Misalnya saja sekarang ini, dengan sombong sekali kukatakan bahwa quote di atas – yang sering disalah-perkiraankan sebagai quote dari Plato ataupun Philo dari Alexandria – kupikir perlu dikaji ulang. Pertama, definisikan “hard” itu sendiri, dan kedua, yang disebut sebagai “hard” itu sebenarnya seberapa hard, sih?

Pada 1 sisi, benar bahwa, hard itu relatif. Soal yang sangat mudah buat beta – misalnya fisika, kimia, atau matematika – bisa jadi menjadi momok buat pelajar-pelajar lainnya. Yaaa…namanya aja manusia, bakatnya beda-beda. Maka jelas, hard ini memang sangat relatif. Continue Reading


Maaf dan Maklum

Besok sudah puasa. Dan seperti yang terjadi semenjak nyaris 2 dekade yang lalu, biasanya banyak pesan yang masuk ke hapeku. Isinya rata-rata pada ngucapin selamat menunaikan ibadah puasa sambil tidak lupa minta maaf lahir batin. Permohonan maaf lahir batin inilah yang dulu – waktu awal-awal dapat pesan macam itu – membuatku sempat heran.

Bagaimana aku nggak heran, wong itu tradisi baru buatku. Aku ini lahir dan gede di Denpasar. Dari lahir sampai lulus esema di sana, yang aku tahu, tradisi minta-mintaan maaf adanya cuma pas Idul Fitri. Pas menjelang puasa sama sekali nggak ada. Begitu kuliah, merantau pergi dari Bali, barulah aku mendapati hal yang seperti itu. Makanya aku agak kagok juga. Continue Reading


Soal Islam, Kebencian, dan Perkara Epistemologi

Pertama kali punya blog tahun 2006 kemarin alasanku sederhana: aku kepengen punya media buat nulis yang hasilnya nggak cuma kusimpen di komputerku sendiri. Kalau mau di-breakdown lagi, kenapa aku kepengen tulisanku nggak cuma kusimpen di komputerku sendiri, jawabannya masih sederhana: aku kepengen orang tahu tentang hal-hal yang kupikirkan, yang jadi uneg-unegku, yang kupikir nggak baik buat mental kalau kusimpen sendirian. Mungkin saja ini semacam approval junkie. Ya, mungkin aja. Tapi kupikir ini lebih dari itu. Aku nggak sekadar kepengen orang jadi ngeh dan kemudian menerima ide-ideku. Aku kepengen apa yang kupikirkan akhirnya bisa jadi concern buat orang lain juga. Continue Reading



Don’t Judge Me Blablablablabla

Kalau beberapa temanku mood-nya lagi jelek, kadang aku suka ngeliat apdetan status mereka di social media-nya mengunggah meme atau quote soal betapa mereka nggak suka dihakimi sama orang lain. Mangkel, nesu, mutung karena dinilai salah sama orang lain. Penilaian ini tentu saja termasuk perkara subyektif, ya namanya aja juga manusia. Hanya saja, soal nggak mau dinilai salah sama orang lain pun adalah hal yang sama subyektifnya. Pada masanya, nanti ketika tidak bisa mencapai mufakat, masing-masing pihak akan memendam kekesalan terhadap pihak lainnya. Si A nggak suka sama si B karena si B sudah berbuat salah, si B nggak suka sama si A karena si A sudah menilainya berbuat keliru. Mbulet melulu di situ. Continue Reading


Imagine There’s No Stomach

bramantyo erlangga, hacker ompong, bukan penggemar john lennon

Akibat terlalu sibuk kuliah, aku baru tahu kalo tanggal 16 November kemarin ternyata diperingati sebagai International Day for Tolerance. Yang beginian memang seringnya suka luput dari pengamatanku. Hal ini tentu saja ada sebab-musababnya. Yang pertama, karena Sherlock Holmes ternyata tidak tahu mana yang benar antara geosentris dan heliosentris. Katanya, yang kayak gituan nggak ada mangpa’atnya, nggak banyak membantunya dalam memecahkan suatu perkara. Jadi ta’amini saja pendapat idolaku itu: Apa gunanya memahami sesuatu yang nggak jelas tujuan dan paedahnya dalam hidup kita? Continue Reading


Kerennya Jadi Agnostik

Sekitar semingguan kemarin aku nongkrong di warung kopi buat ngobrol ngalor-ngidul sebagaimana umumnya obrolan warung kopi; tidak ada topik khusus, selain topik seputar mempertahankan kewarasan di tengah hingar-bingarnya dunia. Iya, warung tempatku nongkrong ini entah kenapa jadi tempat ngumpulnya oknum-oknum yang mati-matian berusaha untuk tidak terjebak dalam sesat-pikir ketika dihadapkan sama isu-isu ngepop di Endonesa. Aku sendiri menyebut kalau tempat ini adalah tempat yang bisa menjagaku tetap bertahan dengan idealismeku walaupun di dunia nyata batasan untuk bertindak ideal nyata-nyata semakin kabur.

Kemarin itu, entah bagaimana mulanya, yang jelas ketika aku datang, aku sudah disuguhi topik yang sebenarnya sudah lama membuatku geli tapi nggak pernah kutulis di blogku ini: tentang agnostisisme ala (orang geblek) Endonesa ๐Ÿ˜† Continue Reading


Pilih Salah 2

[VACANCY]

Bukalapak is looking for promising GSDP members. What is GSDP? GSDP is Growth Specialist Development Program, a program to create and develop young talents who have high logical and analytical thinking to be parts of BLteam.

*Offered positions*: Data scientist, market researcher, digital marketing, and others.

*Requirements*: Bachelor degree (S1) majoring Engineering/Natural Science/Statistics, IPK > 3.25, High Communication Skill, good analytical thinking, Fresh grads & experienced are welcomed to apply, Max. Age of 25 yo.

Meet the requirements above? Please send your CV to recruitment@bukalapak.com with email subject: GSDP_your name before June 30, 2016

Tatkala jaman kuliah dahulu kala, seorang sejawat bernama Bowo pernah bersabda, “Money, woman, education. Take any two.” Dan memang begitulah keadaannya. Misalnya si Azwar, temenku yang dulu hobinya dugem dan mroyek jual-beli apapun yang bisa diperjual-belikan. Waktu kuliah ceweknya gonta-ganti, duitnya juga banyak, cuma ya itu…kuliahnya baru rampung pas babak perpanjangan waktu nyaris habis. Continue Reading


Bird’s-eye View

Coba, deh, kalau ada pertandingan bal-balan, siapa yang lebih jago dalam menilai dan mengamati jalannya pertandingan? Siapa hayo? Pemainnya atau komentatornya?

Aku setuju kalau sampeyan bilang bahwa komentator itu bisanya omong thok, nggak jago main bola tapi sudah berani ngritik permainannya pemain bola beneran yang sedang berjibaku di lapangan. “Coba dulu sana kamu yang main, jangan asal ngasih komentar!” begitu biasanya sungut kebanyakan dari kita. Iya, kan? Iya aja, deh. Continue Reading


Benci Itu Ya Benci

Suatu kapan malam kemarin, sambil nunggu sahur, Josephine pernah bilang kalau sabar itu aslinya nggak ada batasnya. Iya, sabar sebagai sebuah kata sifat memang nggak ada batasnya. Batas itu jadi kelihatan ketika sampai pada level implementasi dari manusianya. Misalnya, level sabarku, level sabarnya Pak Gendut, atau level sabarnya Saripah ternyata bisa berbeda-beda ketika menghadapi kasus yang sama. Jadi jelas, sabar itu bisa kelihatan serba terbatas ya ketika sudah diterapkan sama manusianya.

Begitu juga dengan benci. Continue Reading


Pages:1234567